Posted in azeleza, LFI FANFICTION, Marriage-life, Romance, Vignette

[A Ship] Day 58

3

Love is…a Ship: Day 58

Author: azeleza

Cast : Kim Jiyeon (Kei) [Lovelyz] || Park Jimin  [BTS]

Genre : Romance – Married life

Length : ~ 1800 words

Rating : G

◊◊◊ Day-30 ◊◊◊

◊◊◊ D-58  ◊◊◊

Jimin selalu pulang larut. Sedangkan kelopak mata Jiyeon selalu mulai lelah setelah pukul sembilan. Tetapi malam itu, satu jam lebih berguling di atas kasur masih belum mampu membuatnya terpejam.

Jiyeon sedang rindu desa, kakeknya, apalagi neneknya. Seoul sama sekali bukan untuk dirinya.

Mendumal, Jiyeon akhirnya memutuskan untuk bangkit. Berjalan ke dapur sehingga mendapati Jimin tersedak air minum ketika melihat kehadirannya.

“Apa aku membangunkanmu?” tanya Jimin di sela-sela dehaman.

“Tidak.” Tentu saja tidak karena Jiyeon belum tertidur barang sejenak.

“Syukurlah,” ucap laki-laki itu tanpa sungguh-sungguh membuka mulutnya, namun gelombang suara yang khas itu masih bisa masuk ke dalam telinga Jiyeon yang memang peka.

Jiyeon berhenti di tempat. Pernikahan mereka siap memasuki bulan ketiga, sedangkan jarak minimal antara dirinya dan Park Jimin adalah satu meter lebih satu langkah –jika duduk di kursi yang berhadapan tidak masuk dalam hitungan.

Adapun sekarang jam setengah sebelas malam. Sejujurnya, ini malam pertama di mana Jimin tidak pernah membuatnya terbangun ketika laki-laki itu tiba di condominium –hibahan orang tua- mereka. Indera pendengarannya sensitif, pun tidur di ruangan berukuran 5×5 seorang diri membuatnya tidak nyaman sama sekali.

“Mau minum?” tawar Jimin dengan setengah wajah di dalam lemari pendingin.

“Tidak… Ada apa?”

Kelenjar keringat dalam tubuhnya sudah mulai bekerja. Hal yang wajar ketika Jiyeon gugup. Sebenarnya Jiyeon enggan berkata, namun ia sudah tidak mampu lagi membendung tanda tanya.

Hari pertama setelah rangkaian pesta berakhir, Jimin pulang pukul tiga. Paling sering pukul dua. Paling lama dua minggu yang lalu, pukul setengah lima. Namun, dalam seminggu terkahir ini, Jimin sudah tiba di condo pukul sepuluh malam.

Mungkinkah ada sesuatu?

“Mau?” Jimin menutup lemari pendingin, membawa sebuah apel merah dalam genggaman tangan.

Jiyeon menggeleng, menginginkan jawaban alih-alih pertanyaan.

“Apanya yang ada apa?”

Hei, ini…tidak aneh, kan? Tatapan mata Jimin semakin membuat kelenjar keringat Jiyeon bekerja. Ikut membangunkan hormon adrenalin yang memicu kinerja jantungnya.

“Aku tidak mengerti maksudmu, Jiyeon-ssi.”

Baiklah, namun otaknya masih dipenuhi keingintahuan. “Sekarang baru jam setengah sebelas.”

Jiyeon ingat betul bahwa ia sering mengabaikan pertanyaan Jimin, apalagi membiarkan laki-laki itu menunggu satu menit lebih untuk sebuah jawaban singkat. Karma. Ia baru sadar bahwa ini membuatnya kesal.

“Be…nar. Lalu?” Kerutan mulai terbentuk di dahi Jimin yang terekspos.

Sedangkan Jiyeon juga ingat betul bahwa kemampuannya berkomunikasi masuk ke dalam hitungan di bawah rata-rata. Ugh, jangan salahkan dirinya karena sulit beradaptasi dengan orang asing.

Tapi, Jimin dan dirinya sudah tinggal satu atap selama dua bulan. Terlebih, laki-laki itu adalah suaminya. Neneknya pasti akan bilang bahwa menanyakan kondisi suami adalah hal yang sepatutnya dilakukan seorang istri, kan?

“Kenapa…sudah pulang?”

“Oh!” Mata Jimin menjelma menjadi satu garis lurus, kemudian ia menggaruk kepala dan menyapu rambutnya ke belakang.

“Yoongi hyung sedang tidak ingin bertemu denganku”

“Siapa…?”

“Yoongi hyung itu komposer. Dia yang mengajariku bermain musik. Awalnya kupikir dia baik, tapi ternyata seperti jelmaan dino di film Jurasic -“ Jimin menaikkan sebelah alis, “Maaf, aku kebanyakan bicara.” Kemudian duduk di atas meja pantry.

Kuriositas Jiyeon sudah tumpah kemana-mana. Bahkan membuat Jiyeon lupa pada janjinya sendiri. Janji untuk berucap seminimal mungkin sebagai bentuk kekesalan terhadap hidupnya yang terjerumus pernikahan hasil rekayasa.

“Membuat lagu, ya?” ucap Jiyeon pelan…akhirnya.

“Ha?”

“Mimpimu. Alasan kita sekarang di sini.”

“Oh…itu. Iya. Maaf.”

.

.

.

Keheningan ini seratus persen bukan yang Jiyeon harapkan. Mungkin, kemampuannya menyampaikan pesan memang payah dan patut dipertanyakan.

Sungguh, Jiyeon hanya ingin tahu apakah benar hal tersebut merupakan mimpi Jimin selama ini. Tidak ada maksud untuk menyinggung pernikahan mereka yang…ayolah, sejatinya hanyalah bentuk perjanjian kuat dari kedua keluarga untuk saling bekerja sama.

“Hubungan kita mungkin tidak akan secanggung ini jika aku menolak.” Ada helaan napas yang tegas sebelum Jimin melanjutkan, “Ya, jika kita berdua sama-sama tidak setuju, besar kemungkinan pernikahan ini tidak akan pernah terjadi.”

Jiyeon menarik napas dalam-dalam. Ia mengantuk, tapi tidak bisa tidur karena memikirkan kebahagiannya di desa. Ketika kesempatan mengetahui Park Jimin lebih lanjut muncul untuknya, Jiyeon –dengan bodohnya- malah melempar bom atom. Membuka kembali brankas penyimpan topik yang tabu bagi keduanya.

“Aku-“

“Aku benar-benar ingin menjadi musisi.” Tatapan itu begitu sayu, namun menusuk sampai Jiyeon ikut merasa ngilu. “Maafkan aku, Kim Jiyeon.”

“Tap-“

“Aku benar-benar minta maaf.”

Maaf. Maaf. Dan Maaf. Sudah berapa kali Jimin meminta maaf padanya sejak mereka menikah?

Jiyeon memang kesal dengan ini semua, tapi ia sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa Jimin bukanlah pihak yang salah. Mereka berdua adalah korban dari ketamakkan kedua orang tua. Lagipula, Jiyeon menghargai semua orang yang bisa menjaga mimpinya. Sangat.

Karena ia telah gagal untuk menjaga miliknya.

“Kau terlalu naif. Aku besar di desa, tapi aku yakin kedua orang tua kita tetap akan memaksakan kehendak mereka,” ucap Jiyeon. Terkejut karena dirinya baru saja setengah berteriak.

“…”

“Maksudku, kau…tidak salah. Aku tidak suka…kau minta maaf. Iya, tidak perlu minta maaf,” ketika tatapan Jimin terus bersarang dalam matanya, Jiyeon tahu bahwa ia sudah mulai gila, “Lagipula, pernikahan ini tidak seburuk itu.”

Gila. Jiyeon yakin ia sudah gila. Tadi ia bilang apa?

Lalu tidak ada jawaban. Lebih dari satu menit. Kepala Jiyeon sudah terbakar malu dan kalimat yang keluar dari mulutnya –hei, serius? Menggigit bagian dalam mulutnya, Jiyeon berbalik. Siap berlari ke kamar, mengunci pintu, lalu tidak keluar selama seminggu kalau perlu.

Itu rencana awalnya. Yang kini telah menjadi wacana.

Karena kedua tangan Jimin lebih cepat mengurung Jiyeon, membuat Jiyeon harus menempel dinding dan terpenjara olehnya.

“Jangan bercanda. Pernikahan ini tidak seburuk itu? Kau menangis selama seminggu sebelum pernikahan kita.”

Dingin. Jiyeon tidak tahu bahwa malam hari di musim panas bisa sedingin ini. Tatapan Jimin membuatnya kedinginan.

“Jujur saja, kau masih menangis karena ini semua, kan? Karena aku? Karena suamimu adalah aku, kan? Bukan seorang laki-laki yang kau cintai, seperti yang kau impikan.“

“Apa…yang…kau tahu dari mana?”

Diarymu. Aku membacanya,” ucap Jimin, tanpa rasa bersalah. Kemana Jimin yang biasanya meminta maaf itu pergi?

Muak. Penilaiannya selama dua bulan ternyata salah. Jimin tidak sehangat itu, hei? Jiyeon merasa seperti perempuan bodoh. Menganggap bahwa hubungan mereka bisa menjadi baik secara perlahan.

“Kim Jiyeon, kau pasti sangat membenciku, kan?”

Keheningan itu membuat adu tatap keduanya diisi oleh ketidakpastian. Bagi Jiyeon, kegalauan.

Ia sudah tinggal selama dua bulan bersama laki-laki yang sama sekali tidak ia kenal. Mereka baru saling berkomunikasi bulan lalu, setelah Jimin terus mengajaknya bicara kendati yang Jiyeon lakukan adalah mengabaikan laki-laki itu. Lalu Jiyeon membuatkan Jimin sarapan tiap pagi. Bahkan akhir-akhir ini mereka makan bersama.

Awalnya membingungkan, tapi momen ketika laki-laki itu menyantap masakannya merupakan detik-detik yang membuat Jiyeon merasa hidup masih ada artinya.

Gila. Jiyeon benar-benar sudah gila.

“Aku tidak ingin bicara denganmu,” ucap Jiyeon, dengan bibir bergetar.

“Lalu kenapa kau tetap ada di sini? Kenapa kau tidak pulang ke desamu? Kau tahu bahwa aku tidak akan melarangmu, sedangkan kedua orang tua kita-”

Ketika bibir Jimin berhenti, Jiyeon mendapati tatapan dingin laki-laki itu berubah menjadi sepi. Seketika semerbak alkohol yang memasuki indera penciumannya membuat Jiyeon mampu menarik kembali air mata yang mendesak minta dikeluarkan.

“Hei…bukankah akan lebih mudah jika kita tidak saling bertemu? Tapi kenapa kau tetap ada di sisiku, Kim Jiyeon?”

“Karena aku istrimu, Park Jimin.”

Tawa yang dipaksakan memenuhi pendengaran. “Selera humormu rendah, Jiyeon-ssi. Ini sama sekali tidak lucu.”

Ada yang menyalak api di dalam hati Jiyeon. Kesal. Marah. Apa yang salah memangnya dengan kalimat itu? Tapi Jiyeon lebih marah pada dirinya sendiri ketimbang kenyataan.

Bahkan setelah ini semua, bagaimana bisa ia menganggap Park Jimin mungkin memanglah untuknya?

Lupakan itu dulu, sebenarnya apa yang salah denganmu, Park Jimin?

“Semua orang tahu, aku memang istrimu. Terlepas dari aku suka atau tidak dengan status itu. Tapi kau mabuk. Apa yang terjadi denganmu?” tanya Jiyeon serius, yakin bahwa Jimin yang mengalihkan pandangan menandakan sesuatu.

Neneknya selalu memeluk Jiyeon ketika kondisi hatinya jauh dari kategori baik-baik saja. Apakah akan berhasil jika Jiyeon yang melakukannya? Untuk laki-laki yang setiap hari selalu membuat hatinya bergetar hanya karena ucapan ‘terima kasih atas makanannya’?

“Hei, apa pedulimu, Jiyeon-”

Jiyeon tidak akan tahu jika tidak mencoba.

“Apapun yang terjadi, kau akan baik-baik saja, Park Jimin,” lirih Jiyeon, meyakinkan.

Tubuh Jimin yang hanya dilapisi kaus hitam terasa dingin dan kaku. Sedangkan jantung Jiyeon semakin mempercepat laju. Bagi Jiyeon, memeluk seorang laki-laki adalah hal yang baru.

“Park Jimin, aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Tapi terima kasih telah membuat pernikahan ini tidak seburuk itu. Karena alasanmu. Karena mimpimu. Yang…baru tadi saja aku tahu.”

Terlepas dari kesalnya Jiyeon pada semua paksaan ini, ia benar-benar ingin Jimin merasa lebih baik.

“Aku tidak akan tanya lagi kau kenapa. Tapi, yakinlah bahwa kau akan melewati ini semua. Jangan pedulikan apakah kau akan melewatinya dengan baik atau tidak. Karena jika seperti itu, kau akan lupa untuk bahagia, Park Jimin.”

.

.

.

Semenit adalah waktu paling lama yang biasanya Jiyeon habiskan untuk menentukan apakah ia akan membalas perkataan Jimin atau tidak. Begitu sering ia menghitung semenit dalam hati. Namun kini, Jiyeon lebih tertarik menghitung detak jantung Jimin yang memasuki pendengarannya. Dan ternyata, suhu tubuh laki-laki itu tidak sedingin yang Jiyeon kira.

“Terima kasih.”

Jiyeon menengadah, mendapati paru-parunya nyaris kehabisan udara ketika yang ia lihat adalah wajah Jimin yang begitu dekat dengan miliknya, “I-iya.” Dan sebuah senyum terpampang jelas memperlihatkan gigi putih laki-laki itu yang ternyata tidak rata, namun malah semakin manis bagi Jiyeon dan otaknya yang sudah gila.

Oh, atau hatinya.

“Aku memang sedang kacau belakangan ini. Entahlah. Yoongi hyung  marah karena aku mengambil beberapa nada dari lagu-lagu kontemporer Latin sana. Well, ini salahku memang. Aku benar-benar ‘mengambil’nya. Lalu aku kesal sendiri dengan ketidakmampuanku. Bahkan sampai membuatmu terkena imbasnya. Berpikir jika aku tidak berlagak ingin terjun ke dunia musik, kau pasti sedang menjalani hidupmu dengan bahagia, membuka toko bunga di rumah kakekmu. Bertemu dengan laki-laki yang kau cinta, lalu-“

“Kata nenekku, kau harus banyak salah sebelum menjadi profesional…Sebarapa banyak kau membaca diaryku?” potong Jiyeon, mulai kesal lagi karena Jimin membaca privasinya.

“Em…hanya bagian itu. Maaf,” ucap Jimin, kemudian mempererat tubuh Jiyeon tanpa lupa menyatukan kening keduanya. “Dan terima kasih, Kim Jiyeon. Nenekmu, juga.”

Yang kini Jiyeon lihat adalah mata Jimin yang menutup. Bersama napas laki-laki itu yang menerpanya dengan teratur. Sedangkan miliknya beradu tak menentu. “Lalu bagaimana denganmu?”

“Apa?” tanya Jimin, masih menutup kedua mata.

“Apa kau akan bahagia jika pernikahan ini tidak ada?”

Kemudian seluruh sel yang ada di tubuh Jiyeon menghardik keputusan pita suara yang telah mengeluarkan kata-kata tersebut. Jawabannya pasti-

“Tidak tahu.”

-mengecewakan. Hei, sebenarnya apa yang Jiyeon harapkan? Mereka berkenalan dengan cara yang tidak normal. Hubungan mereka pasti tidak akan semudah itu menjadi indah, kan?

Sedetik kemudian mata Jimin terbuka untuk membalasnya. Membuat Jiyeon tidak tahu harus berbuat apa ketika wajah Jimin mendekatinya. “Aku masih setengah mabuk, tapi yang aku tahu sekarang aku ingin menciummu, Kim Jiyeon. Berharap bisa memilikimu tanpa campur tangan kedua orang tua kita.”

Jiyeon enggan memikirkan alasan, makna, apalagi teori atas apa yang sedang terjadi. Bibir Jimin yang menyapu miliknya membuat Jiyeon kehilangan koneksi dengan dunia. Membuat satu pertanyaan tertelan begitu saja bersama malam dan sebuah ciuman.

“Apakah pernikahan ini bisa membuat kita bahagia?”

◊◊◊ a Ship ◊◊◊

◊◊◊ tentang Day-58 ◊◊◊

Jiyeon peduli sama Jimin, sekian :”D Dia tuh kepo gitu sama cowo yg dia nikahin…ya iyalaya. Selamat mba Kei sudah selangkah lebih tau mz Jimin :”D

Oh, Day-30 itu 2 sudut karena, iseng? wkwkwk tapi emang maunya gantian gitu sih sudut pandangnya. Mungkin nanti Jimin mau cerita2 abis mabok dia ngapain… :”D

KeiMin pamit tutup kamar buku dulu

Nantikan uri Ryuvely dan TaeTae…kapan-kapan…iya kapan ya? #dihajar

◊◊◊ curhatan azel ◊◊◊

Awalnya, a Ship ini punya format sendiri. Kepo kenapa judulnya ‘a Ship’ padahal Jimin sama Jiyeon tinggalnya di Seoul bukan di kapal bajak laut? #ditampar

Ini karena awalnya aku mau nyeritain kisah mereka dengan prompt yg bahasa inggrisnya ada akhiran ‘-ship’nya. Kayak, Friend-ship, Hard-ship, Skin-ship /iya, ini iya wkwkwk/

Kalo friend-ship, aku mau nyeritain mereka temenan dulu lalu ya gitu, kek cinta2 yg nyaman kayak persahabatan gitu. Trus hard-ship, ya Jiyeon yg tetep ngedukung Jimin di saat sulit. Trus Skin-ship…IYA, GAK PERLU AKU JELASIN LAGI LAH YA INI MAKSUDNYA APA…engga, iya, engga rated kok aku teh engga liar orangnya #dipelototinYoongi

Lalu, kenapa berubah? Karena sejatinya Azel hanyalah perempuan biasa yang masih penuh kegalauan dan suka wacana :”D #mintaMaapSamaDiriSendiri

Jadi, karena aku suka Kei dan Jimin dan KeiMin /uh kembang gulaku/ jadinya mikirin mereka mulu gitu dengan kisah yg random abis…sedangkan kalo harus ngikutin format awal, keknya bakal sulit nyamain ide ._.

BAIKLAH, MAAFKAN KARENA MEMENUHI LFI DENGAN BANGLYZ YANG KISSU KISSU DALAM SATU HARI. DIKIRIM HARI INI KARENA BESOK MAU NUGAS.

LUVS ❤

Terima kasih selalu. Sejatinya aku gak nyangka bakal nulis FF sebanyak ini :”) ❤

Advertisements

Author:

Don't stop. Just run!

24 thoughts on “[A Ship] Day 58

  1. HALO LAGI KAKZEL!^^
    ciye yang ngebut bikin ff krn mau nugas di hari minggu a.k.a pra-senin:’) [<- istilah ini dikenalkan sm kakakku yg udah lulus kuliah HAHAHA(?)]

    aku, lagi-lagi, gabisa komentar banyak T.T udah baguuus, dan ga ngeh kalaupun ada yg salah u,u keimin yg sama2 cute, disatuin, menjadikan ff ini overloaded with cuteness :’3

    besides, aku suka judulnya. a ship :3 bener juga sih kak, biasanya cinta itu membentuk sebuah hubungan; ship. relationship dan friendship udah jadi contoh paling nyata [YES, HARDSHIP AND SKINSHIP IS ALSO INCLUDED hehehe(?)]

    tenang aja kak kei, pernikahanmu dgn bang chim bakal buat kamu bahagia, lahir dan batin pulak :’)

    sekian dulu yah kak, semangat terus jangan nyerah cause you know I always got your right back~ /halah

    Liked by 1 person

    1. HALO LAGI, NIGHT :3
      wkwkwk sebenernya ngebutnya bukan karena mau nugas, soalnya ini udh dibuat di sela-sela hantaman tugas 😄 cuma revisinya sih iya T_T banyak yg diapus loh itu #menangisiMomen2YgHarusDipangkas WHOAA PRA-SENIN, LUAR BIASA, AKU TIDAK AKAN MENGENAL HARI MINGGU LAGI SETELAH INI :””D

      ihiks, makasih Night…iya..keimin tuh…duh…manis. aku harus apa?? :”) di otakku mereka kapel yg harmonis gitu loh. gak bisa tuh aku mikirin mrk kek SuJi yg berantem, ato kek 94z yg kalem2 tp kek mo mati, ato kek RyuTae yg BISA DIAPAIN AJA WQWQ.

      iya…huhuhu pdhl aku udh nyari2 kata2 apa aja yg akhirannya -ship. ihiks. but…ah sudahlah 😄 betul betul, mungkin ini suruhan otak supaya aku gak macem2 pas bagian SKINSHIP! #semediMemurnikanOtak :””D

      MEREKA HARUS BAHAGIA NIGHT! APAPUN YANG OTAK AKU SURUH DALAM MENULIS KISAH MEREKA, HATI AKU TTP MAU MEREKA BAHAGIA!! UGH! #pencintaAkhirBahagia :”D

      HUAAA, SELALU MAACI NIGHT ❤ ❤

      Like

  2. yeay banyak skinship 😀
    Sudah hakikatnya sih istri itu ngurusin suami wkwk
    itu mas jimin ngapain mba kei :”D gangerti sama kak azel deh :”))))
    Pasti chapter selanjutnya mereka udah membangun hubungan yang baik:D ditunggu chapter selanjutnya kak azell

    Liked by 1 person

    1. eh tapi kurang banyak tau nas #LOH #AZELOTAKNYA
      Neneknya Jiyeon ini ya orang tua yg masih menganut pemikiran itu wkwkwk. Beda sama ortunya Jiyeon yang…#menghelaNapas… :”)

      IYA AKU JUGA KURANG PAHAM. MANA JUJUR BANGET LAGI. PAKE ALASAN SETENGAH MABOK. HUH.

      semoga nas…semoga…

      MAKASIH ANAS UDAH BACA, KOMENTAR, DAN NUNGGU SELANJUTNYAAH ❤ ❤ ❤

      Liked by 1 person

  3. AH, KAKZEL SELALU BIKIN SAYA DIABET SAMA KEIMIN :””) /setelah semalam diracun banyak delulu banglyz/ oke, ini gapenting sekali 😂

    dan seperti biasa aku gabisa komentar apa2 soal diksinya mah :”) hacep banget, huhuhu. dan sejauh ini hubungan keimin mulai menanjak ke yang baik2 <33 mz jimin juga pake acara CIUM2 MBA KEI ITU MAKSUDNYA APA, HAH? :””) BENERAN MAU BIKIN SAYA DIABET KAYAKNYA, WKWKWK

    tetep semangat buat semuanya kakzel, aku akan menunggu fic ini sampai day-xxxx yang lainnya 😄

    Liked by 1 person

    1. sebenernya rito, aku gak ngapa2in mereka aja mereka udh ngebuat kita diabet :”D MABOK DELULU BANGLYZ AKU JUGA CAPEK ATI </3 /tapi mau lagi…/

      huaa, maaci rito…iya baik…entahlah, aku rasa Jimin gak sesimpel itu pikirannya #iniSpoiler? T.T

      MABOK ITU SETENGAH MABOK. BIARIN AJA.

      MAACI RITOO ❤ :3 day-1000nya ditunggu deh wkwkwk

      Like

  4. /Mau curhat dulu/
    Aku baca ini di tengah ngerjain tugas yang deadlinenya besok T^T
    Tapi karena iseng ngeliat update-an dan nemu fanfict kak Azel yang ternyata lanjutan series Keimin, ya ampun, ga tahan buat buru-buru baca 😄
    Mereka udah mulai ya, membangun a ship, yang bakal ngebuat kemajuan bahtera rumah tangga mereka… yang awalnya, kaku dan penuh kecanggungan:3
    Tapi di Day 58 ini… udah kaya makan kembang gula><

    Kutunggu series selanjutnya dan yang lainnya, /makin penasaran dan semangat buat nunggu XD/
    Semangat kak Azel ^o^

    Liked by 1 person

    1. UGH, SEMANGAT KITA YG DEADLINE TUGASNYA SAMA2 BESOK SENIN!!! FIGHT FIGHT~ Makasih udh nyempetin baca dan komen di tengah2 tugasnya :”D

      UH, IYA, ITU SALAH SATU ALASAN LAIN KENAPA INI NAMANYA A SHIP. KOK TAU SIH?? PIKIRAN KITA KOK YA SAMA :”D itu, dan makna lain dari a ship dan day2 ini ya mereka lagi berlayar gitu kesannya…ya gitu deh #sukaGakJelasMilihJudul

      GULA! GULAA! KEIMIN ADALAH GULA~~

      Huee, makasih udah mau nunggu Ai :3 Semangat jg RLnya ya Ai ❤

      Like

  5. Ka Azel…. ini.. ini.. ahhh aku bisa terserang diabetes mendadak ini kak ㅠㅠ

    Baca fic ini sambil nunggu guru pengajar dijam pertama dan berakhir malah jadi perhatian teman sekelas karena pagi-pagi sudah tidak waras, ketawa terus senyum dan cekikikan sendiri. x))

    Ini Jimin mengalami perkembangan sedikit, sudah sedikit mulai terbuka dia. Ahh lucunya pasangan dijodohin ini, ku jadi iri :’3
    Konfliknya juga sudah sedikit mulai keliatan ini kak, jadi bikin greget.

    Baca ini berasa ngeliat gula-gula bertebaran –walau sebenarnya ku gak suka gula– ahh manisnya tidak terdefinisikan/? 😄

    Liked by 1 person

    1. Huwaaa coba makan yg pedes2 biar netral :””)

      Duh, terimakasih gurunya ryukyu yg telat dtng wkwkwk xD

      Iyaaa, mrk mulai berkembang kek kepompong lalu berubah menjadi kupu2…/engga zel engga/ konfliknya akan bertambah atau berkurang tergantung mood aku keknya ryukyu :”) orang tua aku dijodohin loh ryukyu /trus knp/ jdnya aku sih sbnrnya mendukung2 aja hubungan mrk kan siapa tau anak mrk jd kek aku kan /loh makin ngawur…/

      HUAAA KAMU GAK SUKA GULA? KOK BISA?? :””) KEIMIN INI TUH BAKAL GULA2 MULU PADAHAL. AKU AKAN MENGUBAHMU MENJADI PENYUKA GULA GULA ♡♡♡ /maksa maksa/ xD

      Maaci ryukyu udh baca dan komentar :3

      Like

  6. Hai kak azel…
    Krikkrik krenyes/hening/
    Tadi kan aku udah baca cuman belum sempet komen/ga mau jadi siders ataupun siders/ jadi sekarang aku balik lagi/ngeeng/
    Konfliknya bikin aku serangan jantung dan jantung aku juga kaya sempet berhenti gitu/mati dong?engga/ terua itu ko chim-chim nya kisseu sama kei? Ya kan? Suka sih, cuman ga ikhlas/ikhlasin aja lah nifa biar kapal cinta banglyz terus berlayar/ aja aku, ga ikhlas nya karena keburu habis…krikkrik
    Ah, kenapa aku selalu suka ffmu kak? Aku bingung, ff kakak itu terlalu indah ato terlalu enak/emang makanan/ dibaca,ato gimana? Aku bingung heuheu
    Yah sekian aja sebelum sepanjang kemarin, ga mau mubazir/uuh/
    Pokoknya kusuka-lagi dan selalu- ff karya kak azel…
    Two thumbs up..😊

    Liked by 1 person

    1. Huaaaa makasih nifa motto hidup gak mau jadi sidersnya :”)

      Huaaa jgn gitu kamu blm baca kisah2 mrk selanjutnya nif ❤

      IYA…itu dicium…lg mabok dia….hiks….ga…gak tau /ini azel jg gak terima ini mrk kissu kissu T.T/ wkwkkwk xD

      MAKASIH NIFAAA. Semoga kamu gak bosen2nya suka kl gitu :”) ❤ ❤ ❤

      Makasih nifaaa :”3

      Like

  7. Hai Zel, mampir sebentar di sini ya, mau komen nih 😀
    Aku rapel boleh gak komennya dari Day 30, Day 58 dan Hello Kiss ??

    Sesuai ekspetasi awal, ff-mu gak usah diragukan lagi Zel, KEREN x100
    Alurnya mudah dimengerti, cuma mungkin aku agak lama mikir pas baca Day 58, karena aku gak baca yg Day 30 dulu dan itupun kondisiku baru bangun tidur wkwkwk 😀

    Semua pairingmu, aku sukaaaa bgt. Keimin, Kookie-Yein ❤ ❤
    Ditunggu next stories-nyaa, Jgn bosen2 nulis ff, kami disini mendukungmu Zel 🙂

    Byee ~~

    Liked by 1 person

    1. HAI IMEEEI ❤ MAKASIH UDH MAMPIR LAGI KU SENANG :3

      huaa rapel komen wkwkwk makasih Imei apapun mah boleh :”)

      Hooo, gitu2, hihi makasih udh ngasih tau aku kalo ffnya mdh dimengerti wkwkwk jujur aku sendiri susah nilai ff orang dan ff ku sendiri…taunya cuma perasaan “ugh aneh, blm pas, etcetcetc” /curhat/

      Aku…BANGLYZ SHIPPER KERAS IMEI JADI MAAFKAN JANGAN BOSEN2 SAMA KOPELAN MERAKA YAH :”) huhuuu makasih Imei semangatnyaaaa ditunggu jg tulisan2nya yg lain :3

      Babaiiii~~ /jgn lupa nugas udh semester tua… T.T/

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s