[Freelance] Winter

winter2

WINTER

 credits : blaxxjae @ IFA

Author: ANi // Main Cast: Seo Jisoo, Kim Myungsoo (INFINITE’s),  Kim Joo Hyun (OC’S) // Genre: Sad, Romance, Friendship // Rating: PG-15 // Length: Oneshoot

This is my story, just mine. The cast’s is not mine. Warning Typo’s everywehere, guys. Don’t be plagiat and Siders

Jisoo menyesap teh nya perlahan. Menikmati rasa yang mengalir di kerongkongan sambil menatap ke arah danau Jenewa yang membeku karena musim. Jangankan menghiraukan suara ponsel yang berdering, suara kicauan burung yang begitu dekat di rungu nya saja tak di pedulikan.

Tapi, ketika ponsel nya berdering cukup keras, Jisoo melirik dan segera mengambil ponsel yang terletak di nakas tersebut. Diangkat nya panggilan tersebut dengan raut wajah tak senang.

“Ini Seo Jisoo, kan?” Tanya seberang. Jisoo menyatukan alis nya mendengar suara familiar.

“Iya, ini Seo Jisoo. Lalu, siapa yang berada di seberang sana?” Jisoo kembali menuju balkon dan menghampiri secangir teh yang sempat ia acuhkan tadi.

“Ini aku, Joohyun.” Timpal suara tersebut dan mengundang gelak tawa Jisoo.

“Oh, kukira siapa. Ada apa, Joohyun? Atau kau merindukan aku?” Goda Jisoo. Oh jangan heran kenapa ia bisa menggoda Joohyun. Mereka bisa dibilang dekat, sangat dekat.

“Ibu mu menanyakan kau terus, dia bilang merindukanmu. Cepat pulang, dong.” Pinta Joohyun dengan suara super imut nya.

Mendengar kata pulang, Jisoo menghela napas nya. Petaka besar. Tapi suara Joohyun kembali mengalihkan fokus Jisoo.”Cepat pulang, aku rindu.” Suara itu sejenak membuat hati nya menghangat.

“Iya, aku juga rindu. Tapi ini musim dingin, jadwal penerbangan banyak yang di batalkan. Kalau pun aku lewat bandara di Jenewa juga tetap sama. Harus dari Zurich supaya aku bisa langsung ke Incheon.”

“Musim dingin, ya? Aku jadi ingat definisi musim dingin menurut Seo Jisoo.’Musim dingin adalah kehangatan, dimana orang-orang bisa menikmati secangkir susu hangat atau teh di depan perapian sambil memandangi api yang berkobar’. Tapi, kehangatan apa sih yang kau maksud? Aku tak pernah tau.” Jisoo kembali terkikik pelan. Kalau bukan pria yang satu ini, Jisoo takkan pernah mengumbar tawa nya pada siapapun.

“Tidak usah tau, cukup aku saja. Definisi setiap orang berbeda-beda terhadap musim, termasuk kau. Tapi dari 4 musim, aku suka musim dingin.” Sahut Jisoo lalu memainkan jari nya di pinggiran cangkir teh.

Mungkin ia akan sangat merindukan setiap hawa Seoul maupun tawa orang di seberang telepon nya, tapi tetap, ia benci kalau Ibu nya yang menyuruh nya pulang. Bukan karena ia benci orang yang melahirkan nya itu, tapi insting nya mengatakan bahwa bau perjodohan mulai menyeruak.

“Jangan bilang Ibu ku juga memaksa, ya.” Tambah Jisoo. Dan kemudian…hening.

“Jisoo…” Suara itu kembali membuat fokus Jisoo pecah. Pasal nya suara itu begitu lembut, selembut sutera atau kain wol yang selalu ia pakai di malam musim dingin.

“Iya, Joohyun.” Balas nya dan suara di seberang sana kembali mengejutkan nya.

“Aku sayang padamu. Cepat pulang, ya?”

Tapi Jisoo hanya bisa mengangguk tanpa membuka mulut. Bahkan suara nya cukup tergantung di tenggorokan. Dan ketika telepon terputus, mau-tak-mau Jisoo merelakan suara itu harus tenggelam dalam ingatan nya. Padahal sudah cukup jelas kalau Jisoo begitu merindukan suara itu.

“Aku juga sayang padamu, Joohyun. Tapi aku tak pernah bisa janji padamu kalau aku akan cepat pulang.”

Lalu, loloslah cairan bening tersebut dari kelopak indah milik Jisoo.

Tahun baru semakin dekat seiring dengan tebal nya salju. Tapi bukan hal baik bagi Jisoo, ia merasa seperti terus dihantui. Perkataan Joohyun waktu itu, membuat setiap detik-menit-jam nya terasa begitu cepat. Bahkan 2 minggu sudah Jisoo merasa seperti mayat hidup.

Tapi, suasana nya kembali kacau. Layak nya kapal pecah dan karam di tengah lautan.

Ayah nya menghubungi.

“Iya, Ayah.” Suara lemah Jisoo terkuak dan masuk pada pendengaran Ayah nya.

“Secepatnya, kau bisa pulang?” Tanya Ayah nya begitu hati-hati, takut akan perasaan Jisoo yang sedikit tersinggung.

Dan alih-alih menjawab, Jisoo malah bersikap acuh akan pertanyaan itu.

“Jisoo, kapan kau bisa pulang?” Suara itu memohon dengan sangat.

“Ayah, akan kuusahakan.”

“Musim semi nanti, kami tunggu kedatangan mu.”

Hembusan nafas Jisoo pun bersamaan terdengar dengan sambungan telepon yang terputus. Kalau sudah begini, Jisoo tak bisa menolak. Kalau saja Joohyun yang menelepon, ia masih bisa menolak. Tapi menolak dengan setengah hati setelah pria itu mengatakan sayang juga rindu padanya.

“Jangan paksa aku, Ayah. Tapi aku mencintai orang lain. Dan Itu bukan pilihan Ibu.”

Jisoo menghempaskan tubuh nya ke ranjang dengan gundah, ia sudah tau ini semua akan lari kemana dan ia tak bisa menghindar cukup jauh untuk hal tau. Tapi, ia masih punya satu harapan. Kalau-kalau semua nya bisa saja di hancurkan.

Detik, menit, dan jam. Semua nya terasa sangat cepat. Bagi Jisoo. Inilah detik-detik terakhir nya menikmati waktu di Swiss. Mungkin. Ia takkan pernah bisa mengelilingi Swiss lagi. Atau sekedar menikmati pemandangan Switzerland saat musim panas. Atau Interlaken saat musim semi. Zurich saat akhir musim dingin. Dan kastil di pinggir danau Jenewa saat ini.

Ketika semua nya terasa sangat menyedihkan bagi Jisoo, ponsel nya kembali berdering. Mengintrupsi Jisoo untuk mengambil dan menyahuti si penelepon dengan ramah. Semakin dekat dengan ponsel di atas nakas, ada rasa yang tidak wajar menjalar di hati Jisoo.

“Seo Jisoo. Ini aku, Joohyun.”

“Oh, aku kira tadi Ayah.” Sahut Jisoo dengan tawa garing nya.

“Jisoo, aku tau. Kau tak ingin kembali, kan?” kata-kata Joohyun barusan menusuk hati nya. Sangat dalam.

Sakit.

“Bu-bukan begitu. Aku tak ingin kembali, karena aku tau apa yang akan terjadi. Joohyun-ah, seandainya kau tau apa isi kepala Ibuku.” Pelan dan lirih, Jisoo bahkan begitu takut untuk mengatakan nya.

“A-apa? Ibumu? Isi kepala ibumu? Jangan berkata yang aneh-aneh, Jisoo.” Kata Joohyun sedikit tersentak karena sahutan Jisoo.

“Joohyun, percayalah padaku. Ini semua ada hubungan nya dengan isi kepala Ibuku. Ini soal perasaan ku dan semua nya. Termasuk kau, Kim Joohyun.” Tangisan Jisoo tak dapat tertahan, dan lolos sudah isakan gadis itu hingga terdengar oleh Joohyun di seberang sana.

“Seo Jisoo-“

“Ini soal perasaan ku, ini soal semua tentang ku. Dan ini soal perasaan ku padamu.” Cela Jisoo secepat kilat dengan tangisan nya yang semakin pecah.

“Berhentilah untuk terus menuduhku bahwa aku tidak ingin pulang. Kenyataan pahit nya bahwa aku juga merindukan semua yang berada di Seoul. Tapi ada hal lain yang membuat ku benar-benar muak untuk memilih kata pulang, Joohyun. Aku benci ide Ibuku dan bukan artinya aku membenci Ibuku, aku hanya benci ide nya.” Memekik begitu keras, Jisoo bahkan harus rela merasakan rasa sakit di seluruh tubuh nya kala kaki gadis tersebut tak lagi kuat menopang semua berat tubuh nya.

“Jisoo, maafkan aku.” Sesal Joohyun.

“Aku rindu padamu. Aku juga begitu menyayangimu. Tapi ada hal yang sulit untuk kukatakan pada keluargaku, termasuk kau.”

“Jisoo, apakah ide ku cukup gila kalau aku menyusulmu?” Pria itu sangat nekat, hanya karena ia terlalu khawatir dengan Jisoo.

“Jika kau menginginkan hal itu, maka aku akan katakan bahwa ide mu sangat sinting.”

“Persetan dengan semua itu, aku takkan peduli. Tapi sungguh, besok aku akan berangkat melalui Incehon dan mendarat di Zurich. Tunggu saja aku. Dan satu lagi, apapun akan aku lakukan, untuk berada di samping mu.” Lalu, Jisoo merasa seluruh badan nya panas.

Gombalan payah Joohyun via telepon berhasil membuat nya panas. Bagaimana jika pria itu berada di samping nya? Mungkin Jisoo bisa saja mati. Atau kedua nya yang mati saking senang nya. Oh entahlah, tapi Jisoo sedikit terhibur.

“Kita habiskan waktu disini bersama.” Kekeh Jisoo dan menyeka air matanya.

“Akan kubuatkan musim dingin mu tahun ini menjadi lebih hangat dari sebelum nya.”

“Hm, aku tunggu kedatangan mu. Aku rindu dan sayang kamu sih, jadi seperti ini.”

“Iya, gadis yang suka sok melankolis. Aku juga rindu dan sangat sangat sangat sangat sayang. Maaf karena aku yang terlalu berlebihan, ini karena emosional.”

Jisoo menutup separuh tubuh nya di atas sofa dengan selimut sutera putih. Menikmati secangkir teh hangat di pelukan Joohyun dengan menghadap perapian. Persis seperti apa yang ia katakan dan harapkan. Oh sungguh beruntung gadis Seo ini. Dan tidak lupa, gadis Seo itu bersandar pada dada bidang milik Joohyun.

Berada di atas sofa yang sama, lengkap dengan selimut yang sama. Anugerah terbesar Jisoo malam ini.

“Jadi, ini definisi kehangatan musim dingin versi Seo Jisoo? Boleh sekali kalau begini.” Goda Joohyun sambil memainkan ponsel nya.

“Ih, kau itu. Pikiran mu jadi kotor karena siapa sih? Aku curiga.” Selidik Jisoo dan menyipitkan matanya.

“Ah gadis ini, bisa saja membuat ku malu.” Joohyun menutup wajah nya dan sesekali mengintip Jisoo lewat celah jari tangan nya.

Jisoo membulatkan matanya melihat tingkah ‘menawan’ dari pria yang sekarang berada di dekat nya ini. Oke, itu membuat mood nya sedikit naik. Tingkah ajaib yang memang sudah dimiliki Joohyun sejak kecil, selalu berhasil membuat Jisoo tertawa atau mood nya yang melonjak.

“Tau tidak, kau terlihat seperti eh entahlah. Tapi kau…lucu. Sangat imut.”

“Iya, aku tau. Tapi, aku juga tampan kan?” Untuk yang satu ini, Jisoo tak bisa menjawab.Cukup dengan mulut bungkam, Joohyun pasti tau jawaban nya.

Menghadap balkon saat pagi hari adalah kegemaran Jisoo setelah bangun tidur. Menghirup udara yang masih bersih tanpa polusi juga kegemaran nya. Dan kehadiran Joohyun di samping gadis itu pun menambah kesan berbeda yang membuat nya semakin tenang di kala ancaman datang.

“Jisoo, seandainya semua ini berlalu dengan cepat dan kita-antara kau dan aku-tak bisa seperti ini lagi, bagaimana menurutmu?” Jisoo menatap sang pembicara dengan mata polos nya.

Suara itu bahkan sudah memantul jauh dan tenggelam ke danau sebelum ia mencerna baik bagaimana maksud Joohyun. Tapi Jisoo hanya menggeleng. Tidak tau lagi atau memang tak mau tau. Atau gadis itu belum sama sekali mengerti perkataan yang menurutnya ambigu.

“Kita, bukankah semua ini tidak bertahan lama?” Tapi yang ini, Jisoo mengerti jelas. Tidak ambigu menurutnya. Tidak cepat tertelan danau ataupun memantul. Bahkan gadis itu sudah mencerna nya lebih cepat.

“Jujur saja, aku tak mau.” Jawab Jisoo singkat. Terdengar sedikit ketus dan lemah, menurut Joohyun.

“Aku juga. Aku ingin seperti ini lebih lama dan selamanya. Hanya, mungkin, takdir berkata lain.” Kata-kata kedua Joohyun yang menusuk hatinya. Bukan nya menanggapi, Jisoo malah diam.

“Aku mencintamu, Seo Jisoo.” Jisoo kembali menitikan air matanya, entah untuk yang ke berapa.

Dengan cepat pria itu memutar tubuh Jisoo. Melihat wajah merah Jisoo yang menangis tanpa suara, membuat Joohyun menahan sakit sekaligus amarah nya. Perlahan, menyentuh pipi basah gadis itu. Dan Joohyun menyusuri pelan-pelan ke arah telinga gadis itu dan menyelipkan helaian rambut Jisoo.

“Aku tau, Jisoo. Tapi, aku tak bisa menahan nya. Sudah sekian lama, tapi ini tak bisa ku tahan. Maafkan aku.” Katanya sebelum meraup habis Jisoo tepat di bibir gadis itu.

Mempertemukan kedua nya untuk pertama kali. Menghabiskan setiap liter oksigen demi kegiatan mereka. Jisoo yang mulai terbuai perlahan menerima setiap sentuhan manis Joohyun dan memeluk pria itu begitu erat.

“Jangan lepaskan aku, Joohyun-ah.” Suara Jisoo berseru pelan saat kedua nya melepas tautan mereka walalupun masih terlalu dekat.

“Takkan ada yang bisa kulakukan, Jisoo. Tapi akan aku lakukan sebisa ku.” Dan Joohyun kembali rakus, menghabiskan semua nya tanpa kecuali.

Jisoo membuka matanya dan ia menemukan tubuh nya berada di atas kasur sendirian. Ini masih lengkap. Jisoo menyibakkan selimut nya dan beranjak dari ranjang. Lalu melangkah menuju sofa di dekat perapian. Dan menemukan bahwa Joohyun tidur di sana.

“Joohyun, bangun. Sudah siang. Haloo, ini dengan Seo Jisoo.” Jisoo menarik selimut sutera nya, tapi Joohyun tidak bangun.

“Tuan beruang. BANGUUUN, SUDAH SIANG NIH!”

“Waaa~”

Bruk.

Joohyun terjatuh dari sofa karena di tarik oleh Jisoo. Membuat kepala nya terbentur lantai kayu.

“Ish, kau menyebalkan. SEO JISOO!” Pekik Joohyun dan mengejar Jisoo yang sudah mengambil seribu langkah untuk kabur.

Jisoo tertawa lepas sambil berlari keluar rumah hanya dengan bermodalkan jaket cokelat dan celana hitam. Gadis itu terlalu fokus tertawa hingga tak sadar kalau dihapan nya kini ada batang kayu yang tergeletak yang siap menjatuhkan Jisoo.

“Yak, Seo Jisoo! Awas!” Jisoo yang mengerti langsung berhenti.

“Untung kau tak lari lagi. Tuh lihat.” Joohyun menunjuk batang yang hampir saja membawa Jisoo kepada maut.

“Oh, hampir saja ya. Kalau aku jatuh, tamat lah riwayatku.”

“Kenapa? Kau tak suka?” Joohyun melirik Jisoo yang duduk di samping nya.

Sedangkan Jisoo hanya diam menatap keluar jendela pesawat. Ini bukan Jisoo yang dikenal Joohyun. Ini bukan Jisoo yang seperti biasa. Tapi ini Jisoo yang berbeda. Jisoo yang baru. Untuk kepulangan nya ke Seoul.

“Kau tau jawabanku.” Ujar Jisoo menjawab pertanyaan Joohyun.

Dan tentu, membuat Joohyun semakin sakit. Karena ini, bukanlah Jisoo yang dikenal nya.

“Ibu, rindu padaku?” Tanya Jisoo dan menyeret koper gadis itu sendiri dan mendekati Ibu nya.

“Iya, sangat rindu. Kau kan sudah bertahun-tahun berada di Swiss, sayang.” Jawab Ibu nya dan memeluk Jisoo sangat erat dan dibalas pelukan hangat oleh Jisoo.

“Padahal aku ingin menikmati musim dinginku lebih lama. Dan setelah ini, seperti nya aku akan benar-benar rindu Swiss dan musim dingin disana.” Bisik Jisoo pada Ibu kesayangan nya sedikit lirih.

“Kenapa? Bukankah disini ada musim dingin juga? Kau kan tetap bisa menikmati nya.” Tukas sang Ibu dan melepas pelukan nya.

“Aku takkan pernah bisa merasakan kehangatan yang sama, Bu. Disini berbeda, ini bukan Swiss apalagi Jenewa atau Zurich. Ini Korea Selatan, di Seoul. Ini Asia, bukan Eropa. Dan Ibu pasti tau, apa maksudku.” Cecar Jisoo dan membawa koper nya menuju kamar.

“Jadi ini Seo Jisoo? Wah dia cantik sekali.” Pekik Nyonya Kim dan mengagumi Jisoo. Sebagai Jisoo, ia hanya bisa tersenyum.

“Menurutmu, bagaimana dengan Myungsoo?” Tanya Nyonya Kim pada Jisoo.

Sesaat ia bertatap dengan Myungsoo. Dia butuh persetujuan dari pria itu untuk menjawab pertanyaan Ibu Myungsoo sendiri. Tapi pria itu hanya diam dan menatap Jisoo dingin.”Dia, entahlah. Aku belum mengenal nya dekat, Nyonya. Mungkin kita bisa berteman dengat baik.”

Bermaksud menolak keras atas bau perjodohan yang menyeruak sangat menyengat. Jisoo hanya bisa menjawab demikian diiringi senyum tipis yang terpampang pada wajah nya. Lucu sebenarnya. Untuk apa bertanya sikap anak nya-yang sudah jelas dingin dan cuek-pada orang lain yang belum mengenal pria itu? Satu jawaban Jisoo. PERCUMA.

“Begini saja, bagaimana kalian jalan berdua untuk mengenal satu sama lain nya?” Usul Ibu Jisoo dan dapat persetujuan dari pihak lain, kecuali dirinya dan Myungsoo yang diam sedari tadi.

“Myungsoo-ya, bawa Jisoo bersamamu. Bawa dia jalan-jalan.” Titah Ibu Myungsoo-Nyonya Kim-pada Myungsoo dan menowel pria itu pelan.

“Iya, Bu.” Kalau Myungsoo jelas orang yang tak bisa membantah, tapi dirinya? Jelas tak suka dengan pilihan tanpa berpikir nya Myungsoo. Ah, mau bagaimana lagi. Dia hanya seperti orang sebatang kara yang hidup sendirian, tak punya pilihan lain kalau dilanda bencana kecuali pasrah dan berdoa pada Tuhan.

Lalu Jisoo mengikuti Myungsoo, mengekori pria itu.

“Aku dengar, kita akan segera menikah.” Myungsoo memecah keheningan dan melirik Jisoo tapi tetap konsen pada kemudi nya.

Jisoo yang awal nya acuh tak acuh pada Myungsoo, kali ini harus rela bahwa harga dirinya akan jatuh di depan pria bodoh tersebut. Menghela napas panjang dan, “Dengar Kim Myungsoo. Sampai kapanpun, AKU TIDAK AKAN PERNAH MENYETUJUI PERJODOHAN BERLANDASKAN UANG INI! Mengerti?”

Lihat, dia benar-benar membuat dirinya dipandang sebelah oleh Myungsoo sekarang. Tapi sayang nya Jisoo tak peduli.”Kukira kau gadis baik-baik. Ternyata aku salah, kau wanita urakan yang pernah kuketahui.” Ujar Myungsoo tajam.

“Jangan lupa, yang baru kau kenal sehari.” Sindir Jisoo dan menyadarkan pria tersebut kalau dia baru saja mengenal Jisoo sehari.

Baru sehari.

Bukan bertahun-tahun.

Dan sial nya, Myungsoo kalah. Karena yang dikatakan Jisoo adalah benar.”Kau baru kenal aku sehari, Kim Myungsoo. Kau, tidak tau aku apakah aku ini wanita urakan atau bukan. Yang jelas sih, aku bukan wanita murahan seperti harapan semua orang.” Ketus Jisoo dan tertawa sinis.

“Kalau kau ada rencana kencan dengan orang lain, pergi saja. Aku bisa pulang sendiri dengan taksi.” Kata Jisoo tanpa melirik Myungsoo. Gadis itu masih sibuk menatap sungai Han dihadapan nya.

“Seo Jisoo, hentikan kata-kata pedas mu.” Tapi Jisoo hanya mendengus tak suka lalu tertawa.

“Pedas? Pedas katamu? Ya ampun Myungsoo-ssi, kau payah.” Ejek Jisoo lalu melirik tak suka pada Myungsoo.

Lalu netra Jisoo melihat Joohyun yang sedang berada di sebelah kanan nya. Memang jauh, tapi pengelihatan nya cukup tajam-kalau kalian ingin tau. Pria itu menatap Jisoo sedih.”Joohyun.” Gumam Jisoo tanpa suara. Seolah memanggil pria itu.

“Kuantar pulang sekarang.” Myungsoo menarik lengan nya, tapi sayang Jisoo sudah menepis nya lebih dulu.

“Bilang saja dari tadi kalau kau mau ke bar dan kencan. Aku izinkan, kok.” Acuh Jisoo dan melenggang pergi.

Jisoo menatap layar ponsel nya. Berharap sangat akan pesan masuk-dari Joohyun. Tapi ini sudah sekitar 5 jam ia menunggu sejak jam 9 pagi tadi. Ia lelah. Hanya saja, ia tak bisa meninggalkan ponsel nya demi pesan masuk dari Joohyun.

Satu pesan masuk dan Jisoo segera membuka nya. Dari nomor tak di kenal.’Ini aku, Kim Myungsoo. Simpan nomerku karena aku akan sering menghubungimu. Jam 4 nanti aku jemput, siap-siap dari sekarang. Kita akan pergi.’ Isi pesan tersebut membuat Jisoo rela melemparkan ponsel nya ke tembok.

“Kenapa bukan Joohyun saja sih?!” Jisoo mengacak rambut nya kasar dan masuk ke dalam kamar mandi.

“Apa ini?!” Pekik Jisoo dan menolak melihat gaun yang disodorkan Myungsoo padanya.

“Ini gaun. Kita disuruh memilih sendiri gaun dan tuxedo nya untuk pernikahan.” Kata Myungsoo lalu menyerahkan gaun tersebut pada seorang pelayan yang ada di belakang nya.

“Pernikahan? Kupikir akan di undur 5 tahun atau 100 tahun lagi. Uh, sepertinya cobaan ku itu benar-benar berat.” Jisoo segera memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan pilihan tuxedo dan segera melihat-lihat.

“Kau mau berencana honey moon kemana? Aku sudah ditanya Ibu.” Suara Myungsoo mengalihkan pandang gadis tersebut dari tuxedo putih yang mewah ke siluet Myungsoo yang berdiri tegak di depan pintu masuk ruangan tersebut.

“Honey moon? Menikah saja belum sudah tanya honey moon. Katakan saja, tidak ada honey moon. Aku ada urusan dengan pekerjaan ku.” Ketus Jisoo dan kembali melihat-lihat.

Jisoo mendiamkan Myungsoo yang mengikuti nya. Terlalu malas untuk bicara dengan pria bodoh di dunia ini. Sekitar 10 menit melihat-lihat, satu tuxedo putih sekarang berada di genggaman nya. Menyodorkan nya pada Myungsoo.

“Seleramu tinggi.” Gumam Myungsoo dan mengedikkan bahu nya. Mengambil alih tuxedo pilihan Jisoo.

“Jadi, aku bukan wanita urakan.” Balas Jisoo. Myungsoo menghela napas panjang nya dan, “Kau, apakah membenciku?” Tanya Myungsoo dan menarik Jisoo untuk berhadapan dengan nya.

“Apa itu urusanmu?” Tanya Jisoo balik membuat Myungsoo membuang muka nya dan mencengkram lengan Jisoo kuat.

“Jangan main-main denganku, Seo Jisoo.” Kata Myungsoo dan menusuk mata Jisoo dengan pandangan nya.

“Aku tau kau tak suka bermain-main. Lepas, biar aku yang pilih gaun ku sendiri.” Jisoo menghentak tangan nya dan bergegas pergi dari ruangan yang penuh tuxedo itu. Menghindar dari Myungsoo dan tatapan tajam pria tersebut.

“Kau, sebegitukah kau membenciku?” Desis Myungsoo dan menyeret gadis Seo itu ke apartemen nya. Membuat sang gadis menjerit-jerit minta di lepas.

“Bukankah sudah kujawab, itu bukan urusanmu!” Pekik Jisoo dan berusaha melepas tangan hnya dari cengkraman kuat Myungsoo, tapi tak berhasil.

Pria bermarga Kim itu berdiri tepat di depan sebuah pintu dan menekan tombol-tombol untuk membukanya. Lalu saat Myungsoo sudah memasukan kode nya, pintu terbuka. Dan Myungsoo menarik gadis Seo itu masuk ke dalam apartemen dan membanting pintu apartemen.

“Dengar, aku lebih memilih berada di rumah ku ketimbang di tempat ini.” Wajah Myungsoo berubah menjadi merah mendengar perkataan Jisoo yang berhasil membuat nya tersinggung.

Myungsoo melepas cengkraman nya dan menodorong Jisoo, hingga gadis itu terpojok ke tembok. Dimana sekarang punggung tegak nya sudah bersandar pada tembok. Sekarang Myungsoo mendekati gadis itu dan memenjarakan Jisoo dengan satu lengan nya.

“Kau baru mengenalku, nona Seo. Tapi kau begitu menyebalkan dan benar-benar tak bisa kumengerti. Apakah kau begitu membenciku hanya karena perjodohan atas uang ini? Katakan padaku.”

“Aku benci perjodohan ini, Tuan Kim. Itulah sebab nya kau tak perlu tau jawabanku apakah aku membencimu atau tidak. Kau, sudah tau jawabanku. Aku bukan barang, Myungsoo-ssi, jadi aku takkan pernah merasa dijodohkan denganmu sekalipun aku sudah menikah dan aku tidak akan pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam. Cukup dengan sifat kasar mu ini, aku sudah tau.” Gertak Jisoo dan mendorong Myungsoo, tapi Myungsoo makin menghimpit tubuh nya pada tubuh Jisoo.

“Dengar Seo Jisoo, aku tau kau bukan barang dan kau tau aku juga bukan barang. Tapi bisakkah kau tidak membenciku juga? Ini semua karena orang tua kita dan bukan aku.” Balas Myungsoo. Sekarang tubuh mereka sudah saling menempel satu sama lain.

“Soal itu juga aku tau, KIM MYUNGSOO! Begini, sejak awal kau sudah mengira bahwa aku adalah wanita urakan, jadi dimata mu aku adalah wanita yang dipandang tidak baik. Dan KAU, adalah pria terkasar yang pernah kutemui, jadi kita impas. Kau memandang ku tidak baik, dan aku memandang mu tidak baik. PUAS?!”

Saat tangan Jisoo hendak mendarat keras di pipi mulus Myungsoo, tapi naas nya tangan nya terhenti di udara kala tangan Myungsoo mencengkram kuat. Mereka saling bertatapan, tapi hanya Jisoo yang mengeluarka tatapan benci nya.

“Tidak ingatkah kau denganku, Seo Jisoo?! Tidak ingatkah kau denganku?!” Seru Myungsoo dan berteriak cukup keras saking frustasi nya.

“Mana mungkin aku ingat denganmu, kau baru mengenalku sehari.” Jawab Jisoo enteng, seolah sengaja membuat Myungsoo marah.

“Tidak ingatkah kau pada siapa yang menolongmu sewaktu kau berumur 13 tahun, huh?! Kau kecelakaan dan lupa ingatakan.” Tutur Myungsoo dan membuat gadis itu diam, membungkam mulutnya untuk mencerna seluruh kata-kata Myungsoo yang tajam.

Jisoo, pernah mengalami kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawa gadis itu di jalanan saat umurnya 13 tahun karena tertabrak mobil. Jisoo menelan saliva nya, menatap Myungsoo dengan tatapan nya yang sedikit takut.

“Dengar, aku tak ingin mendengar cerita itu lagi. Jadi hentikan saja, oke?” Jisoo beringsut menjauh tapi Myungsoo kembali mencegah nya dan malah mendorong Jisoo ke tembok lagi seperti tadi.

“Aku Kim Myungsoo, yang pernah menolongmu. Namaku, yang selalu kau sebut dalam mimpi setelah kecelakaan. Aku, anak tampan yang sering kau bicarakan. Aku adalah Kim Myungsoo, Seo Jisoo.”

Entah bagaimana, tapi Jisoo mulai mengeluarkan air matanya. Terlalu kesal karena Myungsoo membawa derita lama nya sekarang. Dan ia harus rela, memutar film di dalam otak nya untuk mengingat siapa Myungsoo sebenarnya.

Sedangkan Myungsoo hanya diam, menunggu gadis dihadapan nya memberi respon.”Biarkan aku pergi.” Ujar nya tapi ditahan oleh Myungsoo. Menghimpit nya cukup kuat. Bahkan Jisoo meronta cukup kuat.

“Kau tau siapa aku, Seo Jisoo. Tapi kau benar, aku baru mengenal mu hanya sehari.” Lirih pria tersebut dan mengelus pipi Jisoo yang basah akan air mata.

“Tapi kini semua nya berbeda. Aku dijodohkan ole-“

Myungsoo mengatup bibir gadis itu dengan bibir nya. Tentu, sebagai Jisoo, ia kaget. Terlebih mata pria itu tertutup erat, sedangkan dirinya melihat aksi nekat Kim Myungsoo. Dan pria itu memeluknya lalu melepas tautan mereka.

“Aku tau itu bekas Joohyun. Sekarang aku sudah menghapusnya.” Bisik pria tersebut tepat di telinga Jisoo.

Jisoo, menatap keluar jendela cafe. Terlalu membosankan berada di dalam cafe.

Kini musim sudah berubah menjadi musim semi. Tak ada lagi es, tak ada lagi susu atau teh, tak ada lagi perapian yang menyala. Dan tak ada lagi kehangatan, untuk seorang Seo Jisoo. Yang ada hanya Kim Myungsoo.

Pria itu sesekali menyesap kopi yang di pesan nya dan melirik Jisoo. Mereka, diharuskan berbicara serius mengenai pernikahan mereka. Dan itu membuat Jisoo naik pitam akhir-akhir ini. Jisoo tak ingin menikah di usia nya yang masih muda, apalagi ia baru berumur 23 tahun.

“Kalau kau merasa sia-sia duduk disini karena aku diam, sebaiknya kau pergi saja. Mungkin kau ada waktu kencan dengan wanita mu.” Ujar Jisoo tanpa menatap Myungsoo, sedikit ketus sebetulnya.

“Aku tak punya wanita, Seo Jisoo. Aku juga tak merasa sia-sia duduk disini.” Balas Myungsoo dingin.

“Oh. Lalu wanita yang di bar itu, siapa dia?” Pancing Jisoo dan menatap Myungsoo.

Myungsoo menutup wajahnya. Bukan karena malu, tapi ia sedang berusaha menyabarkan diri untuk menghadapi gadis Seo yang terkenal cukup brutal dan sadis. Oh jangan lupa, semua kata pedas nya.

“Wanita yang mana? Sudah kukatakan aku tak punya wanita.” Jawab Myungsoo.

“Wanita yang kau cium di mobil setelah keluar dari bar. Wanita dengan mini dress ketat merah, masa kau tidak ingat?” Tanya Jisoo dengan mudah.

Myungsoo baru ingat sekarang. Tapi bagaimana gadis dihadapannya ini tau.”Yang cukup cantik, melebihi ku, sexy, menggoda, dan kupikir dia super model.” Tambah Jisoo, membuat Myungsoo bernapas tak teratur.

“Kau, tau dari mana?” Desis Myungsoo menahan amarah.

“Aku? Lihat dengan mataku lah.” Mendecih kesal dan menatap Myungsoo berang, gadis itu menjawab nya.

“Jadi, kalian sudah berencana akan menikah tanggal berapa?” Tanya Ibu Jisoo.

Uhuk.

Jisoo segera menyambar segelas air putih di bantu Ibu Myungsoo yang kebetulan berada tepat di samping nya. Meneguk nya cepat, sedangkan Ibu Myungsoo menepuk-nepuk pundak Jisoo.”Pelan-pelan makan nya.” Gumam Ibu Myungsoo.

Myungsoo menghela napas nya cepat.”Secepatnya, tap kita belum menentukan tanggal. Sedang mencari tanggal dan hari baik.” Dengan sekali hembusan nafas, Myungsoo butuh perjuangan untuk mengatakan hal itu.

“Apakah benar?” Tanya Ibu Myungsoo pada Jisoo. Sedangkan Jisoo hanya bisa mengangguk pelan.

“Kita sedang mencari tanggal yang cocok. Mungkin ada usulan.” Gumam Jisoo pelan, tapi masih terdengar jelas oleh Myungsoo.

“2 minggu lagi? Tanggal 16, bagaimana?” Usul Ayah Myungsoo.

Sekarang Myungsoo dan Jisoo saling melirik.”Cepat buat undangan, itu adalah hari dan tanggal baik.” Pekik Ibu Jisoo semangat.

“Baiklah, semua nya serahkan padaku.” Ayah Jisoo bersuara.

“Jadi, kau menikah?” Tanya Mijoo dan muncul dari pintu. Memakai gaun putih dengan rambut yang tergelung rapi, sudah jelas bahwa Jisoo hanya menanti dirinya menjadi milik orang lain.

“Tak perlu kujawab.” Desis Jisoo dan menatap dirinya di pantulan cermin besar.”Kau bertemu dengan Joohyun diluar?” Tanya Jisoo dan melirik Mijoo yang diam di depan pintu. Mijoo mengangguk tapi setelah nya menggeleng.

“Mijoo…”

“Tadi, aku melihatnya. Tapi dia segera pulang.” Gumam Mijoo dan mendekati Jisoo.

“Aku tak akan pernah bisa kembali ke Swiss musim dingin mendatang.” Lirih Jisoo dan memainkan rambut nya. Menatap lirih ke arah pantulan cantik di kaca.

“Musim dingin?” Memiringkan kepalanya, Mijoo muncul pada pantulan kaca.

“Iya, musim dingin. Aku akan benar-benar rindu musim dingin di Swiss.” Lalu Jisoo memeluk Mijoo dengan erat. Menenggelamkan kepala nya di bahu Mijoo.

Karena bagi Jisoo, musim dingin adalah sebuah kehangatan. Kehangatan yang membawa Jisoo nyaman menikmati hari nya. Dan saat Myungsoo datang, membawa nya kepada luka lama juga lembaran baru yang kusam, Jisoo tak lagi bisa menikmati kehangatan nya.

Seperti yang ia bilang, ‘Disini berbeda, ini bukan Swiss apalagi Jenewa atau Zurich. Ini Korea Selatan, di Seoul. Ini Asia, bukan Eropa.’ Dan itu sudah jelas. Tak perlu lagi tambahan apapun.

Sekarang kehangatan musim dingin nya hilang. Seiring Myungsoo masuk kedalam kehidupannya, secara paksa. Oleh Ibu dan Ayah Jisoo.

Karena bagi Jisoo, musim dingin adalah sebuah kehangatan.

END

Advertisements

10 thoughts on “[Freelance] Winter

  1. Huue, gregetan. Ini masih belum selesai, kan? Bilang masih belum, Ni?? :”)

    Jadi seumur hidup Jisoo bakal benci sama suaminya, kah?
    Trus, hubungan Jisoo sama Joohyun gmn? Hubungan Myung sama Jisoo dulu sebenernya teh gimana ya? :”””

    #garukTembok #garukMyungMyung

    Like

    • Belum sih kak, cuman aku ga tau ngelanjutin nya gimana/plak/ abis kemarin pas ngetik kena WB. Kalo dilanjutin bakal panjang sekali, jadi aku cut dan jadilah ending nya maksa banget. Em gimana ya, aku juga bingungT.T hiks/ngek*lapingus/ tapi diusahakan ada kelanjutan nya supaya jelas/ih promosi/😊Makasih kak udah baca dan komen

      Liked by 1 person

      • Wkwkwk, emang WB penyakit semua umat yah :”) Semangat~ wkwkwk maapin jarang komen padahal ngeh jg kalo ffnya kamu ihiks

        Sama-sama Ani~ :3

        Like

      • Gapapa ko kak#lapingus
        Aku juga dulu jarang komen, jujur pake tapak kuda campur telor tambah sayur jadilah kejujuran spesial ala nasgor mang-mang lewat. Makasih ya kak atas semangat nya, aku jadi terharu#lapingus-lagi….kak azel juga SEMANGAT
        #nyeburkelaut

        Like

  2. Sad Ending??
    trus jisoonya bakal benci terus ama myung?
    lalu hubungan joohyun ama jisoo gimana?

    moga aja ada kelanjuntannya, fighting author,,,. jangan bosan-bosan buat ff jisoo ya, bdw reader baru annyeong

    Like

    • Sad? Ga tau aku, tapi ini open ending. Kira-kira jisoo bakal benci atau engga ada dilanjutan nya yang dalam proses, tapi kena WB. Terus hubungan Jisoo sama Joohyun, ditunggu aja. Makasih ya sebelumnya udah baca dan komen😊

      Like

  3. Ahhh lagi greget tapi malah end,please butuh sequel buat kejelasan hungan Jisoo sama Myungsoo dan hubungan Jisoo sama Joohyun kayak gimana. Pokoknya ditunggu ya sequelnya wkwk

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s