[A New Trilogy] My Magic

my magic

Xika Nisha

Special event for Jiae Birthday

A New Trilogy – What Will Happen in Spring?

Yoo JiAe [Lovelyz] || Jeon Wonwoo [Seventeen] || Sci-fi || Mariage-life || romance || Pg-15 || Ficlet

Inspired : MV You and I – IU

.

Cinta itu gila.

Bukankah begitu?

“Demi kamu,

Tidak ada yang mustahil

Bahkan waktu

Tidak berani memisahkan kita.”

Seoul, Korea Selatan

21 Mei 2046

Istimewa untuk hari ini, Jiae memakai gaun putih dengan rambut kusut yang dibiarkan terurai. Ia menyingkap gorden, mencoba melihat aktivitas manusia dari balik jendela rumahnya. Mungkin saat ini Jiae terlihat seperti hantu di siang bolong karena penampilannya.

Dari arah jam sepuluh, ada sepasang ibu-ibu yang saling berbisik sambil memandang rumahnya dengan tatapan aneh. Di trotoar, ibu dan anaknya melewati rumah Jiae. Sang anak menatap penasaran ke rumah besar itu, sampai ibunya menutup mata sang anak dan berjalan dengan cepat. Beberapa pemuda yang juga lewat iseng melempar batu ke rumahnya sambil tertawa.

Jiae berekspresi datar saat melihat kejadian-kejadian itu. ia sudah biasa dengan pandangan masyarakat kepadanya. Saat keluar rumah, orang sekitar akan menjauhinya, layaknya wabah yang patut dihindari. Dan Jiae tidak peduli dengan kenyataan itu. Jadi anti sosial tidaklah seburuk yang dibayangkan.

Awalnya hidup wanita itu berjalan normal seperti orang lain, hingga sebuah insiden tiga puluh tahun silam merubah segalanya. Banyak rumor yang menyebar mengenai kehidupan Jiae. Rumor yang paling santer terdengar adalah; Jiae depresi ditinggal mati suaminya, bahkan mayat sang suami ia simpan di rumah berlantai dua itu. Dia marah saat orang-orang menyebarkan berita tidak benar mengenai suaminya. Jeon WonWoo –sang suami- belum meninggal. Mereka tidak tahu kalau dia memutuskan untuk tidur panjang.

Puas menatap orang-orang penakut itu, Jiae berbalik dan menuju kamarnya. Saat pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju kepada sosok lelaki yang terbaring di ranjang kebesaran mereka. Sweater putih melekat sempurna padanya. Lelaki itu terlihat seperti malaikat saat tertidur. Di atas nakas, terletak piring yang berisi tiga tumpuk donat dengan lilin besar ditengahnya. Jiae mengambil kursi dan duduk manis sambil memangku kue sederhana itu.

“Hari ini ulang tahunku. Tidak ingin bangun dan mengucapkan sesuatu?” ia menunggu respon dari Wonwoo dengan terus tersenyum. Tapi lelaki itu tidak bergeming. Untuk ketiga puluh kalinya tidak ada ucapan selamat ulang tahun dari Wonwoo. Matanya yang mulai berkeriput sudah tidak lagi meneteskan air mata. Hanya memancarkan kesedihan yang mendalam.

Jeon Wonwoo selalu jadi yang pertama. Selalu!

Jiae kembali mengulas senyum lebar walau berakhir dengan kepahitan di wajahnya. “Sebentar lagi… sebentar lagi kita akan kembali…. Kembali ke masa-masa bahagia kita.”

Ia menyulutkan api ke lilin dan segera menangkupkan tangannya sambil menutup mata. Mengulang doa-doa seperti tahun lalu. Berharap Tuhan merestui rencana gilanya hingga berhasil. Jiae membuka matanya dan meniup lilin dengan keras. “Selamat ulang tahun Jeon Jiae yang ke-54!” ucapnya pada diri sendiri.

Tangan dingin sang suami diciumnya dengan penuh cinta, seakan disitu adalah letak kekuatannya. “Doakan aku sayang, semoga kali ini aku berhasil.” Wanita itu segera keluar dari kamar setelah mengecup dahi Wonwoo. Ia menutup pintu sepelan mungkin agar lelakinya tidak bangun. Dengan langkah ringan, Jiae menuju pintu yang tepat di depan pintu kamar mereka.

Saklar lampu dinyalakan hingga terlihat apa yang ada didalamnya. Sebuah box telepon yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa oleh Jiae, berdiri tegak di tengah ruangan. Di dalamnya berisi seperangkat komputer yang telah diatur programnya. Di luar box tersebut, terdapat mesin yang menghubungkan setiap kabel di box.

Benda itu adalah mesin waktu. Jika mesin ini berfungsi, akan menjadi penemuan paling menggegerkan di abad 21. Sebuah mesin yang mustahil tercipta, nyatanya mampu dibuat oleh seorang wanita yang dianggap gila oleh orang-orang.

Karena Jeon Jiae membuatnya dengan cinta.

Dadanya berdebar saat masuk ke box itu. terakhir kali mencoba mesinnya, ia hampir mati tersetrum karena tegangan listrik yang tidak sesuai perkiraan. Kertas birunya berakhir di tempat sampah, dan terpaksa mengulang kembali dari awal.

Komputer telah menyala. Layarnya dominan biru dengan berbagai perintah yang Jiae rancang hingga sepuluh tahun lamanya. Dia mengamati bagian atap yang dilapisi corong besar dengan pipa panjang yang terpasang sampai ke mesin di luar. Ia akan membuka dimensi baru dengan bantuan corong itu. Jari-jari manisnya mengetik beberapa perintah di komputer dengan tangan bergetar. Seperti percobaan lainnya, harapan yang besar membuat Jiae takut.

Tahun : 2016

Tanggal : 21

Bulan : Mei

Jam : 20.00

Tempat : Zebra Cross, Wings Cafe, Seoul, Korea Selatan.

Jiae menarik nafas, mengumpulkan keberanian. Jari telunjuknya yang akan mengeksekusi apakah percobaan yang ke-1561 berhasil… atau gagal. Jiae menghitung dalam hati sebelum menekan tombol enter dengan perasaan gugup.

Satu… dua… tiga…

Klick!

Mendadak bumi bergetar. Semua benda-benda jatuh berantakan. Jiae terkejut dengan kejadian tersebut. Ia langsung duduk dan bersembunyi di bawah meja komputer. Angin bertiup sangat kencang, awan menggumpal, langit menggelap. Suasananya sangat menakutkan.

Jiae teringat sesuatu saat ia mencoba melindungi dirinya. Jeon Wonwoo, suaminya… apakah dia baik-baik saja? Dengan modal nekat, wanita itu keluar dari bawah meja. Tapi sebelum sempat keluar dari box, ia sudah terpana duluan oleh apa yang ada diatasnya. Sebuah lubang besar terbuka. Tidak terlihat jelas apa yang ada didalamnya. Jiae menarik sebuah kesimpulan. Mesin waktunya berhasil. Dua puluh enam tahun ia merencanakan semua ini, dan akhirnya terwujud.

Jiae menangis haru. Wajahnya yang tidak lagi kencang mulai basah akan air mata. Tangan keriputnya menggapai lubang tersebut. Dan saat itu, Jiae merasa dirinya tertarik ke dalam dengan cepat.

..

Seoul, Korea Selatan.

21 Mei 2016.

Wush!

Tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang. Jiae hampir hilang keseimbangan. Ia terkejut dan bingung dimana dirinya berada. Jiae memperhatikan lingkungan sekitar dengan seksama. Rasanya seperti dejavu melihat dirinya ada di pinggir trotoar, menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala.

Ada yang aneh, dan Jiae tidak tahu apa itu.

Memakai gaun putih, rambut terurai kusut, bahkan tak memakai alas kaki adalah sebuah kegilaan yang pernah Jiae lakukan tanpa disadari. Apa yang terjadi padanya?

“JEON JIAE!”

Seorang lelaki tengah melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum lebar terbingkai di wajahnya. Jiae balas melambaikan tangan. Ia tahu siapa lelaki di hadapannya.

Jeon Wonwoo, suaminya. Dan selamanya milik Jeon Jiae.

Lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Jiae makin melebarkan senyumnya saat langkah Wonwoo semakin dekat. Ia merasa ini bukanlah sebuah dejavu semata. Apalagi melihat sebuket bunga di tangan lelakinya. Tapi Jiae tidak peduli. Masalah ini akan dipikirkannya nanti setelah berhadapan langsung dengan Wonwoo.

PIIP! PIIP! PIIP!

Mata Jiae membesar saat melihat ada mobil putih tak terkendali dengan kecepatan tinggi akan menerjang Wonwoo. Gadis itu seakan tersadar kenapa ia berada disini. Menyelamatkan suaminya dari tidur panjang.

Jiae lari, mencoba melindungi Wonwoo. Ia tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi. Ingatannya tiga puluh tahun ke depan berputar dengan jelas. Ia mengingat semua. Wajah damai Wonwoo yang tertidur seakan menjadi mimpi buruk jika Jiae tidak menolongnya sekarang.

Mata Wonwoo yang masih terpaku pada mobil, terkejut saat merasa pelukan Jiae. Bahunya jadi basah karena tangisan wanitanya. Sinar lampu mobil sudah tidak mereka pedulikan, bahkan teriakan orang-orang sekalipun. Karena saat itu, Wonwoo lebih peduli kepada Jiae yang terus bergumam hal yang sama.

“Kalau kamu mati, aku akan kembali jadi orang gila.”

“Hidup… atau mati bersamaku.”

END


A/N :

Sci-fi gagal! *maafkan aku kakak-kakak karena tidak menjalankan misi dengan baik T_T

Happy birthday mba Jiae!!!

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s