Posted in 1st : White Day with Kei's, AU, BaekMinJi93, Comedy, Fluff, General / G, School-Life, Slice of Life, Teenager / Teen, Vignette

[White Day With Kei’s] Caffeine God

Kei Birthday Event #2 - Caffeine God

Special fanfiction for Kei’s birthday

BaekMinJi93 proudly present

 

— CAFFEINE GOD —

 

Starring with birthday’s girl Kim Jiyeon and a Boy

| AU – Comedy failed! – Fluff – School Life – Slice Of Life | Ficlet (>500W) | General – Teen |

 

Kamu seperti kafein, aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu.

Hatiku terus berdetak lagi dan lagi.

 


Demi apapun Jiyeon benci kopi.

Kopi terbuat dari bahan dasar kafein dan kafein itulah yang membuatnya alergi pada minuman yang pada umumnya berwarna hitam pekat itu. Selalu saja ada sensasi menjengkelkan setelah menyeduhnya, meskipun ia selalu memilih moccasebagai ganti cappucino favoritnya tapi Jiyeon tetap saja merasakan sensasi jantung berdetak bahkan mengalahkan sensasi yang ia rasakan ketikasedang berada didekat sang pujaan hatinya di sekolah. Tidak hanya itu saja, sekali minum kopi ia akan terjaga selama beberapa hari dan akibatnya ia sering ketiduran di kelas dan tentu saja itu membuatnya tertinggal banyak pelajaran.

Alasan itulah yang membuat Jiyeon melabelli kopi sebagai minuman yang amat keramat dan berbahaya untuknya.

Tapi sebenci-bencinya Jiyeon dengan kopi, percayalah suatu saat nanti pasti akan ada hal yang akan membuatnya kembali tergila-gila dengan minuman itu.

Ya, suatu saat nanti

***

Seperti biasa saat weekend datang menghampiri hari-harinya yang begitu penat, Jiyeon selalu rajin melakukan acara me time di salah satu cafe dekat rumahnya. Dengan berbekal laptop dan sling bag favoritnya, gadis itupun siap menikmati acaranya sendiri dan merefresh pikiran penatnya yang selalu dihantui dengan tugas-tugas sekolah yang begitu menumpuk itu.

Namun sebenarnya bukan hanya itu saja yang menjadi alasan Jiyeon untuk rajin melakukan me time nya. Tentu, ia mempunyai satu alasan khusus dan sebentar lagi kau akan tahu apa yang terjadi sebenarnya. Di benak Jiyeon masih terekam jelas bagaimana kejadian yang selalu membuat jantungnya berdetak setiap kali ia mengingatnya.

Pemuda itu.

Pemuda tampan penggila frappédengan asap mengepul karena dinginnya es didalam minuman itu.

Entah kenapa sosok pemuda penggila frappé itu terus melekat di benak gadis cantik itu dan hei!sejak kapan pemuda tampan itu duduk dihadapan Jiyeon saat ini?

Well… meskipun saat ini pemuda itu tidak benar-benar duduk dihadapan Jiyeon, tapi tetap saja jarak dua meja itu sama saja terhitung dekat, bukan?

Seperti yang ia lakukan selama ini, Jiyeon bertingkah seolah-olah sedang fokus dengan laptopnya, tapi percayalah ekor matanya itu masih saja mencoba curi-curi pandang pada meja pemuda itu. Bahkan ia sudah berusaha keras untuk tidak peduli, tetapi tetap saja masih ada yang membuatnya untuk meliriknya.

Ada apa dengannya saat ini?

Dan kenapa jantungnya juga berdetak kencang?

Apa semua ini efek dari kafein di dalam mocca yang ia minum? Bukankah ia sudah memesan dengan banyak susu didalamnya? Tapi kenapa dia masih saja merasa deg-degan?

Apa jangan-jangan…

Ah… tidak mungkin. Ya, tidak mungkin,” gumam Jiyeon seraya menggelengkan kepalanya kuat.

***

Seperti hari Senin di pekan-pekan sebelumnya, Jiyeon selalu saja tertidur sewaktu pelajaran matematika favoritnya dimulai. Semua itu karena sebab yang sama, ya semalam gadis itu tidak bisa tidur karena efek menjengkelkan itu.

Saat Jiyeon sedang mencoba menggapai alam mimpinya yang begitu liar, gadis itu merasakan jika ada yang menyikut pinggangnya berkali-kali, entah siapa pelakunya. Tapi meskipun semakin lama ia semakin merasa sakit akibat semua itu, tetapi rasanya Jiyeon sangat malasuntuk sekedar membuka matanya sedikit saja. Gadis itu terus menggumamkan kata “5 menit lagi” saat ia mendengar berbagai bisikan yang mengalun lembut tepat didepan telinganya.

“Bangun, Ji. Guru Kang mengawasimu sejak tadi,” bisik seseorang yang Jiyeon yakini ialah adalah Yoo Jiae, teman satu bangkunya.

Seraya berganti posisi, Jiyeon kembali bergumam kata yang sama. “Aku masih ngantuk. Biarkan aku tidur 5 menit lagi.”

“Tapi-…”

“Apa kau nyaman tidur dengan posisi seperti itu, nona Kim?

Merasa geram karena tidur nyenyaknya terganggu, Jiyeon berdecak kesal dan menggerutu. “Aiish… diamlah-…”

YAK! KIM JIYEON! BERANI SEKALI KAU TERTIDUR DI KELASKU!”

Mendengar seruan melengking bak penyanyi seriosa itu, sontak membuat Jiyeon benar-benar tersadar dari mimpi indahnya. Masih dengan sesekali mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa lengket, netranya kini juga ikut mencoba berbaur dengan silaunya sinar matahari yang masuk dari sela ventilasi kelasnya, Jiyeon menanggapi amarah itu dengan raut wajah tidak berdosa. “Maaf, saem,” ujarnya lirih.

Melihat murid teladannya bertingkah seperti itu, guru Kang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepanya heran. “Cepat basuh wajahmu sekarang dan pulang sekolah nanti temui saya di ruang guru.”

“Baik, saem.”

***

Sepanjang perjalanan pulang, indera pendengaran Jiyeon hanya diisi dengan ocehan panjang Jiae yang memiliki satu inti yang sama, apa yang terjadi dengannya beberapa hari ini?

Meskipun begitu, Jiyeon tidak benar-benar mempedulikan apa yang dibicarakan teman sekaligus sahabat dekatnya ini, melainkan pikirannya hanya terfokus dengan apa yang dibicarakan guru favoritnya petang tadi. Dengan helaan napas yang berat dan penuh kesan keibuan yang selalu Jiyeon kagumi dari wanita paruh baya itu, guru Kang menyodorkan sebuah map yang tak lain dan tak bukan ialah laporan nilai Jiyeon pada semester ini. Pada awalnya Jiyeon tidak tahu apa maksud dari semua itu, tapi setelah dengan perasaan ragu setelah membacanya, kini gadis itu tahu apa maksud dari guru Kang memanggilnya kesini.

“Akhir-akhir ini nilaimu berada dalam kategori kurang memuaskan, nona Kim.” Jiyeon masih bungkam saat guru Kang membuka suaranya. Merasa ada masalah yang begitu mengganjal di pikiran siswa kesayangannya ini, guru Kang kembali melanjutkan, “Sebenarnya ada apa dengan dirimu? Bukankah bibi sudah pernah mengatakan jika ada masalah yang sedang melanda pikiranmu, kau bisa mengatakannya padaku, Ji.”

Melupakan sikap profesional yang harus ditekankan antara siswa dan guru selama di sekolah, akhirnya guru Kang lebih memilih untuk melembutkan nada bicaranya dan kembali bersikap seolah mereka berdua adalah bibi dan keponakan tercinta, karena memang itu kebenarannya.

Ji-…

“Bukan apa-apa. Sungguh, bukan apa-apa. Mungkin karena akhir-akhir Ji sering mengonsumsi kopi saat pulang sekolah, sehingga pada akhirnya membuat Ji tertidur di kelas seperti tadi. Ini hanya karena masalah sepele dan tidak perlu dipermasalahkan.”

“Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau alergi pada kopi. Kenapa-…”

Ji rindu pada aroma cappucino kesayangan dan kemarin malam Ji kabur dari rumah dan menyeduhnya, bibi. Sungguh, maafkan aku. Ji benar-benar merasa menyesal dan janji tidak akan mengulanginya,” aku Jiyeon seraya menunjukkan lambang peace andalannya.

Bibi sekaligus guru matematika kesayangannya itu mengusap puncak kepala Jiyeon pelan dan tersenyum lembut. “Kali ini bibi maafkan. Tapi jika kau mengulanginya lagi, bibi juga janji akan mengadukan tingkahmu pada ibu. Paham, Ji?!

Baru saja lamunan Jiyeon akan kejadian beberapa jam yang lalu ia selesaikan, tiba-tiba langkahnya terhenti tepat didepan sebuah cafe biasa tempat ia menghambiskan waktu bersantai dengan mocca sialan itu. Awalnya ia memutuskan untuk langsung melewati cafe itu dan tidak pergi mampir dulu.

Tapi perlukah aku garis bawahi kata “awalnya”?

 

Mengapa aku berkata seperti ini? Tentu saja semua ini didasari ucapan dari hati kecil Jiyeon yang tanpa sadar mengajaknya untuk memasuki cafe itu setelah netranya menangkap sosok seseorang yang telah menyita atensinya selama ini. Karena pada dasarnya Jiyeon seorang gadis naif dan selalu menuruti apa yang hati kecilnya perintahkan, akhirnya rajutan langkahnya satu demi satu mulai melangkah memasuki cafe itu. Padahal bukankah ia sendiri yang sudah membuat janji pada bibinya dan ia sendirilah yang mematahkannya. Gadis naif, bukan?

Toh hari ini aku akan memesan cokelat panas jadi itu tidak akan menjadi masalah besar, kan?

 

Pikiran itulah yang menjadi dasar kenaifan seorang Kim Jiyeon. Setelah selesai memesan dan mendapatkan apa yang diinginkannya, Jiyeon kembali merajut langkahnya dan netranya hanya terfokus pada meja dengan nomor meja 93, meja yang menjadi meja favorit pemuda tampan itu duduk dan meminum frappénya.

Dengan dalih mengucapkan jika semua meja sudah terisi penuh disertai persetujuan dari pemuda tampan itu, gadis manis itu mendudukan dirinya dengan hati-hati dan juga… anggun. Pemuda itu mengalihkan atensinya pada Jiyeon, sekedar menganggukan kepalanya sekilas dan tersenyum lembut guna menjaga tata krama dan sopan santun, tapi siapa sangka hal itu sudah membuat jantung gadis bermarga Kim itu kembali berdetak kencang.

Eh? Berdetak kencang? Bukankah saat ini ia sedang minum cokelat dan seharusnya-…

Atau jangan-jangan

Eum…agassi,” ujar Jiyeon pelan namun tetap dapat didengar oleh pemuda dihadapannya itu, buktinya pemuda itu kini sepenuhnya mengalihkan seluruh tatapannya pada Jiyeon.

Sial! Kenapa detak jantung ini terasa ingin membunuhku? Ada apa sebenarnya?

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” lanjut Jiyeon masih dengan nada ragu.

Pemuda itu menganggukan kepalanya ringan. “Tentu. Kau ingin bertanya apa, agassi?

Eum… sebenarnya…” Jiyeonpun tidak tahu harus memulai darimana. Tapi otaknya sudah bulat akan kesimpulan itu dan dia harus memastikannya sendiri sekarang. “Apa kau ini adalah…”

Oh satu yang hampir tertinggal, asal kau tahu saja diumur yang hampir menginjak dewasa seperti ini, Jiyeon terkadang masih percaya dengan hal-hal berbau dongeng dan tidak nyata. Bahkan terkadang ia memiliki imajinasi liar yang tidak seluruh orang bisa memahaminya.

“Apa kau ini adalah…” Jiyeon masih ragu dan pemuda itu masih menatapnya penasaran. “Apa kau ini adalah titisan dewa kafein?

Eh?

“Kenapa kau selalu membuat jantungku berdetak kencang? Jika benar, apakah aku bisa memintamu untuk menyihirku agar tidak kembalibenci pada kopi? Bisakah?”

Oh ayolah… anggap saja Jiyeon sedang berbagi delusi gilanya bersama orang baru. Jadi santai saja…

— FIN —

Pehliz, jangan tanya kenapa aku bikin FF absurd gini…

APA INI?! DEWA KAFEIN?! KAU GILA, BE?!

Eh… tapi beneran loh, teteh Kei ku yang cantik jelita meskipun diumurnya udah nginjak 22, tapi dia masih percaya sama cerita Pangeran yang menyelamatkan Putri cantik kok… Jadi aku aman yaa…

Oke kalian boleh ngejudge apapun kok tentang FF ini, asalkan nggak menyakitkan hati yaa…

Dan apa hubungannya sama tema White Day?

NGGAK ADA HEHEHE… /plak/

Tapi setidaknya, meskipun gaje seperti ini, aku harap kalian tetep terhibur yaa…

Thank you and see ya~

Warm Regards

From the cutest (?) and invisible author,

 

BaekMinJi93 —

Advertisements

Author:

Halo Lovelinus!^^ Senang membaca fanfiksi atau membuat fanfiksi dengan karakter Lovelyz? Blog ini merupakan blog yang berisi fanfiksi-fanfiksi dengan karakter utama Lovelyz ^_^

4 thoughts on “[White Day With Kei’s] Caffeine God

  1. DEMI APA ADA DEWA KAFEIN :’v

    yo brow, di usia yang kelewat tua /dibanding umur anjing tetangga/ zy juga masih percaya kok pada pegasus dan kotak pandora :’v

    keep writing kak bebe ❤ maap ocehan tak berfaedah ini :’v

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s