Love & Lust [1/2]

Love & Lust

Love & Lust

By Fanita

Main Cast : Seventeen’s Mingyu – Lovelyz’ Sujeong

Cast : DIA’s Yebin – CLC’s Yeeun – Astro’s Cha Eunwoo – BTS’ Jungkook – Infinite’s L

Genre : Romance – Sad – Hurt/Comfort – School Life – Songfic

Rating : PG-17!

Type : Twoshoot

.

Matamu tampak tajam. Apa itu cinta atau itu nafsu, di mana kau berdiri?

(Lim Kim – Stay Ever)

.

[PG-17 untuk adegan-adegan yang tidak patut dibaca anak yang masih bocah :v]

.

.

.

            Berduaan di private room bersama seseorang yang kau cintai membuat hati berdebar-debar. Itulah yang dirasakan seorang gadis bernama lengkap Ryu Sujeong. Sujeong—siswi kelas 3 SMA itu tengah bersama dengan kekasih yang dia cinta. Kenalkan, kekasih Sujeong bernama lengkap Kim Mingyu. Casanova tampan dari sekolahannya.

.

            Sujeong mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat. Dia hanya bisa mengigit bibir bawahnya saat Mingyu mengecup leher jenjangnya dengan lahap. Rasanya begitu menggelitik (namun diam-diam Sujeong menyukai itu). Sujeong ingin bersuara tapi dia menahannya. Membiarkan laki-laki itu mengecupi lehernya perlahan-lahan. Ini sudah lebih dari 5 menit dan Sujeong tidak bisa menahannya lagi.

“Mingyu-ya..” lirih Sujeong.

Mingyu menghentikan aktivitasnya dan menatap Ryu Sujeong penuh tanda tanya. Sujeong hanya diam namun beberapa detik kemudian dia terkejut dengan serangan Mingyu yang tiba-tiba! Laki-laki itu langsung menyumpal bibir Sujeong dengan bibirnya. Mingyu menahan ciuman itu dengan cara menekan tengkuk Sujeong sekaligus untuk memperdalam ciuman mereka.

.

            Mingyu dan Sujeong sudah keluar dari tempat ini namun sebelum pulang Mingyu mengeluarkan sesuatu dari tas sekolahnya. Ternyata itu adalah sebuah syal. Mingyu melingkarkan syal itu ke leher Sujeong dan mematikan bahwa bekas merah itu tidak terlihat. Melihat perlakuan Mingyu membuat Sujeong tertunduk malu.

Kajja..” ajak Mingyu.

Mingyu mengulurkan tangannya kepada Sujeong. Gadis itu langsung menerima uluran tangan Sujeong dan kini keduanya saling bergandeng tangan. Mereka berjalan bersama dengan tangan yang saling bertautan. Udara yang dingin menjadi terasa hangat. Ah.. Mingyu selalu membuat musim dingin Sujeong terasa hangat bagaikan musim panas.

.

            Sujeong sedang belajar seperti biasa di kamarnya. Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamarnya. Buru-buru Sujeong mencari sebuah syal dan memakai jaket. Setelah benar-benar siap barulah Sujeong membuka pintu kamarnya.

“Sujeong kau kenapa memakai jaket dan syal di rumah? Apa penghangat ruanganmu mati?” tanya sang ibu.

“Bu..bukan bu. Aku sedang flu dan tetap terasa dingin walaupun sudah memakai penghangat ruangan,” dusta Sujeong.

“Oh kau sedang flu. Kalau begitu ayo makan malam dulu. Kebetulan ibu membuatkan sup ayam dan itu masih panas,” kata ibu Sujeong.

“Baiklah bu,”

Saat ibunya telah membalikan badan dan kembali ke ruang makan, Sujeong merasa legah. Untung ibunya tidak menaruh curiga yang berlebihan. Bersyukur karena saat ini masih musim dingin. Dulu saat musim panas Sujeong pernah kelabakan karena tidak tahu harus melakukan apa untuk menutupi bekas merah yang disebabkan oleh Mingyu. Jadi dia hanya berpura-pura telah tidur di dalam kamarnya dan tak lupa mengunci pintu kamar dengan rapat agar tidak ada satu orang pun yang bisa masuk ke dalam kamarnya.

.

            Bekas itu tidak mudah menghilang. Minimal 2 hari agar tanda merah itu menghilang. Hari ini Sujeong masuk ke sekolah dengan menggunakan mantel tebal dan syal. Memang orang lain banyak juga yang memakai mantel tapi tidak syal seperti Sujeong. Toh di tempat ini sudah panas.

.

            Sujeong masuk ke dalam kelasnya dan melihat kalau Mingyu sedang duduk di tempatnya dengan tenang. Tak terduga kalau Mingyu langsung melihat ke arahnya. Sujeong tersenyum pada Myungsoo dan laki-laki itu membalasnya dengan senyuman tipis. Buru-buru Sujeong duduk di tempatnya. Dia melepaskan tasnya lalu mengeluarkan ponsel kemudian tak lama kemudian seseorang datang menghampiri Sujeong dan juga—

Srekk!

Orang itu menarik syal Sujeong sehingga perempuan berpipi chubby itu naik pitam.

Ya Baek Yebin!” pekik Sujeong.

“Kenapa kau marah? Oh kenapa lehermu merah?” tanya Yebin histeris.

Semua orang kini memandangi Sujeong semua, termasuk Mingyu. Refleks tangan Sujeong menutupi lehernya yang bercetak merah. Yebin benar-benar keterlaluan. Walaupun dia sahabatnya terkadang Yebin sering membuat Sujeong kesal.

“A..alergi,” jawab Sujeong.

Setelah mengatakan itu Sujeong langsung pergi dan tak lupa membawa syalnya. Yebin hanya bisa menatap kepergian Sujeong dengan penuh tanda tanya.

.

            Untung saja Sujeong membaca chatting di LINE grup kelasnya yang mengatakan kalau guru Sejarah mereka mereka tidak masuk hari ini. Sujeong pun memilih untuk tidak masuk ke dalam kelas dan menikmati waktu sendirian di atap gedung.

Grap~

Alangkah terkejutnya Sujeong saat seseorang memeluknya dari belakang. Ia sudah mengambil ancang-ancang untuk memukul orang kurang ajar tersebut namun saat mendengar suaranya Sujeong mengurungkan niatnya.

Mianhae,”

Suara Mingyu. Dia hapal suara itu, mana mungkin dia lupa dengan suara kekasihnya. Amarahnya meredah lalu Sujeong tersenyum tipis.

“Untuk apa?” tanya Sujeong.

“Pasti kau memiliki waktu sulit karena harus memakai syal kemanapun. Geutchi?” tanya balik Mingyu.

A..aniyo,”

“Jujur saja,”

Baru saja Mingyu membisik kepadanya. Tepat di telinganya! Rasanya begitu menggelitik sehingga Sujeong tidak tahan dan membalikan badannya. Kini posisi keduanya masih berpelukan dengan sangat mesranya.

“Aku tidak apa-apa kok,” kata Sujeong.

“Baiklah,”

Chu~

Mingyu mengecup singkat bibir Sujeong setelah itu barulah mereka melepas pelukan masing-masing. Keduanya masih saling menatap satu sama lain. Tatapan mata Mingyu begitu tajam kepadanya namun Sujeong suka. Dia sangat suka saat laki-laki itu menatapnya dengan sangat lekat persis seperti saat ini.

Saranghae,” ucap Sujeong.

Mingyu tersenyum tipis lalu tangannya terulur mengusap rambut Sujeong dengan sangat lembut. Tidak ada balasan dari Mingyu. Sujeong langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain dan menghela nafas dengan sangat pelan—sampai-sampai Mingyu tidak mengetahui kalau Sujeong saat ini merasa down karenanya. Tidak pernah sekalipun dia mendapat balasan saat Sujeong mengatakan kata cinta kepada Kim Mingyu.

.

            Pulang sekolah Sujeong mengajak Mingyu untuk pergi berkencan. Mingyu mengiyakan ajakan Sujeong barusan dan kini keduanya sudah berada di sebuah kedai es krim. Sujeong suka es krim sehingga kalau dia mengajak Mingyu berkencan tempat ini menjadi destinasi pertamanya.

.

            Sujeong telah menghabiskan 1 mangkuk es krim bahkan sisa milik Mingyu dia yang menghabiskan. Namun tidak berarti Sujeong puas, dia memesan lagi satu es krim corn rasa mint untuk memakannya di jalan. Kini Mingyu dan Sujeong melanjutkan perjalanan mereka untuk pergi ke bioskop. Mingyu memperhatikan pacarnya yang tampak sangat bahagia memakan es krim itu.

“Kau mau?” tanya Sujeong yang sadar sedang dipandangi.

“Ya,” jawab Mingyu.

“Ini,”

Sujeong mendekatkan es krim itu ke Mingyu namun tidak diduga Mingyu malah memilih es krim yang lengket di ujung bibir gadis bermarga Ryu itu! Sontak saja Sujeong kaget karena ini di depan umum dan pejalan kaki kini memperhatikannya dan Mingyu.

Ya..” rutuk Sujeong.

Mingyu tersenyum, “Kajja..” kini Mingyu menarik tangan Sujeong yang tidak memegang es krim dan mengajaknya untuk segera cepat berjalan.

.

            Keesokan harinya Sujeong mencari Mingyu ke seluruh sekolahan. Mingyu bilang ingin makan bersama makanya dia meninggalkan Yebin tapi sekarang malah Sujeong yang ditinggal oleh Mingyu. Sujeong menelusuri koridor sekolahan dan akhirnya menemukan sosok jangkung kekasihnya. Tapi langkah kaki Sujeong mendadak berhenti saat menemukan Mingyu sedang berbicara dengan seorang adik kelas yang Sujeong kenal namanya Jang Yeeun.

.

            Sujeong sengaja bersembunyi dibalik tembok agar tidak terlihat oleh Mingyu. Dari sini dia dapat lihat kalau Mingyu sedang tersenyum manis kepada Yeeun. Detak jantung Sujeong rasa-rasanya berhenti berdetak saat ini juga. Bagaimana bisa Mingyu tersenyum lepas pada gadis lain sementara dia tidak pernah tersenyum seperti itu kepadanya?

Ya awas!”

Seseorang berteriak kepada Sujeong sehingga Sujeong langsung minggir seperti permintaannya barusan. Tanpa Sujeong sadari kalau saat ini Mingyu melihat ke arahnya. Sujeong langsung menatap ke arah Mingyu dan membulatkan matanya saat laki-laki menyadari kehadirannya. Sujeong membalikan badannya namun belum sempat melangkahkan kaki dia kembali memutar badan dan berjalan menghampiri Mingyu. Kalau dia kabur kentara sekali kalau tadi dia memata-matai kekasihnya sendiri.

.

“Mingyu ayo makan!” ajak Sujeong.

Sujeong memandang Mingyu dan Yeeun secara bergantian. Sebagai perempuan Sujeong dapat merasakan kalau saat ini Yeeun tidak senang dengan kehadirannya.

“Maaf aku masih ada urusan dengan Yeeun,”

Deg! Dapat kalian rasakan ‘kan bagaimana perasaan Sujeong saat ini? Hatinya hancur berkeping-keping mendapatkan fakta bahwa Mingyu lebih mementingkan urusannya bersama Yeeun.

“Yeeun-ah kajja!” ajak Mingyu.

Mingyu terlebih dahulu pergi meninggalkan Sujeong maupun Yeeun. Kini Yeeun berhadapan dengan Sujeong. Sebelum perempuan yang 1 tahun lebih muda darinya itu pergi Yeeun memberikan senyuman miring kepada Sujeong.

“Sampai jumpa lagi sunbaenim,” katanya penuh penekanan.

Sujeong kini seorang diri meratapi betapa hancurnya perasaannya saat ini. Rasa laparnya kini mendadak hilang sebab dia telah kencang memakan hati karena perilaku Mingyu kepadanya. Sujeong pun berlari pergi meninggalkan tempat itu dengan air mata yang berjatuhan dari pelupuk matanya.

.

“Ryu Sujeong di mana?”

Guru Kim bertanya tentang Sujeong karena gadis itu tidak hadir di kelas. Sejak jam istirahat Sujeong tidak juga kembali ke kelas. Yebin melihat ke arah Mingyu bermaksud menyakan di mana keberadaan Mingyu namun laki-laki itu pura-pura tidak melihat Yebin dan menyibukan diri dengan membaca buku pelajaran.

.

“Lihat aku terjebak di sini!”

Sujeong hanya menatap malas orang yang sejak tadi mengoceh di depannya. Katanya dia mau menemaninya bolos pelajaran tapi malah orang itu yang tampak menyalahkan Sujeong karena telah membuatnya di tempat ini bersamanya.

“Cha Eunwoo tutup mulutmu!” oceh Sujeong.

“Sujeong-ah ada apa si sampai bolos segala?” tanya Eunwoo.

Cha Eunwoo itu teman Sujeong saat masih kecil. Mereka dulu bertetangga tapi karena Eunwoo pindah mereka jarang lagi bermain bersama. Tapi silaturahmi di antara keduanya masih berlanjut sampai sekang. Bahkan masuk sekolah ini saja mereka janjian.

“Bukan apa-apa. Aku hanya lelah,” lirih Sujeong.

“Kalau lelah ya tidur saja,” saran Eunwoo.

“Kalau begitu pinjam pahamu ya!” seru si Sujeong.

Eunwoo menganggukan kepalanya dengan antusias. Kini dia menepuk pahanya menandakan kalau dia mempersilahkan gadis itu untuk segera tidur. Sujeong tersenyum kemudian meletakan kepalanya di paha Eunwoo. Empuk kekeke Sujeong suka. Tak lama kemudian Sujeong pun mulai terlelap.

.

            Eunwoo mengamati sahabatnya ini dengan seksama. Dia merasa ada yang aneh dengan Sujeong saat Sujeong mulai masuk kelas 3. Lebih tepatnya ada yang aneh pada dirinya semenjak dia berpacaran dengan Mingyu. Sujeong tidak sering menceritakan rahasianya atau hari-harinya semenjak berhubungan dengan laki-laki itu. Tak sengaja saat Eunwoo sedang mengamati wajah Sujeong dia melihat ada yang aneh di leher Sujeong. Karena tertutup dengan surai panjang Sujeong, ia—Cha Eunwoo pun menyingkirkan rambut-rambut yang menghalangi pandangannya ke leher Sujeong. Ketika Eunwoo sudah dapat melihat dengan jelas dengan sesuatu yang mengganjal baginya dia membulatkan matanya tak percaya.

.

            Hey! Eunwoo itu lelaki dia paham betul bagaimana bekas merah itu terbentuk. Rahangnya mengeras mengetahui bagaimana selama ini Mingyu memperlakukan Sujeong. Sebagai sahabat Sujeong wajar kalau tidak terima. Rasanya ingin sekali Eunwoo mendatangi laki-laki itu dan menghajar wajahnya sehingga babak belur—

“Sujeong?”

Eunwoo menoleh ke sumber suara saat seseorang memanggil nama Sujeong. Waktu yang pas! Ternyata Mingyu lah yang memanggil Sujeong barusan. Mingyu berjalan menghampiri Sujeong dan Eunwoo. Matanya menatap tajam saat tahu kekasihnya sedang tidur dipangkuan cowok lain.

Ya!” bentak Mingyu.

Tsk.. Apa?” tanya Eunwoo acuh tak acuh.

“Ryu Sujeong!”

Mingyu berteriak dengan sangat kencang sehingga Sujeong terbangun. Dengan mata yang masih sulit untuk melihat ke sekitar (karena cahaya begitu terang) dan manik mata Sujeong akhirnya berhasil menangkap sosok Mingyu.

“Mingyu-ya!”

Mingyu menarik tangan Sujeong sehingga perempuan itu langsung berdiri. Tarikan tangan Mingyu begitu sakit sehingga dalam beberapa detik saja sudah membuat tangan Sujeong memerah. Eunwoo ikut berdiri dan berniat melepaskan tarikan tangan Sujeong dari Mingyu namun yang dia dapatkan malah cengkraman dari Mingyu di kerah bajunya.

Ya lepaskan Sujeong!” titah Eunwoo.

“Bukan urusanmu!”

“Aku bilang lepaskan!”

Brug!

Eunwoo langsung melayangkan pukulan ke wajah tampan Mingyu sehingga laki-laki itu melepaskan cengkraman tangannya dari Sujeong mau pun Eunwoo. Kedua laki-laki itu kini berkelahi di hadapan Sujeong yang hanya bisa terkejut dengan pertikaian itu.

“Berhenti!” pekik Sujeong.

Namun mereka tidak menghiraukan teriakan Sujeong barusan dan sibuk beradu otot. Sujeong benar-benar tidak tega melihat pemandangan ini. Bagaimana bisa sahabat dan kekasihnya berkelahi?

“Berhenti hiks..”

Mendengar isak tangis dari Sujeong membuat Eunwoo yang hendak melayangkan sebuah pukulan ke wajah Mingyu langsung mengurungkan aksinya. Dia menghampiri Sujeong dan bertanya kepadanya.

“Sujeong-ah kau kenapa? Apa kau sakit?” tanya Eunwoo panik.

Ya apa hakmu bertanya kepadanya?” potong Mingyu.

“Aku sangat berhak bertanya tentang keadaannya dibandingkan bajingan sepertimu!” jawab Eunwoo.

“Oh baiklah, aku paham. Apa kalian bermain di belakangku?”

“Apa?”

Sujeong menatap Mingyu tak percaya. Apa baru saja Mingyu mencurigai dia berselingkuh di baliknya? Mingyu melihat ke arah Sujeong dengan tatapan yang berapi-api.

“Murahan!”

Satu kata yang begitu menyakitkan untuk Sujeong baru saja dikatakan oleh Mingyu untuknya.

Ya sial! Jangan pernah berkata seperti itu kepada Sujeong!” bentak Eunwoo tak terima.

“Perempuan murahan!”

Brug.. Sujeong langsung terjatuh di tempatnya setelah Mingyu menyebutnya dengan ucapan seperti itu. Mingyu membalikan badannya lalu pergi meninggalkan atap gedung tanpa mempedulikan kondisi Sujeong. Badan Sujeong bergetar dengan sangat hebat. Nafasnya tercekat dan dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk menggubris ucapan Mingyu tadi. Apa benar dia terlihat begitu gampangan di mata Mingyu.

“Sujeong-ah jangan menangis!” lirih Eunwoo.

“Eunwoo-ya..” isaknya.

.

            Karena kondisi Sujeong tidak enakan dia pulang terlebih dahulu. Pelajaran berlangsung seperti biasa namun Mingyu tidak fokus kepada penjelasan guru di papan tulis. Pikirannya kalut sendiri dengan kejadian di atap tadi. Mengingatnya membuat Mingyu mengepalkan tangannya dengan sangat kencang bahkan pena yang dia pegang menjadi korban dari amarahnya, “Sial,” batinnya.

.

            Pagi harinya Sujeong kembali ke sekolah seperti biasanya. Dia yang baru saja datang tak sengaja berpapasan dengan Mingyu yang hendak keluar dari kelas. Keduanya saling pandang selama beberapa detik kemudian barulah Sujeong memberikan jalan kepada Mingyu untuk keluar terlebih dahulu.

.

“Sedang berkelahi ya dengan Mingyu?” tanya Yebin yang penasaran dengan sepasang kekasih itu karena tidak saling menyapa di depan pintu tadi. Sujeong hanya diam tak menjawab pertanyaan Yebin barusan. Karena kejadian di atap saat pulang sama sekali dia dan Mingyu bertukar pesan. Bahkan karena itu Sujeong mendadak terkena insomnia.

.

            Saat jam kosong beberapa anak memilih untuk keluar dari kelas untuk bermain di lapangan atau juga pergi ke kantin. Ada juga beberapa anak yang memilih bergosip di kelas dan memilih menyendiri seperti Kim Mingyu. Sujeong yang melihat pacarnya sedang sendiri berniat menghampirinya. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di depan Kim Mingyu. Melihat Sujeong ada di depannya membuat Mingyu muak.

“Ayo kita berbicara!” ajak Sujeong.

.

            Sujeong berdiri tepat di depan Mingyu saat ini. Mingyu sendiri tampak acuh dan memilih melihat ke arah lain dibandingkan menatap kekasihnya yang tepat berada di depan matanya. Sujeong terus memperhatikan gerak-gerik Mingyu dan menghela nafas.

“Maaf,” ucap Sujeong.

“Oh.. Jadi kau mengakui kalau kau salah?” tanya Mingyu.

“Aku tidak melakukan kesalahan tapi aku hanya ingin meminta maaf kepadamu,” jawab Sujeong.

Ya sudah aku katakan berapa kali kalau kau tidak usah dekat dengan Cha Eunwoo itu? Hah?!” bentaknya.

Sujeong tertegun mendengar Mingyu baru saja membentaknya. Kenapa jadi Mingyu yang marah kepadanya? Harusnya dia yang marah karena telah mementingkan Yeeun dibandingkan dirinya, meninju sahabatnya dan yang terakhir telah mengatakan kalau dia perempuan—ehem—murahan.

“Mingyu-ya minta maaf padaku sekarang!” kata Sujeong dengan lantang walaupun di dalam dirinya ada rasa takut untuk berbicara dengan Mingyu seperti itu.

“Aku meminta maaf katamu?” ulang Mingyu.

Sujeong menganggukan kepalanya. Tangannya keringat dingin saat tahu kalau Mingyu kini tengah memandangnya dengan tatapan yang sangat menusuk. Mingyu melangkahkan kakinya mendekati Sujeong sampai akhirnya dia menginjak ujung sepatu Sujeong. Karena takut gadis itu langsung melangkah ke belakang untuk menghindari Mingyu. Namun semakin Sujeong menghindarinya Mingyu juga semakin melangkah maju sampai akhirnya—

Brug.

—Punggung Sujeong menabrak dinding. Tidak ada lagi celah untuk Sujeong menghindarinya. Badannya kini telah terkunci rapat oleh Mingyu yang sudah menutupi aksesnya untuk bergerak sedikit pun.

“Mingyu-ya..” bisik Sujeong bergetar.

“Aku tidak salah dengarkan kalau kau mengatakan aku harus minta maaf?” tanya Mingyu.

“A..aku tidak bermaksud—“

Belum selesai Sujeong menyelesaikan kalimatnya, Mingyu telah menyumpal bibirnya dengan miliknya. Sujeong hanya diam tanpa memberikan balasan apapun kepada Mingyu karena dia begitu takut saat ini. Ia meremas rok sekolahnya karena begitu cemas mendapatkan perilaku seperti ini dari kekasihnya sendiri.

Aaaaaaa!!!

Sujeong berteriak dengan sangat kencang saat gigi Mingyu yang menyerupai vampir itu mengigit bibirnya dengan sangat kasar. Bahkan darah mulai mengalir dari sana.

Tsh..

Sebulir air mata jatuh dari mata Ryu Sujeong. Kenapa Mingyu begitu jahat kepadanya? Apa benar Mingyu memiliki perasaan yang tulus kepadanya? Pertanyaan itu terus berputar di dalam benaknya saat ini.

“Kau tidak mau membalasnya?” tanya Mingyu skeptis.

Sujeong hanya diam. Ketika Mingyu kembali melumat bibirnya Sujeong hanya bisa membalas dengan perasaan pahit. Air mata Sujeong bahkan turun begitu saja walaupun dia sudah berusaha keras untuk menahannya. Sakit. Hatinya begitu sakit karena Kim Mingyu.

.

            Setelah merasa puas Mingyu langsung pergi meninggalkan Sujeong tanpa sepatah kata pun. Sujeong sendiri tetap menangis di tempatnya. Bahkan dengan menangis saja Sujeong rasa sakit hati yang sedang dia rasakan tidak terbayarkan sepenuhnya.

“Oh ya aku minta maaf. Itu ‘kan maumu?”

Mendengar Mingyu mengatakan hal seperti membuat tangis Sujeong semakin keras. Setelah terdengar pintu keluar tertutup Sujeong langsung berjongkok di tempatnya dan menangis sekeras-kerasnya untuk mengeluarkan segala kesedihannya saat ini, “Nappeun..” lirihnya.

.

            Dengan langkah tertatih Sujeong kembali ke kelasnya. Dia berjalan seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Heh. Memang saat ini dia sedang tidak bersemangat. Banyak sekali hal yang dia pikirkan saat ini. Memang betul kata orang kalau cinta dapat membodohi dirimu.

Brug~

Karena tidak melihat apa yang ada di depannya Sujeong menabrak tiang yang ada di depannya. Semua orang yang berada di koridor menertawakan kebodohannya. Hanya ada satu orang yang datang menghampiri Sujeong untuk menanyakan apa dia baik-baik saja atau tidak.

“Kau baik-baik saja?” tanya orang itu.

“Tidak!” jawab Sujeong ketus.

“Ah.. apa mau aku antar ke UKS? Sepertinya kau benar-benar terlihat tidak baik. Apa kau menahan tangis karena kesakitanmu makanya matamu merah seperti itu?” tanyanya lagi.

“Kau tidak tahu apapun jadi jangan sibuk mengurusi hidupku!” pekik Sujeong.

Setelah berteriak kepada laki-aki itu Sujeong pergi berlari meninggalkannya. Orang tersebut hanya bisa menatap kepergian Sujeong dengan heran. Dia ‘kan berniat baik kenapa malah dibentak seperti itu?

“Mungkin gadis itu lagi PMS,” gumamnya.

.

            Sujeong masuk ke dalam kelasnya dan disambut oleh senyuman Mingyu. Entah mengapa melihat senyuman itu malah membuat Sujeong merasa tertekan. Dia hanya membalas senyuman Mingyu dengan tersenyum kecil lalu pergi ke tempat duduknya.

“Sujeong kau dari mana si?” oceh Yebin.

“Aku tidak enak badan jadi tadi pergi tidur sebentar di UKS,” dustanya.

“Benarkah? Kalau begitu pulang saja,” saran Yebin.

Aniya, aku sudah baik kok aku bisa mengikuti pelajaran lagi,” tolak Sujeong.

“Ah baiklah.. Oh Sujeong bibirmu kenapa?!” pekik Yebin saat melihat bibir sahabatnya terluka.

Sujeong hanya menganggukan kepalanya dan memilih mengeluarkan sebuah buku untuk membacanya. Oh ralat, pura-pura membaca agar Yebin tidak banyak bertanya lagi kepadanya.

.

            Sepulang sekolah Sujeong seperti biasa menunggu bus yang mengantarkannya pulang ke rumah di halte. Dia menunggu bus yang belum kunjung tiba itu sambil melamun.

Grep~

Alangkah kagetnya Sujeong saat seseorang menyeret tangannya untuk pergi dari halte bus. Mata Sujeong membulat saat sadar bahwa orang yang menariknya adalah kekasihnya sendiri. Apa-apaan ini.

“Mingyu mau ke mana?” tanya Sujeong.

“Ikuti saja aku!” jawab Mingyu tanpa berhenti berjalan.

Sujeong hanya pasrah dengan tindakan Mingyu ini. Selalu seenaknya. Selalu menyakitinya. Kalau bisa membenci laki-laki ini Sujeong ini sekali membencinya sampai mati namun tidak bisa karena hatinya mengatakan untuk terus mencintainya. Bodoh, Ryu Sujeong bodoh.

.

            Gadis bersurai panjang itu melihat sebuah rumah yang ada di depannya dengan bingung dan penasaran. Kenapa Mingyu mengajaknya ke sini? Memangnya ini rumah siapa? Biasanya Mingyu hanya pergi mengajaknya pergi ke sebuah tempat yang dia sebut rumah keduanya.

“Ini rumahku. Ayo masuk!” ajaknya.

Oh ternyata ini rumah Mingyu. Selama ini Mingyu tidak pernah memberitahu alamat pasti rumahnya tapi kali ini dia malah mengajaknya ke kediamannya ini.

.

            Suasana rumah Mingyu benar-benar sangat sepi dan sunyi. Tidak ada siapapun di rumah ini. Rumahnya lumayan bersih dan rapi. Mingyu terus menarik lengan Sujeong untuk mengajaknya.

“Tunggu saja di kamarku,” kata Mingyu.

Sujeong melihat pintu kamar yang bertuliskan “Mingyu’s room” itu. Ah jadi itu kamar pacarnya. Mingyu membukakan pintu kamarnya untuk Sujeong dan menyuruh pacarnya itu untuk segera masuk. Setelah Sujeong masuk ke dalam kamarnya Mingyu bertanya kepada Sujeong.

“Kau mau minum apa?” tanya Mingyu.

“Tidak usah repot, Mingyu-ya.” Jawab Sujeong.

“Cola bagaimana?”

“Boleh juga,”

Setelah itu Mingyu langsung pergi dari hadapannya untuk pergi ke dapur meninggalkan Sujeong sendiri di kamarnya.

.

            Berada di kamar kekasihnya sendiri membuat Sujeong kikuk. Dia tidak pernah berpikir untuk mendatangi rumah Mingyu apalagi masuk ke kamarnya. Untuk ukuran anak laki-laki kamar Mingyu tergolong rapi. Cat warna biru yang membuat kamar ini terkesan sejuk. Buku-buku juga tersusun rapi bahkan Sujeong bisa membedakan yang mana buku pelajaran dan yang mana buku komik koleksi Mingyu yang sering ia baca. Kini Sujeong memilih untuk duduk di atas kasur Mingyu selagi menunggu tambatan hatinya itu kembali.

“Kenapa rumah ini sepi sekali?” gumam Sujeong.

.

Tak lama kemudian Mingyu masuk ke kamar dengan membawa dua kaleng cola dingin. Dan tidak lupa Mingyu menutup rapat pintu kamarnya. Well berduaan dengan Mingyu di sebuah ruangan tertutup adalah hal yang biasa untuk Sujeong jadi dia tidak takut.

“Ini..”

Sujeong tersenyum tipis saat Mingyu memberikan cola untuknya dan tidak lupa membukakannya terlebih dahulu untuknya. Ia menerima cola itu dan langsung meneguk untuk menghilangkan dahaganya. Hah.. rasanya lebih enak dan segar.

“Ada yang tidak beres dengan bibirmu,” celetuk Mingyu.

Ye?!”

“Apa karena tadi?” tanyanya.

Sujeong terdiam sejenak sebelum akhirnya dia membalas pertanyaan Mingyu, “Iya karena itu,”

“Maaf nanti aku akan membantumu mengobatinya,”

Sujeong menganggukan kepalanya. Kini setelah selesai meminum minumannya Sujeong meletakan botol kaleng itu di atas meja belajar Mingyu setelah itu dia kembali duduk di samping kekasihnya.

“Sepi sekali rumah ini?” tanya Sujeong basa-basi.

“Ya memang rumah ini selalu sepi,” jawab Mingyu.

“Kenapa begitu?” heran Sujeong.

Mingyu memalingkan wajahnya ke Sujeong dan kini mereka saling bertatapan satu sama lain. Tidak ada satu pun di antara mereka yang mengeluarkan suara. Keduanya hanya diam dan saling pandang satu sama lain. Oh kalau boleh jujur detak jantung Sujeong berdebar tidak karuan. Apalagi kini Mingyu memajukan wajahnya dan—

chu~

—ia mencium Sujeong. Ciuman itu terasa lebih lembut dari yang sebelumnya. Perlahan Sujeong memejamkan matanya dan membalas ciuman Mingyu. Mingyu menyesap manis bibir Sujeong dengan sepenuh hatinya. Dan sampai akhirnya secara perlahan laki-laki itu mendorong pelan tubuh Sujeong ke belakang tanpa menghentikan ciuman mereka. Posisi Sujeong kini berada di bawah Mingyu dan matanya yang semula tertutup rapat ini terbuka lebar. Sujeong memberanikan diri untuk menghentikan ciuman mereka dan mendorong tubuh Mingyu agar segera bergeser untuk tidak menghalanginya kembali berdiri.

“Mingyu-ya geser,” lirih Sujeong.

Bukannya menggeser seperti apa yang Sujeong perintahkan Mingyu semakin memperkecil pergerakan Sujeong. Tangan Mingyu kini bergerak untuk membuka kancing baju Sujeong satu persatu. Kali ini Mingyu benar-benar keterlaluan si mata Sujeong! Perempuan itu memerontak agar Mingyu melepaskannya tapi ada daya Mingyu tidak peduli dan terus berusaha untuk melucuti pakaian Sujeong.

“Mingyu-ya andwae!” mohon Sujeong.

Mingyu menyunggingkan sebuah senyuman yang membuat Sujeong bergedik ngeri. Dia benar-benar pasrah dan tidak berdaya lagi. Mingyu jahat, Mingyu tega. Rasanya dia ingin menangis tapi percuma karena air matanya telah habis akibat siang tadi menangisi perilaku kasar Mingyu kepadanya.

Ting..tong..

Saat bunyi bell terdengar Mingyu langsung menyingkir dari hadapan Sujeong. Dia bergerak meninggalkan Sujeong untuk melihat siapa orang yang telah menganggu waktu berharganya. Sementara Sujeong sendiri bernafas legah karena Mingyu telah pergi dari hadapannya. Tangannya gemetaran karena ketakutan. Keringat dingin bercucuran di pelipis Sujeong bahkan keringat itu sebesar biji jagung, “Aku takut,” ucap Sujeong bergetar.

.

            Karena waktunya telah diganggu oleh seseorang Mingyu merasa jengkel. Ia membuka pintu dan menyambut orang yang sejak jadi menekan bell dengan ekspresi datar namun menyeramkan. Tamu itu sendiri tanpa mempedulikan Mingyu langsung masuk ke dalam rumah dan sempat menyenggol bahu Mingyu sehingga si laki-laki bertubuh tiang tambah kesal. Baru saja seseorang itu masuk ke ruang tamunya dia sangat terkejut melihat seorang perempuan ada di dalam rumahnya. Hei! Apa Mingyu yang mengundang perempuan itu ke rumahnya?

“Kau siapa?” tanya Kim Myungsoo yang tak lain adalah kakak kandung Mingyu.

“Min..mingyu chingu,” jawab Sujeong kikuk dan takut.

Mingyu muncul di belakang Myungsoo. Melihat Sujeong membawa tasnya membuat Mingyu naik pitam.

“Kau mau pulang?” tanya Mingyu dengan nada tinggi.

N..ne..” jawab Sujeong gagu.

Ya Kim Mingyu untuk apa kau bawa seorang gadis ke rumah hah?” tanya Mingyu.

“Bukan urusanmu,” jawab Mingyu ketus.

“Kau ikut aku! Dan kau haksaeng duduk di sana!” tunjuk Myungsoo bergantian ke arah Mingyu lalu Sujeong.

Myungsoo menyeret Mingyu dengan kasar untuk segera berbicara di tempat yang lebih private. Sementara Sujeong duduk seperti apa yang diperintahkan oleh Myungsoo barusan. Dia ingin segera pulang tapi karena Sujeong mempercayai Myungsoo dapat melindunginya dia memutuskan untuk duduk seperti apa yang diperintahkan Myungsoo tadi. Ya Tuhan, Sujeong butuh perlindungan.

.

“Untuk apa kau mengajak perempuan datang ke rumah ini?” tanya Myungsoo mengintrogasi.

“Aku hanya mencontoh apa yang kau dan ayah lakukan,” jawab Mingyu dengan santai.

Plakk!!

Sebuah tamparan baru saja mendarat di pipi mulus Mingyu. Bukannya merasa sakit karena hadiah dari kakaknya barusan, Mingyu malah tersenyum sinis dan mengelus pipinya.

“Jaga bicaramu Kim Mingyu!” bentak Myungsoo.

“Aku tidak butuh menuruti aturan atau perkataanmu!” bentak balik Mingyu.

Ya aku katakan padamu jangan pernah melakukan hal yang aneh-aneh. Kau paham?”

“Kenapa tidak? Kau saja bisa melakukan—“

Myungsoo mengambil ancang-ancang untuk memberikan sebuah tamparan lagi ke pipi Mingyu makanya ia menghentikan ucapannya. Kalau berkelahi dengan kakak laki-laki yang berbeda 5 tahun darinya itu Kim Mingyu tidak akan pernah menang. Melihat adiknya telah berhenti bicara Myungsoo langsung menurunkan kembali tangannya lalu pergi meninggalkan Mingyu sendiri.

.

            Sujeong melihat Myungsoo berjalan menghampirinya. Ia membetulkan posisi duduknya lalu menundukan kepala. Kalau boleh jujur Sujeong sempat mendengar teriakan kedua kakak beradik itu. Sujeong menggenggam kedua tangannya untuk menghilangkan rasa takut dan geroginya ini.

“Siapa namamu?” tanya Myungsoo.

“Ryu Sujeong,” jawab Sujeong.

“Kau pacar Mingyu?” tanyanya lagi.

Sujeong mengangguk pelan. Melihat respon Sujeong barusan membuat Myungsoo membulatkan mulutnya.

“Aku antar kau pulang!” celetuk Myungsoo.

Jeong..mal?” tanya Sujeong memastikan.

“Ya aku antar. Ayo!”

Myungsoo berdiri lalu langsung keluar dari rumahnya. Begitu pula Sujeong yang segera mengikuti langkah kaki Myungsoo dengan cepat. Sementara itu Mingyu hanya bisa diam di tempatnya melihat Myungsoo seenaknya mengajak Sujeong untuk pulang.

“Sialan!” geram Mingyu.

.

            Di dalam mobil suasana di antara Sujeong dan Myungsoo begitu kikuk. Yang Sujeong tahu orang yang mengantarkannya pulang ini sudah pasti kakaknya Mingyu tapi dia tidak tahu siapa namanya. Tanpa sadar Sujeong terus memandang Myungsoo dengan penuh keheranan dan tanpa diduga Myungsoo sadar kalau Sujeong tengah menatap ke arahnya.

“Kenapa memperhatikanku?” tanya Myungsoo.

“Bu..bukan apa-apa. Maaf,” sesal Sujeong.

“Apa Mingyu melakukan hal yang aneh-aneh kepadamu?”

“Ye?”

“Apa Mingyu—“

“Ah! Aniyo!” potong Sujeong.

“Sungguh?”

Sujeong menganggukkan kepalanya berulang kali agar Myungsoo mempercayainya. Dia tidak ingin orang lain tahu tentang apa yang hendak diperbuat oleh Mingyu tadi.

“Kalau Mingyu melakukan hal yang aneh kepadamu kau bisa hubungi aku untuk meminta bantuan,”

“Baiklah. Terima kasih…..”

“Myungsoo. Panggil saja oppa biar kau nyaman,”

“Baiklah terima kasih Myungsoo oppa,” ulang Sujeong.

“Kau bisa ambil satu kartu namaku yang ada di laci dashboard itu,”

Otomatis Sujeong membuka laci itu dan menemukan kartu nama yang dimaksud oleh Myungsoo. Dia membaca nama dan deretan angka-angka (nomor ponsel Myungsoo) lalu menyimpannya di saku hoodienya.

“Mingyu itu hanya korban dari semua ini. Sebagai kakaknya aku benar-benar kasihan melihatnya,”

Tidak ada balasan dari bibir Sujeong karena dia kalut dalam pemikirannya sendiri. Apa si yang Myungsoo maksud? Ingin sekali dia bertanya tapi Sujeong takut salah berkata. Jadi Sujeong hanya bisa memperhatikan ekspresi wajah Myungsoo yang tampak frustasi dengan perasaan tak enak hati.

.

            Tanpa mengucapkan salam Sujeong langsung masuk ke rumahnya dengan perasaan yang sangat gundah. Ibunya yang ada di ruang tamu hanya bisa heran melihat tingkah Sujeong yang begitu aneh. Tapi karena paham sepertinya Sujeong butuh waktu sendiri beliau tidak ingin menganggu Sujeong untuk terlebih dahulu.

.

            Saat masuk ke dalam kamarnya Sujeong tak lupa mengunci pintu kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya. Ia menghela nafas berulang kali karena dadanya terasa sesak menahan segala kesedihan yang ada di dalam dirinya saat ini. Saat Sujeong hendak membalikan posisi tidurnya dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Ah, ternyata ponselnya. Mengingat tentang ponsel sepertinya Sujeong harus menghubungi seseorang saat ini. Orang yang dapat mengerti dirinya. Buru-buru Sujeong mencari kontak orang itu di ponselnya dan kemudian menekan tombol hijau lalu menunggu orang di sebrang sana mengangkat panggilan darinya.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo. Apa bisa bertemu?”

.

            Melihat orang yang dia tunggu sedang berlari ke arahnya dengan membawa sekotak pizza membuat Sujeong tersenyum tipis. Kini orang itu sampai dan duduk di sampingnya. Cha Eunwoo memberikan pizza berukuran sedang yang dia beli untuk Sujeong kepada gadis itu. Dengan penuh semangat Sujeong membuka makanan berbentuk bulat namun di potong menjadi segitiga itu seakan-akan dia melupakan semua masalah yang sedang dia hadapi.

“Huaaaa tuna! Eunwoo-ya gomawo!” seru Sujeong.

“Sama-sama. Makanlah yang banyak, ok?”

Sujeong mengangguk dan langsung mengambil satu potong pizza bertopingkan tuna dan keju mozarela yang membuatnya tergiur. Ia mengunyah pizza itu seakan-akan hari ini adalah hari terakhirnya untuk makan. Sementara Eunwoo sendiri hanya bisa diam di tempatnya sembari memperhatikan Sujeong. Ia penasaran apa yang hendak dikatakan oleh Sujeong sampai-sampai mengajaknya untuk bertemu di taman yang dulu sering mereka kunjungi.

Malhae.. aku sudah memberikanmu sekotak pizza jadi ceritakan sekarang apa masalahmu!” pinta Eunwoo.

“Eunwoo-ya sebelum aku menceritakannya kau harus janji kepadaku kalau kau tidak akan marah, oke?” syarat Sujeong.

“Memangnya apa lagi si? Baik aku akan berjanji padamu!”

Si gadis berpipi chubby itu meletakan pizza yang sedang dia pegang di kotaknya kembali dan menutup rapat kotak pizza untuk memulai ceritanya. Sigh~ walaupun ini berat sepertinya Sujeong benar-benar harus membagi cerita ini kepada orang yang dapat mengertinya.

“Aku tidak tahu bagaimana cara merangkai kata yang benar untuk menceritakannya. Yang jelas tadi saat pulang sekolah aku..a..aku—“

Sujeong menghentikan ucapannya karena takut untuk mengatakannya kepada Eunwoo. Dia mengigit bibir bawahnya dan berusaha menenangkan dirinya sendiri saat ini. Sadar bahwa Sujeong butuh kekuatan Eunwoo meletakan tangannya di pundak Sujeong dan berbisik kepadanya.

Gwenchana. Katakan kepadaku apa yang terjadi,” kata Eunwoo dengan lembut.

“Ta—tadi saat pulang sekolah Mingyu memaksaku untuk melakukannya,” aku Sujeong penuh penekanan.

Sontak saja ucapan Sujeong barusan memuat mata Eunwoo hendak keluar dari sarangnya. Rahangnya bahkan mengeras karena emosi mendengar segala pengakuan Sujeong. Bajingan itu memang harus dia musnakan dari muka bumi ini!

“Su—sujeong kau baik-baik saja ‘kan?” tanya Eunwoo panik.

“Untung saja kakaknya Mingyu datang tepat waktu kalau tidak.. Eunwoo-ya—“

Sujeong mulai menangis mengingat hal itu. Eunwoo langsung membawa Sujeong ke dalam pelukannya membiarkan perempuan yang sejak kecil dia kenal itu menangis di dadanya yang bidang. Tak peduli bahwa kemeja yang dia pakai akan basah karena air mata Sujeong karena saat ini yang terpenting adalah Cha Eunwoo ingin memberikan ketenangan kepada Sujeong. Eunwoo mengusap punggung Sujeong untuk menenangkannya.

“Sekarang kau sudah aman. Lain kali aku akan melindungimu dengan lebih baik Sujeong-ah. Aku janji!” gumam Eunwoo.

Perasaan Eunwoo benar-benar campur aduk. Di satu sisi dia ingin menangis bersama Sujeong (yang pastinya Eunwoo tahu betul kalau Sujeong sangat tertekan karena perilaku lancangnya Kim Mingyu). Namun di sisi lain dia ingin menghancurkan segala sesuatu yang ada di dunia untuk melampiaskan kemarahannya kepada Mingyu yang telah berani berbuat seperti itu kepada sahabatnya. Pokoknya ini tidak bisa Cha Eunwoo biarkan lebih lanjut!

.

            Saat sedang bersantai mengerjakan tugas matematika pemberian guru Kang yang mendadak sakit perut sehingga tidak bisa mengajar, seseorang masuk ke dalam kelas Sujeong dengan penuh emosi. Orang itu langsung bergegas menghampiri Mingyu dan—

Brug!!

—ia mendaratkan sebuah pukulan ke wajah Mingyu. Tentu saja Sujeong yang awalnya sedang berbicara dengan Yebin terkejut bukan main. Keadaan kelas juga mendadak heboh melihat Cha Eunwoo langsung memukul Mingyu tanpa ada basa-basi terlebih dahulu.

Ya!” pekik Mingyu tak terima.

“Itu pukulan dariku yang tidak terima dengan segala perlakuanmu dan ini—“

Brug!

Eunwoo kembali melayangkan sebuah pukulan ke pipi Mingyu. Meninggalkan memar yang dapat kau lihat secara langsung.

“Itu untuk Sujeong!” lanjut Eunwoo.

Tentu saja Sujeong kembali syok dan langsung berlari menghampiri Eunwoo dan Mingyu tentunya.

“Eunwoo-ya!” pekik Sujeong.

Mian Sujeong-ah. Aku tidak bisa diam dan menepati janjiku,” sesal Eunwoo.

Mendengar percakapan Sujeong dan Eunwoo barusan membuat Mingyu tersenyum miring. Jadi Sujeong bercerita kepada Eunwoo dan itu berarti keduanya masih berhubungan di belakang Mingyu.

“Sial,” umpat Mingyu.

“Kau, bajingan bagaimana kau bisa melakukan hal se—“

Teringat bahwa hal yang akan dia katakan akan menghancurkan hidup Sujeong jika di dengar oleh orang lain membuat Eunwoo langsung menutup rapat bibirnya. Mingyu yang menunggu kelanjutan dari ucapan Mingyu bertanya kepada Eunwoo.

“Bagaimana bisa apa, hah? Ah.. apa harus aku yang melanjutkan ucapanmu itu agar semua orang tahu?” tanya Mingyu skeptis.

“Mingyu-ya!” lirih Sujeong.

Mingyu dan Sujeong saling menatap satu sama lain. Ketua kelas yang tidak suka dengan keributan ini membubarkan kerumungan bahkan memaksa Eunwoo untuk kembali ke kelasnya.

.

            Sujeong mendengar Mingyu terus memanggil namanya. Namun dia tidak peduli dan terus berjalan. Ia begitu takut untuk berhadapan dengan Mingyu hanya berdua saja. Sepertinya dewi furtuna sedang berpihak kepadanya. Dari sini Sujeong dapat melihat kalau ada Eunwoo bersama dengan seseorang yang begitu asing di matanya. Ah terserahlah. Yang terpenting dia butuh perlindungan dari Eunwoo saat ini.

“Cha Eunwoo!”

Mendengar Sujeong memanggil nama orang yang tak Mingyu suka membuatnya berhenti berjalan. Apa kini Sujeong lebih memilih Eunwoo dibandingkan dirinya? Tak tahu kenapa pikiran itu membuat ulu hari Mingyu terasa begitu nyeri saat ini.

.

“Eunwoo-ya aku—“

“Loh kau?!”

Eunwoo menatap Sujeong dan temannya secara bergantian. Bagaimana bisa Sujeong mengenal si Jeon Jungkook alias anak baru di kelasnya? Melihat Sujeong yang ada di depannya dan memasang raut muka terkejut membuat Jungkook terkekeh.

“Ah.. kau gadis PMS itu,” celetuk Jungkook.

“PMS?” ulang Sujeong.

“Iya kau marah-marah saat itu!” kata Jungkook.

“Hei bagaimana bisa kalian berkenalan?” heran Eunwoo.

“Tidak enak berbicara di sini. Bagaimana berbicara sambil makan di kantin?” usul Jungkook.

.

            Eunwoo membawakan pesanannya, Sujeong dan tidak lupa pesanan Jeon Jungkook. Kini ketiganya makan dengan lahap terutama Jungkook yang baru pertama kali merasakan masakan di kantin sekolah ini.

“Enak! Kemarin aku tidak sempat makan karena sibuk mengurus surat. Akhirnya aku bisa mencicipi makanan di kantin ini,” oceh Jungkook.

Sujeong hanya tersenyum tipis menanggapinya. Sepertinya Jungkook anak yang easy going bahkan dia tidak segan banyak bicara di depan orang yang baru saja dia kenal (yaitu dirinya, Sujeong).

“Ah iya! Aku lupa membawa dompet. Aku ke kelas dulu ya!” celetuk Eunwoo tiba-tiba.

“Biar aku saja yang bayar—“

Jungkook dan Sujeong saling memandang satu sama lain saat keduanya berbicara dengan perkataan yang sama di waktu yang sama juga pula. Mereka kemudian tertawa bersama menyadari kekikukan dari hal ini.

“Tidak usah. Aku ke kelas dulu saja,” tolak Eunwoo.

.

            Kini di meja ini hanya ada Sujeong bersama Jungkook. Berhubung Sujeong agak sulit berkomunikasi dengan orang baru Jungkook lah yang sejak tadi memulai percakapan. Mula-mula Jungkook bertanya tentang kondisi sekolah barunya. Ia juga menanyakan tentang kepribadian Cha Eunwoo.

“Ngomong-ngomong kau pindahan dari mana?” tanya Sujeong.

“Aku pindahan dari SMA Seungri,” jawab Jungkook.

“Wah kebetulan! Temanku dulu juga bersekolah di sana. Apa kau kenal Kim Jiho?”

“Primadona sekolah itu? Ya aku mengenalnya,”

“Ternyata dia masih populer ya hehehe,” kekeh Sujeong.

Jungkook menganggukan kepalanya membenarkan ucapan Sujeong barusan. Jungkook merasa bahwa dirinya beruntung sekali tidak memiliki kesulitan saat pindah ke sekolah ini. Ada Cha Eunwoo yang mau menjadi temannya di kelas dan kini Ryu Sujeong yang welcome kepadanya.

“Kau dan Eunwoo hanya teman?” tanya Jungkook.

“Ya, memangnya kenapa?” tanya balik Sujeong.

“Kalian terlihat sangat dekat. Aku pikir kalian pacaran,”

“Kami tidak akan pernah pacaran. Hubunganku dan Eunwoo hanya sebatas sahabat sampai kapan pun,”

Wae?”

“Tidak ada restu orangtua. Hahahahha,”

Mendengar candaan Sujeong barusan membuat Jungkook tertawa lepas. Sujeong dan Jungkook kini saling bercanda satu sama lain tanpa menyadari sejak tadi ada orang yang menatap tajam keintiman kedua orang itu. Tak lain yang memata-matai Sujeong sejak tadi adalah pacarnya, Kim Mingyu. Eunwoo saja sudah membuatnya muak dan kini ada orang baru yang dekat dengan kekasihnya. Sial!

.

            Mingyu sengaja menunggu Sujeong di halte bus yang selalu Sujeong datangi saat pulang sekolah. Gadis itu tadinya sedang piket membersihkan kelas makanya Mingyu memilih untuk menunggu Sujeong di sini. Ada banyak hal yang ingin dia bicarakan pada Sujeong. Semalam Sujeong sama sekali tidak mengangkat panggilan darinya bahkan ponselnya tidak aktif.

“Mingyu..”

Mendengar seseorang menyebut namanya membuat Mingyu langsung menoleh begitu saja. Apa yang dia tunggu kini sudah tiba. Ketika Mingyu berdiri dari tempatnya Sujeong langsung membalikan badan dan berlari meninggalkan Mingyu.

.

            Sujeong benar-benar panik dan kehilangan arah tujuan. Dia berusaha menghindari Mingyu dengan terus berjalan walaupun berlawanan arah dari perjalanan pulangnya. Mingyu sendiri tetap mengikuti Sujeong walaupun tidak tahu akan ke mana gadis itu. Karena benar-benar panik dan tidak tahu lagi hendak ke mana Sujeong masuk ke dalam sebuah gang dan—sial! Ternyata gang itu buntu.

“Kau mau ke mana lagi?” tanya Mingyu.

Badan Sujeong menegang saat ini. Sujeong berkomat-kamit di dalam hatinya, semoga dia diberi perlindungan. Terdengar suara langkah kaki Mingyu yang hendak mendekatinya. Sujeong pun berteriak untuk menghentikan langkah tungkai si casanova tersebut.

“Jangan dekati aku!” pinta Sujeong.

“Kenapa?” tanya Mingyu.

“Aku.. aku tidak mau dekat denganmu lagi,” katanya.

“Apa maksudmu, huh?”

“Pu..putus. Aku mau putus darimu!”

“Jangan bercanda!”

“Tidak, aku tidak bercanda. Aku tidak sanggup lagi menjadi kekasihmu, Kim Mingyu. Aku tidak mau lagi terlibat denganmu,” lirih Sujeong.

Air mata mulai berjatuhan dari pelupuk mata Sujeong. Dia berusaha meredam tangisannya agar Mingyu tidak tahu kalau dia saat ini sedang menangis. Namun usaha Sujeong sia-sia karena dari belakang Mingyu tahu bahwa Sujeong sedang menangis. Kentara sekali karena tubuh gadis itu bergetar dengan sangat hebat. Perlahan Mingyu menghampiri Sujeong dan langsung memeluknya dari belakang.

“Maafkan aku,” bisik Mingyu kemudian ia menghela nafas sejenak, “Aku tahu aku salah. Aku mencintaimu,” lanjutnya.

“Semua sudah berakhir,” kata Sujeong.

“Hmm.. ya aku paham,” balas Mingyu.

Mingyu melepaskan pelukannya dari Sujeong lalu melangkah pergi keluar dari gang itu. Meninggalkan Ryu Sujeong yang menangis di tempatnya. Tak apa Ryu Sujeong ini pilihan yang terbaik, batinnya.

.

 TBC….

Advertisements

11 thoughts on “Love & Lust [1/2]

  1. Mingyu memang cocok ya jadi badboy gitu :-/
    baguslah, mbak sujeong minta putus. aku ga tega ngeliat kamu tersiksa gitu mbak :’

    nice story fanita-shi. i like it !! xD
    aku bersyukur karena udah cukup umur buat baca ff ini e.e (ditabok)

    masih ada beberapa typo, sedikit bikin bingung sih. tapi gapapa. nobody perfect :3

    keep writing!!

    Tertanda,
    mantan Jungkook (?)

    Like

  2. Aduh itu mingyu kayaknya udah mau tobat tapi sujeong nya malah ngejauh..
    Aku ngebayangin nya sama v masa bukan sama mingyu u.u aku keseringan baca ff mingyu sujeong yg cute cute jadi pas dibuat gini gak kebayang ah maaf…
    Ff nya baguss cepet dilanjut..

    Like

  3. aduh daebakkkk😂😂
    ff nya keren jengg, ngeshipper banget mingyu x sujeong. apalagi mingyu nya jadi badboy /plakk/ wkwk
    ada dua chapter kan? ditunggu chapter keduanya wkwk

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s