Posted in Comedy, Ficlet, LFI FREELANCE, Slice of Life, Teenager / Teen

[Freelance] Stalkers

original-1

Scriptwriter: Nathaniel Jung | Title: Stalkers | Main Cast: Lovelyz’s Kim Jiyeon, Jeong Yein | Support Cast: Seventeen’s Choi Seungcheol, Kwon Soonyoung | Genre: comedy, slice of life | Rating: teen | Duration: ficlet | Disclaimer: This story is my own. Don’t be a plagiator. Be a good readers.

▽●▽●▽●

“Mph, lepaskan!”

 

Seorang gadis manis berponi, ditambah bandana kucingnya terlihat sibuk sendiri. Seluruh kamarnya sudah ia jelajahi hanya demi mencari tiket nonton bioskop yang raib —atau ia sendiri lupa menaruhnya di mana.

Tampaknya ia sudah angkat tangan bernaung dalam kamarnya yang sudah tidak bisa disebut kamar layak pakai. Ia putuskan untuk keluar kamar. Tangannya meneteng sebuah ponsel dengan karet pelindung berbentuk kucing.

Dengan masih dirundung kesal, ia segera menekan aplikasi telepon dan mencari sebuah nama.

“Halo, kak Jiyeon?”

Suara gadis dari seberang sana sudah memasuki gendang telinganya setelah beberapa sekon.

“Yein! Bagaimana ini?” Jiyeon berteriak frustasi.

“Hei tunggu bodoheoh, ada apa kak?”

“Tiketnya. Aku lupa menaruhnya di mana.”

Suara gemerisik menguar dari seberang. Jiyeon yang semula frustasi kini mengernyit heran. Ada apa gerangan di sana, kenapa berisik sekali?

“Hal—”

“LENA BODOH! KEMBALIKAN ICE CREAMKU!”

Jiyeon melempar ponselnya —tanpa sengaja ke lantai. Ia lantas berjengit kaget melihat ponsel mahalnya (dia beli dengan uang jajannya selama setahun, omong-omong) tergeletak di lantai.

Jiyeon kemudian meraih kembali ponselnya, memastikan barang itu tidak rusak dan sambungan teleponnya masih aktif. ” Yein!”

“Dasar pengadu eoh maaf kak. Ada apa?”

Jiyeon mendengus kesal lantaran orang bermarga Jeong di sana selalu mengabaikan panggilannya. “Dalam lima belas menit, aku ke rumahmu.”

“Apa? Tunggu

Setelah mematikan panggilan, Jiyeon bergegas mengganti sandal rumahnya dengan sepatu kets berwarna oranye miliknya dan melesat pergi.

..

Sepuluh menit berjalan dari rumahnya menuju rumah Yein terlihat seperti biasa. Namun, beberapa meter di depannya ada dua orang lelaki. Yang satu tubuhnya tinggi besar, sedangkan orang di sampingnya terlihat lebih kecil darinya dengan rambutnya yang terlihat mencolok.

Anehnya, mereka bertingkah seolah-olah sedang mengawasi sesuatu. Jangan-jangan mereka mau menculik gadis perawan yang berkeliaran tengah malam. Memperkosanya lalu membunuhnya, dan mayatnya mereka buang di sungai.

Pikiran Jiyeon berubah menjadi negatif. Bukan karena Jiyeon suka berpikiran negatif, bukan. Tapi belakangan ini Jiyeon banyak membaca berita tentang kasus pembunuhan seorang gadis yang mayatnya ditemukan di sungai. Dan Jiyeon tidak mau esok pagi dirinya dijadikan headline surat kabar dengan berita yang sama.

“Jangan takut Kim Jiyeon. Kau tinggal diam dan terus berjalan melewati mereka. Tuhan, lindungilah hamba-Mu ini. Aku tidak ingin mati muda. Aku belum punya kekasih seperti Mingyu.” batin Jiyeon.

Dengan langkah yang dipercepat, sembari menggenggam ponselnya erat, Jiyeon terus merapalkan doa.

“Lima langkah lagi kau sudah melewati mereka, Jiyeon. Kau pasti bisa.” gumam Jiyeon.

Dan benar saja, ia kini sudah berada di depan kedua pemuda tadi. Jiyeon lantas bersyukur masih diberi kesempatan hidup, dan menjadikan Mingyu sebagai kekasihnya.

Jiyeon memutar haluannya ke kiri —memasuki pekarangan rumah Yein yang pagarnya tidak terkunci —atau belum. Namun saat ia membuka pagar, indera pendengarannya yang tajam menangkap sebuah percakapan.

“Soonyoung, gadis itu kenapa masuk ke sana? Apa jangan-jangan kita salah rumah?”

“Mana kutahu, aku hanya mengikutimu. Sebaiknya kita tunggu saja.”

Apa mereka membicarakanku? Tidak, tidak. Semoga tidak.

Jiyeon bergegas masuk ke rumah Yein setelah ia mengetuk pintunya. Ia sedikit takut menghadapi dua orang asing tadi.

“Kak Jiyeon, ada apa kau datang kemari? Malam-malam lagi. Kau kabur—”

Dengan cepat Jiyeon membungkam mulut Yein yang kelewat berisik.

“Mph, lepaskan!”

Jiyeon memandang sebal orang di hadapannya. Terpaksa tangannya ia lepaskan dari Yein, padahal ia ingin sekalian saja membuat Yein pingsan.

“Jiyeon bodoh!”

“Ya!”

Tangan Jiyeon sudah bersiap menjambak rambut Yein sebelum suara berisik dari halaman depan menginterupsi mereka.

“Biar kulihat dulu.”

Jiyeon mengangguk, lantas mendudukan tubuhnya pada sofa beludru keluarga Jung. Demi membunuh rasa bosan, ia mengamati—lagi ruang tamu keluarga Yein. Ia sudah sering berkunjung kemari. Namun kali ini ruang tamu itu terlihat berantakan. Jika tak salah dengar tadi, Yein sedang bertengkar dengan sepupunya, Celena. Untung saja orang tua Yein sedang tidak ada di rumah. Lihat saja nanti jika mereka sudah pulang.

“Tidak ada apa-apa. Kucing tetangga merusak kantong sampah di depan pagar.”

“Sudah kau kunci?”

Yein mengernyit. “Apanya?”

“Pagar dan pintu.”

“Oh, sudah.”

Merasa belum puas, Jiyeon memutuskan berdiri. Ia bingung harus mengatakan kejadian dua laki-laki aneh tadi atau tidak. Jiyeon tidak mau Yein khawatir. Tapi Jiyeon juga tidak ingin diri mereka terkena musibah yang mengancam masa depan mereka.

“Mana Celena?”

Yein yang sedang menata kembali bantal-bantal di lantai mendemgus kesal. “Biasalah anak itu. Kabur entah ke mana bersama kekasihnya. Omong-omong, ada apa kau kemari?”

Jiyeon menelisik takut ke arah pintu kaca yang langsung mengarah pada taman mini di balik punggung Yein. Jiyeon yakin, sangat yakin jika ia tadi melihat sesuatu berwarna putih.

“Yein, anjingmu di luar?”

Yein mengangguk. “Iya, Celena juga membawanya kabur.”

“Ada apa?”

Jiyeon bergerak gelisah. Pikirannya sekarang membayangkan hal yang tidak-tidak. Tangannya meremas kuat ponselnya. Yein yang tak tahu akan perilaku Jiyeon pun merasa bingung. Ia mendadak takut saat Jiyeon menanyakan hal-hal yang aneh semenjak kedatangannya kemari.

“Kak?”

Jiyeon mengacuhkan panggilan Yein. Ia berjalan menuju pintu kaca yang sedari tadi membuatnya penasaran sekaligus takut.

“Apa ini terkunci?”

Yein mengangguk mantap. “Tentu saja. Dengan rapat.”

Jiyeon menelengkan kepalanya ke kanan. Tangannya terulur menyentuh gagang pintu.

“Kau yakin?”

“Tentu sa—”

Ucapan Yein terputus tatkala Jiyeon dengan mudahnya membuka pintu itu. Dan—

“Hai.”

Jiyeon yang tingkat ketakutannya sudah di ambang batas, dengan tidak elitnya jatuh pingsan dengan Yein yang terlihat kerepotan menopang tubuh Jiyeon. Naluri Jiyeon tidak pernah salah. Yein yang kalap segera menutup pintu dengan kasar dan menutupnya dengan korden berlapis, seraya berusaha mengangkat Jiyeon ke sofa.

Salahkan saja Seungcheol dan Soonyoung yang kelewat bodoh. Mereka dengan kurang ajar memanjat pagar rumah Yein yang tidak terlalu tinggi, dan duduk manis di sana dengan masing-masing menggenggam teropong.

Man, kita tidak salah rumah ternyata.”

“Yoi, bro!”

 

FIN

 

Advertisements

Author:

Halo Lovelinus!^^ Senang membaca fanfiksi atau membuat fanfiksi dengan karakter Lovelyz? Blog ini merupakan blog yang berisi fanfiksi-fanfiksi dengan karakter utama Lovelyz ^_^

6 thoughts on “[Freelance] Stalkers

  1. Eh tunggu tunggu
    Sampai sekarang aku masih loading…
    Jadi itu Jiyeon pingsannya kenapa??
    Dan si Soonyoung sama Seungcheol memang nguntit?
    Duh aku belum paham /-\

    Like

    1. Jiyeon pingsan karena dua orang cowok yg dia kira penguntit (emang penguntit sih, wkwk) udah nangkring aja di atas pagar beton dan lagi nguntit mereka. Thanks udah mampir, maaf kalo bikin gagal paham

      Like

  2. ITU SOONYOUNG SAMA SEUNGCHEOL NGAPAIN NGUNTIT DUA ANAK GADIS :’D ?!

    Sampe bikin yang satu pingsan lagi wkwk, terus ini rencananya siapa di pair sama siapa thor? Aku harap sih Jiyeon sama Soonyoung :3

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s