Posted in 2nd : A New Trilogy, Action, AU, Aurora, Fantasy, PG-15, Sci-Fi, Slice of Life, Vignette

[A New Trilogy] Midnight Solar

a-new-trilogy-midnight-solar.jpg

presented by aurora | starring Yoo Jiae, James Hawthorn (OC) , Lee Mijoo, and some other casts—mostly original characters | Sci-Fi; Dystopia; Action; Post-apocalyptic and Family | a Vignette PG-15

inspired by: The 5th Wave (book by Rick Yancey) and Hansel & Gretel: The Witch Hunters (movie)

Poster © Jungleelovely via POSTER CHANNEL

summary:

Oh, bung, menjadi pemburu alien tidak segampang jadi pemburu babi hutan.


Kabut memeluk kosmos di sekitar, menyelip di sela-sela reruntuhan bangunan, menyatu dengan pekat hitam di langit dan menyaksikan bagaimana gadis bersurai sewarna kokoa itu dengan Armatix iP1-nya yang mengamuk melenyapkan entitas-entitas asing berkulit keperakan tanpa menghitung sekon.

Keringatnya mengalir deras, kendatipun suhu di bawah satu derajat menyambangi permukaan kulitnya melalui robekan-robekan di baju tempurnya yang bersimbah noda lumpur dan darah. Ia baru saja berkelit dari lemparan beberapa keping laser yang mengarah pada koordinatnya, namun alih-alih membagi tubuh si gadis menjadi beberapa bagian, keping-keping tersebut malah membelah sebuah bangunan apartemen bobrok dan bangunan itu kini tergelincir; jatuh berdebum menghantam tanah tandus.

Yoo Jiae mendesah napasnya keras-keras, adrenalinnya masih berpacu dan berimbas pada jantungnya yang mendobrak di balik rusuknya hingga setiap inci kulit gadis itu merasakan dentumannya. Lima peluru meluncur dari pistolnya ke koordinat berbeda, dan untuk kesekian kalinya, petang itu kembali diisi dengan suara ledakkan di udara.

Satu yang lolos dari tembakan Jiae berlari tepat ke arahnya. Dari tempatnya berdiri sekarang, Jiae bisa melihat keriput kulit makhluk itu, bola matanya yang serupa kaca gelap memantulkan ekspresi wajah Jiae, pun tubuh ceking terbungkus baju aluminium dan kepalanya yang serupa buah pir.

Bloody hell,” maki gadis itu sambil mendecak.

Jiae mengarahkan moncong senjatanya ke hidung si makhluk, tetapi ketika pelatuknya ditarik, hanya udara kosong yang lolos dari lubang peluncur. Saat si makhluk sudah mengambil ancang-ancang untuk memenggal kepala Jiae dengan pedang lasernya, tiba-tiba makhluk itu terdiam, tangannya tertahan di udara, kemudian ambruk seperti apartemen yang terkena kepingan lasernya barusan.

Jiae mendapati sosok pemuda enam belas tahun dengan rambut pirang pasir di belakang tempat si makhluk tadi berdiri. Sesimpul senyum terpeta di wajah Jiae, rambut kokoanya berjatuhan menyentuh pipinya yang ternoda debu dan beberapa luka tergores.

“James,” sapa Jiae. Ia menyimpan senjatanya, lantas menerima uluran tangan James dan mulai melangkahkan kaki pegal mereka. James memasukkan pemancar elektronya ke dalam saku. Wajahnya tidak kalah kacau dari kakak perempuannya.

“Tadi itu yang terakhir di wilayah ini,” kata James, “aku menjadikannya percobaan pertama pemancar elektro transparanku.” Nada pemuda itu begitu riang, seperti nada seorang adik kecil yang bercerita kejadian menyenangkannya di sekolah, seperti menguapkan identitas dan profesinya yang penuh riskan.

Oh, bung, menjadi pemburu alien tidak segampang jadi pemburu babi hutan.

Tiga tahun lalu sejak semua keluarga mereka dibasmi habis oleh makhluk-makhluk luar angkasa tersebut, Jiae dan James hidup luntang-lantung di negeri mereka yang hancur. Mereka tinggal di sela reruntuhan gedung dan mengambil makanan dari supermarket yang terbengkalai tanpa memeriksa tanggal kadaluarsa—yang penting mereka punya energi untuk bertahan hidup.

James yang kala itu masih sangat muda punya daya imun yang sedikit di bawah kakaknya, ia tak sadarkan diri di tengah pelarian mereka dari sepasukan alien bersenjata granit. Jiae nyaris putus asa. Tetapi seorang pria paruh baya botak membawa mereka ke kapal, dan di sana Jiae diberi tahu bahwa ia dan James akan dilatih oleh Pandora—sebuah asosiasi yang dibentuk pemerintah, ilmuwan, dan penegak hukum untuk mempertahankan bumi dari invasi alien.

Hidup Jiae berubah. Ia yang tadinya remaja normal yang cuma mengkhawatirkan nilai matematika dan omelan orangtua kini terkungkung distopia. Bersahabat dengan pistol dan senjata mematikan yang lain, pun tubuhnya disokong serum-serum kekebalan dan penambah imun sehingga kekuatan fisiknya bertolak belakang dengan wajah serupa bonekanya.

Jiae dan James memasuki markas berpindah Pandora yang kini letaknya di bawah tanah. Mereka harus memasuki sebuah stasiun tua di pinggir kota, platform 7, berdiri di atas rel sampai sensor di bawahnya selesai memindai pengenal di sol sepatu dan rel tersebut bertransformasi jadi lift yang mengantar mereka langsung ke common room para pemburu di markas.

“Jiae! James!” sambut seorang gadis Asia—seperti Jiae—yang berambut panjang dengan poni rata: Lee Mijoo. Ia bekerja di Pandora, tetapi tidak seperti Jiae dan James yang terjun langsung ke medan perang, Mijoo bekerja di balik layar, menyusun strategi, memantau penyerangan dari monitor, dan mengumpulkan data.

“Aku baru saja selesai menyampaikannya pada semua divisi pemburu,” kata Mijoo. “Perubahan rencana. Kita batalkan perburuan di Brooklyn malam ini, semua pemburu harus berjaga di markas. Baju tempur dan senjata untuk kalian sudah di-upgrade, istirahatlah sebentar, setelah itu minum semua serum dan vitamin yang disiapkan. Pukul dua belas nanti, setelah kami membunyikan bel, tunggulah instruksi dariku.”

Jiae mengerjap. Serebrumnya masih berputar mencari konklusi, meskipun ada satu presumsi yang mendominasi. Namun Jiae harap itu semua cuma kesalahan pola pikirnya yang suka melenceng saat sedang kelelahan. Sementara telapak tangan James kehilangan baranya di genggaman Jiae.

“Mijoo,” James menyela, “apa ini artinya … ?”

Jiae rela melakukan apa pun asalkan presumsinya tidak dibenarkan semesta.

Tetapi helaan napas Mijoo dan kalimat tersirat dari sorot matanya meruntuhkan ekspektasi Jiae. Senyum pasrahnya terpetakan, dan bibirnya bergemetar kecil.

“Mereka akan menyerang kita malam ini, alien-alien itu.”

Kalimat tersebut setara dengan sepuluh kali setruman dari perangkat milik James.

“Kenapa baru sekarang?!” teriakkan Jiae menarik perhatian beberapa pemburu lain yang sedang menikmati waktu istirahatnya di common room. Raut wajahnya merefleksikan geram, lelah, sedih, dan gamang pada sekon-sekon yang sama. Kuku-kuku Jiae menusuk kulit tangan James, di balik noda-noda hitam di pipinya, semburat merah menyalakan pendar. Dan bahunya naik-turun di saat napasnya kembali menderu.

James dan Mijoo sedang mencari kalimat yang tepat untuk menyahut Jiae. Namun gadis itu kembali buka suara.

“Kenapa tidak ada yang memberi tahu?!” kali ini Jiae menanyakannya ke sepenjuru ruangan, tatapan nyalangnya menampar harga diri para pemburu lain. Teman-temannya tertunduk takut, Jiae mengalihkan pandangannya ke Mijoo.

“Aku mencoba memberi tahumu lewat Gelombang Antar-Pandora, tapi keberadaan chip-mu tidak terdeteksi, mungkin terinjak alien saat kau lari,” jawab Mijoo mengedikkan bahu.

Jiae berjengit. “Yang benar saja! Lalu kenapa tidak memberi tahu James?”

“Maaf, chip-ku tercebur saat aku membasmi sekompi alien yang sedang mencemari sungai dengan cairan asam.”

Kali ini Jiae betul-betul marah. Ia marah pada Mijoo, pada James, pada teman-temannya di Pandora, pada para alien yang menginvasi bumi dan menjungkirbalikkan hidupnya dan James, dan lebih lagi, ia marah pada dirinya sendiri.

“Dengar, Ji,” panggil Mijoo. “Aku pun baru tahu soal ini empat jam yang lalu. Louis membawa jasad seekor alien ke sini dan Dr Soul mengambil data dari kepala alien itu. Di sana terdapat rencana bahwa mereka akan mendatangi markas kita diam-diam tengah malam nanti.”

Jiae masih tak bergeming, Mijoo melanjutkan, “Setengah pasukan mereka memang sudah kita basmi, tapi mereka telah memperbarui senjata dan barangkali strategi juga. Strategi mereka tidak ditemukan di data kepala alien itu. Ji, kupikir mereka ingin mengakhiri kita.”

“Lalu kenapa tidak kalian hentikan mereka?” tanya Jiae lagi, sudah lebih baik dari yang tadi.

“Kami mengirim Alvin dan Coral ke flying saucer, tetapi para alien itu menambahkan gelombang listrik dengan pendeteksi di sekitar markas mereka itu. Hanya yang dikenali sebagai kawan satu spesies mereka yang bisa melewatinya dengan selamat.”

“Apa yang terjadi pada Alvin dan Coral?” Jiae membiarkan irisnya berkelana di setiap sudut ruang dan berharap Alvin dan Coral masih duduk bersama di dekat jendela. Namun tempat tersebut kosong.

Mijoo membuat ekspresi miris. “Tidak mungkin kau tidak tahu kelanjutannya, ‘kan?” Setelah menepuk pundak Jiae dan James bergantian, Mijoo berjalan ke pintu keluar dengan map yang dalam dekapan. “Aku kira malam ini semuanya akan berakhir,” lirihnya samar.

Kepala Jiae sakit, ia perlu aspirin sekarang juga.

.

.

“Mereka tidak akan menghancurkan satu-satunya rumah kita, yakinlah pada diri kalian,” Mijoo berujar di aula besar, di hadapan puluhan pemburu Pandora yang berpakaian siaga. Sabuk gadis itu sendiri telah terisi dua Russian Roulette dan satu Glock—barangkali di saku rok Mijoo ada peluncur granit.

Jiae berkali-kali menghela napas. Jantungnya terus mencelos. Tangannya pucat dalam genggaman James yang kuat. Adiknya memandangnya, berusaha meyakinkan kakaknya agar percaya pada setiap frasa yang diudarakan Mijoo sebagai penyemangat malam itu. Jiae mengangguk lemah.

“Pandora akan selalu melindungi bumi—”

Ucapan Mijoo terpotong, sebuah ledakan terdengar dari atas, ruangan bergetar sesaat dan gemuruh menggema. Tak perlu waktu lama bagi para pemburu untuk berlarian menghambur dengan senjata siap. Sementara mereka yang bukan pemburu lekas ke ruang navigasi dan laboratorium.

Jiae masih menggenggam tangan James, sejemang bertukar pandang dengan sang adik.

“Ini akan jadi yang terakhir,” James berujar.

“Aku menyayangimu, James,” kata Jiae, mengecup pipi adiknya dan berlari menenteng Armatix-nya.

Malam itu Jiae dan James akan menyua pertempuran sesungguhnya—setelah pertempuran tanpa akhir selama tiga tahun ini. Senjatanya akan memekakkan udara, menjadi letusan keemasan yang menggelora di pekat angkasa, laiknya mentari yang menghadiri sang malam dan mencambuki para pemburu lain dengan secercah harapan.

Segalanya akan berakhir di sini.

finish.


notas:

  • sekali-kali mbak cantik ini perlu juga dikasih peran yang bold dan strong.
  • i do some research buat mengeksplor sisi ilmiahnya lebih lanjut, tapi ujung-ujungnya malah jadi resource pribadi karena belum siap mengeksekusinya sama fiksiku. ehe.
  • plotholes everywhere.
  • ini open-ending ya, kawan-kawan. (((maklumin yang nulisnya pemalas akut))).
Advertisements

Author:

without changing a part of me, how do i get to heaven?

6 thoughts on “[A New Trilogy] Midnight Solar

  1. asdfghjkl bagus ya bikin baper, mau nangis di lab, nahan amarah kek mbak ji yang belum dikasih tau sama sekali kalo nanti bakal ada ‘perang’ rasanya itu bener-bener mencelos kalo tau itu hari terakhir pandora berdiri, mbak ji berdiri bareng james, bumi hancur, wuih rasanya……. /erik lebay/ tapi percayalah ini bahkan hampir menusuk kalbuku wkwk

    nice fict lah kak pokoknya >< (y) ❤ ❤ ❤ ❤

    Like

      1. ehehehe.. soalnya tuh gimana ya ini fict bikin baper :v (lebay) tapi beneran deh jadi pengen ikutan nangis pas tau itu hari terakhir bareng pandora huhuhu…
        waha sepsep samasama dear ^^

        Liked by 1 person

  2. Berasa baca novel action sci-fi
    Ini bagus:3
    betah baca karena diksinya pun sangat mendukung genre /?
    Oke, Jiae cocok banget kok dapat peran kaya gini wkwk
    Ngebayanginnya… keren ^o^

    Suka banget lah sama fanfiksi ini ><

    Like

    1. Halo, Ai! Wah seneng deh kamu berasa baca novel, padahal tulisan sci-fi ku mah sampis abis. IYA PADAHAL ITU CUMA EKSPERIMEN LOH KARAKTERNYA tapi aku suka cewek yang bold dan petarung gt huhu :3 makasih Ai ❤

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s