Alive [Chapter 1: Strangers]

Alive

Real story and poster by AurumGangster
Translated by Dreaming Girl

ALIVE

Leght Chaptered – Rating Teen – Summary Kesempatan kedua, kehidupan kedua. Percaya atau tidak, semua itu ada – Disclaimer Real story is written by my friend AurumGangster. I’m just translate it into Indonesia with a bit change.

Starring LOVELYZ’s Yein || BTS’s Jungkook || THE ARK’S Minju

Romance – School life – Fantasy – Sad – (A little bit) Horror – Angst – AU

“Second chance is there for everyone who needs it…”

Previous Story : TeaserTeaser #1 Teaser #2 Teaser #3 –

“Sesuatu membuatmu merasa tak nyaman?”

Pria itu mendongak ketika mendengar suara si gadis. Ia tersenyum palsu dan menggelengkan kepala. “Tidak.”

Si gadis mengangguk, meminum jusnya. Lalu ia menatap pria itu lagi. Dia tersenyum lagi. Sebenarnya, ia tak bisa berhenti tersenyum. Pria itulah alasannya. Ia bahkan tak tahu mengapa.

“Jadi,” ujar si pria. “Beritahu aku, apa kau mengingat sesuatu dari masa lalumu?”

“Apa?”

“Maksudku… sebelum kau koma.”

Gadis itu terdiam. Ia memutar matanya pelan. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Si pria menunggunya dengan sabar. Sampai gadis itu akhirnya menatap pria itu lagi dan mengangguk.

“Ya, aku ingat sesuatu.”

Pria itu tersenyum. “Sungguh? Kalau begitu, beritahu aku.”

“Tapi ini aneh,” ujar si gadis, memiringkan kepalanya.

“Semua pasienku aneh,” pria itu berujar, tersenyum lagi.

“Apa kau akan… mempercayainya?”

Senyum pria itu menghilang. Ia menatap gadis di hadapannya. Gadis yang rumit. Pasien paling rumit yang pernah ia tangani. Tapi jika ini tentang pekerjaannya, ia tak bisa menghindar. Jadi ia memutuskan untuk mengangguk.

“Aku akan mempercayainya.”

Gadis itu menyeringai. Dia menghela nafas dan terdiam sebentar. Memikirkan kata-kata pria itu. Dia akan mempercayainya. Oh, tidak. Dia sama sekali tak mempercayai pria itu. Dan ia yakin bahwa pria itu juga.

“Sebenarnya aku mengingat semuanya,” ujar gadis itu, menyeringai lagi. “Aku benci mengatakan ini, tapi, yah, aku akan memberitahumu.”

Pria itu terlihat antusias. Membuat si gadis tersenyum dan menyeringai. Dalam hati, ia tertawa.

“Bersiap-siaplah.”

Busan, 7 Januari 2005

Melihat orang asing di depan rumahmu sudah cukup aneh, tapi melihat orang asing berbicara kepada bunga-bunga membuat sang pemilik rumah mengangkat alis. Ini aneh sekali.

“Hei!”

Orang asing itu mendongak, menatap sang pemilik rumah. Keningnya berkerut ketika ia melihat si pemilik rumah berjalan ke arahnya dengan tergesa-gesa. Ketika si pemilik rumah sampai, ia menatap tepat di matanya. Matanya melebar, dan ia berdiri.

Jeoseonghamnida,” orang asing itu membungkuk.

Si pemilik rumah mengerutkan kening. “Siapa kau? Kenapa kau di sini? Dan kenapa kau bicara dengan bunga ibuku?”

Orang asing itu mendongak, menatap si pemilik rumah. Ia suka memandangi orang yang berdiri di hadapannya, terutama matanya. Mata hitam permata yang indah. Dia tersenyum lebar.

“Kau punya mata yang indah!”

Si pemilik rumah mengerutkan kening lagi, lalu mengangkat alis. Dia merasa bingung. Orang asing yang bicara dengan bunga ibunya adalah gadis yang aneh, gadis yang sangat aneh. Ia menatap rambut coklat gadis itu, sepertinya gadis itu tak menyisirnya dengan rapi. Rambut coklat itu tergerai begitu saja, berantakan.

“Kau punya mata yang indah!” si gadis berteriak lagi.

Yeah, dan kau memiliki rambut yang sangat bertankan,” ujar anak laki-laki itu.

Tapi sepertinya gadis itu sama sekali tak tersinggung, senyumnya masih lebar sekali. “Siapa namamu, anak muda?”

“Jangan bicara padaku seperti itu!” ujar si anak laki-laki. “Kau juga masih muda! Aku bertaruh kau masih tujuh tahun!”

Si gadis tertawa. “Aku tahu. Aku lebih muda dariku. Jadi, beritahu aku, siapa namamu?”

Anak itu terlihat ragu, tapi ia tetap menjawab pertanyaan si gadis. “Namaku Jeon Jungkook.”

“Jeong Yein,” ujar gadis itu, mengulurkan tangannya. Ia ingin bersalam dengan anak itu, tapi Jeon Jungkook terlihat ragu. Jadi, gadis bernama Jeong Yein itu meraih lengan Jungkook. Membuatnya menyentuh lengannya dan mereka bersalaman. “Senang bertemu denganmu, Jungkook-ssi.”

Jungkook mengangguk. Ketika mereka selesai bersalaman, Yein tersenyum lagi. Dia menolehkan kepalanya dan menatap bunga-bunga milik ibu Jungkook.

“Ibumu membuat bunga itu tumbuh dengan baik!” ujar Yein, tersenyum.

“Yah, sebenarnya pupuk dan airlah yang membuatnya tumbuh dengan baik,” ujar Jungkook, meletakan kedua tangannya di depan dadanya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Berkunjung,” jawab Yein. “Aku dan keluargaku mengunjungi Busan liburan ini, kami tinggal tak jauh dari sini. Aku tak tahu harus apa, jadi aku memutuskan untuk mengunjungi beberapa rumah tetangga, dan aku menemukan rumahmu.”

Jungkook mengangguk pelan. “Jadi, apa kau selesai, Jeong Yein-ssi?”

“Hm… belum,” Yein menggelekan kepalanya. “Ada banyak sekali bunga yang indah di sini, aku harus bicara dengan mereka!”

“Bicara?”

“Ya, bicara,” Yein mengangguk. “Tidakkah kau dengar mereka bicara? Mereka bicara satu sama lain! Itu keren, kan?”

Jungkook mengangkat alis bingung. “Tak juga.”

“Kenapa?” giliran Yein yang mengangkat alis.

“Bunga tak bisa bicara. Tidakkah kau mempelajarinya di sekolah? Tunggu, kau sudah bersekolah, kan?” tanya Jungkook.

Yein mengangguk. “Kelas satu di sekolah dasar!”

“Yah, aku kelas dua,” ujar Jungkook. “Jadi, sekarang, kau harus pergi. Orangtuamu pasti mencarimu. Dan kau sangat aneh, aku tak suka kau!”

“Kau tak menyukaiku?” tanya Yein, terlihat kecewa. Tapi sedetik setelahnya, ia tersenyum lagi. “Baiklah, terima kasih atas waktu dan bunganya. Sampai bertemu lagi, Jungkook-ssi!”

Yein melambaikan tangannya, tapi Jungkook tak membalas lambaian tangannya. Ia menghela nafas kasar dan berbalik, masuk ke dalam rumahnya.

Busan, 10 Januari 2005

“Jungkook-ssi! Jungkook-ssi!”

Jungkook menoleh. Mencoba untuk menemukan seseorang yang sedang mencarinya. Tiba-tiba, ia menghela nafas kasar ketika menemukan orang yang mencarinya.

Jeong Yein.

Jungkook memalingkan muka, tapi gadis itu sangat cepat. Ia meraih bahu Jungkook dan membalik tubuhnya. Ia tersenyum lebar, sementara Jungkook hanya menatapnya dengan tatapan datar.

Anyeong, Jungkook-ssi!” ujar Yein.

Jungkook tak mengatakan apapun. Ia memaling wajah lagi, tapi Yein meraih dagunya dan menariknya. Membuatnya menatap tepat di matanya.

“Aku akan kembali ke Incheon hari ini. Kami pergi ke mall untuk membeli suveni!” ujar Yein, tersenyum.

Jungkook menyilangkan tangannya di dada, membuang muka. Demi Tuhan, gadis ini adalah yang terburuk! Ia sepertinya selalu ingin mengganggunya.

“Lalu?”

“Tidakkah kau ingin mengucapkan selamat tinggal?”

Jungkook menoleh, menatap Yein. Ia menghela nafas.

“Baiklah, selamat tinggal, Yein-ssi. Semoga harimu menyenangkan dan berhati-hatilah,” ujar Jungkook, tak mencoba untuk tersenyum.

Yein tersenyum. “Terimakasih, Jungkook-ssi. Semoga kita bisa bertemu lain kali!”

Dalam hati, Jungkook menolak bertemu dengan gadis itu lagi. Gadis yang sangat menyebalkan, pikirnya. Dan ketika Yein melambaikan tangannya, memutar tubuhnya dan lari ke arah ibunya, Jungkook hanya menghela nafas. Ketika Yein akhirnya berdiri di samping ibunya, ia menatap Jungkook lagi. Melambaikan tangannya lagi. Dan Jungkook… yah, ia sebenarnya tak ingin melihat lambaian itu lagi.

“Jungkook-ssi!”

Jungkook menatap Yein dengan tatapan datar. “Apa?”

“Jangan lupakan aku, ya? Mari kita bertemu lagi lain kali!”

Jungkook membalikkan tubuhnya, berjalan ke arah ibunya. Jangan lupakan aku, dia tak pernah ingin mengingat gadis itu. Tapi ia berpikir bahwa Yein tak akan pernah bisa kabur dari pikirannya. Ia akan selalu ada di sana. Dan ia yakin akan itu.

Seoul, 9 April 2016

Seoul hari ini sangat ramai. Musim semi dan hari ini sebenarnya indah dan nyaman, sangat nyaman. Karena sudah malam, orang-orang akhirnya dapat pulang dari kantor dan sekolah. Jalanan penuh dengan mobil seperti biasa, trotoar penuh dengan orang-orang seperti biasa.

Seolah tak ada siapapun di dunia, seorang remaja laki-laki berusia 18 tahun berjalan sendirian di trotoar. Ia berjalan pelan, meskipun ia tahu ada banyak orang di belakangnya, menunggunya untuk berjalan cepat. Tapi pria itu terlihat sangat tenang, tak peduli akan apapun.

Dia sebenarnya tak pernah benar-benar peduli akan apapun. Ia hanya memperdulikan dirinya sendiri, egois. Terlalu egois. Tapi orang-orang tak pernah mengetahuinya. Ia menyimpat keegoisan itu jauh dalam dirinya, jadi orang-orang tak tahu. Dia memiliki wajah seperti malaikat, iris hitam permata yang indah, sikap yang sempurna. Tak ada yang tahu kebenaran di belakangnya.

Well, sikap yang sempurna itu hanya datang pada siang hari, tapi ketika malam tiba, ia sungguh berbeda.

Dia tak pernah tahu mengapa. Mungkin ia mengidap Bipolar, atau bahkan kepribadian ganda. Tapi ia sama sekali tak peduli. Di samping itu, ia mencoba untuk memperbaiki dirinya. Meskipun ia tahu bahwa ia tak akan berhasil.

“Aku pulang…,” ia berujar pada kekosongan.

Tak ada seorangpun di rumah itu. Hanya dia. Ia sesungguhnya tak pernah menyebut tempat itu rumah, terlalu buruk untuk sesuatu yang seharusnya menjadi tempat ternyaman di dunia. Rumah itu tak besar, kecil sebenarnya. Satu kamar, satu kamar mandi, satu dapur, satu ruang tamu, satu televisi, satu ranjang tak nyaman, tanpa sofa empuk, tanpa taman yang indah.

Adalah Jeon Jungkook, si pemilik rumah. Pria yang buruk tapi baik. Dia tinggal di tempat itu. Di pinggiran Kota Seoul. Tempat itu tak bisa disebut rumah, ia tahu. Tempat itu tak pernah membawa perasaan nyaman sedikitpun.

Jungkook tinggal di sana sejak 3 tahun lalu. Ia tak punya cukup uang untuk membeli rumah yang besar atau apartemen bagus, ia hanya bisa membeli rumah kecil dan tak nyaman itu. Tapi ia tak pernah mengeluh, setidaknya ia bisa tidur di bawah atap. Bukan di jalan.

Malam ini cukup hangat. Jungkook berjalan keluar rumah, bersandar di dinding gang. Ia meraih sepuntung rokok dan menyesapnya. Memejamkan matanya. Bukan gaya hidup yang baik, ia tahu itu.

Malam itu gang cukup sepi. Jungkook menikmati rokoknya sendirian. Biasanya, ia akan ada di sana dengan beberapa teman. Tak banyak. Dua atau tiga. Tapi ia sangat menikmati dirinya ketika sendiri.

Beberapa orang berjalan melewati gang. Kebanyakan dari mereka melirik ke arah Jungkook yang masih menyesap rokoknya. Tapi Jungkook hanya memutar bola matanya, tak begitu peduli akan hal itu. Orang-orang terus berjalan melewati gang. Dan Jungkook masih di sana, menikmati dirinya sendiri di bawah sinar bulan.

Di bawah sinar bulan bukan berarti ia benar-benar melihat cahaya bulan. Cahaya itu tak ada, bahkan bulannya sekalipun. Bulan sepertinya tak ingin menampakan dirinya. Ia ditolak oleh semuanya. Bahkan bulan dan matahari. Alam membencinya.

Seorang gadis berjalan melewati gang. Seperti kebanyakan orang yang lewat, Jungkook sempat meliriknya dengan penasaran. Rambut panjang coklatnya menutupi wajahnya, sehingga Jungkook tak dapat mengenalinya. Dia berjalan tergesa-gesa. Dan sesuatu jatuh dari sakunya. Sepertinya gadis itu tak menyadarinya. Dan Jungkook sama sekali tak memiliki niat untuk memberitahunya. Bahkan sampai gadis itu menghilang dari pandangannya.

Awalnya, Jungkook sama sekali tak tertarik. Tapi benda itu terlalu cerah. Terlalu indah. Ia mengangkat alis, meraih benda itu.

“Safir?”

TO BE CONTINUED

Hai! Ada yang inget aku?

First of all, maaf banget karena aku lama update FF ini. Author aslinya juga masih hiatus dan dia baru update hari ini. And well, it takes an hour to translate this chapter. Semoga kalian ngerti.

Btw, aku masih menunggu comment, nih. Hehehe… yah, semua author pasti mau FF-nya dikomenin banyak orang, kan? Tbh, aku suka banget ide FF ini dan aku ingin men-translate-nya kemari supaya lebih banyak orang tahu cerita ini. Karena cerita ini sebenarnya keren kok ^^. Jadi, kalau kalian bisa, tolong komen dan like-nya, ya. Hargai aku yang udah nerjemahin dan hargai juga AurumGangster yang udah bikin FF ini.

Oke, ditunggu like dan comment-nya. Hope you like it 🙂

Note from Aurum: I don’t have much time to writing this story. Cuz I have another story too. So, please be patient. And thx to Dreaming Girl for translated this fanfic!

Advertisements

22 thoughts on “Alive [Chapter 1: Strangers]

  1. hai Rei! stalkim di sini~

    sebenernya udah baca tadi pagi, tp baru sempat komentar, maafin aku/sungkem/

    sebelumnya makasih udah nge-translate-in ff sebagus ini. genre+ceritanya aku sukaaaaaaa (aku jd pengen kenalan sama temenmu tp udah lama gabuka wattpad:”’)))/malah curhat/) dan karakter kuki yg dingin-kaku-dan tipe-tipe badboy gitu:”’) juga yein kecil yg nyablak bgt :”’D

    berdoanya temen kamu bisa cepet update ff ini dan kamu dalam mood yg baik buat nge-translate+nge-post ini yaaaaa^^ aku mah apa atuh cuma bisa berdoa sama nyemangatin!!!!

    semangat Rei!!! ditunggu chapter 2 nya^^
    ❤ 100000000000000000000000000000x 😀

    oiya, kamu segaris sama aku kan ya? selamat bebas dari ujian nasional yaaaaa^^

    Like

    • Hai, hai! Thx udah baca dan udah menyukai cerita ini. Kalau mau kenalan sama author aslinya, kenalan aja, tapi authornya ya… sebelas dua belas sama aku a.k.a gajenya sama#apaansih

      Dan aku juga berdoa supaya Aurum cepet2 update ff ini karena aku sendiri juga gak sabar nunggu chapter duanya 😀 thx udah nyemangatin, btw. Hahaha…

      Makasih udah baca dan komen. Dan ngomong-ngomong, soal UN, tolong.jangan.diingetin -_-
      Makasih sekali lagi ^^

      Liked by 1 person

  2. Mistery, yah? Aku ngerasa agak bingung, hehe. tapi aku suka bgt kok sama karakter jungkook dan yein disini, alurnya juga keren banget. ditunggu lanjutannya, ya, thor!

    Like

  3. duh, kak, maaf banget baru bisa komen di chapter ini. tapi aku sukaaaaaaaaaaa banget sama alurnya, keren! jungkook bad boy-nya keliatan banget, tapi mukanya imut-imut. minju kapan keluarnya, kak? aku ngebiasin dia juga soalnya. yein juga, duh, imut banget.

    tapi aku bingung sama awal cerita itu, kak. itu si ceweknya itu yein, kan? soalnya kan, si cowok bilang “sebelum kau koma” ke ceweknya. terus, cowoknya siapa? jungkook-kah? atau cowok lain? kalau jungkook, kok aku ngerasa gak mungkin ya, hehehe..
    soalnya, masa sih, bad boy tiba2 jadi psikolog gitu xD

    yah, ditunggu aja deh lanjutannya. semoga kak aurumgangster cepet2 update deh, ya. kakak juga, semoga moodnya bagus buat nge-translate ini. hehe.

    duh, maaf banget jadi nyepam gini. mana komennya panjang bgt lagi -,- pokoknya keep writing deh, kak! titip salam buat kak aurumgangster juga, ya 🙂

    Like

    • Aku suka comment yang panjang-panjang xD

      Tapi emang iya, sih, Jungkook bad boy tapi mukanya imut-imut. Hmm… semacam serigala berbulu ayam/apaansih/ Minju kapan keluarnya? Aku juga gak tau, hehe. Aku juga ngebiasin Minju, btw/mintatos/tapi lebih ke Halla, sih 😀

      Kalau awal ceritanya, tbh, aku juga bingung. (Oke, ini Rei bingung dalam segala hal) yaaa… maklumlah, daku cuma nge-translate doang -,- aku juga berharap semoga Aurum cepet2 update. Soalnya gak sabar nunggu lanjutannya > <

      Makasih udah baca dan komen, ya ❤❤❤
      Selamat menunggu kelanjutannya!

      Like

  4. Waaaaaa… aku telat, ya kak? Duh, Kak Rei, kalau bawain ff pasti keren2 banget. Walaupun ff translate-an juga, hihihi..

    I really love Yein’s character here. Lucu banget, ya ampun. Daaann… aku setuju banget sama komen diatas/nunjuk atas/kalo awal ceritanya ngebingungin banget. And also, menurutku komen LOVELYZFORLOVE itu bener banget, Jungkook yang bad boy gak mungkin jadi psikolog/ditamparjeka/sorrykook/

    Semoga AurumGangster cepet-cepet update, deh. Ditunggu lanjutannya, keep writing!

    Like

    • Halo Manda, lama tak berjumpa. Duh, FF-ku mana kerennya. Kalau FF author yang ini, mah, emang keren xD

      Yein’s cute as always. Dan Jungkook emang gak cocok jadi psikolog -,-/ditamparjekajuga/
      Makasih udah baca dan komen, ya ❤❤❤
      Selamat menunggu kelanjutannya!

      Like

  5. Pas ngebayangin kalo diawal cerita itu interaksi Jungkook sama Yein, dia pasti kaget banget tau itu Yein/duh maafkan aku yang sok tau ini/ suka aja gitu ngeliat Jungkook pake jas putih dokter/padahal ga pernah liat/
    Karena semenjak liat teasernya aku udah suka, kutunggu aja chap selanjutnya dan Minju yang gak nongol-nongol😊
    KUSUKA BANGET, dah gitu aja

    Like

    • Hahaha… aku juga mikir gitu. Tapi btw, yakin itu Jungkook? Yakin?? Soalnya aku juga gak tau#plak#DigebukReaders

      Teaser-nya emang keren sekalee/lirik author asli/inget, Rei cuma nge-translate/ oke, abaikan kegaje-an itu. Dan aku sendiri juga lagi nyari-nyari Minju. Kira-kira kemana dia, ya? xD Btw, makasih udah baca dan komen 🙂

      Like

  6. omg omg.. udah ditunggu” thor akhirnya muncul deh.. si jungkook nakal ya tapi bikin penasaran.. si yein juga lucu gemes sama ceritanya wkwkwk.. oke banget deh

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s