[White Day With Kei’s] Thanks, Daddy

Kei Birthday Event #3 - Thanks, Daddy

Special fanfiction for Kei’s birthday

BaekMinJi93 proudly present

 

— THANKS, DADDY —

 

Starring with birthday’s girl Kim Jiyeon and Seventeen’s Choi Seungcheol

| AU – Fluff – Romance – School Life | Ficlet (>500W) | General – Teen |

 

Aku tidak ingin balasan hadiah yang muluk-muluk,

Asal mendapat hatimu saja itu sudah cukup

 

Sangat disayangkan jika gadis secantik dan sepintar Kim Jiyeon tidak mempunyai teman dekat satupun. Hal itu terjadi karena sifatnya yang begitu introvert dan bersikap seolah-olah mempunyai dunia sendiri yang lebih menyenangkan daripada dunia para gadis pada umumnya. Sebenarnya hal itu juga tidak begitu menjadi masalah besar bagi Jiyeon, toh dirinya juga tidak terlalu peduli pada keadaan lingkungan sekitarnya.

Tapi dengan sifatnya yang terkesan cuek, apa itu tidak akan berdampak pada kisah cintanya?

 

Well… mungkin kau akan segera mengetahuinya setelah ini.

***

Sudah menjadi sebuah kebiasaan jika kita melihat Kim Jiyeon melangkah menyusuri koridor sekolahnya seorang diri atau bahkan melihatnya duduk dibawah pohon akasia dengan ditemani novel klasik kesayangannya. Menurut Jiyeon hal sesederhana seperti inipun terasa lebih mengasyikan dibanding dengan kegiatan bergosip-ria dengan topik yang terdengar sangat tidak penting.

Kau boleh mengatai jika Kim Jiyeon adalah gadis aneh.

 

Kim Jiyeon ialah gadis kutu buku.

 

Kim Jiyeon bodoh karena tidak memanfaatkan waktu remajanya dengan baik.

 

Dan yang lainnya. Sebanyak apapun kau memberi julukan dan mengejeknya dengan kata sekasar apapun, percayalah jika Jiyeon tidak akan pernah menggubris perkataanmu karena Jiyeon sendiri sudah mengakuinya jika ia memang mempunyai sifat seperti yang aku deskripsikan diatas.

Bodoh memang, tapi mau bagaimana lagi? Toh itu juga sudah menjadi watak dasar Jiyeon yang begitu sulit ditebak itu.

Disaat teman-temannya bergosip tentang artis idolanya, Jiyeon hanya sibuk mengagumi para ilmuwan yang berhasil menemukan berbagai hal yang berguna bagi kehidupan modern ini. Disaat teman gadisnya sibuk membicarakan tentang kencan pertama bersama kekasihnya, Jiyeon sudah merasa cukup hanya dengan membaca novel yang bertemakan classic-romancenya tanpa perlu repot-repot merasakan pahitnya putus cinta karena menurutnya –dan dari isi novelnya–berpacaran itu hanya membuang-buang waktu dan ujung dari semua kisah cinta hanya 2, happy ending or bad ending. Dan Jiyeon sudah merasa kenyang hanya dengan mengonsumsi karya fiksi itu setiap harinya.

Oleh sebab itu, Jiyeon tidak mau merepotkan diri untuk terjun di arus derasnya kisah cinta yang tiada akhir itu.

Tapi bagaimana jika takdir berkata lain?

***

Jika Jiyeon tertidur sendiri dibawah pohon akasia ditemani sejuknya angin sepoi-sepoi saat waktu istirahat tiba, itu sudah biasa. Tetapi bagaimana jika Jiyeon berbeda dari biasanya? Maksudku hari ini Jiyeon memang terlihat beda dari biasanya, karena hari ini gadis itu tidak sendirian melainkan ada seseorang yang siap memberikan bahunya untuk membuat tidurnya semakin nyaman. Seseorang itu menatap wajah Jiyeon yang polos seperti bayi dengan tatapan intens.Entah apa yang sedang dipikirkannya.

Merasa tak lagi merasakan kerasnya batang pohon akasia dibelakangnya, perlahan kedua kelopak mata Jiyeon terbuka. Dan dengan sedikit adaptasi, akhirnya netranya kembali dapat berbaur dengan sinarnya matahari yang begitu menyeruak.

“Sudah bangun?” sapa seseorang disamping Jiyeon. Merasa ada yang mengajaknya bicara, Jiyeon menoleh kearah sumbernya. Gadis itu menautkan kedua alisnya bingung sementara sang pelaku hanya menampilkan senyum manisnya. “Sepertinya kau terlihat begitu sangat nyaman ketika tidur dibahuku.”

Jiyeon masih sibuk mencerna kata-kata yang barusan didengarnya. Seraya memicingkan kedua matanya, Jiyeon merapalkan sebuah nama. “Choi Seungcheol?”

Sedangkan seseorang yang dipanggilnya dengan nama Seungcheol itupun hanya menampilkan senyumnya, “Senang mendengar namaku terucap begitu lancar dari bibir manismu, nona Kim.”

Jiyeon mengerutkan dahinya semakin dalam. Seolah baru saja menyadari posisinya saat ini, gadis bernama lengkap Kim Jiyeon itu segera menegakan duduknya. Sedangkan aktivitas yang dilakukan Jiyeon di detik selanjutnya ialah berdeham kecil dan beranjak dari duduknya. Entah kenapa wajahnya terasa sangat panas sekarang.

Namun belum sempat gadis itu menciptakan rajutan langkah pertamanya, Jiyeon merasa ada yang mencekal tangannya.

“Kau mau kemana?”

Itu Seungcheol.

Menghempaskan lengannya sekilas adalah upaya untuk melepaskan tautan yang diberikan oleh pemuda itu. Tak menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan Seungcheol barusan, gadis itu kembali bersiap merajut langkahnya.

Lagi, sepertinya Tuhan belum memperkenankannya untuk meninggalkan tempat itu –lebih tepatnya meninggalkan Seungcheol sendiri disana– karena langkah gadis itu kembali terhenti saat mendengar sebuah pernyataan yang diberikan pemuda gila itu.

 

“Sepertinya aku tertarik padamu, Kim Jiyeon.”

***

Kau pasti bertanya mengapa kepribadian Jiyeon akhir-akhir ini berubah haluan dari kepribadian Jiyeon yang biasanya. Dulu, kau sering melihat Jiyeon yang introvert, penyendiri, berbicara seperlunya saja, Jiyeon yang selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan dan inti dari kepribadian Jiyeon dulu adalah Kim Jiyeon yang invisible.

Tapi sekarang?

Kau akan sering melihat Jiyeon yang sedikit demi sedikit mau berbaur dengan teman sekelasnya, Jiyeon yang sering merona pipinya, Jiyeon yang sering tersenyum sendiri tepat disaat ia membuka lokernya, ataupun Jiyeon yang terlihat sering berjalan bersama dengan Seungcheol.

Oopss… Lebih tepatnya Seungcheol-lah yang sering mengikuti Jiyeon kemanapun gadis itu pergi dan Seungcheol akan berhenti mengikutinya disaat-saat gadis itu pergi ke kamar mandi dan saat memasuki rumahnya. Bahkan perjalanan pulang pun sekarang Jiyeon tidak akan khawatir sendiri, karena Seungcheol selalu setia menemaninya dan menjadi tukang antar-jemput saat ke sekolah.

Inti dari semua ini ialah perubahan Jiyeon yang sangat drastis dan cepat hanya karena seorang pemuda bernama Choi Seungcheol.

***

Kau mungkin berpikir jika apa yang dirasakan Jiyeon saat ini hanyalah terbawa perasaan belaka karena sikap manis yang diberikan Seungcheol dan kau pasti yakin jika itu berjalan tidak akan lama. Tapi seseorang tidak akan pernah tahu kapan ia akan merasakan akhir dari semua kisah manis ini.

 

Tapi percayakah jika Jiyeon sendiri berharap jika kisah manis ini tidak akan pernah berakhir?

Wellsepertinya hanya Choi Seungcheol sajalah yang bisa membuat hati sekeras batu milik Jiyeon seketika berubah menjadi selembut selai nutella.

Ji…”

Jiyeon seketika menoleh saat mendengar panggilan nama kecilnya. Senyumnya seketika terpatri saat melihat sosok itu. Siapa lagi jika bukan Seungcheol?

Happy birthday dan maaf jika hari putih yang lalu aku tidak bisa memberimu hadiah yang spesial. Tapi kuharap kau menyukainya.”

Jiyeon menerima bingkisan yang diberikan Seungcheol dengan senyum merekah. “Terima kasih.” Merasa penasaran akan isinya, gadis itu menggoyang-goyangkan bingkisannya. “Apa isinya?”

“Tidak begitu spesial. Tapi kuharap itu cukup sepadan dengan sepatu basket yang kau berikan padaku saat Valentine yang lalu. Asal kau tahu saja, aku menyukainya.”

Seketika aktivitas Jiyeon terhenti. “Eh? Sepatu? Aku tidak-…”

Seungcheol meletakan jari telunjuknya tepat diatas hidung kecil milik Jiyeon yang seketika membuat ucapannya terhenti. “Sudahlah jangan mengelak aku tahu jika pelakunya adalah dirimu.”

Cih… percaya diri sekali,” namun Seungcheol hanya menanggapinya dengan senyuman. “Aku buka, ya.”

Oke.”

Saat jemarinya sibuk bergerilya diatas bingkisan yang dibawanya, saat itu juga bibir manis Jiyeon kembali mengeluarkan suara. “Padahal saat aku memberimu sepatu itu, aku tidak berharap akan mendapat hadiah balasan yang muluk-muluk. Tapi-… Ah…” Jiyeon tiba-tiba memberengut kesal. “Kenapa kau memberiku sepatu heels? Kau tahu sendiri bukan jika aku sangat membencinya? Padahal aku berharap kau akan memberikanku sepaket alat kosmetik yang kuinginkan. Seungcheol, kau membuatku kecewa.”

Seungcheol menghela napasnya pelan. “Benarkah?”

Jiyeon tersenyum jenaka, “Sebenarnya tidak terlalu. Aku sedikit menyukainya. Hanya sedikit dan hanya sekedar untuk mempercantik diri dihadapanmu saja. Tidak lebih.”

Eh? Apa yang barusan kau katakan?”

“Seungcheol, jangan membuat harga diriku semakin jatuh karena tingkah bodohmu, oke?

Seungcheol tertawa geli seraya mengusap puncak kepalanya lembut. “Happy birthday, my girl.

Jiyeon tersenyum dan mencubit hidung Seungcheol kuat, “And happy white day, daddy.”

Arrghh…” Merasa kesakitan, Seungcheol menghempaskan tangan Jiyeon. “Lihat, hidungku memerah karenamu, Ji.”

Jiyeon hanya membalasnya dengan merong. “Setidaknya itu bukti kasih sayangku padamu, ayah.”

“Dasar gadis nakal!”

— FIN —

A/N :

Bhakz… Aneh banget ya???

Sudahlah, aku udah mulai nge-block waktu bikin endingnya. Haha jadi maklumi saja yaa…

Gimana? Dapet feelnya Kei yang dingin nggak? /pasti nggak hahaha/

Semoga kalian nggak bosen ya sama spam FF absurdku hahaha…

Thank you and see ya~

 

Warm Regards

From the cutest (?) and invisible author,

 

BaekMinJi93 —

 

 

Advertisements

10 thoughts on “[White Day With Kei’s] Thanks, Daddy

  1. bentar be, ini kok aku ga mudeng yah apa karena aku bacanya kecepetan sambil denger lagu halsey atau deskripsi kamu yang kurang jelas dan ga ngasih clue sama sekali apa gimana ;______;

    jadi si seungcheol ini bapaknya jiyeon? apa bapak tirinya? terus mereka incest? apa ayah dari anaknya jiyeon? diperjelas lagi ya, be, supaya pembaca ga bingung 🙂

    btw mau koreksi nih yaaa

    1. terlalu banyak kata ‘well’ nggak baik loh, be. kesannya gimana gitu. menurutku kalau deskripsinya mau dibuat rada sassy, kamu bisa selipkan sarkasme aja. atau kata ‘uh-oh’ udah cukup buat bikin deskripsi terlihat sassy
    2. ‘apapun’, ‘inipun’, ‘itupun’, yang bener tuh dipisah kata ‘pun’-nya jadi ‘apa pun’, ‘ini pun’
    3. ‘dibawah’ sama ‘disaat’ itu dipisah kata ‘di’-nya jadi ‘di bawah’, soalnya menunjukkan keterangan waktu dan tempat
    4. kamu lupa ngasih spasi sebelum kalimat ‘entah apa yang sedang dipikirkannya’

    i love the idea you write kei as an introvert here. pas aja soalnya aku juga suka mbayangin si kei ini cewek bibliophile yang agak introvert. meskipun karakter kei di sini agak kurang dapet, sorry be.

    fighting for be better ya, dear. keep writing ❤

    • aurora –

    Like

    • Oke sebelumnya aku mau terimakasih banyak buat kak aurora /aku panggil gitu aja ya?/ karena udah mau komen disini dan jelasin panjang lebar kekurangan di FF ini dan bahkan udah mau kasih tips bermanfaat banget /makasih banyak kak ^^/
      Dan aku juga minta maaf kalo mungkin bikin pembaca bingung atau bahkan nggak nyambung sama cerita ini. Sebenernya, kata “daddy” yang diberikan ke Seungcheol itu sebutan sayang /atau apalah namanya/ dari Kei. Dan sebenernya mereka berdua itu pacaran hehehe. Meskipun nggak aku jelasin di dalam cerita ini dan berakibat fatal sih sebenernya. Tapi setidaknya itu maksudku waktu bikin FF ini.
      Sebenernya sih konsepnya cuma sederhana. “Kei yang introvert dan nggak pernah senyum dan dia merasa berterima kasih pada Seungcheol yang buat dia ceria /paham nggak?/” dan satu lagi, “Kei itu sebenernya secret admirer nya Seungcheol /aku lagi demam konsep hide&seek nya secret admirer kak hehehe/”
      Dan sekali lagi makasih banyak udah mau kasih komen sekaligus tips yang bermanfaat untukku kedepannya kak ^-^
      Santai aja, aku nggak marah kok, malah aku merasa masih ada yang perhatian sama cara penulisanku /lupakan yang akhir :D/

      Like

      • YA ALLAH TERNYATA PANGGILAN SAYANG TOH ;A; maafkan imajinasiku yang dark and wild macem album bangtan ok ok

        duh be, aku rada ga enak habis ngasih kritik nih :(( maaf banget ya aku kalau ngekritik kesannya sok gitu huhu soalnya orangnya perfeksionis benget kalo baca ;—–; ((padahal tulisan sendiri juga banyak banget flaw-nya))

        btw daripada panggil aurora mending panggil aisya aja, manggil aurora jadi berasa disney princess da aing kan cuma kentang berjalan

        luv u ❤

        Like

      • Aisya? ’00 liner bukan sih?
        Uwaaa… senpai hahaha
        Nggak papa, aku juga nyadari kok kalo aku masih newbie hahaha jadi santai aja kalo sama aku hihi
        Betewe betewe makasih banyak ya tips dan kritikan membangunnya hihi
        Maaf kalo FF ku nggak seperfeksionis ekspektasimu hehe
        Kamu golongan darah A ya? Maaf OOT…

        Like

      • iyaa aku 00liner :3 senpai naon aku cuma ketombenya mas seungcheol (?)
        ur welcome, aku cuma berbagi ilmu kok. kita sama-sama masih belajar. lagian nothing’s perfect kok
        nggak, aku goldar O 😀

        Like

      • Bhakz… setidaknya masih elit kok ya meskipun cuma jadi ketombenya cantiknya mas seungcheol haha
        Uwaaa… beneran? Kamu goldar O? Wah kita samaa… /nggak ada yang tanya/
        Thanks udah bagi-bagi ilmunya ya, syaa ^-^

        Like

  2. kei sama sekop disini pacaran /bener gak?/ tapi kemudian feel pacaran itu jadi beda setelah kei bilang sekop ‘ayah’ :’v

    terimakasih kak bebe, sekarang aku beneran mikir kalo sekop itu ayahnya kei :’v yo, maap gabisa komen panjang-panjang/?

    keep writing kak ❤ sebarkanlah virus hubungan ayah-anak-tapi-bo’ong ini :’v

    Like

    • Hai dek zy… Maaf baru bales… Kemarin mau bales tapi masih pake akun lain haha sorry…
      Haha kayaknya sebutan ‘ayah’ buat sekop tuh merusak suasana banget gitu ya? Setua itukah sekop? haha
      Thankies udah mau baca dan tenang aja aku akan selalu sebarin virus berbahaya -tapi sweet- /enggak/ itu kok…
      See yaa

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s