[Oneshoot] Berlebihan

1454343555912.jpgNnafbjnr

Berlebihan—Sekuel dari Fanfic yang berjudul ‘Sisa’

Baby Soul–Lovelyz

Kim Seok Jin–BTS

–Sad, hurt, slice of life/?–

–General–Oneshoot–

Tidak ada unsur plagiat apapun. Kesamaan alur tentu Bukan sebuah kesengajaan.

Selamat membaca!


••••

Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Suara air yang dituangkan dari teko ke dalam gelas tak pernah membuat Soojung bosan. Ia—masih—kecanduan teh yang menurutnya dapat menenangkannya, sama seperti orang dewasa yang meminum soju. Atensinya menatap kosong jendela kaca dengan bingkai kayu yang berdebu. Jika melihat kebawah, tampak jalanan yang ramai oleh kendaraan. Ketinggian atas gedung ini mengingatkannya pada kejadian Myungsoo waktu itu. Oh, tidak. Kejadian itu berputar lagi di kepalanya, seakan tak ingin pergi dari pikirannya.

Soojung tidak di ikat di atas tempat tidur pasien dengan tali dan pintu terkunci ganda. Soojung juga tidak meronta-ronta, tidak berteriak frustasi seperti kamar-kamar yang berada di sebelahnya. Tidak, Soojung tidak segila itu. Yang seperti itu sudah terlalu berlebihan. Di vonis memiliki kelainan jiwa yang sama sekali tak Soojung mengerti, gadis ini terus menatap keluar jendela, meminum teh hingga tekonya kosong. Ia baru akan menangis bila ia ingin menangis atau ia di paksa berhenti untuk meminum tehnya.

Menurut Soojung ia masih sangat normal.

cklek!

 Pintu terbuka dengan lebar, mempersilahkan seseorang masuk ke kamar rawat Soojung. Suara jeritan dari ruangan yang lain jelas terdengar begitu pintu dibuka, namun kembali mengecil volumenya ketika pintu ditutup kembali. Tak bergeming, Soojung masih menatap keluar jendela. Ia belum menuangkan tehnya lagi ke gelasnya untuk ia teguk. Seolah tak mau tahu siapa yang datang, ia pura-pura tak mendengar suara pintu terbuka dan tertutup barusan. Lebih baik menunggu orang itu mengeluarkan suara untuk menyapanya.

“Hai Soojung. Lama tak bertemu,” sapa orang itu. Soojung masih tak bergeming. “Masih ingat aku? Kim Seok Jin.”

“Hai, Jin.” Oh, ternyata Seok Jin, teman sekelasnya dulu.

Tungkai milik Jin bergerak mendekati Soojung lalu duduk bersila di sampingnya. Tangan Soojung pun bergerak mengisi satu-satunya gelas yang berada di samping teko di hadapannya. Mengisinya hingga melampaui batas.

“Tak usah repot-repot, Jung.”

Soojung tak menyahut. Ia meminum teh dalam gelas yang tadi dituangkannya—oh, Jin salah. Tatapan kosong pun di lontarkan Soojung pada Jin yang menatapnya dari samping. Merasa di tanya ‘ada kau datang kesini?’ oleh Soojung, Jin pun tersenyum.

“Aku kesini karena ingin menjengukmu, aku ingin bertemu denganmu.”

Setelah itu kembali diam. Pandangan Soojung kembali menatap pemandangan dari luar jendela. Ia berharap Jin menceritakan sesuatu padanya—ia merasa bosan, lumayan. Sudah lama orang tuanya tak berkunjung melihatnya, seakan sudah tidak peduli lagi padanya. Biasanya orang tuanya akan datang dengan banyak cerita yang akan sedikit menghibur hatinya, menghapus kesunyian dan dinginnya ruang rawat. Tapi sekarang tak pernah lagi seperti itu. Sekian lama menyendiri di ruangan ini, akhirnya Jin datang. Entah apa yang akan di ceritakannya.

“Sudah berapa lama kau disini? Aku bahkan sudah lulus sekarang.”

Dalam hati, Soojung tergelak. Ia bahkan tak tahu berapa lama ia mendekam di ruangan dingin nan membosankan ini—terlebih bersama kenangannya yang mengerikan. Hingga teman-temannya sudah lulus sekarang? Oh, betapa menyedihkannya keadaan Soojung. Apa ia akan jadi berita utama surat kabar? ‘LEE SOOJUNG SI GADIS YANG TIDAK LULUS KARENA GILA’ oh, yang benar saja, itu terlalu lucu untuk di bayangkan.

“Menurutku, kau ini terlalu berlebihan.” Jin mengambil gelas Soojung lalu menuangkan teh dalam teko ke gelasnya. “Hanya karena orang yang kau sukai bunuh diri, kau jadi seperti ini. Bahkan kau tidak tahu penyebab kematian Myungsoo waktu itu karena apa.”

“Aku tahu.”

“Tahu darimana?” Soojung terdiam, belum mau menjawab. “Waktu itu kau hanya menangis tanpa memikirkan apapun.”

Jangan mengingat bagian Soojung menangis. Itu memalukan! Dan..kenapa jadi membahas soal dirinya? Kenapa jadi membahas soal kematian Myungsoo? Soojung kira Jin akan menceritakan kebahagiaannya karena sudah lulus.

“Kenapa jadi membahas kematiam Myungsoo?” tanya Soojung dingin.

“Karena kau berlebihan,” jawab Jin. Air teh yang sudah dingin dan rasanya hambar—rasa teh—menjadi jeda sebentar sebelum ia melanjutkan kalimatnya. “Kau tidak bisa seperti ini hanya karena kematian seseorang.”

“Tidak! Aku tidak segila yang kau kira!” protes Soojung. “Yang berlebihan itu keluarga dan pihak rumah sakit!” Soojung mulai emosi.

“Kau yang berlebihan! Kau tidak akan di anggap gila jika kau tidak seperti ini!”

Soojung tak terima jika harus terus disalahkan oleh Jin perihal penyebab ia tinggal di rumah sakit jiwa ini. Tidak, Soojung tak segila yang banyak orang pikirkan! Ia hanya frustasi, shock. Jin bilang ia tidak tahu penyebab Myungsoo bunuh dari, itu salah! Surat di genggaman Myungsoo waktu itu adalah jawabannya, dan hanya Soojung yang tahu itu.

Keduanya terdiam. Tak ingin melanjutkan perdebatan tak bermutu ini lagi. Soojung pun bangkit lalu ia menaiki tempat tidurnya. Meninggalkan teh dalam teko dan gelasnya di lantai, juga Jin yang masih duduk bersila. Ia menyelimuti tubuhnya hingga menutupi kepalanya, berharap Jin pergi dan tidak lagi mengajaknya berdebat. Matanya terpejam, kembali ia melihat bayangan Myungsoo yang jatuh di hadapannya dengan keadaan yang bermandikan darah. Padahal seminggu ini ingatannya sudah mulai normal—tidak lagi di hantui bayangan kematian Myungsoo yang mengerikan. Tapi setelah Jin membicarkannya.. Soojung bisa saja menangis karena di malam hari atau setiap ia berkedip bayangan itu kembali menghantuinya.

Surat pada genggaman Myungsoo waktu itu tentu terkena basahnya darah yang mengalir. Dibaca oleh Soojung dengan tangan yang gemetar. Darah yang mencokelat di kertasnya. Tulisan yang mulai pudar. Kertas itu mengatakan bahwa Myungsoo melakukan bunuh diri karena muak dengan kehidupannya sendiri yang sama sekali tak berasa apapun. Hanya itu. Sungguh tak masuk akal. Alasan yang tidak dapat di terima siapapun. Myungsoo berlebihan!

“Suster bilang–”

kriieekk

“–kau terlalu banyak minum teh. Jika kau di paksa berhenti, kau akan menangis, mengamuk, dan berteriak seperti pasien yang lain. Benarkah?” Suara per kasur berdecit, Jin duduk di pinggiran tempat tidur Soojung

Soojung membuka selimutnya batas leher. Dilihatnya Jin sudah berada di ujung tempat tidur rawatnya. “Itu bohong.”

“Kau yang bohong.” Jin tertawa pelan. “Kau ini lucu.”

“Cih.” Soojung mencibir. “Sebenarnya tujuanmu kesini untuk apa? Menjengukku? Bahkan kau tidak membawakanku buah atau apapun.”

“Tujuanku tentu menjengukmu, melihatmu, dan mengatakan bahwa aku akan kuliah di Amerika. Mungkin kau akan merindukanku? Haha,” kata Jin. Ia tertawa garing. Tangan Jin menarik selimut Soojung hingga setengah badannya terlihat. Tatapannya hangat, Soojung dapat merasakan itu.

“Kau memang tidak segila yang orang pikirkan, Jung,” gumam Jin pelan. “Kau harus bertingkah seperti ini. Mengajak suster mengobrolkan hal-hal yang biasa menjadi pembicaraan, bertingkah layaknya manusia normal. Jika kau bertingkah laku begitu, aku yakin kau akan segera di pulangkan. Kau tidak benar-benar kelainan jiwa.”

“Oh, baguslah jika kau berpikiran begitu. Memang faktanya aku tidak gila. Dan yang orang lain katakan itu berlebihan.” Kini senyum Soojung mengembang setelah sekian lama tak permah tersenyum. Meski hanyalah senyum tipis, itu menjadi sinyal baik bagi Jin.

“Aku menyukaimu, Jung. Kau tahu sejak kita SMP dulu, ‘kan? Dan kau tahu perasaanku akan terus bertahan, ‘kan?” Tangan Jin menarik tangan Soojung hingga gadis itu terduduk, lalu menggenggamnya erat. “Lakukan apa yang kau mau. Jadi orang normal, dan lakukan hal yang masuk akal.”

“Apa yang kumau?” Jin mengangguk. Hati Soojung seakan baru terbuka gerbangnya, angin segar menumbuhkan bunga-bunga di hatinya. Ia bahagia ada orang yang tak menganggapnya gila. Ia merasa ada kebebasan ketika Jin mengatakan bahwa ia boleh melakukan apa yang ia mau. Soojung sangat bersyukur.

“Aku kembali dari Amerika, kau harus sudah keluar dari rumah sakit dan menjadi wanita ceria lagi. Tak usah lanjutkan pendidikan. Kau santai saja, tunggu aku,” terang Jin lagi. Kini Jin seakan berubah menjadi motivator sementara untuk Soojung, atau sejenis pendeta nan bijak. “Dan berhentilah minum teh berlebih. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.”

Senyuman Soojung berubah menjadi cengiran lebar. “Baiklah. Kau pulang saja sekarang. Aku akan buktikan bahwa besok aku sudah bisa pulang!”

Jin pamit, membuka lalu menutup pintu kamar rawat Soojung. Lega rasanya setelah Jin mengajaknya berbincang tadi. Memberikannya sedikit semangat untuk melakukan apa yang ia mau, menjadi wanita normal. Soojung dapat berjanji, besok dirinya akan kembali bersama keluarganya dan keluar dari ruangan dingin nan membosankan ini.

Bangkit lagi, Soojung menuruni tempat tidurnya lalu melangkah ke arah jendela yang selama ini ia pandangi dengan sendu. Dibukanya lebar-lebar jendela tersebut, dapat dirasakannya angin sore menggoyangkan rambut cokelatnya. Segar. 

.

.

Hari ini Soojung pulang. Namun kepulangannya di sambut isak tangis oleh keluarganya. Padahal Soojung sudah berpakaian rapi dan cantik. Tak hanya keluarganya yang menyambut kepulangan Soojung dengan tangisan, Jin juga ikut menangis ketika ia mengetahui bahwa Soojung sudah keluar dari rumah sakit jiwa, dan pulang ke rumahnya. Meski terpaksa, Jin harus membatalkan keberangkatannya ke Amerika demi melihat kepulangan Soojung.

Tangisan semua orang ini menurut Soojung terlalu berlebihan.

.

.

Dulu kalimat ‘berlebihan’banyak di lontarkan oleh Jin pada Soojung sewaktu ia menemuinya di rumah sakit. Kata itu terkesan mengejek bagi beberapa manusia. Berlebihan hingga menimbulkan hal yang bodoh. Kini kata itu berbalik pada Jin. Sekarang ia yang pantas di katakan berlebihan. Tatapannya kosong, tak ingin bicara. Bodoh, mengapa ia mengatakan ‘lakukan apa yang kau mau’ pada Soojung jika jadinya begini.

Seorang suster memasuki ruang rawat Jin yang sunyi, dingin, dan membosankan, sama seperti kamar rawat Soojung yang ia kunjungi waktu itu. Suster tersebut tersenyum dengan ramahnya. Tangannya membawa nampan dengan menu makan malam dan air putih di atasnya. Hanya suster ini yang tersenyum padanya di rumah sakit ini, setia menjawab pertanyaan datar Jin yang tak pernah berubah.

“Suster, apa aku berlebihan?”

“Mungkin iya.”

It jawabannya. Selalu begitu. Kata berlebihan memang tidak selalu—atau mungkin tidak pernah—menguntungkan manusia. Karena yang berlebihan itu tidak baik.

“Karena yang berlebihan itu tidak baik, Tuan Kim.”

.End?

Oke, ini sekuel ffku yang judulnya Sisa. Yah, kan ada yang nanya, knapa si Myungsoo terjun/? Dri atap sekolahnya. Jadi intinya dia terjun gegara dia bosen hidup :v  disini aku nyeritain entah lah nyeritain apa :v disini si Soojungnya juga terjun gegara terinspirasi kata2 si Jin yg bilang ‘lakukan yang kau mau’ :” ah aku alay banget yah. Author note panjang gini, gk bermutu :”v maap keun lah. Komen like nya~~

Advertisements

12 thoughts on “[Oneshoot] Berlebihan

  1. mau nangis T.T
    endingnya nyayat(?) banget. dan feel sedihnya dapet di akhir2. keren deh!

    babysoul, kenapa sih gabisa liat seokjin yg cinta bgt sama kamu? TT.TT

    itu aja dulu deh, hehehe. ditunggu ff2 berikutnya yaa^^

    Liked by 1 person

    • Jangan nangis atuh ih :”” aku gk tau bakalan sesedih itu :v si babysoul nya alay jdi gk bisa liat Jin yg cinta sama dia/?
      Makasih yaah udah bacaa😘

      Like

    • Ituh.. Si Jin masuk rumah sakit bkz dia lebay :v si Soojung bunuh diri, trus sia baper, trus si Jin jadi gila mungkin? Hahaha maap yah kalo kmu gak mudeng. Maapkeun :”” makasih udah bacaa😘

      Like

  2. yahyahyah, padahal dah berharap endingnya mba soul sama mz jin bersatu, tapitapitapitapi—-mba soul kenapa keburu bunuh diri T-T bahkan seokjin blm sempet ngebahagiain kamu :””

    ugh, pas nemu fic pair langka ini ku langsung jejeritan naf :”) tapi pas tau endingnya sedih, ku langsung mikirin nasibnya mz jin /oey/

    Liked by 1 person

  3. ohh…, jadi ini ceritanya mb soul bunuh diri trus si mas jin masuk rumah sakit ‘itu’? diriku baru dong setelah baca komen sebelumku, hahahh… 😅😅😅😅

    Liked by 1 person

  4. Shocked bgt ending nya. .

    Soojung msuk rumah sakit jiwa krn org yg dicintai nya (pacarnya) bunuh diri dn truss gantian, SeokJin yg msuk rumah sakit jiwa krn org yg dicintai nya (Soojung )bunuh diri.

    Baru ngerti pas bca penjelasan author nya. . Hhehe

    Kerenya plus plus. . ^^

    Liked by 1 person

  5. Pas end aku kebingungan dan ngga ngeh kenapa malah Jin masuk rumah sakit jiwa.-.
    Tapi ternyata… pas baca author note aku baru sadar
    Jadi pulangnya baby soul itu karena dia terjun ngikutin yang Myungsoo lakuin T_T Oh My God
    Awas aja kalo sampai Jin ngikutin jejaknya Soojung u,u

    Liked by 1 person

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s