[Oneshot] Hong

Standard

hong(2)

Hong

Seventeen’s Jisoo Hong and Lovelyz’s Kei Kim

Romance; High School; Drama; slight! Fluff
6k+ words

PG15

“Aku hanya ingin kau tetap bersamaku, selamanya.”

Enjoy!

“Hei, kalian tahu? Katanya, hari ini akan ada murid baru!”

“Yang benar?”

“Kau tahu darimana?” Para gadis penggosip di sekolah hari ini digegerkan dengan sebuah berita tentang kedatangan murid baru. Jisoo yang duduk di sekitar mereka mencuri-curi dengar. Dahinya mengerut, seperti bingung akan siapa murid baru tersebut. Tidak ada semenit ia memikirkan tentang gosip itu, beberapa gerombolan laki-laki dengan badan yang lumayan kekar mendekatinya. Jisoo sudah mengerti dengan arah tatap mata mereka, lekas ia mengambil Buku Pekerjaan Rumah Matematika yang berada di dalam tasnya.

“Bagus, sudah peka rupanya.” Jisoo hanya menunduk, mengikhlaskan kepergian bukunya itu. Begitulah pagi Jisoo setiap harinya. Mencuri dengar para gadis penggosip—jika gosip itu menarik menurutnya—dan dimintai pekerjaan rumahnya oleh geng Jimin—pun ia tak ikhlas tentang itu. Diusap wajahnya kasar, ia terlalu lelah dengan kesahariannya di sekolah. Diperbudak, didiami, tidak dianggap—paling hanya para guru yang menganggap— dan hanya bisa diam jika ia dibully oleh siswa lain. Entah, apa karena dia culun atau terlalu pintar sehingga banyak orang yang membullynya. Saat isitirahat pun ia hanya berdiam diri di kelasnya ataupun perpustakaan, jarang sekali ke kantin karena takut dengan segerombolan siswa yang senang membullynya.

Ting Tong Ting Tong

Bel berbunyi dengan nyaring; siswa-siswi berbondong-bondong memasuki kelas masing-masing. Termasuk seorang gadis yang berjalan dengan santai, masuk ke kelas Jisoo. Beberapa pasang netra menatap gadis tersebut. Beberapa ada yang berisik dan ada juga yang terlihat menggoda. Jisoo tampak tak melihat gadis itu, karena dirinya sibuk melamun. Bahkan saat gadis itu duduk di sampingnya saja, ia tidak tahu.

“Astaga!” Jisoo sedikit memekik begitu seseorang membangunkannya dari lamunan. Netra Jisoo menatap gadis di depannya itu dengan bingung. Gadis dengan surai agak kecokelatan yang dikuncir kuda membuat Jisoo sedikit tersipu.

“Hai, aku duduk disini, ya.” Jisoo mengangguk kikuk, lekas ia mengalihkan pandangnya jauh-jauh dari gadis tersebut.

“Selamat pagi, anak-anak!” sepertinya Pak Shin sudah memasuki ruangan kelas. Terbukti dengan suaranya yang menggelegar, padahal masih pagi. Anak-anak menjawab dengan serempak sapaan wali kelas mereka itu. “Hari ini kita kedatangan murid baru. Tunggu sebentar… kemana muridnya?” Pak Shin menatap penjuru kelas dengan tatapan bingung.

“Pak, jangan bergurau.” Seruan Jimin membuat Pak Shin menyengir sembari menggaruk tengkuknya. Tentu saja para murid sudah tahu dimana murid baru itu berada.

“Maafkan bapak. Ayo, kamu, berdiri kedepan dan perkenalkan dirimu.” Ujar Pak Shin sembari menunjuk ke arah gadis di samping Jisoo. Sorak-sorai dari anak-anak menghiasi langkah Sang Gadis.

“Nama saya Kim Kei. Pindahan dari Amerika.” Gadis bernama Kei itu memperkenalkan dirinya dengan singkat kemudian melangkah ke tempat duduknya kembali. Anak-anak melongo dengan perkenalan Kei yang kelewat singkat dan dingin. Padahal mereka sudah mewanti-wanti bagaimana cerianya Kei, tapi yang mereka dapatkan hanyalah perkenalan dingin. Pak Shin tersenyum, lekas beliau membuka materi pelajaran hari ini. Jisoo nampak pokus dengan papan tulis, rungunya pun ia pokuskan untuk mendengar penjelasan Pak Shin. Kei melirik ke sebelahnya. “Namamu siapa?” Kei membuka percakapan. Namun, namanya juga Ranking Satu, pasti dia hanya pokus terhadap guru dan papan tulis di depan. Susah untuk merebut perhatiannya dari kedua hal itu—tenang, hanya selama jam pelajaran saja, kok. Kei hanya bisa menghela napas kasar, ia hanya ingin tahu. Ainnya melirik sebuah buku dengan label berwarna oranye yang bertuliskan ‘Hong Jisoo’. “Ah, jadi namamu Hong Jisoo?” Kei mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak sampai disana, Kei mengoceh seperti menanyakan ‘rumahmu dimana?’ atau ‘kau, kalau istirahat kemana?’. Sampai akhirnya ocehan itu berhenti dengan nada yang menggantung. Rupanya Pak Shin melihat kegiatan Kei yang sedari tadi mengoceh.

“Kim Kei, bisakah kau mengerjakan soal di papan tulis?” Kei menelan ludahnya kasar. Ia tidak pintar betul soal Fisika. Dengan ragu, tungkainya melangkah kedepan. Tangannya sedikit gemetar saat menerima spidol pemberian Pak Shin. Beberapa umpatan ia lontarkan di dalam hatinya. Sungguh, ia bisa saja stres hanya dengan melihat soal ini. Pak Shin menyilangkan tangannya di depan dada, menunggu anak murid barunya menjawab soal yang menurutnya mudah itu.

“Pak! Biar saya saja yang menjawab.” Seruan Jisoo mengagetkan satu kelas, termasuk yang terkena hukuman. Pak Shin mempersilahkan si Ranking Satu untuk maju ke depan. Hanya dalam waktu beberapa detik, Jisoo dapat menjawab pertanyaan tersebut. Kei melongo memperhatikan bagaimana cermatnya Jisoo dalam menjawab soal Fisika yang menurutnya itu susah pakai sekali.

“Tepuk tangan untuk Hong Jisoo.” Beberapa dari mereka bertepuk tangan tak sudi dan beberapa lagi tidak. Jisoo sudah biasa dengan hal tersebut. Namun, kali ini berbeda. Ada satu tepukkan yang sangat bersemangat. Kei lah yang melakukannya. “Kim Kei, lain kali tidak ada mengobrol di kelas saya.” Kei hanya mengangguk sembari menunduk malu. Pelajaran kembali dimulai, sampai bel istirahat menginterupsi mereka. Kei beranjak dari tempat duduknya. Ia ingin pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang kosong sejak pagi. Baru satu langkah tungkainya berjalan, Kei menolehkan netranya ke arah Jisoo yang tidak beranjak. Jisoo sibuk dengan beberapa soal Fisika yang ada di materi tadi. Padahal sudah jam istirahat, tapi kenapa dia tidak ke kantin? Kei masih menatap teman sebangkunya itu.

“Hong!” yang dipanggil hanya menoleh sedikit, kemudian menghadap kembali ke bukunya. Kei mendesah pelan. “Ya! Hong! Ke kantin, yuk!” Jisoo menggeleng menjawab ajakkan Kei. Sang Gadis kuncir kuda itu hanya bisa mengerutkan dahi, baru pertama kali dirinya melihat ada seseorang yang menolak ajakkan untuk pergi ke kantin. Sepertinya perut Kei sudah tidak bisa menunggu asupan. Akhirnya Kei memutuskan untuk pergi ke kantin sendirian, siapa tahu saja dia bisa mendapatkan teman. Saat punggung Kei menyapa Jisoo, dirinya menarik senyum simpul. Alasan yang sama kenapa dirinya tidak ingin ke kantin adalah, ia tidak ingin malu di depan Kei yang notabene adalah murid baru dan orang yang mau berteman dengan dirinya untuk pertama kali—ini menurut pandangan Jisoo. Begitu punggung Kei sudah tidak terlihat lagi, Jisoo kembali berkutat dengan soalnya. Selang beberapa menit, gadis sebangkunya kembali dengan membawa satu buah roti di tangannya. “Hong! Untukmu. Anggap saja rasa terima kasih karena sudah membantuku tadi.” Kei menyodorkan roti tersebut ke depan Jisoo, membuat laki-laki tersebut mengalihkan pandangnya dari soal-soal.

“Terima kasih.” Kei tersenyum begitu Jisoo mengambil roti dari tangannya, setidaknya dia tidak merasa berhutang budi pada Jisoo.

“Hong, rumahmu dimana?” Jisoo menelan roti yang tengah dilahapnya.

“Tidak jauh dari sini, kau tahu gang yang ada di perempatan sebelum halte? Rumahku masuk sana.”

“Astaga! Demi apa? Rumahku juga masuk gang itu!” Kei berseru semangat, Jisoo yang mendengarnya hanya tersenyum. “Kalau begitu, nanti kita pulang bersama, okay? Aku tidak menerima kata tidak.” Mau tak mau Jisoo mengiyakan ajakkan gadis hiperaktif di depannya.

Kini Jisoo dan Kei sedang berjalan bersama menuju rumah mereka yang ternyata satu kawasan. Terkadang Kei menceritakan beberapa hal konyolnya selama di Amerika, membuat Jisoo tertawa. Kei juga menceritakan bagaimana menyebalkannya Ayah dan Ibunya, membuat Jisoo dengan refleks mengacak-acak rambut gadis tersebut. Keduanya terdiam sebentar begitu sadar atas perlakuan Jisoo. Semburat merah tiba-tiba saja menampakkan dirinya. Lekas Jisoo menurukan tangannya kikuk. Kei terkekeh dengan tingkah Jisoo.

“Baru pertama kali seperti itu, ya?” Jisoo menatap Kei bingung, yang ditatap hanya terkekeh kemudian berjalan meninggalkan Jisoo yang bingung dengan ucapannya. Baru pertama kali? Berarti dia sudah sering, dong? Jisoo berlari kecil untuk bisa menyusul Kei.

Tidak seperti biasa, kini di depan gang banyak sekali segerombolan anak-anak yang sedang nongkrong dan beberapa dari mereka tengah menghisap ganja dan rokok. Ada juga yang sedang menyuntikkan morfin dan meminum beberapa minuman keras. Jisoo yang melihatnya hanya bisa menarik tangan Kei agar menjauh. Namun yang ditarik melepaskannya dengan kasar. Bagi Kei, hal itu tidak ada apa-apanya. Bayangkan saja, bahkan Kei pernah melawan beberapa preman di Amerika sana.

“Kei,”

“Tidak apa-apa, Hong. Jika mereka berani macam-macam ada aku.” Kei menepukkan dadanya bangga dan menarik Jisoo untuk masuk ke dalam gang tersebut. Baru saja melangkah ke mulut gang, Kei dan Jisoo sudah disambut mesra oleh asap rokok. Jisoo sedikit terbatuk saat hidungnya tanpa sengaja menghirup berbagai zat yang berada di dalam asap tersebut.

“Hai, cantik!” Kei tahu itu dirinya, bukan ingin terlalu percaya diri, namun, memang hanya dirinya perempuan di sekitar sana. Tidak mungkin mereka memanggil Jisoo dengan sebutan cantik—kecuali mereka gay dan belum tentu juga seorang gay akan memanggil Jisoo dengan sebutan ‘cantik’.

“Jangan terburu-buru seperti itu, dong.” Kei tetap menarik Jisoo menjauh dari anak-anak kurang perhatian itu. Namun, ada seseorang yang dengan santai mencolek dagu Kei. Baru saja Kei ingin memberikan bogem mentahnya, ia dikejutkan dengan seseorang yang familiar menurutnya. “Jangan terburu-buru seperti itu, dong, Kei Sayang.” Tidak hanya Kei, namun Jisoo juga melongo. Yang ada di depan mereka sekarang adalah Park Jimin. Ketua geng yang terkenal di sekolah-sekolah Seoul.

“Kau itu… bukannya siswa di kelasku, ya?” Jimin tersenyum miring sembari menganggukkan kepalanya.

Bingo! Mau kemana, sih, buru-buru sekali. Eh, kau pulang dengan Si Culun ini?” Kei melirik Jisoo yang diam saja saat dirinya dipanggil dengan sebutan ‘culun’.

“Kalau iya, memangnya kenapa? Sudah sana minggir!” Bukan Jimin namanya jika melepaskan mangsanya begitu saja.

“Eh, Culun!” merasa di panggil, Jisoo mendongakkan kepalanya. “Pulang sana! Anak kecil tidak baik ada disini.” Kei menggenggam tangan Jisoo lebih erat lagi, seperti mengisyaratkan untuk tidak meninggalkannya. “Cih, anak kecil ini.” Jimin sudah bersiap dengan layangan kepalan tangannya, namun dengan serta-merta Kei melayangkan bogem mentahnya tepat di wajah Jimin. Anak buah Jimin yang melihatnya langsung bersiap menyerang kedua siswa itu. Dengan cekatan Kei menarik tangan Jisoo untuk kabur. Jisoo hanya bisa mengikuti isyarat Kei. Di belakang mereka, anak buah Jimin mengejar.

“Kei, ru… mah… hosh… a… ku… berhenti… hosh… disini… saja.” Jisoo dengan cepat melepaskan genggaman tangan mereka dan masuk ke rumahnya. Mungkin Kei terlalu pokus dengan aksi kaburnya, sampai-sampai tidak merasakan jika tangan Jisoo sudah tidak ada dalam genggamannya lagi. Di balik pagar rumahnya, Jisoo tersenyum sembari memperhatikan telapak tangannya yang habis dipegang Kei. Jantung pemuda itu berdegup dengan kencang, pipinya mengeluarkan semburat merah untuk kedua kalinya.

“Jisoo, sudah pulang, Nak?” Jisoo menengok ke arah ruang tamu. Terlihat seorang wanita yang tengah menonton televisi sembari merajut.

“Ah, Ibu.” Ibu Jisoo menoleh ke anaknya. Memastikan jika itu benar-benar Jisoo.

“Kau habis melakukan apa sampai keringatan seperti itu?” buru-buru Jisoo mengelap wajahnya yang banjir peluh.

“Habis kejar-kejaran dengan anjing, hehe. Aku mandi dulu, ya, Bu.”

“Selesai mandi langsung turun, kita makan bersama.” Jisoo hanya mengiyakan ajakkan ibunya dan menaiki tangga, menuju kamarnya.

Kei memasuki kamarnya dengan napas yang masih menderu kasar. Larinya tadi terhenti karena Jisoo sudah tidak ada di belakangnya. Kei mendecak, seandainya saja anak-anak tadi tidak mengejar mereka, mungkin dirinya sudah tahu dimana rumah Jisoo berada. Bisa dibilang Kei mulai menyukai Jisoo. Terlalu cepat memang, namun dirinya tidak perduli.

“Dasar Jalang! Pelacur!” Kei mendecak kasar kembali saat suara Ayahnya menggelegar di dalam rumah. Seperti biasa, pasti Ibunya membawa laki-laki lain ke rumah ini saat dirinya tidak ada. Kei sudah terbiasa dengan suasana rumah yang tak kalah ramai dengan club-club malam.

“Kau juga selalu seperti ini!” dengan kasar, tangannya mengacak surai yang lepek karena keringat. Dirinya lelah dengan teriakkan-teriakkan itu, tapi mau bagaimana lagi, ia terlalu takut untuk menegur salah satu maupun keduanya. Jadinya dia hanya bisa berdiam diri. Mugkin jika ia sudah benar-benar kesal, samsak tinju adalah teman curhatnya.

“Oh sialan! Aku lupa meminta nomor telepon Hong!” sekali lagi, dirinya mengumpat kesal. Dan sekali lagi, dirinya menyalahkan segerombolan anak-anak yang mengejarnya tadi—padahal dia bisa memintanya saat di sekolah. Kei membuka lemarinya kasar, diambilnya satu setel pakaian santai, kemudian tungkainya melangkah ke arah kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Kei mencoba untuk menyanyi sekeras-kerasnya karena tak ingin mendengar suara dari kedua orang tuanya yang masih saja bertengkar.

Netra Jisoo tak bisa lepas dari pil-pil yang ada di tangannya. Jisoo sakit, dan dia harus meminumnya. Terkadang Jisoo kesal karena harus meminum benda itu dalam waktu yang sudah ditentukan dan tidak boleh terlambat. Namun, jika tidak begitu dirinya tidak akan pernah sembuh—pun memang tidak akan pernah bisa, menurut Jisoo.

“Jisoo, sudah diminum obatnya?” buru-buru Jisoo meneguk pil yang ada di tangannya dan disusul dengan air putih yang ada di meja nakas kamar tidurnya.

“Sudah, Bu.” Jisoo merebahkan badannya. Menatap langit-langit kamar yang berwarna-warni karena lampu LED warna-warninya. Warna-warna dari lampu itu membuat Jisoo semangat untuk melanjutkan hidup, tidak tahu mengapa bisa seperti itu. Jisoo merasa, warna-warna tersebut menghipnotis dirinya untuk semangat. Pun, sepertinya dia akan mendapatkan penyemangat yang lebih nyata ketimbang hal ini. Jisoo suka dengan cara Kei memperlakukannya dengan baik, tidak seperti anak-anak lain. Jisoo suka dengan cara Kei memegang tangannya secara natural. Jisoo suka dengan cara Kei tersenyum kepadanya. Jisoo suka… ah, intinya Jisoo suka dengan semua yang Kei lakukan terhadapnya. Baru pertama kali sejak dirinya masuk SMA, Jisoo seperti ini. Merasakan bagaimana menyukai seseorang. Merasakan bagaimana jantungnya berdegup dengan kencang. Pria itu tersenyum malu saat membayangkan bagaimana dirinya dan Kei menjalin hubungan. Mungkin akan terlihat manis atau aneh? Entahlah, Jisoo tidak perduli dengan hal itu.

Paginya di sekolah, Jisoo dapat melihat Kei sedang menelungkupkan dirinya di atas meja. Pria ini kembali tersenyum untuk kesekian kalinya. Kakinya melangkah mendekati tempat Kei.

BRAK!

Jisoo berhenti di tempatnya, tak jadi melanjutkan langkahnya begitu melihat Jimin menendang meja teman sebangkunya.

“Bangun!” Jimin berteriak, membuat Kei mendongakkan kepalanya. Netranya mengerjap-ngerjap begitu cahaya dengan semangat menyapa. “Kau harus tanggung jawab dengan apa yang telah kau lakukan!” Jimin meraih kerah gadis itu. Kei yang baru tersadar langsung menatap Jimin bingung. Memang, sih, ada sedikit lebam biru kemerahan di wajah pria itu.

“Untuk apa aku harus tanggung jawab? Bukannya kau duluan yang memulai?” gadis berkuncir kuda ini dengan santai menatap Jimin yang sudah mendidih.

“Si-”

“Dia perempuan, jangan memukulnya.” Layangan Jimin berhenti begitu seseorang menahan tangannya. Jisoo lah pelakunya. Jimin berdecak. Dihempaskannya Kei. Dan kini tatapan Jimin beralih pada Jisoo yang masih diam menatapnya.

“Dasar Culun!” bogem mentah Jimin mendarat tepat di pipi tirus Jisoo. Kini, siswa yang ada di kelas pun memperhatikan mereka. Jisoo tak bisa melawan, dia tidak ingin tubuhnya lemas dan jatuh sakit. Tak hanya sekali Jimin memberikan pukulannya secara mentah-mentah kepada Jisoo, membuat Kei geram dengan kelakuan pria itu.

BUAGH

Dengan tak sabaran, Kei melayangkan pukulannya lagi terhadap Jimin. Laki-laki itu mengaduh kesakitan.

“Ayo kita ke ruang kesehatan.” Kei menarik Jisoo yang sudah terkapar pasrah dengan darah dan lebam yang menghiasi wajahnya. Para gadis yang lain menatap dengan tatapan tidak percaya dengan perilaku Kei terhadap Jimin, beberapa dari mereka juga ada yang berbisik. Jimin kembali berdecak saat melihat Kei yang tengah membantu Jisoo berjalan ke ruang kesehatan.

Di Ruang Kesehatan

Dengan teliti dan pelan-pelan, Kei membersihkan luka Jisoo. Jisoo sedikit mengerang pelan saat luka yang sedang dibersihkan terasa perih. Begitu Jisoo mengerang, Kei langsung meminta maaf dan berhenti membersihkan luka tersebut, namun, Jisoo langsung menggeleng menyatakan ia tidak apa-apa. Tak jarang, obsidian mereka bertemu satu sama lain, menciptakan suasana canggung, namun di akhiri oleh senyum manis yang berkembang di wajah Jisoo—walau ia harus menahan rasa perih yang ikut menyertai senyumnya. Jisoo senang dengan perhatian Kei terhadapnya, membuat dirinya semakin… cinta?

“Kau cantik.” Kei melongo mendengar suara Jisoo yang tiba-tiba itu. Wajahnya memerah tersipu. “Jika dilihat seperti ini, kau sangat-sangat cantik.” Lagi, Jisoo membuat pipinya terasa panas dengan tamparan gombal yang diberikannya. “Kei-ssi, boleh meminta nomor teleponmu?” sekali lagi, Kei melongo mendengar ucapan Jisoo yang menurut Kei sangat berbeda dengan sikapnya saat pertama kali bertemu itu.

“Hong, kau mau mencoba menggodaku, ya?”

“Tidak, yang pertama kali menggodaku ‘kan, dirimu.” Gadis bersurai kecokelatan itu membulatkan matanya, sejak kapan dirinya menggoda pria yang satu ini? Seingatnya tidak pernah. “Senyummu, wajahmu, sikapmu, menggodaku.” Kei menunduk malu, ia ingin menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah sangat merah.

“Hong, kau belajar darimana cara menggombal seperti itu?”

“Hahaha, tidak tahu. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.” Jisoo terkekeh dengan kata-katanya barusan. “Ah, iya, ini, masukkan saja nomor teleponmu, nanti siang akan aku sms.” Kei mengambil benda pipih yang berada di genggaman Jisoo. Dengan lincah, ia mengetikkan beberapa angka kemudian menyimpannya di kontak telepon Jisoo.

“Pulang nanti, kita bareng ‘kan?” Pria dengan surai hitam legam itu mengangguk dengan cepat. Tak lupa dirinya mengembangkan senyuman yang manis.

Semenjak pulang sekolah, Jisoo tidak bisa melepaskan dirinya dari ponsel. Ibu Jisoo menatap anaknya dengan heran, tidak biasanya Jisoo sangat terpaku dengan ponselnya. Kalian tahulah mengapa Jisoo sangat pokus dengan ponselnya. Bahkan dia sedikit terkejut saat anaknya pulang dengan wajah yang babak belur.

“Kei, kau sudah makan?”

Ting!

Sudah, kau sendiri, Hong?” lagi-lagi atensi Jisoo direbut oleh ponselnya. Jantungnya sedikit berdegup melihat balasan dari Kei. Dengan cepat, ia mengetikkan balasan yang tepat, dan juga pertanyaan.

Di sisi lain, Kei tak kalah senang saat Jisoo memberikannya pesan. Pipinya memerah setiap mengingat kejadian saat berjalan pulang tadi. Jisoo dengan tidak sengaja memeluknya, pun itu hanya karna Jisoo bermaksud baik ingin menolong, Kei menganggapnya lain. Berjam-jam sudah mereka menghabiskan waktu untuk bersmsan ria. Jisoo menghabiskan waktu belajarnya untuk membalas pesan Kei, begitu juga sebaliknya.

“Hong, kau tidak belajar?”

“Ini lagi belajar, kok.” Jisoo terpaksa berbohong kali ini. Dia tidak mungkin belajar jika ponselnya selalu berdenting, menandakan gadis di seberang rumahnya itu membalas pesannya. Jisoo dihadapkan dengan dua opsi: memilih tidak belajar dan terus berkomunikasi dengan gadis yang ia sukai atau memilih belajar dan membiarkan gadis itu, dan Jisoo memilih opsi yang pertama.

“Jisoo-ya, kita harus check-up.” Suara ibu Jisoo menginterupsi kesenangannya. Matanya mengarah pada tanggal yang tertera di ponselnya. Tanggal 29 Desember, jadwalnya check-up di rumah sakit langganan Keluarga Hong. “Segeralah ganti pakaianmu dan Ibu tunggu di bawah.” Tungkai Jisoo melangkah malas ke arah lemarinya. Diambil satu setel pakaian.

“Ibu,”

“Kau sudah siap? Tolong buka gerbangnya, Ibu akan keluarkan mobil.” Jisoo mengangguk lemah.

Sinar senter pun meredup saat Sang Dokter selesai memeriksa keadaan mulut laki-laki bermarga Hong itu. Senyum tipis menghiasi wajahnya.

“Sepertinya kau meminum obat dengan teratur, ya, Jisoo?” Ibu Jisoo tersenyum, berharap anaknya memiliki perkembangan terhadap penyakit yang dideritanya. Jisoo yang ditanyai hanya mengangguk. “Jangan telat meminum obatmu, kau tahu sendiri jika telat akan bagaimana. Ibu Hong, jangan sampai lupa untuk memberikan Jisoo Antiretroviral secara teratur dan tepat waktu, pukul tujuh pagi dan tujuh sore. Jangan terlalu sering berkelahi juga.” Jelas dokter panjang lebar.

“Baik, Dok. Terima kasih sudah-”

“Dok, bisakah saya mendapatkan konsultasi pribadi? Eum, saya sedang memiliki kesulitan sedikit tentang penyakit saya.” Jisoo memotong perkataan Ibunya. Sang Ibu menatap anaknya bingung. “Ibu, tolong.” Jisoo mengedip-kedipkan matanya. Ibunya hanya bisa menghela, kemudian keluar.

“Jadi ada apa, Jisoo?” Jisoo menduduki dirinya di kursi pasien.

“Apakah… aku bisa memiliki keluarga?” Ada sedikit nada ragu di kalimat terakhir Jisoo.

“Tentu bisa. Asal kamu memakai ‘pengaman’ jika melakukan hal itu.”

Ohok

Jisoo tersedak. Rasanya canggung saja kalau sudah masuk ke pembicaraan dengan bahasan seperti itu.

“Haha, baiklah, Dok. Terima kasih sudah mau mendengar sedikit keluhan saya.” Sang Dokter tersenyum. Laki-laki Hong itu segera beranjak dari tempat duduknya untuk menyusul sang ibu.

“Semangat untuk mencari pasangan, Jisoo!” Jisoo terkekeh dan segera keluar.

Kei berjalan sendirian menuju minimarket dekat kompleknya. Saat melintasi pagar kediaman Hong, Ara menatap pagarnya dengan sendu. Bagaimana keadaan anak itu setelah dipukuli Jimin tadi? Rumahnya terlihat sepi, atau memang tidak ada orang?

“Aduh, kenapa jadi liatin rumahnya? Padahal ‘kan dia sudah berikirim pesan denganku.” Kei merutuki dirinya sembari berjalan kembali ke supermarket. Tepat saat dirinya kembali berjalan, sebuah mobil berhenti di dekatnya, membuat Kei berhenti. “Hong…”gumamnya.

“Kei, mau kemana?”

“Aku mau ke minimarket.”

“Ikut, ya.” Kei hanya bisa mengangguk. Keduanya berjalan berdampingan dengan sedikit rasa canggung—yang dirasakan Kei. “Kei, ulang tahunmu kapan?” Jisoo lagi-lagi membuka suara.

“3 Januari, Hong. Kau?”

“30 Desember, jangan lupa beri aku hadiah, ya.” Jisoo berseru dengan nada jahil. Tidak lupa dia mengacak rambut gadis di sebelahnya itu. Kei mencibir.

“Tidak akan aku berikan hadiah. Ya! Hong! Tunggu aku!” Kei berlari mengejar Jisoo yang sudah berada jauh di depannya. Dengan sedikit rona merah di pipi, Kei memasuki minimarket. Dilihatnya Jisoo tengah menyeduh ramen. Gadis itu tersenyum kecil melihat Jisoo yang begitu tampan jika dilihat dari arah jauh—tidak, dia tampan setiap saat, kok. “Tadi kamu habis kemana?” Jisoo tidak menjawab pertanyaan Kei, dirinya tetap pokus ke arah mie ramen di depannya. “Hong…” tidak ada jawaban. “Hong Jisoo…”

“Aku habis pergi dengan Ibuku, tadi beliau ingin ditemani pergi belanja.” Jujur, Jisoo tidak berani mengatakan bahwa ia sakit kepada Kei, apalagi sakitnya termasuk parah. Ia takut Kei akan menjauhinya, seperti seseorang yang pernah mengisi kehidupannya dulu. Jisoo takut dengan Kei mengetahui keadannya, dirinya akan membenci Jisoo.

“Hong?”

“Eh, iya?” Jisoo gelagapan dengan sahutan Kei.

“Jangan melamun, ah iya, karena be–” dering ponsel Kei menginterupsi perkataan gadis itu. “–tunggu sebentar.” Kei berjalan menjauh dari Jisoo. Laki-laki itu hanya bisa menatap punggung gadis tercintanya. Sepertinya, orang yang menelpon Kei adalah orang penting, sampai-sampai Kei sangat serius dengan pembicaraan mereka. Tidak ada dua menit, Jisoo dapat melihat raut wajah Kei yang berubah senang. Tentu Jisoo bertanya, ada apa gerangan sampai-sampai gadis itu terlihat begitu senang? “Jisoo, besok datang ke Daebak Café, pokoknya harus datang! Wajib!” Lekas Kei meneguk kola milik Jisoo kemudian pergi, meninggalkan Jisoo yang bingung dengan tingkahnya itu. Besok ulang tahunnya, bolehkah Jisoo berharap? Berharap agar gadis itu memberikan sebuah kejutan di hari ulang tahunnya?

Kei sibuk melatih vokalnya di depan cermin. Besok adalah hari bersejarah untuknya, menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk seseorang yang ia sukai–tidak, yang ia cintai lebih tepatnya. Mungkin tekesan biasa, namun tidak bagi Kei. Kafe milik sepupunya itu akan menjadi tempat terindah untuknya dan Jisoo. Pipi Kei kembali memanas, begitu otaknya memutar kejadian-kejadian manis bersama Jisoo.

Happy birthday to you, areumdaun nae sarang, baby, only for-

Ting!

Kei memutar bola matanya kesal. Siapa, sih yang mengirimkan pesan kepadanya? Tidak tahukah dirinya sedang berlatih untuk besok?

Kei, besok aku harus datang jam berapa? Ngomong-ngomong Daebak Cafe itu ada dimana?” Kini obsidian Kei malah melebar. Ternyata yang mengiriminya pesan adalah Jisoo. Buru-buru dirinya membalas pesan itu.

Eum, sekitar jam tujuh? Tunggu, akan aku berikan alamatnya.” Ibu jari Kei dengan lincah mengetikkan balasan pesan untuk Jisoo. Senyum merekah mengiringi gerakan ibu jarinya. Kei tidak sabar akan hari esok, yang pasti ia akan memberikan kejutan yang akan membuat Jisoo terdiam seperti patung. Gadis itu terkekeh membayangkan bagaimana ekspresi Jisoo saat ia terkejut dengan kejutan yang diberikan Kei.

“Selamat ulang tahun Ibu ucapkan. Ayo tiup lilinnya, Jisoo.” Dengan muka bantal dan mata yang suntuk, Jisoo meniup lilin yang bertengger manis di atas kue berbalut krim cokelat. “Aigu, anak Ibu sudah besar rupanya.” Jisoo terkekeh dengan perkataan Ibunya. Kecupan singkat mendarat di pipi tirus Jisoo.
“Ibu…” lirihnya.
“Hehe, Ibu lupa kamu sudah depalan belas tahun. Perasaan, baru kemarin kita merayakan ulang tahun kamu yang kelima.” Jisoo lagi-lagi terkekeh dengan perkataan Sang Ibu. Diliriknya wanita 40-an itu.
“Ibu, nanti malam aku diajak temanku pergi, mungkin pulangnya akan larut. Bolehkan?” Wanita di depan Jisoo nampak menaikkan alisnya.
“Tidak.”
“Ibu aku mohon,”
“Tidak boleh, Jisoo. Bagaimana jika kamu melupakan obatmu? Bagaimana jika–”
“Ibu, aku tidak akan lupa. Aku janji, deh. Jadi bolehkan?” Ibu Jisoo tetap keukeuh dengan kontranya. “Ibu,” Jisoo memajukkan bibirnya begitu Sang Ibu meninggalkannya sendiri. Apa dia tidak akan bisa memenuhi permintaan Kei? Jisoo mengacak rambutnya kasar, kakinya mengacak selimut yang sedari tadi hanya diam.

Pagi berganti malam dan Kei masih bingung bagaimana caranya bersolek. Dipandanginya palette-palette make-up yang dihadiahi oleh teman Ibunya. Kei jarang sekali bersolek, meskipun bersolek, ia hanya memakai lipbalm.
“Aku harus pakai apa? Sesuatu yang harus terlihat cantik di depan Hong, tapi apa?” Waktu sudah menujukkan pukul 18.15, itu berarti 45 menit lagi waktu Kei untuk bersiap-siap. Dan gadis itu masih saja mondar-mandir di depan cermin. Tangan kanannya bertengger di dagu, raut wajahnya masih serius memikirkan pakain yang cocok. Sesekali dirinya melirik jam yang menggantung manis di dinding kamar dan menggerutu kesal, tapi tetap saja dirinya belum bisa menentukkan pakaian yang cocok.
“Eh, Kei! Ada temanmu di bawah.” Teriakkan Sang Ibu membuat Kei menggerling malas. Kei berlari kecil menuju lantai bawah tempat pintu masuk berada. Dilewatinya Sang Ibu yang tengah bermesraan dengan laki-laki lain di ruang tengah.
Woi! Tidak bisakah kau membuka  gerbang ini lebih cepat?!” Kei mengerutkan dahinya bingung. Yang jelas orang itu bukan Jisoo.
Oh My God, Jackson!” Tubuh Kei kini terengkuh kedalam dekapan Jackson. “Miss you so much!”
Too! Apa begini cara kau menyambut tamu, hm?”
“Hehe, sorry, but my mom…”
Ok, ok, I get it. Let’s find some cafe.” Jackson meraih tangan Kei tanpa ragu, membuat gadis itu menggeleng.

Sesampainya disalah satu Kafe

Kei dan Jackson berbincang-bincang ria tentang kenangan mereka selama di Amerika sana. Sesekali mereka menertawakan kejadian-kejadian lucu.
“Jack, what do you think if I’ve crush on someone?” Kini nada bicara Kei sedikit serius, jemarinya memutar-mutar sedotan di minumannya.
You? Really?!” Kei hanya mengangguk mananggapi jawaban Jackson. Kini dahi gadis itu mengerut melihat Jackson yang terbahak dengan pertanyaannya. “Girl like you? Has crush on someone?! OMG.”
“Jack! Aku serius…”
“Haha, sorry, sorry.” Akhirnya Jackson memberhentikan tawanya. “Ya, bagus, dong. Setidaknya kau akan memiliki kekasih setelah berbelas-belas tahun single.” Lagi-lagi Jackson tertawa setelah menyudutkan sahabatnya itu. Kei mencibir. Setidaknya kau akan memiliki kekasih setelah berbelas-belas tahun single? Cih, yang benar saja!
“Percuma ngasih tahu kamu,” Kei terlihat pundung. Sahabatnya ini memang susah untuk dimintai saran.
“Jangan ngambek gitu, lah. Memang siapa, sih, laki-laki itu? Pasti lebih jelek daripada aku.”
Nay, enak saja! Tentu dia lebih tampan ketimbang atlet anggar sepertimu.” Ada penekanan di kalimat ‘lebih tampan’, membuat Jackson mencibir. “Jack, kau akan tinggal di Seoul ‘kan?”
“Hm, lebih tepatnya tinggal sementara.”
Okay, okay. Jack, kasih tahu aku dimana kamu ting–”
I wanna be your morning baby
Ijebuteon b alright
Dering ponsel Kei memotong perkataan gadis itu. Nampaknya ada seseorang yang lupa akan janjinya.
“Astaga Jisoo! Kau sudah disana?! Ma-maafkan aku, aku segera kesana.” Hanya berpakaian seadanya, Kei lekas menyusul Jisoo yang ternyata sudah berada di kafe, meninggalkan Jackson yang menggerutu karena ditinggal sendiri.

Kei dan Jisoo tak lagi berada di kafe tempat yang seharusnya menjadi tempat kejutan Jisoo. Kini mereka berada di pinggiran Sungai Han. Tatapan  Kei terlihat kosong, sedangkan Jisoo menatap langit dengan penuh kebingungan.
“Hong,” Jisoo merasakan bajunya ditarik. “Hong,” kini dahi Jisoo mengerut melihat Kei yang tiba-tiba menitihkan air mata.
“Hei, kenapa?” Dielusnya surai lembut gadis itu.
“Maaf, maafkan aku. Seharusnya aku menyanyi disana, memberikanmu selamat atas ulang tahunmu, memberikanmu hadiah. Tapi apa sekarang? Sekarang kita hanya berdiam disini dan aku tidak bisa memberikan hadiah kepadamu! Aku… aku…”
Sstt… tidak apa-apa. Itu tidak masalah bagiku, Kei.” Kei lagi-lagi menangis di dekapan Jisoo. “Jangan menangis lagi, Kei.” Isakkan Kei tiba-tiba berhenti. Ditatapnya Jisoo dengan sendu. Maniknya menatap mata Jisoo, lalu turun ke hidung pria itu, dan terakhir bibirnya. Jisoo hanya menatap Kei bingung kenapa gadis itu tiba-tiba diam, dan sepersekian detik kemudian, pertanyaannya terjawab. Bibir mungil Kei kini sudah menempel di atas bibir Jisoo, ciuman lembut yang membuat laki-laki bermarga Hong itu membulatkan obsidiannya. Tangan gadis itu meraih tengkuk Sang Laki-laki, memperdalam ciuman mereka. Ada rasa senang di dalam hati Jisoo, namun perasaan takut lebih mencuat.
“Hong Jisoo, aku suka denganmu.” Jantung Jisoo kembali berdesir mendengar Kei mengucapkan kalimat tersebut. “Hong Jisoo sel–”
“Kei aku mau mengatakan sesuatu kepadamu. Aku mohon kau jangan terkejut,” Jisoo mengambil napas panjang. “Kei, aku sakit. Aku terkena HIV.” Kei tidak bergeming. Pikirannya berkecamuk, sama seperti laki-laki di depannya.
“Sudah lama?” Jisoo mengangguk pelan membuat Kei diam lagi. “Maaf Jisoo, aku harus pergi.” Jisoo sudah menebak ini akan terjadi. Laki-laki bersurai hitam itu mengacak rambutnya kasar, dilangkahkan kakinya gontai menuju rumah. Jisoo menyesali pengakuannya selama berjalan pulang, tak hanya itu, bahkan air matanya ikut turun membasahi pipi tirusnya.

“Argh!”
“Jisoo Sayang, kamu kena–”
“Aku benci dilahirkan seperti ini! Aku benci!” Suara pecahan beling dan debukkan buku menghiasi malam ulang tahun Jisoo. Jisoo langsung mengurung dirinya di kamar saat sampai rumahnya. Sepersekian detik kemudian, Ibunya mendengar suara teriakkan dan jatuhan barang. “Ah sialan! Semua ini salah Ayah! Sialan!”
“Jisoo! Buka pintunya, Nak.” Gedoran pintu pun ikut menghiasi malam itu.
BUG
Itu suara debukkan orang jatuh. Bukan, bukan dari kamar Jisoo. Lebih jauh seperti… jendela? Dengan perasaan khawatir dan cemas, Ibu Jisoo membuka kamar Jisoo dengan kunci cadangan yang memang telah ada.
“Jisoo!” Pekikkan wanita paruh baya itu mengisi keheningan malam begitu jendela kamar Jisoo melongo dengan indah.

“Jackie~ what should I do?” Lirih Kei. Jackson yang masih mengantuk hanya bisa menjawab pertanyaan gadis itu dengan mengucek matanya. “Jackson!” Satu gebrakkan yang dilakukan Kei cukup membuat Jackson tersadar dari kantuknya.
Ya! I’m awake. So, what? Kau bingung tetap stay or nah sama Jisoo, Jisoomu itu?” Kei mengangguk mengiyakan pertanyaan sahabatnya itu. “Just stay. Lagian, kalau misalnya kamu tulus, kamu nggak akan peduli dengan kekurangnnya dia.” Jackson kembali menguap. Manik mata Kei terlihat sendu mendengar jawaban Jackson.
“Jack, apa aku sudah salah meninggalkan dia saat Jisoo menceritakan penyakitnya kepadaku?” Jackson berdeham mengiyakan sembari kepalanya ia tenggelamkan di dalam tangannya. “Benar?”
Oh My God, Kei! Tidak percaya sekali, sih, kamu sama aku. Jelas lah, pasti dia kecewa kamu main ninggalin dia gitu aj– Woi! Nyesel bukain pintu buat kamu, Kei!” Jackson kembali dibuat kesal dengan Kei yang langsung keluar tiba-tiba.
Kei berlari menjauh dari tempat tinggal sahabatnya dan berjalan ke Sungai Han, tempat dimana dia menghancurkan hari bahagia Jisoo beberapa jam yang lalu. Dengan napas yang tersengal dan kaki yang seperti tak memiliki tulang untuk menopang, obsidian Kei memperhatikan sekitar tempat itu, mencari Jisoo yang mungkin saja ada.
“Kenapa tidak ada?!” Kei memekik, menendang angin dengan kesal lalu menjatuhkan diri ke atas rerumputan. Setetes demi setetes air mata jatuh dari pelupuk gadis bermarga Kim tersebut. “Hong… hiks… maafkan aku… hiks.” Kei merengek di tengah malam, mungkin jika ada orang yang lewat mereka akan mengira Kei adalah hantu.
“Argh! Sialan!” Tangis Kei mereda begitu mendengar sebuah suara dari arah kejauhan. Di bawah jembatan, seorang laki-laki terduduk dengan tangan yang terus-terusan melempar kerikil ke air. Kei tertegun melihat sosok itu. Tentu ia kenal.
“Hong…” gadis itu bergumam begitu dirinya sudah berada dekat dengan laki-laki tadi. Yang dipanggil memalingkan wajahnya ke sumber suara.
“Kei,” Jisoo kembali memalingkan wajah dari Kei. Untuk suatu alasan, dia tidak ingin melihat gadis itu dulu.
“Hong… ma– Hong! Hong Jisoo!” Kei berseru saat Jisoo berjalan meninggalkannya, tanpa membiarkan gadis itu memberi penjelasan. Kei terus mengejar langkah Jisoo yang semakin lama semakin cepat. “Hong!” Diraihnya baju laki-laki itu, membuat si empunya berhenti dan menatap nanar dirinya.
“Ada apa?” Tak pernah Kei mendengar nada suara Jisoo yang dingin dan tegas seperti ini. Kei menunduk, menatap jalanan trotoar yang kini tengah ditapakinya. “Jika tidak ada hal yang penting, tolong lepaskan. Saya tahu anda jijik dengan saya.” Kei menggeleng cepat. Tidak, bukan ini yang Kei pinta. Kei tidak jijik dengan Jisoo, sama sekali tidak—ya, mungkin hanya sedikit terkejut sehingga meninggalkan Jisoo dalam kekecewaan.
“Hong, aku mohon jangan seperti ini, maksudku aku minta maaf, pergi meninggalkanmu sendiri setelah kau menceritakan tentang masalahmu. Aku–”
“Tidak perlu minta maaf. Saya sudah biasa dengan hal-hal seperti itu.” Tetap dingin dan seperti orang yang tidak berperasaan. Jisoo seperti beda di mata Kei.
“Hong, sungguh aku minta maaf, aku tidak bermaksud–”
“Jelas-jelas kau bermaksud Kim Kei!” Jisoo pernah bilang, jika dirinya membentak dengan menyebut nama seseorang memakai nama lengkapnya, itu berarti laki-laki itu benar-benar marah. Dan kini, Kei dapat mendengar jelas hal yang ditakutinya itu. Hati gadis itu mencelos. Jisoo dengan seenaknya melepaskan tangan gadis itu kasar dan pergi menjauh, meninggalkan Kei yang terpaku. Jujur, dari lubuk hatinya, Jisoo tidak mau bersikap kasar terhadap Kei yang notabene gadis yang disukainya. Namun perasaan kecewa yang ada sedari ia pergi dari rumah menghasutnya untuk bersikap kasar.

Jimin dibuat heran dengan dua orang yang biasanya berteman baik itu. Kei dan Jisoo tidak berkata sepatah katapun sedari pagi, membuat laki-laki asal Busan ini heran dan senang. Ada beberapa niat iseng–yang kelewat jahat untuk dibilang iseng—terparkir di otaknya. Rasa kesal Jimin terhadap keduanya tempo hari masih terasa. Melihat keadaan keduanya sedang tidak baik, Jimin yakin mereka tidak akan menolong satu sama lain. Laki-laki itu terkekeh, membayangkan bagaimana  hal itu terjadi.
“Park Jimin, Apa ada yang lucu di pelajaran saya hari ini?” Kekehan Jimin berganti menjadi wajah diam tak bersalah dan kepalanya menggeleng, menjawab pertanyaan Sang Guru.
Matahari meninggi, menandakan rencana Jimin akan terjadi.
“Kei… sebenarnya aku menyukaimu, eum, bisa dibilang aku cari perhatian selama ini.” Kei tertegun dengan manik yang tak bisa lepas dari manik lain di depannya. “Aku serius, lho, Kei.” Masih tidak ada gemingan dari gadis itu.
Cup
Jimin dengan napsu mencium gadis ini. Bahkan tangannya merayap ke tengkuk Kei, memperdalam ciuman mereka. Kei tidak bergeming dan malah membalas perlakuan Jimin. Tidak hanya itu, tangan Jimin mulai meraba bagian privasi Kei, membuat gadis itu akhirnya terkejut.
“Oh, ayolah. Bahkan kau menikmati ciumanku tadi.” Kei menggeleng dengan wajah takut dan berjalan mundur seraya laki-laki di depannya ini memajukan langkahnya. Tidak seperti Kei biasanya yang langsung menghajar, Kei kali ini seperti orang lemah yang memiliki beban pikiran. “Ayo Sayang, memang sedikit sakit di awal, ah, kecuali kau sudah pernah melakukannya, haha.” Jimin terbahak dengan kata-katanya. Diraihnya pinggang gadis itu, membuatnya mendekat. Kei segera memalingkan wajahnya, tak ingin menatap Jimin.
“Kau sedikit melemah, apa karena tidak ada Si Culun?”
“Berhenti memanggilnya culun.”
“Tapi dia memang culun, sudah kodratnya dia dipangg–”
“Aku bilang berhenti!” Satu gertakkan dari Kei membuat Jimin menghentikan ucapannya. “Lepaskan aku,” pinta Kei namun tak akan digubris. Jimin malah semakin menjadi, tak penting seberapapun Kei berteriak, laki-laki itu tetap menjalankan aksinya.

Jisoo tengah berjalan pulang sembari membawa beberapa tentengan yang ia pinjam buku dari perpustakaan. Ada berapa biku biologi dan satu buku tentang penyakit HIV. Tangan laki-laki itu seperti mau patah karena membawa buku sebanyak dan seberat hampir seperempat berat badannya. Wajahnya dihiasi senyum sumrigah karena gang  menuju rumahnya sudah di depan mata. Namun dengan segera senyum itu hilang digantikan wajah bingung. Netranya dengan jelas menatap seorang gadis kini berjalan dengan tertatih-tatih dan bajunya yang berantakkan. Jisoo seperti kenal dengan gadis itu.
Aw!”
“Kei!” Pekikkan Jisoo menggema berbarengan dengan erangan sakit dari gadis yang berada di depannya. “Kei! Kim Kei!” Bawaan Jisoo sudah berserakkan entah kemana, kini tujuannya hanya kepada Kei yang sudah terkulai lemas di aspal jalanan. Direngkuhnya tubuh gadis yang sudah tak sadarkan diri itu dan dibawanya pergi menuju rumahnya.

Sesampainya di rumah Jisoo

Jisoo segera menidurkan tubuh kecil Kei di atas sofa rumahnya.
“Jisoo, biar ibu rapikan bajunya, kau ganti baju saja dulu.” Jisoo mengangguk dan lekas menuruti perintah ibunya. Tidak sampai beberapa menit, Jisoo kembali turun menggunakan setelan baju santai dan segera menghampiri Kei yang masih pingsan.
“Ibu, bagaimana dengan keadaan Kei?”
“Dia masih belum sadar. Jisoo… ada beberapa luka lebam di tubuh temanmu ini, dan seperti yang kau lihat di wajahnya juga ada beberapa lebam. Apa temanmu suka berkelahi?” Jisoo menggeleng sembari jemarinya mengelus surai lembut Kei. Ditatapinya sendu wajah gadis yang didiaminya seharian ini. “Jisoo, Ibu harus pergi menemui teman Ibu. Jika dia sudah sadar, berikan teh hangat manis dan jangan kau melakukan hal macam-macam, Hong Jisoo.”
“Iya, Bu.” Ibu Jisoo mengangguk, lekas beliau meninggalkan kedua pemuda-pemudi itu. Manik Jisoo tak bisa lepas dari Kei. Didalam hati dan pikirannya, berbagai pertanyaan terus berdatangan. Beberapa menit setelah Ibu Jisoo pergi, Kei membuka matanya perlahan.
“Kei, kau sudah sadar?” Tidak seperti yang Jisoo bayangkan, Kei langsung memunggunginya tanpa berucap satu kata pun. “Kei,” isak tangis gadis ini membuat Jisoo menatapnya bingung.
“Jangan sentuh aku!” Seruan Kei membuat Jisoo dengan spontan melepaskan tangannya dari surai gadis itu.
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan sentuh aku!”
“Ya, tapi kenapa?”
“Aku sudah tidak suci lagi, Hong! Tidak… hiks…” Jisoo jelas mengerti apa yang dimaksud Kei.
“Siapa yang melakukannya?” Tanya Jisoo pelan sembari tangannya tetap mengelus surai Kei.
“J-jimin.” Kei terbata dengan jawabannya. Isakkan tangis tak henti-hentinya menghiasi ruang tengah kediaman Hong. Tangan Jisoo terulur meraih pinggang gadis di depannya. Disenderkan kepalanya di punggung gadis tersebut. Dalam diam, lak-laki itu juga ikut menangis.
“Maafkan aku… seandainya aku tidak mendiamimu dan meninggalkanmu, pasti hal ini tidak akan terjadi.” Mereka berdua sama-sama menintihkan air mata. Kei berbalik, kini wajahnya menghadap Jisoo yang juga menitihkan air mata.
“Apa kau sudah memaafkanku?” Jisoo hanya mengangguk. Kei mencoba menduduki dirinya, tangannya ia ulur untuk menghapus buliran air mata Sang Lelaki. Jisoo menatap wajah gadisnya itu. Dielusnya pelan.
“Sakit?” Kei mengangguk.
“Namun, lebih sakit jika kau belum memaafkanku, Hong.” Jisoo terkekeh di tengah tangisnya.
“Bodoh,”
“Hong, aku sadar… tak seharusnya aku meninggalkanmu waktu itu. Seharusnya jika aku cinta, aku dapat menerima ketidak sempurnaanmu. Dan kini aku sadar…”
“Kau tidak mencintaiku?”
Ish, jangan potong perkataanku dulu!” Jisoo mengangguk mengiyakan. “Jelas aku mencintaimu, Hong. Kalau tidak, mana mungkin aku mengejarmu terus-terusan, bela-belain didiamimu sampai aku-” perkataan Kei terputus karena telunjuk Jisoo sudah menempel manis di bibirnya.
“Jangan dibahas.” Ujarnya dingin, membuat Kei mengangguk pasrah.

Suasana kelas pagi ini sangat ricuh. Sorak-sorai anak-anak menghiasi perkelahian yang ditutupi oleh mereka.
“Bajingan sialan!”
“Dasar culun!” Perkataan kasar tak henti-hentinya menghiasi perkelahian mereka. Kei yang baru datang menatap bingung kerumunan anak-anak di depannya.
“Ada apa?”
“Hong Jisoo dan Jimin berkelahi.” Garis wajah Kei berubah panik. Dipaksakan dirinya memasuki segerombolan anak-anak itu. Tangisnya pecah saat ainnya menangkap sesosok Jisoo yang sudah berlumuran darah.
“Kau seperti ini karena merasa bersalah gadismu sudah tidak perawan lagi?” Tiba-tiba suara Jimin menghentikkan sorakkan anak-anak. Jimin tersenyum miring sembari menatap remeh Jisoo yang sudah tekapar di depannya.
“Hei, apa yang dimaksud Seungcheol itu Kei?”
“Gila! Aku tidak menyangka jika itu memang benar dia.”
“Baru masuk saja sudah seperti itu.” Rasanya kepala Kei ingin pecah mendengar semua bisikkan teman-teman tentang dirinya.
“Brengsek! Jangan menghina dia sialan!” Jisoo kalap. Diraihnya kerah Jimin dengan sekuat tenaga dan dipukulnya tanpa ampun.
“Hong, sudah berhenti…” Kei merengek sembari memisahkan keduanya. Mendengar Kei membuka suara, Jisoo berhenti memukuli Jimin. “Ayo kita ke ruang kesehatan.” Jisoo lekas menuruti perintah Kei.
Di Ruang Kesehatan
Jisoo sudah tekapar di atas kasur UKS. Ini tidak baik, bagaimana jika Jisoo terkena skors karena perkelahian ini? Jisoo masih terlelap dengan wajah yang berhiaskan band-aid dan beberapa memar. Kei tersenyum miris, Jisoo yang pendiam berani berkata kasar dan mengorbankan dirinya demi Kei. Ugh, Kei merasa bersalah akan hal ini.
“Kau tidak hamil ‘kan?”
“E-eh,” Kei sedikit kaget begitu mendengar Jisoo membuka suara. Pertanyaan Jisoo itu… terlalu, ah, Kei tak bisa menjelaskannya. “T-tentu saja tidak… lebih tepatnya belum, sih…”
“Jadi kau mau punya anak dari dia?!” Suara Jisoo naik satu oktaf membuat Kei lagi-lagi terkejut.
“Tidak Hong…” Kei dapat merasakan tangan Jisoo meraih miliknya.
“Duduk sini–” Jisoo menepuk kasurnya. “–aku ingin bicara sesuatu.” Kei bergerak ragu. Begitu bokongnya mendarat di kasur Jisoo, Jisoo duduk tegap menghadap Kei. “Aku cinta kamu, mungkin kamu udah tahu. Aku sempat kecewa saat tahu yang pertama itu bukanlah aku, tapi aku menganggap itu hanyalah kecelakaan semata yang tidak akan berakibat fatal… aku harap. Kita sama-sama tidak sempurna, kata seseorang, jika kita cinta–”
“kita dapat menerima ketidak sempurnaannya.” Jisoo tersenyum saat Kei melanjutkan kata-katanya. “Jadi?”
“Aku hanya ingin kau tetap bersamaku, selamanya. Tak perduli setidaksempurnanya apa dirimu, aku hanya ingin kau–”
“Tenang, aku akan bersamamu, Hong.” Kei mengedipkan sebelah matanya membuat Jisoo menggeleng. “Hong, can I kiss you?”
“Memangnya kita sudah… pacaran?”
Huft, menurutmu?” Kei mendengus sembari meniup poninya kesal, membuat Jisoo terkekeh.
“Haha, maaf-maaf. Jangan di bibir, kasihan kamunya nanti.” Kei mengangguk sembari wajahnya ia dekatkan ke arah Jisoo.
Cup
Satu ciuman di pipi kiri Jisoo mengawali kisah romansa  mereka.

Kkeut
Little Epilogue

“Hubungan kita aneh kalau dilihat-lihat.”
“Tidak apa aneh, yang penting sayang kamu ke aku nggak aneh,”
Ish, Hong! Kamu tuh, ya, ngegombal terus, aku pikir kamu  penndiam.”
“Aku penasaran, kenapa kamu manggil aku  dengan sebutan Hong? Maksudku, bukannya lebih baik jika kamu memanggilku Jisoo?”
“Karena… aku sayang kamu.”
Cup
Kei berlari menjauh dari Jisoo yang sudah siap-siap mengejarnya. Namun, dengan cepat Jisoo meraih pinggang gadis itu dan memeluknya. Diciuminya tengkuk gadis itu sayang seiring salju turun di sekitar mereka.
Ugh, I’m so jealous… Hongie~ hug me too,” mereka lupa, Jackson masih ada di sekitar mereka.
“Jack!” Jangan tanya siapa yang berteriak.

Ciat!!

Kenapa judulya ‘Hong’?

Karena aku sayang kamu :*

Lagi gila saya memang.

Oh iya, ini adalah remake/? Dari yang pernah saya publish di wattpad saya dengan judul yang sama, kk.

Ceritanya saya lagi move on dari CheolJoo ke mereka.

Jangan lupa comment and like biar Author semangat.

Regards,

bangsvt

 

 

 

11 thoughts on “[Oneshot] Hong

  1. Wew…. uri Jiyeonie bisa begitu wkwkwk…
    Jadi keingat lirik lagu Indonesia, “Cintaku tak pernah memandang siapa kamu tak pernah menginginkan kamu lebih dari apa adanya dirimu,” :””V
    Baper bagian tengahnya sumpah.. Bunuh saja Jimin bunuhhh :””V

    Like

  2. ANi

    Kenapa jisoo harus punya penyakit hiv? Terua kenapa si kei jadi agak tomboy? Pokoknya sedih baca yang pas jisoo ternuata punya penyakit hiv, gereget banget…TT
    Kusuka😊

    Like

  3. Rongster

    Endingnya so sweet ya, kaya di drama-drama gitu(?) :”) , terus ini kenapa si Jisoo kena HIV dan Jimin jadi super brandalan dan Kei jadi tomboy? :”)

    Daaaaaannn, ayo buat sequelnya dong authornim! Jadi nanti ceritanya mereka udah nikah dan Jisoo sembuh dan Jimin tobat, tapu tiba-tiba muncul orang baru dihubungan Kei-Jisoo(?)

    Mungkin cuma segini comment dari aku, diterima ya thor(?) xD

    Like

    • Karen ayah jisoo di ff ini :v
      Mukanya jimin kek brandalan sih ya… .ggg
      Mencocokan plot ff, jadinya kei kubuat tomboi:v

      Kalo sempet aku buat ^_^

      thanks udah mau baca dan komen^_^

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s