See

maxresdefault4

Lovelyz Series #1

‘See’
Jeon Jungkook BTS | Jeong Ye In Lovelyz

Romance, Sad

Claralaluchaipark aka TianiEXO

“Lihat, lihat aku! Kenapa kau terus menatap dari jendela?!”

See

 

^^^^^^^^^^^^

Namanya Jeong Ye In, seorang gadis yang seumuran denganku.

Aku selalu dapat melihatnya saat aku melewati rumahnya.

Dia berpakaian putih dengan rok berwarna merah muda, rambut coklatnya tergerai sampai bahunya. Ditangannya selalu menggenggam tali balon yang berwarna merah.

Dan yang khusus darinya, Ia terus berdiri menatap dari jendela kamarnya, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Kain gorden berwarna putih dan bercorak bunga transparan mengahalangi wajahnya.

Meskipun tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, aku tahu, tatapannya kosong.

 

^^^^^^^^^^^^^^^

Karena penasaran dengan gadis bernama Jeong Ye In itu, aku berkunjung di rumahnya saat liburan musim panas.

Ibunya menyambutku dengan bahagia, Ia memberiku beberapa makanan ringan dan akhirnya aku juga makan siang di rumahnya, sementara itu Jeong Ye In, gadis itu tidak ikut makan bersama kami. Dia masih setia berada di dalam kamarnya.

Setelah makan siang bersama ibunya, aku memberanikan diri untuk bertanya tentang gadis itu. Gadis yang tidak pernah lelah pagi,siang,malam, Ia selalu berdiri menatap ke luar dari balik jendela.

“Kau mau tahu tentang Ye In?” ibunya tersenyum seketika ketika aku bertanya tentang Ye In.

“Jarang sekali, ada yang peduli dengan Ye In. orang-orang menganggapnya gila. Tapi sebenarnya dia hanya trauma”perkataan ibu Ye In membuatku semakin penasaran.

“Trauma apa, Bi?”

“Kakak lelakinya, pernah jatuh dari jendela kamarnya. Saat itu kakaknya memberikan hadiah berupa balon kepada Ye In karena Ye In berhasil lulus dari sekolah menengah pertamanya waktu itu. Sejak saat itu, Ye In selalu berdiri memegang balon peninggalan kakaknya. Ia terus menanti” jelas ibu Ye In, aku terhenyak seketika.

Entah kenapa dari dalam hatiku, menyuruhku agar membantu gadis itu terlepas dari traumanya.

“Bibi, apakah aku boleh menjadi teman Ye In?” ucapku kepada ibunya, langsung saja ibunya menatapku terkejut kemudian tersenyum.

“Kau sungguh baik, nak Jungkook. Wajahmu memang sangat mirip dengan wajah kakaknya Ye In” aku terserentak, wajahku mirip dengan kakak gadis itu.

“Mari, Bibi antar ke kamarnya Yein. Ia pasti senang, ada yang mau berteman dengannya” Bibi berdiri dari kursinya diikuti olehku, kami melangkah ke lantai dua menuju kamar gadis itu.

“Ye In, ibu masuk ya” ucap ibunya sambil mengetuk pintu kamar. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam, langsung saja ibunya membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu. Saat ibunya masuk, aku juga mengikutinya masuk.

Dapat aku lihat dengan jelas, gadis itu, gadis yang selalu kulihat dari balik jendela. Belakang tubuhnya berada tepat dengan jelas dihadapanku. Ia memegang tali balon berwarna merah itu, masih tetap menatap ke luar jendela.

“Ye In, ada yang mau menajdi temanmu” ucapan ibunya membuat gadis itu, Jeong Ye In membalikan badannya.

Aku terkesima ketika melihat gadis ini, Jeong Ye In. Wajahnya, wajahnya yang selama ini selalu ingin kulihat membuatku terpesona. Pipinya yang merona, rambutnya yang ditiup pelan oleh angin.

Dia mengangkat wajahnya menatapku, matanya membulat seketika. Mungkin, Ia kaget melihatku. Apakah wajahku memang benar-benar mirip dengan kakaknya?

“Ibu, siapa dia?” Tanya Ye In kepada ibunya sambil masih terus menatapku.

“Aku Jeon Jungkook, senang bertemu denganmu. Aku ingin menajdi temanmu” Aku tersenyum kepadanya.

“Terima kasih sudah mau menjadi temanku, Jungkook-ssi” suara merdu miliknya itu, menggetarkan jantungku. Dia tersenyum sambil melangkah mendekatiku.

“Kau ingin menajdi temanku? Marilah kita bercerita dan bermain” ajak Ye In kepadaku. Tanpa diketahui olehku, ibunya telah pergi meninggalkan kami berdua di kamar ini.

“Aku akan bercerita tentang kehidupanku di sekolah kepadamu, kalau perlu, aku ingin mengajarimu beberapa mata pelajaran anak SMA pada umumnya” Dia tersenyum mengangguk menerima tawaranku.

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Hari-hari terus berlalu, aku terus pergi ke rumahnya, setiap hari, meskipun liburan ataupun masuk sekolah. Aku selalu ingin bertemu dengannya, aku terus meluangkan waktuku.

Tapi, yang tidak dapat aku pungkiri adalah, dia masih tidak bisa menghilangkan traumanya. Dapat kulihat selalu, saat aku pulang dari rumahnya. Ia kembali lagi seperti biasa, berdiri menatap ke jendela sambil mengenggam tali balon merahnya itu.

Aku merasa tidak berguna, menjadi temannya. Aku harus bisa menghilangkan traumanya. Aku harus bisa mengembalikan keceriaannya.

“Ye In” panggilku kepadanya yang tengah merajut sebuah baju, Ia menghentikan aktivitasnya. Kemudian beralih menatapku, “Ada apa, Jungkook-ssi?”

“Apakah kau tidak bisa menghilangkan trauma-mu?” tanyaku pelan kepadanya, raut wajahnya berubah seketika.

“Tidak bisa, aku terlalu tidak bisa untuk melupakannya” Ia menggelengkan kepalanya kuat.

“Kenapa? Kenapa? Seharusnya kau bisa menghilangkan trauma-mu, banyak orang yang lebih parah darimu dan mereka bisa menghilangkan traumanya. Kenapa kau tidak bisa?” tanyaku lagi, bukannya aku ingin memaksanya, tapi aku tidak bisa seperti ini terus. Aku ingin dia-dia, berhenti bersedih.

“Aku tidak sekuat mereka, aku sangat lemah” air mata mulai menetes dari matanya,

“Kau pasti bisa, kau itu kuat. Ada aku dan ibumu yang akan membantumu” aku memegang kedua pipinya.

“Aku minta maaf, tapi aku memang tidak bisa”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Aku kembali melihat Ye In sedang berdiri menatap dari jendela, dan lagi, Ia memegang balon tersebut. Aku mengepalkan tanganku sekuat-kuatnya.

Aku segera berlari menuju rumahnya, tanpa lagi mengucapkan salam seperti biasanya, aku langsung masuk saja dan menuju ke kamarnya. Dapat aku lihat, Ye In masih menatap ke luar jendela, segera saja aku membalikkan badannya dengan paksa.

“Kenapa?!” aku mengguncangkan bahunya, Ia hanya bisa menatapku kosong.

“Jungkook-ssi” aku menggeram, kemudian segera saja aku menuju ke jendela kamarnya, membukanya dan mencabut gordennya dengan paksa. Ia tampak terkejut dengan apa yang kulakukan.

“Jungkook-ssi, kau kenapa?” Ia melihatku penuh tanda Tanya, matanya meneteskan air mata.

“Lihat, lihat aku! Kenapa kau terus menatap dari jendela?!” marahku kepadanya.

“Aku tidak bisa berhenti untuk tidak menatap dari balik jendela, aku tidak bisa melupakan begitu saja, aku yang telah membuat kakakku meninggal. Aku tidak bisa melupakannya begitu saja, aku, aku, aku, aku ingin menebus kesalahanku” Ye In menangis terseduh, aku menatapnya sendu, dan tanpa sadar air mata juga mengalir dari mataku.

“Aku sepertinya tidak bisa menghilangkan trauma milikmu” aku tersenyum miris menatapnay yang tengah menangis.

“Apakah, kau bisa menghilangkan trauma-mu, jika aku pergi?” tanyaku kepadanya, Ia hanya mematung tanpa menjawab apa-apa. Tanpa ku ketahui, aku kehilangan keseimbangan, aku terjatuh dari jendela kamarnya.

Aku merasakan tubuhku yang terhempas ke tanah, rasa sakit menjulur seketiak ditubuhku. Terutama di kepala-ku.

Aku menengadah ke atas, mencoba melihat Ye In dari jendela kamarnya.

Ye In menatapku kaget, air mata tidak hentinya keluar dari matanya. Aku dapat melihat, tali balon merah yang selalu Ia pegang, terlepas dari tangannya.

“Aku sangat menyayangimu, Jungkook-ssi, jangan pergi” ucapnya keras sambil menagis dan menatapku dari atas sana, setelah mendengar apa yang Ia ucapkan, aku menutup mataku.
^^^^^^^^^^^^^^

 

“Jungkook, kau tidak apa-apa?” aku membuka mataku perlahan ketika mendengar suara seseorang ayng kukenal, tampak kakakku Jimin dengan sepupuku Jin melihatku dengan khawatir.

“Dimana Ye In?” tanyaku sambil bangun dari tempat tidur, dapat kutahu, kepalaku telah diperban, dan aku memakai pakaian rumah sakit.

“Jangan bangun dulu, dari tempat tidurmu. Kau baru saja jatuh dari lantai 2 tahu!” kesal kakakku Jimin.

“Dimana Ye In!” tanyaku jengkel kepada kakakku dan sepupuku yang menatapku bingung.

“Siapa itu Ye In?” mereka berdua menatapku dengan tanda Tanya, aku kaget. Padahal Ye In adalah tetangga kami.

“Ye In!, tetangga di rumah sebelah kita itu!” ucapku tidak sabar, emosiku semakin naik, kedua saudaraku ini menatapku dengan pebuh kebingungan.

“Kalian tidak mengenal Ye In?!!!!!” bentakku kepada mereka berdua yang sangat kaget dengan sikapku ini.

Sungguh, aku sangat ingin bertemu Ye In. Gadis itu, aku ingin sekali bertemu dengannya.

“Jungkook, jangan membentak kakak dan sepupu-mu!” ibuku memasuki ruangan ini.

“Ibu, ibu tahu dimana Ye In?” tanyaku kepada ibuku, reaksinya sama seperti kedua saudaraku ini.

“Ye In! tetangga kita, aku selalu berkunjung ke rumahnya. Aku selalu menceritakannya kepada ibu!” tanyaku marah kepada ibuku, kenapa semuanya tidak mengetahui Ye In? Padahal aku selalu menceritakannya kepada ibu dan saudara-ku.

 

“Kami tidak mengenal siapa itu Ye In”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Aku tertegun ketika melihat sebuah rumah berwarna merah muda pucat, rumah ini, rumah Ye In. tapi, kenapa rumahnya terlihat sepi dan tidak terawat?

Aku segera saja berlari masuk dalam rumah Ye In, tanpa memedulikan panggilan saudaraku yang mengantarku sampai ke sini.

“Ye In!” panggilku sambil memasuki kamarnya.

Kosong, tidak ada siapapun di dalam kamar ini.

Aku meneriaki nama Ye In berulang kali, namun nihil. Tidak ada sahutan sedikitpun, aku jatuh leams sambil menangis.

“Ye In dimana kau?” tiba-tiba sebuah balon berwarna merah jatuh di atas kepalaku. Aku segera mengambil balon tersebut, di balon itu bertuliskan,

“Aku sangat menyayangimu Jungkook-ssi, ku mohon jangan pergi. Aku berjanji akan menghilangkan trauma-ku”

Aku hanya bisa menangis, menatap sendu tulisan di balon tersebut.

“Jungkook, mari kita pulang” kakakku Jimin menepuk pundak-ku. Aku berdiri dan menghapus air mataku.
Namun, seketika, kepalaku seperti di terpa oleh sebuah angin yang sangat keras membuat aku pusing hingga hampir terjatuh jika saja, sepupuku Jin tidak menahanku.

 

“Kenapa aku bisa ada disini?”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Baca Juga:

Red Velvet Series #1: Waiting

Red Velvet Songfic: Automatic

 

Hahahhahahhha ^_^ selesai dah Lovelyz series #1, meskipun ceritanya menggantung, tapi tenang saja aka nada prolognya, yeah!

Jika komentarnya sudah sepuluh, aku janji, langsung diposting deh Prolognya ^_^

Terima kasih sudah mau membaca,

Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan,

 

Dan

Jangan lupa tinggalkan komentarnya!

Advertisements

12 thoughts on “See

  1. Whoaaaa…. open ending selalu bikin aku kzl sebenernya :”)
    Tapi ini sedih kzl kzl /gak suka yg sedih/ heuheu

    Jadi sebenernya ini gmn? T.T Wai wai? /komen ini isinya 100% azel yg bertanya2 kebenaran dari isi cerita ini/

    Hua fix ngebuat aku penasaran banget :”)

    Like

  2. Itu kenapa ga ada yang kenal Yein?
    Kenapa rumahnya jadi rumah kosong?
    Tapi kenapa Jungkook beneran jatuh dari lantai dua?
    Itu kenapaaa?-_-
    Lah, ini jadi ‘kenapa’nya banyak amat ya.-.
    Ya udah, kutunggu lah prolog/epilognya~

    Like

  3. KENAPA? KENAPA? KENAPA? harusnya mereka berakhir bahagia—tapi kenapa? /maksa/
    kenapa kuki jatuh dari lantai dua? kenapa yein ngelihatin dari jendela? kenapa gak ada yang kenal yein? kenapa kuki—/udahstop/ :””””)

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s