[A New Trilogy] 1/4 of 12

1463077115475 (1)

by nightskies

[A New Trilogy] 1/4 of 12– Nightskies

is made as part of Special Event for Jiae’s Birthday

“Namanya Yoo Jiae. Ia temukan kebahagiaannya di bawah sinar matahari, dan saat bersama Min Yoongi.”

Jiae (Lovelyz) with Suga (BTS)

Ficlet

Surrealism, Friendship, Fantasy

G

Disclaimer: The entire event that happens in this story is all pure fictional, none of them are true. Any same events, same persons, same places, are pure coincidences. All the characters in this storybelong to wherever they are, while the art and story also the love for Jiae is mine.
Plagiarism is a bad thing, you know, and it will bite back someday 😉

***

Selamat pagi, Jiae.

Bukan, itu bukan aku yang menyapa.Melainkan kelopak-kelopak bunga yang berguguran di belakangku.

Gadis itu berjingkat perlahan mendekatiku. Setelah cukup dekat, ia menempelkan jemarinya padaku dan menatap lebih saksama kelopak yang berguguran tersebut. Senyumnya merekah, namun matanya memancarkan kesedihan.

Mata yang nyaris seindah mata bayi itu… mengingatkanku pada pertemuan pertama kami, beberapa tahun lalu.

Usia Jiae saat itu masih sebelas tahun, itu yang tertulis di papan identitasnya.Aku tidak paham mengapa gadis dengan senyum secerah matahari ini harus bertemu denganku. Seharusnya, ia tak disini dan pergi sekolah. Alasanku tak ingin gadis itu bertemu denganku adalah karena pengalamanku selama ini telah membuktikan bahwa aku memang seharusnya tak pernah ditemui siapapun.Aku sudah disini sejak lama, dan aku telah bertemu banyak manusia yang entah hanya menginap selama satu atau dua malam, atau mereka yang harus tinggal sampai berbulan-bulan, bahkan mereka yang akhirnya menemui ajal di ruangan ini. Meski demikian, aku tidak paham apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Aku tidak pernah tahu apa nama penyakit yang mereka lamai hingga membuat mereka harus bertemu denganku.

Tapi demi gadis yang memiliki mata seindah mata bayi, aku memaksakan diri untuk menyimak kalimat dari seorang pria berjas putih yang baru saja masuk ke ruangan ini.

“Yoo Jiae, kau menderita lupus.”

Dari seluruh ucapan pria itu, aku hanya mampu menangkap kalimat barusan, meski aku tak paham maknanya.Memangnya kenapa jika gadis itu menderita lupus?Apa Jiae harus tinggal disini? Bagaimana jika Jiae bernasib sama dengan manusia-manusia sebelum dirinya? Aku tak mau Jiae mati…

Beberapa minggu setelah kedatangan Jiae, aku merasa gadis itu sedang dikurung karena pria berjas putih selalu melarang Jiae keluar dari ruangan.Aku berdoa agar Tuhan mengizinkan Jiae untuk keluar, sekali ini saja.Aku ingin Jiae merasakan sinar matahari di musim panas hari itu.Kemudian, beberapa hari setelahnya, kuyakin Tuhan telah mengabulkan doaku.Jiae sedang berdiri di dekat kasurnya sambil sesekali menatap ke arahku, lalu bergumam.

“Apa aku akan baik-baik saja jika aku keluar?”

Ya, kau akan baik-baik saja, Jiae. Kau bahkan butuh itu.

Jiae mengambil selimut untuk dililitkan ke tubuhnya—yang tak kupahami kenapa, karena bukankah ia akan kepanasan dengan selimut melingkar di bahunya?—tapi ketika ia menyadari bahwa selimutnya terjahit ke kasur, Jiae menghela napas sambil sekali lagi melihat ke arahku.

“Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk karena keputusanku.”

Ia lalu melangkah keluar dari ruangan.

…Tapi apa maksud kalimatnya barusan?

Meski, lagi-lagi, aku tidak paham, aku mensyukurinya.Semoga Jiae menikmati waktunya di bawah matahari.

Ruangan tanpa Jiae selama hampir dua jam terasa begitu sepi. Aku mulai berpikir gadis ini mungkin sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya, sampai sahabatku didobrak oleh beberapa pria berpakaian putih, dan aku juga melihat seorang pria berjas putih yang familiar.Mereka menggotong Jiae yang kulitnya memerah nyaris di seluruh tubuh dan tengah merintih lemah.

Apa yang sudah terjadi padanya?!

Seteelah waktu-waktu yang terasa panjang, Jiae akhirnya diperbolehkan istirahat.Ini saatnya bagiku untuk menyimak kalimat dari pria berjas putih.Ia pasti tahu apa yang sudah terjadi pada Jiae.

“Boleh kutahu alasanmu keluar, Jiae-ssi?Kau tahu kau seharusnya tetap berada di dalam ruangan, bukan?”

“Masih alasan yang sama, Dokter Kim. Aku bosan terus-terusan berada di kamar.”

“Jiae, kau tahu apa akibatnya bila kau memaksa untuk keluar dari gedung, bukan?Tubuhmu sensitif terhadap sinar matahari, bukan tidak mungkin kau akan mengalami ruam yang lebih parah dari ini jika kau mengulanginya.”

“Tapi aku tidak tahan, Dokter!”Suara Jiae meninggi.

Pria berjas putih itu memilih untuk mengalah. “Jiae, aku akan cari cara agar kau tidak bosan di sini. Tapi, kumohon jangan pernah ulangi perbuatanmu tadi siang.Nyawamu bisa saja terancam.Kakakmu percaya aku bisa menjagamu, dan aku tak mau mengkhianatinya.”

Pria itu akhirnya pamit dan tinggallah Jiae sendirian.Begitu lampu tidurnya dimatikan dan hanya kegelapan yang dapat kulihat, diam-diam aku membisikkan permohonan maaf pada Yoo Jiae. Karena doakulah, ia harus menderita seperti tadi.

Begitu aku kembali dari kilas balikku tentang Jiae, aku menyadari sudah hampir satu tahun ia bersamaku. Musim panas, musim gugur, musim dingin telah berlalu. Di musim semi ini, Jiae masih terlihat sama. Gadis yang sedang menikmati sarapannya sambil sesekali menatapku itu selalu terlihat ceria. Meski ia berada di ruangan sepanjang waktu, untuk menepati janjinya pada Dokter Kim. Walau raut murungnya kentara jelas ketika dedaunan kering mengetuk juga tetesan salju mengendap di bingkaiku.

Melihat Jiae yang kesepian seperti ini, membuatku tidak tahan. Aku ingin berbuat sesuatu agar ia tidak kesepian. Di saat-saat seperti inilah, aku ingin sekali menjadi manusia.Perempuan atau laki-laki tidak masalah, yang penting aku bisa menemaninya. Sayang, sebanyak apapun doa yang kupanjatkan pada-Nya, aku tetap tak bisa berubah jadi manusia.

Saat Jiae diajak keluar oleh seorang wanita yang dipanggil Suster Lee, aku berdoa lagi pada Tuhan.

Aku memohon agar Tuhan menghadirkan siapapun untuk menemani  Jiae.Setidaknya, selama musim semi ini.

*

Keesokan paginya,aku merasa ada yang mengawasi Jiae dari belakangku.

Sayang sekali aku tak bisa melihat siapa orang itu.Aku hanya bisa melihat Jiae yang baru saja bangun dari tidurnya.

“Yoo Jiae!” panggil orang itu.Dari suaranya, kuyakin dia laki-laki.

Jiae mengernyit, ia pasti bingung siapa yang telah memanggil namanya, mengingat tak ada siapapun di ruangan ini kecuali dirinya—dan aku, namun tidak masuk dalam hitungan. Saat ia menatapku, wajahnya menyiratkan kewaspadaan.

“Kau siapa? Darimana kau tahu namaku?” tanya Jiae.

“Namaku Min Yoongi,” ujarnya sambil meletakkan jemarinya di belakangku. “Apa aku boleh menjadi temanmu?”

“Temanku?”Tatapan penuh selidik Jiae perlahan memudar, berganti jadi tatapan ingin tahu.“Tentu saja boleh.”

“Ayo keluar dan bermain,” ajaknya.“Aku ingin mengajakmu ke rumahku.”

Aku dapat melihat raut wajah Jiae yang mendadak cerah, namun sedetik kemudian raut itu kembali meredup. “Maaf, Yoongi. Tapi aku tidak boleh keluar dari sini.”

“Kenapa?”

“Aku tidak boleh kena sinar matahari.Nanti kulitku akan melepuh, dan rasanya sakit sekali.”

“Yaaah,” seru lelaki itu, tidak senang.

“Maaf, Yoongi. Tapi kau masih tetap jadi temanku, ‘kan?”

“Tentu!”

Jawaban itu membuat Jiae melompat kecil dan tersenyum lebar.“Bagaimana kalau kau saja yang masuk ke sini?”

“Maaf, Jiae. Tapi aku harus terkena sinar matahari, atau aku akan hilang.”

“Hilang?”Jiae mengernyit bingung.

“Aku adalah peri musim semi,” ucap Yoongi.“Jika aku tidak terkena sinar matahari, aku akan menghilang.”

“Kau peri musim semi?Tapi kenapa aku tidak melihat sayap?”

Kudengar Yoongi terkekeh malu.“Ini karena aku tidak dilahirkan dengan sayap.Tapi aku bisa terbang.”

Bola mata Jiae perlahan meninggi, kemudian ia bertepuk tangan dengan semangat. Pasti iabaru saja melihat Yoongi terbang.Meski aku tidak terlalu yakin; apakah Yoongi sungguh-sungguh peri musim semi?

Memangnya yang seperti itu ada?

“Ah, seandainya aku bisa keluar.Aku ingin terbang bersamamu.”

“Tidak apa-apa.Kita ‘kan bisa mengobrol disini.”

Hari itu adalah pertama kalinya aku mendengar Jiae bicara lebih dari lima menit. Juga, pertama kalinya ia tertawa selepassaat ini.

*

Sekitar seminggu kemudian, aku tak pernah melihat Jiae bicara pada Yoongi.Ia juga tak pernah menoleh ke arahku. Namun, tangannya selalu sibuk dengan kertas dan pensil warna, nyaris setiap waktu.Aku pernah mengintip beberapa kali, dan yang selalu kulihat adalah sketsa wajah seorang lelaki dengan rambut merah muda, senada dengan kelopak-kelopak bunga di sekitar wajah tersebut.Warna manik matanya senada dengan rambut Jiae, dan senyumnya begitu memikat.

Jiae tidak hanya menggambar wajah Yoongi.Ia juga menggambar beberapa pemandangan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Yang paling kusuka adalah gambar kursi taman di tengah pepohonan sakura yang kelopaknya berguguran dimana-mana. Tidak ada manusia di gambar itu, tidak juga Jiae dan Yoongi.Hanya ada kursi dan pepohonan. Aku bahkan tak melihat matahari, padahal aku ingat Yoongi berkata ia akan hilang jika tubuhnya tidak terkena matahari.

Mungkinkah itu sebabnya Jiae tidak menggambar satu pun manusia di gambar tersebut?

Jiae baru selesai menggambar ketika matahari mulai naik semakin tinggi di langit.Ia menghampiriku, lalu menempelkan semua gambarnya padaku.

“Halo!” sapa Jiae sambil menempelkan satu per satu kertasnya.

“Halo, Jiae. Gambarmu bagus,” pujinya.

“Terima kasih.Kau suka?”

“Suka sekali!Apalagi yang ini.”Jari Yoongi terketuk pada salah satu area yang ditempeli kertas.“Aku ingin piknik denganmu disini.Dimana kau lihat tempat ini?”

“Di mimpiku,” ucapnya.“Di sana tidak ada matahari.Sesuai denganku yang tidak bisa terkena sinar matahari.”

“Tapi bagaimana denganku?”

“Kau juga tak akan menghilang, Yoongi.Kita berdua akan main petak umpet, mengejar kelopak bunga, atau membuat time capsule.”

“Kurasa tempat yang seperti itu tidak ada, Jiae.”

Jiae tersenyum kecil.“Karena itulah aku bilang padamu, bahwa aku melihat tempat ini di mimpiku.Di dunia ini, tempat seperti itu tidak pernah ada.”

Senyum Jiae perlahan memudar, digantikan tangis.

“Jiae, kau kenapa?” tanya Yoongi.

“Aku tersiksa karena penyakit ini, kau tahu?” isaknya.“Aku ingin keluar dari sini dan bermain denganmu Yoongi, meski hanya sekali.Tapi aku sudah janji pada kakakku untuk tidak mencelakakan diriku sendiri.Apa yang harus kulakukan?”

Tak ada jawaban terdengar, hanya isak tangis Jiae yang terus mengalun.Perasaanku campur-aduk, menyesali keinginanku dulu untuk menghadirkan seseorang yang bisa menemani Jiae. Apalagi ketika aku tahu bahwa akhirnya akan  jadi seperti ini.

“Jiae,” ujar Yoongi.“Kau tak perlu sedih. Akan ada suatu masa, mungkin tidak sekarang, dimana kita bisa bermain tanpa perlu mengkhawatirkan kulitmu yang akan melepuh atau aku yang akan menghilang. Untuk sementara ini, tetaplah jadi temanku.Setuju?”

Kulihat Jiae mengangguk sambil tersenyum kecil.Keduanya kemudian kembali membahas gambar-gambar yang telah dibuat Jiae.Setidaknya untuk sementara ini, Jiae tak perlu bersedih.

Sementara Jiae mengobrol dengan teman barunya, aku kembali berdoa pada Tuhan. Jika, hanya ada satu cara bagi Jiae untuk bahagia, maka tunjukkanlah cara itu padanya. Selama hampir satu tahun tinggal bersamaku, yang ia inginkan hanyalah bermain di bawah matahari bersama Min Yoongi, Peri Musim Semi yang entah sungguh ada atau tidak.

Meski itu artinya aku tak akan pernah bisa melihat Jiae lagi.

*

Ketika udara mulai terasa lebih panas, lalu angin bertiup terlalu pelan, hanya ada satu arti.

Musim semi akan segera berlalu, digantikan musim panas.Itu tandanya, sudah setahun lamanya Jiae tinggal disini.

Pagi itu, ruangan terasa amat sepi. Matahari belum menunjukkan keberadaannya, itu artinya Yoongi tak akan datang. Ia akan menghilang saat matahari tak menyinarinya, ingat?

Biasanya, Jiae sudah bangun untuk melanjutkan gambarnya. Tapi, ia sudah berhenti melakukannya sejak beberapa hari lalu. Kau mungkin berpikir Jiae sudah lelah, tapi kau salah.Jiae mungkin masih melanjutkan kegiatan menggambarnya, tapi bukan di ruangan ini.

Ia melanjutkannya di tempat yang ia lihat di mimpi. Tempat yang ingin ia kunjungi bersama Min Yoongi, teman di musim semi-nya.

Aku masih ingat hari dimana doaku dikabulkan dengan sangat jelas, seperti kemarin.Jiae sedang menggambar seperti biasa, namun tiba-tiba napasnya melambat.Ia mengeluh sesak, dan jemarinya menekan tombol di atas kasurnya dengan terseok-seok. Tak kunjung didatangi, Jiae akhirnya bangkit dari kasurnya. Belum jauh ia melangkah, tubuhnya roboh ke lantai.

Pria berjas putih yang sepertinya sudah lama tidak kulihat masuk ke ruangan dengan tergesa-gesa.Beberapa pria berpakaian putih pun menggotong Jiae kembali ke kasur. Gadis itu tidak merintih seperti ketika ia terkena sinar matahari setahun lalu. Aku bahkan tidak menemukan tanda-tanda gadis itu sedang bernapas.

Apa jangan-jangan dia…?

Ketika pria berjas putih itu menggelengkan kepalanya sambil melepas kacamatanya dengan berat hati, kulihat seorang pria berpakaian putih menaikkan selimutnya sampai menutupi wajah Jiae. Meski aku hanya jendela, aku tahu apa arti dibalik gestur tersebut.

Doaku telah dikabulkan.Sekarang, Jiae telah berada di tempat yang dilihatnya dalam mimpi, bersama Min Yoongi.

Oh iya, barangkali kau tidak menyadari bahwa ada satu benda yang tak pernah dipindahkan dari ruangan ini. Benda itu masih tertempel padaku, dengan bagian depan menghadap ke luar. Beberapa kali kurasakan ada jemari yang mengetuk di belakangku, menunjuk gambar tersebut.Aku memiliki firasat bahwa itu adalah jemari Jiae atau Yoongi, karena aku mendengar tawa yang begitu familiar setelahnya, tapi firasat hanyalah sekadar firasat.

Meski, ada tigahal yang terjadi di pertengahan musim panas yang membuatku yakin “firasat”-ku saat itu bukanlah sekadar firasat.

“Lihat, Yoongi,” ucap seorang gadis sambil mengetukku. “Mereka masih menempel gambarku di jendela ini.”

“Untuk apa?Kita sudah sering ke tempat ini, bukan?”

Itu yang pertama.

“Supaya kita selalu berkunjung.Memangnya kau tidak mau berterimakasih pada jendela ini?”

“Untuk apa?Ia hanya jendela.”

“Tentu saja karena telah menjadi perantara kita dulu!Cepat, berterimakasihlah!”

Itu yang kedua.

“Iya, iya.Terima kasih sudah jadi perantara untukku dan Yoo Jiae, Jendela.”

Dan itu yang ketiga.

Masih ada lagi percakapan yang berlangsung di antara mereka. Aku mendengar Jiae yang beberapa kali bersorak karena sekarang ia tak perlu takut terkena sinar matahari, dan Yoongi yang ketakutan jika ia tak terkena sinar matahari.

Jari Jiae tidak lagi menempel padaku, dan aku dapat mendengar suara tawa mereka menjauh dariku.Mungkin mereka sudah punya rencana untuk pergi ke suatu tempat untuk bermain.

Kau mungkin berpikir kisahku berakhir sedih.Aku harus menyaksikan banyak kematian dan perpisahan di ruangan ini, bahkan aku harus berpisah dengan gadis seceria dan se-”hidup” Yoo Jiae.Tapi bagiku, jendela rumah sakit tempat Jiae tinggal selama hampir setahun terakhir, kisahku bukanlah kisah yang berakhir sedih.Sebaliknya, aku bahagia pernah mengenal Jiae.Gadis belia yang menemukan kebahagiaannya di bawah sinar matahari dan saat bersama teman barunya, Min Yoongi.

[Ah, sebelum kau menyelesaikan ceritaku, bisakah aku minta tolong?

Jika kau melihat gadis dengan senyum yang cerah, mata yang indah, tawa yang merdu, berambut coklat dan memiliki poni sedang berjalan di sisi lelaki berambut putih, mata sewarna dengan rambut sang gadis, dan senyum yang amat memikat, katakan pada mereka bahwa bingkai jendela rumah sakit tempat pertama kali mereka bertemu pun merasakan syukur dan terima kasih yang sama besarnya seperti kalian.

Oh, dan, katakan pada mereka untuk selalu berbahagia!]

-E N D-

A/N

Lovelyz’s Yoo Jiae! Happy birthday to you~ Terima kasih sudah bekerja keras sejak awal, bertahan di WoollimEnt sampai Lovelyz lengkap—dalam arti yang sebenarnya—dan tetap menjadi kuat meski banyak orang yang meragukanmu. Kami, Lovelinus, bangga dan cinta padamu!<3 Saat kau berjanji untuk tetap bersama Lovelyz dan Lovelinus sampai kapanpun, saat itu pulalah kami menjanjikan hal yang sama.

Dan, halo. Senang bisa kembali ngirim tulisan ke sini setelah minggu-minggu yang sulit T.T Semoga hari kalian berjalan baik, readers!

As always, tinggalkan jejak meski hanya satu kata, supaya aku tahu bahwa karyaku setidaknya pernah diintip u,u

Terima kasih sudah membaca!^^

Advertisements

10 thoughts on “[A New Trilogy] 1/4 of 12

  1. Pertama nebak, sudah kuduga kalo itu bukan Jiae tapi kaca atau dinding. Terus agak ngecoh karena aku kira itu suga pov yang jadi benda mati. Dan endingnya, kukira ini plot twist kak night. Soalnya aku ngira kalo si aku itu bakal disadari sama Jiae terus Jiae bakal sembuh, atau yang bahagia lainnya lah…

    Tapi sempet bingung waktu diawal itu, aku ga tau itu typo atau bukan. Kalimatnya ” aku tidak pernah tau apa nama penyakit mereka ‘lamai’ hingga membuat mereka harus bertemu denganku.”, aku bacanya sih gitu. Tapi aku ga bermaksud apa-apa kok, cuman kebingungan aja karena kalimat itu yang salah satu katanya membuat aku jadi pusing…

    Overall aku suka kok, sedih-sedih bahagianya dapet/ini gimana sih/ sekali….dan semangat terus setelah lewat minggu sulitnya, kali ini aku yang harus menghadapi minggu sulit UKK^^

    Liked by 1 person

  2. about the typo, yap T.T aku tuh orang yg ga begitu teliti soal revisi. tiap kelar nulis, ga pernah recheck. lgsg kirim. maaf yaah 😦 btw itu seharusnya ‘alami’ hehe .-.

    also about the ending, aku udah nyaman buat angst. dan ini sama sekali berlawanan dgn temanya; yakali gitu kan ultah bersedih2an, tapi ‘kupaksakan’ momen yoonae yang main bersama setelah kepergian gadis itu supaya ga sedih2 amat’-‘

    senang kamu suka>< semangat ukknya! semoga dapet hasil terbaik~😆

    Like

  3. AKU TUH GAK BISA DIGINIIN. Kenapa orang2 jago bgt buat yg sedih2 sih? Gagal paham saya :”)

    Imut bgt tapi…trus, Jiae yg udh bisa liat Yoongi dr awal tuh sedih jg. Kek pertanda kalo dia semakin masuk ke dunia merekaa yang udh tiada :((

    Pergolakan batin sih T^T padahal udh wanti2 diri sendiri kalo ini gak bakal berakhir hepi hepi :(((

    Tuh banyak emot sedihnya tuh :((( Iya tp aku suka…tp gak suka…

    Eyatapi ini smooth seperti biasa, Night. Ndak kek aku akhir2 ini yg rada naik turun dan em…masih blm menemukan gaya aku :”) /loh curhat colongan/

    EH, SEMANGAT PERSIAPAN UJIANNYA NIGHT!

    Liked by 1 person

    • harusnya aku yang ngmg gitu kaa. kenapa orang2 (especially kak azel) jago bgt buat yg fluff2 sih? yg senang2 aja dari awal sampe akhir, gitu T.T

      imut tapi sedih itu gimana ya ka, maksudnyaㅋㅋ

      aku jadi ngerasa bersalah, wkwk udah menggolak batin reader malem2 xD

      udahlah kak, suka aja 😉 i know you like it mihihi~😁✌

      glad that you like it kak~😆 justru menurutku yg naik-turun itu jadi ciri khasnya kak azel? bukan milik kak azel namanya kalo belom ada naik-turunnya /apaini mksdnya/

      btw aku keterima di undangan kak, jd dah santai HAHA. tapi kukembalikan semangatnya buat kakzel, biar tugas/proyek/ff-yang-masih-gantung cepat selesai😊😊

      Liked by 1 person

      • Hem….aku blm masuk jago kok :”) tp ya, mungkin karena aku teh sangat mendambakan kefluffyan itu? Gitu? /halah ketauan jomblo ngenesnya kamu…/

        Ada imutnya…tp kalo disaksikan bener2, ha, sedih T^T

        Beuh, kek berasa naik gunung gitu ya? XD /apa?/

        Huwaaaaa the best :””D yoksi Nighty mah :* ugh, tolong kalimat penyemangatnya disertai dngn kehadiran ff gitu loh biar ku lebih bahagia tralala :””) UGH BANYAK BGT EMNG YA UTANG AKU? /melirik semua project yg terbengkalai/ /lalu baper sendiri T^T/

        Liked by 1 person

  4. Kenapa dia harus sakit? Kenapaaaa?!?!?! 😱😱😱 /gak woles/

    Keren ceritanya, ada peri musim semi. Mengingat masa kecilku yang penuh dengan fantasi /apa/
    Juga masa kecilku yang selalu dihampiri oleh orang berjas putih itu 😞

    Apalagi perinya cuma bisa dateng gara-gara ada cahaya matahari, jadi keinget sesuatu /krikkrik/

    Terus berkarya ya! Thalanghaeee~~~💐(?)

    (Maaf komennya gaje)/?

    Liked by 1 person

  5. Aku baru nyadar si ‘aku’ tuh jendela pas Jiae nempelin gambarannya:’)
    ;AAA;
    Ini, dari awal aja udah sedih ya
    Tapi kenapa bisa ada manis-manisnya? :’)
    Contohnya: Jiae yang nemuin teman, meskipun dia peri (hihi, yoongi jadi peri)
    Meskipun akhirnya dia harus ninggalin dunia
    Tapi itu endingnya entah kenapa bikin aku senyum-senyum, Yoongi dan Jiae kaya ada di situ, Jiae bahkan berterima kasih sama si jendela 😀
    Good^o^

    Liked by 1 person

    • halo ai^^ aku malah ngiranya org2 bisa nebak pov si ‘aku’ dari awal, sangking gabisa-nya aku utk ngumpetin u,u

      karena ini untuk project ultah T.T aku udh janji sama diri sendiri /halah/ utk engga buat ff yg angst utk project semacam ini. jadilah kutambahi madu(?) disana sini U.U

      soalnya jiae diajarin utk tahu berterima kasih haha /apa😂 jadi diajaklah teman barunya itu utk nengokin benda mati cuma buat blg makasih (padahal direspon juga kaga.-.)

      makasih aihara, sudah mampir dan komentar^^

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s