[Oneshoot] Kenangan yang Bersemi Kembali

kenangan-yang-bersemi-kembali-for-minrin

Tittle: Kenangan yang Bersemi Kembali

Cast: Park Myung Eun (Lovelyz Jin) || Kim Minseok (EXO Xiumin)

Genre: Romance

Length: Oneshoot

Rating: PG-13

Disclaimer:

The story is mine. The cast belongs to god.

.

.

Poster by:

https://yunatwentyone.wordpress.com/

.

.

Sorry for typo(S)

.

.

 

Sebuah mobil berhenti di salah satu bangunan tua yang lebih mirip seperti sebuah rumah. Seorang pelayan keluar dari mobil itu dan langsung membukakan pintu untuk gadis yang berada di dalam mobil itu. “Terima kasih, Seo Ajusshi.” Gadis itu membungkukkan badannya 90 derajat. “Nee, sama-sama, Myung Eun-ssi.” Balas pelayan itu juga dengan membungkukkan badannya.

Gadis yang bernama Park Myung Eun itu pun berjalan meninggalkan pelayannya dan langsung memasuki bangunan tua itu.

.

.

.

Seorang lelaki turun dari mobilnya di salah satu bangunan tua. Lelaki itu berjalan memasuki bangunan dan langsung memasuki salah satu ruangan yang biasa ia pakai. Ia berjalan menuju piano yang berada di sudut ruangan itu. Lalu ia duduk di kursinya dan menghadap ke piano.

Lelaki itu menghela napas dengan pelan lalu ia menekan tuts piano itu dengan lincah hingga membuat sebuah melody yang indah.

.

.

.

Myung Eun yang sudah berada di kelasnya hanya duduk di depan pianonya dan mematung disana. Ia bingung ingin memainkan lagu apa, hingga ia mendengar sebuah alunan melody yang berasal dari kelas sebelah.

“Apakah ada murid lain selain aku? Setahuku tidak ada.” Myung Eun bermonolog sendiri sambil mengerutkan keningnya.

Karena penasaran akhirnya Myung Eun pun keluar dari kelasnya dan menghampiri ruangan itu.

“Pintunya terbuka.” Batin Myung Eun dalam hati.

Myung Eun mengangkat kepalanya. Kedua irisnya menangkap seorang lelaki yang sedang memainkan piano itu dengan indah. Matanya seketika berbinar-binar. Ia benar-benar kagum melihat lelaki itu bermain piano dengan indahnya.

Dae-daebak!”  Myung Eun memegangi dadanya. Ia merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Wajahnya pun sedikit demi sedikit mulai memerah. “Ku-kurasa aku menyukainya.”

 

Suara piano yang dimainkan oleh lelaki itu pun akhirnya berhenti. Lelaki itu menghela napasnya lega. Ia menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri untuk merelakskan badanya yang sempat sedikit kaku. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan mendapati seorang gadis yang sedang berdiri di depan pintu ruang kelasnya.

Lelaki itu berjalan mendekati gadis itu dengan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya. “Sedang apa kau disini?” tanya lelaki itu sambil melambaikan tangannya ke depan wajah gadis itu. “Eo-eoh.. a-aku hanya..” Myung Eun yang sempat melamun kini gelagapan. Ia bingung mau menjelaskan apa pada seorang namja yang sedang berhadapan dengannya ini.

“Hanya apa?” ulangnya.

“Aku hanya.. mendengar alunan melody yang kau mainkan dengan pianomu itu.” jelas Myung Eun gugup.

Namja itu hanya terdiam.

“D-dan kupikir.. hanya aku yang menjadi murid disini.” Lanjut Myung Eun dengan polosnya. “A-apakah ini pertama kali kau masuk?” tanya Myung Eun, ia berusaha mencairkan suasana yang berada di sekitarnya, karena namja itu hanya menatap Myung Eun dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Eo-eoh, tidak. Hanya saja aku jarang masuk. Jadi mungkin kau tidak mengenaliku.” Jawab namja itu.

Myung Eun menganggukkan kepalanya mengerti.

“Ngomong-ngomong, siapa namamu?” tanya namja itu.

“Park Myung Eun. Kau bisa memanggilku Myung Eun.” Ucap Myung Eun sambil tersenyum manis. “Dan kau? Siapa namamu?”

“Kim Min Seok.” Lelaki yang bernama Min Seok itu pun tersenyum membalas senyuman dari Myung Eun.

“Baiklah, aku pergi ke kelasku, sampai nanti!” ucap Myung Eun sambil membungkukkan badannya lalu pergi meninggalkan kelas Min Seok.

Min Seok yang mendapat perlakuan seperti itu ikut membungkukkan badannya dan hanya melihat punggung gadis yang baru saja ia temui itu pergi dengan tatapan yang sulit diartikan. “Sepertinya aku menyukaimu, Myung Eun.”

.

.

.

Jarum panjang jam menunjukkan pukul 12.00 p.m. dan itu menandakan jam istirahat. Yaahh walaupun ini hanya music school yang mempunyai murid berjumlah 2, tetapi tetap saja mereka perlu beristirahat bukan?

Myung Eun memakai jam istirahatnya dengan pergi ke halaman belakang, dimana tempat itu hanya ada sebuah kursi taman yang hanya bisa diduduki oleh dua orang.

Myung Eun mendudukkan dirinya di kursi taman tersebut. Ia menghirup oksigen dan membuangnya dengan pelan.

Tanpa ia sadari, Min Seok mengamatinya dari dalam jendela ruang kelas. Ia benar-benar tertarik pada gadis itu. Min Seok sendiri tidak tahu kenapa ia bisa menyukai gadis yang baru saja ia temui. Gadis itu benar-benar mencuri perhatiannya, hingga tanpa Min Seok sadari ia telah menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman.

Min Seok beranjak dari duduknya dan langsung berjalan pergi ke halaman belakan untuk menghampiri gadis itu.

.

.

.

SREK!

Suara dari gesekan sepatu dan tanah membuat Myung Eun membalikkan badannya.

“Min Seok-ah!”

Min Seok yang ketahuan hanya tersenyum kaku untuk membalasnya. “Annyeong.

“Kenapa kau ada disini? Apakah biasanya kau memakai jam istirahat untuk datang kemari?” tanya Myung Eun penasaran.

A-aniya.gadis ini polos sekali. batin Min Seok dalam hati.

“Aku hanya ingin..”

“Hanya ingin apa?” ulang Myung Eun penasaran.

“Eum..”

Myung Eun terkekeh kecil. “Sudahlah pertanyaan itu tidak perlu kau jawab kalau kau tidak bisa menjawabnya, anja!”

Min Seok menuruti perkataan Myung Eun dan langsung mendudukkan dirinya di kursi taman tersebut.

 

“Jadi.. kau bermain alat musik apa saja?” tanya Myung Eun memulai pembicaraan.

“Eum.. piano, biola, dan celo.” Jawab Min Seok. “Kau sendiri?”

“Eum.. hanya piano dan gitar saja, tapi akhir-akhir ini aku mulai belajar untuk memainkan flute juga.” Jelas Myung Eun. Min Seok menganggukkan kepalanya mengerti.

“Myung Eun-ah!”

Nee?

“Apakah setiap jam istirahat kau selalu berada disini?”

Myung Eun mengangguk.

“Apa yang kau lakukan?”

“Biasanya aku membuat lagu.”

“Wahh.. lain kali, bolehkah aku mendengar lagumu?” pinta Min Seok.

Myung Eun mengangguk. “Tentu saja.”

.

.

.

Myung Eun memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Sekolahnya baru saja sudah selasai dan ia diperbolehkan untuk pulang, tapi Myung Eun tetap tidak menggerakkan kakinya untuk keluar dari kelas. Ia benar-benar ingin berada di kelas itu. Yah.. walaupun hanya sendirian, tapi ia menyukainya.

Min Seok yang baru saja keluar dari kelasnya, melihat Myung Eun yang sedang melamun itu. Akhirnya ia pun menghampiri gadis itu lagi.

“Myung Eun.” Panggil Min Seok sambil berjalan mendekati Myung Eun.

Myung Eun memalingkan wajahnya untuk melihat ke arah namja yang baru saja memanggilnya itu. “Nee?

“Kau tidak pulang?” tanya Min Seok.

“Aku sedang menunggu jemputan.” Ucap Myung Eun.

Min Seok menatap ke arah tas yang Myung Eun pakai, ia membulatkan matanya ketika melihat benda yang tergantung di tas Myung Eun.

“Min Seok-ah?” Myung Eun yang melihat Min Seok terdiam pun langsung melambaikan tangannya di depan wajah Min Seok.

“E-eoh.. kalau begitu aku duluan, sampai nanti besok!” ucap Min Seok sambil melambaikan tangannya ke Myung Eun.

Myung Eun membalasnya dengan senyuman kecil.

Setelah Min Seok benar-benar pergi dari penglihatannya, Myung Eun memegangi dadanya lagi yang bergemuruh tak menentu. Wajahnya juga mulai berubah menjadi merah. “Min Seok-ah, seprtinya aku benar-benar menyukaimu.”

Tak lama kemudian mobil yang ditunggu-tunggu Myung Eun pun akhirnya datang. Myung Eun pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruang kelasnya itu.

.

.

.

“Myung Eun-ah, maafkan aku, aku harus meninggalkanmu.” Ucap seorang anak lelaki kecil yang berwajah bulat itu. “Kajima! Kau tidak boleh meninggalkanku!” rengek seorang gadis kecil itu pada sahabatnya. “Maafkan aku, tapi aku harus mengikuti ayahku yang saat ini bekerja di luar negri.” Jelas lelaki kecil itu. Gadis kecil itu merenggutkan bibirnya dan tangisannya pun semakin pecah.

“Ini.” Anak lelaki itu memberikan sebuah gantungan kunci berbentuk piano pada gadis kecil itu. Gadis itu mengangkat kepalanya lalu menghapus bekas air mata yang menempel di pipi chubby-nya.

“Hiksa-apa itu?” tanya gadis itu.

“Gantungan kunci. Kau simpan gantungan kunci ini dengan baik-baik ya.”

Gadis kecil itu terdiam.

“Tenang saja, Myung Eun-ah! Kita pasti akan bertemu kembali.” Anak lelaki kecil itu memberikan senyumannya kepada sahabatnya. Gadis kecil itu masih dalam diamnya.

“Aigoo.. lihatlah kau lucu sekali habis menangis.” Ucap anak kecil itu sambil mencubit hidung gadis kecil itu gemas. “YAK! Hiksappo!” ringis gadis kecil itu kesakitan.

“Hehehe..” lelaki kecil itu malah membentuk cengiran di wajahnya. “Hei! Aku juga mempunyai gantungan kunci yang sama sepertimu loh!” seru lelaki kecil itu. Gadis kecil itu akhirnya menyunggingkan senyuman kecilnya.

“Kau senang kan jika kita mempunyai barang yang sama?” Tanya lelaki kecil itu.

Gadis kecil itu pun mengangguk.

.

.

.

Di kediaman keluarga Park, seorang gadis sedang memandang ke arah luar jendelanya. Ia sedang melamunkan sesuatu.

Gadis itu—Myung Eun— melirik ke arah tas yang tadi ia pakai. Disana tertera sebuah gantungan kunci yang sudah ia miliki selama beberapa tahun ini. Myung Eun memandang gantungan kunci itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Dimana kau sekarang?”

.

.

.

Di kediaman keluarga Kim, seorang lelaki sedang mengacak ruang kamarnya sendiri, mencari sesuatu yang tiba-tiba muncul di pikirannya. Ia benar-benar membutuhkan barang itu sekarang.

Lelaki itu—Min Seok— membuka laci terakhir dan menemukan barang itu disana. Barang yang sama seperti Myung Eun. Gantungan kunci berbentuk piano.

Min Seok menyunggingkan senyumannya dan ia langsung beranjak ke kasurnya dan memandang gantungan kunci tersebut.

“Myung Eun-ah.. apakah itu kau?”

.

.

.

Matahari memunculkan dirinya dari arah sebelah timur. Sedikit demi sedikit, ia memancarkan cahayanya untuk menelusuri rumah di Seoul ini. Dan tentu saja, sinar itu menulusuri jendela kamar seseorang yang bernama Park Myung Eun.

Myung Eun menggeliat kecil, ia paling benci ketika ada yang mengganggu acara tidurnya.

TOK! TOK!

“Myung Eun-ssi!” panggil seorang pelayan dari luar kamar.

Nee?” Dengan gerakan malas, Myung Eun mendudukkan dirinya di atas kasurnya.

“Ada tamu untukmu.” Balas pelayan itu.

“Siapa?” tanya Myung Eun.

“Seorang pemuda bernama Kim Min Seok.”

Myung Eun terdiam sebentar.

“A-APA?!” ucapnya kaget. “A-ada keperluan apa dia?”

“Dia bilang ia ingin bertemu denganmu.” Jelas pelayan itu.

Myung Eun memegangi kepalanya. “Ba-baiklah, aku akan segera turun!”

.

.

.

“Ah.. Terima kasih.” Ucap Min Seok pada pelayan yang baru saja memberinya minuman. Pelayan itu membalasnya dengan membungkukkan badannya, lalu pergi meninggalkan Min Seok.

“Min Seok-ah!”

Merasa terpanggil, Min Seok membalikkan badannya ke arah sumber suara.

“Ada apa kau ke sini?” tanya Myung Eun.

“Eum.. Myung Eun-ah, bisakah kita berbicara di luar saja? Sambil berjalan kaki, eotte?”

“Eoh..  tentu.”

.

.

.

“Ehem!” Myung Eun berdehem.

Mwoya?” Min Seok mengangkat sebelah alisnya bingung.

“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi!” Myung Eun mempoutkan bibirnya.

“Ah.. itu..” Min Seok menghentikan langkahnya. Myung Eun yang melihat pun langsung ikut menghentikan langkahnya dan menghadapkan badannya ke arah Min Seok.

“Myung Eun-ah!”

Nee?”

“Kau mempunyai ini?” tanya Min Seok sambil memperlihatkan barang yang ia bawa.

Myung Eun membulatkan matanya sempurna. Ia terkejut melihat barang yang ditunjukan Min Seok. Barang itu adalah gantungan kunci yang sama persis seperti milik Myung Eun. Gantungan kunci berbentuk piano.

“Sepertinya ekspresimu mengatakan iya—”

“—apakah kau Kim Min Seok yang kukenal?” potong Myung Eun dengan cepat. Ia menundukkan wajahnya.

Nee.” Ucap Min Seok sambil tersenyum.

“Kau.. benar-benar Min Seok yang kukenal?”

Min Seok menganggukkan kepalanya mantap. “Nee!”

Myung Eun melangkahkan kakinya mendekati Min Seok dan melingkarkan tangannya di pinggang Min Seok, memeluk tubuh Min Seok dengan erat.

Bogoshipeoyo.”

Min Seok terdiam.

Nado.” Ucap Min Seok sambil membalas pelukan Myung Eun.

.

.

.

“Myung Eun-ah­!” panggil Min Seok sambil membawa kopi yang tadi ia sempat beli.

Gomawo.” Balas Myung Eun. Min Seok menyerahkan kopi itu pada Myung Eun.

“Kau ingat tempat ini?” tanya Min Seok sambil menyesap kopinya.

“Eum.. aku ingat, waktu itu kita berpisah di tempat ini bukan? Ah aku sangat merindukannya.”

“Merindukan apa? Tempat ini atau… aku?” tanya Min Seok sambil menunjuk ke taman yang sedang mereka pijaki dan dirinya sendiri.

“Tentu saja kaulah!”

Jinnjja?” Min Seok mengerjapkan matanya berkali-kali.

“Ya sudah kalau tidak percaya.” Balas gadis itu sambil membuang muka ke arah sembarang.

“Kkk, kau tidak berubah ya.” Ucap Min Seok sambil terkekeh kecil.

Myung Eun kembali mengalihkan pandangannya ke Min Seok dan menatapnya dengan tatapan bingung.

“Yak! Jangan menatapku seperti itu.”

A-aniyo.” Myung Eun kembali mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat.

“Aku tidak menyangka kita bertemu lagi di sekolah musik itu…”

“…tempat itu sedikit menyeramkan ya?” lanjut Min Seok.

“Itu sekolah ayahku, Min Seok-ah.”

Min Seok terdiam. “Eo, mian.”

Myung Eun terkekeh kecil. “Gwenchana.

 

“Min Seok-ah!”

“Eum?”

“Bagaimana sekolahmu di sana? Menyenangkan?”

“Eum.. bagaimana ya? Menurutku biasa saja, tidak begitu menyenangkan, karena tidak ada Myung Eun.” Balas Min Seok sambil tersenyum ke arah Myung Eun.

BLUSH

Pipi Myun Eun merona. “Eo-eoh, begitu.”

“A-ah sudah yuk, kita pulang.” Myung Eun langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung berjalan mendahului Min Seok.

Yak! Chankamman!”

.

.

.

Di tengah-tengah perjalanan menuju pulang, Myung Eun menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Min Seok.

“Min Seok-ah.”

Min Seok menghentikan langkahnya. “Mwo?”

Sekali lagi, Myung Eun melangkahkan kakinya mendekati Min Seok dan memeluknya.

“Terima kasih kau sudah kembali.” Ucap Myung Eun.

Min Seok hanya diam. Ia pun membalas pelukan dari Myung Eun.

Saranghaeyo, Min Seok-ah.”

Min Seok membulatkan matanya sempurna. Lalu ia tersenyum.

Nado saranghaeyo, Myung Eun-ah.”

Myung Eun yang mendengarnya pun ikut tersenyum.

“Ayo kita lanjutkan.”

Nee!” ucap Myung Eun sambil melepaskan pelukannya dengan Min Seok.

 

“Ah!” seru Min Seok.

Waeyo?

“Kau bilang waktu di taman belakang sekolah kau mempunyai lagu, bolehkah aku mendengarnya sekarang?”

“Ah..” Myung Eun menghentikan langkahnya lagi.

“..boleh.” balasnya dan langsung menghampiri kursi yang berada di sekitar trotoar itu. Min Seok pun mengikutinya dari belakang.

 

“Ehem..”

gidaryeoyo here I am
meomchwojin sigan soge
boinayo here I stand
swipge chajeul su issge
dorawa here I stay
neomu neujji anhge
gieokhaeyo nan igose neul ireohge

 

Eotte?” tanya Myung Eun.

“Woa, jjang!” ucap Min Seok sambil mengacungkan jempolnya kepada Myung Eun.

Gomawo.” Myung Eun menampakkan senyumannya.

 

“Myung Eun-ah.” Panggil Min Seok sambil menghadap ke arah gadis bermarga Park itu.

Mwoya?”

“Sebagai tanda terimakasih karena kau sudah menyanyikan lagumu, aku punya hadiah untukmu.”

“Benarkah? Apa i—“

Cup

Min Seok menempelkan bibirnya pada pipi kiri Myung Eun. Selang 3 detik, Min Seok melepaskan kecupannya di pipi Myung Eun.

“Itu, hadiahnya.” Ucap Min Seok sambil tersenyum.

Myung Eun yang mendapat perlakuan seperti tadi hanya bisa terdiam terpaku. Matanya seolah tak berkedip. Detak jantungnya berpacu dengan kecepatan yang tinggi. Wajahnya mulai merona.

Min Seok yang melihatnya hanya terkekeh kecil.

“A-ah, sepertinya aku benar-benar ingin pulang.” Ucap Myung Eun sambil pergi meninggalkan Min Seok yang masih duduk di tempatnya.

Aigoo… Gadis itu benar-benar… yak! Tunggu!” Min Seok langsung berdiri dan menyusul Myung Eun. Ia menyunggingkan senyumannya.

Park Myung Eun. Aku benar-benar menyukaimu. Jinjja.

Kim Min Seok. Aku membencimu!

 

 

.

.

.

.

.

.

The End

Author’s note:

Yuhuuu!! Kembali lagi di Richan Storyline!!

Mianhae yeorobun… 😦 Richan lama updatenya

Karena bulan-bulan kemaren Richan sibuk sih :”

Eotte? Eotte?

Semoga para readers yang membaca fanfic ini mendapatkan feel-nya :v

Oke, terima kasih yang sudah mau membaca.

Jangan lupa tinggalkan jejak ya!

Annyeong!!

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s