[Ficlet-Mix] Andai Aku Manusia(2)

image

Picture by Tutorial Indonesia–Instagram, edited by Nnafbjnr

Andai Aku Manusia

Nnafbjnr

Ryu Sujeong, Lee Soojung, Lee Mijoo, Kim Jiyeon, and their couple • Sad, slice of life, surrealism, idk • Ficlet-Mix • T 

The next of Andai aku manusia I posted here with cast Kim Myungeun. With other member and thing, I made this with my imagination. 

Sorry for absurd/? English. I just tried :”v

Just read. 

SORRY FOR TYPO(S) GUYS! 

….

1) Bahkan kau melihatku secara langsung pun tak mau—Soojung.

Melihatnya dari kejauhan pun sudah membuatku senang. Manusia dengan senyum manisnya yang sedang bermain bola di tengah lapangan sekolah di hari yang terik ini kujadikan incaran cintaku. Sejak dirinya dijemur dalam gendongan sang Ibu ketika masih berumur hitungan hari, aku telah melihatnya, melihat segala perkembangannya yang terjadi padanya. Tawanya yang renyah kala ia berumur 14 tahun telah membuatku untuk menyukainya—bahkan mencintainya. Pijakan kakinya yang terasa tegas, sedang wajahnya terlihat ceria. Sepertinya menyenangkan sekali apabila aku bisa melihatnya dari jarak yang begitu dekat. Ah, beruntung sekali menjadi manusia yang bisa dekat dengannya.

Sebuah awan tebal—aku lupa namanya—mengatakan bahwa manusia tersebut bernama Kim Myungsoo, seorang cassanova —atau apalah itu— di sekolahnya.

Itu nama yang keren, bukan?

Sayangnya diriku terlampau jauh dan tua untuk mendapatkannya. Terkadang aku pun menyesal atas keberadaanku sendiri yang membuatnya harus berkeringat dengan berlebihan. Itu sungguh menyedihkan. Terlebih lagi, keberadaanku ini seakan menjadi sesuatu yang pantas di sesali.

Hei, bila tidak ada aku, bumi ini mungkin tidak akan hidup.

“Mataharinya terik sekali!” ucap salah satu teman Myungsoo sembari mendongak, menatapku dari bawah sana.

“Jangan lihat kesana, nanti matamu rusak,” kata Myungsoo. Itu menyakitkan. “Kita lanjut saja permainannya.”

Bahkan kau melihatku secara langsung saja tak mau. Itu sudah cukup menjadi fakta bahwa diriku betul-betul ditolak olehnya dengan segala alasan yang ada.

Dan itu menyakitkan. Lebih menyakitkan dibandingkan dengan keluhan manusia lain terhadapku.

…..

2) Apa aku tidak senyaman dia?—Sujeong

Berdiri setiap hari tak mematahkan kakiku—tubuhku juga. Keberadaanku di sebuah padang rumput yang luas menjadi tempat favorit seseorang yang kedatangannya selalu kutunggu. Meski selalu datang sendirian, itu lebih baik karena aku senang memandanginya yang terlihat begitu tenang. Gerak tubuhku yang dihembus angin cukup membuatku cemas, takut kalau wajah tenangnya sirna akibat suara gemerisik yang kutimbulkan. Bersyukur itu tidak terjadi.

Aku sempat melihat name tag-nya. Kalau tidak salah namanya adalah Kim Taehyung. Bak rumput di stadion sepak bola, poninya begitu rapi dan lucu apabila tertiup angin. Mata sipitnya indah, nyaman sekali bila bisa menatapnya langsung. Ah, jadi ingin menatapnya.

Terasa rumput-rumput hijau yang terlihat segar terinjak oleh alas kaki. Getarannya terasa semakin dekat denganku. Mataku menemukan sesosok manusia yang begitu kukenal tengah menggandeng tang—apa? Menggandeng tangan seorang gadis? Wajah keduanya berseri.

Sial. Daunku rontok secara tiba-tiba. Ini akan mengotori tempat Taehyung duduk!

“Jeong, ini tempat favoritku.” Taehyung berhenti dihadapanku. Gadis disebelahnya terlihat sangat bahagia. Pandangannya beralih padaku. “Hon, gadis ini yang namanya kuukir di batangmu.”

Ya, ukiran dua tahun lalu. “Taehyung+Sujeong” terukir di tubuhku, sakit namun bahagia. Tapi sekarang apa? Bukan aku yang dicintainya. Dia membawa gadis lain kehadapanku? Itu terlalu menyakitkan!

“Ini kekasihku. Kami berdua akan sering berkunjung kesini untukmu,” ucap Taehyung. Hei, hatiku perih!

“Aku Kim Sujeong. Kau pohon favorit Taehyung, ya? Besar sekali!”

Sial, namanya sama dengan namaku! Nilai plus untuk kata sial, dia kekasih Taehyung.

Apa aku tak senyaman dia?

3) Sayangnya, aku bukan siluman yang bisa berubah-ubah wujud sesukaku.—Mijoo

Kedua telapak tanganku kutempelkan pada dinding kaca yang membatasi duniaku dengan majikanku. Diletakkan pada tempat yang seperti ini tidak begitu buruk. Meski jauh lebih kecil dengan ruangan majikanku, ini tidak membuatku kedinginan. Ah, beruntung sekali memiliki majikan sepertinya. Bukannya sombong, tapi aku termasuk barang kesayangan majikanku—yah, meski tubuhku kecil.

Pandanganku beredar, mencari sosok Nam Woohyun kecintaanku. Menemukan sosoknya dengan sesosok wanita, masing-masing wajahnya memerah dan urat lehernya menonjol. Kuyakin, mereka sedang bertengkar. Menyenangkan sekali bisa menontonnya. Pertengkaran antara sepasang kekasih. Saling membentak, memaki, berteriak. Belum menikah tapi sudah begini. Aku harap setelah ini Woohyun akan melamarku untuk menjadi istrinya.

“Kau bahkan lebih mencintai tikus menjijikan itu dibandingkan aku?!” bentak wanita itu sambil menunjuk-nunjuk kearahku dengan marah.

Tentu saja ia lebih memilihku. Haha.

“Dia tidak menjijikan, bodoh! Kenapa jadi membawa Mijoo?” balas Woohyun.

Senangnya aku dibela.

Pertengkaran berakhir dengan kalimat ‘Kita putus. Aku benci kau!’ Ini terbukti, bukan hanya Tuhan ng mencintaiku, Woohyun juga mencintaiku. Ini kenyataan yang baik meski tak sewajarnya terjadi. Sungguh, perasaanku semakin besar padanya disetiap harinya. Woohyun menoleh dan melangkahkan kakinya ke arahku. Kuubah posisiku, sengaja berkeliling agar terkesan imut, dan itu berhasil. Tangan besar Woohyun menangkup tubuhku yang sangat kecil ini. Hangatnya begitu terasa hingga ke ujung tulang. Aku berharap bulu tipisku tak membiarkan detak jantungku terasa di kulitnya.

“Aku mencintaimu, Joo,” ucapnya lembut sambil mengelus kepalaku lembutku.

Aku juga mencintaimu.

Tapi manusia mana yang jatuh cinta pada seekor tikus peliharaannya?

Bila aku manusia, tentu saja aku akan membalasnya. Sayangnya, aku bukan siluman yang bisa berubah-ubah wujud sesukaku.

4) Semenjijikan itukah, aku?—Jiyeon.

Aku keluar dari tempat persembunyianku, memberanikan diri untuk menatap si tuan rumah yang kelewat tampan untuk ditatap. Berjalan tanpa suara, beberapa kali menghindar dari benda-benda besar yang akan menghilangkan nyawaku bila aku tertimpanya—jangankan tertimpa benda besar, dipukul menggunakan sendal jepit saja aku bisa mati.

Terdengar suara yang ramai di ruang makan. Seperti mereka sedang makan malam bersama. Itu bukan kesempatan yang baik untuk melihat manusia tampan yang biasa disapa dengan sebutan Joshua. Baiklah, lebih baik aku berdiam diri di dekat sofa, menunggu Tuan Joshua untuk duduk disana agar aku bisa melihatnya langsung. Terdengar suara seseorang melangkah perlahan mendekat ke arah, tak tahu siapa. Jantungku mulai berdebar lebih cepat dari biasanya. Aku pun memejamkan mataku, takut bila aku terpesona saat melihatnya.

“IBU! KECOA KECOA! ADA KECOA!”

Sialan.

Jarinya yang kekar menunjuk ke arahku. Melompat ketakutan dengan wajah jijiknya menatapku. Meski begitu, wajahnya masih terlihat tampan, sangat tampan.

Tak ada yang menyahut, Joshua kembali berteriak histeris.

“Oh, Tuhanku! Ini menjijikan sekali, sumpah!” umpatnya.

Keluhanya atas kedatangannku kembali terdengar. Ini semakin mengiris hatiku. Semenjijikan itukah aku? Hei, aku dan Joshua sama-sama makhluk Tuhan! Lalu apa salahnya aku menyukai manusia? Lalu mengapa manusia malah membenciku, bukannya balik menyukaiku?

Dengan bodohnya aku celingukan, bingung antara pergi atau menatap wajah Joshua yang sedang mengumpat histeris.

“Pukul saja menggunakan sandal, Josh!” teriak ibunya dari arah dapur.

Sialan.

Haruskah aku bernasib sama dengan keluargaku sebelumnya? Mati dipukul sandal jepit dan di kubur dengan tumpukan sampah? Bukan itu harapanku! Bahkan aku berharap agar bisa mati dipelukan Joshua! Bukan mati tak elit begini.

Joshua sudah siap dengan sandal jepit murahannya—namun kuat tak tertahankan. Tangannya bertahan diudara, menantikan waktu yang tepat untuk membunuhku. Oke, aku pasrah. Pasrah.

Plak!

.

Yang penting aku mati ditangan Joshua.

.

.

Finish.

.

Semuanya adalah makhluk Tuhan. Salahkah bila kami; sesama makhluk Tuhan menyukai sesama makhluk-Nya meski berbeda jenis?

Oke, inget aja, smuanya adalah Makhluk Tuhan! hmz, ya ini kegalauanku sih. Ff yg udah lumutan di memory :v sukur masih di post. Hehee

Give me review or comment, plz! Laffeu~

 

 

Advertisements

4 thoughts on “[Ficlet-Mix] Andai Aku Manusia(2)

  1. Ga bisa ngebayangin muka nya joshua yang histeris gara-gara ngeliat kei(baca: kecoa)
    aku juga gitu sih, suka histeris kalo ngeliat kecoa. Tapi kayanya unik banget deh yang mijoo sama sujeong, kalo yang soojung terlalu menyakitkan
    KUSUKA banget

    Liked by 1 person

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s