[Freelance] Hi~

Hi

[1]

Hi~

By: Meininree

Yoo Jiae, Park Chanyeol, Kim Jongin | Songfic | Ficlet | Teenager

Story from my imagination | Inspiration from Lovelyz’s Song “Hi~”

~I look in the mirror, I’ll call you, Count to one, Count to two, then say hi~

Pagi ini, seorang gadis tak bisa menghilangkan senyuman di wajahnya. Sinar mentari yang begitu hangat dan terang bersinar di balik senyumnya yang tak kunjung pudar. Ia menghela nafasnya dan melangkahkan kakinya secara mantap menuju sekolah barunya, sesekali ia meloncat-loncat kecil, seakan ia ingin menari di atas perasaan bahagianya.

“Yah, Yoo Jiae!” Sebuah suara menghentikan langkahnya.

“Kim Jongiiin…” Gadis bernama Jiae itu sedikit berlari menuju lelaki yang memanggilnya sambil tersenyum lebar.

“Wuah..aku tidak menyangka aku akan satu sekolah lagi denganmu.” Jongin menyapa teman lamanya dengan sedikit keluhan.

“Kau terlihat tidak senang bertemu denganku lagi, sebenarnya aku juga sudah bosan satu sekolah denganmu, tahu! Dari sekolah dasar hingga sekarang kenapa kita selalu satu sekolah. Pfth.” Jiae juga menyuarakan keluhannya kepada teman lamanya.

Mereka berdua saling menatap, Jiae menatap Jongin dengan bibirnya yang mengerucut, sedangkan Jongin hanya memberikan tatapan yang menyebalkan kepada Jiae, namun tak lama kemudian mereka tersenyum dan tertawa bersama. Dibalik keluhan palsu mereka yang baru saja mereka lontarkan, sejujurnya mereka merasa senang bisa bertemu lagi di sekolah ini setelah berjuang bersama untuk bisa masuk ke sekolah menengah atas yang sama-sama mereka impikan.

“Kim Jongin?” Sebuah suara menghentikan tawa mereka.

“Hyung?” Jongin membalas suara yang memanggilnya.

“Kau masuk sekolah ini?” Lelaki tinggi itu bertanya kepada Jongin.

“Eoh, kau juga bersekolah disini? Aku baru tahu kalau kau sekolah disini juga.”  Ucap Jongin masih merasa sedikit terkejut.

“Tentu saja kau tidak tahu, ngobrol saja kita tidak pernah. Ya.. untunglah kita sekarang satu sekolah, semoga kita bisa akrab.” Lelaki itu berkata sebelum ia menepuk bahu Jongin dan berlalu pergi melewatinya.

“Huh? Y..ya.. semoga.” Jongin menjawab lirih.

Di sisi lain, sepasang mata bulat tampak memperhatikan punggung lelaki tinggi itu yang semakin menjauh. Mata gadis itu mengekori setiap gerak-gerik lelaki yang baru saja mencuri perhatiannya. Caranya berjalan, rambutnya yang hitam, kakinya yang panjang, harum parfumnya, semua terlihat mengagumkan di mata Jiae, membuat mulutnya sedikit menganga, menandakan bahwa ia begitu terpanah dengan  lelaki yang baru saja ditemuinya. Dunianya seakan berhenti berputar sejenak, sosok lelaki itu telah memekarkan bunga-bunga di dalam hatinya.

“Yah, tutup mulutmu itu sebelum lalat memasukinya.” Jongin menjitak pelan kepala Jiae.

Jiae yang masih merasakan indahnya panah cupid yang bersarang di hatinya sama sekali tidak menolehkan pandangannya ke Jongin. Ia hanya berkata “Jongin-a, Siapa dia?”

“Kakak sepupuku.” Jongin menjawab singkat. “Yah, kenapa kau memandanginya seperti itu?”

“Dia tampan.” Jiae tersenyum lebar dan menatap Jongin dengan mata yang berbinar.

***

“Jiae-ya, kau tidak makan makananmu?” Jongin bertanya pada gadis yang duduk di sampingnya, namun gadis itu sama sekali tidak menghiraukan Jongin.

“Tsk, kau masih saja memandang dia seperti itu.” Jongin baru menyadari bahwa temannya sedang memperhatikan seorang lelaki.

“Hey, apa kau sudah mendapatkan nomor handphonenya?” Jiae bertanya kepada Jongin sembari menatap Jongin yang sedang berkonsentrasi makan. Jongin hanya menjawab Jiae dengan gelengan kepala. “Yahhh… dia ‘kan kakak sepupumu, bagaimana bisa kau tidak punya nomor handphonenya?”

“Kao kan tahow sendiri ako tidak aklab dengannya.” Jongin berkata dengan mulutnya yang penuh makanan, membuat Jiae mendengus sebal.

“Lagipula, kenapa kau tidak meminta saja sendiri padanya.” Jongin berkata dengan jelas setelah menelan makanannya.

Nggak ah, malu.” Jiae menjawab singkat.
“Kau yakin kau masih punya malu? Sudah sebulan ini kau memperhatikannya. Setiap istirahat, setiap pulang sekolah, setiap pelajaran olahraga, bahkan kau rela ikut tim cheerleader hanya untuk bisa melihatnya latihan basket. ” Jongin terdengar sedikit menyindir Jiae.

“Itu namanya usaha tahu!” Jiae membela dirinya sendiri.

“Yasudah, berusahalah untuk mendapatkan nomor handphonenya.” Perkataan Jongin membuat Jiae berpikir. Ia memandang kembali lelaki yang telah menyita pikirannya selama sebulan ini.

“Jiae-ya, terimakasih dagingnya.” Jongin berbisik di telinga Jiae.

“Hmm…” Gumam Jiae, namun sedetik kemudian matanya membulat. “Yah Kim Jongin!!!” Jiae berteriak karena daging jatah makan siangnya telah lenyap diambil oleh Jongin, sementara Jongin berlari dengan membawa minumannya, meninggalkan Jiae yang menahan malu karena sedang dipandangi siswa sekantin setelah berteriak seperti monster kehilangan santapannya.

***

Jiae telah mengganti bajunya setelah berlatih cheerleader, ia juga telah mandi, memakai parfum, dan merapikan lagi dandanannya. Ia duduk di bangku yang berada di tepi lapangan basket dengan sebuah air mineral yang ia genggam di tangan. Kegugupan yang sejak tadi malam ia rasakan kembali melanda dirinya. Tenanglah Jiae, tenang. Hanya menyapa dan mengajak berkenalan, tidak terlalu susah ‘kan?

Ia kembali memikirkan kata-kata apa yang harus ia ucapkan untuk orang yang dinantinya ketika latihan basket di depannya sudah selesai.

“Sunbaenim, ini air minum untukmu.”

Haruskah aku mengatakan seperti itu? Batin Jiae

“Sunbaenim, aku Jiae, ini air minum untukmu.”

Haruskah aku menyebutkan namaku? Jiae membatin lagi.

“Sunbaenim, ini air minum untukmu. Aku menyukaimu.”

Tidak-tidak, itu terlalu jujur Jiae. Sebagai seorang wanita, aku harus sedikit punya harga diri. Jiae menasehati dirinya sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Gelengan kepalanya terhenti manakala ia melihat sosok yang ia tunggu berjalan ke arahnya. Dengan rambut yang basah oleh keringat, ia terlihat semakin keren di mata Jiae. Langkah kakinya semakin dekat dengan tempat duduk Jiae, ia memang sengaja memilih duduk disamping tas milik lelaki jangkung itu. Degupan jantung Jiae terasa semakin cepat melihat lelaki itu mendekat ke arahnya.

Jiae mengeluarkan cermin kecil yang ada dalam tasnya, ia melihat lagi wajah dan tatanan rambutnya dan memasukkan lagi cermin itu.

Oke, inilah waktunya, aku akan memanggil namanya.

Satu…

Dua…

Tepat saat lelaki itu berdiri di depannya, Jiae berdiri dari tempat duduknya, menyiapkan senyum termanisnya, dan berkata…

“Chanyeol Sunbaenim, Hi~”

Tak sempat mengucapkan kata selanjutnya dan memberikan air mineral yang telah digenggamnya sedari tadi, lelaki bernama Park Chanyeol itu telah pergi dari hadapan Jiae setelah menyambar tasnya, bahkan sedetikpun ia tidak melirik Jiae yang telah menyapanya.

Jiae tertegun, tak percaya dengan apa yang telah dialaminya barusan.

Apakah dia tidak melihatku? Apakah dia tidak mendengarku?

Dan sedetik kemudian pertanyaan Jiae dijawab oleh sebuah suara dibelakangnya.

“Dikacangin ya… Kasihan..”

“Diam Kau Jongin.” Jiae melempar air mineral ke dada Jongin dan berjalan cepat meninggalkan lapangan basket dengan menanggung rasa malu dan kecewa.

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s