Posted in 1st : White Day with Kei's, Ficlet, Horror, Misshin017, PG-15, Romance, Sad

[White Day With Kei’s] From A Letter

kei

From A Letter

misshin017

Kim Jiyeon

Riddle, sad, romance

Ficlet

PG-15

Aku memiliki banyak hal yang ingin kukatakan kepadamu, namun aku tak mampu mengatakannya.

***

Jiyeon tahu tidak akan ada yang berubah dari awal dia berdiri di sini. Hujan akan terus mendera dan jalanan akan tetap sepi membisu. Dia tak peduli jika sang air merembes membasahi mantel birunya, seolah semuanya adalah hal yang bisa ditoleransi dengan alasan semata.

Mungkin gadis itu tidak akan pernah tahu kapan seseorang yang dia tunggu akan datang dengan kuda putihnya lalu membawa Jiyeon lari dengan segenap cinta. Jangan katakan dia munafik soal hal ini. Namun, Jiyeon sudah terlanjur jatuh cinta.

Terkadang dia menarik ujung mantel sambil meniup telapak tangan, berdoa supaya kehangatan menjalar di tubuhnya. Walau Jiyeon sangat tahu, semuanya tetap sia-sia. Karena tidak akan pernah ada kehangatan di tempat sedingin ini untuknya.

Bukan. Ini bukan berarti dia terdampar di suatu daerah dan tidak dapat pulang karena hujan dadakan yang turun tepat dia melangkahkan kaki keluar dari salah satu gedung-gedung di sekelilingnya. Bahkan, Jiyeon sangat kenal dengan baik tempat ini, hingga dia bisa tahu tempat mana saja yang melindunginya dan membasahinya.

Dari kejauhan, terpancar seberkas cahaya yang menyilaukan mata. Bukannya enggan untuk menepi, gadis itu malah berlari ke tengah meminta sang pengendara untuk berhenti.

Sekalipun tubuhnya tersiram curahan air mati.

“Suratku!” titahnya sekuat tenaga agar pengemudi itu berhenti dan memberikan sesuatu yang ditunggu gadis itu sejak tadi.

Tak berapa lama sepeda motor itu berhenti. Pria paruh baya yang mengendarainya tersenyum miris dibalik kegelapan kaca.

“Tunggu, ya.” Jawabnya sekena.

Jiyeon mengangguk ceria, dia mencoba menepis rasa dingin yang membekukan tubuhnya.

“Suratmu, nak.”

Dan tanpa aba-aba Jiyeon mengambil ulurannya. Seolah mendapat sesuatu yang berharga, gadis itu nampak girang seketika.

“Terimakasih, paman.” Ucapnya sebelum berlalu pergi.

“Sama-sama.” Lirih si paman terbawa hujan.

***

“Untuk Kim Jiyeon, kekasihku…

Selamat White Day untukmu!^^

Aku begitu bekerja keras selama sebulan ini. Pagi hari aku pergi sekolah, siangnya aku bekerja, malamnya aku bekerja lagi, dan paginya aku kembali sekolah kembali. Kakakku bahkan berkata jika aku bisa sakit jika terus-menerus memaksakan diri seperti ini.

Tapi, aku tidak peduli. Aku selalu makan dan istirahat teratur. Misalnya aku jatuh sakit, aku takut tidak ada yang membalas suratmu lagi.

Dan kalau tidak ada yang membalas suratmu lagi, nanti kau bisa kesepian, ya kan?

Oh, ya. Aku juga ingin menceritakan pengalamanku yang pertama mendaki gunung. Awalnya aku baik-baik saja, bahkan selama di bus aku terus tertawa bersama teman-teman yang lainnya. Perjalanannya sangat indah, ditambah begitu banyak pemandangan alam yang sangat menyejukkan mata.

Tapi, ketika sudah sampai di gunung. Aku malah terjatuh ke dalam jurang, untunglah tidak dalam. Namun, yah, kakiku terkilir dan terpaksa hanya duduk di dalam bus seorang diri. Kalaupun ingin kemana-mana, harus ada yang menemani dan membopongku. Aku sedih sekali T.T

Yeon, sejujurnya aku memiliki banyak hal yang ingin kukatakan kepadamu, namun aku tak mampu mengatakannya. Surat ini tak mampu menjabarkan satu persatu cerita.

Hmm, omong-omong aku menyisipkan sebuah lukisan kepadamu. Kuharap kau suka ya, aku membuat ini selama berhari-hari, hihihi.

Ah, sudah dulu. Sampai nanti, jangan lupa balas suratku yaaa~

Salam hangat, Hong Jisoo.”

Surat itu kini terlipat rapi di dalam laci meja, sedangkan sang empu sibuk merobek kertas bersiap-siap membalas pesannya.

Jiyeon tahu, dia tidak akan pernah kesepian.

Tentu karena ada Jisoo yang selalu menemaninya, dengan sejuta surat, dan sejuta cahaya.

***

“Tuan Kim, kau baik-baik saja? Dari tadi kulihat yang hanya termenung. Ada apa?”

Laki-laki paruh baya itu meneguk kopi di tangannya, sesekali matanya menatap ilalang kota yang kian menyuram menyambut malam.

“Aku merasa sangat berdosa.”

“Kenapa?”

Perasaan terluka menyembul pelan di dalam hatinya.

“Setiap hari, selalu ada surat yang datang untuk tetanggaku. Dan pengirimnya adalah gadis muda dari kota sebelah.” ungkapnya pelan. Pria yang bertanya kemudian mengerutkan dahi menunjukkan ketidaktahuan arah topik ini.

“Terus?”

Untuk kesekian kalinya, dia menghela nafas.

“Tapi tetanggaku,—sudah tiada sejak dua tahun lalu.”

***

END

***

                AUTHOR NOTE(s)

MIAANHHHHAAAEEEYOOOOOO T.T INI ABSURD DAN TIDAK MUFAKAT NAN WAROHMAN/HIKSHIKS. Bikinnya malem-malem karena baru sadar besok deadlinennya tinggal menuju hitungan waktu. Maaf sebesar-besarnya untuk Kei yang unyu jika ff ini mengecewakanmuu.

Love, misshin017

Advertisements

Author:

Halo Lovelinus!^^ Senang membaca fanfiksi atau membuat fanfiksi dengan karakter Lovelyz? Blog ini merupakan blog yang berisi fanfiksi-fanfiksi dengan karakter utama Lovelyz ^_^

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s