[White Day With Kei’s] A Precious Time

a precious time

Tittle: A Precious Time

Author: Intan Hidayanti N. (Kikan)

Cast:

  1. Kim Jiyeon (Kei Lovelyz)
  2. Park Chanyeol (Chanyeol EXO)

Genre: Romance

Length: Vignette

Rating: PG -17

Summary:

Kim Jiyeon tidak pernah sadar, suatu saat sikap manjanya dapat menimbulkan bencana. Namun, ia cukup beruntung memiliki Chanyeol. Yang nyatanya, mampu menukar semua yang ia punya demi Jiyeon. Termasuk, nyawa di ujung tanduk.

“Di hari yang putih ini, kenapa harus ada akhir yang buruk di antara kita?”

***

Author Note:

Haii Lovelinus…! Kenalin nih, gue author amatir, yang nulis, tulisan gaje. Wkwk…. Nama gue sih Intan, tapi nama pena gue Kikan. Nah, gue suka bingitzz kopelan ChanKei, yah… walau yang ngeshippin kemungkinan gue doang xD hehe….

Oh ya! Saengil Chukkae Hamnida Kei Eonnie {} Semoga makin ++ dan sukses terus ama karirnya {} Semoga juga, di tgl 20 nanti, Chanyeol bakalan nyatain cinta ke eonnie dannn… menikah, hidup bahagia selamanya ^O^ *Itu sih harapan gue yahh*

Ok deh, buat yang punya wattpad, yuk ah yukk, dipollow akun wattpad gue @IntanChanhyun. Gue punya ff tentang Kei banyak lohh… terus jangan lupa vonment^^ Oh ya, buat yang pengen betemen, bisa kok add fb gue: Intan Jiyong Chanhyun. *Wkwk… promosi*

Ok, happy reading! ^^

-Kikan-

***

A Precious Time

 

Jiyeon menggerutu kesal. Bibir mungilnya tak berhenti komat-kamit sejak tadi. Ia merasa jengah. Sambil berjalan pulang, ia menghentak-hentakkan kedua kakinya keras. Tidak peduli, jika kakinya akan terasa linu nanti.

“Chanyeol jahat! Chanyeol bodoh! Dasar Park Yoda!” umpatnya keras. Ia berjalan menunduk, mengepalkan kedua tangannya dan melayangkannya asal di udara. “Kenapa aku harus mempunyai kekasih bodoh sepertimu? Huh!” umpatnya lagi. Ia mengerang, mengacak surainya asal dan kembali menggerutu.

Jiyeon memang merasa kesal dan jengah. Pasalnya, ia telah menunggu Chanyeol selama hampir satu jam untuk berkencan dengannya. Nahas baginya, sebab Chanyeol tak kunjung datang. Dihubungi pun, nomor ponselnya tidak aktif.

  Padahal, hari ini adalah hari putih. Dimana, ia seharusnya menerima sebuah permen atau marshmallow pemberian Chanyeol. Bertemu dengan Chanyeol, dan menghabiskan malam bersama. Namun, apa dayanya jika Chanyeol juga tak kunjung datang.

Jiyeon kembali melirik ponselnya. Belum ada tanda-tanda Chanyeol menghubunginya. Mendengus sekali lagi, Jiyeon memilih untuk menyerah. Ia mendudukkan dirinya di bangku halte. Sekadar menunggu bus untuk pulang tanpa bertemu Chanyeol.

“Apa yang sebenarnya kau kerjakan, huh?” monolongnya. Ia mendongakkan wajah, menyadari langit Seoul mulai menghitam, ada perasaan takut sekaligus khawatir. Bukan, bukan perihal khawatir dengan Chanyeol, namun, khawatir jika ia pulang dalam keadaan hujan.

Jiyeon menyugar surainya ke belakang. Menyadari hembusan angin begitu mengusik, ia segera memeluk dirinya sendiri. “Harusnya kau datang, Chanyeol!” Jiyeon menghela napas, menahan sesak yang ada di dadanya, yang muncul entah sejak kapan. Tanpa ia sadari, bulir bening telah berlomba keluar dari pelupuk matanya.

Ia menangis. Menangisi Chanyeol yang bersikap jahat—menurutnya. “Kenapa kau belum datang, Oppa?” Jiyeon bermonolong sendu, tak berhenti menyeka air matanya dengan kasar. “Secepat itukah kau melupakanku? Apa artinya selama ini aku menunggumu? Kenapa kau seperti itu?”

Terkesan berlebihan, jika Jiyeon menangis hanya karena Chanyeol tak kunjung datang. Namun, itulah Jiyeon. Ia benci, jika harus menunggu. “Aku benci denganmu, Chanyeol! Aku—“ kalimat Jiyeon terhenti, saat ponselnya bergetar.

Sertamerta, ia mengangkat ponselnya dan memerhatikan sederet nama di layar ponsel, ‘Yoda’. Ia tertegun sejenak, menimang-nimang apakah ia harus mengangkat panggilan dari kekasihnya itu atau tidak. Jiyeon hampir saja menekan tombol hijau, namun, gerakannya terhenti saat ia kembali mengingat kekesalannya. Setidaknya, untuk kali ini, Jiyeon akan bersikap tak acuh.

Memasukkannya secara asal ke dalam ransel, ia kembali memperkuat tekadnya agar tidak menggubris panggilan Chanyeol. “Biarkan saja, toh, aku sering melakukannya!” serunya. “Aku benci, Park Yoda! Aku benci!” umpatnya sekali lagi.

“Harusnya kau datang, dan menghubungiku lebih awal!” Jiyeon menyeka air matanya yang kembali menetes. Meremas ujung roknya dengan kedua tangan yang mengepal. “Kenapa kau selalu terlambat, Chanyeol? Wae?”

Langkah kaki yang tergesa, terdengar nyaring, masuk ke dalam gendang telinga Jiyeon. Tidak berniat untuk menggubris siapa pemiliknya, Jiyeon kembali mengumpat, “Apa kau lupa hari ini hari apa? Kau harusnya memberiku sekotak marshmallow yang besar atau permen kesukanku, Yoda! Aku membencimu!”

“Hei!” Jiyeon terperanjat, sertamerta ia membenarkan posisi duduknya saat mendengar lengkingan seseorang yang begitu familiar. Setelah ia menoleh ke sumber suara, ia terkejut. Ternyata, Chanyeol berada di depannya dengan napas yang tak beraturan. “Hosh… hosh…, maafkan keterlambatanku, Jiyeonie!”

Chanyeol segera mendudukkan dirinya di samping Jiyeon. Menepis kenyataan bahwa dirinya masih kelelahan setelah berlari mencari Jiyeon. Karena seingat Chanyeol, ia dan Jiyeon berjanji untuk bertemu di taman kota. Namun, baru saja Chanyeol berada di sana, dan tak menemukan sosok Jiyeon di sana.

“Kenapa kau berpindah tempat, Jiyeonie?” tanya Chanyeol, sembari jemari kanannya menyelipkan sebagian surai Jiyeon yang tergerai di depan ke belakang. “Aku baru saja berada di taman kota, dan kau tidak ada!” jelasnya lagi.

Alih-alih untuk menjawab, Jiyeon bergeming. Hatinya terlalu kesal untuk menjawab pertanyaan Chanyeol. Harusnya, pria itu sendiri yang tahu, bagaimana keadaannya sekarang. Bukannya semakin memancingnya untuk marah.

“Kau harus memanggil namaku dengan benar, sayang…, kenapa kau selalu menyebutku Yoda? Itu menyebalkan!” Chanyeol menghela napas berat, mengalihkan pandangan ke depan. Karena bagiamanapun juga, Chanyeol tahu kebiasaan Jiyeon jika sedang marah.

Tidak ada suara beberapa saat, membuat Chanyeol merasa bersalah. “Maafkan aku, Jiyeonie… kumohon berhentilah menangis!” ucapnya cemas, masih menatap lurus ke depan. Hebat bagi Chanyeol, yang tiba-tiba tahu jika Jiyeon memanglah sedang menangis sekarang. Apalagi, isakan Jiyeon yang terdengar menyesakkan dada Chanyeol, ikut membuat hati Chanyeol sendu.

Setelah jengah mendengar isakan yang tak kunjung berhenti, Chanyeol segera menghadapkan tubuhnya ke arah Jiyeon. Menangkup kedua pipi Jiyeon yang basah, ia tersenyum miris, menatap mata Jiyeon yang sayu. “Kenapa kau cengeng, hum?”

Yang ditanya malah bergeming, membuat Chanyeol menggelengkan kepalanya pelan menyadari tingkah Jiyeon yang kekanakan. “Aku minta maaf, Jiyeonie… aku janji tidak akan teelambat lagi.” Jiyeon mendengus kesal, menepis secara kasar kedua tangan Chanyeol yang masih menangkup kedua pipinya. “Aku benci denganmu!”

Setelah berucap seperti itu, Jiyeon segera beranjak. Tidak memedulikan seruan Chanyeol. Bahkan, untuk menatap keadaan kekasihnya saja, Jiyeon tidak sudi. Ia terlanjur kesal. Ia marah.

“Jiyeonie…, dengarkan aku dulu penjelasanku, dan kumohon, maafkan aku!” Chanyeol berdiri, berlari kecil ke arah Jiyeon dan meraih pergelangan tangannya. Dapat ia rasakan, tubuh Jiyeon yang sedikit bergetar, saat lingkaran jari-jarinya melekat pada lengan Jiyeon. Chanyeol tahu, Jiyeon menangis. Masih menangis.

Segera ia menghadapkan tubuh Jiyeon padanya. Menatap kedua matanya yang masih terlihat sayu. Ia menyeka air mata Jiyeon dengan kedua ibu jarinya. “Katakan padaku,  apa yang membuatmu merasa lebih baik!”

Jiyeon bergeming. Mata sayunya bertemu dengan mata penuh keseriusan dari Chanyeol. Gadis itu menelan salivanya susah payah, mengalihkan pandang, “Kau pergi!” umpatnya keras. Chanyeol tercekat, “Wae?” tanyanya sendu.

“Jika kau pergi, aku bisa memafkanmu. Tentu, itu akan membuatku lebih baik!” Chanyeol ingin memeluk Jiyeon, tepat setelah Jiyeon berucap seperti itu dan beranjak. Ia tak menahan Jiyeon untuk tetap tinggal. Walaupun ia ingin, tapi, tiba-tiba saja hatinya menolak.

Chanyeol merasa sedih. Hatinya mendadak sakit. Walaupun ia tahu, jika Jiyeon mengucapkannya dalam keadaan marah. Chanyeol tidak tahu, mengapa itu seperti kalimat terakhir yang menyakitkan.

“Tidakkah kau mengetahui alasanku terlambat, Jiyeonie?” lirihnya. Menatap nanar jalanan sepi di depannya. Ia merogoh kotak kecil berwarna merah muda dari saku celananya. Meremasnya keras, tanpa peduli, buku-buku tangannya yang akan terluka.

Seandainya Jiyeon tahu, alasan keterlambatan Chanyeol saat ini. Chanyeol masih tak tahu, apakah Jiyeon akan marah atau sebaliknya. Chanyeol juga memiliki kesibukan, ia harus mengajar di sebuah sekolah, dan berakhir menyibukkan diri ke dalam mol untuk mencarikan cincin yang pas untuk Jiyeon, sebelum akhirnya Chanyeol menemuinya.

Chanyeol menyayangi Jiyeon. Ia ingin melamar gadis itu hari ini. Namun, kalimat gadis itu bagai sebuah pisau tajam yang mengoyak hatinya. Bibir tebalnya bergetar. Saat memejamkan kedua matanya, bulir air mata pun jatuh begitu saja.

Sertamerta ia membalikkan tubuhnya. Hendak mengejar Jiyeon dan menjelaskan pada gadis itu apa yang sebenarnya terjadi. Setidaknya, ia ingin membuat Jiyeon berhenti menangis. Ia, ingin menenangkan gadis itu.

 Jantung Chanyeol nyaris terlonjak, saat manik matanya menangkap tubuh Jiyeon yang berjalan asal di jalanan beraspal. Tanpa memerhatikan keadaan, Jiyeon terus berjalan menunduk. Saat sebuah mobil melaju dengan kencang, buru-buru Chanyeol berlari dan mendorong gadis itu ke depan.

Hingga tubuh pria jakung itu yang terpental beberapa meter saat kepala mobil menghantamnya keras. Chanyeol sulit berucap, bahkan, dadanya begitu terasa sesak. Pandangannya mulai memburam, namun ia menggeleng cepat. Napasnya tak beraturan, dan itu membuatnya khawatir.

Jiyeon terkejut dengan tindakan bodoh Chanyeol. Ia segera berlari ke arah Chanyeol dan kembali menangis. Menyadari tubuh Chanyeol berada dalam kubangan darah, membuat aliran darahnya mendesir panas. Ia takut. Sangat takut. Jika saja, Chanyeol dalam keadaan buruk.

Segera ia mengguncangkan tubuh Chanyeol semampu yang ia bisa. Meletakkan kepala Chanyeol di atas pahanya, ia berkali-kali menyebut nama Chanyeol. Sembari menepuk-nepuk kedua pipinya yang tergores aspal. Jiyeon sangat berharap, Chanyeol akan sadar dan berucap sesuatu padanya.

Tidak seperti yang Jiyeon inginkan. Chanyeol malah tersenyum miris, dengan napas yang semakin tak beraturan. “Berhentilah menangis. Aku tak suka!” Jiyeon menggeleng cepat, “Aku harus membawamu ke rumah sakit, Yeollie!”

Chanyeol menggeleng lemas, “Jangan khawatir….”

“Ba—“

“Berjanjilah padaku. Kau tidak menangis!” Chanyeol tersenyum sekali lagi, membuat jantung Jiyeon berpacu cepat karena takut. “Kau tahu, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, kan?” Chanyeol berhenti berucap sebentar, “Jangan sedih ketika aku pergi. Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Di kehidupan selanjutnya, tunggulah aku dan ingatkan aku untuk memperbaiki hubungan kita!”

“Yeollie… apa yang kau katakan?” ucap Jiyeon sendu. Ia mendadak teringat, kalimatnya yang tanpa sengaja menyumpahi Chanyeol untuk pergi. Ia menyesal mengucapkan itu, dan ia ingin menarik kata-katanya. Merutuki dirinya sendiri, ia merasa bersalah dan ingin memutar waktu.

Alih-alih untuk menjawab, Chanyeol malah semakin menutup kedua matanya. Jiyeon panik, perasaannya kalut. Berkali-kali lagi, ia mengguncangkan tubuh Chanyeol, tapi tidak ada respon sedikit pun. Hatinya kalut, menyadari sesuatu. Harusnya, ia mendengar penjelasan Chanyeol. Bahkan, saat melihat kotak kecil berwarna merah muda masih tergenggam sempurna di tangan kanan Chanyeol. Jiyeon menangis.

“Kenapa?” erangnya. “Di hari yang putih ini, kenapa harus ada akhir yang buruk di antara kita?”

***

Boyolali, 12 Maret 2016

-Kikan-

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s