[A New Trilogy] Yoo Jiae’s Best Friend

Standard

Yoo Jiae's Best Friend

 

Special dedicate fanficition to Lovelyz Fanfiction Indonesia’s Yoo Jiae Birthday Event

[A New Trilogy — What Will Happen In Spring?]

— YOO JIAE’S BEST FRIEND —

©2016, BaekMinJi93

 

Starring with

Lovelyz’s Yoo Jiae and B1A4’s Cha Sunwoo

with slight! Their daughter OC’s Cha Jinah

 

| Fluff – Friendship – Marriage Life – Romance – Surrealism | Vignette (1000+ Word) | PG – 13 |

Disclaimer

This story purely mine. DON’T BASHING AND DON’T PLAGIARISM!

Happy reading…

“Semua orang di dunia ini dan yang mengenalku adalah temanku.”

Jika kau bertanya siapa sahabat sejati seorang gadis cantik bernama Yoo Jiae? Maka jawabannya adalah, aku.

Kau mungkin akan mengelaknya dan berkata jika Kim Jiyeon atau Ryu Sujeonglah yang menjabat sebagai sahabat sejati Yoo Jiae. Hei, kau salah besar. Kupikir mereka berdua hanya menganggap Jiae sebatas teman curhat saja, tidak lebih. Begitu juga dengan Jiae sendiri, bahkan gadis itu juga tak begitu yakin jika dirinya mempunyai sahabat sejati selama hidupnya.

“Semua orang di dunia ini dan yang mengenalku adalah temanku.”

Begitulah jawaban Jiae kala kedua orang tuanya bertanya tentang siapa belahan jiwanya. Semua orang adalah temannya. Jadi, kau tahu perbedaan antara teman dan sahabat kan? Kuharap kau tidak memintaku untuk repot-repot menjelaskannya karena semua itu terlihat jelas secara kasat mata.

Lalu jika Jiae mengatakan semua orang adalah temannya, kenapa aku masih mendedikasikan diriku sebagai sahabat sejatinya?

Apakah aku sudah gila?

Apakah aku tidak tahu diri?

Apakah aku tidak tahu arti kata sahabat ataupun teman?

Coba kutebak, pasti kalimat itulah yang saat ini sedang tercetak jelas di benakmu sekarang. Kau akan menganggapku gila, karena aku dengan tidak tahu dirinya mendedikasikan diriku sebagai sahabat Jiae di saat gadis itu dengan jelas menyatakan jika semua orang berstatus hanya sebatas teman saja. Semua itu terserah aku, toh Jiae juga tidak akan tahu jika aku menyatakan diriku sebagai sahabatnya meskipun dengan suara lantang. Tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. Berbeda denganmu, yang jika kau berani mengatakan kau adalah sahabatnya, maka bersiaplah untuk mendengar ungkapan pedas khas Jiae yang menegaskan jika kau hanya adalah sebatas teman bukan sahabatnya.

Aku tahu semua hal tentang Jiae.

Semuanya. Mulai dari hal yang dibenci atau bahkan hal kesukaan, alergi dan phobianya, kumpulan imajinasi liarnya, gadis yang dibencinya, pemuda yang disukainya, makanan yang ingin dimakannya sejak kecil tetapi selalu dilarang oleh sang ibu karena tidak baik untuk kesehatannya—katanya, hingga masalah yang hampir menyebabkan nasib kedua orang tuanya berakhir dengan perceraian. Jiae menceritakan semuanya padaku. Meskipun jika boleh jujur aku tidak pernah menanggapi satu pun cerita yang diceritakannya padaku, tapi dia tetap tidak bosan untuk berbagi ceritanya denganku. Aku tidak pernah berkata tidak untuk mendengar ceritanya dan aku selalu tertarik untuk mendengar pengalaman yang ia bagikan padaku. Kurasa hal itulah yang membuatnya betah bersahabat denganku.

Karena satu, Jiae tidak perlu khawatir jika aku akan membocorkan rahasianya.

 

Satu resep yang amat ampuh, kan?

Jiae selalu datang padaku saat musim semi tiba. Aku ingat sekitar delapan tahun yang lalu, Jiae kecil datang padaku dengan gaya rambut twin ponytail favoritnya. Dia selalu membawa boneka barbie kesayangannya dan mengajakku untuk berteman dengannya. Hari kedua saat ia datang padaku, Jiae kecil menangis tersedu-sedu dan bercerita jika ia dikucilkan oleh teman-temannya di sekolah barunya. Tentu saja, hatiku sakit melihatnya sedih seperti itu. Tapi dia dengan segera mengubah raut wajahnya menjadi ceria kembali dan mulai bermain ayunan tepat di bawah aku berdiri saat ini.

Hari demi hari pun berlalu. Jiae kecil pun tumbuh kian beranjak menjadi remaja. Boneka barbie yang dulu selalu dibawanya kini telah berganti menjadi berbagai variasi judul novel klasik favoritnya. Dari semua novel itu, semuanya bergenre classic romance dan aku sudah tahu sebelumnya jika Jiae selalu menyukai hal-hal dengan kesan manis yang begitu mengental itu.

“Kau tahu kenapa aku begitu menyukai novel romansa, kawan?” ucap Jiae suatu hari kala ia menghabiskan waktu musim seminya bersamaku. Aku terdiam menunggu kelanjutan ucapannya. “Karena aku berharap jika suatu hari aku dapat merasakan romansa cinta klasik seperti yang ada di novel-novel itu.”

Jujur saja, aku sudah bisa menabak jawabannya sebelumnya.

 

Dan seperti biasa, aku hanya bisa diam dan hanya menyediakan dadaku yang kokoh untuk menjadi sandaran nyamannya.

Bulan berganti bulan. Tahun pun turut berganti. Tapi jadwal Jiae untuk mengunjungiku masih tetap sama. Gadis itu masih saja mengunjungiku saat musim semi tiba. Tapi kali ini ia tidak sendiri. Jiae datang bersama seorang pemuda. Kau bertanya siapa dia? Maka jawabannya aku juga tidak tahu, karena aku juga tidak mengenal pemuda itu sebelumnya. Tapi dari raut wajah Jiae yang sumringah, sepertinya aku tahu siapa dia.

“Hai, cherry. Kenalkan dia Cha Sunwoo. Dia adalah-…” ucapannya menggantung begitu saja, tapi genggaman pada tangannya mengerat seolah menguatkannya untuk melakukan sebuah pengakuan padaku. “Dia adalah kekasihku mulai seka-… Eh, maksudku mulai minggu lalu. Kami kesini untuk bermain bersamamu. Kau mau kan?

Well… meskipun ada sedikit rasa tidak rela, aku turut bahagia melihatnya bahagia bersama pemuda itu. Lagipula pemuda Cha itu sepertinya juga sangat menyayangi Jiae, terbukti saat dirinya memberikan bahunya saat Jiae tertidur dan usapan lembut pada kepalanya. Sebagai sahabat yang baik, aku juga harus turut bahagia kan?

Semuanya berjalan dengan baik selama bertahun-tahun. Begitu juga dengan hubungan Jiae dengan Sunwoo. Bahkan beberapa tahun yang lalu, kedua sejoli itu melaksanakan sumpah sakral pernikahannya disini bersamaku. Dari cerita yang Jiae katakan padaku, Sunwoo melamarnya dengan romantis kala beberapa hari setelah dirinya mengatakan pada pemuda itu bahwa ia tengah mengandung buah hatinya yang baru berusia dua minggu. Dan sepertinya mimpi Jiae untuk melakukan kisah cinta yang sesuai dengan romansa di novel klasik yang sering ia baca saat remaja telah terkabul. Dan lagi-lagi mau tak mau aku harus ikut menyumbangkan senyuman untuk bahagia bersamanya.

“Ibu, Jinah heran kenapa ibu sering kali berbicara sendiri bersama cherry? Bukankah dia hanya pohon, bu? Dan ibu tidak gila kan karena menganggap benda mati adalah sahabat sejati ibu?”

Dapat kulihat senyum Jiae terukir kala pertanyaan polos itu keluar dari bibir Cha Jinah—putrinya— suatu hari saat ia mengajak sang buah hati menghabiskan waktu musim semi bersamaku.

“Memangnya ada yang salah jika ibu bersahabat dengan pohon, Jinah sayang?” Dan Jinah menggeleng ragu sebagai jawabannya. Aku sontak turut tersenyum kala melihat garis asimetris itu kembali terukir indah di bibir Jiae. “Mungkin beberapa orang seperti ibu mepunyai alasan lebih memilih untuk bersahabat dengan benda mati daripada manusia biasa. Karena tanpa Jinah sadari, kehidupan ini tidaklah semanis apa yang Jinah pikirkan selama ini. Paham, sayang?

Gadis kecil itu menggeleng pelan dan tentu saja tawa Jiae meledak melihatnya. Gadis Yoo itu mengusap puncak kepala putrinya seraya berkata lembut. “Jinah akan mengerti jika waktu itu tiba.”

“Tapi kapan waktu itu akan tiba, bu?”

Jiae memutar bola matanya seolah berpikir keras dan menaruh jari telunjuknya di depan dagu, “Suatu hari dan belajarlah bersabar untuk menunggunya, sayang.”

 

— FIN —

A/N :

 

HAPPY BIRTHDAY, LOVELYZ’S FAKE MAKNAE!!!

Kyaa… aku bingung mau bilang apa hehe… /dibuang sama Mbak Jiae/

Semoga tambah cantik, tambah imut biar jadi eternal fake maknae terus… /dibegal Mbak Yein/

Pokoknya sukses selalu deh sama member Lovelyz lainnya, aku selalu mendukungmu!!!

 

Kyaa… setelah bingung mau kapelin nih mbak maknae palsu (?) sama siapa, akhirnya setelah liat MV Delight dan liat mbak Jiae yang imut *astaga* sama Baro *kyaa abang imut juga*, akhirnya kapel ini dah pilihanku >.<

Asal kalian tahu aja, lucu loh liat Baro sama Jiae yang sha sha sha kaya si Sana bilang /apa ini?/

Semoga kalian suka ya ^-^

Thanks and See ya ~

 

Warm Regards,

 

— BaekMinJi93 —

Advertisements

7 thoughts on “[A New Trilogy] Yoo Jiae’s Best Friend

  1. sumpah kirain si ‘aku’ ini cowok terus kisahnya bakal tipikal2 friendzone gt, lalu disebut namanya jinah, aku mikir nana after school ._. TAUNYA POHON. agak serem juga ya mbak jiae temenan sama pohon xD trs mbayangin jiae jadi mama itu ughhh why so cute ; __ ; yosh ini bebe kan yaa? keep writing ❤

    Like

    • Haha kerasa baper friendzone yap? Eh betewe si nana after school itu namanya jinah? /oke ini OOT/
      Terkadang seseorang lebih nyaman berteman sama barang sih daripada sama orang, tapi jujur aku juga nggak pernah, palingan cuma ngomong sendiri kaya ada temennya /oke aibbbbb >.</. Mbak jiae kalo digambarin jadi mama tuh ucul, serasa dirinya juga jadi anaknya /apa ini?/
      Yap, aku bebe kok… thanks buat semangatnya… Keep writing juga buat kamu yaa ~

      Like

  2. Aihara

    Karena ngedatanginnya setiap musim semi, udah nebak si aku tuh pohon sakura XD
    Iya sih, setuju banget sama yang dikasih dari fanfict ini, mungkin ga ada yang betul-betul sahabat
    Meskipun temenan sama benda mati engga sih kalo aku, malah jadi serem:’)
    Ey itu Jiae udah ngandung anak sebelum nikah ya /salahfokus/ wkwk :v

    Like

    • Haha… musim semi selalu identik sama sakura yap?
      Menurutku itu sih tergantung pendapat orang masing-masing ya, dan mungkin bisa dibilang mbak jiae tuh tipenya nggak percayaan sama orang.
      Iya, mbak Jiae nakal kok ya -_-

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s