Posted in Fanita, Fluff, LFI FANFICTION, Oneshot, Romance, School-Life, Song-Fic, Teenager / Teen

[Oneshoot] That Line

That Line

That Line

By Fanita

Main Cast : Soloist’ Yoo Seungwoo – Lovelyz’ Sujeong

Genre : Romance – Fluff – School Life – Songfic (45.7cm by Yoo Seungwoo RECOMMENDED!)

Rating : Teenager

Type : Oneshoot

“Aku rasa ada sebuah garis yang tergambar tanpa diketahui”

.

.

.

“Itu baik-baik saja untuk saling meletakan tangan di bahu masing-masing

Tetapi bergandengan tangan sedikit canggung”

            Seungwoo berjalan dengan seseorang yang baru saja menjadi kekasihnya 1 minggu yang lalu. Laki-laki yang pandai bermain gitar itu sengaja mengajak Ryu Sujeong—pacarnya—untuk pulang bersama sepulang sekolah. Langkah kaki Sujeong begitu besar dibandingkan dirinya yang laki-laki sehingga membuat Seungwoo harus berjalan lebih cepat dibandingkan biasanya. Karena tidak ingin tertinggal lagi dia meletakan tangannya di baju Sujeong (niatnya agar Sujeong tetap berjalan di sampingnya). Ah, kalau bisa dia ingin mengandeng tangan Sujeong saja namun rasanya pasti akan sangat canggung apalagi setiap kali berada di dekat Sujeong dirinya selalu berkeringat dingin terutama bagian telapak tangannya. Oh yaampun apa bisa dia berkencan dengan Sujeong kalau dirinya tidak bisa mengontrol perasaan gugupnya ini?

 

“Pesan yang mengatakan “selamat malam” tidak masalah

Tapi pesan “Apa kamu tidur?” itu tidak akan baik”

            Malam harinya Seungwoo mengecek ponselnya untuk menghubungi Sujeong. Mungkin dia gila ingin menghubungi pacarnya di pukul 12 malam seperti ini. Pasti Sujeong sudah tidur, bukan sepertinya yang tanpa tujuan masih terus membuka lebar kedua matanya.

“Selamat malam,”

Well, setidaknya pesan selamat malam untuk kekasihnya. Ingin sekali bertanya apa Sujeong sudah tidur atau belum tapi itu bukan ide yang baik. Bagaimana kalau Sujeong benar-benar sudah tidur? Pasti itu akan menganggu waktu istirahatnya.

 

“Panggil aku ketika kamu bosan

Satu cangkir kopi tidak masalah”

            Sujeong yang sedang bermain game di ponselnya mendapatkan sebuah pesan dari Yoo Seungwoo. Lantas dia mengeluarkan game tersebut dan membaca pesan dari kekasihnya.

“Sedang apa? Aku bosan..”

Membaca pesan Seungwoo membuat Sujeong tersenyum tipis. Sama, dia juga bosan makanya sejak tadi bermain game. Ia kira Seungwoo sedang les musik makanya tidak menghubunginya tapi nyatanya laki-laki itu juga sedang dilanda kebosanan seperti dirinya.

.

“Ini..” Sujeong tersenyum tipis lalu mengambil kopi hangat yang baru saja dibeli oleh Seungwoo. Mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir Sungai Han. Kebetulan rumah Sujeong dan Seungwoo masih berada di komplek yang sama dan lokasinya juga dekat dengan salah satu ikon kota Seoul itu.

“Dingin ya. Maaf kalau aku salah mengajakmu untuk pergi ke sini,” sesal Seungwoo.

“Tidak masalah kok. Aku suka menikmati malam di pinggir sungai. Aku sering melakukannya sendiri,”

“Sendiri?” ulang Seungwoo.

“Iya. Kenapa?” tanya Sujeong.

“Kalau begitu lain kali kamu tidak akan sendirian lagi ke tempat ini kan’ sekarang ada aku,” ujar Seungwoo.

Sujeong tidak bisa menahan senyumnya. Rasanya ada yang menggelitik di perutnya. Apa itu kupu-kupu yang sering dibicarakan oleh orang-orang? Sujeong memperhatikan ekspresi wajah Seungwoo yang saat ini juga malu-malu karena telah mengucapkan kalimat seperti itu kepadanya.

“Makasih ya,” kata Sujeong.

“Telpon sesekali baik-baik saja

Video call, tidak terima kasih

Itu canggung, kamu tahu ‘kan?”

            Hari ini hari Minggu dan pastinya Ryu Sujeong tidak akan bertemu Seungwoo di sekolah (kecuali kalau mereka memang berniat untuk pergi bersama). Jadi sepasang kekasih itu hanya bertukar pesan melalui kakaotalk. Hari-hari ini benar-benar bosan. Sujeong meletakan sebentar ponselnya di atas kasur karena dia ingin mengambil minuman.

.

            Setelah kembali Sujeong telah mendapatkan balasan dari Yoo Seungwoo. Buru-buru Sujeong membaca pesan dari pacarnya itu dan apa kalian tahu pesan apa yang baru saja didapatkan oleh Sujeong?

“Sujeong-ah boleh tidak menelponmu?”

Sesekali bertelpon ria tidak masalah, ‘kan? Sujeong membalas pesan Seungwoo untuk menyetujuinya.

.

“Hai lagi apa?”

“Sedang tiduran. Kamu?”

“Hmm sedang berbicara denganmu,”

“Hahaha aku tahu itu Yoo Seungwoo!”

“Hehe maaf. Tidak ada acara ya hari ini?”

“Hmm tidak ada,”

“Sama..”

“Hehehe bersantai di rumah satu hari tidak masalah kok,”

“Kamu benar. Oh ya…”

“Apa?”

“A..aku merindukanmu,”

Blush~ Pipi Sujeong langsung bersemu merah mendengar pengakuan Seungwoo yang mengatakan kalau dia merindukan dirinya. Ah.. dia juga rindu tapi sulit sekali mengatakan itu kepada Seungwoo.

“Sujeong-ah apa boleh video call?”

Oh…my..god! Tidak! Dia tidak siap untuk video call! Dia bahkan belum membasuh mukanya semenjak bangun tidur tadi. Bagaimana bisa dia memperlihatkan wajah hancurnya seperti ini ke Yoo Seungwoo.

“Tidak bisa!”

“Yah.. kenapa?”

“A..aku tidak terbiasa video call dengan orang. Maaf ya,”

“Ah.. tidak masalah kok,”

Walaupun tidak melihat raut wajah Seungwoo saat ini tapi Sujeong sangat tahu bahwa dari suaranya saja Seungwoo merasa kecewa dengannya. Maaf. Tapi ini akan sangat canggung untuknya jika harus melakukan video call itu hmm.

“Aku rasa ada sebuah garis yang tergambar tanpa diketahui

Diantara kau dan aku

Kita lebih dari teman

Tapi masih berdiri di garis itu”

            Ini tepat 1 bulan semenjak Seungwoo menyatakan perasaannya kepada Sujeong. Namun selama 1 bulan ini tidak ada perkembangan yang pesat dari hubungannya bersama Sujeong. Keduanya masih tampak canggung satu sama lain seakan-akan ada sebuah garis yang membatasi keduanya untuk dekat. Seungwoo masih belum bisa mengandeng mesra tangan Sujeong seperti kekasih yang lain. Di sekolah saat melihat teman sekelas mereka berpacaran Seungwoo hanya bisa mendesah pelan karena tidak dapat melakukan itu bersama Ryu Sujeong. Gadis itu juga merasakan hal yang sama seperti Seungwoo. Mungkin ini efek tidak pernah berpacaran sebelumnya. Ya, Yoo Seungwoo adalah kekasih pertama Sujeong. Jadi Sujeong sendiri tidak tahu harus melakukan apa walaupun Yebin, Yuju dan Chaewon telah memberikan solusi dan tips untuk menjadi pacar yang mesra untuk Yoo Seungwoo.

“Sujeong-ah,”

Begitu namanya dipanggol oleh seseorang Sujeong pun langsung menoleh. Ternyata yang memanggilnya adalah Yoo Seungwoo.

“Bagaimana pulang sekolah nanti kita pergi nonton?” ajak Seungwoo.

“Boleh juga!” seru Sujeong.

“Oke nanti ya!”

Sujeong menganggukan kepalanya dan kini Seungwoo sendiri kembali ke tempat duduknya seperti semula.

.

            Tidak diduga sore hari ini bioskop sungguh ramai. Banyak sekali orang yang mengantri untuk membeli tiket. Seungwoo berdoa di dalam harinya agar bisa mendapatkan dua tiket, untuknya dan juga Sujeong. Kalau tidak apa lagi yang harus dia lakukan, eh? Karena yang mengantri sangat banyak orang-orang pun berdesakan satu sama lain. Seungwoo sengaja menyuruh Sujeong untuk berdiri di depannya sementara Seungwoo dari belakang menjaganya.

Brug~~

“Yaaa!!!”

Orang-orang berteriak karena di belakang ada orang yang mendorong antrian ini. Karena terdorong Seungwoo tidak sengaja langsung memeluk Sujeong dengan sangat erat, niatnya si agar perempuannya tidak terjatuh tapi sadar bahwa ini begitu kikuk Seungwoo langsung melepaskan tangannya yang memeluk Sujeong dan meminta maaf kepadanya.

“Sujeong ma..maaf ya. Aku tidak sengaja soalnya di belakang—“

“Iya tidak apa,” potong Sujeong.

Tanpa Seungwoo duga wajah Sujeong sudah sangat memerah saat ini. Baru pertama kali ada laki-laki (selain ayahnya) yang memeluknya seperti itu. Deg..deg..deg.. debar jantungnya saja saat ini tidak bisa di ajak berkompromi. Oh ayolah jantung kembali berdetak dengan normal!

“Apa yang harus kita lakukan jika ini semakin canggung?

Apa yang harus kita lakukan jika ini semakin aneh?”

            Karena tiket film yang hendak mereka tonton habis terpaksa keduanya menonton sebuah melodrama yang begitu romantis. Awalnya mereka memilih untuk menonton film horor tapi malah menjadi film romance seperti ini. Sama seperti mereka banyak sekali pasangan kekasih yang duduk bersama untuk menonton film ini. Sujeong dan Seungwoo yang duduk bersebelahan tidak banyak berbicara. Mereka kalut dalam pemikiran sendiri-sendiri. Seungwoo sengaja melirik ke Sujeong yang tengah memperhatikan adegan demi adegan film yang ada di layar raksasa itu. Secara perlahan tangan Seungwoo terangkat untuk mengenggam tangan Sujeong yang menganggur. Baru saja kulit tangan mereka bersentuhan Sujeong langsung menarik tangannya dan menggaruk kepalanya. Ah gila.. ini benar-benar canggung untuk Seungwoo. Sementara itu, Sujeong tahu kalau Seungwoo berniat untuk mengenggam tangannya tapi dia masih merasa gugup apalagi tangannya saat ini dingin bagaikan es batu. Oh ya ampun kalau begini caranya bagaimana bisa dia dan Seungwoo menjadi sepasang kekasih yang normal seperti orang lain? Bagaimana jika kecanggungan hubungan ini dapat membuat hubungan mereka menjadi tambah aneh?

 

“Bersandar pada bahuku

Itu tidak mengapa

Sebenarnya aku menyukainya sekarang”

            Film ini benar-benar membosankan sampai-sampai membuat Sujeong mengantuk. Karena kepala Sujeong yang terus bergoyang ke sana dan ke sini membuat Seungwoo merasa terusik. Ia langsung menarik kepala Sujeong untuk bersandar di bahunya. Mendapatkan serangan mendadak seperti ini membuat Sujeong membulatkan matanya tidak percaya. Apa benar saat ini Seungwoo membolehkan dia bersandar kepadanya?

“Tidur saja kalau filmnya membosankan dan kamu mengantuk. Nanti aku bangunkan deh,” kata Seungwoo.

“Makasih Seungwoo-ya,” balas Sujeong dengan suara yang sangat pelan.

Walaupun terasa begitu mendadak dan tidak tahu harus bagaimana Sujeong sebenarnya menyukai hal ini. Rasanya begitu nyaman bahkan dalam hitungan beberapa menit saja gadis kelahiran tahun 1997 itu telah terlelap di bahu kekasihnya. Seungwoo yang melihat Sujeong yang memejamkan mata merasa bahwa Ryu Sujeong tampak begitu damai bagaikan malaikat yang turun dari surga. Melihatnya Seungwoo langsung tersenyum hangat. Dia betul-betul menyayangi Sujeong yang sudah dia suka sejak pertama kali masuk sekolah ini. Seungwoo berharap hubungannya dan Sujeong akan membaik dan dapat melakukan apa-apa saja yang dilakukan oleh pasangan normal lainnya.

 

“Kamu bisa datang mendekat, itu tidak apa

Aku khawatir jika kamu semakin jauh

Aku tidak berpikir bahwa aku siap”

            Hari ini Sujeong mendapatkan kabar kalau ternyata dia tidak lulus masuk ke Universitas yang dia inginkan. Rasanya sangat sedih karena sejak dulu Sujeong bermimpi untuk kuliah di Jepang. Seungwoo yang mendapatkan kabar itu dari temannya saat sedang di kantin tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Di satu sisi dia ikut bersedih karena impian Sujeong tidak dapat ia raih, sementara di sisi lain dia senang karena itu artinya dia dan Sujeong tidak akan berpisah. Seungwoo khawatir jika dia dan Sujeong akan lebih menjauh jika Sujeong harus pergi ke Negeri Sakura itu.

.

            Saat pulang sekolah Seungwoo yang berjalan pulang seperti biasa ke rumahnya mendapatkan pesan. Ternyata pesan tersebut berasal dari Sujeong. Gadis yang dia cintai mengajaknya untuk bertemu di kedai ramen yang pernah mereka kunjungi. Buru-buru Seungwoo memutar arah dan berlari untuk segera menemui Sujeong. Dia penasaran apa yang mau dibicarakan oleh kekasihnya.

.

            Seungwoo menikmati ramen yang sejak tadi dipesankan oleh Sujeong. Bahkan dia lupa untuk menanyakan maksud dan tujuan Sujeong memanggilnya ke tempat ini. Sujeong kini memandangi Seungwoo yang tampak kelaparan. Ia menyunggingkan senyum tipisnya kepada laki-laki manis tersebut.

“Ah iya kenapa kamu menyuruhku ke sini? Mendadak sekali loh,” tanya Seungwoo.

“Aku sedang butuh teman,” jawabnya.

“Teman? Kenapa? Apa karena kamu di to—“

Tidak tega membicarakan hal itu Seungwoo langsung menghentikan ucapannya. Bahkan selera makannya mendadak hilang mengingat kesedihan yang sedang dilanda oleh Sujeong.

“Sujeong apa kamu mau ikut denganku ke suatu tempat?” ajak Seungwoo.

“Aku akan mendekat dengan mataku yang tertutup”

            Udara di tempat ini terasa begitu sejuk. Bunyi kicauan burung terdengar jelas di telinga Sujeong karena tempat ini begitu sunyi. Hanya dia dan Seungwoo di danau tersembunyi ini. Sujeong menari-nari di hamparan rerumputan hijau yang begitu luas ini. Hwaaa tempat ini terasa begitu menyenangkan!

“Seungwoo bagaimana bisa kamu menemukan tempat ini?” tanya Sujeong.

“Seseorang mengajakku ke tempat ini,” jawab Seungwoo.

“Seseorang siapa? Apa mantan pacarmu?”

“Hei jangan begitu dong! Kamu pacar pertamaku tahu!” cibir Seungwoo.

Sekarang kalian mengerti ‘kan kenapa kedua pasangan ini begitu canggung dan kikuk satu sama lain. Keduanya baru pertama kali menjalani hubungan yang disebut pacaran itu.

“Jadi sama siapa?” tanya Sujeong.

“Sama sahabatku dulu tapi dia sekarang tidak tinggal di Seoul lagi,” jawab Seungwoo.

“Ah begitu..”

“Sujeong-ah ke sini!” panggil Seungwoo.

Sujeong lalu berlari menghampiri Seungwoo dengan penuh semangat. Kesedihannya ditolak di Universitas impiannya kini telah hilang bahkan sama sekali Sujeong tidak memikirkannya lagi. Seungwoo menyuruhnya untuk duduk disebelahnya. Setelah Sujeong duduk di sebelahnya, pria itu langsung mengenggam tangan Sujeong tanpa ragu.

“Sudah lama loh aku mau berduaan dengan kamu,” aku Seungwoo.

Deg..deg..deg..

Ya ampun detak jantung Sujeong kembali berdetak dengan tidak normal. Ucapan Seungwoo benar-benar membuat darahnya berdesir.

“Mungkin aku terdengar jahat tapi aku sebenarnya legah kamu tidak jadi pergi ke Jepang,” kata Seungwoo kemudian dia melanjutkan lagi ucapannya, “Aku tidak sanggup kalau kamu menjauh dariku,” lanjutnya.

“Yoo Seungwoo..” gumam Sujeong.

“Iya kenapa?” tanya Seungwoo.

“Sebenarnya aku juga tidak mau berpisah denganmu. Sekarang aku tidak merasa sedih lagi toh aku masih bisa mendaftar di Universitas terbaik di Korea dan bisa berdua dengan kamu apalagi di tempat ini,” katanya.

Seungwoo langsung menatap Ryu Sujeong yang ternyata sedang memandanginya. Keduanya tersenyum satu sama lain. Seungwoo memutar badannya sehingga dia dan Sujeong kini saling berhadapan. Kedua tangan Seungwoo kini mengenggam tangan kekasihnya dengan sangat erat walaupun jauh di dalam lubuk harinya dia merasa gugup.

“Sebelum ujian apa kamu ingin menghabiskan waktumu denganku? Kita berkencan seperti orang lain. Jungkook memberikan aku ide untuk pergi berkencan di Everland. Bagaimana Sujeong?” tanya Seungwoo.

“Ah ayo! Aku juga mau pergi ke sana apalagi sama kamu,” jawab Sujeong.

“Bagaimana akhir pekan? Kita habiskan waktu dari pagi sampai malam. Hahaha bagaimana menurutmu?”

“Izin dulu sama ayah dan ibuku,” kata Sujeong.

“Aku akan meminta izin!”

“Sungguh?”

“Iya! Mulai sekarang aku akan lebih berani,”

“Ah baiklah kalau begitu,”

Sujeong tersenyum manis di depan Seungwoo saat ini. Di pipinya ada rona merah yang membuat Ryu Sujeong jadi tambah lebih manis di mata Seungwoo. Perlahan Seungwoo mendekatkan wajahnya kepada Sujeong. Ketika hidung mereka telah bersentuhan Seungwoo memejamkan kedua matanya dan—

CHU~

Bibirnya dan Sujeong sudah bersentuhan. Ini pertama kalinya bagi Sujeong (dan juga Seungwoo). Oh tidak, Sujeong tidak menduga kalau ciuman pertamanya bersama Seungwoo akan bermula di detik ini dan juga berada di tempat indah seperti ini. Sepertinya garis itu akan segera putus dan sepasang kekasih ini akan menjadi normal bagaikan pasangan muda-mudi lainnya.

.

Fin~

Advertisements

Author:

wattpad @lovefinite87

2 thoughts on “[Oneshoot] That Line

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s