Posted in Chaptered, Fanita, Hurt/Comfort, LFI FANFICTION, PG-17, Romance, Sad

[Chapter 3] Karma

Karma 2

Karma

By Fanita

Infinite’s Woohyun – Lovelyz’ Mijoo

Cast : Infinite’s Member – Woollim Girls’ Member – Jisun – Lee Jungyeop

Genre : Sad – Hurt – Romance || Type : Chapter || Rating : PG-17

Ketika tajamnya sebuah perkataan yang pernah kau lontarkan kembali menyerang dirimu, apa itu yang dinamakan sebuah karma?

“saya memiliki janji dengan sajangnim. Apa saya boleh masuk keruangannya sekarang?”

Mijoo langsung menoleh kedepan dan terkejut ketika seorang lelaki melambaikan tangan padanya. Laki-laki itu menyapa Mijoo terlebih dahulu karena tahu bahwa perempuan itu sungguh terkejut melihatnya.

Annyeong Mijoo-ya..”sapa Howon.

“Howon sunbae..”lirih Mijoo.

“aku boleh masuk?”Tanya Howon.

Mijoo mengangguk dan langsung berdiri untuk menemani Howon masuk kedalam ruangan Woohyun. Setelah Howon masuk Mijoo langsung kembali duduk disampingnya dan mengusap wajahnya frustasi karena teringat masa lalunya yang memalukan.

Flashback

 

 

Ya Mijoo-ya lihatlah kau dapat surat cinta lagi!”seru Inbin, sahabat Mijoo.

Mijoo tersenyum miring dan langsung merebut paksa surat yang dipegang oleh Inbin setelah itu dia membacanya. Tidak ada ekspresi apapun di raut wajah si cantik karena dia sudah terbiasa membaca ini.

“H?”heran Mijoo setelah membaca tulisan dibawahnya.

“kau tahu siapa yang menitipkan ke aku?”kata Inbin.

“molla. Memangnya siapa?”

Inbin mendekatkan bibirnya ke telinga Mijoo dan membisikan sesuatu padanya, “Howon sunbae…”

Raut wajah Mijoo berubah menjadi sumringah dan langsung bertanya pada Inbin kapan dan bagaimana Howon memberikannya. Walaupun bingung dengan sahabatnya yang jarang sekali bersikap seperti ini saat mendapatkan surat Inbin tetap menjawabnya.

“kalau begitu aku akan menghampirinya,”seru Mijoo.

Mijoo langsung berlari menuju kantin dan langsung menghampiri Howon yang terlihat sedang berbicara dengan temannya. Dengan penuh senyum dia menghampiri Howon karena Mijoo tertarik padanya setelah kemarin tidak sengaja melihatnya berlatih taekwondo.

“Howon sunbae terimakasih suratnya,”kata Mijoo.

“ye? Kau menyukai suratnya? Kau sudah baca?”tanya Howon.

Mijoo menganggukan kepalanya senang, “sangat bagus. kau membuatnya sendiri sunbae?”

“Mijoo-ssi dia yang membuat surat itu aku hanya membantunya memberikan pada temanmu,”

Dengan bingung Mijoo langsung melihat seorang laki-laki yang sejak tadi memunggunginya itu. Alangkah terkejutnya Mijoo saat tahu bahwa itu adalah Woohyun.

“Ikh! Dia yang mengirimkannya?”pekik Mijoo histeris.

Tanpa penuh perasaan Mijoo langsung mengoyak surat itu dan membuangnya dihadapan Woohyun. Dengan raut wajah kesal dia langsung pergi meninggalkan kedua laki-laki itu.

“Woohyun-ah gwenchana?”Tanya Howon.

“Hm gwenchana,”jawab Woohyun tersenyum lirih.

 

 

Flashback End

 

Mijoo mengusap wajahnya frustasi sesekali mengacak rambutnya karena pusing. Orang-orang memperhatikannya dengan heran karena menganggap dirinya gila. Clek….. Suara pintu terbuka membuat Mijoo langsung membenahi dirinya dan berdiri namun karena terlalu terburu-buru membuatnya kehilangan keseimbangan dan BRUGGG~~ gadis itu terjatuh ke lantai. Howon yang melihatnya refleks membantu Mijoo berdiri.

gamsahamnida sunbae,”ucap Mijoo.

“ah itu bukan masalah. Lain kali kau harus hati-hati,”tegur Howon.

Woohyun berdehem dan membuat dua orang itu menoleh padanya. Laki-laki itu berjalan terlebih dahulu dan memberikan kode kepada dua orang itu untuk mengikutinya.

            Tak terasa sudah 1 bulan Mijoo bekerja sebagai sekretaris Woohyun. Semua masih dalam keadaan canggung dan mereka hanya berbicara masalah pekerjaaan. Karena sudah mendapatkan gajinya Mijoo mengirimkan sesuai janjinya kepada bibinya di Incheon untuk biaya hidup ibunya sementara sisa uang itu Mijoo bayar untuk uang sewa sebuah flat. Ya, Mijoo tidak ingin merepotkan pak Son lebih banyak lagi. Dengan bersusah payah Mijoo memasukan barang-barang miliknya ke flat kecil itu. Flat tersebut hanya memiliki 1 ruang tempat tidur, 1 kamar mandi, dapur dan ruang tamu yang sangat sempit, Mijoo dapat merasakan bahwa flat ini bahkan lebih kecil dari kamar dirumahnya dulu. Tapi Mijoo tetap bersyukur toh dia disini tinggal seorang diri, kan? Untuk apa rumah yang luas, pikir Mijoo.

“hah… aku lapar,”gumam Mijoo.

Dia mengeluarkan dompetnya dari tas dan melihat sisa uang yang dia punya. Tidak banyak tapi ini cukup untuk membeli ramen 1 dus untuk persediaan makannya selama 1 bulan ini.

Mijoo mendorong troli sambil mencari apa saja yang harus dia siapkan dirumah sewaktu-waktu jika dia lapar. Setelah merasa semuanya siap Mijoo langsung pergi menuju ke arah kasir namun dia tiba-tiba saja menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang kebingungan. Tanpa pikir panjang Mijoo langsung berjalan menuju orang itu dan menegurnya.

sajangnim butuh bantuan?”tanya Mijoo.

Orang yang tidak lain adalah Woohyun itu menoleh pada Mijoo dan terkejut. Mijoo memberikan hormatnya pada Woohyun dan laki-laki itu membalasnya.

“kau belanja sendiri Mijoo-ya?”tanya Woohyun.

Woohyun memang memanggil Mijoo secara informal ketika berada diluar jam kerja. Sementara Mijoo masih tetap memanggil Woohyun dengan sebutan sajangnim karena dia harus sopan pada atasannya.

“ya aku belanja sendirian. Sajangnim Anda butuh bantuan?”tanya Mijoo.

“boleh kalau kau niat membantuku,”jawab Mijoo.

Kini mereka berdua berjalan menelusuri supermarket itu dan mencari kebutuhan yang Woohyun perlukan di apartemennya. Woohyun terus meletakan semua hal yang dia butuhkan kedalam troli dan Mijoo membantu mendorong troli tersebut.

“kau membeli apa disini?”tanya Woohyun. Dia iseng bertanya karena suasana ini cukup sunyi walaupun banyak kebisingan ditempat ini.

“aku membeli sekotak ramyun untuk persediaan makan dirumah,”

Woohyun melirik kekeranjang. Disana memang ada sekotak ramyun yang bukan miliknya.

“kau mau memakan ramyun terus menerus?”tanya Woohyun sedikit syok.

“hanya itu yang bisa aku makan,”gumam Mijoo.

Namun gumaman tersebut masih bisa didengar oleh Woohyun. Pria itu terus memperhatikan Mijoo yang sedang melihat beberapa produk yang ada didekatnya. Dia iba, dia tidak benci dengan perempuan dihadapannya ini walaupun dirinya sangat terluka dengan semua perlakuan Mijoo dimasa lalu.

“Mijoo-ya ikuti aku!”perintah Woohyun.

Mijoo menganggukan kepalaya dan mengikuti bossnya itu dari belakang sambil mendorong troli. Woohyun berjalan menuju tempat menjual ikan dan daging. Ia sibuk memilih daging dan ikan yang segar setelah itu meletakan kembali di dalam keranjang, “ayo kita cari beras!”ajak Woohyun. Sampai ditempat beras Woohyun memilih beras yang berkualitas bagus. Dia meletakan karung berisi 20kg itu dan kemudian mengajak ketempat lain. Setelah 30 menit berkeliling supermarket besar ini dan juga troli sudah penuh Woohyun langsung mengajak Mijoo untuk ke kasir.

“kalau begitu aku pamit pulang dulu sajangnim,”

Woohyun dan Mijoo baru saja meletakan semua makanan yang dia beli ke dalam bagasi. Saat Mijoo hendak mengangkat sekotak ramyun yang dia beli Woohyun langsung membuka kembali bagasinya dan meletakan barang tersebut disana. Mijoo kaget dan bingung melihatnya.

“aku akan mengantarmu pulang. Kau sudah capek, kan? Aku sudah merepotkanmu dijam istirahat jadi aku akan mengantarmu,”oceh Woohyun.

“Nam sajangnim,”ucap Mijoo.

Woohyun menutup kembali bagasi lalu menarik tangan Mijoo dan menyuruhnya masuk kedalam mobil. Setelah itu dia berlari kecil dan segera masuk kedalam mobil lalu mereka pun sudah meninggalkan parkiran ini.

“di mana rumahmu?”tanya Woohyun.

“di dekat persimpangan. Cukup dekat dari sini,”jawab Mijoo tak enakan.

            Mijoo membungkukan badannya berlaki-laki untuk berterimakasih pada Woohyun sudah mengantarkannya pulang. Kini dia mengambil barangnya yang ada dibagasi begitu pula Woohyun dia menurunkan semua barang yang dia beli.

sajangnim kenapa kau menurunkan semua barangnya?”tanya Mijoo heran.

“semua ini punyamu,”jawab Woohyun.

“ye?!”kaget Mijoo.

Woohyun hanya menutup mulutnya dan menggendong beras itu lalu dia berjalan dan menyuruh Mijoo untuk membawa semua barang itu. Kini mereka sudah berada di flat Mijoo. Woohyun langsung membawa beras yang dia bawa di dapur begitu pula Mijoo.

“sajangnim tapi aku tidak perlu ini semua,”ucap Mijoo tidak enak hati.

“kau tidak suka? Kau baru saja gajian tapi kenapa kau membeli makanan hanya ramyun untuk persediaanmu? Kau bisa sakit atau bisa jadi kekurangan gizi nanti,”oceh Woohyun.

Mijoo tertegun mendengar jawaban Woohyun barusan. Apa Woohyun mengkhawatirkannya? Kenapa jantungnya berdebar dengan kencang mendengar perkataan Woohyun?

“Hei Mijoo-ya kau tidak dengar aku?”tegur Woohyun.

“aku mengirimkan sebagian gajiku ke ibuku yang aku titipkan di Incheon. Aku juga baru saja menyewa flat ini dan membayar uang sewa pertama maka dari itu aku hanya punya sedikit uang untuk hidupanku,”balas Mijoo pelan.

Tatapan mata Woohyun menjadi senduh. Mijoo menundukan kepalanya karena matanya sudah berair saat ini. Sejujurnya dia tidak sanggup hidup seperti ini karena hal ini terlalu mendadak untuk dihadapai.

Kruuyykkk…

Mijoo memegang perutnya yang kelaparan sejak tadi. Dia perlahan melihat Woohyun dan tersenyum malu sementara Woohyun hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Woohyun meniup ramyun yang baru saja masak itu. Kebetulan Woohyun juga merasa lapar jadi dia meminta Mijoo untuk membuatkan makan malam yang bisa dia makan saat ini. Karena memasak nasi membutuhkan waktu yang lama jadi Mijoo hanya bisa membuatkan ramyun instan untuk dirinya dan Woohyun.

“ini enak tidak seperti ramyun biasanya,”kata Woohyun.

“ibuku memberikan aku resep rahasia untuk membuat ramyun instan menjadi enak,”celetuk Mijoo.

“benarkah? kau pasti sangat merindukan ibumu saat ini, benarkan?”tanya Woohyun.

“hmm aku merindukannya tapi jika dia hidup denganku aku tidak bisa merawatnya karena terlalu sibuk mencari ruang,”balas Mijoo.

“hmm.. kau berapa tahun tinggal di luar negeri?”

“aku menyelesaikan kuliahku 1 tahun lebih cepat dari orang biasa. Setelah aku lulus aku kembali ke Korea. Di sana aku hidup sendiri,”

“ah.. pasti sekarang kau sudah terbiasa sendiri,”

“ya, tapi setidaknya disini aku memiliki seorang sahabat yang bisa membantuku kalau disana aku tertutup, aku tidak suka melihat pergaulan teman-temanku disana. Kau ingat Yoo Jiae, sajangnim? Dia sahabat yang aku maksud,”

“aku ingat gadis itu..”

Woohyun terus menyatap ramyun itu sampai kenyang. Setelah selesai Mijoo membersihkan semua piring dan panci yang kotor ke dapur. Tidak lama kemudian ponsel Woohyun berdering saat melihat nama yang tertera ia menekuk muka dan menjawab panggilan itu dengan terpaksa.

“ada apa Haeryung-ah?”

“oppa aku lapar. Temani aku makan malam,”

“apa? Kenapa harus aku? Aku baru saja makan.”

“Oppa-ya!”

“aku tidak bisa. Jinjja. Aku sudah kenyang. Kapan-kapan saja,”

“Aish.. janji kapan-kapan kau harus menerima ajakan ku?”

“ya. Aku tutup dulu Haeryung-ah,”

Mijoo yang baru saja kembali dari dapur mengerutkan keningnya heran melihat ekspresi wajah Woohyun yang terlihat frustasi. Dia pun menghampiri Woohyun dan bertanya ada apa.

sajangnim ada apa? Kau tidak nyaman dirumahku?”tanya Mijoo.

“aku nyaman disini. Hanya saja… ah bukan hal penting.”

“hm begitu,”

“Mijoo-ya ini sudah malam. Aku harus pulang dan kau juga butuh istirahat bukan? Sampai jumpa besok,”

Mijoo mengantarkan Woohyun sampai ke depan. Entah kenapa dia merasa ada yang aneh pada dirinya saat Woohyun bilang sampai jumpa esok hari. Apa yang spesial sehingga perasaannya menjadi tak beraturan?

Keesokan harinya saat di kantor Mijoo ingin buang air kecil sehingga dia meninggalkan kerjaannya sebentar dan pergi ke toilet. Setelah selesai Mijoo berkaca sejenak untuk membetulkan penampilannya. Dia tidak boleh tampak kusut karena pekerjaannya adalah seorang sekretaris.

Kring….kringg…

Mijoo meronggoh ponselnya yang ada di blazer yang dia kenakan. Dia mengerutkan keningnya saat melihat ID penelpon yaitu pak Son. Tanpa basa-basi Mijoo langsung mengangkatnya.

“yeoboseyo pak Son?”

“nona Mijoo! Nona gawat!”

“ada apa?”

“nona hari ini—“

PRANG!! Mijoo menjatuhkan ponselnya ke lantai dan badannya kini sungguh kaku. Hatinya begitu terluka mendengar kabar yang baru saja diberitahu oleh pak Son. Dia jatuh berlutut di lantai. Air matanya kini mengalir begitu saja saat mengetahui semuanya.

“hikshiks…. kenapa?!”isaknya.

Tanpa berhenti Mijoo terus menangis terisak. Ia bahkan tidak dapat menenangkan perasaannya sendiri. Yang dia tahu dia hanya bisa menangis dan menangis.

BRAKK!!

Gadis itu menoleh ketika pintu wc ini dibuka secara paksa oleh seseorang. Saat dia ingin melihat lebih jelas siapa yang membuka pintu dirinya sudah tak sadarkan diri.

“Mijoo-ya bangunlah..”

Suara lembut itu secara perlahan membuat Mijoo yang tadi pingsan menjadi sadar. Gadis itu membuka matanya secara perlahan dan saat dia sadar akan satu hal Mijoo langsung berdiri. Namun Woohyun –orang yang membangunkannya- langsung menyuruh Mijoo untuk duduk lagi.

“duduk! Jangan pergi kemana-mana!”titah Woohyun.

“aku tidak bisa. Aku harus melihat ayahku!”pekik Mijoo frustasi.

“Mijoo-ya… kau tidak bisa ke sana,”kata Woohyun.

Sajangnim ayahku dieksekusi mati dan dia di asingkan kenapa kau bilang aku tidak bisa kesana!”bentak Mijoo.

Air mata gadis itu kembali berjatuhan. Dia tidak dapat membayangkan ayahnya akan dihukum mati oleh pemerintah saat ini. Bagaimana kondisi ibunya saat mengetahui kabar ini? apa perasaan ayahnya saat ini? semua itu ada pertanyaan yang ada didalam benak Mijoo.

“aku tahu. Mijoo-ya maaf tapi berita terkini mengatakan… mereka mengatakan ayahmu melakukan bunuh diri saat sedang di bawah ke tempat pengasingan,”lirih Woohyun.

Ia sesungguhnya tidak sanggup memberitahu tentang itu pada Mijoo. Mijoo hanya diam sambil memandang Woohyun datar seakan-akan rohnya melayang entah kemana. Tidak lama kemudian terdengar teriakan Mijoo yang terdengar sangat frustasi. Dia melemparkan semua barang yang ada didekatnya, tak peduli bahwa barang itu milik perusahaan tempatnya bekerja. Woohyun merasa sakit melihat cinta pertamanya menangis seperti itu sampai akhirnya dia membawa Mijoo kedalam pelukannya untuk menenangkan gadis itu, “jangan menangis. Ayahmu akan lebih sakit kalau mengetahui kau seperti ini,”bisik Woohyun. Dia membelai rambut panjang Mijoo yang lembut itu sementara gadis yang berada didalam pelukannya masih terus terisak. Woohyun tak peduli jika jasnya akan basah atau kotor karena airmata Mijoo yang dia tahu dia ingin memberikan ketenangan pada gadis ini, “ayahku… ayahku…”isak Mijoo.

Krrrkkk..

            Semua pegawai dikantor menutup rapat bibirnya saat terdengar bunyi pintu terbuka dari ruang atasan mereka. Orang-orang melihat Mijoo yang kini penampilannya sungguh berantakan. Mata bengkak, make up yang menjadi tak beraturan dan rambut yang kusut. Mereka hanya melihat untuk beberapa detik kemudian langsung sibuk kembali dengan urusan mereka. Mijoo sendiri langsung menuju ke meja kerjanya dan membereskan tasnya. Woohyun menyuruhnya untuk istirahat dulu dirumah dan juga ia diberi kesempatan untuk mengurus jenazah ayahnya.

 

TBC

Advertisements

Author:

wattpad @lovefinite87

One thought on “[Chapter 3] Karma

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s