Posted in Fluff, LFI FANFICTION, magnaegihyun, Oneshot, PG-13, Romance

[Oneshot] Some

Ye In dan Jung Kook adalah teman sepermainan tapi mereka, well sebut saja SOME

some

Title : Some | Author : magnaegihyun | Genre : Romance, Fluff | Length : 3.939 words | Rating : PG-13 | Main Cast : Jung Ye In, Jeon Jung Kook | Support Cast : Jung Chan Woo, Lee Halla, Kim Yoo Gyeom | Backsound : Some by SoYou & Junggigo ft. Lilboys of Geeks | Poster by Author

.

Disclaimer : This storyline is belong to magnaegihyun. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the cast? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC><

*

 

 

“Ye In-ah!”

 

Ye In menghela nafasnya sebal. Ia dapat mendengar namanya sedang dipanggil oleh lelaki tinggi berambut hitam itu. Shannon, teman satu sekelasnya tampak bergerak tidak nyaman. Ye In tahu Shannon tampaknya tak suka bahwa lelaki berambut hitam itu menghampiri mereka, namun Ye In sudah terlambat mencegahnya. Lelaki itu kini sedang berjalan ke arahnya dalam jarak kurang dari lima meter.

 

“Kita membicarakan presentasi ini besok saja lagi, Shannon-ah?” Ye In menenangkan Shannon dengan mengusulkan hal yang mungkin membuat ekspresi Shannon lebih nyaman.

 

Shannon memandang Ye In berterima kasih,”Ah, begitukah? Kalau begitu aku pergi dulu, Ye In-ah.”

 

Ye In memandang cara jalan Shannon yang tampak senang, ia tidak menemui lelaki brambut hitam yang kini sudah duduk di samping Ye In. Lelaki berambut hitam itu kini memeluk lengan Ye In manja membuat Ye In memasang raut benci-sebenci-bencinya. Namun tampaknya raut itu tidak mempan melawan tingkah manja lelaki itu.

 

“YA, gara-gara kau! Tugasku belum selesai,” Ye In meneriaki lelaki berambut hitam itu dengan omelannya.

 

“Memangnya aku salah apa? Itu kan bukan salahku kalau temanmu tadi pergi. Oh ya, dia siapa?”

 

Ye In memasang raut sebalnya,”Dia tidak nyaman karena kau, bodoh! Ah… Jangan-jangan kau pernah menolaknya ya? Dia itu Shannon, Jung Kook-ah!”

 

“Shannon? Ah—dia pasti malu padaku karena dipermalukan Yoo Gyeom di kafe kemarin,” jawab Jung Kook, si lelaki berambut hitam dengan santai.

 

“Dipermalukan? YA—apa yang kau lakukan pada temanku!”

 

Jung Kook menerima pukulan Ye In di lengannya tiba-tiba. Ya meski Jung Kook sudah biasa disiksa secara fisik oleh Ye In, tapi pukulan Ye In benar-benar jjang menurut Jung Kook. Bagaimana tidak, pukulannya memang tidak keras tapi rasanya membekas meski tidak terlihat. Jung Kook pun menghentikan pukulan Ye In dengan memegang pergelangan tangan Ye In.

 

“Pukulanmu itu sakit, Ye In-ah. Yoo Gyeom mempermalukannya karena ia menyatakan cinta pada Yoo Gyeom kemarin. Kau kan tahu bagaimana Yoo Gyeom?”

 

“Tapi tetap saja! Kau dan Yoo Gyeom harus minta maaf padanya. Ya mungkin setidaknya kaulah, Jung Kook-ah. Ia kan jadi nyaman jika ada kau disampingku.”

 

Jung Kook tersenyum mendengar ucapan Ye In,”Baiklah. Aku akan minta maaf nanti siang denganmu, Ye In-ah.”

 

Jung Kook menyandarkan kepalanya ke bahu Ye In manja. Ye In pun hanya cuek dan membiarkannya. Ye In pun sibuk memasukkan buku-bukunya yang berserakan di atas meja ke dalam tasnya.

 

“Aku mau ke perpustakaan. Kau mau ikut?”

 

“Oke. Tapi setelah itu kau ikut aku ke ruang kesenian ya?”

 

Ye In mendengus,”Dengan Yoo Gyeom lagi? Huh, ia sudah berbuat keterlaluan lagi dengan Shannon.”

 

“Ayolah, Ye In-ah! Aku tak mau pulang tanpamu!”

 

Ye In pun bangkit dari tempat duduknya diikuti Jung Kook. Keduanya kemudian keluar dari kelas itu dan berjalan ke perpustakaan. Jung Kook dengan wajah merajuk memeluk lengan Ye In. Ye In sebenarnya merasa tidak nyaman. Bukannya dengan skinship dari Jung Kook, Ye In tidak nyaman pandangan setiap orang yang melihatnya di koridor. Setiap orang itu selalu menganggap keduanya sepasang kekasih yang nyatanya salah besar. Ye In bahkan ingin menjawab dan meneriakkan kalimat ‘KAMI HANYA SAHABAT’ di depan muka orang yang membicarakan mereka. Ya meski ia tidak melakukannya karena ditahan Jung Kook.

 

*

 

Sometimes, I get annoyed

without even knowing, But my

feelings for you haven’t changed

Maybe I’m the weird one, I thought

As I struggled by myself

 

“Jadi, kau sudah menyatakan perasaanmu?”

 

Lelaki berambut cokelat kemerahan menanyai Jung Kook yang baru saja sampai di ruang kesenian dengan Ye In. Jung Kook memelototi lelaki itu. Jung Kook tampak ingin menyampaikan ‘kecilkan suaramu, bodoh!’. Namun lelaki itu tidak takut malah tertawa keras menertawai Jung Kook.

 

“Diam bodoh! Aku hanya mengajaknya kesini untuk menungguku pulang,” Jung Kook berkata dengan suara pelan.

 

YA, Kim Yoo Gyeom! Kau harus minta maaf pada Shannon!”

 

Jung Kook dan lelaki berambut cokelat kemerahan itu menoleh. Mereka dapat melihat Ye In sedang mendekat dengan wajah sebal, khususnya pada lelaki tadi. Jung Kook menahan tawanya dengan memulai stretching tanpa memedulikan Ye In dan lelaki yang dipanggil Yoo Gyeom tadi.

 

“Ha, Shannon? Memangnya apa salahku?” Yoo Gyeom bertanya polos pada Ye In.

 

“Kemarin kan kau mempermalukannya di kafe,” sahut Jung Kook tanpa memandang keduanya.

 

“Oh. Lalu mengapa kau menyuruhku minta maaf?”

 

YA! Kau dan Jung Kook harus minta maaf. Dia itu temanku, bodoh!”

 

“Memangnya kenapa kalau dia temanmu?”

 

Ye In semakin mendelik dan sewot menatap Yoo Gyeom. Tangan Ye In sudah hampir terangkat untuk memukuli Yoo Gyeom tapi Jung Kook menghentikannya. Jung Kook memegang pipi Ye In dan menatap mata Ye In.

 

“Sudahlah, Ye In­-ah. Yoo Gyeom memang seperti itu, jangan ditanggapi. Bagaimana kalau kau duduk di sana dan melanjutkan membaca buku untuk tugasmu?”

 

Jung Kook berkata perlahan dengan suara lembut. Beruntung, Ye In kemudian berjalan ke pojokan studio dan duduk di sana membaca buku mengikuti saran Jung Kook. Jung Kook tersenyum puas. Sejak dulu, hanya kata-katanyalah yang didengar Ye In. Begitupun bagi Jung Kook, hanya kata-kata Ye In yang ia dengar. Ia dan Ye In sama-sama keras kepala dan pemberontak, sehingga kedua orang tua mereka sering tak sanggup menasehati.

 

“Lihat kan. Kau dan dia benar-benar pasangan, Jung Kook-ah. Bahkan seluruh universitas mengira bahwa kalian berpacaran.”

 

Jung Kook menoleh menatap Yoo Gyeom yang membicarakannya. Ia lalu menepuk bahu Jongin dan memandangnya menyiratkan ‘sudahlah, ayo latihan’. Yoo Gyeom pun tak melanjutkan ucapannya dan ikut pemanasan dengan Jung Kook. Jung Kook diam. Ia sebenarnya benar-benar berharap pandangan semua orang itu benar. Tapi tidak, mereka hanyalah sahabat. Memang Jung Kook menyukai Ye In lebih dari seorang sahabat. Tapi entahlah apa Ye In juga begitu. Ia tak tahu dan takut mengetahui kenyataannya.

 

“Ah ya, Jung Kook. Kita akan menari berpasangan.”

 

“A—apa?”

 

“Yoo Gyeom-ah!”

 

Jung Kook menoleh ke arah pintu mendengar nama Yoo Gyeom dipanggil. Terlihat dua orang gadis memasuki studio itu dengan ceria. Yang pertama gadis berambut hitam yang sekarang memeluk Yoo Gyeom, namanya Baek Ye Rin. Jung Kook mengenalnya sebagai kekasih Yoo Gyeom. Di sebelahnya gadis brambut hitam yang dikuncir kuda yang hanya diam, namanya Lee Halla. Sahabat Ye Rin yang Jung Kook kenal sebagai teman satu klub tarinya.

 

“Kau berpasangan dengan Halla ya? Ah… Kau bisa membuat Ye In cemburu juga kan akhirnya?”

 

Jung Kook diam saja ketika Yoo Gyeom menggodanya. Ia tahu ia tidak pernah membuat Ye In cemburu sejak dulu. Tapi, bagaimana jika Ye In tidak cemburu dan malah tidak peduli. Jung Kook kan percuma saja melakukan itu. Jung Kook hanya diam tak memperhatikan ketika Halla dan Ye Rin mulai memulai pemanasan. Ia malah melirik Ye In yang malah tidak peduli dan terganggu pada kedatangan Ye Rin dan Ye In.

 

Tuh kan, batin Jung Kook.

 

“Permisi…”

 

Jung Kook menoleh menatap ke arah pintu. Seorang laki-laki berambut hitam dengan wajah manis berdiri di situ tampak ingin masuk. Jung Kook jelas mengenalnya. Ia adalah Jung Chan Woo, mahasiswa jurusan musik yang sangat terkenal di kampus itu. Bahkan ia adalah sahabat Yoo Gyeom dari SMP, mungkin hubungannya dengan Yoo Gyeom sama dengan hubungan Ye In dan Jung Kook.

 

“Chan Woo, ada apa?” Yoo Gyeom menyapa dengan ramah.

 

“Apa Jung Ye In disini?”

 

Jung Kook yang awalnya tidak tertarik langsung menoleh. Apa? Chan Woo mencari Ye In. Apa-apaan sih? Jung Kook melihat Ye In yang kini mendongak dan tersenyum menyapa Chan Woo. Jung Kook kesal dalam hati. Mengapa Ye In terlalu ramah sih pada semua orang? Ya, kecuali Yoo Gyeom sih yang memang sangat menyebalkan.

 

“Jung Kook-ah, aku ke ruang guru sebentar ya dengan Chan Woo. Tapi kalau kau ingin pulang duluan, ya silakan.”

 

Ye In pamit pada Jung Kook dengan senyum manis yang selalu disukai Jung Kook itu. Namun Jung Kook segera menghapus perasaan bahagianya mendengar nama Chan Woo disebut. Ia mengacak rambutnya kesal. Huh, seandainya saja Ye In bukan hanya sahabatnya tapi lebih dari sahabat, pasti Jung Kook menyuruh Ye In menjauhi Chan Woo dengan alasan cemburu. Tapi, Jung Kook jelas tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Apa mungkin besok Jung Kook meracuni makan siang Chan Woo saja ya?

*

While tossing and turning alone in

an empty room. The TV plays reruns

of  yesterday’s drama

As I hold my phone that

doesn’t ring until I sleep

 

“Apa tidak apa-apa kita latihan soal sampai sore? Jung Kook tidak akan marah padamu?”

 

Ye In merutuk dalam hati mendengar pertanyaan dari laki-laki yang duduk di kursi di depannya itu. Ye In yang sore ini sedang benar-benar memiliki mood yang buruk malah ditanyai seperti itu oleh Chan Woo, lelaki itu. Ia sebenarnya ingin melupakan masalah Jung Kook sebentar. Sebenarnya yang membuat moodnya buruk bukanlah Chan Woo ataupun Jung Kook tapi Yoo Gyeom yang menyuruh Jung Kook berpasangan dengan Halla.

 

“Jangan khawatir. Kami berdua hanya teman.”

 

Ye In menjawab dengan menatap Chan Woo. Ia tak lupa mengulas senyum agar moodnya yang buruk itu tak terlihat. Ia kemudian membalik lembaran bukunya. Ia tahu Chan Woo sedang memandangnya lekat-lekat. Tapi ia berusaha cuek dan mengabaikan pandangan itu.

 

“Kalian sedang bertengkar ya? Ya aku paham kalian memang hanya teman tapi kalian itu benar-benar pasangan yang tidak resmi.”

 

“A—apa?”

 

“Aku tahu kalian dari Yoo Gyeom, Ye In-ah. Aku tahu kok kalau kau menyukai Jung Kook, kan?”

 

Ye In diam tidak mempedulikan ucapan Chan Woo. Ia sebenarnya malu. Apa sekentara itu perasaannya pada Jung Kook hingga ketahuan Chan Woo? Ye In mencoba menghapus pikirannya itu. Namun pipinya malah semakin bersemu merah. Ya tuhan, kenapa di sini panas sekali?

 

“Oh ya, aku pernah mendengar dari Yoo Gyeom, katanya Jung Kook juga menyukaimu…”

 

“Diam, Jung Chan Woo! Dimana Shannon?”

 

Ye In berteriak kesal pada Chan Woo. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan Chan Woo yang mulai kemana-mana menurutnya itu. Apa? Jung Kook menyukainya? Ah mana mungkin! Chan Woo yang melihat kekesalan Ye In itu menahan tawa. Chan Woo benar-benar tahu bahwa keduanya itu saling menyukai.

 

“Shannon? Ia pulang duluan tadi karena ada urusan keluarga. Oh ya, bagaimana kalau kau memilihkan beberapa soal latihan untuknya tambahan materi?”

 

Ye In mendengar ucapan Chan Woo dengan khawatir. Ah, apa mungkin Shannon benar-benar malu karena bertemu Jung Kook tadi? Ah sudahlah. Ye In pun mengangguk mendengar tawaran Chan Woo. Ia pun mengambil lembaran-lembaran soal yang diberikan Chanwoo.

 

Ye In meneliti soal-soal itu dengan cerma. Ia , Chanwoo dan Shannon harus benar-benar untuk olimpiade kali ini. Ye In melirik ponselnya yang ia letakkan di atas tasnya. Ia heran kenapa ponsel itu tidak bersuara atau berdering sejak tadi. Padahal biasanya Jung Kook akan mengiriminya pesan pada jam-jam ini. Tapi aneh, ponsel itu tetap diam. Ah apa mungkin Jung Kook kelelahan? Atau ia terlalu asyik berlatih dengan Halla? Huh, awas saja kau Jeon Jung Kook! Lihat saja besok, Ye In tidak akan menyapanya sama sekali

 

*

I want to open my eyes to your text

every morning. I want to fall asleep with

your voice at the end of the day. On the

weekends, I want to hug you in front

of a lot of people as if I’m showing off

 

Ye In diam berjalan di samping Jung Kook. Huh, mengapa ia tidak bisa marah sih pada Jung Kook? Ia benar-benar mengkhianati janjinya kemarin bahwa tidak akan menyapa Jung Kook. Ya, meski Jung Kook juga tidak benar-benar menyapanya seperti biasa. Ia lebih pendiam kali ini, itu yang membuat Ye In heran dan kesal.

 

Tapi pagi ini ya Jung Kook tetap mengiriminya pesan. Meski tanpa emoticon yang biasa Jung Kook tambahkan di akhir pesannya. Ini benar-benar membuat Ye In khawatir. Apa mungkin Jung Kook kini sudah berpacaran dengan siapa namanya kemarin? Halla? Ya itu.

 

Tapi mengapa Jung Kook tetap menjemputnya hari ini. Ini aneh kan? Kalau ia berpacaran dengan orang lain, tentu pacarnya itu tak akan rela kan Jung Kook mengantar Ye In yang hanya seorang sahabat. Ye In berjalan di belakang Jung Kook menuju kelas kuliahnya dengan memainkan jarinya gelisah.

 

“Ye In-ah!”

 

Ye In segera berbalik mendengar namanya dipanggil. Ia tahu bahwa Jung Kook pun juga ikut berbalik. Ye In melihat Chan Woo bersama Jun Hoe menyapanya. Sebenarnya Ye In paham keduanya itu tidak hanya menyapa tapi juga tampak ingin membicarakan masalah olimpiade minggu depan. Ye In pun mengangguk paham lalu berbalik memanggil Jung Kook.

 

Ye In merengut melihat Jung Kook sedang berjalan mendekati Yoo Gyeom bersama Ye Rin dan Halla. Ia berjalan mengejar Jung Kook,”Jung Kook, tunggu!”

 

Jung Kook berbalik menghadap Ye In dengan wajah datar. Ye In menggerakkan bibirnya gelisah. Ia takut apa yang ingin dilakukannya itu akan membuat Jung Kook marah. Ia tahu beberapa orang yang berlalu lalang itu melihatnya. Khususnya Chan Woo dan Jun Hoe serta Yoo Gyeom, Ye Rin, juga Halla menunggu Ye In menyelesaikan panggilannya.

 

“Jung Kook-ah, terima kasih sudah menjemputku.”

 

Ye In mendekati Jung Kook dan memeluknya. Ye In mengeratkan pelukannya di pinggang Jung Kook sebentar kemudian membisikkan ucapannya tadi.Ye In segera berbalik dan mengajak pergi Chan Woo beserta Jun Hoe dari situ. Ye In mencoba mengabaikan pikiran-pikiran yang terus bermunculan di otaknya. Ah, entahlah lagipula Jung Kook sering memeluknya tanpa izin.

 

I don’t like you, don’t like you these day

But I only have you, I only have you

Clearly draw the line for me

Don’t pull out but

confess your love to me

 

Jung Kook membuka botol air mineralnya sambil menghela nafas lebar. Ya, selain ia memang benar-benar lelah, ia juga ingin memikirkan sesuatu sejak tadi. Sejak tadi pagi tepatnya. Bagaimana tidak, Ye In yang biasanya sangat tidak suka dengan skinship yang ia lakukan seperti menggandeng atau memeluk tapi ia memeluknya tadi pagi.

 

Ya jelas, bagaimana Jung Kook tidak ingin memikirkan hal itu, jantungnya saja tidak dapat berdetak normal sejak tadi. Ia bahkan tidak dapat berkonsentrasi dengan pelajaran yang disampaikan dosen tadi. Apalagi siang ini dia ada latihan dance untuk lomba itu. Ia sudah kebal dimarahi Yoo Gyeom sejak tadi. Untung saja pasangannya, Halla lebih sabar dan hanya tersenyum menganggapi kesalahan Jung Kook saat menari.

 

“Kau memikirkan kejadian tadi pagi ya?” Suara lembut seseorang merusak lamunan Jung Kook.

 

Jung Kook refleks menoleh mendengar pertanyaan itu. Lee Halla, pasangan menarinya untuk lomba itu duduk di sebelahnya sambil meneguk sekaleng jus jeruk. Kemudian ia menatap Jung Kook seolah menunggu jawaban Jung Kook atas pertanyaannya tadi. Jung Kook membatin bagaimana bisa Halla membaca isi hatinya. Apa jangan-jangan dari ekspresinya sangat kentara?

 

“Tidak—aku hanya tidak mempunyai mood yang bagus hari ini,” Jung Kook menjawab dengan cuek lalu meneguk botol air mineral yang dibukanya tadi.

 

Halla mengulum senyumnya lalu mendengus,”Apa kau kira aku bodoh begitu? Aku tahu kalian berdua bertengkar dari kemarin karena aku menjadi pasanganmu kan. Kau pasti memikirkan mengapa Ye In tiba-tiba memelukmu tadi. Mungkin dia ingin pamer padaku.”

 

Jung Kook menatap Halla tak percaya. Bagaimana bisa Jung Kook percaya dengan anlisis Halla yang seperti itu. Yang benar itu, Jung Kook yang marah karena kemarin Ye In bersama Chan Woo dan tidak menghubunginya sama sekali. Lagipula mana mungkin Ye In cemburu? Kemarin saja, Ye In tidak menoleh pada Jung Kook dan Halla sekalipun. Tunggu, pamer? Apa yang bisa dipamerkan? Mereka kan bukan pasangan kekasih—hanya sahabat.

 

“Pamer apa, Halla-ya? Kami hanyalah sahabat.”

 

Heol, tak kukira ya kau sebagai seorang lelaki begitu tidak gentle. Ye In tadi itu ingin pamer dan membuat cemburu. Ia jelas tidak mengatakan apapun lah, lagipula seorang perempuan tidak seberani laki-laki. Dan kau! Aku tahu kau juga cemburu dengan Chan Woo kemarin, jadi segera nyatakan perasaanmu itu sebelum kau terlambat, bodoh!”

 

Jung Kook meneguk ludahnya sendiri mendengar omelan Halla. Ya ampun, ternyata Halla sama saja dengan Ye In masalah mengejek dan mengomeli orang. Apa mungkin semua gadis seperti itu ya? Tunggu, nyatakan perasaan? Terlambat? Ah, benar. Ia harus menyatakan perasaan pada Ye In.

 

“Tapi, Halla—bagaimana?”

 

“Huh, kau benar-benar bodoh, Oh Jung Kook!”

*

Pretending that we’re just friends,

acting like we’re lovers, don’t do that

The more I think about it,

I get more curious

about your real feeling

I can’t do anything or maybe

I’m expecting a miracle, lotto

 

Jung Kook berjalan di samping Ye In dengan gelisah. Ia benar-benar tidak yakin apa yang direncanakan Halla itu dapat berhasil. Apalagi jika ternyata Ye In tidak menerimanya, bagaimana? Ia tentu akan sangat malu dan canggung saat bertemu Ye In nantinya. Apalagi caranya ini benar-benar kampungan dan mungkin akan membuat malu Ye In maupun Jung Kook.

 

“Berhenti, Ye In-ah!”

 

Ye In berhenti kemudian menoleh ke Jung Kook yang berada di sampingnya itu. Ye In memandang penasaran pada Jung Kook mengapa ia disuruh berhenti. Jung Kook sebenarnya sangat malu pada Ye In saat ini. Ia pun langsung jongkok di depan Ye In dan menalikan tali sepatu Ye In yang lepas.

 

“Terima kasih, Jung Kook.”

 

Jung Kook mengangguk mendengar ucapan itu dari Ye In. Ia segera bangkit dan mengajak Ye In kembali berjalan. Jung Kook tahu aliran darahnya kini mengalir deras karena ucapan Ye In tadi. Sebenarnya lebih tepat pada ekspresi yang Ye In berikan. Ia tersenyum benar-benar manis membuat Jung Kook ingin mencubit pipinya.

 

“Ye In-ah!”

 

Jung Kook dan Ye In menoleh bersamaan. Jung Kook dapat melihat Ye Rin, teman satu klub tarinya menyapa Ye In dengan membawa sebuah balon. Balon itu berwarna hijau muda dengan tulisan hangul ‘ye’. Ah, jadi ini sudah di mulai, batin Jung Kook.

 

“Ini ada seseorang menitipkan balon padaku. Katanya untukmu.”

 

Ye Rin menyodorkan balon itu pada Ye In dan diterima Ye In dengan senyumnya. Ye In mengucapkan terima kasih sebentar dan kemudian Ye Rin pergi. Serta Ye Rin tak lupa mengedip ke arah Jung Kook membuat Jung Kook menggerakkan matanya gelisah. Tapi paling tidak, Jung Kook bersyukur Ye In mau menerimanya dan tidak menganggapnya kekanakan.

 

“Ye In-ah!”

 

Jung Kook mendelik melihat seorang laki-laki berwajah manis seperti perempuan mendekatinya dan Ye In. Ye In malah tersenyum menyapa lelaki mirip gadis itu. Jung Kook kini berambisi mencekik Halla mengapa gadis itu meminta bantuan lelaki mirip gadis ini sih. Lelaki itu mengatakan hal yang hampir sama dengan Ye Rin tadi dan menyodorkan balon yang mirip dengan balon yang dipegang Ye In.

 

“Terima kasih, Chan Wooya.”

 

Ye In tersenyum manis pada Chan Woo sesaat sebelum Chan Woo, si lelaki mirip gadis itu pergi. Chan Woo pun tak lupa tersenyum mengejek pada Jung Kook sebelum pergi membuat Jung Kook ingin meracuni makanan lelaki itu. Huh, tapi jika lelaki itu membantu berarti ia tidak memiliki hubungan atau perasaan apapun dong dengan Ye In?, batin Jung Kook.

 

“Apa balon ini dari orang yang sama ya, Jung Kook? Ada tulisan namaku di balon ini.”

 

Jung Kook hanya mengangkat bahu mendengar ucapan Ye In itu. Ia diam dan gelisah sebenaranya. Paling tidak, Ye In memang selalu menghargai pemberian orang lain. Ia memang memiliki banyak fans sejak SMA ya cukup sama dengan Jung Kook. Bedanya, Ye In menghargai pemberian fansnya itu sedangkan Jung Kook hanya dengan setengah hati.

 

“Ye In-ah!”

 

Jung Kook tersenyum melihat Halla-lah yang kini mendekatinya dan Ye In. Halla memberikan balon yang mirip dengan Ye Rin dan Chan Woo tadi. Tapi Jung Kook dapat melihat perbedaan ekspresi Ye In sekarang. Ye In memasang ekspresi bingung yang aneh. Entahlah, Jung Kook tak mengerti mengapa. Namun Ye In tetap memberikan senyum dan ucapan terima kasih pada Halla saat Halla pergi. Sedang Halla hanya memberikan mehrong pada Jung Kook.

 

“Ye In! Jung Kook-ah!”

 

Jung Kook dan Ye In berbalik cepat mendengar nama keduanya dipanggil. Mereka melihat Yoo Gyeom mendekati mereka dengan senyum menyebalkannya. Juga dengan percaya diri membawa dua balon. Ye In menatap malas pada Yoo Gyeom mungkin dengan alasan Yoo Gyeom belum meminta maaf pada Shannon.

 

“Ini untukmu, Ye In. Dan ini untukmu, Jung Kook-ah! Ini dari fansmu loh.”

 

“Terima kasih,” Ye In mendengus malas.

 

“Terima kasih, Yoo Gyeom.”

 

Jung Kook mencoba berakting mengucapkan terima kasih yang tulus pada Yoo Gyeom. Padahal keduanya lah yang merencanakan ini. Tapi beruntung, tampaknya Ye In tidak benar benar sadar mengenai kontak mata Jung Kook dn Yoo Gyeom yang tidak biasa. Ye In lebih fokus membaca tulisan yang ada di balon itu. Tapi setidaknya mereka berarti berhasil mengenai rencana itu kemudian Yoo Gyeom pamit pergi dengan kedipan menyebalkannya.

 

“Jung Kook-ah, kenapa di balon ini bertuliskan Ye-In-I-U ya? Apa aku dikira menyukai penyanyi solo IU? Padahal kau kan yang suka IU?” Ye In bertanya dengan polos.

 

“Tidak. Sebenarnya balon itu kurang satu. Satunya itu adalah milikku yang bergambar hati. Balon-balon itu adalah dariku.”

 

“A—apa? Jadi, Ye In I ❤ U?”

 

Jung Kook menunduk malu. Kini beberapa orang sudah melihat mereka. Mungkin mereka kini sudah menjadi pusat perhatian. Jung Kook pun ingat kembali omelan yang kemarin Halla berikan. Ia pun menghela nafas dan memberanikan diri,”Ya. Aku tidak suka melihatmu dengan Chan Woo bahkan aku juga ingin membalas pelukanmu dua hari yang lalu malah kau langsung pergi. Jadi, Jung Ye In, I Love You!”

 

Ye In tersenyum malu dengan menunduk kemudian mendongakkan kepalanya,”Jeon Jung Kook, I Love You too.”

 

Jantung Jung Kook sesak. Tidak, ini berbeda dengan beberapa hari yang lalu saat ia melihat Ye In dengan Chan Woo. Jung Kook kini merasa tubuhnya melayang. Ia benar-benar bahagia dan bersyukur. Jung Kook mengangkat dagu Ye In dan mendekatkan wajahnya pada wajah Ye In. Kini, wajah mereka hanya berjarak lima sentimeter membuat keduanya dapat mendengar detak jantung masing-masing yang sama-sama memburu. Jung Kook tersenyum dibalas dengan senyuman manis Ye In kemudian keduanya menutup mata mereka bersamaan. Ya, lalu bibir mereka bersatu. Jung Kook tahu ini bukan yang diharapkannya untuk menjadi ciuman yang ia inginkan dari Ye In. Lagipula, mereka bisa melakukan ciuman yang diajarkan Yoo Gyeom padanya lain waktu.

 

I want a clear sign but

I forget all about it

when I see your smile

*

“Well, akhirnya kalian bisa berciuman juga ya.”

 

Ye In dan Jung Kook kini duduk di kantin bersama Yoo Gyeom, Ye Rin dan Halla. Ya ini dalam rangka traktiran Jung Kook pada mereka bertiga yang telah membantunya. Tapi kini Ye In cukup menyesal Jung Kook mengajak Yoo Gyeom yang mesum ini duduk satu meja dengannya. Ia benar-benar tak tahu malu, sungguh. Bagaimana bisa ia membicarakan ciuman Jung Kook dan Ye In tadi ketika mereka makan.

 

“Oh ya, Halla-ya. Maafkan aku yang selama ini berburuk sangka padamu,” Ye In berkata pelan pada Halla yang makan dalam diam.

 

“Buruk sangka apa, Ye In?” Jung Kook menyahuti penasaran.

 

Halla tersenyum,”Tidak apa-apa, Ye In-ah. Lagipula kini sudah selesai bukan.”

 

“Bolehkah kami bergabung? Aku sudah membantumu bukan, Oh Jung Kook?”

 

Ye In membalas ucapan Halla dengan senyum berterima kasihnya.  Kemudian ia menoleh pada seseorang yang menyapa mereka itu. Ye In tersenyum mengetahui Chan Woo bersama Shannon lah yang mendatangi mereka. Iapun segera mengangguk dan menyisakan tempat duduk untuk mereka begitupun dengan Halla dan Ye Rin. Ye In bersyukur Shannon tampaknya senang telah menjadi kekasih Chan Woo. Jelas, Ye In tahu, mereka resmi dua hari yang lalu saat latihan klub atletik.

 

Mereka makan dalam diam. Ye In cukup merasa aneh dengan suasana ini. Bagaimana tidak? Tadi sebelum Shannon dan Chan Woo datang, Yoo Gyeom berceloteh dengan cerianya tapi sekarang hanya diam. Ye In pun melirik Yoo Gyeom. Aneh, Yoo Gyeom tampak tidak mood dan makan dengan malas, sangat berbeda dengan kepribadiannya.

 

“Jung Kook-ah, Yoo Gyeom tidak suka dengan Shannon ya?” Ye In berbisik pada Jung Kook dengan suara pelan.

 

Jung Kook menatap Ye In dengan ekspresi tidak mudah ditebak tapi langsung berbisik kembali di telinga Ye In,”Yoo Gyeom dan Shannon sudah bertunangan.”

 

Ye In terbelalak. Ia menatap Jung Kook dengan raut tak percaya. Jung Kook hanya menempelkan telunjuknya di bibir seolah menyuruh Ye In diam saja. Ye In menunduk melanjutkan makannya dengan perasaan aneh. Apa? Mereka bertunangan? Tapi Shannon dan Chan Woo kan berpacaran? Ye In makan dengan gelisah. Iapun bertekad dalam hati akan mengorek keterangan dari Jung Kook selengkap-lengkapnya. Apa-apaan ini? Shannon tidak pernah bercerita apapun padanya. Baiklah, Ye In harus mencari tahu hal itu. Meski ia harus memberikan ciuman pada Jung Kook, ia rela demi mengetahui cerita lengkap itu.

 

-FIN-

Aloha! Ini ff remake dengan cast berbeda jelasnya, aslinya Sehun-Jiyoung, karena kurasa mereka punya chemistry yang cocok jadilah ku remake. Untuk ending maafkan gaje*las*, itu sebenarnya ada sequelnya tapi sampai sekarang belum kubuat-__- Well, aku lagi merayakan UTS ku selesai jadilah ini, Cuma mau nyemangatin buat yang UN hari senen ini, FIGHTING, HAMMASAH!!! Semoga dapet nilai banyak. GIVE ME YOUR FEEDBACK>>>

Saturday, 2016 April 4th – 8.22 pmg tua mereka sering tak sanggup menasehati.

April Mop kemarin KAISTALku real, kira-kira kapan ya YEKOOKku masuk Dispatch *mian ngelantur-.-“*

Advertisements

Author:

HOPE DREAM FORWARD FORWARD inspirit.army.exol.starlight.pinkpanda.lovelinus doing messy thing like accounting cute like magnae~

4 thoughts on “[Oneshot] Some

  1. Huahhhh, Jungkook-Yein, aku suka couple ini – mereka bener-bener manis dan ngegemesin banget >,< apalagi pas kookie mengaku cinta, cieeee kalian udah pada gede.. dan pleaseeee Shannon bikin skandal banget kkkk

    Like

  2. aku juga ikut malu deh.. mereka jadian, kenapa Wgm ga milih mereka buat pasangan suatu saat nanti??

    Ueee selei Uts ni yeee selamatt

    Like

  3. Sahabat jadi cinta wkwk
    Mereka udah bersatu
    Tapi…
    Kawan-kawannya masih ada masalah tuh?
    Makanya itu yang bikin gantung ya:’)

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s