[Freelance] December Rain

PhotoGrid_1455378196581

for lovely lovelinus, by nightskies

december rain ~ jungkook/yein ~ vignette ~ romance ~ pg-15

cinta pertama jung yein dua belas tahun lalu, hadir kembali dalam wujud jun jungkook dua belas tahun kemudian.

disclaimer: only the poster and storyline are mine, while the rest are not. still, plagiarism is RESTRICTED.

*

 

 

Yein yakin betul sekarang bulan Desember.Jadi, kenapa tidak ada salju? Kenapa malah hujan?

Kalau begini jadinya, ia jadi tak bisa pulang cepat-cepat. Ia sudah mengidamkan cokelat panas dan bergelung di sofa hangat apartemennya. Tapi karena hujan, impian kecil nan indahnya kini rusak sempurna.

Gadis itu menghempaskan diri di kursi ruang tunggu dan menatap rintik hujan di depannya dengan tatapan kesal.Coba saja hujannya turun kemarin, aku tidak perlu pergi ke rumah Yewon dan terjebak bersama ibunya yang selalu membuat banyak sekali kimbap.

Stasiun mulai sepi karena orang-orang sudah berangkat dengan keretanya masing-masing dan tidak ada orang yang mau rela basah kuyup menembus hujan demi sampai ke stasiun.Yein menggosok-gosok telapak tangannya, kedinginan. Gadis itu mulai merasa takut karena ia hanya sendiri di ruang tunggu.

Beberapa saat kemudian, seorang pemuda bertubuh tinggi masuk ke ruang tunggu dan duduk di kursi yang bersebrangan dengan kursi Yein.Gadis itu memilih untuk tidak peduli pada pemuda tersebut, dan berencana melanjutkan permainan di ponselnya yang sempat tertunda, sampai namanya dipanggil.

“Yein?”

Gadis itu mulai menegang.Siapa yang tadi memanggilku? Kumohon, Tuan Hantu, jangan—

“Kau Yein, bukan?”

Kali ini, Yein tak punya alasan untuk tidak melihat ke arah pemuda tadi.Dan begitu tatapan mereka bertemu, gadis itu kehilangan fungsi tubuhnya selama beberapa detik. Ia tidak menutup mulutnya yang menganga, ia terpaku di tempat, bahkan ia lupa bernapas,  Kecuali matanya yang terus berkedip, tentu saja.

“Jungkook?”

*

Keduanya berakhir di kafe dekat stasiun.Hujan mereda dengan cepat begitu keduanya keluar dari stasiun, dan Yein yakin betul sebabnya adalah karena kehadiran Jungkook.

Yein pernah menganggap Jungkook sebagai mataharinya dua belas tahun lalu, jadi jangan salahkan ia jika hari ini ia berpikir demikian. Lagi.

“Kau benar-benar Jung Yein anak pindahan dari Incheon itu, bukan?”

“Jika kau tanyakan itu lagi, aku akan menyiramkan cappuccino-ku ke wajahmu,” balas Yein ketus.“Kau sudah menanyakan pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali, dan tadi yang keempat.”

“Ampun,” ujar Jungkook sambil mengangkat tangannya dan tertawa.“Masalahnya, kau sangat berbeda.Terakhir aku melihatmu, kau masih pakai kacamata kebesaran dan rambutmu dikepang dua.”

“Aku akan benar-benar menyiramkan kopiku.Hitung sampai tiga,” ucap Yein sambil melotot kesal.

Jungkook memilih tertawa kecil dan mengabaikan ancaman Yein.“Tapi, kau tahu siapa aku, bukan?Jangan-jangan, kita sudah bersikap seperti ini tapi ternyata kau tidak ingat padaku.”

“Kau Jun Jungkook, anak laki-laki yang tidak bisa olahraga dan nilai Bahasa Inggris-nya selalu jelek. Benar, bukan?”

“Ih, aku tahu nilai Bahasa Inggris dan kemampuan olahragamu paling tinggi di sekolah dulu.Tak perlu menyombongkan diri.”

“Sudah berapa lama kita tidak bertemu?” tanya Yein sambil menyeruput cappuccino-nya perlahan dan menatap jalanan dengan tatapan mengenang. “Dua belas tahun?”

“Ya, masa SMP kita selesai genap dua belas tahun lalu.”

Yein mengangguk.“Apa yang kau lakukan sekarang?”

“Jurnalis, peliput dunia seni atau terkadang penyanyi kafe.Kau sendiri?”

“Pelatih tari di agensi ternama.Kau tahu Woollim Entertainment?”

“Ah, kau melatih tari di sana? Hebat sekali.”

“Kau meliput untuk media apa? Koran?Televisi?”

“Hmph.”Jungkook menghembuskan napas, menertawakan pilihan yang diajukan Yein. “Aku tidak sudi baca koran, itu adalah media yang membuat pepohonan di dunia semakin berkurang. Aku juga bukan penggemar kubus menyesatkan bernama televisi.”

“Hmph, gayamu.”Yein menggeleng heran sambil mengernyit. “Jadi, kau meliput untuk media apa?”

“Aku meliput untuk radio.”

“Yang sudah jarang didengar orang itu?”

“Hei, jangan sembarangan,” ujar Jungkook ketus, yang membuat Yein tak dapat menahan kekehannya.“Radio ada di setiap mobil, orang-orang masih mendengarnya.Terbukti dari telepon interaktif yang terus masuk.”

“Baik, baik.Aku menyerah,” ujar Yein sambil mengangkat tangannya dan tertawa, mengikuti tingkah Jungkook sebelumnya.“Kau akan pergi kemana?”

“Aku akan ke apartemenku.Kau sendiri?”

“Aku juga!”Yein membelalak.“Kau tinggal di apartemen mana?”

“Di belokan itu, kau?”

“Maksudmu di apartemen bercat hijau itu?”

Jungkook mengangguk.“Kau tahu apartemen itu?”

“Itu apartemenku!”Yein menepuk dahinya.“Bagaimana mungkin kita tak pernah bertemu padahal kita satu atap?”

Jungkook menggeleng-geleng heran.“Kita terlalu sibuk dengan pekerjaan kita masing-masing, kurasa.”

“Jika saja aku tahu kau tinggal satu gedung denganku sedari lama, aku akan sering-sering datang!Aku tidak suka sendirian, dan Hyoin tidak pernah mau menginap di apartemenku.”

“Adikmu?Kenapa ia tak mau?”

“Karena ia tak mau jauh dari ibunya.Ia bilang padaku, ‘unnie saja yang jauh dari Ibu. Aku tidak mau.’Menyebalkan sekali.”

“Pintu apartemenku selalu terbuka untuk teman lama, nomor kamarku  508.”

“Aku nomor 709.Pintuku juga selalu terbuka untuk teman lama.”

Keduanya terdiam sejenak dan sama-sama memandang jalanan yang masih basah akibat hujan.Matahari tidak menampakkan wujudnya, tapi sinarnya yang lemah menembus awan dan sampai ke bumi.

“Hujan sudah berhenti, ayo kita pulang.”

“Tunggu,” ujar Yein sambil merogoh tasnya dan menyerahkan sebuah gantungan kunci berbentuk matahari.

“Kenapa kau memberikannya padaku?”

“Bagaimana aku mengatakannya…” lirih Yein sambil menggigit bibirnya. “Em, aku akan ke apartemenmu dan menjelaskan tujuanku memberikan ini padamu. Aku… tidak yakin aku siap jika harus mengatakannya sekarang.”

“Apapun yang ingin kau katakan nanti,” ujar Jungkook sambil merogoh tas ranselnya dan menyerahkan sebuah gelang terbuat dari akar tanaman dan bunga palsu. “Biarkan aku yang mengatakannya lebih dulu.Bolehkah?”

Yein menarik napas dalam, dan mengangguk sambil mengenakan gelang tersebut.Jungkook ikut tersenyum, lalu mempersilakan Yein jalan lebih dulu ke arah pintu.Tepat sebelum tangan Yein terangkat untuk membuka pintu, Jungkook sudah lebih dulu membukakannya.

“Refleksmu sekarang bagus, Jungkook,” puji Yein sambil tersenyum miring.“Terakhir kuingat, kau baru mengangkat tanganmu untuk menangkap lemparan bola basket lima menit kemudian, saat kau pingsan.”

Jungkook menyentil dahi Yein, sementara gadis itu tertawa puas.“Hentikan itu.Aku juga bisa membongkar aibmu.”

“Baik, baik.Maaf, tapi sungguh.Aku kaget melihat kemajuanmu yang pesat.Dulu aku lebih tinggi darimu, tapi sekarang aku bahkan tidak mungkin bisa menyusulmu. Dulu kau adalah murid yang geraknya paling lamban, tapi sekarang kau bahkan membuka pintu tepat saat aku akan membukanya.”

Jungkook tersenyum simpul.“Aku punya satu motivasi yang membuatku ingin berubah dari diriku yang payah itu.”

“Kau tak boleh mengatai dirimu sendiri payah, Jungkook,” ujar Yein tegas, meski ia tak dapat membohongi bahwa ia sedikit tersakiti saat tahu bahwa Jungkook sudah punya seseorang yang spesial saat ini. “Aku akan ke apartemenmu jam delapan nanti. Bagaimana?”

“Tidak perlu, aku yang akan ke apartemenmu.Siapkan saja makanan yang enak.”

Yein tertawa.“Kau ingin lamban seperti dulu lagi?”

“Asupan makanan tidak akan membuatku lamban.Sebaliknya, itu akan membuatku bergerak semakin cepat.”

Gadis mengedikkan bahunya sambil tersenyum meledek.“Sombong sekali lelaki ini, hanya karena ia sudah jadi pria keren.”

“Terima kasih, aku tersanjung mendengarnya.”

Keduanya tertawa, dan tak terasa mereka sudah sampai di depan apartemen.

“Baiklah, setelah naik lift, kita akan berpisah.Tapi setelah itu, kita akan bertemu lagi,” ucap Jungkook.“Jadi, selamat tinggal bukan frasa yang tepat.Bagaimana dengan sampai jumpa lagi?”

“Setuju.Sampai jumpa lagi, Jungkook.”

Keduanya kemudianmasuk ke lift yang berbeda, dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.

*

Bel apartemen Yein berdenting dua kali, dan Yein cepat-cepat menyeruput sedikit sup rumput laut buatannya.Tidak terlalu asin, tapi rumput lautnya sedikit lembek.Semoga Jungkook tidak muntah memakan masakanku.

Begitu pintu dibuka, ia disambut Jungkook yang berpakaian kasual tapi tetap terlihat menawan.

“Oh, apa aku salah kamar?” Jungkook membelalak kaget.

“Tidak, kau berada di kamar yang benar.Ini apartemen Jung Yein.”

“Tapi, seingatku, Yein adalah pelatih tari, bukan ibu rumah tangga.”

Gadis itu mengikuti tatapan Jungkook yang mengarah ke celemek yang masih ia gunakan, dan keduanya tak mampu menahan tawa.

“Jungkook, kau membuatku kaget!”Yein memukul bahu lelaki itu sambil mengernyit kesal.“Kukira aku yang salah masuk kamar!”

Jungkook tertawa makin keras. “Kau pasti masak terlalu banyak hingga waktu tiga jam tidak cukup untuk bersiap-siap. Harusnya kau masakkan spageti saja untukku.”

“Aku harus belanja dulu, itulah sebabnya.Jangan sungkan, kau teman lama dan spageti hanya makanan saat sedang malas.”

Yein mengundang Jungkook masuk dan menyuruhnya langsung mengambil kursi di meja makan.Gadis itu melepas celemeknya sambil diam-diam tersenyum malu.Aku merasa seperti istri yang menyambut suaminya pulang kerja saja… eh!

Yein menggeleng-gelengkan kepalanya, mengembalikan kesadarannya.Ia lalu bergabung dengan Jungkook dan mempersilakan lelaki itu mengambil apapun yang ia mau. Keduanya makan dalam hening, dan dari sini Yein belajar bahwa Jungkook bukan orang yang senang bicara saat makan.Bukti lainnya, Yein tak dapat menahan rasa penasarannya dan bertanya bagaimana kabar Jimin, kakak kelas mereka yang kabarnya sudah jadi penari terkenal. Jungkook menelan terlebih dulu apa yang ada di mulutnya, lalu menjawab sesingkat mungkin, dan berjanji akan menjelaskan lebih lanjut setelah acara makan selesai.

Elegan sekali!puji Yein dalam hati.

Begitu selesai, Yein menyuruh Jungkook untuk menaruh semua peralatan makannya di wastafel dan bergabung dengannya di sofa.

“Jimin sekarang sedang di Amerika, menjadi backdancer dariboygroup terkenal bernama Bulletproof Scouts dan baru pulang dua minggu lagi.”

“Beruntung sekali,” ujar Yein.“Aku sudah melatih tari selama dua tahun, dan beberapa trainee yang kulatih sekarang sudah di berbagai negara.Aku jadi iri.”

“Kau tidak boleh membiarkan kesuksesan orang lain mengalihkan kesenanganmu melatih tari.”

“Kau benar,” sahut Yein.“Baiklah, aku akan tetap fokus dengan pekerjaanku.”

“Oh iya, karena malam semakin larut, bagaimana jika kita langsung ke intinya saja?” ujar Jungkook sambil menunjuk gelang Yein.

“Tidak masalah.”

Tentu saja ini masalah, Yein! Kau akan menyatakan perasaanmu pada cinta pertamamu dua belas tahun yang lalu!

“Aku seharusnya memberikan gelang itu dua belas tahun tahun lalu, saat kita lulus dari SMP,” ucap Jungkook sambil tersenyum kecil. “Tapi Yeeun bilang kau sudah berangkat ke Incheon tepat semalam sebelum wisuda kelulusan.Aku memutuskan untuk menyimpannya sebagai kenangan, tanda bahwa kau pernah ada dalam hidupku.”

“Kenapa kau ingin memberikannya padaku?”

“Karena,” ujar Jungkook sambil berlutut di hadapan Yein.“Dulu, aku amat menyukaimu.Kau alasanku untuk pergi sekolah, meski aku harus ditertawakan dan diejek.Aku bahkan nyaris kabur dari rumah, tapi aku ingat senyumanmu dan aku tak mau hari itu menjadi hari terakhir untuk melihatnya.Kau alasanku bertahan, dan saat kau tiba-tiba pergi, aku begitu hancur hingga tak sanggup muncul di acara wisuda.Aku lari ke rumah dan menangis, namun kakakku berkata aku harus berhenti bersedih dan membuktikan pada mereka yang pernah menertawakanku, bahwa aku sama sekali bukan lelaki yang lemah.”

“Jadi kau berubah nyaris 360 derajat… demi aku?”

“Lebih tepatnya, karena kau.Tapi tak masalah jika kau berpikir demikian, impianku sedari dulu adalah membuatmu kagum padaku.”

Yein tersenyum haru. Semua ini di luar ekspetasinya!

“Kau sudah selesai?Kini giliranku.”

Jungkook mengeluarkan gantungan kunci berbentuk matahari dari saku celananya, membiarkan Yein menggenggam benda itu.Bersama dengan tangan Jungkook.

“Aku memberikan itu karena aku sudah bertekad, bahwa jika aku bertemu denganmu lagi, aku harus menyatakan perasaanku.Kau sudah menyatakannya duluan, dan kini giliranku.Aku juga menyukaimu, sangat.Aku tidak pernah bertemu lelaki selamban dan sependek dirimu, tapi aku tak bisa berhenti mengagumimu.Aku selalu ingin menyemangatimu jika kau sedang men-dribble bola atau ketika kita akan menghadapi ujian Bahasa Inggris, tapi aku takut kau akan disakiti jadi aku menahan diri.”

Jungkook kemudian kembali duduk di samping Yein, kali ini posisinya lebih dekat.Lutut mereka bertemu, dan tangan mereka masih saling menggenggam.“Kenapa kita tak pernah mengatakan ini sejak dulu?”

“Untuk membuktikan apakah rasa yang kita miliki ini bukan cinta monyet?”

Jungkook tertawa.“Apa menurutmu ini cinta monyet?”

“Bukan.Karena meski waktu sudah berganti, perasaanku padamu masih sama. Meski aku sedang memikirkan hal lain, aku selalu punya satu saat dimana aku hanya bisa memikirkanmu. Meski aku bertemu banyak trainee tampan di agensi, aku tetap tak bisa melupakanmu.Aneh memang, lagipula siapa orang yang bisa bertahan dua belas tahun pada cinta pertama yang tak pernah kau lihat lagi wujudnya?”

“Kitalah orang itu,” jawab Jungkook sambil mendekatkan wajahnya pada Yein sambil memegangi pipi gadis itu.“Bolehkah aku?”

Sopan sekali dia! Aduh… bagaimana ini?

Yein menghela napas sejenak, lalu mengangguk perlahan.Matanya terpejam, bibirnya bersentuhan dengan bibir Jungkook, membuatnya merasa seperti kehilangan dirinya.Dan sekelebat kejadian di masa SMP pun hadir dalam ingatan Yein.Ia yang selalu menatap Jungkook sembunyi-sembunyi, ia yang bertabrakan dengan Jungkook hingga bajunya terkena noda makanan milik Jungkook, hingga ia yang menangis saat ia harus berangkat ke Incheon sebelum sempat bertemu Jungkook.

Tak terasa, Jungkook menarik diri dan menatap Yein khawatir.

“Kau baik-baik saja?”

Yein mengangguk sambil tersenyum malu.

“Biar kutebak, itu tadi yang pertama kali?”

Gadis itu mengangguk lagi.

“Itu juga yang pertama bagiku.”

“Eh?” Yein membelalak. “Kupikir kau…?”

“Sudah berpengalaman?”Jungkook terkekeh.“Tidak, aku tidak pernah melakukannya sebelum saat ini. Tapi jika kau tanya tentang melihat…”

Gadis itu meraih bantal sofa di belakangnya dan memukuli Jungkook berkali-kali.“Dasar mesum!”

“Bukankah yang seperti itu perlu untuk menghangatkan rumah tangga kita kelak?” tanyanya sambil tersenyum miring.

Yein membelalak, lalu berdiri. “KELUAR DARI APARTEMENKU, SEKARANG!”

Jungkook tidak bangkit, ia justru menatap Yein dari atas hingga bawah dengan tatapan menggoda. “Wah, kau benar-benar ‘berkembang’ sejak terakhir kali aku melihatmu di SMP.Lihat lekuk tubuh itu—!”

“HENTIKAN!”Yein kembali duduk sambil menutup kupingnya.“Aku tidak pernah diracuni hal seperti itu sampai kau datang!”

Jungkook lalu tertawa puas.“Kau harus lihat wajahmu!Kau seperti tomat!”

Gadis itu memajukan bibir bawahnya sambil menunduk, kesal sudah diledek seperti tadi.

“Kau kesal?” tanya Jungkook, setengah tertawa. “Maaf, aku sudah lama tidak meledekmu.Tapi aku suka melakukannya, wajahmu akan merah dan itu lucu sekali.”

“Dekat-dekat denganmu ternyata membahayakanku, Jungkook.Pergi dari apartemenku, sekarang,” ucap Yein, masih terus merajuk.

“Kau yakin akan mengusirku?Kau akan merindukanku begitu aku berdiri di luar pintu, tidakkah kau sadari itu?”

Yein pura-pura muntah.“Yang akan terjadi justru sebaliknya.Kau yang akan merindukanku.”

“Aku sudah merindukanmu sejak aku pertama kali melihatmu di SMP.Kini giliranmu untuk merindukanku.”

“Baiklah, argumen seperti ini tak akan pernah ada habisnya,” ujar Yein.“Malam sudah larut, bagaimana jika bertemu lagi besok?”

“Kau tidak membolehkanku menginap disini?Kau tak ingin melihat wajahku saat kau bangun di pagi hari?”

Yein menggeleng.“Terlalu cheesy.Pulanglah kau.”

“Kau mengusirku?Tapi aku kekasihmu!”

“Sejak kapan?Pulang, Tuan Jun, kau mabuk.”

“Tapi ini rumah kita berdua, Nyonya Jun.”

“Kau sudah minum berapa botol, hah?”Yein terus mendorong-dorong Jungkook keluar dari apartemennya. “Pulang, sana.”

“Iya, iya.Aku pulang,” ujarnya setelah berada di luar apartemen Yein. “Kita akan bertemu lagi di kafe apartemen jam delapan pagi, bagaimana?”

“Setuju.Selamat malam, Jungkook.”

“Aku tidak mau diucapkan selamat malam,” ucap lelaki itu, merajuk.

“Lalu?”

Jungkook menunjuk pipinya sambil menatap Yein penuh harap.Gadis itu berjalan mendekati Jungkook, tapi lelaki itu dengan cepat menggerakkan kepalanya hingga bukan pipi itu yang diciumnya, melainkan bibir Jungkook.

Beberapa saat setelahnya, Yein menarik diri sambil menggeleng heran.

“Dasar mesum.”

“Itu baru goodnight kiss. Sampai jumpa besok, Yein!”

Jungkook berbalik meninggalkan apartemen Yein yang telah tertutup rapat, menyembunyikan pemiliknya yang tengah melompat-lompat kegirangan.

-E N D-

A/N:

parah deh. parah banget ini sih.

[nangis bentar]

ininiatnya pengen bikin ff fluff-sad tapi kenapa jadi begini hasilnya T.T

by the way, anyway, busway, one way or another /halah/ I finally made a kook-in fic!^^ by the way again, adakah yang percaya kalau kukatakan bahwa ff ini kubuat sekali jadi? nggak pake acara save first, then continue a year later(?)

yah, ini akibat terinspirasi sama lagu jepang jadul yang suka diputerin ayah di minggu pagi, sayang judulnya susah disebut jadi nggak bisa ditulis:( tapi kata ayahku, lagu itu bercerita tentang wanita yang ketemu lagi sama mantan pacarnya terus wanitanya galau gitu, karena inget mereka dulu putus akibat ngejar mimpi masing-masing.

but, no, aku nggak mau bikin yang sedih-sedih buat my lovel-yein and her twin kookie. tapi malah fluff failed begini -,- maafin aku yaa readerdeulnim, aku lebih bisa bikin ff yang sad karena lebih sesuai sama nasib hidup /EITSS

seperti biasa, komentar dan kritik diapreasi teramat sangat<3

-ditulis oleh nightskies yang lagi seneng karena lovelyz in wonderland bentar lagi tayang!^^-

Advertisements

25 thoughts on “[Freelance] December Rain

  1. ARGH, NIGHTSKIES, TOLONG SAYA KEHABISAN NAPAS ABIS BACA FIC SUPER MANIS INI :”””””””

    no komen sih, aku suka gaya bahasanya, simpel dan asik buat dibaca o/ dan SUPER MANIS (diketik dua kali, biar greget) huhuhu T-T
    suka sama plot ceritanya jugaaaaa AAAAAA ❤

    trus itu jjk ujug2 langsung ngajak dek yein nikah maksudnya apa coba? :””) ku terlalu bahagia—-cinta tak terucap selama 12 tahun akhirnya kebales juga :””) /dlosor/
    tau aku jejeritan abis baca sampe dilihatin orang banyak /gak/ :”)

    sekian, maafkan komentar sampah dari saya :”D tetap semangat buat terus berkarya! shalom! <333

    Like

    • AAARGH BURRITOWN JANGAN PINGSAN DULUUU jungkooknya mau dipanggil nih buat ngasih napas buatan /EYAKK

      makasih banyak yaw :3 sesuai sama senyum duo maknae ini, ff utk mereka kubuat manis /halah

      tau nih, yein blm 20 taun udh diajak nikah 😦 sabar dong kook, tunggu yeinnya legal dulu /EHH
      [ih burritown tiati dikira orang… orangan sawah :))]

      makasih lagi udah baca dan komentar :’) semangat terus, burritown!^^

      [MALAM INI LHOOO TAYANGNYA!!! *mulai pantengin livetweet dari skrg /lho]

      Like

  2. Ya ampuuuuun,sumpah ini sweet bgt. Jungkook baru aja ketemu Yein maen nyosor aja, taktik-nya boleh jga ‘goodnight kiss’ /arrrggghh gemes >,< . Pokoe nice ff-lah author

    Like

  3. Failed Fluff? NO!!!
    Ini jelas bikin aku senyam-senyum sendiri, sampe harus nutupin muka biar ngga dianggap aneh sama orang2 yang ada di dalam kelas XD
    Ini sweet sekali^o^ fanfiksi rasa drama:3
    berasa nonton pilem nih><
    Thumbs up^^

    Like

    • hai lagi aihara^^
      YEAY THANK YOU SO MUCH ternyata ga gagal :’)

      hihi jangan ditutup mukanyaaa, ntar ffnya ga kebaca /halah…
      btw kamu baca di kelas ya… kok kayak aku sih [pengakuan terlarang] tiati jgn sampe kepergok guru yaw :3 [sama2

      aaaaw makasih banyakkk<3 thumbs up for you, too^^

      Like

  4. Huaaa, aku udah baca dari pertama kali nongol loh. Cuma baru sempet komen :”) Maafkan aku night T.T

    Komentar…ugh, komen apa…sukaaaa. Suasana baru banget JeongIn couplenya sukaaaaak ❤ ❤ As expected of the Night siiih :3

    Huee bai bai, aku lg ndak bisa banyak komen dan ini apa sih yg bisa dikritik cobak? :”)

    Like

    • kak azeeel kenapa tidak komen sejak baca T.T gapapa deh, aku mah udh seneng ka azel sukak :3

      hihi makasih kazelll :’3 aduh ayolah kaaa katakan kritikmu yg sejujurnya [maksa][tolong abaikan]

      don’t say goodbye dong kak 😦 say see you later sounds nicer mihihing<3

      Like

  5. ASKSKEKALSKMSKSJSNNXNDNENNENSJAKZIOSKWK squeaLS this is too cute it’s not good for my heartㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ
    Lol I’m literally screaming while reading this ;;;;;
    I LOVEEEEE IT AAAAAH NO. I REALLY REALLY REAALLY LOVE IT.
    A fluff story between Yein – Jungkook is too cuteee i can’t say anything ;;;;;
    Mau jadi Yein dong! Mencintai selama 12 tahun nggak sia-sia karena dicintai balik ughhh the definition of true love!!!
    I love your FF(s), AS ALWAYSSSSS
    Looking forward to your next ff !

    Like

    • NOOO IT IS NOT THAT UNHEALTHY WE NEED STOCKS OF YEKOOK, LIKE, EVERYDAYYY /apasih

      makasih yaaw eunsi :3 sayangnya ini hanya ff 😥 jgnkan cinta 12 tahun, setaun aja udah bisa mupon /semacam curhat pribadi

      thank youuu please keep expecting my ffs!!!^^

      Like

  6. Bisa-bisa robek juga ni mulut gegara senyum terus.. –– Thor, tanggung jawab lho ya. Gara-gara ff author ini saya gak bisa nahan mulut buat gak senyum kaya orang gila dari awal sampe akhir baca. plak
    Aigoo~ Lucuuuu…! >< Seru banget.. ❤ Lope lope dah buat authornya. Jarang-jarang kan karakter Yein sama Jungkook gak jadi anak sekolahan ato kuliahan, tapi di sini kok cocok gitu jadi orang dewasa (meskipun gak tua-tua amat sih).
    Kocak dan gak ngebosenin. Thumbs up (y) buat authornya..!

    Like

  7. KEREN BANGET HIKS HIKS >-(T.T)-<
    FLUFFNYA DAPET BANGET!❤😭 coba bisa seperti kaka Yein, duh beruntung gewla yah, udah geulis, dapet bang kuki lagi ;-;
    .
    bagus sekali!!! semangat terus kaka night!💜💜💜💜💜💜💜

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s