[Freelance] AH-CHOO

Ahchoo

[2]

Ah-choo

By: Meininree

Yoo Jiae, Park Chanyeol | Songfic | Ficlet | Teenager

Story from my imagination | Inspiration from Lovelyz’s Song “Ah-choo”

~Those words of being your precious friend, I really hate those words~

“Ahchoo..”

Udara pagi hari membuat seorang gadis merasa kedinginan. Gadis itu memang sengaja berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya, karena hari ini ia ingin melaksanakan misi rahasianya.

Sudah beberapa hari ini ia bertingkah laku seperti seorang detektif, ia mengamati seorang lelaki untuk mengetahui dimana letak loker lelaki tersebut. Ia juga mencari informasi mengenai makanan favorit lelaki tersebut dengan mewawancarai temannya yang notabene adalah sepupu dari lelaki itu. Setelah mendapat informasi yang ia butuhkan, gadis itu berubah menjadi seorang pejuang di rumahnya. Ia yang sebelumnya tidak pernah berkawan dengan dapur, tiba-tiba saja melamar dapur untuk menjadi sahabatnya. Ia berjuang sekuat tenaga di sana untuk bisa menghasilkan makanan yang enak untuk lelaki yang telah bersikap cuek kepadanya. Namun, aksi cuek lelaki jangkung itu sama sekali tidak membuat gadis bermata bulat ini menyerah untuk bisa dekat dengannya. Ia malah merasa sedikit tertantang karena sikap lelaki tersebut kepadanya.

Bagi Jiae, Chanyeol adalah satu-satunya lelaki yang memperlakukan gadis yang cukup populer di sekolah seperti dia dengan sikap dingin seperti itu. Jiaepun tidak mengerti kenapa Chanyeol selalu tak acuh kepadanya, padahal berdasarkan pengamatannya, Chanyeol selalu bersikap ramah terhadap orang lain.

Dan sekarang, disinilah ia berdiri, di depan loker Chanyeol. Jiae membuka loker itu dan menaruh kotak makan yang telah ia beri catatan.

Aku belajar membuat makanan ini seharian. Aku harap kau menyukainya.

-AJY

***

“Jadi kau yang menaruh bekal makanan di lokerku?” Suara berat itu menghentikan pergerakan tangan Jiae yang akan menutup loker di depannya. Ia menyembunyikan wajahnya di balik pintu loker. Ia merasa malu karena ia merasa tertangkap basah saat melaksanakan aksi Memberi makan Chanyeol  yang ketujuh kalinya. Ia ingin melarikan diri, namun jika ia lari ia tahu itu hanya akan semakin mempermalukan dirinya sendiri. Akhirnya, ia menutup pintu loker itu perlahan hingga membuat Chanyeol bisa melihat wajahnya.

“Yoo Ji Ae.” Chanyeol membaca name tag  di seragam Jiae.

“A-J-Y, Ae Ji Yoo?” Chanyeol menyeringai seakan menertawakan Jiae.

“Kau lucu.” Komentar Chanyeol yang ini membuat kepala Jiae terangkat untuk melihat wajahnya.

“Apa maumu?” Chanyeol bertanya dengan menatap wajah Jiae.

“Huh?” Jiae tidak mengerti maksud pertanyaan Chanyeol.

“Apa tujuanmu memberiku bekal makanan?” Chanyeol bertanya lagi.

“Ah… apa kau… menyukaiku?” Mata Jiae membulat penuh mendengar pertanyaan Chanyeol.

“Sepertinya begitu.” Chanyeol menebak jawaban dari pertanyaannya dari ekspresi gadis di depannya.

“Tapi sayang, aku tidak menyukai anak kecil sepertimu.” Kini alis Jiae yang berkerut karena Chanyeol mengatakan dirinya anak kecil. Bukankah kita hanya selisih satu tahun?  Batin Jiae.

“Aku terima kau sebagai temanku.” Chanyeol berkata kepada Jiae.

“Te-teman?” Jiae terbata mengucapkan kata itu.

“Iya, teman. Sudah beberapa kali kau memberiku bekal makanan yang enak. Aku hargai usahamu dengan selalu menghabiskan makanan yang kau buat. Meskipun aku tidak menyukaimu, setidaknya kau sudah seperti seseorang yang berharga bagiku, karena berkat makanan gratismu itu, aku bisa menghemat uang jajanku.”

Deg. Hati Jiae seperti tertampar. Kata-kata Chanyeol yang telah menyatakan bahwa dia hanyalah seorang teman yang berharga karena makanan gratis yang ia berikan sama sekali tidak membuatnya senang. Ia malah sangat membenci kata-kata itu.

Teman? Berharga? Aku berharga karena aku bisa memberimu makanan enak secara gratis hingga kau bisa menghemat uang jajan? Bukan itu maksudku memberimu bekal makanan. Aku sama sekali tidak ingin menjadi teman “berharga”mu. Aku ingin lebih dari itu.

Jiae membatin sambil menahan air matanya. Ia membalikkan badannya dan berjalan menjauhi Chanyeol. Tangannya mengepal, menjadikan surat pernyataan cintanya yang telah ia buat semalaman menjadi sebuah gumpalan kertas yang lusut. Baginya, ini terasa lebih menyakitkan daripada Chanyeol yang bersikap cuek kepadanya. Dengan kecuekan Chanyeol, ia masih bisa menaruh harapan. Tapi dengan kata-kata Chanyeol yang barusan ia dengar, ia merasa musnah sudah harapanya. Kata cinta yang belum sempat ia sampaikan ikut ia buang bersama harapannya dan kertas lusut di tangannya.

Advertisements

2 thoughts on “[Freelance] AH-CHOO

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s