Posted in 1st : White Day with Kei's, Ficlet, Hurt/Comfort, Nnafbjnr, Sad, Teenager / Teen, Thriller

[White Day With Kei’s] Handsome Liar

1457874622560

Nnafbjnr present:

Handsome Liar

Kim Jiyeon & Joshua–SVT• sad, hurt, thriller, idk. • Ficlet – T

Kamu membalas perasaanku dengan kata-kata yang indah. Sayangnya itu hanya bualan belaka.

No plagiat.

.

.

Harapan untuk mendapat balasan cinta telah ditunggu Jiyeon dari jauh-jauh hari. Mental telah disiapkannya, berharap detak jantungnya berhenti saja daripada berdetak lebih cepat karena itu akan memalukan. Mendapat setangkai bunga bukanlah harapannya, bukan juga warna-warni cokelat penuh kalori tak berarti. Yang ia harapkan hanyalah balasanatas perasaannya. Atap rumahnya yang dijadikan tempat jemuran jadi tempatnya untuk menunggu kedatangan orang tersebut. Pakaian-pakaian yang tergantung pada kawat jemuran berkibar dengan bebas di hembus angin, sama dengan rambut panjang Jiyeon yang tergerai.

Derap langkah seseorang terdengar pelan. Jiyeon menoleh kebelakang, melihat pakaian-pakaian yang di sibakkan oleh orang itu karena menghalangi pandangannya. Senyumnya menyambut dengan ceria. Hong Jisoo datang dengan sebuket bunga yang beragam warnanya. Suara Jisoo terdengar menyapa. Jiyeon membalasnya dengan senyuman manisnya.

“Kamu lama sekali,” kata Jiyeon pelan.

“Maafkan aku.” Tangan Jisoo mengulurkan sebuket bunganya kehadapan Jiyeon. “Hari ini, kubalas perasaanmu yang kemarin.”

Sebetulnya Jiyeon tak ingin ada momen ini, tak ingin berhadapan lelaki Hong ini, tak ingin jantungnya berdetak. Semua ini sialan. Saat yang ditunggunya datang, tapi mengapa ia malah begini? Bahkan Jisoo sendiri yang mengatakan bahwa akan membalas perasaannnya. Mata Jiyeon menatap Jisoo dengan sorot yang sulit di tebak. Menerima kenyataan mendapat balasan cinta tentu sepatutnya menjadi hal paling membahagiakan kedua setelah terlahir didunia ini. Namun ini juga patut untuk menjadi hal menyedihkan.

“Aku tak menyangka akan membalas perasaanmu. Bahkan kamu begitu cantik saat berdiri dibalik jemuran tadi,” ucap Jisoo sambil sedikit tertawa. “Aku mencintaimu, Kim Jiyeon.”

“Kamu tidak membalas puisi yang kubuat untukmu waktu itu?” sahut Jiyeon, senyumnya terlihat jahil.

Ini hanya basa-basi. Yang inti belum terjadi.

“Baiklah, akan kubuat puisi untukmu “ Jisoo menghela nafasnya. “Kau bukanlah bunga mawar, kau bukanlah bunga melati yang semuanya indah. Kau hanyalah bunga dari kaktus yang cantik tak terhingga. Bahkan sebuk—“

Cih, terlalu manis—

Jiyeon menyela kalimat Jisoo. “Bukan puisi romantis, bodoh.”

“Jadi? Puisi bertemakan alam?”

“Yang kuiinginkan, puisi bertemakan seluruh kebohonganmu, Soo.”

Jisoo kaget setelah mendengar kalimat terakhir Jiyeon. Mata gadis ini menatap Jisoo dengan tajamnya, sesekali mendelik sebal. Jujur saja, seorang Hong Jisoo terlalu tampan untuk berbohong. Kalimatnya mungkin semanis senyuman di wajahnya, tapi realita mengatakan bahwa kebohongannya sama sekali tidak ada manis-manisnya. Bualan, dustanya, kebohongannya bersenjatakan kalimat semanis gula merah ini tak bermutu daripada bualan para calon presiden atau dewan dan menterinya yang korupsi. Ayolah, ini masalah cinta. Apalagi hari ini adalah white day. Tak cocok sekali bila Jiyeon mendapatkan kebohongan seperti ini.

“Bohong apanya, sih?”tanya Jisoo bingung.

“Kamu bohong lagi.”Jiyeon mendengus jengah.

“Aku tidak bohong.” Jisoo meyakinkan.

“Kamu bohong lagi.”

“Bohong karena apa? Bila aku bohong, untuk apa aku membalas perasaanmu? Untuk apa aku mencintaimu juga?” Jiyeon mengangkat alisnya. “Kamu itu terlalu cantik untuk di bohongi.”

“Kamu terlalu tampan untuk berbohong.”

“A-apa?”

Kini Jisoo berdiri dengan gugupnya, membalas tatapan Jiyeon yang menerawang dengan tajamnya. Dalam hati Jiyeon menyumpahi lelaki tampan yang penuh dusta di hadapannya ini. Lebih baik perasaannya tidak terbalas daripada harus terus menelan bualan manis dari seorang lelaki tampan. Dusta Jisoo mengembangkan rasa benci dihati Jiyeon.

“Kamu membalas perasaanku dengan kata-kata yang indah. Sayangnya itu hanya bualan belaka.”

“A-apa?”

.

.

Jiyeon ditatap seorang gadis yang tak dikenalnya. Bola mata gadis itu seakan ingin keluar dari tempat yang seharusnya, melotot dengan urat dahi yang menonjol. Air mata sudah memenuhi pelupuk mata gadis itu, sedangkan Jiyeon menatapnya dengan santai.

Akhirnya gadis itu menangis. Matanya menatap jalanan dibawah sana yang terlihat ramai disatu titik dengan suara ambulan yang terdengar hingga tempat jemuran rumah Jiyeon—diatap.

“Kenapa kamu membunuhnya?! Kenapa kamu menyuruhnya datang kesini bila kamu hanya ingin membunuhnya?!” teriak gadis itu marah pada Jiyeon.

“Bila kubiarkan kamu juga akan di bohongi. Kamu mau dia berselingkuh denganku?” jawab Jiyeon datar.

Wajah gadis itu tercengang mendengar kalimat Jiyeon.

“Berterima kasihlah padaku, gadis cantik.”

.

End.

.

Habede mba Jiyon!! Makin tua ae, mba. Wyatb!! Btw, ini ff gaje banget yah. Sedih deh. Maapkeun daku lah.

Salam ucul, Nnafbjnr.

Advertisements

Author:

Halo Lovelinus!^^ Senang membaca fanfiksi atau membuat fanfiksi dengan karakter Lovelyz? Blog ini merupakan blog yang berisi fanfiksi-fanfiksi dengan karakter utama Lovelyz ^_^

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s