[A New Trilogy] Apocalypse

dark_room

Apocalypse © burritown

Inspired by The Walking Dead

Yoo Jiae [Lovelyz]

(super failed!) Science-Fiction, Action

Rating PG-17

Ficlet (915 words)

Warn! Un-beta-ed, some (failed) action scene, e.t.c

Baru saja terpikir oleh Yoo Jiae ketika gadis itu meringkuk dalam kegelapan yang pengap, dengan kengerian menyesakkan dada, serta rasa sakit berdenyut di kedua lututnya. Kalau saja Jiae memiliki kekuatan super untuk berteleportasi seperti di film-film superhero yang pernah dia lihat, mungkin sekarang Jiae akan menggunakannya untuk pergi dari tempat mengerikan ini. Sayangnya, angannya sama sekali jauh dari kenyataan yang ada. Dan tergolong ganjil.

Musim semi harusnya dihabiskan secara bahagia bersama dengan keluarga, teman, ataupun pacar. Namun hal itu sepenuhnya tidak berlaku untuk kondisi saat ini. Invasi zombie secara tak terduga mampu menghempaskan seluruh angan kebahagiaan yang menari-nari di otak kecil Yoo Jiae. Sekelompok manusia mutan itu datang dari arah selatan ketika menjelang subuh, dan telah membuat kekacauan di nyaris seluruh kota dalam waktu sekejap. Sebentar lagi Seoul akan menjadi kota mati seperti yang lainnya.

Manusia-manusia kopong itu masih setia berkeliaran di luar, dan gencar mencari eksistensi Yoo Jiae. Gadis itu sedikit tersentak ketika mendengar suara langkah kaki terseok, bersamaan dengan bunyi benda tumpul yang menggores dinding, semakin mendekati indera pendengarannya. Jiae harus mengatupkan bibirnya rapat-rapat supaya tidak mengeluarkan suara yang membuat manusia kopong tak bernyawa itu berujung menyerangnya. Tidak. Jiae masih ingin hidup sebagai manusia normal—Demi Tuhan, dia belum pernah menikah!—, dibanding harus menghabiskan waktunya berjalan terseok tak tentu arah dan menjadi bagian dari makhluk mati tersebut.

Jiae kembali bersin untuk yang kesekian kali. Dia sama sekali tidak dapat menahannya. Nasalnya benar-benar tidak mampu diajak untuk bekerja sama. Debu yang cukup banyak mampu membuat alergi Jiae kambuh kapan saja. Seperti ketika terakhir kali gadis berusia duapuluh tiga tahun itu  mengunjungi rumah kakeknya di Gacheon, Yoo Jiae tak hentinya bersin ketika melihat ruangan pribadi tempatnya dipenuhi oleh debu tak kasat mata. Sialan.

Salah satu dari makhluk mati itu mulai berjalan terseok menuju lemari tempat Yoo Jiae bersembunyi, sebelah tangannya menggedor-gedor daun pintu dengan benda tumpul yang dibawa—balok kayu berukuran tujuh sentimeter.

“Semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja.” Kalimat itu Jiae tanamkan ke dalam pusat pikirannya, entah sebagai penyemangat, ataupun sekedar pelipur lara. Ironis, memang. Hey! Bagian mana yang akan baik-baik saja ketika hidupnya sebentar lagi akan tamat oleh para manusia kopong yang sedang kelaparan di luar sana? Oh, walaupun mereka selalu terlihat kelaparan.

Yoo Jiae menutup mata, gadis itu benar-benar (terpaksa) siap untuk menerima akhir dari hidupnya sebagai manusia normal—kendati dia sedikit menyesal karena telah menolak lamaran Min Yoongi tempo lalu—, dan menjalani sisa kehidupannya sebagai makhluk kopong abadi yang tak memiliki aturan main.

Dalam waktu nyaris bersamaan, Jiae mendengar suara keributan lainnya. Tidak. Bukan langkah kaki terseok itu lagi. Tidak hanya itu, lebih tepatnya. Terdapat keributan lain yang lebih…mengerikan, mungkin?

Jika harus menggambarkan keributan di luar lemari, Yoo Jiae seperti kembali teringat saat dimana dia melihat seseorang memainkan piano dengan tuts tak beraturan—mengerikan, dan membuat telinganya sakit bukan kepalang—. Atau seperti film thriller yang terakhir kali ditontonnya bersama Jung Eunji dan beberapa kolega tempat kerjanya. Sama sekali tidak ada hal baik yang menggerayangi pikiran Yoo Jiae saat ini. Suara pukulan benda tumpul yang beradu, deru napas tersengal manusia di luar sana, serta suara orang (lebih mirip seperti makhluk kosong) yang ambruk di lantai—terkadang diikuti interior yang hancur—.

Jiae mendadak merasa sulit untuk sekedar meraup oksigen ke dalam paru-parunya. Kedua tangannya yang bebas mulai diarahkan untuk menutupi indera pendengaran dari keributan yang terjadi di luar. Pikirannya kalut. Bagaimana kalau makhluk mati itu berhasil menangkapnya, dan menjadikan Jiae sebagai salah satu kawanan mereka? Lebih buruk lagi, bagaimana kalau—

BRAK!

“Yoo Jiae! Kau baik-baik saja?!” Suara itu. Suara yang tidak asing lagi di telinganya. Jung Eunji. Kerabat dekatnya di tempat kerja. Ternyata perempuan itu masih hidup. Lebih penting lagi, tubuhnya masih utuh; serta tampak normal. Setidaknya sebelum—

“J-Jung… Lenganmu. Kau tergigit.”

—Yoo Jiae mengetahui bahwa bagian lengan sebelah kiri Jung Eunji sedikit robek dan berdarah. Suaranya sedikit bergetar seiring sebelah tangan bebasnya mencoba meraih luka mengerikan yang tercipta. Kendati hal itu semakin memacu produksi hormon adrenalin Yoo Jiae. Yang sama sekali tidak meninggalkan kesan bagus baginya.

Banyak laporan-laporan berita mengenai cara penyebaran virus manusia kopong. Cara paling rasional dan mendasar adalah dengan bubuk tetrodoxin yang disuntikkan langsung ke dalam darah (Jiae pernah mendengar bahwa bubuk tersebut banyak digunakan oleh oknum-oknum ‘ilmuwan’ untuk mengubah sosok manusia normal menjadi zombie). Dan cara paling sederhana adalah dengan menjadi korban gigitan makhluk kopong.

“Bukan masalah. Kita harus keluar dari si—”

Dan dalam sekejap semua hal berubah menjadi bencana di mata Jiae. Salah satu dari manusia kopong itu bangkit dan mengambil tongkat pemukul bisbol yang tergeletak di sampingnya. Dengan gerakan cepat mulai menebas sosok koleganya. Jung Eunji sudah mati. Dan sekarang, Jiae hanya harus menunggu saat yang tepat untuk bergabung dengannya—membuang jauh angannya untuk menikah muda—.

Hei, musim semi seharusnya menjadi waktu paling bahagia, bukan?

.

.

“Jiae-ya! Bangun. Kau akan terlambat ke kantor!”

Pekikan nyonya Yoo terdengar cukup nyata menyapa indera pendengaran Jiae. Perempuan berusia duapuluh tiga tahun itu lantas memposisikan dirinya, mengerjap barang sejenak, serta mencoba mengumpulkan kesadaran.

Semalam dia begadang setelah menonton lima episode dari TV-Series favoritnya, The Walking Dead. Salahkan Jung Eunji dan selera anehnya mengoleksi film-film tak masuk di akal (walaupun, toh, pada akhirnya Yoo Jiae menontonnya juga).

Invasi zombie di Seoul. Kematian Eunji. Dan Aku yang gagal menikah muda. Mimpiku benar-benar gila.

.

.

.

FIN

Finished on 2016 May 21th; 12.01 AM

.

.

.

P.S: Happy belated 23th  birthday for Lovelyz’s fake-maknae, Yoo Jiae! Tolonglah ya, muka imutnya dikurangin dikit supaya saya nggak diabetes lihatnya :’D /dilempar/

A/N: Huaaaa! Fic macam apa ini? ;A; sama sekali jauh dari ekspektasi awal, huhuhu /melipir/. Trus genre Sci-Fi nya ilang banget, ketutupan sama fail!Action scene(s) T-T dan saya juga agak gak rela mba Jiae nyasar di adegan zombie-zombie-an ;~; /maunya mba jiae yang gula-gula sama mas yoongi //lohkok/

Oiya, kemudian fic ini terinspirasi setelah baca The Walking Dead: Rise of The Governornya Robert Kirkman & Jay Bonansinga yang cetar dan sukses bikin saya susah tidur gegara mikirin kalau beneran ada zombie apocalypse di dunia ini xD /halah/. Dan ini merupakan fic zombie-zombie-an pertama saya setelah sebelumnya pernah bikin fic tembak-tembakan di fandom lain u_u jadi silahkan beri koreksi, kritik, saran, atau apapun demi kemajuan karya saya selanjutnya /melipir/

Trus terakhir—selamat kembali dari hiatus, buat saya :’D akhirnya minggu-minggu yang melelahkan telah berakhir coretbelumcoret. Well, walaupun deathline tugas sama sekali belum berakhir, orz. saya masih harus berjuang untuk UAS dan mempertahankan IPK demi kelangsungan hidup sebagai mahasiswa, huhuhu /malahcurhat/

Once again, happy birthday Yoo Jiae! #HappyJiaeDay and lastly, shalom!


Special Thanks To:

The Walking Dead by Robert Kirkman & Jay Bonansinga

http://zombie.wikia.com/wiki/Zombie_Wiki

Advertisements

5 thoughts on “[A New Trilogy] Apocalypse

  1. HAI RITOOO, awalnya ikut kebawa pas cerita zombiezombie, kukira endingnya para kumpulan zombie bakal dateng terus bawa kue buat jiae dan—/ini nggak banget ta!/ :3
    dan aku suka, ternyata itu hanya mimpi, benar-benar tidak terduga, sungguh
    ada kalimat yang buat aku ketawa di tengah kekhawatiran/elaaah/ ‘kendati dia sedikit menyesal karena telah menolak lamaran Min Yoongi tempo lalu’, kenapa menolakkk??? abis bangun dari mimpi langsung datengin yoongi dan minta yoongi ngelamar lagi dong jiii, kalau nggak mau, sini mas yoon buat aku/yoongi nya gamau/

    nice ff ritooo, setelah sekian lama nggak liat kamu karena aku juga habis hiatus, akhirnya hari ini bisa bacaaa. AKU SUKAAAA ♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

    Liked by 1 person

    • ugh, maunya sih di ending mba jiae juga ikutan jadi zombie, tapi gak jadi karena… gak tega :”) /lah/. hmmm, pas itu mba jiae nolak soalnya dia masih belum gajian, jadi takut nnti gabisa bayar gedung pernikahannya /ga/
      ugh, intinya kita samasama hiatus :’D wkwkwk. sebenernya juga masih banyak kurangnya ini fic :”) failed banget sci-fi dkk nya, huhuhu /mojok/ MAKASIIIH SUDAH SUKA T-T HUHUHU ❤

      Liked by 1 person

  2. Duh, ngeri banget sih itu bikin dag dig dug semoga-Jiae-engga-jadi-korban
    Dan ah, itu hampir banget Jiae-nya diserang kawanan zombie
    Eh, ternyata mimpi
    Lega banget:’)

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s