[White Day With Kei’s] To Be Honest

Poster Phynz20 To Be Honest by Phynz20

To Be Honest

Cast: Kim Jiyeon [Lovelyz] – Choi Seungcheol [Seventeen] || Rating: General || Genre: AU, Fluff, Life || Length: 1374 word(s)

Spesial for uri SunFlower, Kim Jiyeon!

.

“Aku memiliki banyak hal yang ingin kukatakan  padamu, namun aku tidak mampu mengatakannya.”

.

Kata orang, White Day itu wajib dirayakan. Mereka bilang, White Day itu sama pentingnya dengan hari jadian, bahkan pernikahan. Beberapa hari sebelum tanggal keramat tersebut, banyak lelaki berbondong-bondong menyambangi toko cokelat, kue, perhiasan dan lain sebagainya untuk diberikan kepada kekasihnya atau gebetan-nya.

Tapi Seungcheol bilang, White Day tak ubahnya hari biasa tanpa makna yang sialnya memerangkap dia.

Mana dia tahu gebetan terimutnya itu sangat menjunjung tinggi arti White Day dan perayaannya.

.

Pagi itu udara masih sejuk, suara bising belum berani menyumpal telinga. Seungcheol masih asik dengan meditasinya atau dengan kata lain melanjutkan tidur yang terputus gara-gara keberangkatannya ke sekolah.

Ia tak menduga bahwa harinya saat itu bisa gonjang-ganjing hanya karena satu berita.

“Ya Seungcheol.”

“Hmm?” respon Seungcheol seadanya. Bahkan untuk sekedar membuka mata saja malasnya bukan main.

“Kau tidak menyiapkan cokelat untuk Jiyeon?”

“Untuk apa?” Dengan mata masih terkatup, kaki di atas meja, tangan terlipat di depan dada, dan punggung menyender maksimal pada kursi.

“Ini kan White Day, kok kau bodoh sekali sih!”

Baru setelah kata bodoh terlontar dari bibir Sungjae, mata Seungcheol terbuka dan posisinya ditegakkan. Mana mau seorang Choi Seungcheol dipanggil bodoh.

“Apa tadi kau bilang Yook Sungjae?” Pelan, tapi sarat akan makna.

“Ini White Day, Seungcheol-ah. Masa kau tidak memberikan apa-apa untuk Jiyeon. Memang kau tidak tahu ya seberapa maniaknya dia terhadap tanggal 14?”

“Apa bagusnya dengan tanggal 14? Perasaan sama saja dengan tanggal-tanggal yang lain.”

Tertangkap bagi retina Seungcheol bagaimana orang dihadapannya itu merotasikan bola matanya. Ia tak sepenuhnya salah, pikirnya. Toh, memang tak ada yang berbeda kan?

“Kau itu ya, bilang naksir pada Jiyeon, suka, tapi hal sepele ini saja tidak mengerti. Coba ingat, siapa yang menjadi ketua maraton Valentine-White-Black angkatan kita?”

Seungcheol menggaruk sejenak kepalanya sebelum lanjut bertanya, “Memang ada ya acara konyol seperti itu?” Jika acaranya saja Seungcheol tidak tahu, bagaimana ia bisa mengenal ketuanya.

“Astaga sobatku ini! Kau tidak berasal dari gua kan? Tahun lalu saja Jiyeon yang sibuk mengajak anak-anak untuk berpartisipasi dalam acara ini.”

“Kau bercanda.” Ia menampik untuk percaya bahwa gebetan tersayangnya itu masuk dalam kategori aneh menurutnya.

“Astaga, yasudah kalau tidak percaya.” Sungjae hendak melenggang pergi karena respon Seungcheol yang tak seberapa.

Tapi Seungcheol menghentikannya sejemang, “Memang kau tahu darimana semua itu?”

“Namjoo wakil ketuanya, puas?”

Tanpa berpikir dua kali, Seungcheol mengambil ponselnya dan menyambungkan panggilan.

“Halo, Jiyeon? Bisa tidak kita bertemu malam ini jam 7 di ….”

Dan begitulah Seungcheol mengakhiri rasa penasarannya.

.

“Iya? Ah, hmm, aku mengerti Seungcheol-ssi.”

“Apa? Apa? Dia bilang apa?”

Jiyeon memutuskan teleponnya dan meletakkan ponselnya di meja. Wajahnya tak dapat ditebak. Entah ia senang, sedih, gembira, kesal atau apa. Namjoo, Nayeon dan Seolhyun yang melihatnya tak bereaksi berpikir pada prediksi masing-masing.

Sejurus kemudian celoteh Nayeon terdengar, “Kan sudah kubilang, Seungcheol itu bukan orang yang peduli dengan 14-mu. Jadi ya pasti dia tak memikirkan hadiah apa-apa.”

“Ih, tadi kan aku sudah menyuruh Sungjae menyadarkannya, masa dia tidak peka juga sih?”

“Aku setuju sih dengan Nayeon, tapi Sungjae tak mungkin gagal menyelesaikan misinya.”

Namun Jiyeon masih enggan bersuara.

“Tapi kan semua yang tahu Jiyeon, jadi spekulasi kita sepertinya ditahan dulu….”

“Dia mengajakku keluar jam 7 nanti.”

“APA?!” Serempak Namjoo, Nayeon dan Seolhyun berteriak di luar kendali. Mereka tak menyangka seorang Choi Seungcheol dengan kepribadian tak peduli hal imut dan romantis akan mengajak Kim Jiyeon pergi berdua pada tanggal 14!

“Kan sudah aku terka!”

“Astaga, kau harus tampil cantik Jiyeon-ah!”

“Tapi kan…. Belum tentu ia akan menembakku.

“Ayo kita lihat saja nanti!”

.

“Aku memiliki banyak hal yang ingin kukatakan  padamu, namun aku tidak mampu mengatakannya.”

Lima belas menit bergumul dengan diam, akhirnya Seungcheol memecah keheningan pula. Dengan tatapan tepat pada iris dihadapannya, ia berdeham dua kali. Hal ini tidaklah mudah baginya.

Bagaimana jika pertanyaan Seungcheol nantinya memicu ketiksenangan Jiyeon? Kalau Jiyeon lantas memandang rendah pada dirinya?

Sia-sialah perjuangan dirinya selama ini untuk dekat dengan gadis berwajah anime tersebut.

“Tapi….”

“Katakan saja. Apapun yang ingin kamu bilang, bahkan itu pertanyaan akan aku jawab kalau aku bisa.”

Ingin rasanya Seungcheol mengacak-acak rambutnya kini karena bingung harus mulai dari mana. Masakan ia langsung menanyakan hal itu?

‘Hei Kim Jiyeon, sejak kapan kamu jadi orang aneh seperti itu?’

Yang ada wajahnya disemprot air.

“Sejujurnya ada yang mau kutanyakan….”

Jiyeon masih tergeming. Nampaknya ia benar-benar fokus pada kata-kata yang akan terlontar dari bibir gebetan-nya. Sedang Seungcheol jadi benar-benar gugup akan reaksi selanjutnya.

“Bukan kamu kan yang jadi ketua acara White Day itu?”

Perlu waktu yang lama untuk Jiyeon meresponnya. Responnya pun hanya senyum-senyum malu sambil meremas jari, “Itu aku, kenapa memang?”

Mendengar pernyataannya sendiri membuat Seungcheol bingung harus sedih atau harus senang. Sedih karena Jiyeon termasuk dalam kategori aneh menurut kamusnya atau senang karena respon Jiyeon yang tidak seperti dugaannya.

“Kamu tidak suka ya?” tanya Jiyeon hati-hati.

“Suka kok, suka!”

‘Iya, suka pada Kim Jiyeon bukan pada kenyataannya.’

“Lalu?”

“Kalau kamu tidak suka ya tidak usah dipaksakan Seungcheol-ssi kita juga kan belum….” Jiyeon menghentikan kalimatnya tepat sebelum kata terlarang pada hubungan mereka terucap. Namun, itu pun sudah membuat dirinya dan Seungcheol kikuk.

Seungcheol merasa dirinya harus mengenyahkan ketidaknyamaan ini, tapi yang terlontar justru hal konyol yang lain, “Aku memang tidak suka sih dengan hal-hal berbau melankolis seperti itu….” Air muka Jiyeon tidak menampakkan apa-apa meski Seungcheol terang-terangan bilang hal seperti itu, “Tapi sepertinya kalau kamu yang melakukan seperti itu tidak apa-apa.”

Jiyeon lantas melongo mendengar penuturan Seungcheol. Gebetan-nya yang cuek tapi kebapakan, merasa tidak pernah romantis padahal peduli pada setiap pergerakan Jiyeon berkata seperti itu. Hal ini yang membuat Jiyeon masih bertahan pada Seungcheol meski hampir lima bulan digantungi.

“Kalau kamu tidak….”

“Sejujurnya, yang ingin kukatakan bukan yang tadi. Aku memang sempat berpikir kalau orang-orang yang merayakan hal seperti itu termasuk aneh. Tapi entah bagaimana kalau kamu yang melakukannya tidak setitik pun rasa sukaku padamu jadi berkurang.”

“Eh?”

“Jiyeon-ssi, kamu kan tahu kalau aku memang tidak romantis. Jadi kalau aku masih belum memintamu untuk jadi kekasihku bahkan di tanggal istimewamu ini masih tidak apa-apa?”

“Eh?” Untuk yang kedua kalinya. Jiyeon tak kuasa menjawab penuturan Seungcheol.

“Jawab saja, masih tidak apa-apa?”

Tapi sosok gadis cantik itu masih bergeming.

“Hm, kalau kamu masih berkenan bagaimana dengan tanggal 20?” Alih-alih meminta jadi pacar, Seungcheol malah mengagendakan acara tersebut.

Satu pertanyaan yang terlintas di benak Jiyeon, memang ada tanggal jadian diatur kedua belah pihak? Bukannya itu tanggal pernikahan ya?

Otaknya jadi ngawur kan.

“Memang kenapa harus tanggal 20?”

“Rahasia!” jawab Seungcheol sok manis, berimbas Jiyeon merasa ingin mencubit pria itu, “Tapi kamu masih mau kan?”

Antara bingung dan ingin tertawa, Jiyeon mengangguk kecil, “Memangnya untuk apa aku menunggu begitu lama kalau aku tidak tahan dengan sifatmu itu?”

Seungcheol tertawa, agak miris sebenarnya, “Kita seperti sudah jadian saja sama-sama mengungkapkan perasaan.”

“Kan katamu tunggu tanggal 20, berarti belum ada apa-apa diantara kita dong!” Mulutnya memang menentang namun pipi Jiyeon bersemu merah.

“Hah, aku harus menunggu satu minggu lagi.”

Kalau saja Seungcheol tahu, perasaan Jiyeon padanya sudah termasuk gemas, sebal, geli, kesal, suka, kagum semua jadi satu.

.

“Jadi kita sudah pacaran kan?”

“Memangnya kenapa sih kamu harus bilang tanggal 20?”

“Daripada jadian karena White Day, aku lebih suka kita jadian saat kamu ulang tahun!”

“Berarti kita belum jadian dong!”

“Hah?!”

“Iya, aku lahir kan jam 9 malam.”Jiyeon menjawab dengan tampang lugu, namun sedetik kemudian berlari menjauhi Seungcheol sembari terbahak.

-FIN-

a.n: Mohon maaf atas endingnya.

Advertisements

2 thoughts on “[White Day With Kei’s] To Be Honest

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s