[Vignette] Midnight Snack

Standard

potato-chip-taste-test_612

Midnight Snack © burritown

Jeong Yein, Jeon Jungkook

Romance, Fluff, Comedy?

Rating PG-17 for Cursing, etc.

Vignette (2.038 Words)

Warn! AU, Typo(s), Plotless, Out Of Character(s), (un) beta-ed, e.t.c

Summary: Jungkook mengulas senyum lebar yang mampu menampakkan gigi kelincinya, lantas sebelah tangannya sedikit mengangkat kantong plastik hitam yang dibawa, “Camilan tengah malam?”

P.S: I didn’t own anything except the plot. Yet I ain’t get any advantages from this fic

Sepertinya hari Senin memang tidak pernah memberikan toleransi kepada Jeong Yein. Pagi-pagi sekali dia harus berangkat ke kampus karena tuntutan jadwal kelas profesor Kim yang di mulai pukul delapan. Yein sama sekali bukan tipe gadis yang rajin bangun di pagi buta, asal kau tahu. Kemudian dia harus menempuh dua kuis dari mata kuliah yang berbeda tiap seminggu sekali—yang sialnya dua-duanya jatuh di hari yang sama—. Dengan ekspresi muka jauh dari kata ‘baik-baik saja’ setelah keluar dari kelas terakhirnya, salah seorang kolega Yein datang dan menagih perihal tugas kelompok yang harus diselesaikan sebelum hari rabu; double jackpot bagi Jeong Yein yang juga baru saja mengingat kalau dia masih punya satu hutang tugas individu yang harus diselesaikan sebelum hari yang sama.

“Aku butuh kasur dan tidur segera.”

Sekarang pukul duabelas malam dan Yein baru saja pulang dari seluruh kegiatan melelahkan di kampusnya. Gadis enerjik sembilanbelas tahun itu menggerutu pelan ketika memasuki pintu kamar, lantas menghembuskan napas berat ketika melihat kondisi ruangan kecil berukuran tiga kali empat itu jauh lebih buruk dari sebuah kapal yang diterjang ombak dan dilahap pusaran air dalam waktu hampir bersamaan. Benar-benar berantakan. Dan sama sekali tidak ada kesan ‘kamar milik seorang gadis yang baru saja pubertas’. Artinya, Yein harus mengeluarkan sisa-sisa tenaganya untuk mengembalikan kondisi ruangan seperti kamar putri kerajaan yang sering dilihatnya dalam film-film disney—oke, maaf. Itu terlalu berlebihan.

Kelopak matanya bahkan terasa cukup berat selepas membereskan kekacauan ‘sederhana’ dalam ruang pribadinya—“Benar-benar hari yang cukup melelahkan.” Gadis itu merebahkan diri di atas ranjang empuk yang, entah kenapa, sangat dirindukannya dalam dua hari terakhir (setelah beberapa malam Yein terjaga karena mengerjakan tugas yang menumpuk seperti cucian). Dan sekarang dia hanya akan bergelung di atas singgasananya tanpa ada satupun gangguan yang—

Beep!

—Oh. Sepertinya seseorang sedang tidak ingin Yein mengakhiri hari ‘berat’nya dengan cepat. Rasanya tidak sampai sepuluh detik gadis monolid itu mampu tenggelam dalam surganya ketika ponsel pintar Yein berbunyi dengan cukup keras (sialan, dia lupa mengubahnya menjadi mode pesawat), menandakan sebuah pesan singkat masuk.

Jeon Jungkook: Hei.

Terkutuklah makhluk sialan yang berani mengusik kehidupannya di waktu krusial seperti sekarang ini.

Jeong Yein: Ini sudah malam dan Aku lelah, Jeon. Sampai besok.

Yein melempar benda persegi panjang elektronik itu asal, namun tak sampai lima detik, sebuah balasan kembali muncul; ya Tuhan, sepertinya Jungkook memang berniat membuatnya terjangkit darah tinggi waktu dekat.

Jeon Jungkook: Aku tidak bertanya, Jeong.

Jeon Jungkook: Oke, Aku minta maaf :/

Jeong Yein: Tidurlah.

Jeon Jungkook: Aku tidak bisa…tunggu.

Jeon Jungkook: ADA SEORANG BAYI DI DEPAN RUMAHMU. DAN DIA KEDINGINAN SEKARANG.

Jeong Yein mengerutkan dahinya setelah membaca pesan singkat laki-laki bermarga Jeon. Otaknya berpikir cukup keras dengan sisa-sisa energi yang masih dimilikinya—

Jeong Yein: HUH?

Jeong Yein: Jungkook, jangan bilang kalau itu kau…

Yein lantas bangkit dari ranjang, menghiraukan pegal yang menghampiri nyaris seluruh fisik dan batin karena aktivitas kampus selama seharian penuh. Lelaki bebal seperti Jeon Jungkook sepertinya memang harus diberi kuliah moral selama satu jam penuh tiap hari supaya tidak mengganggu kenyamanan orang, apalagi waktu tengah malam seperti sekarang ini. Omong-omong, Yein sama sekali tidak keberatan untuk mencarikan tutor perbaikan moral untuk hal tersebut—asalkan bukan seorang gadis sebaya atau tipe noonanoona penggoda.

Klek!

“Kau sinting.” Yein mengatur deru napasnya yang memendek karena berlarian dari kamarnya yang kebetulan berada di lantai dua (dan nyaris membangunkan kedua orangtuanya yang sedang menikmati bunga tidur mereka). Wow, dia sendiri tidak mengira akan berlari seperti orang kesetanan ketika eksistensi lelaki sinting itu benar-benar berada di depan rumahnya.

“Aku senang kau berbaik hati membukakan pintu untuk orang sinting sepertiku, Jeong.” Jungkook mengulas senyum lebar yang mampu menampakkan gigi kelincinya, membuat laki-laki itu semakin terlihat menggemaskan. Lantas sebelah tangannya sedikit mengangkat kantong plastik hitam yang dibawa, “Camilan tengah malam?”

Yein melipat kedua tangan di atas dada, lantas merotasikan dwimanik gelapnya sedemikian rupa. “Sinting. Aku bisa gemuk, Jeon.”

“Aku tidak peduli. Bagiku kau tetap cantik sampai kapanpun—dan berhenti memanggilku sinting, nona.”

“Gombal sekali, ewh. Lagipula kau sendiri juga menyebut dirimu sinting tidak sampai semenit lalu.”

“Oke, Aku minta maaf. Jadi—boleh Aku masuk sekarang? Kau tahu disini dingin, bukan?” Jungkook menggosok kedua telapak tangannya yang nyaris memutih. Memunculkan sebuah tanda tanya besar di benak Jeong Yein, sudah berapa lama laki-laki itu mendekam di depan rumahnya?

“Kau tahu bahwa malam ini cukup dingin tapi masih saja memakai kaos dan kemeja tipis seperti itu? Kurasa kau memang benar-benar sinting, Jeon.” Yein menggesturkan tubuhnya ke samping, mempersilahkan laki-laki di depannya untuk melangkah masuk, lantas menutup pintu.

“Ya, ya, ya. Terus saja mengataiku sinting sementara kau berlari kesetanan dengan setelan teddy bear dan tatanan rambut mirip seperti singa—siapa sebenarnya yang sinting disini, eh?” Glek! Mendengarnya, Jeong Yein seperti baru saja ingat kalau dia telah menginjak ranjau aktif milik musuh yang siap meledak kapan saja. Ugh, salahkan isi pesan Jeon Jungkook yang membuatnya kesetanan (ugh, sudah berapa kali kata kesetanan ini disebut?) sampai-sampai tidak sempat berbenah barang satu detik pun.

Skakmat!

“A-Akumaugantibajudulu.”

Jeong Yein sudah tertangkap basah, dan dia malu. Malunya berkali-kali lipat melebihi saat dirinya ketahuan oleh Jungkook sedang membaca komik boys love karena iseng tempo hari yang lalu (salahkan Hwang Eunbi yang terus-menerus menyugesti Yein tentang ‘indah’ dan dramatisnya kisah pecintaan sesama jenis—hell). Sungguh, Yein benar-benar menyesal setelah insiden tersebut dan berjanji tidak akan pernah membaca hal-hal serupa.

Lain Yein, lain pula Jungkook. Laki-laki itu justru nyaris meledakkan tawanya ketika melihat sikap salah tingkah gadisnya yang memang terlihat menggemaskan. Dia tidak benar-benar serius ketika mengatakan kalimat terakhirnya tadi—toh menurut Jungkook, Jeong Yein tetap terlihat cantik dalam keadaan apapun. Oh, bahkan mungkin Jungkook masih menganggap Yein cantik ketika menemukan folder tersembunyi dalam laptop gadisnya yang berisikan kumpulan foto derp face eksklusif milik Jeong Yein (cinta memang membutakan segala). Ups, tolong jangan katakan kepada siapapun tentang hal ini.

“Bagaimana penampilanku sekarang?” Gadis enerjik tersebut kembali dengan balutan kaos putih polos yang dilapisi jaket kecoklatan serta celana training berwarna gelap. Mahkota kecoklatannya dikuncir kuda namun masih membiarkan beberapa helai lolos dan menggantung.

“Aku lebih suka kau dengan setelan teddy bearmu yang tadi.”

Ya! Aku serius, Jeon.”

“Bercanda. Kau terlihat cantik—”

Yein terpaku selama beberapa jenak. Bohong kalau dia tidak merasa diterbangkan ke surga dengan pujian Jungkook yang terdengar serius. Tidak disangka bahwa laki-laki sesinting Jungkook ternyata masih punya secuil kewarasan di dalam otaknya.

“—Walaupun masih lebih cantik ketika memakai pakaian teddy bear.”

Dan Jeong Yein menyesal telah memuji laki-laki itu sebelumnya. Dia salah besar; Jeon Jungkook memang sinting sepenuhnya.

Detik selanjutnya, kedua tangan Yein aktif memukuli eksistensi laki-laki super menyebalkan di depannya dengan energi yang tersisa—“Mati kau, orang sinting.” Yein sendiri heran bagaimana bisa dia berpacaran dengan Jeon Jungkook yang sikapnya jauh dari kata ‘normal dan biasa-biasa saja’ selama nyaris tiga tahun dihitung dari tahun kedua Sekolah Menengah Atas mereka. Atau jangan-jangan dia sudah tertular virus ‘being normal is a boring’ milik Jungkook dan membuat Yein harus merelakan seluruh hidupnya dikarantina bersama si pemuda Jeon—well, sepertinya cukup menyeramkan. Dan yakin akan membuat Yein mati muda.

Aw!—Oke, ampun. Aku menyerah.”

“Seharusnya kau mengucapkannya sejak awal.” Yein menghentikan aksinya, menatap Jungkook dengan seutas senyum penuh kemenangan.

“Pukulanmu sakit sekali, tau. Sepertinya Tuhan telah mengutukku untuk pacaran dengan gadis cantik jelmaan gorila—”

“Katakan sekali lagi dan Aku akan menendang bokongmu dari rumahku.”

“—Maaf.”

Pandangan Yein beralih pada kantong plastik hitam yang tergolek di atas meja kecil ruang tamunya. “Kau membawa apa?” Wajar apabila Yein tak mampu menutupi rasa kuriositasnya yang cukup tinggi ketika inner-selfnya menduga cukup kuat bahwa Jungkook membawa sesuatu yang cukup lezat. Sebelah tangannya lantas menelisik masuk ke dalam kantong plastik yang berisi beberapa camilan dari minimarket di ujung komplek. Termasuk kripik kentang—favoritnya.

Tiba-tiba saja Yein merasa isi lambungnya kosong melompong.

“Kupikir kau takut gemuk.” Jungkook berkomentar. Hanya dengan melihat sekilas binar dibalik dwimanik gelap milik gadisnya itu dia sudah cukup tahu bahwa Yein sedang mengalami perang batin.

Menelan kuat-kuat salivanya, Yein mulai mengambil sebungkus kripik kentang dari dalam kantong plastik, “Makan kripik kentang satu bungkus tidak akan membuatku gemuk secepat itu—” Gadis Jeong itu berdalih, dan mengunyah kripik pertama sehingga menimbulkan suara kress! yang cukup keras. Peduli setan ketika dia telah menggosok gigi sebelumnya. Toh, selepas ini Yein masih bisa menggosok giginya lagi.

“Ucap gadis yang takut gemuk beberapa menit yang lalu.” Jungkook menambahkan. Yang dibalas tatapan sinis oleh gadis monolid. Oh, tentunya menggoda Yein memiliki kebahagiaan tersendiri bagi Jeon Jungkook. Lihat saja reaksi gadisnya yang selalu mirip dengan orang yang sedang mengalami sindrom pra-menstruasi tiap kali lelaki itu memprovokasinya.

“Diam kau.”

Dua anak manusia itu terjebak dalam atmosfer hening selama beberapa jenak. Hanya suara kress! dari kripik kentang yang disantap keduanya—uhm, sebenarnya hanya Yein yang sibuk mengunyah kripik kentang, sedangkan Jungkook mengunci dwimaniknya terhadap eksistensi gadis Jeong. Lihat saja mulutnya yang penuh dengan kripik kentang; Jeong Yein benar-benar mirip dengan tupai pohon sekarang. Tanpa sadar, Jeon Jungkook mengulas senyum.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kuliah di jurusan sastra?” Jungkook berinisiatif untuk membuka bahan obrolan. Hey, lagipula ini sudah hampir dua bulan semenjak terakhir kali mereka bertegur sapa (ralat, ‘sedikit’ beradu mulut) serta berbincang layaknya sahabat karib dan pacar. Banyaknya kegiatan kampus membuat Jungkook dan Yein harus rela mengurangi jam temu kangen mereka dan mengandalkan media sosial sebagai alat komunikasi setiap hari.

“Baik, dan buruk.”

Jungkook menaikkan sebelah alis, menunggu kalimat lanjutan yang keluar dari mulut gadisnya, “Dua kuis setiap hari senin membuatku nyaris gila. Ditambah lagi tugas yang menumpuk seperti cucian itu selalu menghantuiku setiap kedipan mata—ugh, Aku merasa seperti sedang dikutuk oleh seseorang.”

“Pantas kau berubah menjadi nenek sihir ketika malam hari.”

“Kalau yang kau maksud adalah nenek sihir yang cantik—”

“Sudi sekali.”

Ya! Jeon Jungkook. Begini-begini Aku punya banyak fans di kampus, asal kau tahu.”

Yein kembali mengunyah kripik kentangnya. Kali ini sedikit kasar. Mungkin dia masih bisa menoleransi sikap bebal Jungkook hanya untuk malam ini saja—terimakasih kepada camilan yang mampu menyelamatkan pemuda Jeon dari amukan singa betina—. Membuat Yein harus berpikir dua kali hanya untuk merobek muka laki-laki menyebalkan tersebut.

“Kau pasti bercanda. Tidak mungkin ada yang mau dengan singa yang lepas dari kandang sepertimu, Yein-aa.” Jungkook menggesturkan tubuhnya, kali ini duduk tepat di depan Yein. “Kecuali orang itu sinting—”

“Kau baru saja menceritakan tentang dirimu sendiri, Jeon Jungkook.” Yein meletakkan kripik kentangnya asal. Dwimanik gelapnya lantas memandang lekuk wajah lelakinya yang hanya berjarak kurang dari tigapuluh sentimeter. Wow, Yein sama sekali tak ingat sejak kapan Jeon Jungkook menjadi setampan ini—lihat saja garis alisnya yang tampak cukup tegas itu, dwimanik gelapnya (yang dilihat dari jarak sedekat ini ternyata sedikit memiliki corak warna kecoklatan), bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, serta bibir tipis kemerahan Jungkook yang terlihat kissableHell, Jeong Yein. Jauhkan pemikiran mesum itu dari otakmu!

“Puas memandangi wajahku yang tampan ini, eh?” Jungkook memperpendek jaraknya, membuat dwimanik Yein membulat sempurna karena terkejut dengan aksi tiba-tiba pemuda Jeon. Hampir saja jantung Yein melompat dari tempatnya.

“Mimpi. Lebih baik memandang poster Dane Deehan daripada kau.” Yein lantas mengalihkan pandangannya, kembali meraih bungkus kripik kentang, dan mengunyahnya dalam jumlah yang banyak.

“Apa kau baru saja merasa malu?” Tanya Jungkook penuh selidik, dan sedikit nada menggoda dalam suaranya.

Kress! “Menyesal, lebih tepatnya.”

“Karena memiliki kekasih setampan Aku?”

“Karena sudah membiarkan orang sinting memasuki rumah dan mengganggu waktu istirahatku yang berharga—”

Sebelum sadar apa yang terjadi, Jungkook mengulurkan tangan ke wajah Yein dan mengangkat dagunya. Bibir mereka bersentuhan selama beberapa detik. Hanya sebuah ciuman singkat, namun hal itu sudah cukup membuat Yein hilang akal selama beberapa menit. Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum otak pas-pasannya mampu memproses kejadian yang baru saja terjadi.

“A-Apa yang kau laku—”

“Ada remah kripik di sekitar bibirmu.” Jungkook sedikit berbisik di telinga Yein, sebelah tangannya menyisipkan helai rambut yang menggantung ke belakang telinga gadisnya dan menatap Yein dengan sorot yang cukup serius.

“Apa maksu—dmu.”

“Kau banyak omong sekali, Jeong Yein.”

“Mesum!”

.

.

.

FIN

Finished on 2016 March 29; 11.57 AM

.

.

.

PS: Anggap saja Yein adalah mahasiswa jurusan Sastra yang pacaran sama Jungkook yang merupakan mahasiswa Kedokteran (ceilah) tapi beda universitas, jadinya mereka jarang bertemu sapa; kadang sebulan sampai dua bulan sekali. Trus sekalinya ketemu mereka kangen-kangenan macem cerita di atas gitu deh /dilempar/. Sama sekali jauh dari kata manis, yah? Iya, emang ._.

A/N: Ugh, akhirnya bisa kembali menulis setelah hampir dua bulan diserang sama yang namanya writer block ;~; dan juga—sebenarnya ide ini datang ketika saya lagi sibuk main twitter trus nemu fake-texts post gitu deh, alhasil, dengan banyaknya tugas dan kuis yang macem cucian itu, saya mulai nulis deh cerita receh ini ;~; errr, trus jangan heran jika kebanyakan deskripsi di atas itu banyak nyelip curhatan-curhatan pribadi /dilempar/, karena memang keadaan saya sekarang seperti itu… /keceplosan curhat, kan/ orz.

Yeps, terakhir, shalom!

13 thoughts on “[Vignette] Midnight Snack

  1. azeleza

    WAKAKAKAKAKAKKAKAKAK XD
    Berantem mulu itu sepanjang paragraf minta dinikahin banget dedek2kuuuh :””) halah love-hate si JeongIn bikin gak kuku lah kzl wkwkwk

    Sebelum baca A/N aku udh tau kalo kamu nyelip2in “kamu” bgt di sana jd aku tambah ngakak bacanya Ritoo :””D

    Selamaat WBnyaaa ilaaang~~ joget2 cakep2 :3

    ♡♡♡♡

    Liked by 1 person

    • iya nih, aku yang nulis aja kesel lihat mereka berdua berantem mulu xD /lah kok/ yuk, dek kalian kapan nikah? weheee~

      lol, aku yang nulis pas baca ulang aja ketawa2 sendiri, trus malah mikir kalo ini fic curhat, orz :”””)

      YEEEEYY, semoga wbnya gak mau balik lagi :”)

      Liked by 1 person

  2. RulI

    Jung-In ketemunya sampe sebulan bahkan dua bulan sekali,dan sekali ketemu itu cuma mau berantem? Hahaha,tapi berantemnya sweet bikin greget *eh/?

    Oke,semangaat deh buat author-nya yang lagi dapet tugas udah macem cucian numpuk,smoga cepet selesai biar bisa update ff lagi *hahaha. Ga ketinggalan, Nice ff,suka bangeeet. Semangaaat. 😀

    Liked by 1 person

    • iya nih, aku juga gagal paham sama jungin :”) mereka gapernah ketemu tapi sekali ketemu malah berantem :”) /lah/

      ugh, makasih banget Rull sudah mau suka sama fic yang bisa dibilang receh ini ;~; trus juga, makasih (lagi) sudah mau nyemangatin ;~; wkwk 😗😗

      Like

  3. nightskies

    kalo (seandainya) aku punya cowo model kookie, yg dateng ke rumah tengah malam bawain makan, maka antara pengen nendang atau pengen meluk. well, rasa sayang diungkapkan dgn cara berbeda /eits kok malah curhat…
    ledek2annya itu ih, bikin gemes pgn jedotin kepala mereka biar… yah taulah kira2 apa(?)
    satu kata; seru! ga berenti senyam-senyum selama baca. keep writing~

    Liked by 1 person

    • kalo (seandainya) aku punya cowok macem kuki, mungkin udah langsung ditarik ke kua /lahkok/ xD
      ugh, ya aku sendiri gagal paham sama mereka yang suka2nya ledek2an padahal udah lama gak ketemu xD

      uwaaa, makasih banget nightskies ;~; walaupun aku masih ngerasa banyak yang kurang gegara habis kena wb, huhuhu ❤

      Liked by 1 person

  4. stalkims98

    haiii rito, maafkan yang baru bisa baca-komen/tadi siang nggak ngeh kalo ff mu nangkring/ :’D

    mas kuki mau modus tuh!!! pengen makan kripik kentang tapi gengsi mau minta/? sama yein, jadi ya makan remahan yang ada di bibirnya yein doang, niatnya sih gamau cium sebenernya, tapi pengen ngerasain kri[ik kentangnya, yakan?
    ada banget ya pasangan gila gitu/zzz/ baca kalo kuki mahasiswa kedokteran kok aku jadi inget kei-jimin yang LDR-an ya//????
    jangan-jangan ini kisah nyata kamu rito??? didatengin pacar pas lagi capek2nya/elahhh/ :”’D
    aku pas baca bayangin kuki ngliatin yein aduh adem banget tatapannya/mau juga dapet satu kayak kuki/
    ya walaupun berantem-berantem gitu, tapi aduh, kelewat unyu berantemnya!!! mana manggilnya sinting sinting lagi ada banget gitu :3

    udah gitu aja rito, semoga abis aku un ada ff kamu nangkring lagi yeaaa weheee aku selalu sukaaaaaaa ❤ ❤ ❤

    eh, kamu udah kuliah? jadi kamu unni aku? tapi enak manggil kamu rito sihhh/kurang ajar wkwk/

    Liked by 1 person

    • haloo jugaa, stalkim xD wkwkwk

      kalo kripik kentang mah, kuki juga masih punya banyak dirumah… /lah/ :’D
      aku sendiri juga heran sama pasangan beneran ‘gila’ macem mereka, rasanya pengen langsung dinikahkan saja :’D /oi/
      lah, aku malah baru inget kalo kuki jadi anak FK di fic keimin yang telpon2an itu :’D /dilempar/
      errr, pengennya sih gitu, tapi saya gak punya pacar, punyanya bangtan, gimana dong? :(( /digorok/
      ugh, kukiyein emang suka bikin iri :”) kapan juga aku dapet satu yang kayak kuki gitu ya? etapi bebal nya gausa :’D wkwkwk /wut/
      sinting kan panggilan sayang yein ke kuki :’D

      uwaaaaa, makasiiih banget ❤ doakan saja wb gamau mampir lagi x’)

      uhh, iya nih. aku udah kuliah semester (mau) tua :”””) wehehe, gapapa sih, malah dapet kesan kalo masih muda :p wkwkwk /dilempar

      Liked by 1 person

  5. Aihara

    Cie Jungkook anak FK wkwk XD
    Jarang ketemu, tapi kalo ketemu gitu ya
    Kaya musuh bebuyutan, saling ngeledek
    Jungkook-nya diledek sinting, Yein-nya diledek juga
    Tapi malah itu yang bikin unyu sekaliii
    Mereka sweet dengan caranya sendiri ><
    Yang terakhir apalagi 😀

    Tugas ya? Ampe numpuk gitu, semangat^^
    //
    Huah aku hampir lupa apa itu tugas setelah berhari-hari meliburkan diri
    jadi ikutan curhat

    Liked by 1 person

    • ciyeee, ku juga mau dong dapet anak FK macem jungkook 😂 /oi/
      tau deh, aku juga gagal paham mereka, maunya sih kangen2an eh malah jadi adu mulut xD
      sinting kan panggilan sayang yein ke jungkook :’D ugh

      uwaaa, enaknya yang libur :”) iya nih, tugasnya datang terus kayak cucian :’) eheheheu, makasiiih banget semangatnya ❤ makasih juga sudah baca ❤

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s