Posted in Fanita, Fluff, LFI FANFICTION, PG-15, Romance, School-Life, Two Shots

Manager, Captain & Cheerleader [2/2 END]

Manager, Captain and Cheerleader copy

Manager, Captain & Cheerleader

By Fanita

Main Cast : Lovelyz’ Yein – BTS’ Jungkook

Cast : The Ark’s Halla – April’s Hyunjoo – Ikon’s Chanwoo – Seventeen’s Mingyu

Genre : Fluff – Romance – School Life

Type : ?

Rating : PG-15

“Aku adalah seorang manager. Dia adalah seorang kapten. Dan sainganku adalah seorang pemimpin regu cheers—yang katanya cantik itu.”

.

.

.

            Pulang sekolah aku tidak langsung pulang ke rumah. Hari ini ada latihan basket jadi aku harus melihat dan memperhatikan mereka semua. Well itu artinya aku akan bertemu Jungkook oppa. Aku masuk ke dalam gym dan melihat anak-anak sedang melakukan pemanasaran. Saat sedang mengamati mereka tatap mataku bertabrakan dengan Jungkook oppa yang menyadari keberadaanku. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain karena masih merasa keki dengan kejadian saat istirahat.

.

“Yein-ah Jungkook memintamu untuk membelikannya minuman isotonik seperti biasa,” Aku mengangguk dan tersenyum pada Mingyu oppa. Setelah itu aku pergi seorang diri untuk pergi ke mesin minuman untuk membeli minuman spesial yang sering diminum oleh Jungkook oppa. Ya karena biasanya anggota lain hanya minum air putih sementara aku membelikan Jungkook oppa minuman seperti Pocari Sweat. Kurang spesial apa aku memperlakukannya, huh?

.

“Ini..” Aku memberikan minuman itu kepada Jungkook oppa. Ia menerima minuman itu sembari tersenyum kepadaku. Aku ingin sekali tidak membalas senyumnya namun bibirku bergerak dengan sendirinya memberikan sebuah balasan untuk Jungkook oppa. Setelah merasa tidak ada urusan lagi untuk berhadapan dengannya aku pergi begitu saja dari hadapan si lelaki Jeon ini. Ah.. mending aku berbicara dengan yang lain saja dibandingkan harus melihat Jungkook oppa saat ini.

.

            Setelah latihan selesai aku buru-buru untuk pulang ke rumah apalagi sejak tadi aku telah menerima panggilan dari ibuku untuk segera pulang. Hari ini hari pernikahan ibu dan ayah yang ke-20 tahun jadi mereka ingin makan malam bersama. Aku si awalnya ingin meminta tebengan dari Mingyu oppa, eh ternyata Mingyu oppa harus menjemput pacarnya yang namanya Ryu Sujeong sunbae pulang dari hakwon. Tak ada lagi anak basket yang membawa motor kecuali satu orang. Hah. Apa aku harus meminta tolong padanya?

Ya!” panggilku.

Tidak ada yang menyaut saat aku memanggil ‘Ya’. Well, wajarlah mana ada orang yang dipanggil seperti itu. Tapi bagaimana ini aku benar-benar malas menyebut namanya.

Ya Jeong Chanwoo!” teriakku kembali.

Barulah si Chanwoo menoleh dan tersenyum menggoda kepadaku. Wajar kalau dia meremehkan aku saat ini karena biasanya aku tidak pernah memanggilnya. Ah sial, ini terpaksa saja!

“Apa?” tanya Chanwoo.

“Chan.. antarin aku pulang!” jawabku.

“Hahahaha pulang?” tawa Chanwoo.

“Mau atau tidak? Aku minta tolong!” rutukku.

“Baik—“

“Yein pulang saja dengan aku,” celetuk seseorang.

Aku dan Chanwoo sama-sama menoleh ke sumber suara dan kalian harus tahu kalau orang yang menawarkan tumpangan itu adalah Jungkook oppa! Omo.. Bagaimana ini?

“Jungkook hyung menawarkan tumpangan tuh. Aku pulang duluan ya,” pamit Chanwoo seenaknya!

Chanwoo kini pergi meninggalkan aku bersama Jungkook oppa di gym ini. Kenapa dia meninggalkan aku? Tadi bukannya dia mau mengantarkanku? Ih, suasana di sini terlalu panas. Apa memang udara yang panas atau hatiku yang panas? Entahlah, mungkin itu keduanya.

“Ayo pulang!” seru Jungkook oppa.

N..ne,” kataku kikuk.

.

            Di atas motor aku tidak berbicara apapun kepada Jungkook oppa. Aku takut bagaimana kalau Halla tahu dan melabrakku lagi? Aish aku terpaksa menerima tawaran ini karena kalau tidak aku membutuhkan waktu lama untuk menunggu bus. Taksi? Mana ada aku uang untuk membayar tagihan taksi yang mahal.

“Yein-ah ada apa?” tanya Jungkook oppa tiba-tiba.

Ye?”

“Kau menjadi pendiam sekali hari ini,” sambungnya.

“Ah.. sedang tidak enak badan,” dustaku.

“Kalau kau lelah atau sakit harusnya pulang saja, tidak usah menunggu kami latihan,” kata Jungkook oppa.

“Itu sudah kewajibanku oppa,”

“Yein-ah..”

“Apa?”

“Maaf,”

Aku mengerutkan keningku heran mendengar Jungkook oppa meminta maaf. Meminta maaf soal apa memangnya? Tak terasa motor Jungkook oppa telah berhenti di depan rumahku. Waktu cepat berlalu jika kau bersama orang yang suka, benarkan?

Oppa terima kasih sudah mengantarkan aku pulang. Besok-besok tidak usah repot menawarkan tumpangan lagi untukku,” kata Yein.

“Kenapa memangnya?” tanya Jungkook.

“Karena.. aku tidak enak dengan Halla. Pacarmu,” kataku.

Jungkook oppa tidak bereaksi saat aku mengatakan hal itu. Sepertinya dia sadar diri. Aku memberikan hormat kepadanya lalu membalikkan badanku untuk segera masuk ke dalam rumah. Baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba saja terdengar kembali suara Jungkook oppa memanggil namaku.

“Yein-ah!”

Langkah kakiku terhenti dan aku membalikkan badanku. Aku memberikan tatapan penuh tanda tanya kepadanya tanpa harus mengeluarkan suara.

“Aku menyukaimu..”

Deg…deg…deg….

Kata-kata itu, aku tidak salah dengarkan? Barusan Jeon Jungkook mengatakan kalau dia menyukaiku? Ini mimpi, kan?

“Yein-ah besok kita bicara lagi sepertinya kau memang tidak enak badan hari ini,” katanya.

Jungkook oppa langsung menggas motornya dan dalam beberapa detik saja sosoknya telah menghilang dari pandanganku. Sial, dia pergi sementara aku masih mematung di tempatku. Apa ini. Apa kau tidak salah dengar? Apa benar dia mengatakan kalau dia menyukaiku? Ah jangan mimpi Jeong Yein, mungkin kau lupa mengorek telingamu jadinya kau salah dengar. Oke, baiklah, sekarang aku harus masuk untuk segera bersiap-siap pergi bersama orangtuaku. Abaikan saja ucapan Jungkook oppa.

.

            Aku masuk ke ruang multimedia untuk mengumpulkan tugas dari Park saem. Saat aku masuk tidak ada Park saem di sana yang ada hanyalah Chanwoo dan Halla. Ehemm ini benar-benar kikuk untukku. Aku masuk ke dalam dan berusaha buang muka untuk tidak mempedulikan eksistensi kedua makluk itu. Halla dan Chanwoo duduk berdampingan sementara aku memilih duduk menjauh dari mereka.

“Apa kau pikir kami ini kuman makanya kau menjauh?” celetuk Chanwoo.

Aish menyebalkan sekali orang ini. Bukan, kau itu sosok yang menganggu Chanwoo tapi Halla lebih membuat aku tidak nyaman untuk mendekat dengan kalian.

“Mungkin dia merasa malu karena telah diantar pulang oleh pacar orang lain,” celetuk Halla.

Sialan! Mana pernah aku meminta Jungkook oppa mengantarkan aku pulang, itu semua inisiatifnya sendiri!

“Aku tidak punya masalah denganmu, Lee Halla.” Celetukku.

“Oh tentu saja ada. Kau pergi bersama kekasihku, itu tentu sebuah masalah untukku!” bentak Halla.

“Eh tunggu. Kekasih? Sejak kapan kau kekasih Jungkook hyung?” celetuk Chanwoo.

A…apa… Apa maksud Jeong Chanwo ini? Aku melihat Halla penuh tanda tanya apa yang dimaksud oleh Chanwoo. Kulihat Halla kelabakan untuk menjelaskan situasi ini.

“Oh aku lupa. Kau kekasih Jungkook hyung yang pura-pura, kan?”

Baru kali ini aku merasa berterimakasih dengan Jeong Chanwoo. Entah kenapa ucapannya (yang tidak masuk akal ini) membuat hatiku begitu berbunga-bunga dan terasa sangat bahagia.

“Bicara apa si! Omong kosong apa yang kau bicarakan!” bentak Halla tak terima dengan ucapan Chanwoo.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?”

Aku, Halla dan Chanwoo langsung bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa saat Park saem masuk dan menghampiri kami. Mana boleh guru ikut campur dengan urusan kami ini.

Saem ini tugasku,”

Aku memberikan tugas milikku ke Park saem dan langsung pergi meninggalkan ruangan multimedia.

.

            Aku berjalan menuju kelas dengan isi kepala yang penuh tanda tanya. Ucapan Jungkook oppa kemarin sore dan kini celotehan Jeong Chanwoo di multimedia membuatku berpikir banyak. Apa maksud dari semua ini?

“Yein!”

Seseorang menyentuh pundakku. Aku langsung menoleh ke belakang dan tersenyum pada Mingyu oppa. Untuk apa oppa menegurku di saat-saat seperti ini?

“Ada apa?” tanyaku.

“Yein-ah ada yang mencarimu di taman belakang sekolah,” jawab Mingyu oppa.

“Taman yang katanya angker itu?” jeritku.

“Iya. Ke sana gih, sudah ditunggu dari tadi sama dia,”

“Dia siapa?”

“Kau akan tahu kalau sudah melihatnya. Sampai jumpa Yein-ah!”

Ih seram! Kenapa harus taman belakang sekolah—yang katanya angker itu—lagi pula siapa yang mau mengajakku berbicara di sana? Walaupun takut tapi entah kenapa kata hatiku bergerak untuk mengikuti ucapan Mingyu oppa untuk segera menyusul di pengirim pesan ini kepadaku.

.

Chogiyo apa ada orang?” Aku berteriak setelah sampai di tempat ini. Tidak ada siapa-siapa, apa Mingyu oppa membodohiku? Ai, tidak. Itu bukan sifat Mingyu oppa untuk mengelabuhi orang. Aku terus berteriak memanggil seseorang yang menyuruhku ke tempat ini untuk keluar.

Chogi aku takut ini. Siapa si yang memanggilku ke sini?”

Ah sumpah! Aku benar-benar takut bahkan bulu kudukku meremang karena merinding dengan suasana di sini. Langkah kakiku terus berjalan melalui ilalang yang sudah tinggi melebihi tubuhku ini. Hei pengirim pesan, di mana kau berada?!

Jangan masuk!

Apa ini? Aku baru pertama kali sampai ke tempat ini dan tidak tahu kalau di belakang sini ada wilayah yang di tutup. Haruskah aku masuk atau kembali ke kelas? Mana ini sudah melewati jam istirahat. Aku menghembuskan nafasku berulang kali dan menentukan pilihanku. Ya, aku masuk saja ke tempat itu. Perlahan aku mendorong pintu itu dan masuk ke dalam.

Whow

Aku benar-benar speechless dengan apa yang aku lihat. Apa ini surga dunia? Bunga-bunga bermekaran dengan aneka ragam warna. Tempat ini sungguh cantik, siapa yang merawat semua bunga ini?

“Yein-ah..”

Terdengar jelas suara itu di telingaku. Aku membalikkan badanku lalu tercenggang saat mengetahui yang memerintahkan aku untuk ke tempat ini adalah Jungkook oppa!

.

            Perlahan Jungkook oppa berjalan mendekati aku yang diam mematung di tengah-tengah bunga indah ini. Saat Jungkook oppa berhenti tepat di depan mataku dia berjongkok lalu memberikan setangkai bunga mawar segar kepadaku. Tuhan, apa saat ini aku masih bernafas? Apa nyawaku masih berada di dalam tubuh ini? Tanganku bergetar hebat karena aku betul-betul stok dengan semua ini!

Tsh..

Air mataku jatuh begitu saja karena tidak mempercayai semuanya. Jungkook oppa malah tersenyum kemudian meletakan bunga mawar yang dia berikan kepadaku di tanganku. Setelah itu dia berdiri dan mengatakan sesuatu.

“Maafkan aku Yein,”

“Da..dari kemarin oppa minta maaf, memangnya untuk apa?” tanyaku.

“Chanwoo menceritakan kepadaku kalau kau menangis karena aku. Maaf Yein aku tidak bermaksud,” sesal Jungkook.

“Ye?”

“Kejadian di kantin itu. Aku benar-benar salah berbicara, maaf ya Yein.”

Na..nan gwenchana,”

“Bagaimana taman ini? Apa kau suka? Aku menanam semua ini dan merawatnya satu persatu hanya untuk menunjukannya kepadamu,”

“Kenapa aku?”

“Karena kau spesial untukku,”

Mwoya.. Jantungku.. aku bisa-bisa mati muda kalau seperti ini. Apa Jungkook oppa sedang mempermainkan hatiku? Apa Jungkook oppa tahu aku menyukainya makanya dia ingin menjadikan aku mainannya. Seharusnya dia tidak melakukan ini kalau kenyataannya dia memiliki pacar si pemimpin regu cheers—yang katanya cantik itu namun seperti nenek sihir di mataku.

“Jangan mempermainkan perasaanku!” bentakku.

“Yein aku tidak—“

Oppa sudah punya Halla untuk apa melakukan semua ini untukku? Jahat! Seharusnya aku tidak pernah menyukaimu!”

“Yein aku tidak memiliki Halla. Na aniya!”

“Apa?”

.

            Bibirku tertutup rapat dan tidak bisa memberikan komentar apapun setelah Jungkook oppa menceritakan hal yang sebenarnya. Sejak dulu Halla dan Jungkook oppa tidak pernah berhubungan seperti yang dibicarakan orang-orang. Semua ini karena Halla yang mengakui kalau Jungkook adalah miliknya. Sejak itulah Jeon Jungkook harus mengikuti drama yang dibuat oleh Halla. Ah.. sial. Aku pikir mereka benar-benar sepasang kekasih. Aku mau menangis sekeras-kerasnya kalau begini!

“Sekarang kau sudah mengerti ‘kan?”

Aku menganggukkan kepalaku. Kurasakan tangan Jungkook oppa mengelus rambutku penuh kasih…sayang. Aku tertunduk malu dengan perlakuan Jungkook oppa ini.

“Manager-nim..” pangil Jungkook oppa.

“Apa?” tanyaku.

“Manager-nim apa kau mau menjadi manager untuk hatiku? Spesial hanya untuk hatiku?”

Mental breakdown! Apa ini artinya Jungkook oppa memintaku untuk menjadi kekasihnya? Ah otakku ayo berpikir dengan jernih untuk memahami maksud ucapan Jungkook oppa barusan.

“Jeong Yein kau mau?”

Perlahan aku menganggukan kepalaku. Iya, aku mau menjadi managermu. Tentu saja aku mau. Setelah aku menjawab pengakuan cinta Jungkook oppa ia mengusap lembut pipiku dan perlahan wajahnya mendekat kepadaku. Eh apa ini—

Chu~

Sesuatu yang lembut kini menyentuh bibirku. Terasa basah dan membuat badanku terasa bagaikan tersengat listrik. Aku..aku dan Jungkook oppa berciuman. Aku merasakan kalau saat ini Jungkook oppa menghisap penuh bibirku. Aku tidak tahu harus melakukan apa, yang dapat aku lakukan hanyalah melingkarkan tanganku di leher Jungkook oppa dan mengikuti apa yang dia lakukan kepadaku.

.

Author POV

            Sepulang sekolah Jungkook bilang ingin mengatakan sesuatu kepada Halla makanya mereka pergi ke kafe yang sering keduanya kunjungi. Halla dan Jungkook bertatapan satu sama lain namun tidak ada yang membuka mulutnya terlebih dahulu sampai akhirnya Halla yang muak bertanya kepada pacarnya.

Oppa apa yang mau kau bicarakan?” tanya Halla.

“Sudah saatnya kita menghentikan drama yang kau produksi, Halla-ya..” jawab Jungkook.

“Apa katamu? Berhenti? Oppa kenapa?”

“Selama ini aku tidak bisa mendekati perempuan yang aku cinta karena semua orang tahu aku milikmu. Sudah saatnya berhenti Halla, kau bisa cari orang lain yang bisa mencintaimu dengan tulus,”

Oppa aku menyukaimu!”

“Aku menyukai Jeong Yein,”

Oppa!”

Halla benar-benar naik pitam mendengar pengakuan Jungkook. Ini memang bukan pertama kalinya Halla mendengar kalau Jungkook menyukai si manager tim basket itu tapi tetap saja dia merasa panas setiap kali kalimat itu keluar dari bibir Jungkook.

“Jungkook oppa kau pilih aku atau dia?” tanya Halla.

“Pertanyaan macam apa itu Lee Halla?” tanya balik Jungkook.

“Kau lupa kalau kau bisa terpilih menjadi kapten basket karena bantuanku—“

“Jangan bicara seperti itu! Aku berusaha sekuat tenagaku untuk mendapatkan posisi ini, ini bukan karenamu!”

“Terima kenyataan kalau itu karena aku, oppa! Aku yang meminta pamanku untuk memutuskan kau yang menjadi kapten basket. Sementara Yein apa yang bisa dia lakukan? Tidak ada! Kau akan rugi jika memilih pergi dariku untuk perempuan seperti itu!”

“Berhenti! Detik ini juga akting aku dan kau sebagai sepasang kekasih tidak berlaku lagi, Halla. Dan oh, satu lagi, jangan ganggu Yein-ku!”

Jungkook langsung berdiri dari kursi meninggalkan Halla yang menahan segala amarahnya saat ini. Yein-ku? Menggelikan. Halla benar-benar membenci Jeong Yein yang membuat Jungkook tidak pernah melihat ke arahnya!

Author POV End

.

“Yein-ah!” Hoam~~ Siapa si yang membangunkan aku secepat ini? Bahkan alarm yang aku atur di ponselku belum berdering. Aku membuka kedua mataku dan melihat ke samping. Ada seorang laki-laki tampan sedang tersenyum ke arahku. Laki-laki yang begitu aku cintai kini berada di hadapanku. Jungkook oppa membangunkan aku tidur—what?! Jungkook oppa?!

Oppa!!” pekikku.

“Selamat pagi!” sapa Jungkook.

Tunggu.. aku berada di situasi apa ini? Apa aku masih berada di dalam mimpiku? Biasanya aku sering bermimpi seolah-olah aku telah terbangun tapi nyatanya aku masih tidur.

“Ini bukan mimpi, ini benar aku. Sengaja aku datang pagi ke rumahmu untuk mengantarkan kau ke sekolah,”

Kini aku merasakan tangan Jungkook oppa mengusap rambutku dengan lembut. Jadi ini nyata???

.

            Aku benar-benar salut karena Jungkook oppa datang ke rumahku pukul 6 hanya untuk menjemputku ke sekolah. Yang lebih salutnya Jungkook oppa berani mengakui dirinya sebagai pacarku kepada kedua orangtuaku. Benar-benar laki-laki yang manis huhuhuhu. Tapi tetap saja aku malu karena oppa masuk ke kamarku padahal wajahku masih kusut bahkan—ehem—ada air liur di sudut bibirku! Eww oppa aku mohon jangan sampai illfeel karenaku!

“Kau sudah siap?”

Aku mengangguk. Aku siap untuk pergi ke sekolah dengan status baruku, yaitu sebagai kekasihnya kapten basket di SMA Seungri! Oppa kajja~

.

            Semua orang berbisik satu sama lain saat melihat aku dan Oppa berjalan bergandengan tangan. Pasti mereka kaget karena yang biasanya berjalan berdampingan seperti ini bersama Jungkook oppa adalah Lee Halla, bukan aku. Genggaman tangan Jungkook oppa begitu hangat dan erat. Di motor tadi Jungkook oppa bilang kalau dia ingin menunjukan kepada semua orang kalau aku adalah kekasihnya. Bagaimana bisa aku tidak tersanjung karena ucapannya?

.

Author POV

“Seharusnya itu aku..” Seorang gadis merutuk kesal melihat kemesraan Jungkook dan Yein di pagi hari. Menjijikkan dan kini dia harus menanggung seribu satu pertanyaan dari orang-orang apakah dia dan Jungkook telah berpisah atau belum. Menyebalkan!

“Mimpi saja kau!”

Halla membulatkan matanya saat mendengar seseorang membalas ucapannya. Hey don’t you dare! Apalagi saat Halla tahu siapa yang baru saja menyeletuk perkataannya. Siapa lagi kalau bukan Jeong Chanwoo.

“Ya bukan urusanmu!” hardik Halla.

“Itu urusanku karena aku yang telah bersusah payah membuat mereka bersatu,” kata Chanwoo enteng.

“Hah? Jadi kau yang membuat aku dan Jungkook oppa putus? Dasar siala—“

“Mimpi ah. Kau tidak pernah menjadi pacar Jungkook hyung. Well, sepertinya ada yang sedang patah hati nih. Daripada aku disempot macan yang sedang broken heart mending aku kabur. Bye Lee Halla!”

Halla mengutuk Jeong Chanwoo untuk lenyap dari muka bumi ini. Mukanya memerah menahan amarah setelah mendengar ledekan Jeong Chanwoo kepadanya. Halla benci Chanwoo yang telah membuat hubungannya dan Jungkook berakhir, Halla benci Chanwoo yang telah meledeknya dan terlihat seperti pecundang. Intinya Lee Halla benar-benar membenci laki-laki bermarga Jeong itu!

“SIALAN KALIAN!!” pekik Halla.

Orang-orang yang ada di koridor terkejut mendengar teriakan Halla yang seperti orang gila. Kini topik pembicaraan kembali mengalir setelah melihat Halla yang bagaikan cacing kepanasan. Ada yang mengatakan Halla cemburu, ada yang bergosip kalau Halla dicampakkan bahkan ada yang menyebutkan kalau gadis itu tak terima kenyataan kalau Jungkook menggandeng mesra si manager Yein. Yah, kenyataannya itu semua memang benar, kan?

.

            Yein mengatakan kepada Hyunjoo untuk menunggunya di kantin saja karena dia ingin ke toilet sebentar. Saat Yein masuk ke dalam toilet dia terkejut bukan main melihat ada Lee Halla yang sedang berkaca di depan cermin. Yein menghembuskan nafasnya lalu berjalan seakan-akan tidak terjadi apa-apa diantaranya dan Lee Halla.

“Mudah sekali kau berjalan di depanku,” sindir Halla.

Si Jeong berusaha untuk mengabaikan ucapan Halla dan masuk ke dalam suatu bilik untuk segera membuang air kecil yang sejak tadi dia tahan. Tapi sikap Yein yang mengabaikan Halla tak membuat si kapten cheers itu berhenti untuk menghardiknya.

“Aku membencimu!”

“Kau merebut Jungkook oppa dariku!”

“Aku membencimu Jeong Yein! Kalau kau keluar dari sana akan aku jambak rambutmu sampai botak!”

“Ya kau dengar aku tidak?!”

Yein sengaja tidak menjawab semua cacian Halla kepadanya. Bahkan dia yang sejak tadi telah selesai hanya bisa duduk terdiam di closet untuk mendengarkan ucapan pedas Lee Halla kepadanya.

“Kau masih tidak mau berbicara?” pekik Halla.

“Halla-ya..” panggil Yein.

“Apa sialan?”

“Aku iri denganmu kecuali satu hal,” balas Yein.

M…mwo?”

“Kau cantik, populer, dikagumi banyak orang bahkan kau dengan mudahnya bisa menjadi seorang trainee di agensi besar ‘kan? Keluargamu juga sangat kaya dan kau memiliki banyak koneksi di sekolah ini untuk mendapatkan nilai besar sehinga kau tidak akan sulit masuk ke universitas—“

“Ya sebutkan saja satu hal itu. Aku tidak ingin mendengar suaramu yang membuat gendang telingaku sakit!” potong Halla.

“Satu hal yang membuatku tidak jadi iri denganmu itu karena sikapmu yang arogan. Apa kau pikir dunia akan mudah kau taklukan jika kau bersikap seperti itu? Sadarlah Lee Halla kau membuat dirimu tampak menyedihkan dengan membicarakan diriku seperti itu!” pekik Yein.

Author POV End

.

            Aku mengeluarkan segala keluh kesal yang selama ini ingin aku katakan kepada Halla. Akhirnya hari ini impianku terlah terwujud nyata. Halla tidak menjawab ucapanku barusan sehingga aku penasaran apa yang akan di lakukan. Secara perlahan aku membuka pintu kamar mandi ini dan—

Kosong.

—tidak ada siapapun di sana. Apa dia telah pergi? Hah. Baguslah itu artinya aku tidak perlu susah menghadapi atau membalas ucapannya lagi. Lebih baik aku segera ke kantin untuk menyusul Hyunjoo (yang mana tahu sudah menungguku lama).

.

            Pulang sekolah Jungkook oppa yang mengantarkanku juga. Tapi sebelum pulang dia mengajakku ke sebuah tempat. Apa kalian tahu apa tempat itu? Tempat yang pernah kami datangi sebelumnya alias restauran Jepang tempat Jungkook oppa mengajakku untuk makan dango!

.

            Di hadapan kami sudah ada dua piring dango yang Jungkook oppa pesan dengan raut wajah bahagianya. Dia benar-benar maniak dango. Aduh bulat-bulat kenyal kita bertemu lagi.

“Yein makanlah!” kata Jungkook.

“Ne..”

Aku mengambil satu tusuk dango lalu memakannya. Begitu juga Jungkook oppa yang langsung melahap dango-dango itu dengan lahapnya. Ya ampun oppa benar-benar terlihat menggemaskan di mataku.

“Yein..kau..tahu..dengan..siapa..aku..paling..ber.te..rima..kasih?” tanya Oppa sambil mengunyah dangonya. Oppa jangan makan sambil berbicara, nanti kau tersedak.

“Tidak. Memangnya dengan siapa?” tanyaku.

“Chanwoo,” jawabnya. Setelah oppa menelan dango yang ada di mulutnya dia kembali angkat bicara untuk memberikan alasan kepadaku kenapa Chanwoo yang dia maksud, “Karena Chanwoo pernah bilang kau menaruh rasa kepadaku. Kalian mantan kekasih ‘kan? Awalnya aku iri dengan Chanwoo yang bisa menjadi kekasihmu tapi setelah Chanwoo bilang itu semua hanya masalah lalu dialah yang membantuku untuk merawat bunga itu dan juga memberanikan diriku untuk menyatakan perasaanku kepadamu,”.

Sungguh, apa benar Jeong Chanwoo yang membuatku dan oppa bisa berpacaran? Chanwoo.. aku tidak mempercayainya!

“Chanwoo bilang kau suka berkhayal ala-ala putri kerajaan untuk di lamar di taman bunga makanya aku melakukan itu hehehe,” lanjutnya.

Blush~ pipiku memerah karena malu. Sialan! Baru saja aku berterima kasih kepada Chanwoo kini aku keki lagi kepadanya. Kenapa dia harus menceritakan itu si? Itu ‘kan aku ucapkan karena aku kesal dengan Chanwoo yang tidak pernah bersikap romantis kepadaku makanya aku berbicara seperti itu kepadanya. Lalu kenapa dia harus menyebarkannya ke Jungkook oppa si? Aish!

“Yein-ah..”

Wae oppa?” tanyaku.

“Kau mempercayai aku, kan?” tanya balik Jungkook oppa.

“Mempercayai apa?”

“Mempercayai kalau aku bisa membuatmu merasa bagaikan putri-putri di Disney itu? Aku memang bukan seorang pangeran tapi aku berjanji akan membahagiakanmu dan membuatmu merasa seperti seorang putri berharga di dunia ini!”

Sontak saja aku tertawa kecil. Ah, oppa benar-benar lucu sekali. Tentu saja aku percaya. Tanpa melakukan hal itu dia sudah membuatku merasa seperti putri teristimewa di dunia ini. Putri yang dapat menaklukkan hatinya, kekekeke.

“Aku mempercayaimu. Jadi jangan mengecewakan aku ya oppa, janji?”

“Ya tuan putri hamba berjanji!” serunya.

.

Fin~

Advertisements

Author:

wattpad @lovefinite87

4 thoughts on “Manager, Captain & Cheerleader [2/2 END]

  1. ugh, tolong saya senyum2 sendiri habis baca fic ini_o^< tanggung jawab ;~; /ditendang/

    dek halla jangan marah2 terus, nanti cantiknya ilang–sini, mending move on sama changwoo gih /plak/
    dan… jjk kamu udah gede, ya? berani nyatain perasaan ke cewek /sobs/ dek yein juga beruntung banget bisa dapetin hatinya si kapten basket yang (katanya) ganteng itu :v /digeplak jungkook/
    mz mingyu akhirnya kamu muncul disini, walaupun cuma selingan, tapi ku bahagia ❤ /wut

    baguuusss, aku suka sama ceritanya ;~; huhuhuhu
    ditunggu karya2 hebat lainnya yaaa :D/

    Like

  2. Ini demi apaaa manis sekali huhuhu😍
    Baper akut sama Jungkook duhh.
    Yein how lucky are you bisa dapetin kapten basket sekolah dengan cara yang errrrr so sweet💕
    Apalagi scene dibangunin di pagi hari itu, fixed baper aku malam ini.

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s