[Vignette] Just Tell Me That I’m Beautiful, Oppa!

beautiful copy

Just Tell Me That I’m Beautiful, Oppa!

Main Cast : (Lovelyz) Yein & (BTS) Jungkook ♣ Genre : Fluff, romance, school life ♣ Rating : Teen ♣ Length : Vignette (± 1,600 words) ♣

Summary :

“Kau sangat cantik hari ini, esok hari kau juga masih cantik, bahkan hingga saat kau tua nanti, kau akan tetap jadi yang tercantik di mataku, dan juga di hatiku.”

.

.

Aku menopang daguku dengan tangan kiri yang bertumpu pada meja belajar. Pandanganku terfokus pada sebuah lembaran yang terisi oleh rentetan soal. Sesekali jika sudah kelewat frustasi, kutiup poniku hingga menyembul ke atas. Namun pada akhirnya aku menyerah pada soal ke 25. Baiklah, tak masalah. Toh, aku bisa minta ajari temanku untuk 5 soal yang tak bisa kukerjakan besok. Ah, Sunggyu Ssaem benar-benar memiliki kebiasaan buruk. Ia selalu memberikan soal untuk dikerjakan terlebih dahulu sebelum menyampaikan materi yang harusnya ia ajarkan. Tapi setidaknya ada untungnya juga, sih, kami – para murid – jadi lebih mudah menyerap apa yang beliau ajarkan karena telah mempelajari materi itu terlebih dahulu.

Seketika ponselku bergetar, pertanda ada pesan dari SNS yang masuk. Langsung kusergap ponselku dan segera membaca pesan itu. Ah, dari Jungkook Oppa rupanya!

“Yein-a, apa kau sudah tidur?”

Hari ini aku memang sengaja tak memberinya kabar sama sekali, bukan karena apa-apa, tapi tugas dari Sunggyu Ssaem ini memang benar-benar tak akan segera selesai jika aku melakukan aktivitas lain.

“Belum, oppa. Ada apa?”

Aku menjawabnya dengan singkat. Beberapa saat kemudian ponselku pun berdering lama, itu artinya ada panggilan, tanpa melihat nama si penelepon, karena aku sudah tahu siapa itu.

Yoboseyo, oppa?”

“…”

Mianhae, aku mengerjakan tugas tadi, sulit sekali.”

“…”

“Bukannya aku tidak mau minta bantuanmu, aku lupa memberitahumu tadi sore.”

“…”

Oppa…, jangan ngambek, dong! Iya, iya aku salah. Memang selalu aku salah!”

“…”

“Iya, aku akan tidur setelah mencuci wajah.”

“…”

“Semoga oppa juga mimpi indah. Jalja~”

Begitulah kami, selalu saja ada perdebatan kecil yang menjadi faktor keributan. Sedikit-sedikit merasa kesal. Usianya memang sudah hampir 20 tahun, namun sayang tingkahnya masih mirip bocah taman kanak-kanak. Tapi walau begitu, hal seperti itulah yang membuat hubungan kami yang terjalin selama kurang lebih 6 bulan tak membosankan. Aku sungguh menyayanginya, tak peduli seberapa kekanakan tingkahnya.

***

Pukul enam pagi aku telah terbangun. Sejenak kulakukan peregangan untuk memulihkan keadaan otot-otot yang kaku. Setelah itu, aku segera menuju kamar mandi, lantas mempersiapkan diri.

Hari ini diadakan event tahunan memperingati ulang tahun sekolah. Jadi, para siswa kelas 1 dan 2 diwajibkan mengenakan busana tradisional Korea karena tema dari ulang tahun kali ini ialah “Culture Appreciation”. Aku cukup repot mempersiapkan semua ini. Kalian tahu sendiri kalau tata cara mengenakan hanbok itu sangat rumit, bukan? Belum lagi saat kita akan mengenakannya untuk berjalan, terasa sangat berat. Untung ulang tahun sekolah jatuh di musim dingin, jadi aku tak akan kegerahan saat mengenakannya.

Setelah semuanya siap, aku pun berangkat ke sekolah diantar ayahku. Sebenarnya pada keseharian, aku selalu berjalan ke halte sebelum berangkat untuk menunggu bis datang. Namun karena ayah khawatir padaku gara-gara aku memakai hanbok, beliau rela izin datang terlambat ke kantor hanya untuk mengantarku ke sekolah. Sangat mengharukan, ya?

Sesampainya di sekolah, suasana berbeda pun dapat aku rasakan. Hiasan yang berhubungan dengan kebudayaan Republik Korea Selatan dapat terlihat di setiap sudut. Kelopak bunga sakura menghiasi sepanjang jalan. Sungguh indah.

Aku memasuki kelas, dan mataku langsung berbinar karena pemandangan seperti ini belum pernah sekali pun kujumpai. Kadar ketampanan dan kecantikan teman-temanku naik 100% ketika mereka mengenakan pakaian tradisional Korea.

“Yein-a, hanbokmu berwarna pink, lucu sekali!” sambut Sujeong dengan senyuman pagi harinya yang terlihat cerah. “Gomawo. Hanbokmu juga bagus, warna biru langit, aku suka!” balasku menanggapi pujiannya.

Omo, Yein-a…, kau mengenakan hanbok? Aku sungguh terkejut!” sambar Mingyu. “Jeongmal yeppuda!” sahut Seungkwan.

“Kalian apa-apaan, sih?” balasku tersipu.

“Kau sangat cantik bila berdandan feminin. Sayang kau milik Jungkook sunbae, hahaha.” Kata Hansol.

“Hehehe, kamsa hamnida. Kalian juga sangat keren dengan kostum ala drama kolosal itu.” ucapku sambil mengacungkan jempol dan mengarah pada keduanya.

“Ayo semuanya, segera berkumpul ke lapangan, kita akan mengadakan upacara!” Salah seorang guru mengingatkan kami semua. Setelah menaruh tas, aku pun segera menuju ke lapangan bersama Sujeong.

Selesai upacara, kami kembali ke kelas. Dan lucunya, pelajaran tetap ada. Oh sungguh, aneh sekali jika kami harus belajar mengenakan kostum seperti ini. Pasti akan sangat tidak nyaman.

Ngomong-ngomong, daritadi aku belum bertemu Jungkook oppa sama sekali. Memang sih, kelas 3 tidak diwajibkan mengenakan pakaian tradisional dan mereka juga tidak disuruh ikut upacara. Tapi aku benar-benar merindukannya karena kemarin aku sama sekali tak memberinya kabar.

***

Bel istirahat berbunyi dan waktu itu hanya kugunakan untuk duduk manis di kelas karena aku membawa makanan dari rumah. Dengan roti di tangan kanan dan ponsel di tangan kiri, aku sedang mencoba mengirim Jungkook oppa pesan sambil mengunyah roti.

Oppa di mana?” dan beberapa detik kemudian, datanglah sebuah balasan, “Aku di perpustakaan.”

“Hm, geurae…”

“Sebentar ya, aku mau mengikuti bimbingan untuk tes TOEFL-ku besok.”

Oppa fighting, ne!”

Menyebalkan sekali! Apa dia tak merindukanku juga? Ya sudahlah kalau memang Jongkook oppa sedang sibuk. Mungkin nanti kita akan bertemu. Aku pun kembali menopang daguku dengan tangan, kemudian melanjutkan mengunyah roti.

***

Guru pelajaran kimia paling tampan datang, siapa lagi kalau bukan Sunggyu Ssaem? Beliau membuka pelajarannya dengan cerita lucu yang membuat tawa seisi kelas pecah – seperti biasanya. Lantas ia pun membahas tugas yang minggu lalu ia berikan. Saat beliau membuka sesi pertanyaan, aku pun langsung mengacungkan tangan untuk menanyakan cara menyelesaikan soal nomor 27. Sebelum menjawab pertanyaanku, terlebih dahulu ia mengomentari penampilanku hari ini. “Wah, Yein…, kau nampak amat berbeda hari ini. Kuyakin Jungkook akan semakin suka padamu.” celoteh beliau. Wajahku merona merah dibuatnya.

Jungkook oppa memang sangat dekat dengan Sunggyu Ssaem, bahkan ia sering ke rumah beliau untuk belajar dan menginap. Kata Jungkook oppa, Sunggyu Ssaem itu guru yang hebat dan tak ada duanya, ia juga telah menganggap beliau sebagai ayahnya sendiri. Memang benar, sih, cara mengajar beliau sangat menyenangkan dan tak pernah membuat para murid merasa bosan.

Akhirnya beliau menjelaskan dengan teramat rinci mengenai soal nomor 27. “Bagaimana semuanya? Kalian sudah paham? Yein, sudah jelas, apa belum?” tanya Sunggyu Ssaem. “Ye, ssaem. Kamsa hamnida.” jawabku.

Hingga pada akhirnya waktu pulang pun tiba. Aku membereskan buku yang berserakan di meja dan memasukkannya ke dalam tas. Kuraih tas punggungku dan segera berjalan keluar kelas.

Aku kembali mengirimi Jungkook oppa sebuah pesan singkat. Oppa masih di sekolah?” dan tak lama kemudian, datanglah balasan dari pria jelek itu. “Tentu saja, sedari tadi aku menunggumu. Kau di mana, chagi-ya?”

“Aku di depan kelas.”

“Ya sudah, tunggu! Aku segera ke sana.”

Dan tak perlu menunggu lama, ia pun akhirnya datang. “Maaf membuatmu menunggu lama.” ucapnya dengan napas yang sedikit tersengal. “Aniyo…, aku baru saja keluar dari kelas, kok!” balasku. “Hm, ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang bersama.” ajaknya. Kami pun berjalan beriringan menuju halte.

Di perjalanan, ia terus menceritakan tentang kejadian selama latihan tes TOEFL, ia bilang sedikit kesulitan di latihan tes listening, dan aku cuma bisa menyemangati dan meyakinkan kalau ia pasti bisa. Kemudian ia mengomeliku karena dengan jujur aku mengatakan kalau kemarin malam aku tidak makan. “Yein-a! Sudah berapa kali kukatakan padamu, makanlah di malam hari supaya kau punya tenaga untuk tidur. Aku cuma tidak ingin kau kenapa-kenapa!”

Mian, aku tidak lapar, jadi kurasa tak perlu makan malam.”

“Terserah kau saja, mau menurutiku atau tidak.” responnya tak acuh.

Oppa-ya! Kenapa sih kau pemarah sekali?” aku menggerutu kesal, namun ia malah terdiam. Tiba-tiba langkahnya terhenti dan langsung mencekal tanganku, aku sontak menghentikan langkahku juga. “Mwoya?” tegurku. “Maaf, mungkin aku saja yang berlebihan. Tapi aku benar-benar khawatir padamu. Aku hanya ingin kau menjaga kesehatan, Yein-a. Sungguh, hanya itu yang aku inginkan.” jelasnya dengan mata nanarnya dengan tajam menusuk relung. Kurasa ia benar-benar serius. Aku luluh seketika. “Ne oppa, maaf aku tak pernah mendengar nasihatmu. Aku janji akan lebih menjaga kesehatan sekarang.”

Gomawo…” ucapnya sambil mencubit gemas pipiku.

Sesampinya di halte, kami duduk bersebelahan untuk menunggu bis datang. Kebetulan jalan rumah kami searah, jadi setiap hari kami selalu pulang bersama.

Akhirnya bis yang kami tunggu datang juga. Jungkook oppa mempersilakan aku untuk naik duluan dan ia berjaga-jaga di belakangku. Katanya ia selalu takut kalau ada orang yang mengambil tuan putri kesayangannya. Seperti yang kubilang sebelumnya, ia selalu bersikap kekanak-kanakan.

Butuh perjuangan ekstra untuk menaiki bis saat sedang mengenakan hanbok. Entah sudah ke berapa kalinya aku hampir tersandung saat hanbok yang kucincing ini merusut dari tanganku. Untungnya ada Jungkook oppa yang siaga di belakangku.

Di bis, aku dan jungkook oppa duduk bersebelahan lagi. Namun ia tak banyak bicara seperti saat kami berjalan menuju halte tadi. Aku pun jadi sedikit kesal. Dan sedari tadi, ia sama sekali tak mengomentari penampilanku saat mengenakan hanbok. Entah aku terlihat cantik, lucu, atau bahkan biasa saja di matanya, aku tak tahu.

“Hm, Yein-a…, kenapa kau cemberut terus?” celetuknya, akhirnya ia sadar dengan perubahan sikapku.

Ani, gwaenchanayo.” balasku singkat.

“Aku tahu kamu bohong. Ada apa? Ceritakan padaku.”

“Aku benar tidak apa-apa, Jungkook oppa!” tegasku.

“Benarkah? Tapi kenapa wajahmu seperti itu?”

“Seperti apa? Aku merasa biasa saja, tuh!”

“Kau benar tak mau jujur? Menutupi masalah dariku?” matanya menatapku tajam, dan itu benar-benar seram. Aku pun sontak menunduk, “Sebenarnya…” aku menggantungkan kalimatku.

“Sebenarnya apa, eo?” ia masih tetap menatapku intens.

“Kenapa sih oppa tak pernah memuji penampilanku? Semuanya bilang aku cantik saat memakai hanbok ini. Tapi oppa, pacarku sendiri, malah tak mengatakan apapun. Oppa menyebalkan!” dan kemudian aku pun mendorong dadanya dengan jengkel. Ia menghela napas perlahan, lantas menggelengkan kepala.

“Yein-a…,” ucapnya lirih sambil membelai lembut rambutku.

“Tanpa perlu aku mengatakannya, harusnya kau tahu kalau kau adalah yang tercantik di mataku. Wajahmu cantik, apalagi hatimu, teramat sangat cantik. Walau aku tak pernah mengatakannya, yakinlah kalau aku selalu meletakkan posisimu pada kursi terdepan di hatiku. Kau sangat cantik hari ini, esok hari kau juga masih cantik, bahkan hingga saat kau tua nanti, kau akan tetap jadi yang tercantik di mataku, dan juga di hatiku.” jelasnya sangat manis. Dan aku yakin, pasti semburat merah telah merona di pipiku sekarang.

Tangannya mulai menggeladik, dan perlahan-lahan kelima ruas jarinya menelusup ke sela-sela jemariku. Ia pun menggenggamnya erat sekali. Kemudian ia menyandarkan kepalanya pada pundakku dan sesekali mengendusi aroma apel rambutku. “Saranghae, Yein-a…” bisiknya tepat di telingaku. “Oppa, mwoya…” balasku dan lagi-lagi ia membuat semburat merah ini merona di pipiku.

– END –

Advertisements

10 thoughts on “[Vignette] Just Tell Me That I’m Beautiful, Oppa!

  1. ih kuki pake gengsi segala sama yein 😦

    school-life nya dapettt, aku suka^^ tapi jungkooknya jarang muncul… 😦 gapapa sih sebenernya hehe, akunya aja yg banyak mauu maafin yah V,V

    semangat terus nulisnya!!^^

    Like

      • ugh, ugh, jungkook kalimatmu yang terakhir2 itu cheesy sekali, summer gak kuat /wut/
        kuki, kamu gak pernah muji dek yein, tapi sekali muji dah macem pujangga tjinta aja :p /gagitu/

        tjieee, mz sunggyu jadi shippernya jeongin XD kita sama dong, ya? wkwk /gak/

        ficnya sudah bagus sih, cuman menurutku kata “hanbok” seharusnya di kasih italic, soalnya itu dari bahasa asing. lainnya keren XD wkwk

        sekian saran dari orang gak penting ini, maafkan kalau kebanyakan omong /digampar/ salam shalom! heuheuheu

        Like

      • Jungkook mah begitu suka ga peka tapi kalo dikodein jdi over reaction /gak
        Oh oke kak aku bakal perbaiki nanti, makasih sarannya 🙂 siapa sih kak yg bilang ga penting duhhh, seneng sekali diriku dikomen trs dikasih saran :’)

        Like

  2. Jadi keingat Jungkook yang lagi di tingkatan akhir, meskipun dia lulusnya nanti deketan sama aku (maklum beda negara) wkwk xD /kemudian ngakak sendiri
    Ok, bisa diabaikan yang di atas._.

    Yein-nya kesel Jungkook ngga perhatiin dia karena sibuk TOEFL, tapi Yein juga kemarinnya sibuk sama tugas /duh, aku banget/
    Jadi sama-sama sibuk ya:3

    Akhirnya, Jungkook mau mengutarakan kecantikan Jung Yein meskipun harus ditanya dulu sama Yein-nya :’) /Tapi kusuka yang tipikal kaya gitu sih/

    keep writing’-‘)/

    Like

  3. Ugh, ugh, manis. Aku cuma bisa bilang itu :”)
    Yein dan Kukinya sama2 kiyowo2 gitu sih jadi apa daya…Trus, Kukinya ternyata perhatian banget bikin jeles…#ahDasarMblo

    Ditunggu nyang manis2 yg lain ❤ ❤

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s