[A Stepping Stone] Terima Kasih

january 12, 2016

Love is…a Stepping Stone: Terima Kasih

Author: azeleza

Cast : Yoo Jiae [Lovelyz] || Min Yoongi [BTS]

Genre : Romance

Length : ~ ❤ words

Rating : G

◊◊◊ Serakah ◊ Warna Penguntit Penyesalan ◊  KYP1 Sama ◊◊◊

Summary: Hari ini ulang tahunnya, tapi….

◊◊◊ TK ◊◊◊

Kenapa aku tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun?

“Revisi? Tapi sekarang ulang tahunku!” pekik Yoo Jiae frustasi setengah gila. Sedangkan Min Yoongi tetap menarik kursi untuk duduk, lantas membuka laptop dan berkas Laporan Pertanggung Jawaban yang sudah Jiae selesaikan cepat-cepat dua hari yang lalu agar ia bisa bebas hari ini.

“Kau boleh pulang. Aku yang selesaikan. Ini bukan salahmu”

Memang!

Ini salah staf administrasi yang keliru memberikan informasi terkait para sponsor yang telah menyalurkan dana ke acara mereka. Lalu, staf –yang namanya disamarkan karena Jiae sudah siap membawa nama itu ke dukun terdekat untuk menyantetnya- itu kekurangan akal sehat dengan meminta revisi LPJ besok pagi agar ia bisa mengurusnya sekalian dengan berkas lain ke Kepala Sekolah.

Hei, ia pikir kehidupan para siswa hanya ada di sekolah apa?

“Ketua, aku benar-benar boleh pulang duluan?” Jiae mengerutkan dahi. Appa dan Eomma berjanji akan pulang ke rumah untuk merayakan ulang tahunnya…well, meskipun nanti akhirnya tidak jadi, tiba-tiba ada meeting atau apalah itu –seperti yang sudah dua tahun ini berlangsung- Jiae tetap ingin pulang cepat karena Bibi Lee Jung selalu menginap di rumah ketika ulang tahunnya. Yang berarti Jiae bisa merias anak laki-laki Bibi Jung dengan baju-baju pemberian Miae unnie. Namanya Jeon Jungkook dan tangisannya sering membuat Jiae senang.

Kesempatan ini tidak boleh diabaikan, kan?

Sedangkan Yoongi sudah keluar dari dunia ini…lalu masuk ke dalam dunia sendiri dengan jemari yang menari di atas keyboard. Kecepatan tangan laki-laki itu dalam mengetik membuat Jiae bergidik, lalu sekarang malah melempari Jiae dengan perasaan bersalah jika ia memutuskan untuk keluar dari ruangan. Apalagi ketika ia tahu bahwa sang Ketua harus menghadiri pertemuan dengan komite program pertukaran pelajar sore ini. Belum lagi  dengan turnamen yang sedang diikuti klub basket.

Lagipula… LPJ acara kesenian memang tanggung jawabnya, kan? Agh, menyebalkan.

“Ketua, dimana semua kuitansi pembayarannya? Aku akan rekap ulang,” ucap Jiae, yang langsung ia sesali sedetik setelah suaranya ditangkap oleh Yoongi.

“Laci di dalam mejaku”

Tuh, kemana rasa simpati milik Min Yoongi? Laki-laki itu tidak merasa bersalah sama sekali karena telah membuat Jiae terkurung di tempat ini lebih lama lagi.

’Key…aku ambil ya, walaupun aku seharusnya sekarang sudah sampai di rumah dan memakan kue ualng tahun,” ucap Jiae berusaha sarkas.

Tapi ya, namanya Min Yoongi. Peduli apa laki-laki itu? Tapi hei, Jiae, bukankah tadi laki-laki itu sudah mengizinkannya pulang? Ah, kesal!

Jiae kesal karena tidak sampai hati meninggalkan Min Yoongi mengerjakan semua ini seorang diri!

Sampai jam di ruang OSIS menunjukkan pukul empat sore untuk memberi tahu bahwa Yoongi harus pergi ke ruang pertemuan di gedung A, bahkan sampai laki-laki itu kembali pukul enam sore, Jiae belum mendengar ucapan selamat ulang tahun keluar dari mulut laki-laki itu.

Ah, ‘selamat ulang tahun’ terlalu muluk, Yoo Jiae. Bangun! Ucapan ‘maaf’ saja merupakan kata yang nyaris langka. Seakan Yoongi memang tidak diajari cara mengeja kata itu saat ia masih berumur lima.

“Ketua, aku sudah selesaikan semuanya. Periksa lagi, gih. Biar aku bisa cepat pulang,” kata Jiae sambil merapikan perlengkapannya, tanpa memberikan perhatian pada Yoongi karena seisi semesta kecuali Yoongi tahu betapa kesalnya ia saat ini.

“Ini. Sisa pertemuan tadi” kata Yoongi, yang akhirnya menarik perhatian Jiae.

Satu kotak berlabel The Bakery Chef ukuran sedang muncul di atas mejanya. Masih dibungkus rapi.

Masih ada bon bayarannya, malah….

Dan ketika Jiae ingin mengeluarkan tanda tanya, Yoongi sudah terlanjur mengambil pasokan udaranya dengan memberikan sebuah senyuman yang selalu muncul tanpa bisa ia duga.

“Terima kasih, Yoo Jiae.”

 

Kenapa harus ‘selamat ulang tahun’?

 

Ke mana perginya para ilmuwan yang pamer bahwa mereka sedang mengembangkan mesin waktu? Kenapa benda itu belum muncul juga untuk bisa Jiae beli di Yongsan Electronics Market?

Tolong, Yoongi sedang berbicara dengan Eomma. Sedangkan sekarang Jiae tahu mengapa laki-laki itu belum meresponnya. Belum membalas chat –yang jumlahnya melebihi dua puluh- yang Jiae kirimkan sejam lalu sebagai kode agar Min Yoongi sadar kalau hari ini adalah hari ulang tahun kekasihnya.

Pastinya juga, Yoongi belum membaca chat yang terakhir. Yang isinya “Kita putus saja, Yoongi.” Belum membuka SNS untuk melihat update terbaru Jiae yang bertuliskan “Finally adult. Finally alone.

Tunggu, bagaimana kalau ternyata sudah?

Oh, siapapun tolong berikan Jiae hadiah sebuah mesin waktu. Jiae benar-benar ingin pergi ke masa sebelum cintanya terjatuh pada sosok Min Yoongi.

“Jiae, sudah bangun? Yoongi bilang ingin mengajakmu jalan-jalan malam ini,” ucap Eomma mendapati kehadirannya di balik tangga.

“Ah, erm, iya,” ucap Jiae kikuk sambil mendekat ke ruang tamu. Lantas sang ibu tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua. “Sudah selesai?”

Yoongi mengangguk-angguk, kemudian menyandarkan punggung di sofa. “Aku akan berangkat Senin depan.”

Kesedihan kembali menghujam.  Menjadi salah satu alasan utama kenapa Jiae akhir-akhir ini selalu uring-uringan. Bahkan satu loyang kue ulang tahunnya sama sekali tidak ia pedulikan. Laki-laki di hadapannya akan pergi ke negeri orang untuk fokus mengejar mimpi. Melangkah pasti di jalan yang memang laki-laki itu inginkan. Lalu meninggalkan Jiae sendirian dengan keraguan atas pilihannya menjadi seorang fashion designer, dan secara umum, keraguan atas kehidupan.

Jiae menghela napas kala keheningan masih menyertai keduanya. Keinginan menghentikan hubungan ini bukan hanya karena Yoongi tidak mengingat ulang tahunnya. Hei, itu alasan receh, walaupun memang berkonstribusi dalam menambah beban pikiran.

Sembilan belas tahun membuat konsep kedewasaan menghujani Jiae dengan kekalapan. Tanggung jawab. Masa depan. Pilihan. Ketidakpastian. Yoongi paham semua itu, kan? Tapi laki-laki itu masih tetap yakin dan siap untuk melangkah maju. Berbeda dengan dirinya yang ketakutan lantas dihantui menyeramkannya asumsi atas ketidakhadiran laki-laki itu di sisinya.

Perempuan lemah dan manja seperti dirinya hanya bisa membuat laki-laki itu repot, kan?

Kala Jiae mengangkat kepala untuk melihat sang kekasih, senyum tipis sudah terlukis di sana. Seakan Yoongi telah mendapatkan pemahaman atas keheningan yang telah berjalan lebih lama dibanding biasanya.

“Ayo jalan-jalan, Yoo. Es krim? Kue tart? Jeokbal? Kau bingung? Tenang saja. Kita akan mencicipi semuanya malam ini. Atau sampai besok pagi jika kau mau. Aku sudah mendapat izin dari Eommamu. Dan kunci mobil Appamu. Ha.”

Seharusnya Jiae keheranan atas sikap yang baru saja Yoongi berikan. Yoongi bukan orang yang suka jalan-jalan –dan makan manisan. Kendati demikian, laki-laki itu paham bahwa yang Jiae butuhkan adalah semua hal menyenangkan yang bisa perempuan itu dapatkan. Sejatinya, Yoongi pun paham sekedar kalimat penyemangat ataupun saran hanya akan memperburuk suasana hati.

“Yoongi, bagaimana dong…aku…cengeng banget,” ucap Jiae, setengah terisak, siap menjerit menangis.

Yang memang akhirnya perempuan itu lakukan ketika Yoongi berlutut di hadapannya, mendekap kedua tangan Jiae dengan kehangatan miliknya. “Ya, gimana…”

Hanya ada tangisan. Dan puluhan perasaan campur aduk yang sudah terlalu lama menumpuk.

“Cengeng atau engga, aku tetap suka kok, Yoo”

Lalu segelak tawa di sela derai air mata. “Jangan sok manis, Yoon. Menyeramkan.”

Yoongi tersenyum, sedikit malu, lalu bergerak untuk mengecup tangan sang kekasih. “Kita akan baik-baik saja, Yoo Jiae. Asal tidak ada lagi ‘Kita putus’ atau kalimat sejenisnya di SNS manapun, sih.”

Kali ini wajah Jiae menjadi merah, dua kali lebih merah dari biasanya. “…maaf,” ucap Jiae akhirnya. “Aku cuma-”

“Iya, iya. Gapapa. Apa yang kau takutkan?” tanya Yoongi, kali ini tangannya bergerak untuk mengunci genggaman keduanya.

“Semua. Semuanya.” Tangisan lagi. Sedangkan yang Yoongi lakukan hanyalah diam, mencoba menenangkan dengan eratnya genggaman.

Bangkit dari keterpurukan harus didasari dan disadari dari dalam diri.

Sedangkan Yoongi hanya memiliki waktu dua hari untuk menemani Yoo Jiae dan memberikan kepastian bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Mereka akan baik-baik saja.

Mereka pasti bisa menjalani hubungan ini. Yoongi paham betul Jiae sudah tahu itu.

Tapi, manusia memang tidak langsung bisa menulis, kan? Pemilik taman kanak-kanak bisa kehilangan pekerjaan jika seorang balita langsung lancar menulis setelah satu kali mereka memberi tahu bagaimana cara memegang pensil dan menggerakkannya di atas kertas.

Oh, apa Yoongi baru saja menyamakan Yoo Jiae dengan seorang balita? Mungkin, saat ini.

Karena sesungguhnya, yang Yoongi inginkan adalah perempuan itu melangkah pasti di jalan yang juga perempuan itu yakini. Melangkah di sampingnya walaupun jalan yang mereka pilih tidaklah sama.

“Kau bisa melakukannya,” Jiae akhirnya mengangguk pelan, masih menyembunyikan wajah di balik lebat rambut hitamnya.

“Kita akan baik-baik saja. Terima kasih, Yoo.”

 

Dan, alih-alih bingkisan, aku ingin memberimu lebih dari itu.

 

Jiae harus berhenti bertingkah seperti ini. Memikirkan Min Yoongi sampai tugas-tugasnya terbengkalai ketika lelaki itu tidak menghubunginya sekian minggu.

“Pacar Noona tetap tidak menelpon juga walaupun sekarang hari ulang tahun Noona? Sudah, putus saja, deh.” Itu suara terakhir yang ingin Jiae dengan hari ini. “Aku ini laki-laki, Noona. Dan aku tidak akan menghubungi perempuan yang tidak lagi aku cintai.” Lalu mulutnya terbuka lebar mengerang kesakitan setelah Jiae menyentil dahinya kuat-kuat.

“Ini bukan masalah hari ulang tahun atau tidak, dasar anak kecil. Masih SMP tapi sudah sok-sokan punya banyak pacar. Dasar playboy bau kencur. Jangan ngomong cinta deh, Kookie-ah! Mau aku sebarkan foto-fotomu saat sedang pakai kostum malaikat? Atau yang pakai hotpants warna pink dan rambutmu kukuncir dua?” ancam Jiae nyaris 100% serius.

Masih mengerang kesakitan –dan ngeri karena tersebarnya foto aib itu sama sekali tidak terdengar main-main- Jungkook berbaring di atas kasur Jiae. Menunggu kakak sepupunya itu untuk memutuskan kombinasi pakaian apa yang cocok untuk dirinya kenakan dari sekian pilihan yang ada.

Tugas kampus. Dan Jungkook sudah menyerah menolak permintaan sang kakak sepupu untuk dijadikan model. Yah, lumayan, Jungkook toh senang-senang saja lemarinya dipenuhi kaus-kaus polos kebesaran yang selalu Jiae berikan sebagai imbalan.

“Omong-omong, kenapa tidak Noona hubungi duluan?”

“Tidak akan nyambung. Yoongi dan ponsel itu bukan teman baik. Ia lebih suka bawa pemutar musik kemana-mana. Baterainya lebih awet, katanya,” erang Jiae malas.

“Oh. Kalau begitu, datangi saja ke tempat tinggalnya di Amerika.”

Tangan Jiae yang sedari tadi membalik-balikkan beragam kemeja tanpa benar-benar memperhatikan seketika berhenti bergerak. “Kookie-ah,” desis Jiae pelan.

“Apa?”

“Cepat ambil ponselmu dan pesan tiket. Aku akan merapikan ini semua.”

Jungkook secepat kilat bangkit dari tidurnya. “Hah? Tiket ke mana?”

“New York, lah. Dua. Aku akan minta Eomma untuk menguangkan hadiah ulang tahunku kali ini. Kita akan pemotretan di depan Patung Liberty, atau di Times Square, atau di puncak NY Skyline sekalian,” katanya cepat sambil berjalan keluar kamar. Meninggalkan Jungkook yang masih tidak percaya bahwa gurauannya akan langsung diterima.

Dan dikonfirmasi dengan kehadiran Jiae yang menarik koper merah besar. “Cepat bergerak, Jeon Jungkook! Aku bisa gila kalau lebih lama lagi tidak tahu apakah Yoongi masih hidup atau mayatnya malah sudah ditemukan mengapung di bawah Brooklyn Bridge.”

Jungkook masih membatu di atas kasurnya, mata tetap bergerak mengikuti Jiae yang berkemas memasukkan semua kemeja properti tugas ke dalam koper, lalu mengambil tas ransel untuk beberapa baju miliknya. “Whoa, bahkan LDRan tidak membuat Noona berhenti menyukai laki-laki itu?”

Sang pemuda yang sudah terlampau terkenal di kalangan lawan jenis itu pun akhirnya mengangkat tubuh dari atas kasur kala ia tidak juga mendapat tanggapan. “Berarti nanti kita harus ke rumah lamaku. Kunci rumah singgah yang ada di Amerika disimpan di laci meja rias Eomma.”

Lagi, kalimat yang keluar dari bibir Jeon Jungkook membuat gerakan tubuh Jiae berhenti. Lantas dengan cepat Jiae memutar tubuh untuk menatap sang adik sepupu. “Maaf…merepotkanmu, Kookie-ah.”

Segenap rasa bersalah mendatanginya, lalu kesedihan. Jiae mengutuk diri sendiri karena mengeluh kala harus menerima kenyataan Yoongi meninggalkannya ke Amerika. Membuat Jiae tidak bisa melihat sosoknya setiap ia inginkan.

Manja. Kepedihan yang dirasakan bocah laki-laki kesayangannya itu pasti jauh lebih besar dibandingkan miliknya. Ini bahkan belum dua bulan. Tapi yang Jiae lakukan adalah mengeluhkan perihal ‘rasa rindu’, ‘sosok yang menghilang’, bahkan ‘status kehidupan’.

“Em, Noona? Jangan menatapku seakan aku ini seorang kucing yang belum makan dua bulan,” ucap Jungkook santai, kemudian raut wajahnya berubah datar, “Biarpun merasa bersalah, Noona tetap mau aku mengambil kuncinya, kan?”

“Tidak, tidak perlu jika ini masih terlalu menyakitkanmu, Kookie. Kita bisa menginap di hotel,” sergah Jiae yakin.

Lantas Jungkook malah tertawa, ia menggeleng dan tersenyum bersamaan. “Cinta itu menyeramkan, ya. Noona benar-benar sudah gila.”

Sedangkan Jiae hanya bisa diam, menatap punggung Jeon Jungkook yang semakin hari semakin lebar dan bidang. Enggan memberikan justifikasi miliknya kala ia tahu bahwa Jeon Jungkook sudah terlampau antipati dengan kasih sayang apalagi cinta.

Sejatinya di umur yang baru ini, Jiae akhirnya paham setiap kejadian pastilah beralasan. Kepergian Bibi Lee Jung dari dunia. Keputusan pamannya untuk menikah lagi. Jeon Jungkook yang tumbuh menjadi laki-laki yang penuh misteri.

Yoongi yang selalu sulit dihubungi. Pasti ada alasannya.

Dan saat ini Jiae hanya bisa berdoa bahwa Min Yoongi selalu baik-baik saja, kan?

 

Kau mungkin tidak tahu dan tidak perlu tahu alasanku.

 

Hitam. Semua yang dikenakan laki-laki itu berwarna hitam, kecuali sarung tangan putih. Bahkan, kantung matanya lebih kelam dari keabu-abuan.

Hitam. Dirinya pun menggunakan pakaian berwarna senada. Pemandangan ini belum lama menghilang dari bayangan. Walaupun sekarang Jiae tidak lagi berdiri di dekat pigura foto sang nyawa yang telah menyebrangi kehidupan.

Ayahnya selesai memberikan penghormatan terakhir. Kemudian mengulurkan genggaman pada laki-laki seumuran yang berdiri di samping Yoongi. Memberikan semangat dan belasungkawa. Tak luput juga melakukan hal yang sama pada Yoongi. “Selama ini aku tidak tahu bahwa Min Yooksang adalah kakakmu. Ia pekerja keras, dan kinerja baiknya bahkan sampai ke telingaku.”

“Ya…terima kasih, Ahjussi,” ucap Yoongi pelan. Jiae mampu melihat nihilnya kemantapan yang selama ini laki-laki itu sorotkan ketika sedang berhadapan dengan ayahnya.

“Jiae-ssi?” Jiae mengangguk gugup. Padahal ini bukan pertama kali ia bertemu dengan ayah Yoongi. “Bisa temani Yoongi ke kantin? Yoongi belum makan apa-apa sejak kemarin pagi.”

Jiae menatap Yoongi, yang balas menatapnya dengan tatapan paling lemah yang pernah Jiae temukan. Yoongi tidak pernah seperti ini.

“Ayo makan,” ajak Jiae akhirnya. Yoongi tidak menjawab. Lantas membuat Jiae memutuskan untuk langsung menarik lengan laki-laki itu. Dan laki-laki itu pun tidak menolak. Menurut saja tanpa satu patah kata ketika Jiae menuntunnya ke kantin sampai duduk di meja bagian sudut ruangan.

“Makan dulu, Yoon,” ucap Jiae pelan, “Dipaksa…,” tambahnya, tidak yakin dan merasa ngilu di bagian ulu. Saat kepergian Bibi Lee Jung, menelan segelas air pun rasanya sulit untuk Jiae lakukan.

Yoongi tetap bergeming menyenderkan tubuh di sudut. Matanya terpejam dan ia menghembuskan napas sebelum membuka mata. “Ia hyung yang lemah. Sering keluar masuk rumah sakit dari dulu, tapi tetap bersikeras bekerja menjadi seorang akuntan,” ucap Yoongi sambil bertopang dagu. Dapat Jiae lihat matanya yang menyipit terfokus pada titik tak nyata entah di mana.

“Sifat pekerja keras mengalir dalam keluarga kalian.” Jiae mengusap kepala Yoongi, membawa anak-anak rambut layu yang mulai melewati batas mata laki-laki itu ke belakang. Kemudian membawa kepala sang kekasih ke bahunya.

“Aku menyesal, Yoo. Dulu, kami jarang main bersama. Aku menolak bermain dengannya mentah-mentah. Berpikir itu akan membuatnya kelelahan, lalu membuat umurnya semakin pendek. Bodoh sekali.”

Jiae kembali mengusap rambut belakang Yoongi. Pemandangan masa lalu berupa Yoongi Kecil yang bertingkah angkuh dan pendiam dapat dengan mudah Jiae bayangkan. Min Yoongi yang memperhatikan orang lain dari kejauhan, menjaga orang yang ia sayangi dalam diam dan dengan caranya sendiri.

“Sebenarnya, ketika kemarin pagi dokter menyuruh kami untuk mempersiapkan skenario terburuk, aku sudah siap dengan hal itu. Dari dulu, bahkan. Ketika ia sudah harus cuci darah dua kali seminggu. Tapi ta..”

“Iya…Yoon, iya,” sela Jiae ketika ia mulai mendengar isakan begitu jelas di telinga. Jiae paham pahitnya kehilangan. Kendati ia enggan menyamaratakan emosi yang mereka rasakan.

Sekarang, Jiae menghakimi dirinya sangat jahat. Kepulangan Yoongi dua minggu belakangan ini gagal membuat Jiae berbohong bahwa ia senang. Kendati alasan kepulangan laki-laki itu adalah demi menjaga kakaknya di rumah sakit. Sedangkan, Jiae sempat marah karena Yoongi enggan meluangkan barang satu hari untuk menemaninya makan sup rumput laut.

Bersamaan dengan napas laki-laki itu yang tidak teratur menahan jeritan, bersamaan dengan bahunya yang semakin basah, Jiae hanya bisa menggumam pelan, “Maafkan aku, Min Yoongi.”

Sedangkan laki-laki itu, seperti biasa, tidak terduga bagi Jiae.

“Terima kasih, Yoo” karena sejatinya Jiae tidak paham bahwa laki-laki itu tidak bisa lebih dari bersyukur.

Yoo Jiae masih bernapas bersamanya.

 

Lagipula, ada kalimat yang lebih cocok untuk diucapkan.

 

Sungjong tidak habis pikir dengan Yoo Jiae yang belum tidur sejak kemarin demi menyelesaikan sebuah gaun ala Eropa? –entahlah, Sungjong tidak peduli namanya apa. “Get a life, Dear! Sudah berapa lama kau tidak ke salon dan makan es krim? More importanly, today is your birthday, Lord!

Jiae hanya  menerima celotehan Lee Sungjong lewat punggungnya yang tetap tegak memasang renda di bagian pundak gaun. Jika ada yang tanya seberapa berarti gaun ini bagi hidupnya, maka Jiae akan menjawab, tepat di bawah keluarganya.

Hei, ia mendapat kesempatan untuk mengisi satu halaman Vogue Korea dengan desain bajunya. Jiae sedang tidak mimpi, kan?

“Sungjong, lebih baik kau ambilkan aku air putih dan ajak Oreum main bola,” ucap Jiae cepat-cepat.

Sedangkan Sungjong –dan semua orang yang dekat dengan gadis Yoo itu- sangat mengerti jika maksud sebenarnya dari kalimat tadi adalah semudah, “Tinggalkan aku sendiri.”

Ya, sepertinya sudah ‘takdir’ bahwa Yoo Jiae dalam mode ‘terbakar’ akan sangat sulit untuk dipadamkan.

“Huf, aku pulang saja. Awalnya kupikir aku akan menemukan seorang perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu karena harus melewati ulang tahun sendiri tanpa kabar dari sang pacar.” Sungjong meraih ponselnya, kemudian menggeleng pelan melihat Yoo Jiae sama sekali tidak terpengaruh mendengar pernyataannya.

Ketika bunyi pintu tertutup menghilang dari pendengaran, ruangan langsung dipenuhi kata-kata umpatan. “Agh, Lee Sungjong!”

Jiae mendengus kuat-kuat. Jujur, ia sangsi bahwa desain yang sudah 80% jadi di hadapannya itu mampu lolos seleksi. Ada yang salah dan Jiae tidak mengerti apa. Kesesuaian dengan tema? Warna yang ia gunakan? Apa velvet kurang cocok menggunakan renda di bagian bahu? Entahlah!

Lalu, muncul Lee Sungjong mengingatkannya akan sosok Min Yoongi.

Tidak ada kabar selama satu bulan? Yang benar saja. Baru satu bulan. Ia pernah mengalami yang lebih lama. Jiae sudah terbiasa, kok.

Harusnya.

“Jiae!” Seruan memanggil namanya berhasil membuat Jiae membuang jauh-jauh rasa rindu.

“Ya, Eomma, ada apa?”

“Ponselmu mati?”

Jiae terdiam, kemudian berjalan menuju sofa yang kini telah berubah menjadi gunung kain. “Eomma tahu dari siapa?” sahut Jiae ketika ia berhasil menemukan ponsel putihnya yang tanpa ia sadari telah kehabisan nyawa. Tungkainya kemudian berjalan pelan menuju pintu kamar. Mungkin segelas air dingin bisa membantunya menyegarkan pikiran.

“Dari Yoongi.”

Air dingin.

Jiae benar-benar butuh air dingin untuk membangunkannya dari halusinasi yang mulai menggelayut sebagai efek dari rasa kantuk. Ketika Jiae sampai di lantai bawah dan menuju dapur, suara ibunya kembali terdengar. “Jiae, Appa sudah selesai ngobrol dengan Yoongi. Kau tidak mau ngomong?”

“Ugh, Eomma, jangan bercanda,” gerutu Jiae sambil menggembungkan pipi. “Jangan bilang kalau Yoongi -“

“Yoongi menelpon Eomma, video call bahkan. Katanya akan pulang ha-”

“BOHONG!”

Min Yoongi.

Jiae benar-benar butuh suara Min Yoongi untuk membuatnya percaya bahwa ia sedang tidak bermimpi. Lantas kakinya melakah cepat-cepat menuju ruang baca di mana ayah dan ibunya berada. “Yoongi menelpon?”

“Dari tadi,” jawab ayahnya, kemudian tanpa diminta mengulurkan ponsel persegi pada Jiae.

Secepat Usain Bolt, Jiae mengambil ponsel itu dan menghilang dari ruang tamu. Meninggalkan orang tuanya yang terkekeh geli dan menahan malu.

“Yoon?”

Yoo?”

“Bohong!”

Aku dengar kau sibuk.

“Bagaimana kabarmu di sana? Kompetisi apa lagi yang kau ikuti? Berapa lagu yang berhasil kau buat bulan ini? Siapa lagi yang berhasil kau temui? Bagaimana dengan orang Korea yang kau temui tempo lalu? Jadi akan bekerja sama dengannya? Eum, Nam-nam siapa namanya?” tanya Jiae antusias.

“Good. Pelan-pelan, Yoo Jiae. Kau mau belajar jadi seorang rapper, huh?”

Jiae tersenyum lebar. “Yoongi, kau harus pulang sebagai seorang rapper, composer, dan produser keren.”

…Jiae, kau harus tidur. Aku sudah dengar dari ibumu. Maaf baru bisa menghubungi, aku-

“Lagi-lagi jarang menghubungi, maksudmu? Sambungan lima bulan sekali itu benar-benar jarang sekali, ya? Sebulan sekali juga jarang banget,” koreksi Jiae seraya menggoyangkan telunjuk. Lantas tertawa ketika melihat Yoongi memasang senyum terpaksa yang membuat lesung dekat dahinya muncul ke permukaan.

“Maaf, maaf.”

Jiae membuat matanya menghilang kala ia tersenyum lebar. “Aku mengerti, Yoon. Sekarang aku mengerti bagaimana kau bisa melupakan sekitarmu ketika sedang menulis lirik, mengarasemen lagu, atau ya, yang itu lah,” tutur Jiae.

Karena sekarang ia telah mengalaminya sendiri. Bagaimana ia bisa mengabaikan rasa lapar, keinginan untuk bermalas-malasan di atas kasur, bahkan rela tidak tidur semalaman hanya untuk membuat secarik kertas sketsa tercoret goresan pensil. Atau sekedar browsing membuka 15 tab majalah fashion elektronik untuk mencari inspirasi. “Maaf karena selama ini sering marah padamu.”

Setibanya di kamar, Jiae lantas menghempaskan tubuh ke atas kasur. Masih dengan senyum lebar –yang mungkin bisa membuatnya diejek sebagai orang gila apabila ada orang lain yang melihatnya-, Jiae melanjutkan, “Ini menyenangkan, Yoon. Mengejar mimpi itu semenyenangkan ini.”

Tidak ada balasan dari Yoongi untuk beberapa lama. “Yoongi?”

Bagaimana dengan kasus kemarin?

“Entah. Berhenti begitu saja. Kau benar, aku hanya perlu memberikan bukti bahwa aku bukan pencuri ide orang lain. Kau tahu, sekarang aku mendapat kesempatan untuk memajang bajuku di Vogue.”

Apa kau bahagia?

Pertanyaan itu membuat Jiae terdiam. Tidak ada balasan keluar dari bibir Jiae yang kering –hasil lupa minum nyaris seharian. Tangannya meraba kasur, kemudian terantuk sketch book yang menemani tidurnya dua hari lalu. Buku setebal 250 halaman itu kini telah tak lagi memiliki lembaran kosong untuk diisi. Sedangkan Jiae ingat betul bahwa ia pernah ragu akan menggunakan bahkan setengah dari benda itu.

“Sangat.” Senyum kembali mengembang pada wajah pucat Yoo Jiae. Menular pada laki-laki di sebrang sambungan. “Bagaimana denganmu, Yoon? Apa kau bahagia di sana?”

“Aku bahagia.”

Dan malam itu adalah sambungan pertama keduanya yang berjalan begitu singkat, namun begitu menenangkan. Ditutup dengan sebuah ucapan, “Selamat tidur, Yoo Jiae. Terima kasih.”

 

Itu sudah cukup. Omong-omong, aku ini egois. Menginginkanmu untukku, namun juga menginginkan diriku menemukan batas terjauhku. Apa kau akan lelah denganku?

 

Sekarang, Jiae paham betul mengapa dulu Yoongi jarang menghubunginya. Jangankan menanyakan kabar, makan nasi saja laki-laki itu sering lupa. Jika ada waktu untuk terlepas dari rentetan tangga nada dan proposal kerja –ya, perusahaan musiknya siap berdiri tahun depan, tapi masalah dana tidak pernah menjadi hal yang mudah untuk diselesaikan-, laki-laki itu lebih memilih meringkuk di atas sofa yang sudah dipenuhi kaleng-kaleng kopi dan penambah energi.

“Yoongi, makan,” ucap Jiae untuk keduapuluh kali –atau duapuluh satu? Sesuai dugaan, tidak ada jawaban. Hanya ada Yoongi yang memutar ulang satu track sepanjang sepuluh detik di komputernya. Merasa ada yang tidak sempurna, namun laki-laki itu masih belum juga menemukan titik lemahnya.

Jujur saja, Jiae ingin menarik Yoongi dari atas kursi kerjanya. Menarik laki-laki itu duduk di dekat Jiae hanya sekedar untuk mengisi lambungnya yang pasti sudah meronta minta asupan.

Tapi, sebenarnya ini lucu. Mungkinkah ini penampakan yang dilihat keluarganya, atau teman-temannya ketika Jiae sedang dalam mode yang sama? Belum lagi jika inspirasi baru menghampiri saat H-1 deadline.

Sia-sia. Jiae paham betul itu. Seakan satu butir nasi saja bisa membuat ide yang ada di otaknya menghilang bersama udara.

Jiae menghela napas pendek, kemudian berjalan untuk menutup satu paket lunchbox yang ia beli di restoran favorit Yoongi. “Aku pulang dulu ya,” ucap Jiae, seraya mengambil ponsel dan merapikan barang-barangnya. Memastikan pula bahwa ia telah mempersiapkan satu kardus kopi lagi untuk dikonsumsi oleh Min Yoongi.

Iya, tadi kan sudah Jiae bilang, Jiae paham bahwa yang Yoongi butuhkan sekarang bukanlah interupsi. “Semangat, Min Yoongi. ”

Tidak ada jawaban.

Oh, Jiae ingin sekali mematahkan headphone Yoongi. Bahkan kepergiannya saja tidak digubris oleh lelaki rambut platina itu.

Tunggu, apakah Jiae kesal? Oh, tentu.

Eh, tapi tadi Jiae paham bahwa Yoongi tidak bisa diganggu? Oh, tentu.

Tapi, bukankah isi otak dan isi hati memang seringkali mengalami inkonsistensi? Manusia memang begitu.

Membuat Jiae memutuskan untuk berbalik dari ambang pintu. Memeluk tubuh sang lelaki yang sedang mengambil satu kaleng kopi lagi dari belakang. “Aku kangen, Yoon. Sekarang ulang tahunku, tahu. Dan Senin depan kau sudah pergi lagi ke Amerika.”

Jiae bisa merasakan jantungnya berdegup cepat. Dan jantung Yoongi seirama dengan miliknya. Kemudian laki-laki itu mendekap tangannya.

“Yoo, bisa tunggu aku sebentar lagi? Setelah ini, aku benar-benar akan menjadikanmu sebagai milikku.”

Well, Min Yoongi memang sering lupa makan, tapi laki-laki itu juga tidak pernah lupa untuk  membuat jantung Yoo Jiae kewalahan.

 

Aku harap tidak. Aku?  Tidak mungkin. Meskipun ternyata, kau juga ingin tahu sejauh mana batas kemampuanmu.

Napas Yoongi tercekat, udara malam menamparnya sedingin es batu. Sedangkan kehilangan Yoo Jiae bukanlah apa yang bisa Yoongi terima saat ini. Bahkan kapanpun.

“YOO JIAE!”

Wajah pucat perempuan itu membuat lutut Yoongi lemas, adapun senyum tipis yang sekarang dilontarkan Jiae belum cukup untuk menenangkan benaknya. Kakinya berlari, kemudian mengurung hangat tubuh perempuan itu yang begitu minim dalam pelukan.

“Yoo…hei,” Yoongi masih  belum bisa mengatur napasnya. Serta emosi yang campur aduk dalam pikiran.

“Maafkan aku, Yoon.”

“Ayo masuk, Yoo. Di sini dingin. Ah, ada kue tart favoritmu juga,” ucap Yoongi, mencoba menolak percakapan.

“Aku memang belum siap. Dan belum pantas, Yoon. Aku egois. Tidak menjaga pola makan. Tidak menjaga kesehatan. Aku mementingkan pekerjaanku.”

Jiae belum berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Sedangkan Yoongi sendiri tidak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan untuk menenangkan sang istri. Bohong jika ia bilang ia baik-baik saja setelah kejadian ini.

Ia nyaris kehilangan dua sosok berharga dalam hidupnya. Setelah ia kehilangan satu, apapun cara yang dapat membuktikan bahwa Yoongi tidak kehilangan Yoo Jiae akan ia perbolehkan. Apapun, termasuk tangisan perempuan itu dalam pelukannya. Teriakan pun masih lebih baik dibandingkan Yoo Jiae yang menghilang dari kamar setelah dua kali mencoba bunuh diri.

“Tapi setelah ia pergi, kenapa aku jadi sesedih ini?”

Ini semua salahnya. Salah Min Yoongi. Siapa yang kira bahwa Yoo Jiae akan menjadi perempuan gila kerja seperti dirinya? Siapa yang kira bahwa Yoo Jiae akan merelakan darah dagingnya sendiri demi menghadiri sebuah pagelaran seni yang akan membawa namanya menjadi lebih tinggi?

Tidak ada. Tidak ada yang mengira juga momen di mana Yoo Jiae harus memilih antara mimpi dan seorang buah hati akan datang secepat ini.

“Maafkan aku…maaf….”

“Yoo Jiae. Aku mencintaimu.” Yoongi mengecup pucuk kepala Jiae, membiarkan cengkraman perempuan itu semakin kencang di punggungnya, pun tangisannya yang semakin menjadi-jadi.

Malam itu berlalu bersama tangisan. Diakhiri dengan kepasrahan. Dan kepercayaan bahwa mereka bisa menjalani hal ini. Entah bagaimana. Iya, perjalanan mereka masih panjang. Walaupun harus meninggalkan nyawa yang bahkan belum sempat menatap dunia.

Mereka harus tetap melangkah, kan?

“Terima kasih, Yoo Jiae.”

Kalimat itu lebih pantas untuk aku ucapkan padamu. Bukan hanya saat ulang tahun. Tapi, setiap hari.

Terima kasih. Karena tetap mendukungku walaupun kau yang paling membutuhkan hal itu. Karena berjalan di sampingku. Karena menerima semua caraku yang tidak masuk dalam logikamu. Karena menungguku. Karena tetap berada di sisiku.

 Terima kasih karena telah lahir di dunia ini.

.

.

.

 

“Namanya?”

“Min Choeun”

◊◊◊ A Stepping Stone ◊◊◊

◊◊◊ about Terima Kasih ◊◊◊

  • Semoga tidak bingung…dan bosan membaca my first 4k words fanfic :”D
  • Ini apa? Iya, itu ulang tahun Yoo Jiae dari umur 18 sampai 24 :”D
  • 18: Masih jaman OSIS, masih alay-alay masih malu-malu gitu sukanya. Tapi Yoongi bego ngasih kue belum diambil bonnya :”D #YoongiGagalKeren
  • 19: Ini mas Yoon mau pergi ke Amrik. Jiae ya…galau. Dan galau. Dan galau. Dan jumlah curhatan yang aku masukin di sini nyaris tidak terhitung T^T
  • 20: Jiae mulai sadar gitu deh, emang jangan galau mulu. Trus harusnya ngedoain mas Yoon di negri sana. Ada cameo uri Kuki…dan masa lalu dedeknya juga /duh salah tempat mb ngejelasinnya :”D/
  • 21: ini abangnya mas Yoon meninggal 😦 dan lagi, cuma mau ngejelasin how Jiae is getting mature year by year
  • 22: paham paham. iya, pokoknya gitu /apa??/
  • 23: ini bisa dikasih judul Ketika Mb Jiae Mulai Agresif…tapi Mas Yoongi Tidak Mau Kalah. #potekSajaHatiSayaMz
  • 24: T^T gak tau…gak tau kenapa mau nulis kek gini. Kenapaaa~ Dan, yg ini agak fail menurut aku. Aku..gak kuat dan lagi gak cukup galau ehe /WAIT, AKU TUH GAK BISA YANG SAD EMANG KAN!!/
  • Inti dari ini sih: Jiae is getting mature dan Yoongi always thankful towards Jiae’s existence in his life. udah gitu aja…kok ya bisa jadi 4k :”D
  • Oh, dan aku memang mengartikan ulang tahun sebagai ajang untuk berterima kasih atas kehadiran orang yang ulang tahun dalam hidup aku eh~ Tapi, kadang suka malu kalo bilangnya ‘Terima kasih’ ugh shai shai shai~ /digaplak/
  • OH, yang terkahir itu siapa?? Maafin iseng. Itu…nama anak pertama mereka. Cewek. Maafin yang minta cowok /?/ mungkin anak kedua nanti ya /???/ duh gak jelas bgt ditaro sekarang padahal itu lahirnya pas YoonAe umur 27 :”D tapi berhubung cocok sama kalimat terkahirnya mas Yoon…

◊◊◊ curhatan azel ◊◊◊

  • Oh, ini gak dimasukin ke project ultah mba Jiae karena ini emng baru kelar ehe, dan maafkan project ultah itu dijadiin tempat curhat abis-abisan T^T…
  • Dan ini, A Stepping Stone kudu hiatus dulu. TaeJeong  dan 94z udah nyundul-nyundul minta screentime  T^T
  • Terima kasih udah suka YoonAe :*
  • Terima kasih soalnya kisah YoonAe ini yang bener-bener bikin aku keukeuh nulis waktu itu. Huhuh inget banget aku nulis Serakah pas UAS dan sekarang udah mau UAS lagi :”D
  • Terima kasih selalu ❤
  • Terima kasih juga manipannya @burritown the best selalu lah :”D
  • Oh, dan aku baik-baik saja kecuali aku bener-bener pingin punya cowo cem Yoongi sekarang /HALAH/
  • Terima kasih lagi dan lagi  ❤ ❤ ❤ ❤

 

Advertisements

40 thoughts on “[A Stepping Stone] Terima Kasih

  1. ku baru tau ucapan thanks harus sepanjang 4k kak~ tapi worth it lahh~~

    mumpung atmosfernya lagi mendukung, aku juga mau ucapin makasih ke kakzel. udah nge-courage aku di awal tahun utk beraniin diri kirim tulisan kesini :’3 kalo saat itu kakzel ga “Ayo Night kamu kirim kesini” dan lalala, aku mungkin masih setia dgn status ‘sider’ :””)

    dan aku mungkin gabisa pakai kata ‘suka’ utk ff ini. ‘jatuh cinta’, perhaps? aku nikmatin banget alurnya yang maju-mundur, naik-turun, kadang bingung ‘ini sebenernya ngomongin apa’ tapi di satu sisi aku sadar bahwa ‘oh ini lho yang bikin ceritanya justru makin asik’.

    dan, AWYEAH~ punya anak… tapi prosesnya mana? (HUSH!) dan kalo udah punya anak, itu artinya gaada ldr-an lagi kan, mz toyib 2016ver? gaada manja dan rewel2 kan, mb desainer? grins

    aku masih setia nungguin taejeong/quartet of 94liners/yekook/baby2jin (apa bgt namanya .-.) pokoknya yang mana pun yg mau kaka keluarin, ku siap menampung~~

    semangat terus kak azel!!😗

    Liked by 1 person

    • Kan…banyak bgt kan aku jg bingung pisan :”) HUAA SAMA-SAMA NIGHTY! Ugh, semua FF kamu berhasil menggugah gitu aku seneng bgt jdnya :””) kek bangga bangga gmn gitu wakakkak xD

      Keknya aku ngeh yg ‘ini sebenernya ngomong apa’ wkwkkw emng ada bbrp yg aku rasa jg agak maksa Night. Yg bagian ada Kookienya apalagi. Kurang cucok gitu apalgi sebenrnya mau ngasih tau mas Yoon makasih ke mb Yoo T^T tapi ya gitu…aku teh bingung dan /jeleknya/ sayang buat ngapus itu dan nyari ide yg lain :((

      HEH, KAMUH! pikirin aja sendiri deh /LOH KOK SARANNYA GITU?/ engga engga…satu rumah, tp sibuk sendiri gitu deh yg ada /eak, sulit sulit/

      Kuartet… doakan si kuartet ini konsisten yha penyampaiannya :”) SUKAK BABYJINJIN XD

      SEMANGAT JUGA NIGHTY! <3<3 makasih jg selalu mampir :””)

      Liked by 1 person

  2. Ohhhh my god…..ih aku nangiasbwjajanensjajana aku aku aku ….aku gabisa komen panjang panjang tapi…”Terima kasih, ka Azel” he he he.Akan menunggu ASS sampe kapanpun dan karya2 ka azel yang lain.

    Laff penggemar setiamu.💜

    Liked by 1 person

    • Halo…aku…aku spicles mau manggil nama kamu…namenya gokaazel :””) kudu apa sayaaaa

      Waduh, jd kotor ya tu kalo disingkat :””) Huaaa iya makasih jg kamu udh mampir ❤ Semoga diriku makin ngasih yg bikin cinta yhaa :”)

      Laff jugaaa ❤

      P.s: tolong, gokaazel-nya itu ku terharu :””)

      Like

  3. Satu lagi..part yg paling aku suka malah part yg terakhir kak. Tp aku mau tanya, itu Jiae lg dimana sih? Trs knpa dia coba bunuh diri? Apa karena dia abis keguguran? Begitukah?
    Maaf kalau banyak tanya hehe ^^v

    Liked by 1 person

    • Hai, Honey Bee~ /LAH/ Makasih udah mau baca dan mampir di kolom komentar :3 Heuheu, makasih jg udah sukaaa ❤ ❤ ❤

      Whoaa, ih tapi itu aku paling gak kuat ngebuatnya..gak kuat difeel aku jg T^T. iya…ceritanya lalgi di luar rumah sakit aja pokoknya. Anggaplah di taman rumah sakit wkwkwk. Iyaa, iyaa, itu dedeknya :”(( huhu. Kamu bener kok XD

      Like

  4. Kak? Kakak tau aku ampe diketawain abangku gara” baca ini? Aku nangis kak ㅠㅡㅠ plis ini baper banget sumpah bang toyib dan mbak desainer satu ini bikin geregetan serius. Quartetnya ditunggu bgt kak

    P.S. mau nanya jungkook disini sama kayak yang di an act gak sih?

    Liked by 1 person

    • Hai, Purple? Huhuhu iyaa, makasih udah mau diketawain /LOH?/ makasih udah mau baca dan komentar heuhue. Iya..mereka begitu. Ugh, YoonAe ❤ ❤ ❤ Duh, kuartet…ini jadi kebayang beneran mereka berempat nyanyi bareng ihiks

      jawab P.S. iyaaaa semua orang2 yg ada di Love is… saling berhubungan kok :3

      Like

    • GILA JAM SEGINI NANGIS GAJELAS GINI :'((
      yoongi kenapa kamu begitu banget sama jiaeeee. walaupun ujungnya dirimu tetep bahagiain jiae sih :v
      kakzel demen kasih spoiler ih. ternyata jungkook punya emak baru ya wkwk
      duh gatau lagi. Mau komen tapi lupa mau komen apa gegara nangis sambil denger lagu ballad, kamvret emang:(

      Liked by 1 person

      • UGH, ANAS MAAFKAN YOONGI /?/
        yoongi engga jahat kok…iya, kuki punya mama baru hem :)) nantikan saja lah :)) /kode macam apa…/
        agh, makasih anas udah nangis baca ini udah mampir di kolom komentar jugaj :**

        Liked by 1 person

  5. ini tengah malem selesai bacanya sambil mewek pula T.T aku nunggu banget cerita mereka berdua ini makasih kak udah buat cerita mereka yang bikin senyum sama nangis dalam satu cerita. ngomong ngomong aku juga nunggu mbak sujeong sama mas alien 😀

    Liked by 1 person

    • Halo kamuu~ Makasih udah baca huah tengah malem pula :”D
      Huhuhu makasih juga udah sukaaa. YoonAe pamit dulu ya sebentar :”)

      KAN? IYA KAN? /loh heboh sendiri…/

      Makasih sekali lagih udah mampir :3

      Like

  6. wahhh kak azel keren .. nulis sepanjang ini.. -terimakasih kak :’)- aku bacanya tadi malem sampe pagi ini..

    Sedikit horror karena takut A Steping Stone akan berakhir disini . tapi ga kan ya??

    jadi terhura membaca setiap moment ulang tahunnya mbak Jiae yg mellow dan lucu…

    misteri kuki sedikit terbuka disini.. huaaa kak azel bikin baper..

    tadinya pas buka update eh.. yg ini nongol. huh sambil loading aku DEG DEG DEG gitu .. udah lama kak azel ga post apa-apa.

    tapi pokoknya semangat !!

    salam buat dedek Min Choeun yaaa

    Liked by 1 person

    • Halo Adel~ Makasih udah mampir jugak ::”D
      Ugh, apalagi ini banyak yg bisa lebih banyak kok /?/
      Beuh dicicil gitu yha wkwk :*

      A Stepping Stonenya belum abis…tapi mau berhenti dulu. Yoongi bilang dia terlalu banyak kena PDA..dia gak suka /APA SIH?/

      Kasian sih mba jiae..tiap ultah ada aja perkaranya :”)

      MAAFKAN SALAH TEMPAT NGEBUKA KEDOK KUKI YA AMPUN UGH!!

      Huaaa aku deg deg an jg ih wkwkwk XD huhu iya semangat menjalani tugas ini yha :”””

      Choeun-ah~ /eh/ duh serampangan banget aku milih nama :”D

      Makasih Adel udah mampir lagih :**

      Like

  7. Ga tau kenapa, aku sih emang ga nangis, tapi soal yang endingnya itu bikin mencelos, campur aduk aja di ending. Bilang terima kasih sekaligus maaf itu ga gampang sih ya, apalagi buat beginian/curhat/. Kakzel, mata aku sih ga berair cuman hati aku aja nangis/ngerti kan yah maksudnya apa/ ini tuh masalahnya bikin aku galau banget sekaligus mendadak happy gitu….

    Dan kalimat diatas itu mohon abaikan aja karena komen aslinya disini LOL…. -_-

    sejauh aku baca, awalnya ga ngerti karena loncat-loncar, sama kaya judulnya kakzel. Terus, yang bikin WAW itu pas aku udah mulai ngerti gimana Jiae ulangtahun tanpa dan dengan Yoongi yang perhatian diem-diem terus sampe mereka nikah dan punya anak, terkesan banget lah…..

    Jadi kakzel jangan bosen liat aku dikolom komentar tiap ff kakzel post dan semangatnya dari nifa yang stress UKK selama 7 hari tanpa istirahat^^

    Liked by 1 person

    • Hai, Nifa~ Makasih udah bacak dan mampir di kolom komentar :3

      Iya..aku teh emang gak punya niatan ngebuat ini sedih kok T^T aku tuh gak bisa ngebuat angst…Duh, awas hatinya kebanjiran :”D

      Loncat loncaat kayak kutu yah /APA/ wkwkwkwk awalnya aku emng mau nulis gitu sih itu ultah keberapa aja, tp gak jadi karena…iseng? /DIGAMPAR MASA/ wkwkwk jd ada sensasinya gitu kan pas kamu ngeh? :3 /APAAN?/

      IYA, ENGGA BOSEN KOK SEMANGAT UKKNYA!! ITU KAPAN SELESAINYA DEH UKK? :”D

      Like

  8. AZEL! APA YA DUH BINGUNG 😀 Aku tuh kbetulan bgt buka LFI eh ada update.an kamu, y ampun baru baca judulnya aja deg2an, apa bgt kan aku ini 😀 tapi emang lg kangen bgt sih sama couple ini. Azel, aku bingung mau komen apa yg jelas aku terima kasih sama kamu karena udh buat story YoonAe, membuat mereka seperti pasangan yg nyata dan membuat aku semakin menggilai mereka hahaha. Sumpah kisah cinta mereka itu indah bgt zel, sama2 berjuang meraih mimpi masing2 meski d jln yg beda dgn cinta mereka yg kuat mereka bisa melaluinya meskipun sulit. Kayaknya mereka tuh saling melengkapi pokoknya cocok bgt. Baca ff kamu tuh zel membuat aku semakin menginginkan seorang pria seperti Maz Yoongi awww /curhat/ apa ya, aku gak nyangka ffnya akan sepanjang ini, dan mungkin kurang panjang 😀 /serakah deh/ aku seneng bgt zel, mskipun panjang tapi bacanya gak kerasa tiba2 end aja. Pokoknya aku juga terima kasih sama kamu zel, Love U~ ❤

    Liked by 1 person

    • HER, PEGANGAN! /ga huhu aku jg setiap liat oppa deg2an /dasar fangurl/

      YOONAE EMANG NGANGENIN YHA. huaa makasih jg udah mau baca dan komentar her :”D huaaa trus suka bgt ngeliat komen kamu yg ngasih tau what you feel pas baca ini huhu. soalnya, jujur, sbg yg nulis, aku pastinya agak bias kadang2. ngerasa ini udh bagus, ato ini jelek bgt gitu2 T^T /mungkin emng jelek sih? XD/ YOONAE RELATIONSHIP GOALS GITU HUHUHU iriririri XD

      Duh, aku jg mau wkwkwk. tapi ya, dia cuek bgt, kalo ketemu yg asli agak ngeselin gitu pasti ya -.-”

      HUAAA MAKASIH UDAH BACA DARI KATA KE-1 SAMPE KATA KE-4200-AN :”D huhuhu aku mah apa, makasih pokoknya her udah mampir :”D semoga gak bosen2 ya heuheu

      Like

  9. Oh ia, yg request anaknya YoonAe cowok tuh aku ya? hahaha Gak papa zel cewek juga, pasti cantik kek ibunya 😀 Btw, mba Jiae makin cantik aja ya zel, heran 😀 Mas Yoongi pasti semakin hari semakin cinta wkwkwk

    Liked by 1 person

    • Kamu salah satunya XD.

      PARAH! cantik bgt Jiae aku gak paham :” 24 tahun tuh kayak gitu ugh keliatan lebih muda daripada aku yg baru 20 :”””D huh, jd penasaran, apakah Yoongi nganggep Jiae itu cantik? /LOH KOK NANYA SENDIRI?/

      Like

  10. TERNYATA KODE DARI KAK AZEL BETULAN
    DAN NGGA LAMA DIPOST SETELAH KODENYA MUNCUL XD
    Ini kubaca tadi malam dan selesai pas itu juga, tapi ngantuk jadi baru comment sekarang ^^
    Kak, makasih banget udah ngebuat fanfict yang panjang ini, puas banget><
    Ada yang bikin greget, ada yang bikin ngakak (itu, salah satunya yang Yoongi ngasih kue sok dari rapat tapi ada bonnya), ada yang bikin senyam-senyum gajelas, ada yang bikin senyum puas (ya, Jiae semakin dewasa semakin good), bahkan sampai bikin tegang
    Pas terakhir tuh, kaget juga si mba satu ini jadi gila kerja, bahkan mau bunuh diri dan ngerelain calon buah hati, syedih sekali:'(
    Bahkan sampai ngira “sad ending?” tapi langsung teriak dal hati “NGGA!”
    Tapi… akhirnya lahirlah Min Choeun, congratulations XD
    Dan selipan (spoiler) mengenai masa lalunya Jungkook-nya pun kuperhatikan banget, jadi gitu ya… /angguk-angguk/

    A Stepping Stone, semoga kita cepat ketemu lagi ya:’) /lagingasihsalamdulu,kanmauhiatus/
    Okay kak Azel, kutunggu TaeJeong dan 94z yang udah nyundul-nyundul minta screentime-nya XD WKWK
    SEE YOU KAK:3

    Liked by 1 person

    • KODE AKU GAK BOONGAN KOK DAN GAK AMBIGU KAYAK COWO CEWE YG LAGI PDKT /heh??/

      huaa makasih udah baca malem2, trus nyempetin balik lg buat komen :”)
      ugh, iyaa, aneh deh, nyampur gitu ya wkwkwk sebenernya mas Yoon cuma mau curhat bilang maaci aja sih ke jiae :”)

      iya….Jiae dikasih banyak kesempatan buat melebarkan sayap gitu. jadinya…dia keguguran karena lbih milih kerja :”D trus dianya stres sendiri :”””D engga kok…tenang aja mereka gak bakal sad ending /APALAH AZEL YANG PENCINTA GULA-GULA INIH!.

      iya…kuki gitu….tapi masih ada yg lebih dari itu tentang kuki.. /kode aja truz/

      IYAAA, AKAN KETEMU LAGI KOK. AS LONG AS AKU BELUM MENYATAKAN LOVE IS.. SELESAI YOONAE YANG GREGET INI AKAN SELALU ADA ❤ ❤

      MAKASIH UDAH MAU NUNGGU AI ❤
      SEE YOU JUGAK LUVLUV ❤

      Like

  11. Ini fanfict terpanjang wkwk tapi aku sukak anet *tebarconfetti
    Lagi kangen YoonAe bgt, Zel siusaann. Kangen kamu juga gak update2 *kode *mintaditampar
    Ada cerita yg menurutku sedikit ambigu pas mas Yoongi bilang “akan sepenuhnya menjadi milikku(?)” Eaaaaakkk Mas Yoon ngapain mas? Ckck
    Terahir Terima Kasih Zel ff mu sukses bikin baper 😃

    Liked by 1 person

    • Iyaaa, tapi aku ngerjainnya sama sekali gak bosen gitu huhu mungkin karena FF ini sebenernya berisi banyak suasana dan beda2 waktu jg :”D

      UGH, JANGAN KANGENIN AKU, KANGENIN OPPA AJA KAPAN AKU BISA KETEMU OPPA /cukup cukup/

      IH WAW, ada jg yg ‘tersentil’ kalimat2 ‘nakal’nya mas Yoon :”D mana Jiae disuruh sabar, SITU MAU NGAPAIN MAS??

      Huae, makasih juga udah mau menikmati FF ini imel :’))

      Like

  12. KAK AZELLLL BENERAN AKU SELALU GA KUAT SAMA FANFIC2 MU KAK dapet feel nya , aku baper tau ga kakk apalagi sama yng kali ini ㅠㅠ mbak jiee sama mas yoongi akhirnya,, /nangis bahagia/ bener kak sampe mewek bacanya ㅠㅠ apalagi scene/? terakhir astagaa,,, keren kakk ditunggu cerita keluarga kecilnya mas yoongi dan mbak jiaenya ㅋㅋㅋ KELUARGA MIN hahahahaha fightinggg!!

    Liked by 1 person

    • Halo, Rin!
      AGH, MAKASIH UDAH MENIKMATI FF INIH :”D
      ugh ugh, berikan waktu aku yg banyak untuk ngebayangin keluarga Min ya :”D

      FIGHTING JG KAMU DI SANA ❤

      Like

    • MIN CHOEUN! ❤

      iya, dia cewek tapi wkwkwk XD YoonAe junior gitu deh :3 pasti ucul ugh ugh /heboh ngebayangin sendiri/ huwaaa yg hiatus mereka kok /?/ hihihi

      MAKASIH UDAH MAMPIR KAMU ❤ SEMANGATNYA JUGAK ❤

      Like

  13. KAK AZEEEEELLL, INI MASIH PAGI TAPI AKU UDAH MEWEK DI KAMAR, TANGGUNG JAWAB/g.
    Serius, aku terenyuh banget setiap yoongi bilang ‘terima kasih’, itu manis bangettttt. Dan dari sini aku belajar banyak hal/ini beneran/ aku baru sadar, kata TERIMA KASIH terdengar lebih tulus daripada SELAMAT ULANG TAHUN :”’/mewek lagi/
    Dan itu—bocah satu ituuu, ah, jadi cameo unyu banget siiiii, minta digampar/nggak weh/ jadi nanti playboy sepupunya mbak ji bakal punya ibu baru, istri baru kapan/? :”D/yein sudah minta dinikahin/
    Terus dari sikap Jiae yang awalnya masih bocah banget, mau ini ya harus ini, lama-lama jadi dewasa dan pengertian, kayak aku banget/nggak! :’D
    dan selamat kaliaaaan, akhirnya punya baby, aaa, KOOKIE SAMCHOON ya nanti manggil kukinya 😀

    Aku menunggu TAEJEONG BANGET KAAAAKKKK, SEMANGAT TERUS KAK AZEL, AKU SELALU CINTA KAMU :”’D ♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

    Liked by 1 person

      • STALKIM LAGIH. INI UDAH SIANG DAN AKU UDAH LAPER /apasih…/ TANGGUNG JAWABNYA PAKE KISANG KUKIYEIN AJA APA? /kodemu zel, kodemu…/

        HUAAA, iyaa, emang kalimat simpel itu sering dilupakan banyak orang :”)

        UGH, apa hubungannya Kuki punya ibu baru sama Yein yg minta dinikahin :”D

        BEUH, pamer bgt stalkim tau de tau😄

        YEUP, duh…masih gak kebayang sih sama aku gmn dong…😄

        AAAGH,MAKASIH UDAH MAU NUNGGU. LUFYU TUUH❤
        HUHUHU kamu mah gitu tapi aku ttp seneng bgt bacanya wkwkwk😄 MAKASIH BANYAK STALKIM :8

        Liked by 1 person

  14. Demi apa,, aku baru baca ff ini hari ini..
    Akh dasar ujian terkutuk,,bodoh banget ngelewatin baca series ini..

    Ini chapter terrrrsedih sepanjang series stepping stone kak,, aku nangis demi apa….
    Entah kenapa aku bingung baca dari awal,trus baru ngeh wkt baca notemu yang sepanjang sabang ke merauke,lalu dg idiotnya aku baca lagi dari pucuk atas ke pucuk bawah.. haha pelampiasan ukk iniii

    Aku ini kak, apa sih.. bingung itu kan cerita terakhirnya jiae keguguran ya? Eh tp kok mucul nama anaknya sih.. aku gk ngeh,, kalau gk keguguran mana mungkin dia coba bunuh diri 2 kali,trs kalau keguguran kok muncul nama baby mereka sih.. dasar otak lemot guenya..

    And,, mas kookie ternyata begitu toh masa lalumu.. jadi mamanya dia meninggal,trus skrg tinggal sm jiae..owalahh pantes sikap greget sok misteriusnya ke mbak yein itu bisa ada,hehe

    Liked by 1 person

    • Hai lagi Sooin :3 Huaaa bener kok kamu teh harus mentingin ujian :”) Ujiannya kan datengnya gak sering…sedangkan si YoonAe bakal tetep di sini2 aja tuh wkwkwk XD

      YANG SEDIH CUMA BAGIAN BAWAH BUKANNYA?? :(( huhuhu makasih udah baca dan mengilhami /?/ ini Sooin :”)) UGH, makasih udah baca dari awal lg ihhh 4k huehuehue

      Oh iya, itu beneran kok keguguran di umur ke24, tp aku iseng aja ngasih tau kalo mereka toh akhirnya punya anak. kalo kamu inget A War yg terbaru, di umur 27 si Jiae lahirannya, nah si Min Choeun itu anak yg lahir yg diselametin Jimin di A War. wkwkwk emng serampangan bgt sih aku tambahin itu di sini…soalnya kek cocok aja sama kalimat terakhirnya Yoongi XD

      Heum, masih akan ada lagi nih ulah si Kookie…nantikan saja yaa wkwkwk /KODE MULUK TAPI GAK DISELESE2IN…/

      Makasih Sooin sekali lg udh baca :3 ❤ Syukses UKKnya dan sekolahnya jugaa~

      Like

  15. nggak zel, tulisan kamu bagus kok. Malah fanfic2 YoonAe yg kamu bikin tuh banyak kata2 yg aku inget gara2 emang sering baca ff kamu bolak balik gak bosen2, ia kalo kangen YoonAe tuh y gitu. Ya aku baca series2nya yg dr jaman Serakah, dsb /haha/ Trus zel kan temen aku buka2 HPku trus kan aku punya video Lovelyz lah temen aku heran “loh Her kok kamu pelihara video2 kek gini sih Omaigat” trus aku bilang “ia aku tuh lg keracunan fanficnya Banglyz, jd ber-efek suka Lovelyz juga” trus aku yg cerita bla bla bla. Aku ceritain Banglyz /biasa promosi, aku orgnya suka promosi soalnya :D/ trus dia nanya “si Mpi pasangannya siapa?” trus aku ksih liat fto Sujeong. Trus mlh ngrespon “Ih gak mau ih, masa mpi sama dia” aku bilang “y emang kenapa, mereka cocok kok. Sujeong cantik juga, trus kakinya bagus” /edisi ngotot/ Y pokoknya aku lg promoin Banglyz ke temen2ku /haha pliz y ampun aku malah cerita gaje disini, maafkeun/ Baca ff YoonAe tuh ngefeel bgt, soalnya karakternya emang pas juga, Suga nya tuh Suga bgt kaya yg sifat aslinya gitu kebayang bgt lah. Azel jjang!! 😀

    Like

    • Huaaa makasih Her. Huhuhu makasih udah mau baca ulang karena kangen sama mereka T^T

      wkwkwk ‘pelihara’ XD Howaaa, jd Her kamu awalnya pencinta bangtan doang yha? wkwkwk LANJUTKAN PERJUANGAN KAMU HER!! KIBARKAN BENDERA KAPAL BANGLYZ DI SELURUH INDONESIA /kobaran semangat 45!!/ XD huaaa iya gpp kusuka ngeliat curhatan orang :”D

      huhuhu Suga tuh…apa ya…gitu bgt gak sih? /APA???/ Huaa sekali lg makasih Herna selalu mampir :”D Semangat di sana ❤ ❤ ❤

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s