[Freelance] Love Your Self

loveyourself

Love Your Self

Author: ANi | Main Cast: Kim Jiyeon (LOVELYZ), Cristina Fernandez Lee (Ulzzang), Do Kyungsoo (EXO) | Genre: Psychology, Friendship, Musical, Mystery, Trhiller, AU, Angst(gagal) | Rating: PG-15 | Length: Oneshoot

This is my story, just mine. The cast is not mine. Warning Typo’s everywehere, guys. Don’t be plagiat and Siders^^

Ini panjang, serius panjang banget…

Jiyeon memeluk kedua lututnya bergemetar. Ia takut.”Jiyeon, buka pintu nya!” Seru dari luar. Gadis itu semakin erat memeluk lutut sendiri. Giginya bergemertak ketakutan, mengigil. Gedoran pintu kembali terdengar di rungu Jiyeon, sangat kertas. Dan sangat mengganggu.

“Jiyeon, ini Ibu! Cepat buka pintunya!” Suara Ibunya mengalihkan fokus Jiyeon yang berawal memancarkan rasa takut ke arah pintu.

Tapi setelah itu, ia semakin ketakutan. Menengok resah ke semua arah. Bersembunyi di bawah meja benar-benar menyiksa, bukan tempat baik untuk bersembunyi persis seperti di lemari pula yang tak aman.

“Buka paksa pintunya, aku tak peduli.” Ujar Ibunya pada orang yang bersama wanita paruh baya itu. Penuh dengan penekanan perintah.

Jiyeon semakin bergerak gelisah di bawah meja. Celaka. Satu-satunya cara ia bisa keluar dari rumah ini adalah…dengan keluar dari jendela. Lalu risiko paling besar adalah ia harus siap kaki jenjangnya cedera. Tapi gadis itu tak sama sekali memikirkan risiko atau sekedar memikirkan bagaimana cara terbaik.

“Cepat buka!”

Kyungsoo berjalan tergesa ke arah halte bus. Hujan yang tiba-tiba turun membuat Kyungsoo harus berjalan cepat. Tapi apa daya, air-air yang sudah tertampung di langit tak kuasa menahan beban berat untuk turun. Hal paling menyiksa seumur hidupnya adalah, basah kehujanan.

Hujan yang deras pun langsung turun. Untung, Kyungsoo sudah berada di bawah atap halte bus. Jadi ia takkan kebasahan saat sampai di apartemen.

Sekitar 5 menit hujan deras disertai guntur yang bersahutan, seorang gadis datang. Memeluk tubuhnya sendiri yang basah kuyup. Bibir nya berubah menjadi biru dan wajah nya pucat. Kyungsoo merasa iba melihat gadis itu, tapi ia masih tak punya keberanian untuk menghampiri.

Dan yang terjadi, gadis itu menghampiri nya dan duduk di samping Kyungsoo. Tubuh nya mengigil kuat, Kyungsoo semakin khawatir melihat gadis itu. Terlebih hanya celana jeans selutut warna hitam dan sweater tipis.

“Nona, apa kau kedinginan?” Pertanyaan konyol pertama dari mulut Kyungsoo.

“Uh, apa? Kau tadi bilang apa?” Tanya gadis tersebut menatap polos Kyungsoo.

“Tidak.” Sahut Kyungsoo canggung lalu melepas mantel hitamnya sendiri. Memberikan mantel tersebut pada si gadis dan memakaikan nya.

Kyungsoo membuka pintu apartemen, mempersilahkan seorang tamu masuk.”Kau bisa pakai sandal ini.” Kyungsoo berjala ke arah rak dan mengambil sandal putih untuk di pakai tamu itu.

Dentingan suara piano terdengar dari ruang tengah, Kyungsoo tersenyum tipis dan membawa tamunya tersebut ke ruang tengah. Terlihat seorang gadis kecil membelakangi mereka. Surai hitam kecoklatannya bergoyang pelan seiring dengan tubuh yang bergerak.

“Tina, ada tamu.” Ujar Kyungsoo menghentikkan permainan dari gadis kecil tersebut.

Tubuhnya berbalik dan menatap Kyungsoo yang tersenyum cerah. Tapi gadis kecil tersebut, terheran-heran melihat seorang tamu yang tepat berada di samping Kyungsoo.”Tina, tak apa kan kalau gadis ini tinggal di apartemen kita sementara waktu?” Tanya Kyungsoo.

Jiyeon bergerak gelisah di bawah selimut. Bukan karena ia takut akan kegelapan, tapi ada sesuatu yang membuatnya resah. Di sebelahnya, seorang pria sudah terlelap. Sedangkan dia? Masih terjaga dan ini entah jam berapa. Matanya saja seolah enggan untuk menutup.

Toktoktok~

Jiyeon menyibakkan selimut dan berjalan ke arah pintu. Membuka pintu itu perlahan dan tampak seorang gadis kecil bersurai hitam kecoklatan mengucek satu kelopak matanya.”A-ada apa?” Tanya Jiyeon pelan lalu membawa gadis kecil itu ke kamarnya.

“Aku ingin tidur tapi tidak bisa. Apakah Kyungsoo oppa sudah tidur?” Tanya gadis itu juga.

“Dia sudah tidur. Tina tidur saja, aku temani.” Ujar Jiyeon lalu membawa gadis itu ke atas kasurnya. Menutup separuh tubuh Tina dengan selimut lalu mengelus surai Tina.

“Kalau begitu, eonni tidur saja disini.” Sahut Tina dan menarik Jiyeon untuk tidur di sebelahnya. Membaringkan paksa tubuh Jiyeon disamping nya.

Kyungsoo melahap roti nya perlahan, sambil melirik seorang gadis yang sedang mengoleskan roti yang dipegang gadis tersebut dengan selai stroberi. Sedangkan gadis kecil yang duduk di sebelahnya sibuk mengunyah dan menulis. Lalu ditambah 2 orang teman Kyungsoo, Jongdae dan Baekhyun.

“Dia siapa? Kekasihmu?” Tanya Baekhyun ketus. Tersirat rasa iri dalam nada bicara pria berwajah bayi tersebut.

“Apa? Kekasih? Yang benar saja, Byun Baekhyun.” Desis Kyungsoo.

Jongdae yang sedari tadi hanya diam ternyata melihat setiap gerak Jiyeon yang cekatan. Setelah mengoles satu roti dengan selai stroberi, ia memberikan roti tersebut pada Tina yang langsung di lahap oleh gadis berumur 10 tahun itu.

“Siapa namamu?” Tanya Jongdae lalu meminum teh buatan Tina.

“A-aku Kim Jiyeon.” Sahut nya gugup, lalu Jiyeon mengalihkan wajah nya ke arah Tina. Tersenyum paksa.

“Kau teman Kyungsoo?” Tanya Jongdae lagi. Masih penasaran dengan sosok Jiyeon.

“Bu-bukan, aku bertemu dengan Kyungsoo kemarin. Kami baru berkenalan sehari.” Jiyeon memainkan jari nya di pinggiran cangkir, terlalu takut dan gugup menatap mata tegas Jongdae.

“Jadi kalian baru bertemu SEHARI?!” Pekik Baekhyun, meneguk kasar kopi hitam miliknya. Menatap garang Kyungsoo yang duduk disebelahnya dengan menutup kedua telinga.

“Dan…dan dia sudah MENGINAP disini?! Yang benar saja kau, Do Kyungsoo!”

“Kenapa? Kau iri pada Kyungsoo yang dapat gadis cantik dalam sehari kenalan?” Cibir Jongdae dan tertawa sinis.

Jongdae, menghampiri Baekhyun yang sedang duduk santai di kursi tunggu dengan jas putih dokter. Memberikan satu cup kopi hitam yang masih mengepul pada Baekhyun dan duduk di samping nya.”Masih curiga dengan yang tadi?” Tanya Jongdae.

“Yang mana? Bagaimana Kyungsoo bisa mendapatkan gadis cantik seperti Jiyeon?”

“Hm..” Melirik sekilas apa reaksi Jongdae, tapi yang ia lihat wajah sendu.

“Aku heran, tapi setelah aku ingat kalau Jongin punya sepupu bermarga sama jadi aku tak heran.”

“Apa? Jongin?” Desah Jongdae. Pernyataan Baekhyun masih ambigu. Apalagi Jongin-si pria kulit hitam nan seksi-ikut terbawa.

“Iya, aku baru ingat kalau Jongin punya sepupu wanita. Satu tahun lebih muda, nama nya Kim Jiyeon. Aku berspekulasi bahwa Kyungsoo mengenal Jiyeon dari Jongin. Atau mungkin Jiyeon lah adik Jongin selama ini.”

Jiyeon menggandeng tangan Tina dengan erat. Sama seperti kemarin saat ia bertemu Kyungsoo-atau lebih tepat nya saat ia kabur dari rumah-dan dibawa oleh pria bermata bulat tersebut ke apartemennya untuk tinggal sementara.

Eonni, mau es krim?” Tanya Tina dengan senyum cerah gadis nya. Masih teralalu fokus dan mengabaikan Tina, bocah berumur 10 tahun itu dengan terpaksa mencubit pelan tangan Jiyeon.

“Tina, itu sakit.” Jiyeon mengelus tangannya setelah mendapat cubitan. Melihat mata polos Tina, ia tak tega memarahi gadis itu.

Eonni dari tadi melamun terus. Aku tanya, eonni mau es krim tidak? Kita beli es krim sekarang di kedai bibi Kim.” Ujar Tina dan menarik tangan Jiyeon yang baru saja terkena cubitannya. Mengelus tangan merah itu dan meniupnya berkali-kali.

“Em, kau punya uang? Aku tidak punya uang untuk beli es krim.”

“Punya. Kyungsoo oppa tadi pagi memberiku uang untuk membeli sesuatu.”

Tina yang sibuk menikmati es krim rasa vanila seolah lupa akan dunia sekitar. Sedangkan Jiyeon terlalu serius mengamati Tina yang punya wajah manis. Katanya mereka kakak beradik tapi wajah mereka berbeda.

“Kyungsoo itu oppa mu?” Tanya Jiyeon membuyarkan fokus Tina.

“Iya. Dia oppa ku, sebenarnya bukan oppa kandung. Kami bukan saudara, apalagi hubungan darah. Kami berdua sama-sama dari panti asuhan.” Hati Jiyeon seperti tertusuk mendengarnya.

Mereka tak punya hubungan darah. Mereka bukan juga orang yang saling mengenal-dulu nya. Bukan juga seseorang yang saling di kenalkan satu sama lain. Tapi mereka bertemu di panti asuhan saat Tina masih kecil.

“Saat aku berumur 5 tahun dan oppa berumur 18 tahun, oppa pernah berjanji. Dia bilang akan membawaku pergi dari panti asuhan setelah dapat pekerjaan. Lalu 2 tahun kemudian oppa membawaku keluar dari panti asuhan dan tinggal di apartemen yang di sewanya waktu itu. Jadi kami sudah lebih dari 2 tahun tinggal bersama dan oppa selalu bekerja siang-malam untuk mencari uang.” Tutur Tina, gadis itu tak sungkan untuk di keduk bagaimana masa lalunya. Itu seperti hal  yang wajar untuk dibicarakan bagi Tina.

Tak kuasa menahan rasa iba, Jiyeon menggenggam lengan mungil Tina. Gadis itu benar-benar malang, baru kali ini ia merasakan rasa sakit lewat cerita orang lain. Biasanya Jiyeon tak pernah merasa sesakit ini.

Tapi tiba-tiba, rungunya mendengar sebuah dengungan panjang. Teriakan rasa sakit yang begitu kental akan menyedihkan. Membuat Jiyeon harus rela terpaku.

Gadis kecil itu berusaha melepaskan diri dari cengkraman seorang pria yang berusaha untuk mengikatnya di atas kursi. Bersamaan dengan hal itu, pintu kayu bercat putih terbuka lebar. Menampakan dua sosok dewasa paruh baya yang di kenal gadis kecil tersebut.

“Lepaskan dia.” Suara keras itu memantul berkali-kali, membuat si gadis tersentak. Itu bukan suara yang di kenal nya. Bukan juga raut wajah yang dilihatnya seperti biasa menjelang malam yang selalu tersenyum hangat.

“Lalu, Tuan akan apakan gadis ini? Bukankah sudah saat nya ia dibunuh karena tau semua nya? Jika Tuan mengulur waktu terlalu lama, gadis ini akan semakin memberontak dan akan membuat Tuan juga Nyonya masuk penjara karena kasus pembunuhan itu.” Bentak pria yang memegang kuat kedua lengan gadis kecil itu dibelakang tubuhnya.

“Bawa dia ke gudang, biarkan dia ada disana untuk sementara waktu.” Suara dingin seorang wanita membuat gadis itu kembali tersentak. Berkali-kali ia memberontak minta dilepaskan atau melolong mencari bantuan, tapi sekarang kedua orang taunya malah meminta ia dimasukkan ke gudang?

“Ibu…” Lirih gadis itu dan,

Suara tembakan terdengar.

Satu peluru bersarang di kaki gadis kecil tersebut. Merintih kesakitan, gadis itu menangis meraung. Menahan peluru panas yang sengaja ditembakan oleh pria yang selalu di panggil nya dengan sebutan Ayah.

“Dengar, kaki mu akan sembuh jika kau tak MENANGIS. JADI BERHENTILAH MENANGIS, karena aku benci suaramu. Sangat jelek sekali.” Decih pria tersebut dan membanting pintu gudang.

Darah sudah bersimbah dimana-mana, yang bisa ia lakukan hanyalah diam menahan sakit. Tangisan bukan lagi jadi sesuatu yang akan membantunya. Tapi kini satu persatu air mata keluar, bukan menangis. Tapi menahan rasa amarah yang berkecamuk.

Jiyeon mencengkram kepalanya erat, ingatan-ingatan usang itu kembali. Ia benci mengingatnya. ia benci untuk membuka kembali lembaran itu. Lembaran yang selama ini selalu menghantuinya dalam mimpi, bahkan dalam setiap ia berjalan satu langkah pun bisa saja ingatan itu muncul.

Perlahan, satu tetes darah mengalir pelan dari hidungnya. Tina memekik nyaring melihat benda cair kental berwarna merah pekat itu keluar. Semua orang yang berada di sekitar nya berbondong-bondong menghampiri Tina, menyadarkan Jiyeon dari bayangan gelapnya.

“Tina!” Panggil seseorang membuat Tina menangis kencang tak karuan.

Pria berahang tegas mendatangi Tina lalu berjongkok di depan gadis itu. Melihat untuk pertama kalinya bagaimana darah mengalir deras dari hidung Jiyeon yang sudah pucat pasi tapi masih tetap diam.

“Jongdae oppa, bantu eonni. Bantu eonni.” Lirih Tina lalu mendorong Jongdae ke arah Jiyeon.

Seketika Jiyeon terjatuh, untung nya seorang pria sigap menahan tubuh Jiyeon untuk tidak jatuh ke lantai.”Bawa dia ke mobilku Chanyeol. Hyung, tolong bawa dia pulang.” Satu pria yang bersama Jongdae menarik Tina pelan, membawa kedalam pelukan dan gendongan teman Jongdae bertubuh mungil itu.

Dan satu pria tinggi membawa Jiyeon ke mobil Jongdae bersamaan dengan pria itu mengekori di belakang nya.”Oppa..” Lirih Tina dan memeluk erat tubuh teman dari Jongdae.

“Iya, oppa disini.”

“Ini kompensasi mu. Kerja kemarin cukup bagus, pertahankan untuk terus seperti itu.” Seorang wanita paruh baya menyerahkan amplop cokelat tebal tersebut kehadapan seorang pria bertopi hitam dihadapan nya.

“Panggil Kai. Dia harus menghadapku sekarang.” Tambah nya membuat pria tersebut mengangguk pelan.

Tak berselang lama, seorang pria dengan kulit tan datang. Berjas formal rapi dan raut wajah nya yang terkesan dingin itu benar-benar pemandangan yang sangat tak diinginkan wanita paruh baya itu.

“Bawa dia pulang untukku. Sisanya biar aku yang bereskan.” Desis wanita itu.

“Kau membuat Ayahku menahan malu dan harus menanggung semua nya. Pernahkah kau berpikir seperti itu?” Tanya Kai dingin.

“Dengar Kai Kim, ak-“

“SUDAH AKU KATAKAN, jangan panggil aku KAI. Kau mau aku menggorok leher mu?!”

“Lalu, apakah kau ingin memakai nama Kim Jongin terus? Kau sama saja seperti Ayahmu kalau begitu.” Ejek nya dan mendekati pria tersebut.

“Kau, membuat semua nya bertambah kacau. Persis seperti suami mu.” Ketus nya dan pergi. Membanting pintu kayu cokelat ruang kerja wanita paruh baya itu.

“Kyungsoo, kau sudah berteman dengan ku lama. Jadi terima lah. Ini juga demi kebaikanmu dengan Tina, lalu bukan kah ada anggota baru?” Tanya Joonmyun yang duduk santai di sofa ruang kerja berdampingan dengan Kyungsoo.

“Begini, kalaupun aku sudah punya uang cukup banyak aku pasti bisa membeli rumah untuk tempat tinggal ku bersama Tina. Kau tak perlu khawatir denganku juga Tina. Dan soal anggota baru itu, dia hanya akan menumpang di apartemen sementara waktu.” Kyungsoo menolak sopan atas apa yang diberikkan Joonmyun padanya. Terlebih saat pria itu memberinya amplop cokelat berisi sejumlah uang untuk nya juga Tina.

“Begini, aku dengar kabar dari Jongdae. Dia bilang seorang gadis bernama Kim Jiyeon menginap di rumah mu untuk sementara waktu. Jongdae juga bilang padaku kalau Baekhyun tau Jiyeon adalah sepupu Jongin.” Joonmyun kembali meneguk air mineral nya perlahan, menunggu reaksi Kyungsoo selanjutnya.

“Sepupu?” Tanya Kyungsoo.

“Iya, Baekhyun yang mengatakan itu pada Jongdae. Ini demi kebaikan mu juga Tina. Akhir-akhir ini Jongin sering sekali marah-marah, Sehun yang laporkan itu padaku. Dia bilang sepupunya kabur dari rumah.”

“Apa maksudmu dengan mengatakan hal itu?” Tanya Kyungsoo yang dapat firasat tidak enak saat melihat raut Joonmyun yang berubah drastis.

“Ini demi kebaikan mu juga Tina, Kyungsoo. Bukan hanya sekedar kebaikanmu padaku yang kubalas dengan ini, tapi ini demi kau juga Tina.” Kyungsoo mengangkat satu tangannya menghentikkan perkataan Joonmyun yang belum rampung.

“Tidak, kau bilang Jiyeon sepupu Jongin.” Menghadap pria itu dan mencecar dengan sorot matanya yang cukup tajam, Kyungsoo ingin tau apa maksud sebenarnya Joonmyun.

“Keluarga besar Jongin adalah keluarga mafia terkenal. Mereka juga punya sejumlah pembunuh bayaran. Dan Jongin sendiri ingin sekali membersihkan nama keluarganya itu tapi ia tak punya cukup kepercayaan dari orang lain atas nama keluarganya yang sudah terlanjur kotor. Dan Jiyeon adalah salah satu anak dari pewaris terbesar perusahaan mobil. Hanya satu-satu nya Ayah Jongin lah yang tak punya sikap seperti itu dan turun langsung pada Jongin. Dia ingin sekali membuat keluarga Kim nya di pandang baik seperti kita semua, tapi karena keluarganya lah yang selama ini membunuh politisi pemerintahan yang sudah membangkang, Jongin tak punya apapun. Kecuali jika ia ikut menjadi salah satu bagian ‘kotor’ mereka. Kau tau selama ini perangai Jongin dan dekat dengannya. Kau juga harus tau, Jiyeon menjadi incaran keluarganya karena ia sama seperti Jongin. Tau semua tabiat buruk keluarga Kim nya.”

Oppa, eonni bagaimana? Aku takut eonni akan pergi dariku.” Rengek Tina dalam pelukan seorang pria.

“Dia takkan pergi, dia pasti kuat. Sangat kuat.” Sahut pria tersebut dan membuat Tina malah menangis kencang.

“Xiumin.” Sapa Joonmyun. Membuat Tina berhenti menangis dan malah menatap polos Joonmyun yang diam setelah melihat mata sembap Tina.

Tina membuka buku tebal milik Kyungsoo. Gadis itu lantas menghapus air matanya secara kasar. Mendengar suara ribut antara Kyungsoo dan Jongdae diluar membuat Tina berkurung diri di dalam perpustakaan apartemen Kyungsoo.

Buku tebal yang ia buka bukan semata-mata hanya pelampiasan. Tapi ini karena telinga nya mendengar beberapa patah kata dan ia ingin membuktikan nya sendiri. Kata-kata Jongdae barusan membuat tingkat keingin tahuan Tina datang. Ini bukan soal keluarganya, tapi ini soal teman Kyungsoo.

Kim Jongin.

Tina membuka setiap lembar buku album itu. Setiap halaman nya berisi lebih dari 3 lembar foto. Dan ada salah satu foto yang menarik perhatian nya, satu foto yang bertuliskan ‘Kim Jongin dan Do Kyungsoo’.

Pria yang diperkirakan berumur 11 tahun itu adalah Kyungsoo dan yang sebelah nya adalah Jongin. Tina yakin itu. Walaupun ia masih kecil, tapi inilah saat nya ia tau semua tentang Kyungsoo. Tentang seseorang yang mau membawa nya pergi dari panti asuhan.

Sebarapa muda nya Tina, ia harus tau. Dan ia ingin tau sendiri.

Dan dilain halaman, satu foto terpampang jelas. Seorang gadis kecil berwajah manis yang bersimbah darah dalam pelukan Kyungsoo kecil membuat Tina menjatuhkan buku besar itu. Foto yang menampakan bagaimana Kyungsoo bersama rekan-rekan nya itu menyelamatkan seorang gadis-yang mirip dengan Jiyeon-keluar dari sebuah gudang.

“Ini, eonni.” Satu bulir air mata menetes membasahi album tersebut. Ia tak salah dengar, perkataan Jongdae oppa itu benar adanya.

“Dengar Kyungsoo, ini demi kau juga Tina! Apakah kau tidak ingat bahwa kita pernah menolong sepupu Jongin yang waktu itu tertembak? Dia adalah KIM JIYEON! Gadis yang kau tolong sekarang, gadis yang sedang sekarat di rumah sakit!”

“Kyungsoo, perkataan Jongdae benar adanya. Kita pernah menolong Jiyeo sewaktu kita berumur 10 tahun. Waktu itu Jongin meminta kita untuk menolong sepupu nya yang disekap dalam sebuah gudang pabrik tekstil tak terpakai.”

2 months later

Jiyeon menekan secara random tuts-tuts piano. Baru sehari ia berkenalan dengan dunia musik, Tina sudah menceramahinya bagaimana cara menekan tuts piano yang benar. Dan Jiyeon menurut untuk diam.

“Begini.” Ujar Tina mengambil alih permainan Jiyeon yang kacau barusan. Gadis kecil itu dengan lihai menarikan setiap jarinya membuat sebuah lantunan melodi indah yang berhasil membuat Jiyeon terpaku.

Mengakhiri permainan nya, Jiyeon memberikan tepukan untuk Tina.”Aku tak sehebat para pianis dunia, eonni. Kyungsoo oppa dan Yixing oppa yang ajarkan aku, dan ini masih tahap belajar.”

Tina membuka buku tebal berwarna cokeat tua tersebut. Dalam pangkuan Jiyeon, gadis yang satu ini siap mengajarkan apapun tentang musik dan pengetahuan yang ia ketahui juga tentang musik.”Jazz adalah aliran musik yang berasal dari Amerika Serikat pada awal abad ke-20 dengan akar-akar dari musik Afrika dan Eropa. Biasanya musik Jazz banyak menggunakan gitar, trombon, piano, terompet, dan saksofon. Salah satu elemen penting dalam jazz adalah sinkopasi.”

Jiyeon mengagguk mengerti. Gadis itu lantas mengambil alih buku tebal cokelat tua dari tangan Tina dan membaca nya sendiri.”Salah satu tokoh nya?” Tanya Jiyeon. Tina tersenyum tipis dan menyebutkan satu nama.”Art Tatum.”

“Dia adalah pianis dengan aliran musik Jazz. Dia yang mempopulerkan swing tempo tinggi.” Sahut Tina lancar tanpa membaca buku.

“Yang lain?”

“Sir George Shearing, pianis asal Inggris. Eonni, George Shearing ini tak bisa melihat. Artinya dia buta. Tapi dia menjadi pianis terkenal. George Shering juga memiliki teknik yang unik disebut Shaering Voicing.” Jiyeon kembali mengangguk pelan.

Lalu Tina turun dari pangkuan Jiyeon dan mengambil satu alat dari meja dekat perapian. Alat tersebut berbentuk seperti garpu.”Ini namanya garpu tala.” Tina mengodorkan garpu tersebut pada Jiyeon.

Tina membuka pintu kamar nya pelan. Gadis itu keluar mengendap-endap menuju ruang tamu. Setelah mendengar deru mobil yang lumayan banyak dan suara-suara bising dari arah ruang tamu, Tina menjadi penasaran. Pasalnya Kyungsoo tak mengizinkan siapapun datang kecuali teman-teman nya di rumah baru mereka. Rumah pemberian Joonmyun di pinggiran kota.

Yang ia lihat pertama adalah Baekhyun lalu disusul oleh pria tinggi yang kalau Tina tak salah ketahui namanya adalah Park Chanyeol. Sekitar 6 orang tamu duduk melingkar. Awal nya mereka semua tertawa bersama atau ada yang sibuk memainkan ponsel mereka seperti Sehun.

Tak berselang lama, Kyungsoo-oppanya-datang bersama Jongdae membawa minuman lalu ditaruh di atas meja.

“Jadi, rapat macam apa yang kita hadiri?” Tanya Baekhyun melirik Kyungsoo juga Jongdae.”Di malam hari.” Tambah Sehun masih tak bergeming dari ponselnya.

“Soal Jongin….dan Jiyeon.” Sahut Jongdae membuat Sehun segera memasukan ponselnya. Pria itu langsung sigap dikala nama Jiyeon terdengar. Ini pasti soal serius, hati nya bergumam.

“Hasil tes nya sudah keluar. Memang benar Jiyeon adalah kerabat Jongin, tapi setelah menjalani pemeriksaan rutin salah satu dokter mencurigai ada nya hal-hal ganjil dalam diri Jiyeon. Itu sebab nya pihak rumah sakit meminta Jiyeon untuk lebih sering cek ke rumah sakit atau sekedar konsultasi saja. Tapi menurut penuturan Jieun, kepala perawat rumah sakit, dia pernah sekali mengganti pakaian Jiyeon dan menemukan satu luka sayatan di perut gadis itu.”

Semua nya mengerutkan kening kecuali Jongdae tentunya, karena pria itulah yang menuturkan informasi terkait Jiyeon selama di rumah sakit. Dan mengapa Jiyeon tak bisa meninggalkan pemeriksaan rutin setiap 2 hari sekali.

“Sebagai psikiatri, aku cukup prihatin dengan keadaan Jiyeon saat ini. Lebih dari 2 bulan yang lalu aku melihat ia sangat tertekan. Setelah diadakan rapat atas perintah senior ku yang cukup curiga dengan keadaan Jiyeon, akhir nya kami menyimpulkan bahwa Jiyeon terkena stress yang cukup berat dan trauma. Pihak rumah sakit sendiri termasuk aku belum memastikan apakah Jiyeon memiliki penyakit mental atau hanya stress dan trauma biasa. Bisa saja selama ini ia mempunyai skizofrenia atau penyakit mental lain nya. Masih belum ada kejelasan pasti mengingat Jiyeon yang meminta untuk menghentikkan pemeriksaan pada dirinya karena ia menganggap bahwa ia sudah sembuh.” Ujar Jongdae.

“Bagaimana kau tau kalau Jiyeon adalah kerabat Jongin?” Tanya Yixing dan mengacungkan satu jari nya tanda bingung.

“Saat Jiyeon berada di rumah sakit, aku juga Baekhyun meminta persetujuan Kyungsoo untuk mengambil sehelai rambutnya. Dan Sehun diminta untuk mengambil sehelai rambut Jongin. Hasil nya memang mereka adalah kerabat dekat. Punya hubungan darah melalui kedua Ayah mereka. Ayah Jongin adalah kakak dari Ayah Jiyeon-“

Suara dering ponsel Baekhyun membuat kata-kata Jongdae diharuskan untuk lenyap sementara waktu. Tapi Baekhyun bukan nya mengangkat telepon yang masuk, ia malah menatap Jongdae.”Ini kepala staff rumah sakit.” Kata nya sebelum mengangkat telepon.

“Baekhyun, ini aku Jieun.” Baekhyun menyerngitkan dahi. Bukankah seharusnya ia mendengar suara ketus dari wanita menyebalkan bernama Jung Jae In? Tapi malah suara Jieun-kepala perawat rumah sakit.

“Ya ada apa?” Tanya Baekhyun setelah 2 detik diam karena respon kaget nya.

“Ada pesan dari senior Jongdae, ini soal pasein kita bernama Kim Jiyeon. Menurut senior Jung, Jiyeon menderita Anxiety Disorder. Dan soal luka yang pernah kulihat waktu itu, sayatan nya berasal dari pisau dapur yang ditusukan langsung ke perut Jiyeon sewaktu ia kecil. Dan katakan ini pada Jongdae, dia diharuskan datang pukul  7.30 pagi besok karena akan diadakan rapat soal pasien kita, Kim Jiyeon. Kau juga harus datang pagi seperti Jongdae. Satu lagi, vonis nya masih sementara jadi kita bisa mendengar keputusan nya besok.”

Belum sempat Baekhyun berujar untuk menyahuti, Jieun sudah lebih dulu memutuskan sambungan telepon. Tanpa sedikitpun mengucapkan salam atau basa-basi lain nya.”Yang tadi itu ternyata bukan kepala staff si Jung Jae In itu, ternyata nona Lee Jieun menumpang ikut telepon.” Gumam Baekhyun dan melempar ponsel nya kesembarang arah dan jatuh pada pangkuan Xiumin.

“Tadi Jieun dapat pesan dari senior Jung. Pesan pertama, Jiyeon divonis menderita Anxiety Disorder. Kedua, Jongdae dan aku harus datang pukul 7.30 tepat atau kurang dari itu karena besok akan diadakan rapat. Dan pesan pertama dari Jieun, menurutnya sayatan yang terdapat di perut Jiyeon diakibatkan pisau dapur yang ditancapkan langsung ke perut nya. Dan yang kedua, vonis-an Jiyeon masih sementara, keputusan tetap nya akan ditentukan besok saat kita rapat.”

Tina terhempas ke lantai, gadis cilik itu memeluk lututnya erat. Mengigit bibir nya dengan kuat. Ia memang tak tau arti penyakit yang disebutkan Baekhyun, tapi mengingat itu adalah sesuatu yang berhubungan langsung dengan mental seseorang. Pasti sangatlah parah.

Lalu bagaimana cara menyembuhkan penyakit nya kalau sudah begini, bahkan setiap malam saja Jiyeon kesulitan untuk tidur karena gadis itu enggan untuk menutup matanya barang lima menit saja.

Satu kata terlintas dalam benak Tina.

Musik,

Jiyeon menyukai musik. Tapi apakah hal itu bisa menyembuhkan Jiyeon secara total? Lalu kenapa ia harus meragukan nya kalau belum di coba?

Tina menggandeng tangan Jiyeon dan Kyungsoo. Gadis kecil itu tersenyum cerah dan menyeret kedua manusia tersebut. Membawa keduanya menuju sebuah acara musik yang kebetulan akan dilangsungkan malam ini. sekitar pukul 7 malam. Dan ini hampir pukul 7 tepat.

Keduanya memasuki tempat pertunjukkan tersebut dan duduk di salah satu bangku dari 200 bangku tersedia. Tina yang memilih sendiri akan duduk dimana. Tempat yang paling nyaman, berada di tengah-tengah deretan bangku.

“Ini acara apa?” Tanya Kyungsoo masih bingung. Jiyeon menoleh dan menggeleng tak tau.

“Acara musik, musik klasik.” Sahut Tina pelan.

Saat acara sudah di mulai, ketiga nya mulai terhibur dengan berbagai penampilan sejumlah pemusik yang mengambil aliran klasik. Mulai dari karya-karya Mozart menghibur mereka. Berdecak kagum pada sejumpah pemain yang memainkan beberapa lagu dengan sangat indah.

Kyungsoo memandang ke arah Tina yang terus saja bercuap-cuap tanpa henti. Seolah gadis itu punya udara banyak dalam paru-parunya hingga tak kehabisan oksigen untuk menerangkan apa itu musik dan apa saja yang berkaitan dengan musik. Sedangkan Jiyeon sibuk memperhatikan gadis cilik itu dengan seksama.

“Apa dia tau soal Jiyeon yang punya penyakit Anxiety Disorder? Setiap hari Tina selalu mengajarkan gadis itu tentang musik. Bahkan akhir-akhir ini Jiyeon berangsur-angsur membaik.” Kata Kyungsoo pada Baekhyun.

“Kau bisa tanya Jongdae soal perilaku Tina yang satu ini.”

Periode Musik Klasik

  1. Zaman Barok dan Rokoko

Musik barok adalah musik klasik barat yang digubah pada zaman Barok(Baroque), kira-kira antara tahun 1600 dan 1750. Kata ‘Barok’ sendiri berarti ‘mutiara yang tidak berbentuk wajar’, hal ini sangat cocok dengan seni dan perancangan bangunan pada era itu. Kata ‘Barok’ pada akhirnya juga dipakai untuk jenis musik pada saat itu.

Ciri-ciri dari musik zaman Barok, antara lain:

  1. Melodi cenderung lincah
  2. Banyak menggunakan ornamen
  3. Ada dinamuka forte dan piano
  4. Harmoni dua nada atau lebih berbunyi bergantian(Polifonik/kontrapung)
  5. Lazim nya hanya mencerminkan satu jenis emosi saja.

Tingtong~

Jiyeon menghentikkan kegiatan membaca nya dan menaruh artikel tentang musik klasik pada zaman Barok tersebut ke pangkuan nya. Apakah ia tak salah dengar tadi? Suara bel baru saja berbunyi. Lalu ia menaruh buku milik Kyungsoo tersebut di meja dan berjalan menuju pintu masuk utama rumah ini.

Saat ia membuka pintu tersebut, “Maaf nona, ada kiriman.” Rupanya tukang pos datang. Jiyeon kira itu Tina, tapi mana mungkin gadis itu pulang di saat jam masih terlalu pagi untuk pulang? Terkecuali jika ada rapat dadakan di sekolah Tina.

Sebuah kotak berwarna cokelat sudah berada pada nya. Tukang pos tadi hanya memberikan ini dan meminta tanda tangan Jiyeon, lalu pergi. Tertulis untuk Kyungsoo, dan Jiyeon tak bisa campur tangan urusan ini. Ia menaruh kotak tersebut di kamar Kyungsoo dan kembali keluar untuk melanjutkan aktivitas membaca nya soal musik klasik.

Tina menunduk dalam dihadapan Kyungsoo. Takut untuk menatap sepasang iris dari mata bulat Kyungsoo yang utuh sempurna menatap nya. Ia tidak sedang dimarahi, tapi ia sedang berbicara dengan Kyungsoo mengenai Jiyeon.

“Aku takut oppa akan marah padaku jika aku tau soal penyakit eonni.” Katanya dengan tertunduk.

“Tapi, seharusnya kau yang takut pada Jiyeoneonni sekarang.” Sahut Chanyeol pada gadis kecil dihadapan Kyungsoo yang mulai menangis.

“Iya aku takut, aku takut jika eonni kembali menjadi yang waktu itu saat kita berada di kedai es krim. Maaf juga karena aku sudah menguping pembicaraan oppa dan teman-teman oppa waktu itu. Aku hanya ingin eonni sembuh dan kita bisa bermain bersama walaupun aku tau tau apa itu artinya Anxiety Disorder.” Ujar Tina secara terang-terangan.

“Jadi itu sebab nya kau meminta oppa untuk memulangkan Kyungsoo oppa lebih awal karena kalian harus datang ke pertunjukan musik klasik?” Tanya Joonmyun dan Tina mengangguk pelan.

“Aku tak tau gadis kecil yang satu ini punya pemikiran lebih dewasa ketimbang diriku, hyung.” Bisik Sehun pada Yixing-pria cina yang duduk disebelahnya.

“Kyungsoo, kau marah?” Tanya Xiumin khawatir melihat Tina sudah terisak. Membanjiri pipi nya dengan air mata, Xiumin tak tega melihatnya.

“Tidak, sama sekali tidak.” Jawab nya pelan seraya memeluk gadis kecil itu.

1 Years Later

Jiyeon mengenakan gaun putih nya malam ini bersama dengan Tina yang duduk di pangkuan Joonmyun yang sibuk tertawa. Sedangkan Kyungsoo sedang berbicara dengan Baekhyun juga Jongdae. Lalu ia? Sibuk menata hati nya. Gadis Kim ini gugup setengah mati.

“Kenapa? Kau gugup?” Tanya Sehun dan mendekati Jiyeon.

“Uh, iya. Aku gugup, ini penampilan pertama ku. Apa menurutmu latihan ku tadi pagi itu masih amatir?” Tanya Jiyeon masih terlihat gugup.

“Tidak, kau seperti pianis terkenal dunia. Permainan mu itu sangat bagus. Em jadi kau dan Tina akan bermain piano bersama dan Kyungsoo yang bernyanyi?” Jiyeon tersenyum tipis mendengar pertanyaan Sehun.

“Iya. Jangan lupa Yixing yang membantu kami.” Kekeh Jiyeon. Yixing yang mendengar nya pun ikut bergabung.

“Padahal lagu yang kubuat itu benar-benar kacau.” Ujar nya pada Sehun.

“Tidak. Hyung, apakah kau tak pernah berpikir untuk menjadi seorang komposer saja atau seorang pemusik? Padahal hyung cukup berbakat di dunia musik.” Puji Sehun dan Yixing memukul lengan Sehun, disambut tawa pula oleh Jiyeon.

“Terpikirkan sebelum nya oleh ku, Sehun. Hanya aku tak mampu untuk mengeluarkan karyaku. Apa kata orang jika karyaku itu jelek?” Kata Yixing dan tertawa pelan.

“Jiyeon, Tina, dan Kyungsoo. Siap-siap sebentar lagi giliran kalian.” Pekik Chanyeol sambil memasuki ruangan disusul Xiumin dengan menenteng beberapa cup bubble tea.

“Apa-apaan ini?!” Teriak Sehun cukup kencang setelah menemukan bubble tea bertengger indah di atas meja dengan menggiurkan.

Tapi sebelum tangan nya terangkat untuk mengambil salah satu bubble tea itu, ponsel nya berdering membuat Tina tertawa puas.”Angkat oppa.” Goda Tina kembali tertawa.

“Halo, Sehun.” Sehun membelakan matanya mendengar suara diseberang sana.

“Y-ya, ada apa?” Tanya Sehun gugup dan terbata-bata.

“Kau ada dimana? Aku sudah ada di depan gedung pertunjukkan sekarang. Bisa kau jemput aku untuk bertemu Kyungsoo sekarang?”

Sehun meneguk saliva nya kasar. Apakah Jongin harus bertemu Kyungsoo sekarang? Lalu bagaimana jika pria Kim itu bertemu Jiyeon? Apa Jiyeon tidak langsung diseret pria itu ke rumah nya? Dan spekulasi kemungkinan dalam kepala Sehun terus bermunculan sampai suara diseberang sana terdengar keras masuk telinga nya.

“OH SEHUN, BIAR AKU YANG MENCARI KYUNGSOO SENDIRI KALAU KAU TAK MAU MEMBANTUKU!”

Sambungan terputus. Ini bukan saat yang tepat jika Jongin bertemu Kyungsoo.

“Jongin, dia akan segera datang kemari.” Ujar nya dengan horor pada Jongdae, membuat pria berahang tegas itu tersedak bubble tea nya.

“Siapa? Jongin? Kim Jongin maksudmu?” Cecar Jiyeon dan sedetik kemudian Jiyeon terpaku di tempat nya melihat tubuh tegap dengan kulit tan berada diambang pintu dengan wajah yang sama kaget nya seperti Jiyeon.

Tak lama, tubuh Jiyeon terjatuh ke lantai. Tubuh nya bergemetar hebat dan keluar keringat dingin di pelipisnya. Satu hal kecil yang terjadi jika penyakit mental nya masih ada, hidung nya akan mengeluarkan darah. Hal yang tak pernah diketahui apapun sebab nya mengapa bisa seperti itu karena penderita Anxiety Disorder saat kambuh gejala nya tidak pernah mengeluarkan darah dari hidung kecuali Jiyeon.

Alih-alih Jiyeon bergerak gelisah, gadis itu malah menatap garang ke arah Jongin.”Mau apa kau kemari, Kim Jongin?!” Desis Jiyeon dengan darah yang masih setia mengalir dari kedua hidung nya. Sekejap saja bayang masa lalu Jiyeon berputar-putar dikepalanya, membuat tubuh nya sendiri tak kuasa menahan beban hingga terbaring di lantai.

Rasa cemas berlebihan pun kembali menyerang. Mengeluarkan spekulasi yang sama seperti Sehun-sangat berlebihan. Tubuhnya mengejang hebat, seketika itu juga Kyungsoo menghampiri gadis tersebut dan memeluk nya erat. Membiarkan pakaian putih nya berubah merah karena darah.

Wanita itu tersenyum kecut, dibalik kedua tangan nya yang terlipat di depan wajah. Salah satu pria yang duduk di kursi dengan bersimbah darah itu terbatuk, ia dalam keadaan sekarat. Dan satu pria paruh baya, adik dari pria yang terikat di kursi itu tersenyum puas dan memegang sandaran kursi yang dipakai istrinya duduk.

“Biarkan dia sekarat, mati pun tak masalah.” Ujar suami nya.

“Lalu, biarkan Jongin dan Jiyeon mati bersamaan.” Tambah istrinya.

Dan satu peluru melesat menuju jantung pria yang sudah sekarat itu. Memuntahkan darah yang begitu banyak dan mengotori lantai, pria tersebut hanya tertawa sesaat lalu kepalanya terkulai lemas. Dia sudah mati.

Tapi wanita yang awal nya tersenyum kecut itu menangis. Kepalanya ia cengkram dengan kuat.”Anxiety Disorder? Apakah kau tau penyakit itu?” Tanya wanita tersebut dan mengacungkan pistol nya ke arah suami nya sendiri. Tertawa dengan masam melihat ekspresi suami nya yang dingin  juga mengacungkan satu pistol nya seperti dia.

“Ya, aku tau Jiyeon punya penyakit itu.” Lalu satu peluru kembali melesat menuju dada kiri pria itu.

“Dan aku sendiri yang seharusnya membunuh Jiyeon, bukan kau!” Satu peluru lagi melesat dan bersarang tepat di dada sebelah kanan suami nya. Tubuhnya ambruk dan sekarat.”Kalian berdua sama-sama pengacau.” Tambah nya lagi dan ia tertawa keras lalu disusul teriakan rasa sakit.

Berapa banyak darah yang Ibu tumpahkan? Berapa banyak manusia yang Ibu bunuh hanya karena demi kepuasan? Lalu berapa banyak uang yang Ayah inginkan hanya karena Ayah gila pada UANG? Dan kenapa AYAH ingin membunuhku hanya karena aku tau semua itu?

Suara-suara Jiyeon kecil kembali berdengung di kepala nya. Seolah menyoraki dirinya yang berada disini.”Kau tak tau seberapa kejam Ibu mu ini sampai ia berani membunuh Ayahmu!” Katanya dan memencet tombol merah.

Jiyeon terpaku di hadapan televisi. Melihat beberapa mayat yang ditampilkan televisi membuat bulu kuduk nya meremang seketika. Lalu rasa cemas melanda, ia takut melihat mayat-mayat itu. Tapi sebuah bangunan yang disorot kamera membuat Jiyeon menjerit dan menangis sekencang-kencang nya.

Itu rumah nya.

“Sebuah rumah telah di bom oleh orang tak dikenal. Dinyatakan bahwa seluruh penghuni rumah tewas dengan keadaan tidak utuh. Menurut salah satu penyidik dari kepolisian, rumah tersebut meledak karena di dalam rumah berisi 5 bom yang diaktifkan bersamaan. Kelima bom tersebut pun meledak diwaktu yang sama. Tapi pihak penyidik sendiri masih berusaha mencari siapa pelaku dari pemboman rumah salah satu mafia tersebut. Demikian informasi sekilas kami di jam 10 pagi ini, kami akan kembali di jam 11 dengan informasi yang akurat. Selamat menjalani aktifitas.”

Tayangan berita tersebut berhasil membuat Jiyeon jatuh pingsan dan Tina memekik nyaring karena ketakutan, memanggil nama Kyungsoo berkali-kali sangat keras.

EPILOG

Jiyeon tersenyum tipis melihat Ibu yang duduk disamping nya sedang memainkan seruling. Sedangkan Ayah nya sibuk menyesuaikan nada menggunakan terompet nya.”Kenapa tidak buat pergelaran musik saja? Aku suka permainan Ayah dan Ibu.”

Ibu nya menunda permainan seruling nya dan mengacak pelan surai Jiyeon.

“Ibu dan Ayah sayang Jiyeon, jaga dirimu hingga besar nanti ya? Jangan seperti kami kalau pun mau Jiyeon lah yang seharusnya ada di atas panggung.”

“Bukankah anak Ayah ini sudah les biola? Masa memainkan alat itu tidak bisa?” Kekeh Ayah nya.

“Jaga diri hingga besar agar kau bisa mewujudkan mimpimu. Dan jangan cintai kami, tapi cintailah dirimu sendiri.”

END

Ada yang masih bingung dengan fict panjang ini? aku juga ga yakin nyantumin genre nya, kaya nya sih aku salahTT…eh terus, ini kepanjangan banget. Terus-lagi- ini ga ada feelnya, bahasa masih jelek juga, yah hancur. Kalau ada kesalahan mohon koreksi, komen apapun itu asal bukan bash aku terima^^

Advertisements

6 thoughts on “[Freelance] Love Your Self

  1. OMOOOOO /?
    ini seperti dongeng, nif :’3 baguuus, walau aku kadang bingung krn alurnya rada ‘banting stir’ gitu

    hehe, kritiknya sengaja disampaikan awal karena sekarang mau bahas komen2 gaje [dan semoga jadi motivasi kamu /halah]

    kamu exo-lvlz shipper yah? jarang lho ff d.o-kei, dan sekalinya ada, aku lgsg sukak<3 sama2 main vocal, cakeps, suami/istri idaman karena jago masak pula
    –oke, sampe sini aja bahas personality-nya. gabakal ada abisnya–

    kei yang manis dan d.o yang tak kalah manis ‘main’ di ff mafia-theme jelas hal baru, apalagi ada adegan violence, shooting, also mention-of-blood. kamu berani bgt bikin ff dgn genre ini, karena aku paling gabisa ‘ngebunuh karakter’ apalagi kalo caranya sadis [TERLALU SADIS CARAMUUU… kalo kata bang afgan]

    maafin komen gajeku ini hwhw T.T semangat terus nulisnya! ><

    Like

    • Ini bukan dongeng, night. Tapi….makasih buat kritiknya, memotivasi aku untuk buat alur gak banting stir/wiiing/ lagi/kayanya/ soalnya aku buat ini pas lagi pusing/alesan, diselingi curcol/
      Dan aku exo-lvlyz shipper/khusus kei-do doang/ sejak lama😊
      Padahal awalnya ga ada niatan bikin ini jadi mafia-theme gitu yang sampe ada adegan yang mungkin kayanya ga bagus dibaca buat anak kecil/kaya yang ga anak kecil aja/. Tapi jujur aja, paling ga suka bunuh-bunuhan karena ga bisa bikin ato yang nyerempet dikit ke dark gitu ffnya…padahal ini ga sadis
      Ga masalah sih komenannya, aku seneng malah. Semangat nulis juga night,makasih ya udah baca dan komen😊

      Like

  2. ANi >.< ini FF keren banget tho >.<

    Aduh Sehun, gak tau nih kenapa tiba – tiba ketawa aja setiap ngeliat ni anak nongol di setiap FF :’v

    Walopun itu FF genre-nya sad gak ketulungan, tetep aja ngakak kalo ada Sehuh :’)

    Aku kira D.O, Tina, sama Kei ini keluarga loh :’v

    Gara gara bangkai mereka bertiga gak jadi tampil kan –” /peace bang :’v

    Ibu-nya kejam astaga :”

    Psikopat gila, lebih gila dari Joker ini :”

    Jujur, aku emosi banget loh sama ayah – ibu Jiyeon. Teganya sih hampir ngebunuh darah daging sendiri gara2 tau rahasia keluarga!? /kalem woy kalem

    Terus ini FF selain rame juga nambah wawasan tentang musik XD

    Udah itu aja ._.

    Good job ANi~

    Like

    • Hola, ini padahal ffnya jelek
      Mungkin karena si abang mukanya terlalu kocak atau ganteng/?
      Terus sehun itu ya gitu, ga cocok sad sih, cocoknya comedy/meren/
      Jadi mereka itu kaya keluarga beda ibu-bapak yang dibuatnya dadakan/ngiiing, penjelasan macam apa ini?!/
      Disini kan ceritanya mereka mafia gitu, jadi harus sadis/sayang nya gagal/ dan kejam
      Padahal ini ff nya gagal,ancur lah ya/ngaku/
      Makasih udah baca dan komen ya😊

      Liked by 1 person

  3. huhhh.. thor.. seriussssss nih ff kerennnnnnn bngett,, kusuka jalan ceritanya meskipun rada gk ngerti? hehe..
    tapi suer nihh ff keren bnget ..
    keep writing thor,, lain kali buat ff JeongIn yang kini juga dong thor.. hehe ^^

    Like

    • Ini mah ga keren, biasa aja. Makasih udah suka sama ceritanya dan ini emang susah buat dimengerti sih/plak/
      Makasih udah baca dan komen😊

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s