[Oneshot] Crazy Oppa

cats

“Crazy Oppa” by Mingi Kumiko

Main Cast : [BTS] Jungkook & [Lovelyz] Yein ★ Also mentioned :  [UP10TION] Xiao [iKON] Chanwoo [SVT] Seungkwan & Joshua [Lovelyz] Kei ★ Genre : Friendship, school life, romance ★ Rating : Teen ★ Length : Oneshot

✿ Happy Reading ✿

***

“Jungkook oppa itu sangat menyebalkan. Dia adalah pria paling aku benci seantero galaksi ini. Pokoknya dia gila dan aku benar-benar muak dengannya!”

.

.

Sudah sekitar 30 menit aku berkutat dengan komputer. Coba menyelesaikan garapanku yang tertunda sejak seminggu yang lalu. Karena merasa bosan akhirnya kuhentikan sejenak aktivitas tersebut. Mataku mengerling dan menangkap jurnal yang tergeletak asal di atas meja. Aku pun dengan cepat meraihnya. Seketika terpampanglah deretan satu halaman penuh daftar pesanan desain untuk bulan ini.

Singkat penjelasan tentang club desain grafis SMA Seungri; merupakan organisasi yang bertugas membuat kerangka/rancangan grafis untuk setiap event yang diselenggarakan sekolah. Anggotanya berasal dari banyak genre, mulai dari siswa yang sudah berpengalaman sampai siswa awam yang ingin memperdalam dunia grafis.

“Amboi, banyak sekali pesanan untuk bulan ini!” aku menggeleng-gelengkan kepala. Kutepuk jidatku lantas memundurkan kursi beroda yang kududuki. Sejenak menjauh dari aplikasi corelDraw X7 yang terpampang lebar di layar komputer.

“Pagi-pagi sudah berisik!” sentak seseorang yang membuatku terlonjak dari kursi. Aku pun memutar kepala dan mendapati sesosok pria yang tengah terduduk di sofa empuk.

“Jungkook oppa annyeong! Tadi Seo seonsaengnim mengantarkan kimbap tuna untuk kita.” celetukku, berhubung barusan manikku menangkap pria—yang sekarang kalian ketahui bernama Jungkook —itu tengah memandangi kudapan yang tersampir di meja ATK.

Kalau dipikir, tidak terlalu buruk, sih, menjadi anggota dari club ini. Selain bisa menambah ilmu, setiap pagi ada konsumsi dari pembina sebagai imbalan untuk dedikasi kami. Belum lagi saat melihat nilai A+ tertera di mata pelajaran kesenian. Sayangnya tak banyak yang tahu tentang hal tersebut. Jadinya club ini tak seberapa memiliki peminat.

Satu lagi, club desain grafis memiliki sebuah moto yang berbunyi, “Rekan adalah keluarga”. Jadi hal sakral bernama senioritas ditendang jauh-jauh dari club ini. Tentunya tanpa menghilangkan sopan santun sebagai budaya ketimuran. Maka, apabila ada anggota club yang lebih tua, mereka tak disarankan menggunakan honorifik, namun memanggil dengan sebutan Oppa, Hyung, Noona, atau Eonni.

“Iya, iya… menjelaskan dengan nada yang biasa saja bisa tidak, sih? Enggak usah sok diimut-imutkan begitu juga. Suaramu seperti tikus terjepit, tahu!” celoteh Jungkook oppa dengan intonasi rendah, kemudian bersedekap, dan menaikkan kakinya ke paha. Bibirku mengerucut. Diimut-imutkan bagaimana, sih? Suaraku, kan, memang sudah begini dari sananya!

Namun lama-lama suasana hatiku juga jadi buruk saat menyadari hanya ada kami berdua di ruangan ini. Anggota lain ke mana, ya? Biasanya si Shiksin Seungkwan ke mari untuk menengok camilan apa yang disediakan staff untuk kami. Tapi pagi ini aku belum sama sekali melihatnya.

Karena sudah merasa agak tak nyaman dengan suasana canggung ini, aku memutuskan pergi ke kelas saja.

Oppa, aku ke kelas dulu, ya!” pamitku seraya membungkuk asal-asalan pada Jungkook oppa.

“Heh, Yein!” panggilan yang lebih terkesan membentak itu ia lontarkan saat aku sudah sampai di ambang pintu. Aku menghela napas berat. Tak habis pikir dengan pria gila itu. Mau apalagi, sih? Dengan ragu aku berbalik dan menghadapnya—lagi.

“Ada apa, oppa?” aku berusaha memasang wajah seramah mungkin, meskipun itu sulit. “Memangnya sudah selesai pekerjaanmu itu?” tangannya bersedekap dengan kepala yang mendongak, seperti Yakuza yang hendak menantang berkelahi.

“Belum, sih… tapi kan sebentar lagi masuk.”

“Sudah kausimpan apa belum proyeknya? Jangan seenaknya ditinggal begitu, dong! Kalau ada orang lain memakai komputer dan tak tahu jika itu berkas penting, bagaimana?” ia mengoceh dengan begitu fasih.

“Iya, iya, maaf.” dengan langkah gontai aku kembali ke komputer yang sudah benar-benar muak kulihat. Untuk apa lagi kalau bukan menuruti ucapan pria gila itu? Tapi apa boleh buat, lakukan saja daripada urusannya makin panjang. Gerutuan kesal berombang-ambing di kepalaku.

“Dasar bawel!”

“Tidak ada kerjaan lain apa selain mengomel?”

Setelah komputernya mati, aku bergegas pergi dan berpamitan lagi pada Jungkook oppa. Tapi responnya hanya sekedar mengangguk seraya mengangkat tangannya. Ia tak mengalihkan pandangan dari ponsel. Cowok itu sungguh membuatku jengkel! Ah sudahlah, enggak usah diambil pusing. Pria gila macam dia mana tahu sama yang namanya sopan santun!

***

Hari ini jam pulang sengaja dimajukan karena semua guru hendak mengadakan rapat. Tapi sayangnya aku tak bisa langsung pulang karena harus berkumpul di markas club desain grafis.

Sesampainya di sana, kudapati ruangan begitu ramai. Sebenarnya tak seramai itu juga, sih. Anggota yang hadir cukup lengkap, itu maksudku.

“Hey, Yein! Akhirnya kau datang juga.” Sapa Jiyeon eonnie.

Ne, eonnie.” Aku balas tersenyum seraya membungkuk padanya dan kemudian melanjutkan langkahku memasuki ruangan tersebut.

“Bagaimana proyekmu, Yein? Sudah selesai?” celetuk Jisoo oppa. Dia adalah ketua club desain grafis.

“Hehehe, maaf, oppa… masih dalam proses. Kau tahu sendiri aku jarang menggunakan efek T-Based, jadi aku sedikit pusing dengan konsepnya.”

“Memang kaunya saja yang malas. Ungkapan tidak bisa itu cuma berlaku untuk mereka yang tidak mau berusaha. Jangan sukanya bermain di zona aman saja, dong! Sesekali kau harus mencoba hal baru untuk mendapatkan lebih banyak pengalaman.” Celetuk seseorang yang sudah sangat jelas bukan Jisoo oppa. Aku pun memiringkan kepala — coba menelisik seonggok manusia di belakang Jisoo oppa yang barusan bicara.

Rude Hyung kita mulai lagi,” celetuk Dongyeol.

“Biasa saja, dong! Aku, kan, cuma bilang sedikit bingung. Bukan berarti aku tak mau mencoba!” aku mendadak naik pitam saat menanggapi ucapan pedas pria gila itu.

Hush… sudah, sudah, jangan ditanggapi. Jungkook tuh sedang datang bulan, jadi bawaannya marah terus.” lelucon Jisoo oppa — yang jujur saja sangat garing — itu disambut dengan lemparan kacang yang mendarat di kepalanya. Rupanya Jungkook oppa  sedikit tak terima dikatai sedang datang bulan.

“Iya, iya.. percaya deh yang jago di segala efek photoshop.” celetuk Jiyeon eonnie.

“Apa, sih, Jiyeon?” pria gila itu merespon dengan jutek.

Harus kuakui, di balik pembawaannya yang slengean, Jungkook oppa itu sebenarnya jenius. Dia sangat jago membuat poster bergenre C4D. Genre yang menurutku paling keren dari semua genre efek yang ada. Lain halnya denganku yang cuma bisa menggunakan efek scrapbook, efek yang dari sudut pandangku tak ada keren-kerennya sama sekali.

“Hari ini staff hanya memberikan ramyun instan untuk jatah konsumsi kita. Kira-kira kalian mau tidak? Tapi pastinya harus ada yang pergi ke pantri untuk memasakkannya.” Jiyeon eonnie bicara dengan suara yang sedikit lantang.

“Tentu saja mau! Aku sangat lapar. Saking laparnya aku sampai tak punya tenaga untuk ke pantri.” oceh Seungkwan menimpali ujaran gadis berparas bak dewi itu.

“Bagus juga alibimu, dik!” Jisoo oppa memuji Seungkwan.

“Biar aku yang memasak ramyun untuk kalian!” seruku yang sontak membuat seisi ruangan memfokuskan tatapannya padaku.

Memangnya ada yang aneh dengan ucapanku barusan? Apa salahnya bersukarela memasakkan ramyun untuk teman seorganisasi?

Sesanghae, kau benar-benar baik, Yein-a!” Dongyeol mengacungkan kedua jempolnya ke arahku.

“Memangnya kau bisa masak? Nanti ramyun-nya overcook, lagi!” sahut Jungkook oppa yang membuatku sontak menoleh dan memberinya tatapan sengit.

“Jangan seenaknya, ya, kalau bicara!” aku tak terima jika ia mengataiku tak bisa masak.

“Sudah, sudah… kalian berdua ini, tidak ada kerjaan lain apa selain bertengkar terus?” celoteh Jiyeon eonnie — yang mungkin heran bukan kepalang dengan ulah kami berdua.

Kalau dipikir-pikir, sih, memang aneh. Awal bergabung dengan club ini, Jungkook oppa-lah orang pertama yang mengakrabkan dirinya denganku. Tapi entah bagaimana mulanya hingga jadi seperti ini. Dia berubah jadi orang yang menyebalkan; tak sama sekali menyenangkan untuk didekati. Ia sering menyela obrolanku dengan anggota lain, mengataiku bawel, banyak tanya, sok polos, dan banyak lagi.

Harus kuakui dia adalah sosok yang paling mencolok di organisasi ini. Kemahirannya mendesain dengan berbagai gaya benar-benar membuatku kagum hingga aku ingin lebih akrab dengannya. Namun saat mengetahui responnya yang begitu merosot dari ekspektasi, aku pun bertekad untuk tak lagi mengganggunya.

“Bagaimana kalau kau temani Yein ke pantri? Pastikan sendiri Yein itu bisa masak atau tidak.” ujaran Jisoo oppa sontak membuat mataku membulat. Yang benar saja, mana mau aku ke pantri dengan cowok gila sepertinya!

Usul tak masuk akal itu disambut gelakan tawa renyah oleh seisi kelas. “Buruan, hyung! Kapan lagi coba, kau bisa berdua saja dengan Yein di tempat sepi.” goda Chanwoo. Aku pun langsung menjitak kawanku yang berwajah semi Arab itu, berhubung ia duduk tepat di sebelahku.

“Jungkook, kan, sebenarnya naksir Yein. Hanya gengsi saja untuk bilang.” ujaran Jiyeon eonnie membuat suasana makin bising saja. Kok, semuanya jadi memborbardir aku dan Jungkook oppa begini, sih?

Chanwoo, Seungkwan, dan Dongyeol sekonyong-konyong mengangkat lengan Jungkook oppa dan membuatnya bangun dari posisi duduknya yang nyaman di bangku plastik. “Hey, apa-apaan ini?” ia berseru protes. Para dongsaeng itu secara paksa mendorong hyung-nya hingga lengan kami saling bertabrakan.

Aish, apa-apaan, sih?” aku menggerutu kesal seraya memegangi lenganku.

“Aku sudah beli telur dan beberapa bahan pelengkap lainnya. Kau bisa mengolah semuanya, ‘kan?” Jiyeon eonnie menyodorkan sebuah kantung plastik berukuran tanggung padaku. Aku pun mengambilnya dan lantas melihat isinya. Lumayan lengkap menurutku, ada sawi, bawang bombay, nori, telur, dan kimchi.

“Ya sudah, aku ke pantri dulu ya, semua.” aku beranjak pergi tanpa menghiraukan eksistensi Jungkook oppa di sebelahku. Aku tahu, kok, mereka semua cuma bercanda menyuruhnya menemaniku ke pantri. Lagian, memasak ramyun, kan, mudah. Aku pasti bisa melakukannya sendiri.

Hyung, kejar, dong!” terdengar seruan Chanwoo saat aku mencapai ambang pintu. Tapi apa peduliku, tidak penting.

.

.

Sesampainya di pantri, aku segera mengambil panci untuk merebus air. Kupotong beberapa helaian sawi di atas talenan. Namun setelah sawi selesai kupotong, airnya masih belum mendidih. Aku pun mengambil wajan untuk menggoreng telur setengah matang. Karena akan memakan waktu lama jika telurnya kurebus. Berhubung kompor di pantri ini memiliki dua burner, hitung-hitung lebih irit waktu.

Kutuangkan minyak di wajan lantas memutar knop ke kiri untuk menyalakan api. Setelah kurasa minyaknya sudah panas, aku pun memecahkan cangkang telur dan menceploknya.

Seketika itu juga air yang kurebus pun mendidih, kubuka 5 bungkus ramyun dan kucemplungkan ke panci. Ya ampun, aku lupa menaburkan garam pada telurnya! Cepat-cepat kubuka lemari kecil yang terletak di atas kompor untuk mengambil wadah berisi garam.

Fyuh, sekarang tinggal menunggu telurnya matang dan meniriskannya. Tapi, pulmoku kembali tercekat tatkala melihat potongan helaian hijau itu masih tersampir di atas talenan. Aduh, aku belum memasukkan sawinya ke panci! Ramyunnya juga perlu diaduk. Aku pun langsung mengambil langkah untuk meraih garpu.

Belum sempat mengaduk ramyun, aku mendengar suara pletikan minyak dan percikannya mengenai pergelengan tanganku. Sial, telurnya mau gosong! Tapi bagaimana ini? Kalau ramyunnya tak diaduk, bisa-bisa tingkat kekenyalannya tidak rata.

Seusai mengaduk ramyun asal-asalan, aku beralih mengambil spatula yang tergantung di dinding.

 

PYAR!

Aku menjatuhkan spatula yang barusan kuraih saking paniknya. Karena spatula itu telah mencium lantai, aku bergegas mencucinya karena tak mau kalau telur yang kubuat terkontaminasi debu dan membuat teman-teman sakit perut.

Aku berusaha meniriskan telurnya, namun percikan yang ditimbulkan minyaknya malah makin menjadi-jadi. Tentu saja, karena aku lupa mengelap spatula yang masih belum sepenuhnya kering itu. Aku meringis kesakitan sambil berusaha meniriskan telur.

“Hati-hati, hey! Percikannya itu panas!” terdengar suara seseorang memekik. Aku menoleh karena refleks. Dan benar saja, kudapati Jungkook oppa yang kini tengah berdiri di sebelahku. Suhu tubuhku meningkat saat ia meraih tanganku yang masih memegang spatula. Ia menggerakkan tanganku agar telur yang sedikit sulit diangkat dengan spatula itu dapat ditiriskan.

Masalah pertama pun selesai, namun tanpa sadar ia masih menggenggam tanganku. Setelah memahami tatapan innocence-ku, ia pun segera melepaskan tangannya dan beralih mematikan kompor yang masih ditindihi panci berisi ramyun.

“Maaf, aku tak bermaksud kurang ajar padamu. Aku hanya —”

“Iya, aku tahu, kok. Terima kasih, kalau tidak ada oppa mungkin telurnya sudah gosong dan tak berbentuk.” aku menyahut ucapannya tanpa perlu menunggu ia merampungkan kalimat. Berlagak stay cool, padahal sebenarnya kardiotoraksku masih cenat-cenut.

“Kau ini memang payah dalam segala hal, ya?” ledeknya. Cih, baru saja aku memujinya karena bersikap heroik. Namun sekarang urung karena ia kembali menjadi Rude Boy seperti biasanya.

“Terserah kau mau bilang apa, aku tidak peduli!” responku tak acuh.

“Sini kubantu, biar cepat selesai.” ucapnya seraya mengambil kemasan bumbu ramyun instan yang kugeletakkan di sebelah kompor.

“Kenapa tiba-tiba datang ke mari?” tanyaku iseng. Tapi jujur aku penasaran.

“Ya karena aku tahu kau payah dalam segala hal jadi aku tidak tega membiarkanmu sendirian membuat ramyun.” titahnya enteng.

OPPA-YA!!!” aku memekik kesal. Jawabannya itu, lho! Sungguh menggelitik telinga.

“Hehehe, bercanda, kali! Ya karena aku sudah lapar tapi kau tak kunjung datang, jadi aku ke sini.”

“Terus, respon anak-anak bagaimana? Maksudku, mereka tak menyorakimu atau semacamnya, begitu?”

“Aku tak menghiraukannya, tuh? Untuk apa diambil pusing.”

“Oh begitu ya…”

“Kau siapkan garnish-nya saja, gih! Biar aku yang goreng telurnya lagi.”

“Baiklah.” Aku menurutinya tanpa syarat. Hitung-hitung untuk menetralisir perdebatan tak penting yang pasti bakal terjadi apabila aku membangkangnya

.

.

Setelah ramyun siap, aku dan Jungkook oppa segera membawa sepanci penuh ramyun menuju ruang 201.

Baegopa! Baegopa!” terdengar seruan Chanwoo dan Seungkwan yang antusias.

Cie, Jungkook… Bagaimana, sudah selesai membimbing Yein jadi calon istri yang baik?” goda Jiyeon eonnie yang jujur saja membuatku hendak memuntahkan seluruh isi perut. Ih, menjijikkan!

“Hari ini bicaramu ngelantur terus ya, agasshi? Membuatku tak habis pikir.” Jungkook oppa begitu ketus menanggapi ucapan Jiyeon eonnie.

“Santai, man… jangan kebal humor begitu.” Jisoo oppa menepuk pundak Jungkook yang masih belum mampu menyetabilkan emosinya dan coba mencairkan suasana.

“Ayo, dimakan.” aku mempersilakan teman-teman untuk menyantap ramyun buatanku dan Jungkook oppa.

Aku lebih memilih duduk di depan layar komputer untuk mencari referensi desain saat teman-temanku sedang asyik menyeruput ramyun panas.

Loh, kok enggak makan?” tanya Jisoo oppa yang membuatku sontak memiringkan kepala dan menolehnya.

Gwaenchana, aku memang sering merasa enek dengan makanan yang kumasak sendiri, hehehe.” balasku sambil tertawa garing.

“Ada-ada saja kau, dik. Makanlah biarpun sedikit, tim desain grafis harus kompak!”

“Bukannya begitu, aku cari referensi saja, deh. Biar nanti pas di rumah bisa langsung mengerjakan proyek. Wi-fi di rumah sedang mati karena ayahku belum ke kantor pusat untuk membayar, hehehe.”

“Baiklah, semangat, ya!” Jisoo oppa menepuk pundakku dengan pelan. Seketika bulu kudukku pun merinding. Sentuhannya itu benar-benar hangat dan membuatku melayang.

Oppa tidak makan?” aku bertanya untuk meminimalisir kegugupanku saat berada di dekat lelaki berpembawaan kalem itu.

“Sudah, kok! Ramyun buatanmu enak,”

“Itu kan cuma ramyun instan…”

Jangan berpikir aneh-aneh, ya! Misalnya mengira aku suka Jisoo oppa atau naksir padanya. Tak sama sekali, hanya saja lumrah menurutku apabila seorang gadis merasa bergetar ketika disentuh oleh cowok. Apalagi perawakannya sekeren Jisoo oppa macam begini.

.

.

Hari sudah mulai sore dan tak terasa kami semua telah menghabiskan banyak waktu di ruang 201. Satu per satu anggota pamit untuk pulang dan akhirnya hanya menyisakan aku, Jisoo oppa, Jiyeon eonnie, dan seorang cowok gila yang tengah tertidur lelap di atas sofa.

“Jisoo-ya, kamu tidak pulang?” tanya Jiyeon eonnie pada pria yang tengah membaca buku panduan menggunakan Adobe Photoshop di sebelah rak.

“Memangnya ada apa, Jiyeon? Kamu mau pulang sekarang?” Jisoo oppa pun beranjak dari kursi dan meletakkan kembali buku yang barusan ia baca ke tempat semula.

“Hehehe, iya…”

“Hm, kuantar, ya?”

“Boleh.”

Aku tak habis pikir kenapa mereka berdua begitu manis dan menyenangkan untuk dipandang. Cowoknya tampan dan ceweknya juga cantik. Apalagi kalau sedang ngobrol berdua membahas proyek, tatapannya berbeda, seperti tersiratkan kasih sayang begitu, deh. Tapi saat aku tanya pada Jiyeon eonnie apa mereka punya hubungan spesial, ia hanya menggubrisnya dengan senyum simpul tanpa mengucapkan apapun. Huh, bikin penasaran saja!

“Yein –a, kau tidak pulang?” tanya Jiyeon eonnie padaku yang masih tak jemu berkutat dengan layar LCD di hadapanku.

“Hm, sudah sepi, ya? Aku juga mau pulang, tapi Jungkook oppa masih tidur. Tolong eonnie bangunkan, dong? Aku takut, nih!“

“Bagaimana, ya? Aku, tuh, sering tidak tega membangunkan orang yang sedang tidur. Mungkin dia sedang kelelahan.”

Yah, Jisoo oppa… bagaimana, dong?” aku meminta pendapat pada pria yang kini tengah mengemasi barang-barangnya ke dalam tas.

“Ya sudahlah, apa boleh buat. Kita tunggu dia bangun saja, bagaimana? Tak apa, kan, kalau harus menunggu sedikit lebih lama untuk pulang?” Jisoo oppa menatap Jiyeon eonnie.

Ugh, jangan! Ya sudah, aku saja yang menungguinya di sini. Tidak apa-apa kok kalau kalian berdua pulang duluan, hehehe.”

Loh, kok begitu?”

“Ya aku tidak enak hati saja pada kalian.”

“Hahaha, kau ini ada-ada saja, dik!” Jiyeon eonnie mencubit gemas pipiku.

“Sungguh, tidak apa-apa. Nanti kalau sampai jam lima Jungkook oppa tak juga bangun, aku akan membangunkannya.”

“Beneran tidak apa-apa, nih?” Jisoo oppa ragu.

“Iya, tidak apa-apa.”

“Terima kasih ya, adik manis… kami pulang dulu!” Jiyeon eonnie kembali menarik pipiku dan memutar-mutarnya. Ya ampun, memangnya aku seimut itu, ya?

“Hati-hati di jalan ya, oppa, eonnie.”

“Kau juga, Yein… segera pulang, kalau memang terdesak langsung saja bangunkan Jungkook, jangan pakai ragu.” tandas Jisoo oppa.

“Oke, oppa!”

.

.

Hoaaaaam…” aku menguap dengan lebar tanpa sempat menutup mulutku. Lelah juga ya menatap layar selama berjam-jam. Di pojok bawah layar LCD sudah tertera angka 16:35 dan aku masih di sini, duduk manis menunggui pria gila itu mendengkur.

Namun aku sudah tak tahan lagi, perutku bergemerucuk pertanda aku lapar. Kuhela napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan. Menyiapkan nyali untuk membangunkan monster yang berkemungkinan akan menelanku hidup-hidup saat aku mengusik alam bawah sadarnya. Hm, apa kaupikir konotasi yang kugunakan ini berlebihan? Benar juga, Jungkook oppa tak mungkin sesadis itu. Paling-paling reaksinya cuma mengomel protes dan menyumahserapahiku dengan ocehannya yang seperi rapp itu — cepat sekali. Tapi aku tak peduli, aku ingin pulang sekarang dan mau tidak mau ia harus mengerti keadaanku. Kecuali kalau ia mau membelikanku kimbap dan tteokbeokki sebagai imbalan karena aku sudah dengan sabar menunggunya sampai bangun.

Aku memulai gerakan dengan mendorong pelan lengannya. Tapi tak berhasil. Ah, akan terlalu banyak memakan waktu kalau terus-terusan begini. Apa boleh buat, kubangunkan saja ia dengan cara yang kasar sekalian.

“Jungkook oppa, bangun! Sudah sore, nih!!” ucapku sambil memukul-mukul pipinya. Perlahan ia mengerjap-ngerjap. Mengucek matanya yang masih setengah terbuka.

Oppa, aku mau pulang. Cepat bangun, aku sudah kemasi barangmu, tinggal sampirkan saja tas ini di punggungmu. Ayo cepat!”

Perkataanku barusan sontak membuatnya mendongak. “Yein?” gumamnya.

“Aduh, cepatlah, oppa… ayo segera keluar dari sini! Hari sudah mulai gelap, tahu!” aku menarik paksa ia dari persinggahannya yang nyaman dan menggiringnya ke ambang pintu.

“Pelan-pelan saja bisa, kali!” sindirnya.

“Aku tidak peduli. Ya sudah, ya… aku pergi dulu, oppa. Sampai jumpa besok!” tandasku dan segera berlalu dari hadapannya. Namun betapa tercengangnya aku tatkala ia sontak mencengkram tanganku dengan erat.

“Tunggu, biar aku cuci muka dulu dan kita berjalan ke halte bersama-sama.”

“Hm, baiklah.” Aku tak memprotes sedikit pun. Karena sejujurnya aku memang tak seberapa suka pulang sendiri. Baguslah kalau ia mau menawarkan diri menjadi teman perjalananku menuju halte.

Jungkook oppa akhirnya rampung mencuci muka. Segeralah kami berjalan beriringan melewati gerbang sekolah untuk menuju halte.

Di perjalanan kami saling bungkam. Suasana canggung yang membalut kami benar-benar kentara dan hal semacam ini sungguh membuatku tidak nyaman. Aku ingin, sih, mengajaknya bicara. Tapi dengan topik apa? Kalian tahu sendiri, kan, Jungkook oppa itu sangat sensitif?

“Hm, Yein…” aku menoleh saat mendengar Jungkook oppa memanggilku dan refleks membalas, “Iya?”

“Kalau jadi perempuan, jangan terlalu gampangan begitu, dong… Harusnya kau bisa rubah sedikit sikapmu, biar tidak dimanfaatkan orang lain.”

Eo?”

“Ya, seperti tadi itu, kau —”

“Sudah cukup!” aku menyela ucapan ringannya yang begitu tajam dengan pekikan kuat hingga membuat kerongkonganku sakit. Aku menghentikan langkah dan memutar tubuhku untuk menghadapnya.

“Bisa tidak sih kalau bicara itu dijaga? Kaukira pantas langsung membicarakan apa yang ada di pikiranmu tanpa mengetahui itu akan menyakitiku atau tidak? Iya, aku tahu aku sangat bodoh dan payah. Tapi aku bukan perempuan gampangan! Dan aku tidak tahu atas dasar apa hingga kau berani mengataiku seperti itu. Aku merasa semua yang aku lakukan masih dalam batas wajar, kok! Memangnya kenapa? Oppa tidak suka?” setetes kristal bening lolos dari pelupuk mataku dan disusul dengan buliran lain. Aku segera menutup wajahku dengan telapak tangan untuk menyembunyikan sisi rapuhku. Tapi sumpah apa yang barusan ia katakan itu sudah keterlaluan hingga membuat hatiku sakit. Peduli setan meskipun niatnya cuma bergurau mengataiku seperti itu.

“Ye, Yein-a… aku tak bermaksud.” Ia coba membuatku tenang dengan meraih pundakku, namun buru-buru kutepis dengan kasar. Kuseka air mata yang membasahi pipiku saat kurasa mulai bisa mengendalikan diri.

“Aku punya salah apa, sih, hingga kau selalu memperlakukanku dengan kasar? Kita selesaikan semuanya sekarang. Kalau aku ada salah, cepat katakan, dan aku akan segera memperbaiki diri. Bukannya terus melakukan hal menyebalkan. Lagi pula, sekarang aku juga sudah tidak pernah mengusik oppa, ‘kan?” tukasku panjang lebar hingga membuat Jungkook oppa tercengang.

Bibirnya mengatup rapat, jatuh dalam sorotanku yang begitu tajam. Aku sudah benar-benar muak dan ingin melampiaskan semuanya.

Tiba-tiba Jungkook oppa mengambil selangkah lebih maju dan meminimalisir jarak di antara kami. Air muka gugupnya seketika berubah menjadi raut serius — yang menyeramkan.

Mataku terbelalak hebat, aliran darahku serasa berhenti saat ini juga. Hingga akhirnya mulutnya terbuka untuk berucap.

“Semua kulakukan karena aku ingin mendapat perhatianmu. Setiap orang punya cara sendiri, kan, untuk mendapat atensi dari orang yang mereka suka? Beginilah caraku, dengan menjadi orang paling menyebalkan di hidupmu agar selalu kauingat. Aku tidak suka saat melihat Jisoo seenaknya menepuk pundakmu. Dan aku… merindukan kamu yang selalu mengusikku saat aku sibuk menggarap proyek. Aku suka padamu, Yein.”

– END –

Maafkan fanfiction yang ga jelas, gantung, aneh, dan tak bisa diterima oleh akal sehat ini. Aku sadar sekali bahasaku di FF ini belibet banget, jadi maaf kalau ada yang nggak ngerti. Terus kan ada beberapa bahasa yang agak gaul nggak di-italic. Itu karena aku sempet browsing dan serentetan kata itu ternyata masuk di KBBI hehehe._.v Kalau masalah T-based, C4D, monochrome, dll itu termasuk jenis tekstur/efek photoshop. Ya emang aneh sih tapi coba cari di google pasti ada kok ^^v

Sampai jumpa di fanfiction selanjutnya (kalo saya diberi kesempatan). Review boleh? :3

Advertisements

4 thoughts on “[Oneshot] Crazy Oppa

  1. Keren thor dpet feel ny……Yeinny ga pekaan dan Jungkookny keterlaluan masa -_- Mnta sequel bleh ceritanya nanggung lnjutin dong..

    Like

  2. Aku suka banget.. nyesek juga pas bagian akhir, ternyata Jungkook itu suka sama Yein ya..
    Jungkook sih terlalu sensitif gitu, jdinya Yein marah kn hoho..
    Minta sequel nya ya thor, ini nanggung deh.. ceritain juga kisah mereka jadiannya ntar kek gimana..
    Oke thanks thor👋👋

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s