[A New Trilogy] Tell Me Your Wish — Verse 2

irish-tell-me-your-wish-2

   TELL ME YOUR WISH – 2nd Verse 

  Seventeen`s Mingyu & Lovelyz`s Jiae 

  sci-fi, slice of life story rated by T served in ficlet length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved

“Walaupun tubuhku tidak bisa merasakan apapun, setidaknya aku bisa merasakannya, lewat ekspresimu.”—Kim Mingyu

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Tidak ada ekspresi tenang yang Jiae pamerkan sedari tadi. Dahinya terus berkerut, hampir-hampir dikira keriput oleh orang-orang yang tidak tahu, belum lagi, sepasang mata sendunya tak henti menatap layar ponsel seolah benda itu tengah menampilkan hal paling menakutkan di dunia.

Padahal, yang sedari tadi membuatnya tidak berkedip adalah sebaris pesan yang ia dapatkan dari group chat kelasnya.

Kim Mingyu ternyata seorang robot.

██║│█║║▌ Tell Me Your Wish │█║║▌║██

   Verse 2

“Jiae-ya, kenapa kau di sini?” bahu Jiae terlonjak saat suara familiar tersebut masuk dalam pendengarannya.

Lekas dimatikannya layar ponsel, dan ia masukkan ke dalam tas kecil yang ada di meja saat suara langkah terdengar mendekati.

“Mingyu-ya.” suara Jiae tanpa sadar bergetar, sedari tadi ia memang diam saja, tapi entah mengapa, sekarang berhadapan dengan Mingyu adalah hal yang cukup memicu adrenalinnya.

“Kenapa? Sepertinya kau terkejut sekali.” Mingyu tiba-tiba saja tanpa izin duduk di kursi kosong yang ada di hadapan Jiae.

“Bagaimana kau tahu aku ada di sini?” tanya Jiae, sadar bahwa ia seharian ini mengurung diri di perpustakaan, dan bahkan tidak memberi tahu Mingyu kemana ia akan pergi.

Keheningan sejenak menyelimuti saat Mingyu tidak lantas menyahut. Keheningan yang, entah mengapa makin membuat Jiae merasa takut.

“Kenapa? Memangnya aneh kalau aku tahu dimana kau berada?” tanya Mingyu, menatap Jiae dengan kebingungan di sepasang matanya.

Memang aneh. Jiae membatin.

“Tidak, hanya saja … aku tadi kan tidak bilang padamu aku akan pergi kemana.” tutur Jiae, berusaha agar nada bicaranya terdengar tenang.

Mingyu mengangkat bahu acuh. “Aku mencarimu karena nilai ujian, omong-omong. Kau dapat nilai tertinggi di ujian matematika kali ini.” Mingyu dengan santai berceloteh.

“Benarkah? Oh, itu kan karena kau mengajariku sampai larut malam.” Jiae teringat bahwa Mingyu sudah memberinya pelajaran tambahan sepulang sekolah saat mereka akan ujian.

Minggyu tertawa pelan.

“Nah, katakan, apa keinginanmu?” tanya Mingyu sejurus kemudian. “Keinginanku?” Jiae menyernyit tak mengerti.

“Ya, aku kan sudah janji akan memenuhi satu keinginanmu kalau kau dapat nilai tertinggi di kelas.” Mingyu mengingatkan.

“Ah … itu …” Jiae terdiam sejenak, dengan tak nyaman ia beranjak dari kursi yang sedari tadi didudukinya, membuat Mingyu menatap tak mengerti.

“Jiae-ya, ada apa denganmu?” tanyanya bingung.

Jiae berbalik, ditatapnya Mingyu sejenak sebelum ia berucap. “Kau tahu, aku hanya berharap jika ucapan anak-anak tidaklah benar.” ujarnya.

Raut bingung yang sempat terpasang di wajah Mingyu kini menghilang. Bergantikan ekspresi kaku yang membuat Jiae makin merasa tidak nyaman.

“Kau sudah tahu, ya?” tanya Mingyu membuat Jiae terhuyung mundur.

“J-Jadi … kau benar-benar—” belum sempat Jiae menyelesaikan ucapannya, Mingyu sudah bangkit dari kursinya, merajut langkah mendekati Jiae yang makin melangkah mundur menciptakan jarak.

“Jangan mendekat, Mingyu-ya.” peringatnya, tak ingin berhadapan dengan Mingyu sekarang, Jiae entah mengapa merasa takut.

“Kenapa? Bukankah kau sendiri yang tidak ingin aku menjauh darimu?” tanya Mingyu membuat langkah Jiae terhenti.

Ya, memang. Jiae sendiri yang menginginkannya. Ia begitu ingin bersahabat dengan Mingyu dan tak ingin ditinggalkan lagi. Jiae begitu merasa hidupnya menyedihkan, dan berangsur-angsur, ia bisa merasakan kebahagiaan sejak Mingyu datang dalam hidupnya.

Tapi mengapa kenyataan tak masuk akal seperti sekarang malah membuatnya ingin Mingyu menjauh?

“Tidak mungkin, ini bukan film. Robot itu tidak mungkin ada.” Jiae berkeras, ingin menghapus ketakutannya.

Rahang Mingyu kini terkatup rapat. Ditariknya lengan Jiae cukup keras sebelum ia mengunci gadis itu diantara kedua lengannya, dengan rak buku sebagai batas agar Jiae tidak berlari.

“Apa menurutmu makhluk sepertiku tidak seharusnya ada?” tanya Mingyu, jemarinya kini bergerak menyentuh wajahnya sendiri.

Rahang Jiae ternganga kala dengan santai Mingyu mengupas kulitnya sendiri, memamerkan jaringan bawah kulit yang tercipta dari susunan logam.

“Aku memang seorang robot, Jiae-ya.” tangan Mingyu kini lagi-lagi bergerak, dengan mudah, ia lepaskan lapisan kulit yang menutupi lengannya.

Kini, jemari yang terbuat dari susunan logam dan kabel lah yang menyentuh pipi Jiae—hal yang biasa Mingyu lakukan saat Jiae ketakutan—dan makin membuat Jiae berjengit ketakutan.

“Kau kecewa, bukan?” tanya Mingyu, membiarkan Jiae melihat bagaimana keadaannya sekarang.

“Mingyu-ya …”

“Aku tahu kau kecewa, Jiae-ya. Aku juga tahu kau tidak akan ingin melihatku lagi. Di matamu sekarang, aku pasti hanyalah seorang monster.”

“Aku tidak bicara begitu!” Jiae membantah.

Mingyu tersenyum.

“Walaupun tubuhku tidak bisa merasakan apapun, setidaknya aku bisa merasakannya, lewat ekspresimu.”

Jiae mengusap matanya bergiliran. Tadinya, likuid bening sudah akan jatuh menerobos pertahanannya. Jemari Jiae lantas dengan ragu bergerak menutup lapisan kulit di wajah Mingyu yang sedari tadi terbuka.

“Ayo kita kembali ke kelas, Mingyu-ya.” ia berucap, ditariknya lengan Mingyu, dan dipandangnya sang pemilik lengan dengan sebuah senyuman.

“Aku percaya padamu. Aku mempercayaimu lebih dari siapapun di tempat ini. Jadi, walaupun seisi sekolah membencimu, meledekmu, aku akan tetap ada di sisimu, kau bilang itu alasannya kita harus terus bersahabat bukan?” tutur Jiae.

Mingyu kini terdiam. Sebuah senyum kecil muncul di wajahnya saat Jiae bahkan masih memberanikan diri untuk menyentuh kulit buatannya ketika gadis itu sekon sebelumnya gemetar ketakutan.

“Apa kau tidak akan menyesal?” tanya Mingyu.

Jiae tersenyum.

“Kita bersahabat selamanya, bukankah sahabat harus saling melindungi dan mempercayai?”

Sekarang Mingyu diam-diam berpikir, apa lagi yang mungkin terjadi di musim semi, selain keindahan yang sekarang menyambutnya?

FIN

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

Kembali… dengan cerita astral lainnya yang gabisa dimengerti siapapun. Dengan bangga aku jadiin persahabatan mereka jadi cerita astral…

MIANE. MIANE JIAE-ya. Kenapa aku harus ngetik fanfiksi ini saat aku begitu galau dan stuck sama ide yang begitu-begitu aja?

MIANE READERS, aku terpaksa menyuguhkan cerita gak jelas, huhu.

Catch Me On:

askfm facebook gmail instagram line soundcloud twitter wattpad wordpress

Advertisements

4 thoughts on “[A New Trilogy] Tell Me Your Wish — Verse 2

  1. Ga nyangka ternyata dia robot, Jiae apa kabar? Dia ga stress kan? Berdoa aja buat Jiae semoga ga stress tau Mingyu robot….

    Like

  2. Nah, ini kak Irish banget deh kalo bikin yang begini-beginian XD
    Pas bagian Mingyu-nya ngelupas kulit sendiri agak ngeri biarpun dia robot wkwk
    Itu robot datang dari mana coba? Jiae sampai ketakutan gitu._.
    Meskipun mereka tetap berteman ^o^

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s