[A New Trilogy] Jiae is Liar.

Standard

jiae-is-liar-misshin017.gif

misshin017 present
Yoo Jiae & Lee Mijoo
Friendship, bit-sad / G

CreditLittleCookie@SPZ

Jiae memang selalu tahu bagaimana bermulut manis untuk membuat orang lain bahagia.

•••

“Joo, kamu kok gitu sih?”

Mijoo—sang pemilik nama—mengaduk jus jeruknya sembari mengangkat kaki ke atas meja. Berpura-pura bertingkah seolah hanya seorang diri dan meniadakan keberadaan gadis yang duduk di sebelahnya.

“Musim semi itu setahun sekali tahu!”

“Iya, tahu kok.”

“Terus? Memangnya kenapa mendadak ngebatalin? Kamu sakit? Atau lagi males?”

Jiae—gadis yang merengek dengan jaket tebal di tubuhnya terus menggoyang-goyangkan bahu Mijoo dengan tenaga yang tak seberapa. Niat hati menjemput si sahabat, namun yang terjadi malah diluar ekspektasi. Menemukan Mijoo yang hanya berbalut kaus serta celana dan sendal rumah membuat Jiae yakin ada yang tak beres di sini. Dan, faktanya terbukti.

“Nanti dia marah loh! Kita kan sudah janjian bertiga!” ketus Jiae tak terima diabaikan oleh Mijoo sejak tadi.

“Ya udah, kau dan dia saja yang pergi,” balas Mijoo melepaskan jemari Jiae yang bertaut di ujung bahunya.

Ceritanya sebulan lalu ‘dia’ mendapatkan tiket travelling ke Jepang untuk menyambut musim semi dari kakak iparnya. Berhubung hanya kedua gadis ini yang tak kemana-mana, berakhirlah ajakan itu diberikan kepada mereka. Lagian, liburan gratiskan sangat langka, omong-omong.

Nah, yang membuat Jiae tak habis fikir adalah, angin apa yang membuat Mijoo tiba-tiba membatalkan perjanjian mereka tanpa memberikan alasan? Bagaimana Jiae tak pusing, dia sudah seperti orang yang kebakaran jenggot, dan kebakaran tenggorokkan karena terus mengoceh sejak tadi. Padahal yang paling antusias ketika mendapat tawaran liburan adalah Mijoo, lalu kini gadis itu mendadak membatalkannya begitu saja.

“Kau kenapa sih? Ada masalah? Ayo cerita denganku.”

“Engga Jiae, aku baik-baik saja,” ujar Mijoo lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Kau bohong, dan aku tahu loh.”

“Aku engga bohong.”

“Bohong!”

“Engga!”

“Bohong!”

“Engga!”

“Bohong!”

“Oke, aku bohong!”

Bibir Jiae secepat kilat membentuk sebuah seringai puas setelah mendapatkan apa yang dia mau. Toh serapat apapun Mijoo menutupinya, Jiae akan tahu dan akan tetap tahu. Istilahnya, Jiae itu bisa telepati.

Gadis itu menopangkan kepalanya lalu menatap Mijoo penuh tanya.

“Ayo, katakan, segera.”

Mijoo memutar mata kemudian menghela nafas tak suka.

“Aku takut cemburu!”

“Huh? Apa?”

“Iya, aku takut cemburu!”

Jiae menautkan alisnya. Tunggu-tunggu, Mijoo takut cemburu? Memangnya dia cemburu dengan siapa? Bagaimana bisa? Kenapa?

“Aku cemburu kalau aku hanya menganggu kau dan dia. Kau tahukan, dia katanya menyimpan perasaan padamu,” ungkap Mijoo lalu menundukkan kepala.

Dia? Menyimpan perasaan padaku? Kata siapa?”

“Kata orang-orang.”

“Orang-orang mana? Orang-orang sawah?”

“Ish, aku serius Yoo Jiae!”

“Aku juga serius Lee Mijoo.”

Mendadak suasana menjadi sepi. Hening dan jeda beberapa saat sebelum suara tawa memecah keduanya.

Jiae tertawa lepas dan memukul kursi yang sedang dia duduki. Seolah baru saja menemukan fakta yang lucu dan menonton siaran komedi.

Dia suka dengan kamu, Joo!” ucap Jiae sesekali menahan tawa.

“Kata siapa? Orang-orang sawah?”

Jiae menggeleng.

“Kata aku, sahabat terbaikmu.”

Mijoo menyampirkan rambutnya dan mendengus mendengar ucapan gadis itu. Jiae memang selalu tahu bagaimana bermulut manis untuk membuat orang lain bahagia. Dan, Mijoo benci dengan hal itu. Karena pada akhirnya, dia hanya akan tertipu dan terbuai dengan omong kosong sahabatnya tersebut.

Dia itu sering nanyain kamu, memperhatikanmu, bahkan dia memberikan tiket duluan ke kamu baru ke aku? Ya kan? Kau jangan sok jual mahal deh, Joo. Kalau juga suka, ya deketin, jangan main cemburu-cemburuan gini! Nih, aku yang kena imbas.”

“Tapi—”

“Tapi apa? Mau mengelak lagi? Mijoo yang kukenal bukan pengecut ya kan?”

Gadis itu terdiam, mengiyakan perkataan Jiae. Memangnya enak dikatain pengecut? Apalagi sama Jiae? Enak aja.

“Nah, sekarang udah jam sepuluh. Bentar lagi pesawat akan take-off, kalau sampai kita terlambat, dia bakalan marah dan liburan musim semi ini engga bakal ada bunga sakura, tapi bunga bangkai. Paham?”

Seperkian detik Mijoo memahami ucapan Jiae, lalu detik selanjutnya dia menjerit histeris lalu berlari tergesa-gesa ke dalam rumah. Merapikan kembali koper yang sudah dia bongkar dan bergegas mandi untuk bersiap-siap pergi.

“Jiae! Telfon taksinya!”

“Iya bawel!”

Gadis itu terkikik geli. Menekan digit-digit angka yang sudah dia hafal di luar kepala, mendekatkannya ke telinga sembari menunggu nada sambung terhubung, jemarinya memperhatikan kuku-kuku yang sudah sejak semalam ia warna.

“Hallo?”

“Hallo?”

Jiae menahan nafasnya sejenak.

“Maaf, mungkin cuma Mijoo yang bisa pergi.”

•••

Musim semi.

Harusnya ada sakura, yukata, dan teman-teman ataupun canda tawa. Khawatir soal kesendirian dan perelaan, Jiae lebih memutuskan menatap langit pagi yang membuat nafasnya mengepul di udara. Hendak berniat ke kamar mandi, justru bunyi telfon rumah yang memekakkan telinga membuatnya memutar badan ke arah utara.

Siapa lagi, kalau bukan—

“Dasar penipu! Sekarang kau dimana, hah?!”

Lee Mijoo.

Meringis sejuta kalipun tak mengubah apa-apa. Jiae menyandarkan punggungnya ke dinding apartemen sambil menggerakkan-gerakkan ujung kaki. Uh, pendingin ruangan lupa dia matikan ternyata.

“Tiba-tiba perutku sakit, aku engga bisa duduk tahu.”

“Kau kan bisa berdiri!”

“Dan ditabrak pramugari? Jahat banget.”

Suara ledakan-ledakan dari seberang sana membuatnya mau tak mau mengulas senyum kasat mata. Mereka sedang menikmati sakura, yukata idaman, dan hanya berdua.

“Pokoknya bersenang-senanglah, buat dia jatuh cinta padamu.”

“Sialan,” umpat Mijoo menggertakkan gigi.

Sekali lagi, Jiae menipunya.

“Udah ah, aku mau mandi nih. Jam delapan ku telfon ya.”

“Ya! Yoo Ji—”

Klik.

Jiae meletakkan gagang telfon dan berjalan mendekati nakas yang berada beberapa langkah dari tempatnya. Membuka laci dan mengeluarkan selembar tiket pesawat dari sana.

Bibirnya membentuk kurva yang saling berbeda dengan keinginannya.

Perihal tipu menipu—

“Nyatanya, dia memang mengajakku, duluan.”

Yoo Jiae memang jagonya.

***
END

Advertisements

One thought on “[A New Trilogy] Jiae is Liar.

  1. stalkims98

    Kok nyesek banget ya 😭 aku nggak mau punya temen tukang tipu yg nyakitin perasaan sendiri kyk jiae, eommaaaa 😭 kenapa ini sakit bangetttt

    Awal baca lucuuu, endingnya sakittt/tbtb inget genre nya/

    Nice ff intan, keep writingggg 😊

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s