[Vignette] A Perfect Boyfriend

Standard

a perfect boyfriend

“A Perfect Boyfriend” by Mingi Kumiko

(Lovelyz) Kei & (SVT) Joshua ★ romance, fluffy, school life ★ PG-17 ★ Vignette ★

“Aku mau sesuatu yang lebih hangat.”

“Contohnya?”

“Jangan berpura-pura bodoh, Jisoo-ya.”

.

.

Masa remaja merupakan sebuah fase kehidupan yang tak boleh disia-siakan begitu saja oleh siapapun. Terlebih apabila seseorang telah masuk ke sebuah jenjang pendidikan tingkat akhir, atau lebih umum disebut SMA. Jangan hanya menghabiskan waktu yang singkat itu dengan berangkat ke sekolah, secara asal duduk di bangku kelas, dan mendengarkan penjelasan guru tanpa mendapat sebuah pengalaman yang berarti.

Seperti yang saat ini tengah dilakukan seorang gadis bersurai kelegaman di ruang rapat. Bertemankan setumpuk lembaran kertas yang tak jemu menyaksikan kesibukannya, ia merekap berbagai macam laporan mengenai pensi untuk memperingati ulang tahun SMA Monzen seorang diri. Ya, dia benar-benar sendirian di ruang lengang yang redup cahaya. Jangan tanyakan apakah gadis seperti dia tak takut hantu, hingga bela-belakan bertapa di ruang rapat. Tentu saja ia takut. Namun ambisinya mengejar deadline pengumpulan proposal untuk diajukan kepada Kepala Sekolah kelewat besar. Peduli setan dengan rumor yang mengatakan bahwa pada kisaran jam segini para hantu akan mulai menggencarkan aksinya.

Jiyeon – nama gadis itu – berhenti sejenak dari aktivitasnya memfokuskan pandangan pada layar monitor berkontras rendah. Ia mendengus kesal dan merutuki keadaan. Kenapa pula ia harus seorang diri mengerjakan semua ini? Mungkin dirinya memanglah koordinator yang memegang penuh seluruh rangkaian persiapan hingga jalannya acara. Namun bukan berarti panitia lain bisa seenak jidatnya lepas tanggung jawab dan membebankan semua pekerjaan padanya, dong?! Tapi tiada gunanya memikirkan hal itu. Toh, kalau dijalani dengan tirakat, Jiyeon benar-benar bisa menuntaskan semuanya sendiri.

TAP! TAP!

Samar-samar ia mendengar derap langkah yang perlahan frekuensinya semakin meninggi. Jiyeon berusaha untuk bersikap tak acuh, namun suara itu benar-benar memecah konsentrasinya. Apakah itu Pak Satpam? Tapi untuk apa beliau kembali ke sini? Jiyeon, kan, sudah mendapat izin untuk memakai ruangan sampai malam. Ataukah mungkin…, hantu penunggu SMA Monzen sudah terbangun dan akan menjalankan sift malamnya?

Derapan itu disusul dengan sebuah siluet misterius yang berjalan ke arah ruang rapat. Jiyeon makin dibuat menegang karena hal itu. Ia sendirian dan tak tahu benda apa yang mampu digunakan untuk mengusir hantu. Satu lagi, bagaimana kalau ternyata yang tengah berjalan mendekat itu adalah roh jahat yang bersiap menyerangnya dan melakukan perbuatan asusila? Tidak, tidak, Jiyeon benar-benar belum siap. Ia masih memiliki cita-cita untuk digapai. Ah, jangan pikirkan hal yang terlalu jauh; Jiyeon belum menuntaskan proposal pensi tahun ini.

CLECK ~

Decitan engsel pintu terdengar setelah gagang pintu itu didorong. Tunggu, kenapa pula hantu perlu membuka pintu untuk memasuki sebuah ruangan? Dan, bingo! Sekelebat pikiran aneh yang berkecamuk di pikiran Jiyeon yang dari awal sudah kacau pun terpatahkan begitu saja. Sudah dipastikan kalau derapan dan siluet yang barusan ia lihat bukanlah hantu. Jadi pertanyaannya, siapakah yang datang malam-malam begini untuk memasuki ruang rapat?

“Jiyeonie, apa kamu ada di dalam?” suara lembut itu menyapa telinganya bagaikan embusan angin musim semi. Raut tegangnya seketika berubah menjadi ekspresi girang sekaligus heran. Perlahan ia beranjak dari kursi yang telah ia duduki selama kurang lebih 18.000 detik.

“Jisoo-ya, apakah itu kamu?” Jiyeon sedikit melongokkan kepala untuk melihat seseorang yang barusan memasuki ruangan.

“Jiyeonie!” seru Jisoo dan bergegas menghampiri Jiyeon yang berdiri di belakang rak sepatu.

Secara tiba-tiba pria itu mendekap sang kekasih dengan sangat erat. Menelusuri aroma mawar di helai demi helai rambut gadisnya yang begitu cantik.

“Bukannya kamu sudah pulang? Kenapa ke sini?” tanya Jiyeon yang masih tak kuasa melepas dekapan erat Jisoo.

“Kupikir kamu menyuruhku pulang duluan karena kamu akan segera menyusul aku pulang. Aku menghubungimu sedari tadi tapi sama sekali enggak ada jawaban. Akhirnya aku pergi ke rumahmu untuk mengetahui kabar kekasihku. Tapi kata eomoni kamu masih belum pulang. Jadi aku langsung ke sini untuk mencarimu.” jelas pria jangkung itu dengan napas yang tersengal. Seulas senyum mengulum lembut di bibir Jiyeon tanpa ia ketahui.

Perlahan rengkuhan itu mulai mengendur dan membuat posisi mereka saling berhadapan sekarang.

“Kamu khawatir, ya?” goda Jiyeon.

“Tentu saja, kenapa juga kamu harus tanyakan hal itu?” Jisoo mencubit hidung Jiyeon dengan gemas saking kesalnya. Jiyeon pun hanya bisa tertawa karena diperlakukan begitu istimewa oleh pria bermarga Hong itu.

Otot mata Jiyeon tertarik manakala maniknya menangkap sebuah tas berukuran tanggung yang dibawa oleh Jisoo.

“Itu apa, yang ada di tanganmu?” tanya Jiyeon.

“Oh, ini… aku meminta ibumu membekalkan makanan dari rumah.”

“Tidak usah repot-repot, Jisoo.”

“Repot apanya, sih? Aku tahu sekali kalau kamu sedang sibuk mengerjakan sesuatu, kamu akan mati-matian konsentrasi dan tak menghiraukan hal lain.”

“Tapi serius aku baik-baik saja, Jisoo…”

“Kamu belum makan, ‘kan?” sambar Jisoo yang dibalas dengan gelengan ragu-ragu oleh Jiyeon.

Tuh, kan!” Jisoo berseru tertahan.

“Tak apa, aku bisa segera selesaikan proposalnya kemudian pulang dan memakan bekal itu, oke?” Jiyeon coba menenangkan Jisoo yang kelewat panik.

“Pokoknya harus makan sekarang!” desak Jisoo.

“Enggak bisa, chagi… aku sibuk banget.” Jiyeon bersikeras menyangkal.

Tanpa tedeng aling-aling Jisoo langsung mencengkram pundak si gadis dan mendorongnya ke meja kerjanya. Dengan paksa Jisoo mendudukkan Jiyeon, ia pun kemudian menarik kursi agar bisa duduk di sebelahnya.

“Kamu lanjutkan saja pekerjaannya, sementara itu aku akan menyuapimu.” ucap Jisoo sembari membuka kotak makan dan menata beberapa lauk yang diletakkan di tempat terpisah.

“Jisoo-ya…” Jiyeon memanggil nama kekasihnya dengan nada manja disertai wajah imut yang dibuat-buat.

CUP!

Secara tiba-tiba bibir Jiyeon menyapu pipi tirus Jisoo dengan lembut. Manik obsidian si pria sontak melebar menahan keterkejutan. Wajahnya bersemu merah seperti tomat, tak kuasa menahan semburat kegembiraan.

“Terima kasih, ya…” Jiyeon berujar sambil tersenyum hingga pipinya membulat dan matanya membentuk bulan sabit. Membuat Jisoo makin tak mampu memungkiri pesona seorang Kim Ji Yeon.

Si gadis terus mengetik, sedangkan si pria yang ada di sebelahnya dengan telaten menyuapkan sesendok demi sesendok nasi beserta lauk ke mulutnya.

“Kalau menelan pelan-pelan saja… nanti kamu tersedak.” Jisoo begitu gemas melihat cara makan Jiyeon yang belepotan. Tak jarang pula tangannya menggeladik untuk membersihkan bekas-bekas saus yang mengotori area bibir Jiyeon.

Jisoo lantas membuka tutup botol minuman setelah nasi di kotak bekalnya habis dan menyodorkannya pada Jiyeon.

“Maaf, ya, aku manja, hehehe…” kata Jiyeon setelah ia selesai meneguk beberapa mililiter air dan mengembalikan botol itu kepada Jisoo.

“Aku lebih suka kamu yang begini.”

“Maksud kamu?”

“Meskipun kamu tidak akan menurut kalau tidak dipaksa, tapi aku senang bisa jadi orang yang berguna buatmu.”

“Kamu pasti kesulitan menghadapiku, ya?” Jiyeon bersenggut.

“Tidak, kok…” Jisoo tersenyum sambil memainkan pipi bulat milik gadis di hadapannya itu.

Suasana menjadi bungkam saat Jiyeon kembali berkutat mengerjakan aktivitasnya meng-input data sejumlah dana yang akan digunakan untuk akomodasi pensi ke Microsoft Excel, sedangkan Jisoo membereskan kotak makan dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Ia pun mengambil jaket motif panda kesayangan Jiyeon dan menyampirkannya ke tubuh si pemilik jaket.

“Pasti kamu kedinginan, ‘kan?” celetuk Jisoo seraya membelai lembut rambut Jiyeon.

“Terima kasih, tapi…” ujaran Jiyeon terputus.

Eum?” Jisoo memiringkan kepala dan mengernyitkan kening.

“Aku mau sesuatu yang lebih hangat.”

“Contohnya?”

“Jangan berpura-pura bodoh, Jisoo.”

Si pria hanya balas menyeringai. Dengan malu-malu ia melingkarkan tangannya di pundak Jiyeon dan menumpukan dagunya di sana. Jisoo sangat menyukai saat-saat di mana ia bisa memeluk Jiyeon seperti ini. Karena Jisoo bisa menciumi aroma Jiyeon sebanyak yang ia mau.

“Semangat, chagi-ya…” bisiknya lembut tepat di telinga Jiyeon.

Saranghae…” Jisoo kembali berbisik, namun ia mulai berani bertindak nakal dengan menggigiti telinga gadis yang tengah ia rengkuh. Jiyeon pun tak kuasa menahan tawa menghadapi tingkah aneh Jisoo.

“Apa kamu mengantuk?” tanya Jiyeon karena sudah beberapa menit Jisoo hanya diam saja. “Seharusnya aku yang tanya, memangnya kamu enggak lelah sedari tadi menatap monitor tanpa henti? Jagalah kesehatan matamu.” balas Jisoo.

“Aku sudah selesai, kok…” ucap Jiyeon sembari memutar kepalanya ke arah Jisoo. Namun sesaat setelah mata mereka bertemu, keduanya pun seakan terkunci dalam sebuah tatapan yang begitu dalam dan sulit untuk dialihkan. Pupil Jiyeon melebar, begitu pula dengan Jisoo. Wajah mereka sangat dekat hingga mereka bisa sama-sama bisa merasakan deruan napas berembus di pipi.

Jarak itu semakin sempit tanpa mereka sadari hingga akhirnya Jisoo menutup matanya terlebih dahulu dan melakukan sebuah tindakan agresif. Celah bibirnya meraup bibir mungil Jiyeon dan menyapunya dengan ciuman yang bergairah. Si gadis secara refleks juga ikut menutup mata dan membulatkan bibir. Tangan Jisoo yang awalnya berada di pundak pun kini berganti posisi untuk menyentuh tengkuk dan satunya lagi mendekap erat pinggang.

Perlahan bibir Jiyeon mengendur karena ia telah kehilangan pasokan oksigen dalam paru-parunya.

“Jisoo-ya…” ucapnya lirih.

Ne?” balas si empunya nama tak kalah lirih.

“Kamu terlalu kasar.”

“Aku bisa membuatnya jadi lebih lembut.”

“Kalau begitu lakukanlah.”

Jisoo mengangkat tubuh Jiyeon yang terduduk di kursi ke dalam pangkuannya. Tangannya kembali menggeladik untuk mengelus pipi Jiyeon, kemudian memiringkan kepala, seakan meminta izin atas hal yang ingin dilakukannya. Gadis yang ia pangku pun refleks menjadikan pundak Jisoo sebagai tempatnya berpegangan agar tak terjatuh. Entah siapa yang memulai, kini mereka telah bertaut dalam ciuman yang lembut dan manis sekaligus liar dan panas dalam waktu yang bersamaan. Jisoo melumat bibir bagian atas dan bawah Jiyeon secara bergantian. Sesuai dengan keinginan sang kekasih, Jisoo melakukannya dengan pelan dan teramat hati-hati. Ia menggigiti bibir Jiyeon dengan ringan, mencari celah bagi lidahnya untuk masuk hingga gadis itu membuka sedikit mulutnya dan membiarkan pria itu menjelajah lebih jauh. Jisoo membuat sebuah kesalahan hingga gigi mereka saling berbenturan. Dapat ia dengar desahan Jiyeon yang kesakitan.

Namun tahu bahwa jika ia tidak menghentikannya sekarang, ia tidak akan lagi bisa menghentikan ciuman tersebut dan kemungkinan besar melakukan tindakan tidak bermoral saat ini juga. Jadi dengan penuh kendali pria itu mendorong wajah Jiyeon, memberikan jarak beberapa inci di antara bibir mereka.

“Aku sayang kamu, Jiyeon…”

“Betapa beruntungnya aku bisa dikasihi oleh pria seperti kamu, Jisoo…”

– end.

Kusudah ingatkan kalian kalau ini PG-17 jadi maafkeun daku apabila fan fiction ini terlalu dewasa. Makasih untuk kalian semua yang sudah bersedia membaca kisah laknat ini. Sampai jumpa di fan fiction selanjutnya dan…, review boleh, kakak? ^^

Advertisements

10 thoughts on “[Vignette] A Perfect Boyfriend

  1. JoshKei please ingat itu sekolah :v
    Ini duo innocent bisa juga berbuat begituan di sekolah, malam pula.. wkwkw entar dipergok sama satpam gimana.. lebih parah lagi kalau dilihat penunggu di sana haha

    Like

  2. HEH HEH JISOO JIYEON NAK INGET MASIH SEKOLAH YA ALLAH NYEBUT DONG KALIAN
    huhuhuhu padahal di awal2 udah sweet sweet cute gitu yah aih siapa sih yang gamau dibawain makanan sama pacar pas lagi capek2 ngerjain proposal :”) apalagi pacarnya semacam hong jisoo huvt mau ngayal babu doeloe
    terus pas scroll scroll eh eh eh masuk scene pg-17 HAHA AQ MASIH POLOS JUSEYOOO

    btw kim jiyeon i feel u, tau kok gimana rasanya ngejar deadline proposal acara sekolah TTvTT #DeritaOSIS #Sabar #Kuat #TetapTersenyum

    Oke maafin komenku yang gaje ini yha sist, keep writing ❤

    Xx,
    Aisya – 00line

    Like

    • aku juga maooo punya pacar kaya hongjosh
      Lah ya maaf apabila ff ini mengandung unsur kilaf antara kei dan jisoo tpi sebenarnya authornya lebih khilaf /dorr
      Oh jdi kamu osis? Semoga pacar ganteng segera mendatangimu pas lagi dikejar deadline ya /ehh
      Hai Aisya, salam kenal… lely 99line di sini 🙂

      Like

  3. Aihara

    Jiyeon lagi ngerjain proposal…
    Jisoo datang bawa makanan, disuapin, uluh manisnya
    eh…
    Kalian._. Itu di sekolah O.O udah malam pula:’) wkwk
    tapi bagian itu aku ga sepenuhnya baca :v
    untung sekhilaf-khilafnya mereka, Josh-nya masih inget ya ampun haha XD

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s