Posted in Angst, LFI FREELANCE, Mystery, PG-15, Romance, Vignette

[Freelance] Destiny

original_175027_jOJRMtss_PDN2tLY_jrDlO0cv

Destiny

Kim Taehyung || Ryu Sujeong || Park Jimin

Written by Lightbts

Genre :: Romance, Mystic, Tragedy, Angst and etc

Rating :: PG-14

Fanfiction ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan tokoh, kejadian dan lain-lain bukanlah hal yang disengaja.

Recommended song to hear Taeyeon – Rain

ENJOY

.

.

 

“Kau bisa mempergunakan uangmu untuk hal yang lebih berguna lagi,”

            -DEG-

Suara itu. Pemuda itu terpaku. Mungkinkah itu dia ?

            “Kau bisa membeli hadiah untukku dan mengabaikan barang itu.”

            Batang rokok yang masih utuh itu terjatuh begitu saja saat tangan sang pemuda terasa melemas secara tiba-tiba.

            “Sujeo-ng, kau kah itu ?” rasanya seperti tercekat saja saat pertanyaan itu meluncur dari bibir pemuda bernama Kim Taehyung itu.

            “Kau tahu ? Aku selalu bersamamu Oppa, bahkan di waktu-waktu yang tak kau sadari sekalipun.”

            Wajah  Taehyung memucat. Bagaimana bisa, mantan kekasihnya itu…

***

[FLASHBACK]

“Taehyung!” Seseorang berteriak menyebut namanya. Merasa terpanggil Taehyung pun menoleh.

“Jeongie. Ada apa ?” Taehyung menyeritkan dahinya, kenapa tiba-tiba kekasihnya ini datang menghampirinya.

“Hari ini ada pemeriksaan guru etika. Aku membawakanmu…INI!”

“Dasi sekolah ?”

“Yup! Aku tahu kau tidak pernah membawa dasi sekolahmu ini kan ? Kau malas memakainya kan ?” Dan ya, tak ada yang lebih mengerti dirinya dari pada Sujeong. Ya, Taehyung tahu itu.

“Menunduk sedikit,Oppa.” Taehyung menuruti ucapan kekasihnya. Gadis itu pun tersenyum sembari mengalungkan dasi yang ia bawakan untuk Taehyung  di leher kekasihnya. Sujeong memakaikan dasi itu layaknya seorang istri yang sedang membantu suaminya bersiap berangkat ke kantor.

“Cha! Selesai. Jangan lupa, setelah pemeriksaan guru etika selesai dan kau tidak dapat poin, kabari aku. Ne ?”

“Arraseo.” Taehyung mengacak rambut  Sujeong pelan.

.

.

.

“Yang ini, bagaimana ?”

“Kalikan dengan bilangan pertama, lalu bagi hasil perkalian tadi dengan angka ke-3. Kau cukup memahami soalnya saja.”

“Oh begitu.”

Bagaimana bisa, teman dan kekasihnya bisa seakrab ini ? Apakah ini karena Jimin, temannya itu dua kali lipat lebih pandai soal Matematika daripadanya ?

“Jeongie,”

“Hmm..”

“Kapan kita pulang ?”

“Tunggu sampai selesai nomer 3 ya.”

Bahkan mungkin Jimin memang lebih Sujeong butuhkan daripada dirinya sekarang ini. Taehyung. Pemuda itu merogoh ponselnya di saku celana sebelah kanan yang ia kenakan.

To : Cheonsa

+081xxxx

Sedang sibuk tidak ?

From : Cheonsa

+081xxxx

Tidak. Ada apa Oppa ?

To : Cheonsa

+081xxxx

Mau jalan-jalan denganku ?

From : Cheonsa

+081xxx

Boleh.

To : Cheonsa

Jinja ? Kalu begitu 20 menit lagi aku akan datang menjemputmu.

 

 

 

“Jeongie, aku ada urusan mendadak. Aku pulang dulu ya.” Taehyung beranjak dari sofa putih yang ada di ruang tengah rumah temannya, yang tak lain dan tak bukan adalah Park Jimin.

“Tapi kenapa ?” Sujeong, kekasih Taehyung yang semula sedang duduk bersila di lantai itu kini menghampirinya.

“A-aku ada urusan penting yang sangat mendadak, aku harus segera pulang.” Sujeong tahu, kebohongan yang Taehyung lakukan sangatlah nyata adanya, dari cara bicara dan raut mukanya dan ya, sebenarnya Sujeong tahu. Namun, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat dan ia dengar, Sujeongi lebih percaya bahwa Taehyung memang jujur padanya.

“Tentu. Pulanglah jika kau ada urusan.”

-cup!-

“Aku pulang dulu.” Setelah memberi kecupan singkat di bibir Sujeong, Taehyung pun pamit pergi dari rumah keluarga Park. Dan setelah kepergian Taehyung, Sujeong dan Jimin kembali meneruskan kegiatan belajar mereka siang ini.

Sering kali kesalahan bermula dari hal kecil yang dilakukan tanpa berpikir panjang.

            Dan hari itu semua bermula, Taehyung mulai membagi perasaannya untuk Sujeong dengan sahabat Sujeong sendiri, Moon Cheonsa.

.

.

.

 “Sudah! Cukup Oppa! Aku tidak mau dengar…hiks,” air mata tak bisa terbendung lagi saat kenyataan pahit mulai Sujeong ketahui. Tentang hubungan gelap Taehyung, kekasihnya itu dengan sahabatnya sendiri,Cheonsa.

“Hiks, hiks.”

“Aku tidak mau dengar…” tangisan itu terdengar begitu jelas di jalan setapak yang hening. Ditambah dengan cahaya sayu rembulan melam ini yang semakin membuat keadaan terasa sendu.

“Aku mau kita sudahan sampai di sini.”

Setelah ucapan itu keluar dari mulut Sujeong, Taehyung hanya bisa menatap kosong apa yang ada di hadapannya.

“Jeongie, aku minta maaf…”

“Aku tidak perlu kata maaf itu. Berapa kali ? Berapa kali aku bilang ?! Aku butuh pembuktianmu, Tuan Kim.”

***

Setelah libur musim dingin Sujeong tak memiliki jadwal latihan yang pasti. Semua karena jadwal latihan tetapnya diubah-ubah sesuai keinginan mentornya begitu saja. Dan jika badan Sujeong mulai mengurus akhir-akhir ini, itu berarti karena mentornya itu, atau karena Kim Taehyung, dan ya, ini karena hidupnya yang sepi tanpa Taehyung di sisinya, yang sejak 2 bulan lalu telah berpisah dengannya setelah pertengkarang panjang di ujung jalan setapak gang dekat apartementnya.

“Sujeong, kau perlu banyak energy untuk lakukan ini.”

“Arraseo, aku sudah punya energy banyak Mijoo.”

“Tidak, kau masih belum berenergi. Pergilah ke seberang jalan sana. Beli sesuatu di sana, makanan atau roti isi, atau apa pun yang akan membuat energimu kembali lagi.”

Mijoo, salah satu sahabat Sujeong itu mendorong tubuh Sujeong pelan.

“Wae ? Aku tidak lapar Joo. Aku masih kuat jika harus mengerjakan tugas dari mentor Seo.”

“Terserah kau saja. Kau ini keras kepala. Aku tahu, hanya Taehyung sunbae yang bisa membuatmu mengerti. Aku tahu Jeongie, tapi setidaknya hiduplah dengan baik meski kau sekarang tanpanya.”

Sujeong terdiam. Perkataan Mijoo barusan sangat menampar perasaannya, ya dia harus sadar. Taehyung juga mungkin takan kembali lagi padanya.

“Geure, aku pergi dulu.”

Setelah itu Sujeong keluar dari gedung. Dia mungkin harus makan beberapa lembar roti untuk mengisi energinya guna kelancaran latihan dance spektakuler seperti pertunjukan yang Mentor Seo mau.

Sujeong berjalan seorang diri dari ruang latihan dancenya di gedung PX menuju restoran terdekat yang hanya berjarak 100 meter saja. Tapi tetap saja, dengan jarak sedekat itu Sujeong juga harus berhati-hati, terlebih ia harus menyebrang jalan untuk sampai ke restoran itu. Dan saat ini lalu lintas jalan di kawasan Myeongdong terbilang ramai.

Sujeong menyelipkan beberapa helaian rambutnya ke belakang telinga. Menunggu lampu penyebrang jalan berubah menjadi warna hijau. Sesekali Sujeong melihat sekeliling. Tak ada yang special. Ya, setidaknya itu yang Sujeong lihat.

-tling!-

Rambu itu kini berubah warna menjadi hijau. Dan itu tandanya dia dan pengguna jalan lainnya sudah bisa  mulai menyeberang.

Sujeong mulai melangkah. Namun ia terhenti di tengah jalan. Tiba-tiba system geraknya terasa kaku. Dia melihat Taehyung, mantan kekasihnya di seberang sana.

“Kenapa rasanya masih sakit..” gumam Sujeong pelan.

‘Rasa sakit ini membuat hidupku seperti tak berguna lagi. Kesepian ini seperti akan menelanku dalam jeruji kesendirian yang tak berujung. Aku bahkan tak lebih dari seorang gadis urakan akhir-akhir ini. Lihat, betapa berantakan penampilanku, betapa kurus badanku sekarang ini. Kau melihatnya kan Oppa ?’

Mata Sujeong berkilat-kilat. Memancarkan amarah sekaligus rasa kecewa yang masih ia rasakan. Sujeong yakin, dari seberang sana Taehyung melihat tatapan tajamnya.

‘Aku harus membuatmu mengerti, meski itu sulit. Tapi ya, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk membuatmu percaya.’

Taehyung menunduk. Dia tahu dia salah, dan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Para pengguna jalan lainnya telah sampai di seberang jalan. Sementara Sujeong, dia masih terpaku di tengah jalan, tanpa dia sadari rambu pengguna jalan kini telah berubah merah, dan rambu kendaraan sudah berubah hijau kembali.

Semua kendaraan yang ada di kanan kiri Sujeong menekan klakson mereka masing-masing. Tapi Sujeong masih diam seribu bahasa.

Tak lama Sujeong mengerjap, dia tersadar.

 “Aku harus hidu-‘

-BRAKKK!!!-

“SUJEONG!!!!!”

Taehyung berteriak dari kejauhan. Sujeong, gadis itu…dia melihatnya sendiri, tubuh Sujeong terkoyak truk besar saat sedang melamun di tengah jalan. Seharusnya ia tahu, bahwa ia bisa menyeret Sujeong dari sana. Tapi apa ? Taehyung memang bodoh, dia hanya berdiri sambil terus memandang sosok Sujeong yang tadi masih berdiri kokoh di tengah jalan sana. Taehyung sama halnya dengan Sujeong, mereka memang sama-sama melamun saat bertatapan tadi, tapi setidaknya Taehyung berada di depan restoran, dan itu tempat yang aman, tapi Sujeong. Dia berdiri di tengah jalan, dan akhirnya sekarang tubuhnya sudah tergeletak tak bernyawa dengan darah bercucuran dan daging yang terkoyak di tengah jalan.

Kerumunan orang yang tadinya berlalu lalang kini mulai mengerumuni tubuh Sujeong. Sesaat setelah itu pihak kepolisian lalu lintas datang dengan diikuti team medis darurat.

Taehyung ingin mendekat, tapi tubuhnya kaku. Akan lebih baik jika ia tetap berdiri di tempatnya. Dia belum siap menerima semua ini, cintanya, seluruh kekuatannya, adalah Sujeong. Dan  kini, gadis itu telah tiada. Bagaimana bisa Taehyung menerima semua ini ?

“SUJEONG!!!!!”

.

.

.

Bertindaklah sebelum terlambat, dan itu adalah jalan untuk mengindarkan kita dari penyesalan.

.

.

.

[FLASHBACK END]

“Aturan di sekolahan kita masih sama ‘kan Oppa ? Bukannya kita tidak boleh membawa bahkan memakai rokok di area sekolah.”

“A-apa ?”

“Aku mencintaimu Oppa, aku sekarang sudah tahu semuanya. Aku ini mengatakan ini sedari awal, bahwa aku terlalu berlebihan denganmu waktu itu. Tapi apa daya, saat aku ingin berkata jujur kau selalu bersama Cheonsa, aku pikir kita memang sudah benar-benar berakhir.”

“Jeongie…”

“Aku terlambat menyadarinya, dan sekarang aku berada di dunia yang sangat jauh darimu. Hiduplah dengan baik Oppa. Aku selalu mencintaimu.”

Bayangan tubuh Sujeong mulai mengilang perlahan. Cahaya mataharipun sudah mulai masuk ke celah jendela gudang.

“Sujeong.”

“Jangan lakukan hal-hal yang buruk. Aku akan datang lagi, tapi entah kapan. Semoga kita bisa bertemu kelak,”

“Saat gerhana matahari datang lagi, aku akan muncul kembali. Entah 1000 tahun lagi atau kapanpun. Aku pasti akan datang lagi. Jangan khawatir Oppa. Kita akan berjumpa lagi.”

Sujeong tersenyum dengan wajahnya yang tak lagi seindah dulu, sekarang wajahnya berlumur darah seperti saat kecelakaan waktu itu. Gadis itu nampak mengerikan di saat-saat seperti ini. Keadaan gelap gudang ditambah dengan gerhana matahari total yang sedang terjadi membuat aura di ruangan minim fentilasi itu semakin mencekam.

Dan setelah gerhana matahari total usai tubuh Sujeong benar-benar menghilang. Yang ada sekarang hanyalah kepulan asap.

“Sujeong, bisakah kau kembali ? Bisakah aku memperbaiki semuanya ? Andai saja hari itu kita tidak berjumpa, kau pasti akan baik-baik saja ‘kan ? Malam itu, seharusnya aku menjelaskan semuanya padamu. Aku minta maaf telah berkhianat, tapi aku hanya mencintaimu Sujeong!”

“SUJEONG!!!!!!” Taehyung berteriak kencang.

Lelaki itu berlari keluar dari gudang sekolahnya. Tak peduli dengan keadaan hujan dan  kemungkinan bahaya setelah gerhana matahari baru saja usai terjadi. Dia mungkin akan melewatkan kelas malamnya hari ini.

.

.

            Sore itu hujan masih setia mengguyur Kota Seoul. Taehyung, pemuda tampan itu dengan langkah kesepiannya berjalan menuju sebuah gundukan tanah dengan pohon yang tertera nama Sujeong di kejauhan sana.

            “Mungkin untuk melepas rinduku, setiap hari aku harus datang ke sini. Bukan begitu ?” Taehyung menatap nanar kuburan Sujeong dari kejauhan.

            “Aku akan hidup dengan baik.” Taehyung memantapkan langkahnya sambil membenahi payung hitam yang ia pakai untuk melindunginya dari hujan sore hari ini.

‘Mungkin ini yang dinamakan takdir. Sepasang insane yang saling mencintai pun tak cukup menjamin bahwa mereka akan bersatu pada akhirnya’

-END-

 

Advertisements

Author:

Halo Lovelinus!^^ Senang membaca fanfiksi atau membuat fanfiksi dengan karakter Lovelyz? Blog ini merupakan blog yang berisi fanfiksi-fanfiksi dengan karakter utama Lovelyz ^_^

4 thoughts on “[Freelance] Destiny

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s