[Freelance] Shadows

shadows

Shadows

Poster by  Seulchan @SPZ

Author: ANi | Main Cast: Jung Yein LOVELYZ, Hong Jisoo SEVENTEEN | Genre: Hurt-Comfort, School Life, Fluff | Rating: PG | Length: Oneshoot

This is my story, just mine. The cast’s is not mine. Warning Typo’s everywehere, guys. Don’t be plagiat and Siders, PLEASE..

===

“Satu yang kuinginkan, yaitu menghapus bayangan nya…”

Yein menatap luar jendela dan sesekali menyesap secangkir teh hijau miliknya di sisi kamar. Wajahnya tanpa ekspresi terus memandang, menanti sesuatu yang diinginkan nya datang.  Helaan napas panjang keluar ketika ketukan pintu kayu mengusik acara lihat-lihat nya.

“Masuk..” Ujar Yein cukup keras.

“Maaf menganggu, nona. Tuan berkata bahwa keberangkatan nona menuju Seoul 3 hari lagi.” Kata pelayan tersebut dan membungkuk.

“Katakan pada Appa, aku ingin keberangkatan ku lebih cepat.” Balas Yein tegas dan pintu kembali tertutup. Menyisakkan Yein yang sendirian dengan keheningan. Dan tiba-tiba isakan mulai muncul dari bibir mungilnya.

Yein yang memasang wajah flat nya menoleh sekilas ke arah luar jendela mobil. Melihat setiap sisi kota dari dalam mobil. Jalanan Seoul malam hari penuh dengan kerlap-kerlip lampu jalanan yang menghiasi, tapi bagi Yein itu masih bukan apa-apa.

“Apa nona merasa senang?” Tanya seorang pelayan yang menyetir dan melihat Nona muda nya tersebut lewat kaca kecil.

“Sedikit.” Jawab Yein singkat dan tetap memandang sisi kota yang megah.

“Apa nona lebih suka disini atau Birmingham?” Tanya nya lagi, berusaha mengibur hati Nona mudanya.

“Sejujurnya, tempat ini dan Birmingham sama saja. Tak ada yang spesial. Aku lebih suka berada di Jenewa.” Yein beralih pandang dan menatap mata sang pelayan lewat kaca kecil. Sang pelayan tersenyum kecil dan kembali melihat jalanan.

“Sepertinya liburan musim dingin nona di Jenewa sangat spesial.” Ujar sang pelayan.

“Kupikir juga begitu. Aku ingin kembali kesana. Mau menemaniku, Gosoo Ahjussi?” Tanya Yein dan tersenyum cerah, berharap sang pelayan mengiyakan permintaan nya yang sangat sederhana.

“Saya akan menemani nona, kemanapun nona pergi.” Yein pun tersenyum semakin lebar, menghapus semua rasa sakit nya dengan senyuman pada pelayan nya, Gosoo.

Yein menghela napas pelan dan merapihkan blazzer sekolah barunya, menutup rasa gugup yang ada di dalam dirinya saat ini. Sedangkan Gosoo Ahjussi menatap lembut ke arah Yein yang sedang gugup karena menghadapi sekolah baru.

“Nona gugup?” Tanya pelayan itu pelan, setengah berbisik.

“Sedikit. Tapi sejujurnya, aku bisa saja nervous dan mengalami beberapa gangguan karena hal itu. Seperti buang air, saking gugupnya.” Jawab Yein bergetar. Tanpa di duga, Yein menggenggam tangan sang pelayan dan mengalihkan pandangan pada manik mata pria yang mulai memasuki umur setengah abad itu.

“Bolehkah?” Izin Yein sopan. Gosoo Ahjussi  hanya mengangguk setuju.

Mereka berdua jalan di sepanjang lorong sekolah baru Yein yang sepi. Begitu gugupnya Yein hingga gadis tersebut gemetar hebat dan berkeringat sekujur tubuh. Saat kaki Yein berhenti, sebuah pintu kelas 11-3 menantinya untuk dibuka. Di dalam sana, semua murid sibuk memperhatikan guru yang menjelaskan materi rumit-bagi Yein.

Toktok~. Segera Yein melepas genggaman tangan nya dan menata wajah agar tak terlihat gugup. Begitu pintu terbuka, tampaklah seorang pria paruh baya dengan kepala setengah botak dilengkapi kacamata yang bertengger indah sedang menatap Yein cukup sangar.

Anyeong, aku murid baru yang masuk kelas ini.” Ujar Yein berusaha ramah.

“Oh kau, masuklah. Aku sudah menunggumu sejak tadi.” Balas nya dan tersenyum singkat. Mempersilahkan Yein masuk ke dalam kelas.

“Maaf sebelumnya telah membuat anda menunggu.” Yein pun masuk dan melihat sekilas pada pelayan nya, dan sang pelayan mengangguk sebagai jawaban pada Yein.

“Maaf untuk saat ini pelajaran kita tunda sejenak. Anak-anak, perkenalkan dia adalah murid baru di kelas kalian. Silahkan perkanalkan diri.” Katanya dan mempersilahkan Yein menggantikan guru tersebut menjadi pusat perhatian.

“Halo semuanya, namaku Jeong Yein. Aku pindahan dari Birmingham, Inggris. Salam kenal dan mohon bantuan nya.” Yein membungkuk dan sesaat tersenyum manis untuk kesan pertama, dan tatapan matanya jatuh pada seorang pria yang duduk di meja kedua dari depan.

Tatapan hangat pria itu lengkap dengan senyum tipis nya berhasil menghipnotis Yein sejenak. Sampai sang guru menyuruh Yein duduk untuk memulai pelajaran. Dengan sangat patuh, Yein mematuhi nya dan ia memulai pelajaran hari ini dengan begitu serius. Tak lupa manik matanya melihat punggung dan rambut cokelat milik pria tadi.

“Namaku Hong Jisoo, kau bisa panggil aku Jisoo atau Joshua.” Ia memperkenalkan dan mengulur tangan nyauntuk berjabat tangan.

“Yein, namaku Jeong Yein.” Balas Yein. Lalu keduanya duduk di bangku panjang, menatap langit biru dengan seksama. Ya saat ini keduanya berada di atap sekolah.

Hening, itu yang dapat disimpulkan Yein saat ini. Dan pria di sebelahnya ini, cukup pendiam dan tak banyak bicara. Manik mata Yein terus tak henti menatap wajah Jisoo dari samping, menurutnya itu pahatan paling sempurna entah yang ke berapa.

“Kapan kau akan berhenti menatapku?” Tanya Jisoo dan menatap manik mata Yein. Sedangkan sang gadis hanya memalingkan wajah karena malu, semburat rona manis memenuhi pipinya yang chubby.

“Lalu mengapa kau sendiri mau menemaniku?” Tanya Yein mengalihkan topik.

“Kupikir kau butuh teman.” Jawab Jisoo dan kembali mengalihkan pandangan nya pada gumpalan kapas yang tergantung indah di langit Seoul.

“Teman?” Tanya Yein ulang dengan suara aneh. Lalu mimiknya mulai berubah menjadi sedih, tangan nya menggenggam kuat hingga buku-buku itu menjadi putih.

Yein menatap datar pada halaman nya sore hari. Seragam sekolahnya belum digantikan dengan pakaian rumah. Yang ia lakukan saat ini adalah melamun, kegiatan yang menjadi rutinitas beberapa hari ini-atau beberapa bulan terakhir-karena memikirkan kehidupan nya yang memiliki jalan terlalu rumit seperti benang kusut.

“Sampai kapan kau akan melamun seperti itu, Yein?” Tanya seorang pria dan mendekati Yein. Mengelus lembut pucuk kepala nya dan melihat Yein yang tidak merespon.

“Entahlah, aku tak tau.” Jawabnya tiba-tiba. Lalu air matanya mulai meluncur, membasahi pipi nya yang berawal memerah semu. Lalu isakan tangis terdengar dari bibir Yein, membuat hati pria tersebut merasa sakit.

“Berhenti Yein, kau tampak sangat buruk jika seperti ini.” Dilakukan nya pada Yein, menarik gadis tersebut dalam pelukan hangat kesukaan Yein.

“Aku sudah tampak buruk, sejak itu.” Lirih Yein dan meraung keras.

“Satu yang kuinginkan, yaitu menghapus banyangan nya.” Lanjut Yein.

5 bulan sudah Yein bersekolah dan ia mulai mengenal teman-teman sebaya di kelas nya juga termasuk Jisoo yang selalu menemani Yein kemanapun gadis itu pergi. Sesaat Yein akan lupa dengan masalah nya sendiri, tapi beberapa saat pula Yein ingat permasalahan nya.

“Ada apa?” Tanya Jisoo saat gadis itu menghentikan aksi melahap roti nya.

“Tak ada, semua baik-baik saja.” Yein memainkan jari-jarinya dan kembali melahap rotinya dengan pelan tak seperti tadi. Tanpa seizin Yein pula, Jisoo menggengam kedua tangan Yein dan menatap manik matanya.

“Katakan jika kau ada masalah, aku akan mendengarkan.” Hangat nya tatapan itu kembali mengingatkan Yein pada kenangan lamanya, kembali membuat luka diantara luka-luka lama yang tidak urung hilang.

Setetes air mata tanpa suara mengalir pelan, membasahi pipi Yein. Jisoo hanya diam tanpa suara lalu mengangkat tangan kanan nya untuk menghapus sang sungai di pipi Yein. Tangan lembut Jisoo pun terasa di permukaan pipi Yein, dan saat itu juga Yein jatuh dalam pelukan Jisoo.

Sentuhan demi sentuhan terasa di tubuh Yein, membelai gadis itu agar berhenti. Dibisikan nya beberapa kata tepat pada telinga Yein.

“Aku ada disini, Yein. Aku akan selalu ada untukmu.” Bisik Jisoo dan memeluk erat Yein, dan gadis itu membiarkan tubuhnya di peluk erat dan merasakan aroma Jisoo yang menenangkan.

Saat memasuki apartemen milik Jisoo, yang ia lihat dengan manik nya yang sembab adalah sebuah gitar yang terbaring di sofa putih. Di lepasnya sepatu dan memasuki apartemen dengan alas kaki yang disediakan oleh Jisoo sebelumnya.

“Ada masalah dengan apartemen ku?” Tanya Jisoo heran. Yein menggeleng pelan dan menatap Jisoo.

“Kau sangat rapi, untuk ukuran seorang pria.” Ujar Yein dan menunduk dalam.

“Ya, karena aku tinggal sendiri.” Balas Jisoo lalu mendudukan gadis itu di sofa dekat gitar miliknya.

Jisoo tersenyum singkat dan beranjak pergi menuju dapur, meninggalkan Yein di ruang tamu apartemen. Yein yang merasa penasaran pun akhirnya melihat-lihat, berkeliling di ruang tamu apartemen. Dan saat Jisoo datang, gadis itu sedang memainkan piano yang ada di sudut ruangan menghadap kaca dengan pemandangan kota Seoul.

“Kukira kau masih ada di ruang tamu.” Jisoo mendekat. Ditaruh nya nampan berisi sepiring waffle dan susu cokelat hangat.

“Mau duet tidak? Kebetulan aku bisa memainkan gitar.” Yein menghentikkan permainan nya dan segera menoleh ke arah Jisoo yang menatap Yein. Dan yang di tatap hanya diam, menatap dengan lamat ke arah iris cokelat milik Jisoo sangat dalam.

“Oke baiklah.” Jawab Yein pada akhirnya. Jisoo kembali beranjak pergi untuk mengambil gitarnya, sedangkan Yein hanya diam di depan piano hitam milik Jisoo. Menata wajah dan jantung yang sedang berdegup kencang saat ini.

Ada apa?Ada apa denganku?’ Batin Yein bertanya-tanya. Tangan kecil nya tergerak untuk menyentuh tepat di jantung, merasakan degupan yang sangat cepat. Sama seperti pertama kali bertemu dengan Jisoo.

“Baiklah, mau memainkan lagu apa?” Siluet Jisoo mulai muncul dari pantulan permukaan piano yang sangat mengkilap. Pantulan Jisoo bergerak di belakang nya untuk mendekati Yein.

Saat itu juga wajah Yein bersemu merah, entah mengapa. Yang Yein rasakan adalah degupan nya semakin cepat dan saat pria itu tepat di samping Yein, ia hanya bisa menahan napas dan seolah lupa caranya bernapas.

“Lagu…aku ingin lagu Elliott Yamin, wait for you.” Katanya dengan napas tertahan. Jisoo menaikkan sebelah alisnya dan menatap Yein bingung.

“Aku tak tau lagu itu.” Suara lembut Jisoo masuk ke dalam indra pendengaran Yein, suara lembutnya.

“Oke, kalau begitu…Justin Bieber, Fall.” Tawar Yein dan memberanikan diri untuk melihat wajah Jisoo. Begitu menoleh, yang ia lihat adalah Jisoo yang tersenyum cerah.

“Baiklah, aku yang bernyanyi untukmu atau kita berdua bernyanyi?” Tanya Jisoo. Kemudian, Yein menaikkan sebelah alis tak mengerti.

“Kau, aku ingin mendengar suaramu.” Ujar Yein, lalu gadis tersebut mengalihkan pandang. Bibirnya bergerak kecil dan matanya menutup rapat.

“Yein pabboya, dasar bodoh. Sejak kapan bicara tanpa dipikir?! Dasar bodoh.” Rutuk Yein pelan.

“Oke, kebetulan sekali lagunya cocok denganku.” Gumam Jisoo dan Yein membuka mata dengan cepat, mengalihkan wajahnya untuk melihat  Jisoo yang sedang terkekeh tanpa sebab.

“Apa?” Pekik Yein. Jisoo menggeleng kuat dan mengelus pucuk kepala Yein dengan lembut. Begitu selesai mengelus, Jisoo mulai bermain dengan gitarnya untuk bernyanyi.

Suara khas pria itu mulai terdengar, perlahan memasuki ruang di telinga Yein yang awalnya hampa tanpa suara. Lembut. Persis seperti sentuhan yang selalu diberikan pria itu pada Yein. Begitu dalam nya suara itu hingga mampu membuat Yein terhipnotis dan masuk ke dalam alam bawah sadarnya hingga suara Jisoo terdengar tepat di telinga Yein, membuatnya terlonjak untuk membuka mata.

If you spread your wings, you can fly away with me. But, you can’t fly unless you let your…let yourself fall…”

Petikan gitar pun berhenti, yang bisa dilakukan Yein pun hanya diam menatap ke arah depan dengan kaget. Tangan nya mencengkram rok sekolah dengan kuat. Degupan di dadanya semakin kuat dan Yein tak tahan dengan hal itu.

“Jisoo, aku harus-“

“Tidak, aku tak mengizinkanmu. Kumohon tetaplan disini.” Potong Jisoo dan menggenggam pergelangan tangan Yein yang akan berjalan menjauhi nya.

Dengan cepat, pria itu memeluk Yein dari belakang. Menenggelamkan kepalanya di bahu kecil Yein yang bergetar kuat. Terlepas dari itu semua, Yein hanya diam dan beberapa detik kemudan suara tangisan Yein kembali pecah memenuhi seluruh ruangan. Membuat Jisoo memeluknya kuat.

“Yein..” Lirih Jisoo. Yein hanya menangis dan menangis, hingga tubuhnya merosot jatuh ke lantai dan lepas dari pelukan Jisoo pada awalnya. Yein memeluk lutut nya kuat dan menenggelamkan kepalanya diantara dua lututnya yang tertekuk. Sedangkan Jisoo mulai memeluk tubuh Yein kembali.

“Aku tau semuanya, Yein. Aku tau semuanya.” Ujar Jisoo. Suara tangisan Yein pun berhenti, begitu kepalanya terangkat yang dilihat Jisoo hanyalah seorang Yein yang menyedihkan, lebih menyedihkan dibandingkan yang sebelumnya.

“Kau tau?” suara serak Yein berseru, tak memperdulikan seluruh permukaan wajahnya yang tampak kacau.

“Semuanya, aku tau semuanya.” Nada suara Jisoo mulai merendah, hampir seperti berbisik pada Yein.

“Da-dari mana kau tau?” Tergagap Yein saat mengatakan nya, sangat sulit untuk menanyakan hal itu pada Jisoo. Sama saja ia bunuh diri karena akan mengingat kenangan pahit dirinya sendiri.

“Tidak, kau tak perlu tau. Beristirahatlah, aku tau kau lelah. Jika kau butuh sesuatu katakan saja, oke?” Jisoo, menangkup wajah Yein dengan kedua tangan nya. Matanya tertutup dan dengan lembut, Jisoo mengecup kedua mata Yein agar berhenti menangis dan selanjutnya bibir Jisoo yang tipis berhenti di kening Yein.

Dan saat itu juga, tubuh Yein terasa hangat. Sangat hangat, bahkan ia melihat Jisoo yang tersenyum kecil sedang menangis tanpa suara. Air mata Jisoo bergilir keluar satu-persatu seperti yang Yein rasakan pada dirinya sendiri. Perlahan satu tangan Yein terulur untuk menyentuh pipi Jisoo dan menghapus pelan air matanya yang mengalir.

“Jangan menangis, Ulljima.” Setelah suara itu keluar, mata Yein tertutup rapat.

Kepala Yein yang terasa berat menyapa nya saat bangun dari rasa lelah nya. Saat ia sadar, tubuhnya terbungkus selimut di atas kasur. Sekarang ia berada di sebuah kamar yang semua warna tembok dan langitnya adalah biru. Itu jelas bukan kamar miliknya. Sang pemilik pun datang, membawa susu cokelat yang tadinya ia taruh di atas piano.

“Pusing tidak?” Tanya Jisoo dan mengelus punggung Yein.

“Sedikit.” Jawab Yein. Jisoo memberi susu cokelat pada Yein dan disambut baik oleh gadis tersebut. Di teguk nya perlahan setiap tegukan susu, merasakan rasa cokelat yang mengailr di kerongkongan nya.

Gomawo.” Ujar Yein singkat. Jisoo mengangguk setuju dan menaruh gelas tersebut di nakas dan memandang lekat pada Yein.

“Ada yang mau kau katakan?” Yein berpikir sejenak atas pertanyaan Jisoo, terlihat jelas di wajahnya yang kebingungan dan takut.

“Satu yang kuinginkan, yaitu menghapus bayangan nya. Dia-bayanganya-selalu menghantui ku setiap saat, aku hanya ingin semua tentang nya hilang, semuanya. Tapi aku tidak bisa, dia selalu kembali dengan semua yang sama. Aku ingin bayangan nya hilang.” Lirih Yein dan menunduk.

“Kenapa kau tak bisa melupakan nya sampai saat ini?” Yein menatap Jisoo lekat, terlihat jelas di matanya bahwa ia letih.

“Kami punya terlalu banyak kenangan, aku dan dia saling mengenal sejak kecil. Lalu kami menjadi kekasih setahun yang lalu dan dia memutuskan ku 3 bulan setelahnya, dia berselingkuh. Semua kenangan dan bayangan nya tak pernah hilang dari dalam pikiranku, semua itu terus menghantui ku. Aku tak tahan, tapi aku masih mencintai nya di sisi lain dan sejujurnya aku membenci pria itu. Pria itu, yang kuinginkan adalah melenyapkan nya, hanya itu.” Hening, suasana nya kembali hening. Jisoo yang mengerti pun mendekati Yein dan memeluknya. Merasakan sakitnya seperti Yein.

“Aku yakin, suatu hari nanti ada orang yang akan menutup semua luka itu. Akan ada orang yang tak seperti dirinya kepadamu. Akan ada orang yang berani untuk tidak meninggalkanmu. Aku yakin itu, Yein.” Di lepasnya pelukan Jisoo dan berganti dengan tatapan lembut miliknya menusuk mata Yein. Iris cokelat Jisoo beradu dengan iris cokelatnya yang sama.

“Lalu, kenapa kau tak berkata bahwa itu adalah kau? Aku tak ingin mendengar orang lain, tapi aku ingin mendengarkan bahwa itu adalah kau. Orang yang menutup luka ku, orang yang tak seperti dirinya, dan orang yang berani untuk tidak meninggalkanku, aku ingin itu kau. Bisakkah?” Pinta Yein dan setetes air mata mengalir. Lalu Jisoo kembali memeluk Yein, dalam pelukan hangat itu Yein kembali terisak kecil.

Saranghae, jeongmal saranghae.” Bisik Jisoo.

“Bisakkah?” Tanya Yein mengulang.

Dengan memeluk, Jisoo menjawab dengan tegas.”Akan kucoba, akan kucoba sebaik mungkin.”

FIN

Advertisements

2 thoughts on “[Freelance] Shadows

    • Halo tasya, ini emang aku sengaja bikin nya pair mereka. Terus kamu bener juga, feel nya emang ga dapet. Tapi makasih ya sebelum nya udah baca dan komen😊

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s