[A New Trilogy] Romance Date in Spring Season

RomanceDateinSpringSeason

Romance Date in Spring Season

Present By Zifanfan

 

Starring With:

Yoo Jiae (Lovelyz) | Hong Jisoo (Seventeen) | and more

Sci-Fi, Little Romance, AU

Rating: PG – 13

 

Disclaimer: FF ini murni dari pikiran saya. Jika ada kesamaan dengan FF lain, itu hanyalah ketidaksengajaan. Semua Cast dalam FF ini milik masing masing.

 

Don’t Copy Paste!

 

Happy Reading…

.

.

.

“Jisoo-ya!” Yoo Jiae muncul dan berlari dari arah belakang, punggung lebar tak bersalah milik Hong Jisoo menjadi targetnya.

“Yak! Yoo Jiae, apa kau tak ingat sama berat badanmu? Punggungku bisa remuk!” Jisoo berbalik dan mengeluarkan celetukannya, sementara Jiae selaku ‘terdakwa’ hanya bisa mengulas senyum ceria.

“Jisoo-ya, bagaimana kalo kita kencan? Ini sedang musim semi, dan kata orang, kencan itu sangat penting bagi setiap pasangan,” Jiae berujar lembut, menarik lengan kiri Jisoo untuk didudukkan bersama dirinya di hamparan rumput hijau yang luas.

“Kencan? Ide bagus, tapi kita mau kemana?”

“Aish, kita harus pergi ke Taman yang banyak bunganya! Ini kan sedang musim semi!” Gerutu Jiae kesal karena Jisoo tak mengerti dengan maksud ucapannya mengajak kencan.

“Baiklah, persiapkan dirimu besok Jiae-ya,” Gemas, Jisoo bahkan mencubit pipi kanan Jiae yang diakhiri dengan teriakkan dari sang gadis.

****

 

Sedaritadi, Jiae tak henti hentinya tersenyum menatap penampakkan dirinya sendiri di depan cermin. Dress selutut yang ia kenakan menambah kesan cantik dirinya, Jiae yakin kalau Jisoo akan ‘sedikit’ terpukau dengan penampilannya.

Drrtt

Ponsel Jiae bergetar, tanpa melihat siapa si penelpon, Jiae bergegas mengangkatnya, ya, ia sudah tahu kalau Jisoo lah yang menelpon.

Selepas pembicaraan singkatnya usai, Jiae bersiap, mengambil sebuah slingbag lalu menuju ke halaman rumahnya, dimana Jisoo sudah berdiri tampan menunggu kedatangannya.

“Apa kau siap Jiae-ya?” Jisoo mengulurkan tangannya saat melihat Jiae berjalan makin dekat. Tanpa ragu, Jiae pun membalas uluran tangan itu.

Mereka pun berjalan sembari bergandeng tangan, menyusuri jalanan kompleks yang kala itu masih sepi, berdua menuju ke alam surga yang mereka ciptakan sendiri di musim semi yang hangat ini.

Sungguh, pemandangan yang sangat romantis.

 

****

 

“Jisoo-ya! Jangan berlari terlalu jauh! Aku tidak bisa mengejarmu!” Teriak Jiae disela sela aktivitas bermainnya bersama Jisoo.

“Tidak bisa! Kau yang meminta bermain kejar kejaran!” Jisoo sedikit memelankan laju larinya, sekilas menengok keberadaan Jiae dibelakangnya.

Brukk

Tubuh Jiae spontan saja terjatuh, Jisoo dengan tanggap menghampirinya lalu mencoba menolongnya.

“Jiae-ya, ada apa denganmu?”

“Jisoo-ya, kakiku terasa kram, aku tidak bisa menggerakkannya sama sekali.”

“Kita harus segera ke dokter, aku takut terjadi apa apa denganmu.” Mengambil langkah cepat, Jisoo menyuruh Jiae untuk segera naik ke punggungnya, dan ia pun akan menggendong Jiae menuju ke klinik terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.

****

“Dia menderita penyakit Gaucher, sebuah penyakit turunan yang menyerang enzim enzim di tubuh. Tulang tulang di pergelangan kakinya langsung saja menjadi rapuh karena terjatuh,” Dokter menjelaskan perihal penyakit yang diderita Jiae, Jisoo menyimak dengan serius, sedangkan Jiae hanya menampilkan wajah datar tanpa ekspresi sedikitpun.

“Ja–jadi artinya, dia tidak bisa berjalan lagi?”

“Sepertinya begitu, tapi jika dia mendapatkan pertolongan yang cepat, kondisi tulang tulangnya mungkin akan kembali membaik.”

“Bagaimana Dok? Apa yang harus dilakukan biar dia bisa kembali berjalan?”

“Belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit Gaucher, hanya saja para pengembang obat di Amerika sudah membuat kemoterapi yang bisa memperkecil kemungkinan untuk tidak bisa berjalan lagi,”

“Dia harus segera ke Amerika jika masih ingin berjalan.” Dokter itu menutup penjelasannya, mata Jisoo terlihat berkaca kaca, Jiae pun seperti itu.

 

****

 

Untuk bantuan sementara, Dokter memberikan sebuah kursi roda untuk dipakai oleh Jiae menjalani rutinitas sehari harinya sebelum berangkat ke Amerika.

Hari ini adalah hari terakhir di musim semi, Jiae menatap kosong keluar jendela kamarnya.

“Jisoo-ya,” Jiae bergumam memanggil nama Jisoo yang setia menemaninya.

“Hm?”

“Aku mau kita kencan lagi di hari terakhir musim semi ini. Aku takut jika saja, aku sudah tidak bisa berkencan denganmu di musim semi tahun berikutnya,”

“A–apa? Kencan? Ayo kita lakukan Jiae-ya, mari kita lakukan semua hal yang masih bisa kita lakukan sekarang ini.”

Perlahan, Jisoo mendorong kursi roda Jiae keluar dari kamarnya, mereka kembali menuju ke taman yang tempo hari pernah mereka datangi bersama.

“Jiae-ya, bagaimana kalau aku menggendong mu di punggung ku? Itu akan terlihat jauh lebih romantis,” ajak Jisoo seraya menghentikan laju kursi roda Jiae.

“Baiklah, tapi, apakah punggungmu tidak akan remuk?”

“Rasa sakitnya tidak akan seberapa dengan rasa sakit yang kau alami Jiae-ya,” Jisoo pun duduk di hadapan Jiae, menopang tubuh Jiae untuk naik ke punggungnya.

Selepas itu, mereka lalu berjalan menyusuri taman yang ramai akan bunga bunga yang mulai berguguran, juga daun daun kering dari pepohonan. Kerap kali mereka berlari lari kecil, sama seperti dengan hal yang mereka lakukan tempo hari.

Sekali lagi, mereka berhasil membuat surga sendiri, dan pemandangan romantis keduanya melengkapi keberadaan surga itu.

-FIN-

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s