[White Day With Kei’s] Dreamy

dreamy

Dreamy

by aurora ; Kim Jiyeon & Hong Jisoo ; oneshot ; fluff, friendship, family ; PG 12 —

Recommended Song: f(x) – Glitter

.

Kamu tahu, ketika kamu jatuh cinta. Kamu tidak akan bisa tertidur karena kenyataan lebih indah dibandingkan mimpimu.

.

Belakangan ini mimpiku suka menggelikan.

Mimpiku memang sering menggelikan, sih, seperti misalnya, tiba-tiba aku berada di lapangan Hogwarts sambil menonton permainan Quidditch, terus beberapa detik kemudian aku berada di Perkemahan Blasteran dan berlatih menunggang pegasus. Lalu tiba-tiba pegasus yang kutunggangi berubah jadi Aslan si singa.

Maaf, aku seorang kutu buku. Ayo teruskan.

Nah, dalam dua hari terakhir ini, dinilai dari skala satu sampai sepuluh untuk mimpi paling menggelikan Kim Jiyeon, mimpi ini mendapat skor sebelas.

Jadi, ya, dalam mimpiku ini—aduh, sebentar, aku malu banget.

Soalnya, dalam mimpiku, aku dan Jisoo bertingkah seperti pasangan jatuh cinta: bergandengan tangan menyusuri trotoar, saling menyuapi gulali, dan—ehe, berciuman. Astaga, tolong katakan wajahku tidak semerah sirup ceri. Nah, bagian itu yang membuatku malu setengah hidup dan ingin tenggelam saja setiap melihat Jisoo. Pasti ada yang salah dengan sekrup-sekrup di otakku.

Siapa itu Jisoo? Nih, kuberi tahu. Dia cowok yang sedang mengemudi di sebelahku, merelakan bensinnya untuk mengantarku pulang padahal rumah kami berbeda arah. Sedikit informasi tentangnya, dia anak sahabatnya Mama—yang otomatis mengharuskan kami berdua untuk berteman, kami satu kelas, dia sangat baik, dia tampan, dan dia cinta pertamaku.

Seperti yang kautebak, ini adalah tipikal kisah cinta pertama yang sering kaulihat di drama-drama, atau kaubaca di komik dan novel. Maafkan kehidupanku.

“Kamu mau balasan apa untuk White Day nanti?”

Ia bertanya, lamunanku buyar.

Ehm, terserah Jisoo saja. Aku percaya, kalau apa pun Jisoo yang berikan pasti selalu sesuai seleraku.”

Aku tidak menggombal, pun membual. Jisoo selalu tahu apa yang kusukai bahkan tanpa perlu bertanya seperti tadi. Aku memberinya cokelat persahabatan (yang sebenarnya alibi karena aku suka padanya) di hari Valentine, kemudian ia memberiku benda-benda lucu, terkadang buku yang kuinginkan, saat White Day.

“Kalau aku memberikanmu kodok sebagai balasannya bagaimana?” tanyanya jahil.

“Kamu mau kusate, ya?!”

Jisoo tertawa, dan tawanya selalu terdengar manis di telingaku. Lebih manis dari kukis cokelat yang kuberikan padanya bulan lalu. Cokelat tanda cinta, namun dibungkus sebagai cokelat persahabatan. Nice.

“Bercanda, bercanda.” Ia menoleh padaku, pandangannya lembut. “Sudah sampai, tuh.”

Benar, mobil Jisoo sudah terparkir di depan pagar rumahku. Aku lantas melepas sabuk pengaman. Namun, ya Tuhan, kenapa jadi susah dilepas begini?!

“Kamu masih nggak bisa melepas sabuk pengaman, ya,” kata Jisoo. Sejurus kemudian dia mengambil gerakan yang membuat jantungku mau copot saking cepatnya debarannya.

Dia mencondongkan tubuhnya padaku dan membantuku melepaskan sabuk pengaman. Jika diukur, wajahnya hanya lima senti dari wajahku dan aku bisa membaui parfum vanilanya.

TIDAK, TIDAK, KIM JIYEON, JANGAN BERPIKIRAN YANG MACAM-MACAM! Teriakku dalam hati.

“Nah selesai, sampai bertemu besok, ya. Salam untuk omonim.” Dia memindahkan tubuhnya dan tersenyum.

Aku buru-buru mengatur napas, lalu mengeluari mobil. “Hati-hati di jalan,” ucapku sebelum mobil Jisoo melaju. Aku berjalan memasuki pagar, dan ternyata bukan rumahku yang berada di balik pagar itu.

Itu adalah gedung asrama Ravenclaw.

Lalu ada sesuatu yang menarikku, dan semuanya jadi gelap untuk sesaat.

.

.

Selamat, tebakanmu benar!

Tadi itu cuma mimpi belaka. Aku mendapati diriku tertidur di kasur sambil memeluk sebuah buku catatan berbau vanila yang lembut.

Buku catatan Jisoo yang kupinjam untuk melengkapi catatanku karena aku tidak masuk minggu kemarin.

Rupanya bau parfumnya yang melekat bahkan sampai ke lembar-lembar bukunya itu membuat otakku memproyeksikan mimpi barusan. Mengirim kekuatan-kekuatan listrik untuk menyetrum nadiku dan suhu tinggi pada kedua pipiku.

Lantas pikiranku jadi penuh dengan Jisoo untuk sesaat itu.

Sekarang ini aku sudah berseragam lengkap, siap untuk berangkat sekolah dan dengan kata lain siap menemui Hong Jisoo. Dia sedang duduk di teras ketika aku keluar dari pintu rumah. Berbincang dengan ayahku. Saat melihatku dia langsung menegakkan tubuhnya.

“Kami pamit dulu, aboeji,” pamitnya sambil membungkuk sopan pada ayahku.

Ayahku tersenyum. Kemudian memandangku dengan tatapan yang barangkali artinya: belajarlah yang baik, putriku, dan nikahi Jisoo setelah lulus!

Wajahku langsung merah lagi.

“Kamu sakit?” tanya Jisoo ketika kami sudah berada di dalam mobil. Aku bisa melihat kecemasan yang menyelinap pada caranya menatapku. Bolehkah aku berharap pada tatapannya itu?

Aku menggeleng. “Tidak, memangnya kenapa?”

“Wajahmu merah, Jiyeon-a. Kamu serius nggak apa-apa?”

Detik ini aku menyadari kalau kecemasannya yang ditujukan padaku itu adalah sebentuk perhatian seorang teman. Dan aku tidak boleh berharap terlalu jauh, apalagi sampai bermimpi yang tidak-tidak.

“Serius, kok. Terima kasih, ya,” ucapku, kuremas ujung sweater-ku.

Jisoo belum juga menginjak pedal. Dan—lagi-lagi—terlihat jelas kalau ia ingin mengatakan sesuatu padaku. Aku sudah jadi temannya bertahun-tahun, aku tahu ekspresi-ekspresi di wajahnya.

“Oh iya, bulan lalu kamu memberikanku kukis di hari Valentine, bukan?”

“Mm-hm. Kenapa?”

Jisoo menggaruk tengkuknya. Gesturnya semakin mencurigakan.

“Terima kasih atas kukisnya—dan,” ia menghentikan mobilnya, “terima kasih atas perasaanmu.”

Pandanganku bertemu dengan kedua obsidiannya. Aku tercenung. Dan mobil Jisoo sekarang terparkir di depan sebuah toko kue yang masih tutup.

“Jisoo-ya, what do you mean?”

Ia menyodorkan kepadaku sebuah kotak berwarna merah muda pastel, dihiasi pita krem. “Ini balasan White Day dariku,” katanya.

Aku menerima kotak itu. Kutarik pitanya, dan perlahan, dengan jantung yang bertalu kencang, kuangkat penutupnya. Ada perasaan yang tak bisa kugambarkan ketika kutahui apa yang berada di dalam kotak itu.

Karya Emily Bronte: Wuthering Heights. Dalam cover edisi vintage yang sudah lama kuidamkan.And he got it for me? pikirku.

“Kim Jiyeon, you are the answer to every prayer I’ve offered. You are a song, a dream, a whisper, and I don’t know how I could have lived without you for as long as I have.”

You’re quoting Nicholas Sparks, are you?”

My words are but not my feeling. So would you be my—

Aku tertawa ringan dan memotong ucapannya, sebagian besar penyebabku tertawa adalah karena wajah Jisoo yang sudah pasti tak kalah merah dengan wajahku—lucu benar wajahnya.

You know the answer,” ucapku sambil mencubit kedua pipinya. Permukaan kulitnya begitu halus terasa di sela-sela jemariku dan itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa aku tidak sedang bermimpi.

.

.

Mimpi-mimpiku memang sangat indah dengan cara yang menggelikan—namun juga menyedihkan karena semuanya adalah maya, lebih menyedihkan lagi karena kesannya seperti aku terlalu mengharapkan Jisoo dan dia tidak mengharapkanku.

Kenyataan jauh lebih indah, karena semua ini nyata, bukan ilusi, bukan bunga tidur, bukan bayangan-bayangan yang dihasilkan pikiran-pikiran skeptisku.

Tampaknya aku takkan bisa tidur malam ini. Hei, bagaimana kau bisa tidur kalau kenyataan terasa lebih indah dari mimpi?

.

.

/fin.

.

.

Advertisements

12 thoughts on “[White Day With Kei’s] Dreamy

  1. Baper! Baper! Die! Omg, itu quotes fav aku banget yang di atas. Aduh, kapan aku bisa kayak gitu /ini baper versi jomblo paling ngenest/ xD

    Btw, sama banget mode mimpinya Jiyeon sama aku. Kalo mimpi suka pindah tempat dan ga lazim pindahnya jadi ketahuan kalo itu cuma mimpi (padahal berharap nyata) ‘-‘ yang aku herankan, ‘kok bisa kayak gitu ya?’

    asdfghjkl, kamu anak asrama Ravenclaw sya? Waduh, tetanggaan nih soalnya aku Gryffindor 🙂

    Like

    • Baper kan vris dibegituin sama mas jisoo ;-; ihiks sama aku juga suka quotes-nya nicholas sparks literally semuanyaa.

      Kalo aku mimpinya juga suka ga lazim pindah tempatnya, tapi aku ga ngerasa lagi mimpi (ya iyalah) malah ngerasa nyata banget, jadi pas bangun tuh kek ‘loh kan gue tadi lagi blablabla…. yah cuma mimpi…’

      KAMU TAUGA AKU BERAPA KALI IKUT QUIZ HASILNYA HUFFLEPUFF MULU :(((( padahal pengen ravenclaw :(((( biarpun di hufflepuff ada si ganteng cedric tapi tetep mau ravenclaw :((((

      (loh kok curhat)

      Like

      • Aku juga jatuh cinta sama Cedric walaupun dia harus mati di Goblet of Fire. Temenku ada yang masuk Slytherin masa? Duh bikin ngiri soalnya itu harapanku waktu mainan pottermore pengen masuk Slytherin tapi ga kesampeyan sampe sekarang. web pottermore-nya juga udah di ganti jadi web biasa, jadi pupus sudah harapanku jadi darah murni /argh, dapet ilham apa Bu Rowling ngedit ulang webnya 😥 /

        Like

      • tau-tau cedric pas mati dihidupkan lagi jadi edward cullen ya vris (loh)
        kamu mau masuk slytherin ya? wkwk slytherin isinya badass semua ugh i like pansy parkinson, tho xD
        ah bu rowling mah gitu padahal aku belum sempet main2 di pottermore, tetiba web-nya jadi begitu aja :’)

        Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s