[White Day With Kei’s] Mansae

mansae

Tittle: Mansae

Author: Intan Hidayanti N. (Kikan)

Cast:

  1. Kim Jiyeon (Kei Lovelyz)
  2. Choi Seung Cheol (S.coups Seventeen)
  3. Kwon Soonyoung (Hoshi Seventeen)

Genre: Romance

Length: Vignette

Rating: PG -17

Summary:

Kim Jiyeon tidak pernah tahu, seberapa besar perasaan Choi Seung Cheol kepadanya. Ia lebih menginginkan, perasaannya dibalas oleh Kwon Soonyoung. Namun, tanpa ia sadari, perasaan itu hanyalah bumbu sebuah popularitas.

“Ketahuilah, uang juga bisa membeli cinta…. Namun, apakah itu dapat meningkatkan persyaratan cintamu?”

***

Author Note: Sebenarnya bingung, mau ngasih note apaan. Tapi…, karena kudu ngasih note juga, akhirnya… terciptalah note gaje ini. Wkwk…. Gini deh, cuman mau ngasih tahu, namaku Intan Hidayanti, tapi sering dipanggil Kikan. Juga…, Kikan jadi nama penaku  ^O^

Ini FF bikinnya mendadak banget, dalam waktu 4 jam! Becos, kirain DLnya masih lama, ternyata bentar lagi! Wkwk…. Oh ya, ini sih nyiptainnya sambil dengerin lagunya Seventeen – Mansae, keinget MVnya, di sana si Sekop aka selingkuhanku, ganteng bingitzzz….

Awalnya, ide cerita pengen kubuat ama Chanyeol—suami sah aku, juga ama Jungkook—pacar tercintahkuh. Ehhh… gaada angin, gaada ujan, jakun Baekhyun yang masih tak nampak pun, akhirnya… selingkuhanku, kek si S.coups ama Hoshi keluar juga ^O^

Eh, hampir lupa! Saengil Chukkae Hamnida Kei Eonnie {} Semoga makin ++ dan sukses terus ama karirnya {} Jangan lupa juga, pokoknya besok pas mau nikah, nikahnya kudu ama Chanyeol! Gue ngeship banget massa :g kkk~

Ok, sekian dari gue… Kikan, istri sah satu-satunya Ceye ~O~ MAU NGINGETIN, BUAT YANG PUNYA WATTPAD, YUK DI FOLLOW, JUGA CEK WORKKU @INTANCHANHYUN PUNYA FF TTG KEI JUGA LOHH…. BUAT YANG MAU BETEMEN, ADD AJA ID LINE KUHH @INTANGDHYUNWOO! #sorrycapsjebol

Wkwk…. Sekian dan terima Vernon sebagai tambahan stok selingkuhan ._.

-Kikan-

***

Mansae

 

Jiyeon menyugar surainya, membiarkan surai cokelatnya tergerai indah ke belakang. Senyum mengembangnya pun, belum juga luntur saat manik matanya berbinar. Ia jelas merasa bahagia. Sebab, ini adalah hari yang Jiyeon tunggu-tunggu selama hampir satu bulan. Hari dimana Kwon Soonyoung alias Hoshi akan membalas cokelat pemberiannya saat valentine dulu.

Ia menghela napas pelan, masih memerhatikan beberapa bunga di sekeliling taman, ia bersenandung kecil. Sekelebat bayangan Hoshi, membuat kedua pipinya tiba-tiba bersemu. Ia menunduk malu, kemudian mengaitkan jari jemarinya satu sama lain. “Kuharap…, ia memberiku marshmallow!” serunya girang.

“Cih!”

Menyadari ada seseorang, Jiyeon segera mendongak. Kedua matanya terbelalak menyadari Irene berdiri tegas di depannya. Dengan tatapan tajam, Irene mendesis. Melipat kedua lengannya di depan dada, gadis itu berkata lagi, “Apa kau tidak punya kaca?” tanyanya.

“Apa maksudmu?” Jiyeon mengernyitkan dahinya. Masih menatap heran ke arah Irene, gadis berpipi chubby itu hendak beranjak. Namun, Irene dengan gerakan yang lebih cepat segera menahan tubuh Jiyeon dan memaksanya untuk duduk di bangku kembali. “Jangan berharap lebih!”

“Kau pikir, Hoshi akan semudah itu menerimamu?” Irene tersenyum miring, “Tidak!” lantangnya. “Kau bukan siapa-siapa, Kim Jiyeon! Kastamu tidak sama dengan Hoshi!” remehnya.

“Lalu, apa pedulimu?” tantang Jiyeon. Seperti sebuah limit, Jiyeon juga memiliki batas kesabaran meladeni orang yang selalu mencemoohnya. Irene menatap Jiyeon sinis, “Aku kasihan padamu!”

Jiyeon memalingkan wajah. Ia menyugar surainya sekali lagi sambil berdecak tak senang. “Lebih baik kau pergi!” sentaknya. Irene menghela napas kasar, “Uang memang tidak bisa membeli cinta. Namun, itu dapat meningkatkan persyaratan cintamu, kan?”

“Maksudmu?” Jiyeon kembali mengernyitkan dahinya. Menatap aneh ke arah Irene yang hanya mengedikkan kedua bahunya. “Aku tahu, kau ingin bersama Hoshi karena mengincar popularitasnya, kan?” tebaknya.

Jiyeon bergeming. Menyadari tebakan Irene ada benarnya, ia memilih memalingkan wajahnya. “Jika kau memiliki perasaan padanya, kuharap, kau tidak akan merasa sakit saat ia akan mengembalikan cokelat pemberianmu.” Setelah berucap seperti itu, Irene segera beranjak dan membiarkan Jiyeon melihat punggungnya menjauh.

Kwon Soonyoung datang beberapa saat setelah Irene pergi. Masih terlihat dingin, pria berkawat gigi itu menghampiri Jiyeon dengan langkah pelan. Mengalihkan pandangan selain Jiyeon, ia melipat kedua lengannya di depan dada.

“Soonyoung, kau datang?” Jiyeon refleks tersenyum. Ia segera berdiri, berlari kecil menghampiri Soonyoung. Kemudian bergelayut manja di lengan kanan Soonyoung. Soonyoung yang risih, mengibaskan tangannya, mengisyaratkan Jiyeon untuk berhenti.

Namun, alih-alih untuk berhenti, Jiyeon malah beralih menggenggam talapak tangan milik pria itu. “White day, Soonyoungie!” ingatnya pada Soonyoung. Soonyoung tersenyum miris, “Bisakah kau memanggil nama kerenku saja?”

Jiyeon mengangguk-angguk paham. Kedua sudut bibirnya semakin tertarik ke atas, “Hoshi!”

“Aku tidak mau membuang waktuku,” Soonyoung menghela napas sebelum melanjutkan. “Kau tahu bukan, jika aku tidak suka berbasa-basi?” Jiyeon mengangguk, segera melepaskan genggaman tangannya walau berat hati.

Jiyeon sungguh tahu, apa kebiasaan Soonyoung. Bahkan, saat Soonyoung tetap dingin pun, Jiyeon sudah tahu jika itu wajar. Manusia dingin yang jarang tersenyum. Pria tertampan satu sekolahan dan paling populer.

“Sekarang, waktunya kau menjawab!” seru Jiyeon. Soonyoung refleks mengangguk pelan, segera merogoh saku seragamnya dan mengulurkan sebuah kotak kecil di depan Jiyeon. Kedua mata Jiyeon kembali berbinar, perasaan senang yang berlebih membuat kedua sudut bibirnya kembali tertarik ke atas. Jiyeon tahu, saat ia memberi cokelat pada Soonyoung di hari valentine, cokelat pemberiannya berbungkus kotak yang berbeda.

Inilah yang membuat Jiyeon merasa senang. White day adalah hari dimana seseorang yang telah diberi cokelat di hari valentine, akan membalas pemberiannya dengan marshmallow atau semacamnya sebagai tanda ia juga memiliki perasaan yang sama. Kotak kecil berwarna biru, Jiyeon mengira, bahwa isi kotak itu adalah marshmallow seperti keinginannya. Dengan cekatan, Jiyeon membuka kotak itu. Namun, saat melihat isinya, wajah Jiyeon tertekuk.

Ia melihat cokelat pemberiannya masih utuh di dalam sana, lengkap dengan sebuah kartu ucapan yang berada di samping cokelat itu. Mendadak ingin menangis, Jiyeon segera menggeleng pelan. Menepis, bahwa Soonyoung memang sengaja mengembalikan cokelatnya, ia berucap, “Kau salah memberiku hadiah, Hoshi-ya!”

Soonyoung tersenyum miring, mengubur kedua telapak tangannya di dalam saku celana. “Tidak!” ujarnya masih dingin. Segelintir perasaan perih perlahan mulai meruntuhkan pertahanan Jiyeon. Tanpa sadar, Jiyeon menangis.

Cukup sakit bagi Jiyeon saat Soonyoung mengembalikan cokelat pemberiannya. Berarti, bahwa dengan atau tanpa sengaja, Soonyoung tidak memiliki perasaan untuknya. Sekadar untuk membalas perasannya pun tidak. Jiyeon gagal, oleh sesuatu hal.

“Sebelum menyayangi seseorang, kau harus paham sesuatu!” Jiyeon mendongakkan wajahnya, mata sayunya berani menatap Soonyoung. “Cinta, dapat dibeli dengan uang!” Merasa hatinya semakin perih, Jiyeon memilih mengalihkan pandangan. “Sadarlah, kau kasta terendah! Sedangkan aku? Aku pemilik kasta tertinggi di sini!”

Setelah berucap seperti itu, Soonyoung dengan cepat pergi meninggalkan Jiyeon. Yang entah sejak kapan meremas kotak yang ia genggam hingga lusuh. Melihat punggung Soonyoung menjauh, Jiyeon menyesal. Ternyata benar apa yang dikatakan Irene, cinta memang butuh sesuatu. Bukan sekadar perasaan, tapi kasta.

Alasan sebelumnya ia mendekati Soonyoung, sebenarnya adalah popularitas. Sebuah alat agar kastanya terangkat, dan terhindar dari cemoohan Irene, Yein, ataupun Jisoo. Namun, alih-alih mengangkatnya, Jiyeon malah terjebak dan semakin dalam masuk ke dalam lubang bahaya.

Ia jatuh terduduk di atas tanah. Menangis dalam diam, membuat dadanya sesak. Jiyeon segera melempar kotak pemberian Soonyoung ke segala arah. Hatinya terasa nyeri, dan itu membuatnya bingung. Karena tanpa disadari, Jiyeon mulai menaruh hati pada pria dingin itu.

Choi Seung Cheol menatap nanar gadis di depannya. Kotak yang Jiyeon lemparkan tadi, ternyata berhenti di depan sepatu Seung Cheol. Pria jakung itu membenarkan letak kacamatanya, mengulas senyum tipis karena tanpa sadar, ia ikut terluka. Refleks, Seung Cheol merunduk, segera meraih kotak itu.

Pria dengan kancing kemeja sampai atas itu pun memberanikan diri melangkah mendekati Jiyeon. Sekuat apapun pertahanannya untuk tidak mendekati gadis itu, harus ia tepis. Ia hanya ingin menenangkan Jiyeon, semampu yang ia bisa. Setidaknya, sampai Jiyeon kembali tersenyum seperti sedia kala.

Seung Cheol alias S.coups tahu, keberadannya bukanlah hal yang baik bagi Jiyeon. Mengingat, Jiyeon pernah menyuruh Seung Cheol untuk menjauhinya karena merasa jijik. Namun, itu bukanlah masalah bagi Seung Cheol. Sebab, seperti apapun keinginan orang yang dikasihinya, semampu yang ia bisa, ia akan menuruti.

“Ji-Jiyeon-ssi…,” ucap Seung Cheol tegagap. Pria itu menyentuh pelan bahu kiri Jiyeon dan ikut berlutut menyamakan tingginya dengan Jiyeon. Jiyeon masih bergeming dalam tangisnya. Tidak berniat menggubris Seung Cheol, yang menurutnya akan semakin membuat moodnya hancur.

“Kei-ya!” Mengumpulkan sisa kekuatannya, Jiyeon mendongakkan wajahnya menatap Seung Cheol. Kedua pipinya basah, hidungnya memerah, pandangannya pun sayu. Membuat Seung Cheol kembali merasa miris.

Seung Cheol tahu, apa alasan Jiyeon seperti ini. Tak lain dan tak bukan, pasti karena ulah Soonyoung. Karena ternyata, Seung Cheol melihat Jiyeon dan Soonyoung tadi. “Sudahlah, Kei-ya. Masih banyak pria yang lebih baik darinya!” ujarnya. “Jika kau menangis karena cokelatmu tidak dimakan olehnya, aku bisa menghabiskan cokelat ini!”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Seung Cheol segera membuka kotak tersebut. Memasukkan batang cokelat yang sudah menjadi serpihan ke dalam mulutnya. Sambil tersenyum pada Jiyeon, Seung Cheol berucap, “Ketahuilah, uang juga bisa membeli cinta…. Namun, apakah itu dapat meningkatkan persyaratan cintamu?”

Jiyeon tertegun, meneguk salivanya pelan sembari menatap Seung Cheol. Bagiamanapun juga, kalimat Seung Cheol ada benarnya. Uang bisa membeli cinta, Jiyeon harus paham akan hal itu. Lalu, dengan meningkatkan persyaratan cinta? Jiyeon mulai meragukan hal itu.

“Aku sudah memakan cokelatmu,” Seung Cheol terlihat sibuk merogoh saku seragamnya. Mengeluarkan sebungkus marshmallow dan menyodorkannya pada Jiyeon. “Ini untukmu. Maaf, aku belum bisa membunguksnya dengan rapi.”

Jiyeon meraih marshmallow pemberian Seung Cheol. Ia tidak pernah menyangka, Seung Cheol yang selalu ia benci ternyata masih peduli terhadapnya.

“Sekarang, hapuslah air matamu, dan tersenyum!” Seung Cheol mengatupkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi Jiyeon. “Berhenti menangis, dan tersenyum!”

“S.coups?” Jiyeon mengangguk, sembari menyebut nama Seung Cheol. Memaksakan kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, Jiyeon berhasil membuktikan pada Seung Cheol bahwa ia mampu tersenyum. “Gomawo,” seruan Jiyeon berakhir, setelah ia dengan segera mendekatkan tubuhnya pada Seung Cheol.

Jiyeon memeluk Seung Cheol untuk pertama kalinya. Seung Cheol pun hanya mampu mengulas senyum, memberanikan diri untuk membalas lengan Jiyeon yang lebih dulu merengkuhnya. Tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, Seung Cheol berusaha mengatur degupan jantungnya yang mulai liar di dalam sana. Karena bagaimana pun juga, Seung Cheol memiliki perasaan untuk Jiyeon.

Jika kau tidak menggunakan persyaratan kasta untuk memasuki hatimu. Apakah ada celah untukku? Seung Cheol tersenyum getir. Bermonolog. Tanpa tahu, apakah Jiyeon masih teguh dengan keinginan popularitas.

***

Rabu, 9 Maret 2016

Kikan

Advertisements

3 thoughts on “[White Day With Kei’s] Mansae

  1. First?
    Huaaa… akhirnya ada juga yang pasangin nih kapel… Aku suka aku suka…
    Kei disini terkesan kaya gimana gitu yaa, kaya gila “hitz” gitu /maaf aku nggak bermaksud buruk kok/
    Betewe betewe, aku suka sama jalan ceritanya soalnya nih kapel tuh favoritku hehe
    Oke deh, keep writing yaa… See ya~ ^-^

    Like

  2. kikan, aku titip jitak buat hoshi yah 😦 jahat bgt sih nolak kei yg canci :((
    aku bacanya senyam-senyum ndiri tauk 😦 apalagi pas sekopnya ngasih marshmellow :’3 tau aja kei mukanya mirip marshmellow /lho
    bagus ffmu^^ semangat terus nulisnya yah :’)

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s