[White Day With Kei’s] I Love You

large

Author: ANi | Main Cast: Kim Jiyeon, Do Kyungsoo EXO | Genre: Fluff and Friendship | Rating: T | Length: Ficlet

This is my story, just mine. The cast is not mine. Warning Typo’s everywehere, guys. Don’t be plagiat and Siders

Inspired [recomended]: Saigon Kick – I Love You

Selamat ulang tahun Kei*

>>I Love You<<

Kamu tahu, ketika kamu jatuh cinta. Kamu tidak akan bisa tertidur karena kenyataan lebih indah dibandingkan mimpimu.

—-

…something i can’t stop

i love you…

>I Love You<<

Alih-alih matanya terutup karena malam, Jiyeon masih betah berada di atas kasur dengan mata terbuka menatap langit-langit kamar yang dipenuhi bintang hiasan yang ia pasang dua bulan lalu.

Jiyeon masih ingat betul, kemarin sepupu Jiae –yang kelewat tampan- datang, alasannya sih sederhana, menemani Jiae selama seminggu. Tapi, oh, Jiyeon tak bisa bernapas saat itu –serius, itu tidak berlebihan, kan?- karena wajahnya yang terlalu bersinar melebihi kekasih Sujeong, Kim Mingyu.

Tapi Jiyeon sadar betul, mungkin ini hanya sementara. Ia hanya menyukai pria Do itu, tidak untuk mencintainya.  Lalu, bagaimana jika Jiyeon sampai mencintai pria Do itu?

***

Jiyeon lupa sudah seminggu pria Do itu ada di rumah Jiae. Dan selama itu pula Jiyeon lebih sering bertandang ke rumah Jiae –sekedar curi-curi saja. Lalu, sekarang ada satu hal yang selalu mengganjal di dalam hati Jiyeon. Ketika ia melihat rupa si pria Do tersebut.

Aneh, rasanya sangat aneh.

Sujeong pernah bilang, “Cinta itu rasanya aneh, seperti ada kupu-kupu di dalam perutmu. Kau tau, terkadang terasa manis. Dan love at first sight, bisa menggambarkan kondisimu sekarang.”

Tapi, tidak seharusnya Sujeong ‘menceramahi’ Jiyeon begitu saja, Sujeong terpaut 2 tahun lebih muda.

Dan, hei-

“Kim Jiyeon-ssi, kau tidak mau masuk ke dalam?” Kyungsoo menyadarkan Jiyeon dari lamunannya.

“Ah, tentu.”

***

“Semakin hari, sepertinya mata mu berkantung dan menghitam. Kenapa?” Kyungsoo membawa dua  cangkir teh hijau dan menaruhnya di atas meja. Lalu pria itu menempatkan sebagian beban badannya ke sofa dihadapan Jiyeon.

“Mungkin aku terkena insomnia akhir-akhir ini, jadi aku sulit tidur.” kilah Jiyeon dan membohongi sang penanya, tapi hatinya tak dapat berbohong. Tapi, dapatkah Jiyeon menyebunyikan raut dan sorot mata bohongnya agar Kyungsoo tidak tahu? Karena jika ia berbohong, Jiyeon akan sangat kentara sedang berbohong.

“Memikirkan sesuatu setiap malam?” tanya Kyungsoo lagi, senyum pria itu merekah seketika melihat perubahan cara pandang Jiyeon lalu meminum teh.

“Tidak juga, sedikit.”

“Cara pandangmu mengatakan banyak.”

Kali ini Jiyeon tak dapat berkilah atau menolak mentah pernyataan dari Kyungsoo. “Sesuatu yang rumit dan…yang belum pernah datang kepada ku sebelumnya.” sedikit kejujuran disana, Jiyeon tak ingin lagi membohongi siapapun. Tapi mana mungkin Jiyeon mengatakan bahwa ia menyukai pria dihadapannya sekarang.

“Soal apa? Kau bisa berkonsultasi dengan ku –mengingat aku seorang dokter psikologi.”

“Masalah anak muda, mungkin. Atau remaja. Entahlah.”

“Jungkook dan Yein?”

“Mereka sudah dewasa. Soal…percintaan.” Jiyeon meneguk sedikit tehnya dengan agak kesulitan. Mungkin hal ini bisa dianggap tabu baginya dan memalukan.

“Oh, ya itu mungkin sedikit sulit.” ujar Kyungsoo lalu mencairkan suasana sembari tersenyum manis.

“Mungkin itu alasan ku karena mengalami insomnia akhir-akhir ini.” tambah Jiyeon lalu menyembunyikan raut wajah malunya di balik surai rambut cokelat yang tergerai indah.

“Berapa lama?”

“Seminggu terakhir.”

***

“Karena aku memikirkan hal yang tidak seharusnya kupikirkan. Kenyataan dalam hidupku lebih indah ketimbang mimipi.”

“Kau membuat sugesti mu sendiri?”

“Aku tidak bilang itu sugesti, aku hanya meyakinkan diri bahwa kenyataan yang terjadi dalam hidup ku sekarang lebih indah ketimbang mimpi ku setiap malam.”

Lalu, hening.

Kalau Jiyeon boleh jujur, ia benci keadaan kaku seperti ini. Tapi lupakan hal itu kalau keadaan tersebut bersama Do Kyungsoo.

Di sekon berikutnya yang ia habiskan untuk bungkam, matanya mulai berotasi untuk menangkap Do Kyungsoo. Tapi yang terjadi adalah, keduanya saling bertatapan sekarang. Entah bagaimana, Jiyeon tak ingin lepas dari apa yang menjeratnya sekarang.

“Siapa yang kau sukai, Kim Jiyeon-ssi?” suara lembut itu masuk bersamaan dengan hembusan angin musim semi lewat jendela disebelahnya yang terbuka lebar dan menghiasi rungunya saat ini.

“Seorang pria yang baru aku kenal.” Jiyeon sedikit mengangkat bahunya, agar membuat Kyungsoo sedikit keliru dengan pernyataannya barusan. Dan benar, Kyungsoo terkecoh.

“Mungkin kau sudah mengenalnya sejak lama atau kau baru mengenal jati dirinya.”

“Ya, mungkin.” Jiyeon menjawabnya dengan ambigu lalu mengangguk –sok tahu.

“Dia baik, aku tau itu.”

“Uh?”

“Aku tau dia baik.” Kyungsoo tersenyum tipis lalu beranjak dari sofa menuju dapur, meninggalkan Jiyeon di ruang tamu sendirian.

Mengapa sang pemilik rumah harus pergi disaat-saat seperti ini?! Jiyeon benci hal itu. Kemana perginya Jiae?! Kencan dengan Min Yoongi?!

***

Kendati hatinya menginginkan cepat pulang, tubuhnya terjebak disini. Dihadapan Kyungsoo yang memberinya sebuah bingkisan kecil sebagai tanda terima kasih –atau bom, mungkin. Satu lagi, senyum itu terus merekah dan menghias indah, menambah kesan ramah sekaligus hangat pada diri Kyungsoo.

“Besok aku masih ada disini, jika kau mau konsultasi –gratis- lagi, kau bisa datang menemuiku. Tak perlu lagi berpura-pura ingin bertemu Jiae.” sedikit tamparan untuknya dikala Kyungsoo mengeluarkan kata-kata barusan.

“Aku tid-  oke baiklah, besok aku kesini untuk konsultasi. Tapi, BESOK KAU MASIH ADA DISINI?!” pekik Jiyeon nyaring, nyaris saja membuat Kyungsoo terjungkal. Lalu pria itu menggosok daun telinganya.

“Aku akan tinggal disini mulai besok, secara resmi. Sekaligus menjaga Jiae dari pria itu, Min Yoongi, kau taukan? Oh ya, jangan lupa sering-sering datang kemari mulai besok. Aku akan senang kalau kau menemaniku setiap sore untuk minum teh seperti tadi.”

“Tapi bukankah kau harus ke rumah sakit untuk bekerja?”

“Ya aku lupa soal itu.”Jiyeon mengangguk mengerti, namun raut wajahnya sedikit cemas dengan apa yang dibicarakan oleh Kyungsoo barusan.

Tanpa sadar, Kyungsoo mendekatinya lalu ia menepuk pelan bahu Jiyeon untuk menyadarkannya dari lamunan. “Terima kasih sudah mencintai ku.”

Seketika tubuh Jiyeon tak dapat bergerak dan tatapannya jatuh pada iris gelap Kyungsoo yang menatapnya hangat. “Karena, aku mencintaimu dan juga yang tak bisa ku hentikan jika aku pergi adalah mencintaimu, Kim Jiyeon-ssi.” saat itu juga Kyungoo memeluk tubuh mungil Jiyeon dan mengecup singkat pucuk kepalanya.

||END||

Aku ga tau ini cerita apaan/nangisdipojokkamar/

Ini ga bisa dikatakan manis –karena aku bukan pecinta manis-manis apalagi gula-gula- tapi masih aja nyantumin fluff/ngesot di lantai/ padahal ga ada manis-manisnya. Bahasanya masih jelek, ceritanya aneh dan amburadul di kasih bumbu absurd, pokoknya ini jelek. Bagi siapapun yang membaca, jika ada kesalahan mohon kritik dan sarannya#bow/dan alurnya kembali ‘banting stir’/

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s