[Chapter 4] Karma

Karma 2

Karma

By Fanita

Infinite’s Woohyun – Lovelyz’ Mijoo

Cast : Infinite’s Member – Woollim Girls’ Member – Jisun – Lee Jungyeop

Genre : Sad – Hurt – Romance || Type : Chapter || Rating : PG-17

Ketika tajamnya sebuah perkataan yang pernah kau lontarkan kembali menyerang dirimu, apa itu yang dinamakan sebuah karma?

 

 

            Sorot mata gadis itu hanya bisa terpaku pada lautan yang ada didepannya. Di pinggir dermaga gadis itu menabur abu kremasi ayahnya. Mijoo seorang diri dia menaburkan abu itu karena ibunya kini sedang tidak berdaya di Incheon. Saat dia ingin menyusulnya Aera malah membentak Mijoo untuk tetap di Seoul, Aera bilang dia dapat menangani Jisun yang sangat terpukul itu. Setelah selesai Mijoo langsung memanjatkan doa untuk ayahnya agar segala dosa-dosanya dihapuskan apalagi dosanya pada negara ini. Kemudian Mijoo langsung meletakan tong abu itu di sembarang tempat kemudian langsung pergi meninggalkan dermaga menghampiri seorang laki-laki yang sejak tadi menunggunya di dalam mobil.

“kau ingin langsung pulang?”tanya Woohyun.

“hmm ya sajangnim,”jawab Mijoo lesu.

Woohyun langsung menjalankan mobilnya untuk segera kembali ke Seoul dan mengantar Mijoo pulang. Sepanjang jalan Mijoo hanya bisa menatap jalanan dengan pandangan kosong. Woohyun yang memperhatikannya sejak tadi hanya bisa diam tanpa berbuat apa-apa.

**

            Satu minggu sudah berlalu. Mijoo kini sudah bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dia kini bekerja seperti biasanya dan beraktivitas seperti sediakala walaupun terkadang dia merasa sedih ketika salah satu stasiun tv membahas mengenai ayahnya dan para koruptor.

Malam ini mendadak Mijoo merasa lapar karena dia sedang malas untuk memasak Mijoo memilih untuk makan di luar. Mijoo masuk kedalam sebuah cafe dan salah seorang pelayan langsung melayaninya kemudian menunjukan tempat yang kosong. Mijoo memilih menu yang ada setelah itu dia tampak celingukan mencari seseorang. Gadis menghela nafas saat dia yakin bahwa orang yang dia cari tidak ada.

“kau mencariku ya?”

Jantung Mijoo berdegup kencang karena suara seseorang yang dia cari tadi terdengar begitu jelas di telinganya. Dia menoleh kesamping dan terkejut ketika melihat tampang Sungyeol yang tengah tersenyum padanya.

“Sungyeol-ssi..”rutuk Mijoo.

“kau kesini juga. Aku kira kau tidak akan balik lagi ke cafe ini karena tahu aku ada disini,”kata Sungyeol.

Sungyeol kini sudah duduk didepan Mijoo dan mereka bercakap-cakap bersama. Walaupun ini pertemuan mereka yang ketiga kalinya Sungyeol maupun Mijoo sudah nyaman satu sama lain. Saat pesanan Mijoo sudah datang Sungyeol mempersilakan Mijoo untuk mencicipinya. Mijoo mengacuhkan jempol karena makanan yang dia pesan ini begitu enak.

“pegawaiku memang pandai memasak,”gumam Sungyeol.

“kau ngomong apa barusan Sungyeol-ssi?”tanya Mijoo.

“bukan apa-apa. Habiskan makananmu,”jawab Sungyeol kikuk.

10 menit kemudian Mijoo sudah menghabiskan makanannya seorang diri. Sungyeol tersenyum puas melihatnya. Saat melihat bibir Mijoo belepotan saos Sungyeol langsung mengeluarkan sapu tangannya dan memberikan itu pada Mijoo.

“gunakan ini untuk mengusap noda di bibirmu,”kata Sungyeol.

Dengan perasaan yang aneh Mijoo mengambil sapu tangan itu dan mengusap bibirnya.

“aku akan mengembalikan ini padamu setelah mencucinya,”kata Mijoo.

“kalau begitu aku harus memiliki nomor ponselmu,”celetuk Sungyeol.

“ye?!”

“bagaimana kalau kau kemari tapi aku tidak ada? Lebih baik membuat janji,”

Akhirnya mereka berdua bertukar nomor ponsel dan setelah itu mereka saling bercerita satu sama lain layaknya teman akrab.

**

            Suasana hati Woohyun hari ini begitu senang karena dia memenangkan sebuah tander. Karena itu Woohyun memberikan anak buahnya waktu untuk pulang lebih cepat dari biasanya. Walaupun begitu dia tetap berada diruangannya sibuk mengurus apa yang harus dia lakukan kemudian.

Cklek..

Woohyun menoleh kesumber suara dan saat mengetahui siapa yang membuka pintu ruangannya raut wajah Woohyun berubah menjadi tak semangat. Haeryung langsung menghampiri Woohyun dengan bahagia dan seperti biasa dia langsung merangkul manja Woohyun yang sedang membereskan dokumen-dukumen.

“Oppa.. kantormu sepi, pegawaimu pulang cepat ya?”tanya Haeryung.

“hmm seperti yang kau lihat,”gumam Woohyun.

“kalau begitu kenapa kau sendiri tidak pulang cepat? Ah tapi untunglah kau masih disini jadi aku bisa melihatmu dan mengajakmu kesuatu tempat,”kata Haeryung.

“kesuatu tempat? Haeryung-ah aku tidak ada waktu untuk hal itu.”tolak Woohyun.

“Oppa kita makan malam bersama, ya? ya? ya? kau sudah janji ditelpon waktu itu,”bujuk Haeryung.

“Haeryung-ah…”

“oppa. Ayolah.. eng…eng.. mau ya,”kata Haeryung sambil mengeluarkan aegyo-nya.

“tunggu di luar. Aku bereskan ini semua baru kita pergi,”balas woohyun.

Haeryung berteriak kencang karena dia sangat bahagia saat ini. Seperti perkataan Woohyun barusan dia langsung menunggu diluar membiarkan Woohyun membereskan mejanya sebentar. Saat Woohyun keluar dari ruangannya Haeryung langsung melingkarkan lengannya pada Woohyun dan berjalan dengan manja. Kini mereka sudah berada dilobi Woohyun meminta Haeryung untuk menunggunya sejenak. Haeryung menganggukan kepalanya dan menuruti perkataan kekasihnya itu. 5 menit menunggu Woohyun tidak kunjung menghampirinya. Gadis itu jengah dan terus berkomat-kamit agar Woohyun segera menghampirinya. Terdengar suara bunyi motor yang sangat kencang membuat telinga Haeryung sakit. Motor itu berhenti didepan Haeryung. Sang pengendara motor membuka helm-nya dan melihat Haeryung yang tengah menatapnya kaget.

“Oppa! Kemana mobilmu?”pekik Haeryung.

“mobilku sedang di service jadi aku naik motor. Ayo naik,”kata Woohyun.

Haeryung membulatkan matanya tidak percaya. Dia takut naik motor apalagi motor besar seperti itu ditambah Woohyun pula yang mengendarainya. Tidak dia tidak ingin mengambil resiko tak bisa tidur tujuh hari tujuh malam hanya karena itu. Sebenarnya Woohyun sengaja membawa motornya akhir-akhir ini karena dia tahu pasti Haeryung akan mendadak datang ke kantornya dan mengajaknya untuk makan malam bersama.

“kau tidak mau? Ya sudah.. aku pergi. Pulanglah kerumah berhati-hati,”pamit Woohyun.

Brum……brum…

Motor itu kini berlaju dengan kencang dari hadapan Haeryung. Gadis itu hanya bisa terbatuk karena asap dari knalpon begitu tebal, “nappeun nom!”pekik Haeryung tidak terima.

**

            Sementara itu di lain tempat namun masih berada di daerah sekitar perkatoran Namu Corp seorang gadis berjalan gontai mencari taksi. Sejak tadi tidak ada taksi yang lewat dan juga jika dia ingin naik bus jam segini tidak ada bus yang beroperasi ke daerah rumahnya. Lee Mijoo dia berjalan terus menerus tanpa sadar bahwa di depannya ada batu dan..

Brug…

Mijoo tersandung batu itu dan sukses membuatnya kini mencium tanah. Untung saja jalanan saat ini sepi sehingga tidak ada orang yang menyaksikan kejadian memalukan tadi.

“Aish.. sakit,”ritih Mijoo.

Ia berusaha berdiri dengan bersusah payah dan ia terkejut saat melihat lututnya yang kini berdarah. Luka itu begitu pedih bagi Mijoo.

eotteoke?”racaunya.

Mijoo berjalan dengan pincang untuk terus mencari taksi. Darah bahkan terus bercucuran dilututnya itu. Dia harus tahan, sampai rumah dia akan mengobati luka itu.

Tit…tin…

Seseorang terus saja membunyikan klakson. Mijoo tidak peduli itu karena menurutnya mungkin orang itu hanya orang asing yang ingin menggodanya. Zaman sekarangkan banyak orang bermodus seperti itu untuk berkenalan dengan perempuan cantik sepertinya.

“Lee Mijoo!”seru seseorang.

Mendengar namanya disebut Mijoo langsung berhenti dan menoleh kebelakang. Dia mengerutkan keningnya heran saat pengendara motor yang sedang membuka helm-nya itu.

sajangnim..”gumam Mijoo saat sudah melihat dengan jelas siapa yang memanggilnya.

Woohyun langsung turun dari motornya. Ketika dia berada dihadapan wanita itu tatapan mata Woohyun memperhatikan kebawah lebih tepatnya lutut Mijoo. Laki-laki itu terkejut ketika melihat darah diarea itu.

“kau terluka? Ada apa?”tanya Woohyun panik.

“b-bukan apa-apa sajangnim. Hanya jatuh tersandung,”jawab Mijoo kikuk.

“kenapa kau sering sekali terjatuh karena tersandung?”tanya Woohyun yang kini sedang menatap mata Mijoo.

Seoul, 2008

 

“sakit.. hikshiks.. apa yang harus aku lakukan?”isak seorang wanita.

Ia memperhatikan kesekeliling tidak ada orang yang lewat dilapangan belakang sekolahnya karena semua sudah pulang sekolah. Jika pun ada orang disekolah ini mungkin mereka sedang ekstrakulikuler. Mijoo, gadis yang menangis itu adalah dirinya. Ia memegangi lututnya yang terluka itu. darah terus bercucuran dari lututnya dan begitu pula air matanya.

eomma.. appa.. eotteoke?”racaunya.

Dari arah kejauhan seorang laki-laki yang sedang sibuk men-dribble bola basket berjalan ke arah lapangan belakang sekolahnya. Dia kini sibuk bersiul dan memandang kelapangan. Matanya yang semula sipit kini langsung terbuka lebar dan dia langsung berlari menghampiri gadis yang tengah berjongkok dilapangan seorang diri. Saat sudah berada didekat gadis itu laki-laki itu melihat seragam yang digunakan Mijoo. Seragam baru yang digunakan oleh juniornya.

hoobaenim, kau kenapa?”tanyanya.

“hikshiks.. sakit,”jawabnya. Mijoo menatap lirih lelaki yang ada didepannya.

“kau terjatuh?”tanya orang itu.

Mijoo menganggukan kepalanya. Tiba-tiba laki-laki itu berjongkok dihadapan Mijoo bahkan dia melemparkan bola basketnya kesembarang arah. Mijoo heran dan bertanya pada seniornya itu.

sunbae kau kenapa?”tanya Mijoo.

“naiklah kepunggungku. Aku akan membawamu ke UKS dan mengobati lukamu,”

Mendengar ucapan seniornya itu Mijoo langsung naik keatas punggungnya dan air matanya masih terus berjatuhan. Sepanjang jalan menuju UKS koridor begitu sepi.

“hmm siapa namamu?”tanya orang itu.

“Mijoo. Lee Mijoo. kau tidak tahu aku sunbae? Ayahku perdana menteri negara ini!”jawab Mijoo.

Ye? Jadi aku menggendong seorang putri saat ini?”kagetnya.

“ya kau beruntung bisa menggendongku. Siapa namamu sunbae?”tanya Mijoo.

“Nam Woohyun. Woohyun.. senang berkenalan denganmu, Mijoo-ssi.”kata Woohyun.

 

 

**

“hentikan.. jangan coba membuatku mengingat masa lalu. Jika kau terus mengingatnya kau semakin membuatku malu berdiri dihadapanmu,”lirih Mijoo.

Woohyun menghembuskan nafasnya lalu tersenyum terpaksa. Baiklah dia tidak akan membuat Mijoo mengingat masalah itu lagi. Yang lebih penting saat ini adalah mengobati luka Mijoo.

“aku akan antar kau pulang. ayo..”

Mijoo sedikit keberatan karena dia merasa tidak enak dengan Woohyun namun atasannya itu terus mendesak dan akhirnya Mijoo mengalah dan naik kemotornya. Dia tidak takut seperti Haeryung karena dia sering pergi mengendarai motor ketika bersekolah di luar negeri bersama teman-teman bulenya.

            Di jalan Woohyun mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Hal ini membuat jantung Mijoo berdebar sangat kencang karena takut membayangkan hal yang bukan-bukan. Spontas gadis itu langsung melingkarkan tangannya kepinggang Woohyun dan memegangnya erat. Sementara itu tanpa Mijoo sadari Woohyun yang merasa Mijoo sedang memeluknya saat ini tidak dapat berfikir jerni. Perasaan yang pernah dia rasakan dulu kini kembali muncul. Debar jantung yang begitu kencang, rasa grogi yang membuatnya tidak tenang.

Sajangnim lampu merah!”kata Mijoo.

Brug~~ Woohyun langsung menghentikan motornya dengan mendadak dan untung saja dirinya bisa menahan motornya agar tidak terjatuh. Setelah motor itu berhenti sejenak Woohyun langsung melihat kebawah –lebih tepatnya tangan Mijoo yang melingkar dipinggangnya- Dia sangat senang saat ini namun juga perasaannya cemas. Dia tidak ingin benih-benih cinta itu kembali muncul karena dia tahu sampai kapanpun Mijoo pasti tidak akan melirik kearahnya.

sajangnim sudah lampu hijau. Kenapa tidak memperhatikan jalan?”tegur Mijoo.

“Ma-maaf..”

**

            Woohyun membantu Mijoo untuk berjalan masuk kedalam flat kecilnya. Sampai di dalam Mijoo langsung dudu diruang tengah sementara itu Woohyun mencari kotak P3K yang Mijoo bilang dia simpan di laci dalam kamarnya. Woohyun masuk kedalam kamar Mijoo dan mencari-cari dimana laci yang dimaksud. Saat melihat sebuah laci di meja rias Woohyun lansung membukanya dan tersenyum ketika melihat benda yang dia cari akhirnya ketemu. Ketika dia ingin menutup lagi laci tersebut senyum di wajah Woohyun langsung memudar ketika melihat sebuah benda yang tidak asing untuknya.

“inikan… solma…”lirih Woohyun.

Woohyun buru-buru meletakan kembali benda itu ditempatnya dan langsung menghampiri Mijoo yang pasti sudah menunggunya. Dengan cekatan Woohyun langsung mengeluarkan obat-obatan dari kotak itu dan segera mengobati luka Mijoo yang bahkan darahnya sudah mengering.

“ini akan sakit jadi tahan sejenak,”kata Woohyun.

Mijoo menganggukan dan menahan teriakannya ketika Woohyun menekan pelan lukanya tadi demi membersihkan agar tidak terinfeksi. Karena tidak sanggup melihat ia, Mijoo, memejamkan matanya dan terus memegang pundak Woohyun. Berbeda dengan Woohyun, laki-laki itu sesekali melirik pada Mijoo dan tersenyum kecil menyadari tidak ada perubahan dengan ekspresi beberapa tahun yang lalu.

“baiklah sekarang sudah selesai..”kata Woohyun.

Mijoo perlahan membuka matanya dan melihat luka dikakinya sudah diobati oleh Woohyun. Gadis itu tersenyum tulus pada Woohyun tak lupa memberikan ucapan terimakasih karena banyak membantunya.

“hmm sajangnim aku akan membuatkanmu makan malam,”kata Mijoo.

“tidak usah. Aku tidak mau merepotkanmu lebih baik kau segera beristirahat,”ujar Woohyun.

Pria itu tidak memperhatikan Mijoo karena sedang sibuk meletakan kembali perban, lem dan juga obat merah kedalam kotak P3K-nya. Ketika Mijoo hendak berdiri dia yang tegak mendadak merasakan sakit lagi di kakinya dan ketika dia mencoba untuk berjalan…

“A sajangnim!!”pekik Mijoo.

Woohyun menoleh pada Mijoo dan Chu~~ Masing-masing saling membulatkan matanya ketika merasakan bibir mereka menekan sesuatu yang lembut. Mijoo dan Woohyun yang masih berada dalam posisi yang sama saling memandang satu sama lain. Waktu terasa berhenti sejenak. Laki-laki itu berkomat-kamit dalam dirinya bahwa yang dia rasakan saat ini adalah sebuah mimpi. Namun kenyataannya ini adalah nyata. Berbeda dengan Mijoo ia sendiri merasakan degup jantungnya kini begitu kencang dan mungkin sewaktu-waktu bisa saja jantungnya memecah jika terus merasakan perasaan ini.

TBC

Advertisements

2 thoughts on “[Chapter 4] Karma

  1. Ya Allah, my namu~~ ihh snangnya ngeliat mereka berdua.. Mijo beruntung aned.. Eh si Sungyeol modus banget yah :v dasar. Ah,, makin seru nih. Kak nita, maaf yah sering nyider/? Hehe lanjuutt~ kutunggu kelanjutannya~ kereeen

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s