[White Day With Kei’s] Redamancy

PhotoGrid_1457094635536

by nightskies

redamancy [v. to return someone’s feeling of love]
lovelyz’s kei with seventeen’s joshua
vignette
romance, fluff, school-life
pg-13

“Ada banyak hal yang ingin kusampaikan padamu, namun aku tak mampu mengatakannya. Namun, harapanku satu. Aku ingin dapat memegang tanganmu seperti patung mungil dalam snowglobe pemberianmu, bahkan saat dunia mengguncang dan badai menerpa.”

disclaimer: only the poster, storyline, and loves for kei are mine. even though the rest are not, plagiarism is still RESTRICTED.

 

Jiyeon tak dapat memahami apa yang telah terjadi padanya beberapa minggu belakangan ini.

Awal ceritanya, saat itu ia didesak oleh Mihyun untuk memberikan sesuatu pada lelaki yang amat disukainya, yaitu Hong Jisoo, pada Hari Kasih Sayang. Jiyeon yang tak punya waktu untuk membuat cokelat atau manisan lain, akhirnya memutuskan untuk membeli sebuah snowglobe yang di dalamnya terdapat patung sepasang kekasih tengah berpegangan tangan, dan jika bola itu diguncang perlahan, maka serbuk-serbuk menyerupai salju akan berputar di dalamnya.

Jiyeon tak tahu ia dapat kiriman keberanian dari siapa—jika kau pengirimnya, pastikan Jiyeon tahu dan ia akan langsung memelukmu erat sambil berseru “Terima kasih!”—hingga ia bisa memberikan snowglobe itu tanpa merasa gugup atau bersikap ceroboh. Kalimat pujian untuk gaya berpakaian Jisoo yang selalu rapi setiap hari, lengan mungil Jiyeon yang meletakkan benda rapuh tersebut di meja Jisoo, semua itu berjalan lancar layaknya jalanan kota pukul lima pagi.

Saat itu Jisoo menerimanya dengan senyuman terindah yang pernah Jiyeon lihat, namun senyum itu jugalah yang menjadi judul ketidakmengertian Jiyeon di hari-hari setelahnya.

Jiyeon tidak pernah dekat dengan lelaki manapun, kecuali jika ayahnya masuk dalam hitungan. Jadi, Jisoo yang tiba-tiba menyapanya saat Jiyeon baru saja mengambil buku dari lokernya dan mengajaknya pulang bersama tiap hari sudah pasti jadi hal baru yang membawa perubahan signifikan dalam hidupnya. Mihyun bilang ini hal wajar terjadi di tahap pendekatan, tapi Jiyeon keberatan untuk setuju. Kami tidak sedang pendekatan, bantah gadis itu dalam hati.

Di hari pertama keduanya pulang bersama, Jiyeon nyaris menabrak mobil yang terparkir karena ia sibuk memikirkan apa yang kira-kira telah didengar Jisoo dari angin musim semi tahun ini, hingga lelaki itu tiba-tiba mengubah status mereka yang tadinya hanya jadi teman sekelas menjadi teman-pulang-bersama.

[Dan pada malamnya, di hari yang sama, Jiyeon tak dapat tidur karena ia terus terbayang-bayang saat Jisoo refleks memegang lengannya erat untuk menjauhkan tubuh mungil Jiyeon dari mobil tersebut, dan Jiyeon berusaha keras untuk bersikap seolah tak ada yang terjadi ketika disadarinya tangan Jisoo masih memegangi lengan Jiyeon, dan baru dilepas saat seorang paman meledek keduanya sebagai sepasang kekasih yang canggung.

Sekali lagi, Jiyeon tak dapat memahami apa yang telah terjadi padanya beberapa minggu belakangan ini.]

***

Setelah genap sebulan ia pulang bersama Jisoo, Jiyeon memutuskan untuk tidak lagi bertanya-tanya mengapa lelaki itu selalu mengajaknya pulang bersama. Ia tak pernah mendapat jawaban, bahkan petunjuk pun nihil. Gerak-gerik Jisoo selama ini normal, tak ada yang aneh.

Walau, rasa penasarannya masih saja mengusik gadis itu saat terjaga maupun saat matanya nyaris terpejam.

“Aku gemas melihatmu dan Jisoo,” ucap Mihyun sambil memainkan pulpen bertutupkan tulip sintetis—buatanku, batin Jiyeon penuh rasa bangga. “Kalian sudah pulang bersama genap sebulan tapi tidak juga menjalin hubungan.”

“Mungkin ia hanya ingin berteman denganku,” balas Jiyeon. “Lagipula, kurasa dengan mengajakku pulang bersama setara dengan ucapan terima kasih atas hadiahku bulan lalu.”

“Alasan itu tidak rasional, Jiyeon. Kita teman, tapi ada hari dimana kita tidak pulang bersama.”

“Kita tidak pulang bersama karena Jisoo selalu mengajakku, Mi.”

“Tepat sekali,” ujar Mihyun sambil menjentikkan jarinya. “Hanya sepasang kekasih yang selalu pulang bersama setiap hari, lalu kau dan Jisoo pulang bersama tiap hari. Kesimpulannya, kalian adalah sepasang kekasih karena selalu pulang bersama tiap hari. Atau, jangan-jangan kau dan Jisoo sudah berpacaran tapi kau merahasiakannya dariku?!”

Jiyeon memukul pelan bahu Mihyun. “Kalau Jisoo dengar itu dan salah paham terhadapku, aku akan mengacak-acak kamarmu.”

“Tapi, Yeon, coba dengarkan aku. Kau harus tanyakan kepastiannya pada Jisoo. Apakah kalian teman, atau lebih dari itu.”

“Aku tidak mau. Itu bisa membuatku jauh darinya, dan aku masih ingin pulang bersamanya.”

“Tapi itu juga bisa membuatmu lebih dekat dengannya. Kau bahkan bisa bertemu dengannya untuk kencan di akhir pekan atau mengerjakan tugas bersama di rumahmu, atau kadang rumah Jisoo, atau di taman dekat rumahmu, atau—“

“Baiklah, aku paham maksudmu.” Jiyeon meletakkan kepalanya di meja. “Aku akan coba. Tapi apakah hal ini boleh dilakukan? Maksudku, aku perempuan, dan bukankah harusnya lelaki yang mengambil inisiatif?”

“Yeon, jika kau bicara soal inisiatif, maka ceritanya akan lain lagi,” balas Mihyun. “Kau bertanya untuk memastikan apakah kalian ini teman atau lebih. Jika kau ingin dia berinisiatif untuk mengajakmu kencan atau meresmikan hubungan kalian, maka kau harus menunggu sampai ia menyatakan cinta padamu.” Mihyun meletakkan pulpen bertulip itu di dekat Jiyeon, lalu berdiri. “Pilihan ada padamu, Yeon. Tapi ini tahun 2016, wanita sudah tidak seharusnya sembunyi. Lagipula, kau bukan melamarnya. Kau hanya menanyakan kepastian.”

Jiyeon mengangguk, lalu Mihyun pamit untuk menemui Shiah di kelas sebelah. Meninggalkan Jiyeon yang masih saja bimbang.

Mihyun benar. Aku tidak boleh digantung seperti ini oleh Jisoo. Aku harus tahu siapa aku di matanya, supaya aku tahu dimana aku harus meletakkan perasaanku.

***

“Tidak pulang bersama? Kenapa?”

Jiyeon menggigit bibirnya, berusaha menahan gugup.

“Karena, aku ingin bertemu denganmu di bukit saat senja nanti. Ada yang ingin kutanyakan padamu.”

Jisoo mengernyit bingung. “Tapi itu ‘kan masih lama. Atau kalau perlu, kita pergi bersama.”

“Jangan!” seru Jiyeon. “Kumohon, Jisoo. Hanya kali ini.”

Hening sejenak, dan Jisoo akhirnya mengedikkan bahu. “Baiklah. Sampai jumpa di taman nanti.”

Seiring kepergian Jisoo, Jiyeon dapat merasakan ledakan tak terkendali di tiap detak jantungnya. Rasanya mau mati, batin Jiyeon sambil berjalan pelan.

Semoga ia tidak mati sungguhan saat bertemu Jisoo di taman nanti.

***

“Kau yang membuat janji, tapi kenapa kau yang terlambat?”

Jiyeon menghela napas kesal, lalu duduk di samping Jisoo. Kalau bukan karena aku menyukaimu, Jisoo, aku pasti membatalkan pertemuan ini secara sepihak. Biar saja kau menunggu semalam suntuk disini. Siapa suruh menggantungku seperti baju, hah?

“Jisoo, aku ingin menanyakan sekaligus mengatakan sesuatu padamu,” ujar Jiyeon tegas. “Aku memilih untuk menlewatkan sesi ramah-tamah dan langsung pada intinya karena aku takut aku akan terus menundanya, dan aku mau kau menjawab ini dengan jujur.”

Jiyeon berharap ada sedikit emosi di wajah Jisoo saat ini; entah itu terkejut, tertarik, bahkan bosan. Apapun. Kecuali ekspresi datar, seperti yang ia lihat sekarang.

“Aku memberimu snowglobe di Hari Kasih Sayang karena aku hanya teringat satu nama saat memikirkan sesuatu tentang cinta, yaitu namamu. Aku sama sekali tidak berharap untuk menjalin hubungan lebih dari teman, hanya saja aku bingung dengan sikapmu padaku belakangan ini. Kau tiba-tiba mengajakku pulang bersama, tapi keesokan hari saat di sekolah, kau tak mengajakku bicara sama sekali. Aku tak paham, Jisoo, dan aku ingin mengerti. Sebenarnya, kita ini apa?”

Jiyeon menelan ludah setelah melontarkan nyaris seluruh isi hatinya. Tidak sepanjang yang ia duga pada awalnya, memang. Tapi itu sudah cukup, dan semoga Jisoo mengerti.

Lelaki itu kemudian bangkit, lalu menarik tangan Jiyeon menuju ke puncak bukit dan mengajaknya duduk di sana.

“Maaf sudah membuatmu kebingungan selama satu bulan ini, Jiyeon,” ujar Jisoo. “Karena hari ini bertepatan dengan Hari Putih, maka aku akan mengatakan sesuatu sebagai balasan atas pemberianmu di Hari Kasih Sayang bulan lalu.”

Jisoo meraih tangan Jiyeon dan menggenggamnya erat, kemudian memasukkan kedua tangan mereka ke saku jaket Jisoo. Gadis itu merasakan hangat, namun entah bagaimana caranya, kehangatan itu kini menjalar ke pipinya.

“Ada banyak hal yang ingin kusampaikan padamu, namun aku tak mampu mengatakannya. Misalnya, aku senang karena kau ternyata memikirkanku saat Hari Kasih Sayang. Atau aku yang nyaris meledak saat kau memberiku snowglobe itu. Termasuk seberapa besar rasa sayangku padamu,” lanjutnya. “Dan masih banyak lagi hal yang belum kusampaikan. Namun, harapanku satu. Aku ingin dapat memegang tanganmu, seperti patung mungil dalam snowglobe pemberianmu, bahkan saat dunia mengguncang dan badai menerpa. Tidak hanya detik ini, tapi selamanya, seabadi patung itu.”

Jiyeon baru akan menoleh karena terkejut mendengar kalimat terakhir, namun hal yang terjadi selanjutnya justru lebih mengejutkan lagi. Alih-alih bertemu tatap dengan Jisoo, justru bibirnya yang kini bertemu dengan bibir Jisoo.

“Oh,” lirih Jisoo sambil menarik diri. “Maaf, tadinya aku berniat untuk mencium pipimu. Aku tak menduga kau akan menoleh.”

Jiyeon menunduk sedalam mungkin, wajahnya mungkin sudah semerah langit senja saat ini.

“Kau ingin Mihyun berhenti memaksamu menanyakan soal kita?” tanya Jisoo.

“Eh, kau tahu?”

Lelaki itu tertawa. “Aku ada di balik pintu kelas saat kau dan Mihyun mendiskusikannya. Dan semakin yakin bahwa pertemuan ini akan terjadi ketika kau menolak untuk pulang bersama.” Jisoo melepas tangan Jiyeon, dan kini ia menyingkap rambut yang menutupi wajah Jiyeon ke belakang telinga gadis itu. “Kau bisa bilang padanya bahwa kita sekarang resmi.”

“Em, apa itu hanya supaya ia tutup mulut?”

Jisoo menghela napas sambil menatap Jiyeon lekat-lekat. “Pilih saja; kau ingin hal itu menutup mulut Mihyun, atau justru mulutmu.”

Jiyeon sempat terdiam tak paham dengan maksud kalimat Jisoo, tapi begitu ia menyadari ada artian lain terutama di frasa terakhir, ia langsung membulatkan matanya ke arah Jisoo, tak lupa juga mencubiti lengan lelaki itu tanpa ampun.

“Penampilanmu saja yang rapi,” ujar Jiyeon sambil terus mencubiti Jisoo. “Pikiranmu ternyata berantakan.”

Jisoo tertawa lepas mendengarnya, dan Jiyeon yakin tawa lelaki ini dapat menular karena Jiyeon pun ikut tertawa setelahnya.

***

Keesokan hari…

“Selamat pagi, Jiyeon.”

Gadis itu menoleh, menemukan Jisoo tengah berdiri di belakangnya sambil tersenyum simpul.

“Selamat pagi, Jisoo. Ada perlu apa?”

“Aku ingin ke kelas tapi aku takut jatuh. Bisakah kau pegangi aku?”

“Kau sakit?” tanya Jiyeon, cemas. “Perlu kupapah?”

“Tidak perlu, kau cukup memegang tanganku dan kupastikan aku akan tetap seimbang sampai di kelas.”

“Ugh, kalian membuatku muntah, hah? Jangan bermesraan di depan umum!” seru Mihyun tak suka.

“Tapi bukankah semua ini sesuai dengan perkataanmu kemarin? Harusnya kau senang!”

“Terserah,” jawab Mihyun ketus. “Aku akan melanjutkan hubunganku dengan Nam Joo Hyuk-ku yang tampan. Kalian berdua, terserah mau melakukan apa. Bye!

Jiyeon terkekeh melihat tingkah Mihyun pagi ini. Entah kenapa, semua yang ia rasakan hari ini terasa begitu membahagiakan. Udara pagi yang sejuk, Mihyun yang merajuk, termasuk tangan Jisoo yang tengah menggenggam erat tangan Jiyeon.

Kini, Jiyeon paham apa yang sebenarnya telah terjadi selama beberapa minggu belakangan ini.

Ia dan Jisoo saat itu sedang berada dalam fase redamancy, agar mereka bisa berada dalam fase everlasting, seperti saat ini.

-E N D-

our lovelyz’s flower is now turning to 22~ I’m feelin’ 22~

halo dengan nightskies disini. yang baru saja kalian baca itu adalah ff abal yang ngebut dibuat karena udah janji sama diri sendiri untuk nggak nyentuh laptop selama ujian T.T tapi yang namanya inspirasi kalo disimpen di otak doang, besoknya pasti ngilang. jadinya bandel deh u,u

ANYWAY… happy birthday to our flower kei>< kami, lovelinus cinta kamu tanpa mikir, tanpa ragu!!! jangan dengarkan komentar orang-orang ‘jahil’, dan tetap semangat!

seperti biasa, aku selalu nunggu komentar dari readerdeulnim sekaliaaan~ tak lupa, makasih sudah baca^^

Advertisements

9 thoughts on “[White Day With Kei’s] Redamancy

  1. My Night, ini tuh….apa ya?
    Apik dan rapi banget :”)
    Huaa maafkan gak bisa komen banyak ku lg lelah karena you-know-lah-apa :”” Tapi karena ini saking asiknya aku jd mau nulis jg huhuhu

    Seperti biasa, pembawaannya dewasa gitu, are you really 98l, huh? :”D

    Sudahlah itu aja, cintaku selalu padamu ♡♡♡ wkwkwkwk Semangat ujian dan tugas2nya. UN dikit lg, kan? #menghancurkanSuasana wkwkwk xD

    Liked by 1 person

  2. my kakzel… ini persembahan utk kei yg makin canci :’)
    serapi seragamnya joshua kah?:””)
    come back lagi dong kaaa kangen sama tulisan2 kaka yg gapernah gagal bikin baper ><

    I am 98l kak mihihi♥

    cintaku padamu juga kakzel♥♥♥
    kaaa saya inget kok mau UN u,u gaperlu diinget jugak u,,,,u

    kakzel sukses selalu^,^ btw seven sins masih hidup kan^o^ [sempet2nya balas dendam kamu, night…]

    Like

    • EMANG KEI MAKIN KE MARI MAKIN CANCI HAYATI LELAH MAKIN GAK BISA MILIH BIAS DI LOPELIS KAN AKU CAPEK /LOH AZEL JD BINAL!/

      Iya deeh serapi giginya Hoseok juga loh, Night :”)

      Huaaa comebacknya bareng mb dek Lopelis aja ah? Wkwkwkwkwk xD huaaa mau bgt Night, tp udh keburu lelah nulis laporan dan tugas2 yg lain 😦 doakan minggu ini keluar sesuatu ya /loh apa ini maksudnya? Wkwkwk/

      Uuugh, selamat UN deh, Dek Night /ngingetin lagi, minta dibacok bgt/

      BAAAH SEVEN SINS ITU APA YA?? SAYA TEH GAK BISA BAHASA INGGRIS WQ :””) masih kok night, masih ada…tp bakal ada perombakan nich :”) /?/

      Yowes ku melenggang ke dunia nyata dulu deh muah muah ♡♡♡

      Liked by 1 person

      • behh boleh deh boleh kambek brg loplis :”>
        go kakzel! ayo lahirkan(???) sesuatu minggu inii huehehee~
        ….iya kaa :”””””> makasih banyak udh disemangatinn u,u
        semangat juga kaks di dunia nyatanya :3

        Like

  3. Nah loh, mba kei ternyata…/apa?/
    Hola nightnight, daku senyum-senyum baca ini. Rasanya tuh kaya ada manis-manisnya gitu/? Eh ga deng kaya meletup gitu dah gitu mendadak diabet gara-gara liat jojosh ku/ditabok kei/ semanis ini, mau lah kalo kaya gini mah. Pokoknya ini manis semanis gula kapas, KUSUKA NIGHT!😊

    Like

  4. Nightskies, Pink Azalea’s here ngikutin gaya BigBoss sama Wolf di DOTS /lha

    Keren banget ceritanya;;) simpel dan gak berbelit-belit hihi xD Kei berani juga akhirnya menyatakan perasaannya kepada Jisoo(???) gua hampir salah fokus dikirain Jisoo nya Jisoo Lovelyz astaga wakakk :’v

    Terus berkarya ya, aku tunggu karyamu eaeeaaa :3

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s