[Freelance] Ruang Rindu

ruang-rindu

Ruang Rindu

Credit : yuliant @ Story Poster Zone

Author: ANi // Main Cast: Hong Jisoo (17’s), Kim Ji Yeon (LOVELYZ’s) // Genre: Fluff // Rating: PG-15 // Length: Ficlet-886word

“…Rindu…”

Jisoo melangkahkan kaki nya menuju taman kota seperti biasa. Diwaktu senggang nya ini, dia ingin menghabiskan barang satu jam saja hanya untuk bertemu dengan kekasihnya-JiYeon-ditaman kota. Ya, janjinya pada JiYeon hari ini tak boleh dilanggar.

Dan netranya menangkap sosok yang ia rindukan seminggu ini. Dibawah senja, tubuh itu bermandikan cahaya orange. Saat sosok gadisnya sedang sibuk bermain dengan anak kecil dan sesekali memotret sekitarnya dengan kamera, Jisoo hanya bisa manatap sosok itu dari sini. Entahlah, kakinya tak ingin melangkah dan hanya manik nya saja yang sibuk mengamati.

Begitu selesai dengan kegiatan nya, Jisoo menghampiri JiYeon dan segera menutup kedua mata gadisnya cepat. Sedangkan sang korban hanya bisa meraba kedua tangan milik Jisoo dengan lembut. “Jisoo? Apakah ini Jisoo?” Ujar nya dan berusaha melepas tangan Jisoo yang menutupi pemandangan.

“Ya, ini aku. Apakah kau merindukanku, hm?” Tanya Jisoo tepat ditelinga gadisnya. Sedangkan sang pendengar tersenyum simpul, menimbulkan rona lembut dikedua pipinya.

“Jisoo-ya, lepaskan saja tanganmu. Biarkan aku melihat wajahmu saat ini.” Pinta JiYeon pelan dan kembali berusaha melepas tangan Jisoo. Alih-alih melepas, Jisoo malah terkikik pelan mendapat perlawanan dari gadisnya.

“Apakah aku harus memanggilmu oppa agar tangan mu ini terlepas?” Begitu mendengar suara JiYeon yang sedikit menuntut, Jisoo melepasnya.

“Lalu apakah aku juga harus memanggil mu noona agar kau menjawab pertanyaan ku?” Balas Jisoo dan mencubit pelan pipi gadisnya. JiYeon menggembungkan pipinya mendengar pertanyaan-sekaligus pernyataan-yang keluar dari mulut Jisoo untuk menyudutkan nya.

“Jangan marah begitu. Nanti aku kabur kalau marah, sayang.” Lantas Jisoo mengecup kilat kening JiYeon dan bergegas kabur.

“HONG JISOO!” Teriak JiYeon. Sebenarnya ia malu, di depan umum berani sekali pria itu mencium nya.

Disini, di tempat ini, Jisoo berharap waktu berhenti. Tapi bisakkah seperti itu? Itu hanya harapan semata, tak lebih dari apapun. Dengan memeluk gadisnya, rasa rindu perlahan memudar, terkikis oleh senyum milik JiYeong yang setia dalam dekapan nya.

“Bagaimana kuliahmu?” Tanya JiYeon memecah keheningan. Membuka lembaran pertanyaan satu demi satu, menghapus rasa kikuk dalam dirinya yang menggerogoti.

“Baik, selagi kau ada disisiku. Semuanya terasa baik.” Katanya tepat ditelinga JiYeon. Suara nya kembali menghangatkan setiap inci di tubuh JiYeong, jujur saja JiYeon rindu akan suara namja itu ditelinga nya.

“Mereka tak membully mu lagi kan?” Kali ini suara JiYeon lebih sedikit ke arah takut, takut akan satu hal. Netranya kembali menutup, menghilangkan setiap pikiran buruk akan hal yang terjadi pada kasus ‘bully-an’ Jisoo.

Sedangkan yang diwawancarai hanya menggeleng di perpotongan leher sang pewawancara. Menandakan semua pikiran buruk JiYeong tak terjadi pada Jisoo, satu pun. JiYeon mengeluarkan napasnya lewat mulut, lega. Dan tersenyum senang.

“Mereka bilang semoga hubungan kita akan berjalan dengan baik, kupikir mereka tak marah lagi padaku. Ya itu adalah kesalahanku, Jisoo pabbo. Seharusnya aku memberitahu mereka kalau kita sudah berhubungan selama 3 tahun sejak awal, jadi tidak ada aksi ‘demo’.” Ujar Jisoo lengkap dengan kekehan nya.

“Tapi aku tak menyalahkanmu.” Protes JiYeon dan mengkerutkan kening nya tanda sedikit kesal.

“Pada kenyataan nya aku yang salah. Aku seharusnya memberitahu mereka, jadi Vernon tak perlu membantuku untuk menyembunyikan mu. Kau tak perlu khawatir sekarang, mengerti?” JiYeon pun mengangguk dan Jisoo semakin mempererat pelukan nya.

“Selama kita menjalani hubungan ini, aku merasa bahwa kau tak melewatkan hal baik itu sebelum semuanya pergi. Apa tebakkan ku benar?”

“Hm, hipotesis mu benar. Hei kau berusaha menjadi ilmuan, huh?” Saat itu juga, Jisoo mengangkat wajahnya untuk melihat gadisnya.

“Tidak.” Jawab JiYeon singkat.

“Tidak salah lagi.” Ceplos Jisoo dan mendapat cubitan dari JiYeon.

“Sudah kubilang tidak, ya tidak. Tuan Hong.” Katanya bertahan pada pendirian nya sendiri. Hhh keras kepala gadis ini, batin Jisoo.

“Sebaiknya kau jujur saja. Jangan membuat semua nya berbelit, Nona Kim.” Goda Jisoo dan melepas pelukan nya. membalikkan tubuh JiYeon dan menatap manik cokelat milik gadisnya. Sama-sama saling membalas dan bersiborok, tak ada diantara mereka yang ingin menghentikan nya.

“Tuan Hong, sebaiknya kau berhenti saja menatapku. Baru saja kita bertemu, tapi sudah dilanda badai. Dan hei aku sudah jujur padamu, masa kau mengira aku berbohong? Sebagai gantinya belikan aku bubble tea rasa cokelat, akan kumaafkan setelah itu. Dan satu lagi, ak-“

“Kau ini cerewet sekali sih. Kucium atau jujur?” Tawar Jisoo dan menampakkan wajah jahil nya.

“Yak, tawaran macam ap-“

“Kau jawab oke? Kucium atau jujur?” Jisoo menempelkan satu jari nya pada bibir JiYeon dan begitu selesai memberi pertanyaan, barulah tangan itu tak lagi menepel. Alih-alih menjawab, netra JiYeon malah menusuk manik Jisoo dengan dingin.

“Tentu saja jujur.” Jawab JiYeon.

Detik berikutnya bibir tipis itu sudah terkatup dan berubah menjadi manis. Entah bagaimana Jisoo punya keberanian seperti itu, tapi yang dilakukan pada gadis nya itu berhasil membuat JiYeong mematung. Dan Jisoo semakin dalam dan dalam. Menghantarkan rasa manis dan hangat.

Tak lama kemudian Jisoo melepasnya. Menatap gadis nya yang diam dengan wajah konyol nya. lalu tangan Jisoo terangkat untuk membelai pipi JiYeong, tiba saja warna nya berubah menjadi rona merah yang lembut.

“Kau pencuri, akh dasar Hong Jisoo pencuri!” Geram JiYeon dan memukul pelan perut namja itu.

“Aku kan bukan pencuri ayam, sayang.” Kekeh Jisoo dan mendapat pukulan lagi.

“Kau memang bukan pencuri ayam. Kau mencuri ciuman pertama ku, tau.” JiYeon memberenggut marah dan membalikkan tubuhnya.

“Hei, kau kan tadi bilang kalau aku tak pernah melewatkan hal baik sebelum semua itu hilang. Jadi tak apa kan? Tadi juga kau bilang kalau kau memilih jujur.”

“Lalu apa hubungan nya dengan kejujuran yang ku pilih?” Katanya dengan nada ketus.

“Kau tau lah jawabanku, kkk~”

“YAK, HONG JISOO!”

FIN

Advertisements

4 thoughts on “[Freelance] Ruang Rindu

  1. aduhhhhh lucu banget><
    jisoo kamu jahil bgt yaa sm jiyeon u,u

    btw, aku masih ga nangkep deh. jisoo kenapa dibully? maaf bgt iniii, ga baca telitiii

    btw [lagi] salken yaa, aku nightskies 98liner^^

    Like

    • Jisoo emang jail, kubuat jail sih😁
      Jadi kasus bully an nya jisoo itu ga terjadi kalo jisoo ganyembunyiin hubungan nya sama jiyeon. Maaf juga ya, tulisan aku masih abal-abal
      Salken juga, panggil aja nifa dati garis 00😊

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s