Love & Lust [2/2 END]

Love & Lust 3

Love & Lust

By Fanita

Main Cast : Seventeen’s Mingyu – Lovelyz’ Sujeong

Cast : Astro’s Cha Eunwoo – BTS’ Jungkook – Infinite’s L –  DIA’s Yebin

Genre : Romance – Sad – Hurt/Comfort – School Life – Songfic

Rating : PG-17!

Type : Twoshoot [Read Part 1 Here!]

“I really dont know your heart. Do you even like me? Please show me your heart. Now please stop being so confusing.”

(Yebin of DIA – Waiting For You)

.

Author Note : Fanfic ini berisi konten yang tidak pantas dibaca anak dibawah 17 tahun. Jadi kalau kalian tetap membacanya… jangan salahkan author :p Dan juga setelah 5 bulan akhirnya saya kembali dengan kelanjutan serta ending dari Love & Lust. Maaf digantungi selama ini>< Give me a support, cukup dengan memberikan jejak kalian di komentar itu sudah menjadi sesuatu hal yang berharga untuk author. Kulihat statistiknya wow loh tapi komentarnya beberapa biji :”) Aaa.. sudahlah.. Thank you and enjoy the last episode of Love & Lust!

.

.

.

            1 bulan sejak perpisahannya bersama Mingyu, Sujeong sudah bisa bertingkah normal seperti biasanya berkat bantuan Yebin, Eunwoo dan juga Jungkook. Ngomong-ngomong tentang  Jungkook, dia jadi sangat dekat dengan cowok bermarga Jeon itu. Dia juga sering pulang bersama Jungkook dan jalan-jalan walaupun keduanya baru kenal selama 1 bulan.

            Tentu saja Eunwoo senang melihat Sujeong dekat dengan Jungkook. Dia menilai Jungkook pantas menjadi orang terdekat untuk Sujeong, tidak seperti Mingyu. Jungkook penyayang, baik dan juga royal. Dia tidak segan untuk membantu temannya. Oh ya, Jungkook juga easy going jadi dia memiliki banyak teman setelah pindah ke sekolah ini.

            Jam pelajaran ke-6 adalah waktunya untuk belajar sosiologi. Pak Moon sudah siap untuk memberikan tugas kepada murid kelasnya Sujeong. Kali ini tugasnya bukanlah individual melainkan tugas kelompok. Terang saja anak-anak menghela nafas. Kalau tugas kelompok bersama Park Moon itu tandanya beliau yang akan membagikan kelompoknya, bukan mereka sendiri. Sujeong tidak terlalu memperdulikan itu sih sampai akhirnya—

“Baek Yebin. Kim Chaewon. Kim Mingyu, Lee Seokmin dan yang terakhir Ryu Sujeong,”

Deg!

Tubuh Sujeong menegang setelah mendengar namanya disebut berada dalam kelompok yang sama dengan Yebin dan tentunya Mingyu. Otomatis Yebin juga melihat ke arah Sujeong. Tanpa Sujeong ketahui juga Mingyu melirik ke bangkunya. Ini benar-benar mimpi buruk bagi Sujeong. Setelah putus dengan Mingyu dia tidak pernah berinteraksi dengannya lagi. Jadi bagaimana sekarang Sujeong harus melewati hal ini?

            “Sujeong kau baik-baik saja?” Yebin bertanya kepada Sujeong karena dia khawatir. Tapi Sujeong hanya tersenyum tipis kepada Baek Yebin, “Santai saja. Aku baik-baik saja kok,” jawab Sujeong. Walaupun begitu Yebin tidak mudah percaya dengan Sujeong. Yebin paham betul kalau Sujeong sering kali menyembunyikan rahasia di belakangnya. Yebin selalu penasaran tapi dia tahu ada batasan di antara persahabatan, masing-masing orang juga punya privasi ‘kan? Makanya sampai sekarang Yebin tidak pernah mengungkit tentang putusnya Sujeong dan Mingyu. Alasannya sampai sekarang masih abu-abu untuk Yebin, “Ya sudah kalau gitu. Oh ya bukannya kau janji mau makan di kantin sama Jungkook dan Eunwoo? Pergi sana..” kata Yebin mengingatkan. Plak. Sujeong menepuk jidatnya, gara-gara Mingyu dia jadi lupa, “Makasih ya aku pergi Yebin-ah byee!”.

            Setelah Sujeong pergi dari kelas Yebin yang baru saja mengeluaran bekal makanannya terkejut melihat Mingyu sudah ada di depan matanya. Sejak kapan dia ada di sana? Kenapa dia tidak menyadarinya? Dengan muka masam Yebin pun bertanya kepada Mingyu.

“Apa?” tanyanya ketus.

“Sujeong tidak suka sekelompok denganku?” tanya Mingyu tanpa basa-basi.

“Aduh! Mingyu aku tidak menyangka kalau orang sepertimu akan bertanya seperti itu kepadaku hahahha,”

Ya aku serius saat ini!” bentak Mingyu.

Yebin berhenti tertawa, “Aku juga serius!” katanya dengan nada dingin, “Sujeong sekarang bukan urusanmu jadi tidak usah menanyakan tentang dia lagi. Mending juga urusin diri masing-masing,”

Malas melihat Mingyu, Yebin memilih untuk membawa bekalnya dan makan di luar. Bukan hanya Sujeong yang menghindari Mingyu, Yebin juga begitu.

            “Nona manis kenapa kimchinya tidak kau makan?” Jungkook menegur Sujeong yang sejak tadi tidak menyentuh kimchinya. Padahal Sujeong paling suka jika makan pakai kimchi. Mendengar komplenan Jungkook membuat Sujeong terpaksa memakannya dengan suapan penuh dan itu membuat dagunya menjadi kotor.

Aigoo kalau makan baik-baik dong,” oceh Jungkook sambil mengambil tisu dan mengelap dagu Sujeong.

“Kalau mau WGM-an lihat sekitar dong,” cibir Eunwoo yang merasa tak dianggap.

Tak! Sujeong memukul kepala Eunwoo dengan sendoknya yang masih bersih, “Ngomong apa sih..” oceh Sujeong tak terima.

“Hahahaha sudah jangan bertengkar,” lerai Jungkook yang sudah merasakan hawa-hawa perkelahiran di antara Eunwoo dan Sujeong, “Pulang sekolah nanti karokean yuk?!” ajak Jungkook.

Sejeong setuju dengan ajakan Jungkook. Dengan penuh semagat Sujeong menganggukkan kepalanya. Eunwoo juga begitu, ia mengangguk tanda setuju.

Assa! Tenang saja aku yang traktir kok!” kata Jungkook.

“Yey!”

            Pulang sekolah Sujeong menunggu di halte bus seperti biasanya. Hari ini ada jadwal piket untuk Eunwoo dan Jungkook jadi akan lama bagi Sujeong menanti kedatangan mereka. Selagi menunggu Sujeong memainkan ponselnya tanpa sadar sejak tadi ada yang memata-matainya.

“Ryu Sujeong!”

Wajah Sujeong langsung berseri begitu mendengar suara Jungkook memanggil namanya. Jungkook yang datang seorang diri melambaikan tangannya sambil berlari ke arah Sujeong.

“Loh sendiri? Eunwoo mana?” tanya Sujeong.

“Eunwoo ada urusan. Katanya temannya si Moon Bin atau siapa itu namanya mendadak nelpon dia,” jawab Jungkook.

“Ah.. Moon Bin.. Jadi kita pergi berdua?” tanya Sujeong lagi.

“Iya. Tidak keberatan kan?”

Sujeong menggeleng, “Tidak kok. Kita pergi berdua saja!”.

Jungkook bernapas legah dia pikir Sujeong akan menolak jika ke karoke berdua, “Bus sudah datang. Ayo naik!”. Keduanya naik ke bus tanpa menyadari bahwa sejak tadi ada orang yang siap untuk mengikuti mereka.

            “Neonun nae mam morueji Ah-choo!” Sejak tadi Sujeong dengan perasaan yang begitu bahagia menyanyikan lagu yang ada. Sudah lebih 5 lagu dia nyanyikan sendiri sementara Jungkook hanya tertawa memperhatikan Sujeong. Ryu memiliki suara yang bagus tapi sejak tadi dia bernyanyi dengan suara melengking, persis seperti orang yang ingin meredakan stresnya.

“Gantian, aku lagi yang nyanyi!” bujuk Jungkook.

Shireo!” tolak Sujeong.

Jungkook memanyunkan bibirnya karena Sujeong tidak memberikan kesempatannya untuk beraksi, “Ah ya sudah aku ke toilet dulu ya..” izin Jungkook. Sujeong menganggukkan kepalanya tanpa menoleh lagi kepada Jungkook.

            Tok..tok.. Samar-samar Sujeong mendengar seseorang mengetuk pintu. Apa itu Jungkook? Tapi mana mungkin! Kalau Jungkook pasti dia akan segera masuk ke dalam. Apa pegawai karoke? Ah, entahlah lebih baik Sujeong memastikannya secara langsung.

Krek..

Ketika pintu terbuka Sujeong benar-benar terkejut dengan apa yang sedang dia lihat. Bagaimana bisa ada Kim Mingyu di tempat ini?

“Min..Mingyu,” lirih Sujeong.

Grap~ Tangan Sujeong langsung ditarik paksa oleh Mingyu. Sujeong memberontak tapi nihil, tenaga Mingyu terlalu kuat jadi sulit untuk melawannya. Akhirnya Sujeong pun hanya pasrah ke mana Mingyu akan membawanya.

            Suasana di dalam ruangan karoke ini cukup hening. Sujeong tidak tahu harus melakukan apa. Detak jantungnya berdebar lebih kencang daripada biasanya. Takut? Iya dia takut seorang diri di sini. Belum lagi jika Jungkook akan mencarinya. Mingyu sendiri hanya duduk manis di tempatnya dan memperhatikan Sujeong yang canggung.

“Kau seperti melihat monster,” kata Mingyu berusaha mencairkan suasana. “Oh ya, aku memang monster di matamu,” lanjutnya.

Sujeong terkejut mendengar Mingyu berkata seperti itu. Bukan maksud dia menganggap Mingyu monster, hanya saja Sujeong takut.. Bayangan hari ini masih sering datang menghantuinya.

“Aku cuma mau bilang waktu kerja kelompok nanti jangan sungkan untuk datang. Biar aku saja yang absen mengerjakan tugas,” celetuk Mingyu.

“Kenapa? Itu kerja kelompok jadi semua anggota harus mengerjakannya,” heran Sujeong.

“Aku lihat ekspresimu tadi saat Pak Moon mengumumkan kalau kita satu kelompok. Aku tahu betul kalau kau tidak suka denganku jadi aku harus mengalah,”

Deg..deg..deg… Mingyu yang dulu tidak pernah berkata seperti ini. Mingyu yang dulu tidak pernah mengalah deminya. Mingyu yang dulu tidak pernah perhatian. Tapi kenapa mendadak Mingyu jadi seperti ini di hadapannya?

“Maaf tapi aku tidak bisa setuju dengan saranmu. Kita berdua harus datang saat kerja kelompok,” kata Sujeong.

“Baiklah kalau kau memaksa,”

Keadaan menjadi sunyi kembali. Tersadar kalau dia sudah lebih dari 15 menit meninggalkan Jungkook, Sujeong berdiri untuk segera pamit.

“Ah kau meninggalkan laki-laki itu. Pasti dia mencarimu karena kau mendadak hilang,”

“Y..ya Jungkook pasti mencariku,”

Mingyu tersenyum tapi senyumnya menunjukkan bahwa dia terpaksa melakukannya, “Pergilah..” katanya. Sujeong mengangguk pelan lalu meninggalkan Mingyu sendirian di ruangan ini.

            “Sujeong kau habis dari mana sih? Aku kaget tahu! Aku pikir kau pulang tapi tasmu masih ada di sini,” oceh Jungkook setelah Sujeong masuk ke dalam ruangan. Sujeong hanya bisa tertawa melihat raut wajah Jungkook yang panik karena kehilangannya.

“Aku habis pergi dari toilet. Lagian kau bilang ingin nyanyikan? Aku tidak mau mendengar suara jelekmu jadi aku memilih pergi saja dulu,” canda Sujeong.

“Dasar!” cibir Jungkook.

“Haha bercanda ah,”

“Iya iya..” kata Jungkook sambil memayunkan bibirnya, “Eh pulang nanti kita makan tteobeoki yuk?” ajak Jungkook.

Ne! Aku lapar juga nih,”

“Okee..”

Tanpa keduanya sadari sejak tadi ada seseorang yang diam-diam membuka pintu untuk mendengarkan percakapan mereka. Siapa lagi kalau bukan Mingyu. Melihat Sujeong yang tampak begitu bahagia dengan Jungkook membuat Mingyu menyadari bahwa dia tidak pernah melakukan hal seperti itu dengan Sujeong semasa mereka pacaran. Yang mereka lakukan hanyalah berbuat dosa. Mingyu menghembuskan nafasnya lalu menutup pintu pelan-pelan agar kedua orang itu tidak menyadari kehadirannya. Kim Mingyu sadar kalau yang dilakukannya selama Sujeong mencari pacarnya bukanlah hal cinta, melainkan nafsu belaka.

            Brug! Mingyu balik ke rumah dengan suasana hati yang buruk. Myungsoo yang ada di ruang tamu bahkan tidak dihiraukan olehnya. Sudah 1 bulan ini Myungsoo perhatikan adik kecilnya selalu bersikap seperti itu. Murung, tidak mau keluar kamar dan bahkan malas makan. Lebih tepatnya Myungsoo sadar itu semua terjadi setelah Ryu Sujeong datang ke rumahnya. Myungsoo penasaran apa yang terjadi tapi bakalan sulit untuk bertanya dengan Mingyu, kan?

            Hari Sabtu adalah waktu untuk mengerjakan tugas kelompok dari Pak Moon. Sujeong sudah siap untuk pergi ke rumah Chaewon. Semuanya setuju mengerjakan tugas di rumah Chaewon apalagi dia akan membuatkan makan siang dan memberikan cemilan saat mengerjakan tugas. Setelah merasa dirinya siap Sujeong pun keluar dari rumahnya.

            Baru saja dia membuka pintu Sujeong dikagetkan dengan Eunwoo yang ada di depan rumah. Kenapa Eunwoo datang mendadak ke rumahnya? Biasanya kalau mau main pasti Eunwoo akan menghubunginya dulu.

“Sujeong kau mau pergi? Aku baru saja mau mengetuk pintu,”

“Kenapa kau ke sini?” tanya Sujeong.

“Titipan dari ibuku. Ibumu kemarin nitip oleh-oleh saat ibuku pergi ke Belanda. Kau mau ke mana?” tanya balik Eunwoo.

“Ngerjain tugas kelompok di rumah Chaewon,” jawab Sujeong.

“Aku antar ya!”

“Eh?”

Kalau Eunwoo mengantarnya ke rumah Chaewon dan bertemu dengan Mingyu sudah ribet.

“Tidak usah,” tolak Sujeong.

“Loh Eunwoo sudah datang. Kenapa tidak masuk?” celetuk ibu Sujeong yang tiba-tiba saja muncul dari belakang.

“Baru sampe bi. Sujeong mau pergi tapi dia tidak mau aku antar,” adu Eunwoo.

“Sujeong lebih baik pergi sama Eunwoo. Dia pasti akan menjagamu,” kata si ibu.

Runyam deh! Kalau sudah begini mana bisa lagi Sujeong mengelak. Terpaksa dia menganggukan kepala dan diantar oleh Cha Eunwoo.

            Ternyata Eunwoo pergi ke rumahnya menggunakan mobil. Tumben sekali dia membawa mobil karena biasanya Eunwoo akan pergi dengan angkutan umum. Waktu Sujeong tanya sih jawaban Eunwoo karena takut kuenya hancur jika dia tenteng saat di bis.

“Memang siapa aja kelompokmu?” tanya Eunwoo tiba-tiba.

Duh! Haruskah Sujeong jawab kalau ada Mingyu di sana? Kalau Eunwoo tiba-tiba marah bagaimana? Sujeong sadar kalau Eunwoo masih menyimpan dendam dengan mantannya itu.

“A..ada aku, Yebin, Chaewon dan Seokmin..” jawab Sujeong dengan mengurangi Mingyu.

“Cuma berempat? Di kelas kami 5 orang perkelompok,” kata Eunwoo.

“Kau lupa? Dikelasku hanya ada 19 orang. Kan waktu itu Yerin pindah,”

“Oh iya..”

Percakapan terhenti begitu saja. Sujeong kini menatap keramaian kota dari jendela mobil Eunwoo. Hidupnya cukup legah sekarang tapi masih saja ada yang terasa kurang. Tapi Sujeong tak tahu apa yang menyebabkannya merasakan kekurangan itu.

            Setelah sampai di depan rumah Chaewon—yang ternyata juga sebuah restauran—Sujeong melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil Eunwoo. Begitu pula Eunwoo dia juga keluar untuk berbicara sebentar dengan Sujeong. Diam-diam Sujeong merutuki Eunwoo yang tidak langsung pulang.

“Apa lagi sih?” tanya Sujeong.

“Kok sewot?” heran Eunwoo.

“Bukan gitu memangnya ada apa lagi?” tanya Sujeong.

“Aku antar pulang ya!”

“Hah?!”

“Aku bilang aku antar pulang ya nanti. Jam berapa kau pulang?”

“Eh? Anu.. tidak usah repot aku juga tidak tahu selesainya sampai kapan,” jawab Sujeong.

Masa sih Eunwoo mengantarkannya pulang. Kalau situasinya tidak seperti ini Sujeong tidak akan keberatan tapi kan di sini ada Mingyu.

“Aku akan main ke rumahnya Jungkook, dekat dari sini. Jadi pas kau pulang biar aku antar,”

“Euhmmm gimana ya?” lirih Sujeong sambil menatap tanah.

“Sujeong kau sudah datang?”

Baik Sujeong maupun Eunwoo langsung melihat ke belakangnya Eunwoo begitu mendengar suara seseorang memanggil nama Sujeong. Mampus! Mingyu baru saja datang dan kini Eunwoo menatapnya dengan tajam.

“Dia sekelompok denganmu? Kok tadi tidak bilang?” tanya Eunwoo sinis.

“Anu.. Eunwoo bukan gitu—“

“Pantas saja kau resah. Takut kalau aku mengetahui ini?”

Sujeong menunduk pasrah. Dia merasa bersalah karena menyembunyikan hal ini dari Eunwoo.

“Ya sudah aku pergi. Hati-hati Sujeong-ah..”

Tanpa memandang  Sujeong  lagi Eunwoo langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat ini. Sujeong menghela nafas tanpa menyadari kalau sejak tadi Mingyu memperhatikannya.

“Sahabatmu benar-benar anti sekali dengan keberadaanku,” celetuk Mingyu.

Sujeong menoleh, “Bukannya kau juga gitu?” tanyanya.

“Ya begitulah,” balas Mingyu. Setelah itu dia memilih masuk ke rumah Chaewon dibandingkan berlama-lama di luar.

            “Kalian datang serentak? Apa kalian balikan?” Seokmin bersuara begitu kencang begitu Mingyu tiba yang disusul oleh Sujeong di belakangnya. Yebin memberikan tatapan tak enak dengan ucapan Seokmin yang benar-benar bodoh. Bahkan Chaewon yang tidak terlalu mengerti dengan situasi menanggapinya dengan kikuk. Ia pikir antara Mingyu dan Sujeong akan ada yang tidak hadir.

“Tadi aku diantar Eunwoo,” kata Sujeong.

“Kok Eunwoo? Kenapa bukan Jungkook?” celetuk Yebin. Dia melirik Mingyu untuk melihat ekspresinya.

“Ngomong apa sih? Kebetulan Eunwoo ke rumah ada urusan dengan ibuku jadi dia mengantarkan aku ke sini,” terang Sujeong.

Mingyu memberikan tatapan masa bodoh lalu duduk di antara Seokmin dan Chaewon.  Yebin mengendus kesal. Ia pikir Mingyu akan cemburu atau apa karena dia berbicara seperti itu dengannya kemarin, tapi nyatanya dia tidak peduli!

            “Ini tugasku..” Mingyu langsung memberikan beberapa inti dari materi yang diberikan kepadanya. Chaewon membacanya dengan seksama. Oh! Ternyata itu betul, singkat dan jelas. Yang lain hanya terbengong karena Mingyu kerjanya begitu super. Bahkan Seokmin masih sibuk mencari materi yang sampai sekarang belum ketemu yang pas.

“Wah sudah kuduga kalau Mingyu akan cepat selesai,” puji Chaewon.

“Cih kebetulan saja..” celetuk Yebin.

“Yebin tidak tahu ya? Kan Mingyu nilai sosiologinya selalu tertinggi kalau ada ulangan. Kupikir Mingyu sangat cocok mendalami psikologi,” kata Chaewon.

“Hahahaha lucu ah. Psikologi? Orang kayak dia? Yaampun mustahil!” sindir Yebin.

Sujeong menyikut Yebin yang ada di sebelahnya.  Ucapan Yebin agak keterlaluan sampai-sampai Mingyu melihatnya dengan tajam.

“A..h lanjut lagi ya tugasnya,” kata Chaewon kikuk. Berada di kelompok ini membuatnya merinding!

            Ketika Sujeong sedang menyalin apa yang telah dia temukan di internet ponselnya mendadak mati. Dia merutuk kesal karena tanggung sekali tapi hapenya malah tidak bisa diajak berkompromi.

“Chaewon boleh pinjam cas hape? Ponselku mati ni,” kata Chaewon.

“Aku ambil dulu ya..”

Selagi Chaewon mengambil cas hape untuknya Sujeong berdiam diri dan berusaha menghidupkan kembali hapenya.  Tetapi tiba-tiba saja ada sebuah ponsel di depan matanya. Oh, tentu saja munculnya bukan karena magic, itu karena seseorang menyodorkan miliknya dihadapan Sujeong.

“Pakai saja..”

Ternyata itu ponselnya Mingyu. Dengan perasaan bercampur aduk Sujeong mengambil ponsel itu untuk memakainya.  Begitu Sujeong mengusap layar hape Mingyu, ia terkejut melihat wallpaper yang tampil di home screen Mingyu. Sebuah foto seorang perempuan yang diambil dari arah belakang dan juga foto itu diabadikan tanpa sepengetahuan objeknya. Dapatkah kalian menebak siapa objek itu? Siapa lagi kalau bukan Ryu Sujeong! Kenapa Sujeong tidak pernah sadar kalau Mingyu diam-diam memfotonya?!

            Saat Sujeong keluar dari rumah Chaewon dia melihat air hujan mulai turun membasahi bumi. Sujeong menghela nafas. Karena hari begitu cerah dia tidak kepikiran untuk membawa payung. Apa sekarang dia harus meminta Eunwoo menjemputnya? Eii.. Tapi Eunwoo kan lagi marah kepadanya gara-gara dia tidak jujur.

“Ayo pulang bareng!”

Sujeong menoleh ke samping. Laki-laki bertubuh jangkung itu sudah siap dengan payung hitam miliknya. Mingyu baru saja menawarkannya untuk pulang bersama di bawah payung yang sama juga? Hei.. dia berhalusinasikan?

“Ayo..” kata Mingyu yang melihat Sujeong.

Tidak ada pilihan lain sih saat ini. Dia menolak tebengan Yebin tadi jadi satu-satunya yang bisa dia lakukan ya menerima ajakan Mingyu, “Ayo..” katanya.

            Tidak banyak orang yang lewat saat ini karena hujan memang cukup deras. Sebenarnya Sujeong merasa kikuk dengan situasi ini. Berada di bawah payung yang sama dengan Mingyu setelah sekian lama tidak pernah dekatnya benar-benar tidak dapat di percaya. Anehnya Sujeong merasa apa yang hilang selama ini telah kembali. “Kau terkena hujan. Tidak bisakah lebih mendekat?” Tanya Mingyu tiba-tiba. Sujeong dengan ragu lebih mendekatkan badannya dengan Mingyu, sampai-sampai baju mereka bersentuhan.

            “Eunwoo dia mantannya Sujeong kan?” Jungkook yang sejak tadi mengamati dari mobil bertanya-tanya siapa cowok yang sedang bersama Sujeong. Eunwoo hanya diam sambil memperhatikan mereka lebih dekat. Sesekali juga dia menjalankan mobilnya dengan pelan agar tidak terlalu kentara kalau mereka sedang membuntuti Sujeong.

“Mereka balikan?” tanya Jungkook lagi.

“Tidak,” jawab Eunwoo singkat.

“Oh gitu..” angguk Jungkook.

“Kau tidak cemburu?” celetuk Eunwoo.

“Apa? Aku? Kau bertanya kepadaku?” heran Jungkook.

“Di mobil ini hanya ada aku dan kau,” balas Eunwoo.

“Tidaklah. Untuk apa aku cemburu? Bukannya kamu yang harusnya cemburu?”

“Kenapa aku?” bingung Eunwoo. Kenapa Jungkook malah mengintrogasinya?

“Kau suka dengan Sujeong, iya kan? Tapi aku heran kenapa kalian tidak pacaran saja ya? Dan kau juga selama ini sibuk sekali menjodohkan aku dengannya,”

Tak ada respon dari Eunwoo ketika Jungkook mengatakan yang hal itu. Wajahnya tetap datar dan dingin. Arah matanya juga masih tajam mengamati Eunwoo.

“Sujeong cuma menganggapmu sahabat ya? Tidak lebih? Kenapa tidak berjuang sih dan sok menjodohkan orang. Aku suka Sujeong loh, tapi buka suka sebagai cowok ke cewek. Aku suka karena dia teman yang asik dan manis. Aku juga sadar kalau kau menyukainya jadi mana mungkin aku sanggup untuk menikungmu,” oceh Jungkook panjang lebar.

“Benar..”

Deg! Jungkook tersentak kaget mendengar Eunwoo membenarkan ucapannya. Dia hanya bercanda loh tapi kenapa Eunwoo mengatakan itu benar?

“Aku tidak sanggup melangkah lebih. Ibuku juga sudah menyayangi Sujeong seperti anak perempuannya sendiri, mana mungkin aku menikahi adikku?”

Puk..puk.. Jungkook menepuk pundak Eunwoo, “Aku tahu itu berat bro. Tapi kau benar-benar menakjubkan bisa menahan rasa cintamu itu bahkan mencarikan pasangan yang tepat untuk Sujeong. Tapi tetap saja kau tidak bisa memaksakan Sujeong. Kalau dia masih mencintai cowok itu kau bisa apa?”

Eunwoo menghela nafas panjang. Jungkook benar juga dengan ucapannya. Cinta memang tidak bisa dipaksa. Sebagai sahabat dan orang yang mencintai Sujeong jelas sekali kalau Eunwoo menginginkanSujeong mendapatkan laki-laki yang baik dan menjaganya. Tapi kalau Sujeong tidak memiliki perasaan kepada laki-laki seperti itu bisa apa dirinya?

            Eunwoo ingat betul bagaimana pertama kali Sujeong menceritakan bahwa ada orang yang dia suka di kelas. Tentunya dia turut berbahagia dan setuju saja dengan pilihan Sujeong. Ekspresi wajah Sujeong benar-benar mendidih begitu dia menyebutkan nama Kim Mingyu waktu itu. Ia akan berseri-seri setiap kali  menceritakan kejadian yang dia alami saat pdkt dan awal pacaran dengan Mingyu, termasuk ciuman pertamanya. Eunwoo kesal dengan Sujeong yang mengatakan ciuman pertamanya adalah bersama Mingyu, bukan dengannya. Jelas-jelas saat kelulusan SD dia pernah mencium bibir Sujeong sebagai tanda selamat atas kelulusan. Tapi nyatanya itu tidak dianggap oleh Sujeong, atau mungkin dia telah melupakannya. Sejak itulah Eunwoo sadar kalau di matanya dia bukan seorang pria yang layak untuk Sujeong cintai, melainkan seorang sahabat yang selalu ada disampingnya.

            Ketika jalan menuju halte bus Mingyu melihat sebuah mobil dari arah depan berjalan dengan sangat kencan. Refleks ia mengganti posisi tubuhnya ke arah kiri Sujeong dan byuurr! Tubuh Mingyu basah kuyup karena kecipratan air sementara Sujeong berada di dalam pelukannya.

Deg..deg..deg..

Sujeong benar-benar kaget dengan kejadian ini. Bukan, bukan karena cipratan air yang membasahi Mingyu melainkan pelukan Mingyu saat ini. Sudah lama sekali dia tidak merasakan pelukan Mingyu. Hawa yang sebelumnya dingin terasa lebih hangat apalagi darahnya berdesir hebat saat ini.

“Mingyu..” lirih Sujeong.

“Bolehkah aku memelukmu? Sebentar saja..”

Sujeong tak menjawab tapi kini tangannya sudah melingkar di pinggang Mingyu. Sejujurnya dia merindukan Mingyu jadi sama sekali tidak keberatan dengan permintaan Mingyu barusan, “Rasanya sudah lama sekali tidak seperti ini,” bisik Mingyu. Ehmm.. Mingyu benar. Rasanya sudah sangat lama sekali.

            “Terima kasih sudah mengantarkan aku ke halte bus. Kalau gitu terima kasih Mingyu,” Sujeong membungkukan badannya sebagai tanda hormat. Saat Sujeong hendak masuk ke dalam bus, Mingyu menarik tangan Sujeong. Belum lagi Sujeong mau bertanya ada apa, Mingyu memberikan payung miliknya.

“Pakai ini mana tahu nanti masih hujan,” kata Mingyu.

“Ta..tapi kau bagaimana?” kaget Sujeong.

“Itu urusan gampang bawa saja payungku,”

Dengan tak enak hati Sujeong membawa payung itu. Ketika Sujeong masuk ke dalam bus dan mendapatkan sebuah tempat untuk duduk, diam-diam dia memperhatikan Mingyu yang termenung di tempatnya seorang diri. Diliriknya kembali payung hitam yang sedang dia pangku ini. Mingyu menjadi orang yang berbeda sekarang. Ia terasa lebih hangat dan  tidak secuek yang dulu. Mengapa hal ini terjadi setelah mereka berpisah? Kenapa tidak sejak dulu Mingyu bersikap seperti itu kepadanya? Tanpa Sujeong sadari air matapun telah jatuh dari pelupuk matanya.

            Pulang sekolah Eunwoo sudah berdiri di depan kelas Ryu Sujeong dengan sengaja. Ia menunggu Sujeong karena ingin mengajaknya pergi ke suatu tempat. Selagi menunggu Sujeong membereskan tasnya, Eunwoo bertatapan dengan Kim Mingyu.  Kalau saja tatapan itu bisa memancarkan rasa kebencian Eunwoo mungkin sudah keluar api dari matanya. Begitu pula Mingyu tapi dibandingkan Eunwoo ia lebih cuek dan langsung pergi meninggalkan kelasnya.

“Eh Eunwoo kenapa?” tanya Sujeong setelah selesai.

“Lama tidak jalan berdua. Jalan yuk?” ajak Eunwoo.

“Ayo!” seru Sujeong.

            Ternyata Cha Eunwoo mengajak Sujeong ke kafe baru bahkan mentraktirnya. Jarang-jarang Eunwoo baik seperti ini, biasanya mereka akan patungan dengan apa yag mereka beli. Jelas saja Sujeong jadi bahagia karena traktiran Eunwoo.

“Makasih ya sudah traktir. Kupikir kau masih marah karena kemarin,” kata Sujeong.

“Aku tidak marah,” elak Eunwoo.

“Oh gitu? Hmm harusnya aku memintamu untuk mengantarku pulang ya kemarin,” gumam Sujeong.

“Kemarin pulang dengan siapa?” tanya Eunwoo pura-pura tidak tahu.

“Naik bis kok. Tapi iya sih ke haltenya bareng Mingyu,” balas Sujeong.

“Oh gitu..”

Sujeong hanya mengangguk pelan dan meminum cokelat panas yang dia pesan. Sebenarnya dia agak takut mengungkit masalah Mingyu di depan Eunwoo.

“Sujeong-ah aku tidak melarangmu lagi untuk dekat dengan Mingyu,”

Uhuk!

Sujeong tersedak setelah Eunwoo mengatakan hal itu kepadanya. Kenapa tiba-tiba mengatakan hal ini sih?!

Gwenchana? Ah.. ucapanku terlalu mengejutkan ya,”  kata Eunwoo.

“Ke..kenapa tiba-tiba? Ha..ha kau ngomong apa sih?”

“Kalau masih cinta ya tidak apa kok. Tapi aku hanya mengkhawatirkanmu kalau sikapnya masih sejahat itu. Pesanku ya jaga dirimu baik-baik,”

Ryu Sujeong tersenyum kecut, “Bicara apa sih? Belum tentu aku dan bisa kembali lagi..”

Aigoo jangan galau!” ejek Eunwoo sambil mengusap rambut Sujeong.

“Tidak galau kok!” elak Sujeong.

Dia menggembungkan pipinya yang chubby itu. Eunwoo reseh, padahal perasaan hatinya tadi lagi bahagia tapi gara-gara mengungkit Mingyu jadi keresek lagi ‘kan.

            Selagi di perjalan pulang menggunakan bis, Sujeong duduk sambil memperhatikan jalanan sementara Eunwoo tertidur dan bersandar dibahunya. Jalanan begitu ramai sore hari ini.

Drrttt..

Tiba-tiba saja ponselnya yang ada di saku rok bergetar. Sujeong mengambil hape itu dari kantongnya lalu membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.

Mingyu : Apa kau sibuk akhir pekan nanti? Aku ingin mengajakmu pergi jalan-jalan. Tenang saja aku tidak akan melakukan hal buruk kok.

Sujeong terus memastikan kalau dia tidak salah membaca pengirim dari pesan itu. Berulang kali dia baca namanya tetap sama. Kim Mingyu yang mengirimnya pesan itu. Jalan-jalan dengan mantannya?!

Sujeong : Ada apa memangnya? Penting.

Mingyu : Tidak penting tapi aku ingin menghabiskan akhir pekan denganmu dan juga memperbaiki kesalahanku.

Tanpa sadar Sujeong tersenyum membaca sms dari Mingyu. Dia setuju untuk pergi bersama Mingyu di akhir pekan.

Sujeong : Iya boleh saja kok.

Tanpa diketahui oleh Sujeong sejak tadi Eunwoo ikut membaca pesan dari Mingyu. Melihat Sujeong tersenyum mau tak mau membuat Cha Eunwoo juga tertawa bersama Ryu Sujeong. kalau Sujeong bahagia, dia juga akan bahagia walaupun sebenarnya hatinya cukup terluka melihat Sujeong bersama laki-laki lain.

            “Sudah lama tidak melihat senyummu,” Begitu mendengar suara Myungsoo senyum di wajah Myungsoo langsung memudar. Sejak kapan orang itu berdiri di sana? Kenapa Mingyu tidak menyadarinya?

“Sudah lama tidak melihat senyummu,” celetuk Myungsoo.

“Bukan urusanmu,” ketus Mingyu.

“Sms dari Sujeong?”

“Mau dari Sujeong atau bukan memang apa pedulimu?”

Malas berbicara lebih lama dengan kakaknya Mingyu memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Lebih baik dia memikirkan apa saja yang harus dia lakukan dia akhir pekan bersama Sujeong. Di sisi lain Myungsoo hanya bisa tersenyum tipis melihat perlakuan Mingyu kepadanya. Kalau jawaban Myungsoo begitu sudah pasti itu benar.

            Lelaki tampan itu berdiri sambil bersender di mobil hitam miliknya. Tatapan para siswi melihatnya penuh dengan histeris. Bagaimana tidak kaget jika ada sosok tampan bak selebritis menunggu di depan gerbang sekolahan mereka? Si tampan itu tak lain dan tak bukan adalah Kim Myungsoo yang sedang menunggu seseorang untuk mengajaknya berbicara, “Ryu Sujeong!” teriakya. Myungsoo melambaikan tangannya dan tersenyum melihat kehadiran Sujeong yang sedang bersama Baek Yebin.

            Yebin tak percaya kalau dia melihat orang tampan saat ini apalagi si kece itu memanggil nama sahabatnya. Yebin melirik Sujeong untuk meminta penjelasan darinya tapi yang dilihat malah terbengong tak percaya.

“Hei siapa si tampan itu?” tanya Yebin.

“Kakaknya Mingyu,” celetuk Sujeong.

“Hah?!!”

Tak memperdulikan Yebin yang terkaget-kaget Sujeong langsung berjalan menghampiri Myungsoo dengan pikiran yang kosong, “Myungsoo oppa ada apa? Mencari Mingyu?” tanya Sujeong setelah sampai di hadapan Myungsoo. Kim Myungsoo tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “Aniya. Aku mencarimu,” jawab Myungsoo. “Aku?!” pekik Sujeong tak percaya.

            Terasa canggung untuk Sujeong duduk berhadapan dengan orang yang baru dua kali dia temui. Walaupun Myungsoo baik tapi tetap saja rasanya sedikit ganjal. Kini Sujeong dan Myungsoo berada di kafe dekat sekolahan Sujeong.

Oppa ada apa mengajakku untuk bertemu?”

“Sujeong apa kemarin kau dan Mingyu sms-an?”

Mata Sujeong membulat. Kok Myungsoo tahu?

“Benar ya?” tebak Myungsoo.

Sujeong mengangguk, “Iya. Cuma sebentar sih..”

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Myungsoo penasaran.

“Mingyu mengajakku jalan di akhir pekan nanti,” jujurnya.

“Syukurlah..” ujar Myungsoo sambil bernafas legah.

Sujeong tidak mengerti kenapa Myungsoo terlihat begitu legah begitu dia menjawab pertanyaannya. Memangnya apa yang disyukuri kalau dia dan Mingyu jalan?

Oppa ada apa?” tanya Sujeong.

“Aku bersyukur karena kalian jalan Mingyu jadi tersenyum lagi. 1 bulanan ini Mingyu sangat pemurung, iya sih dia memang begitu di rumah tapi tetap saja akhir-akhir ini berbeda. Dia terlihat frustasi,” jawab Myungsoo panjang lebar, “Sujeong-ah kalian putus ya?” tanyanya lagi.

Sujeong mengangguk lemah, “Iya kami putus…”

“Mingyu anak yang sulit menunjukkan rasa sayangnya jadi kau harus bersabar ya. Sebagai kakak aku merasa kalau Mingyu memang sangat menyayangimu. Aku tidak tahu apa masalah yang membuat kalian putus tapi bisakah kau percaya dengan Mingyu dan buat dia menjadi orang yang lebih baik?” pinta Myungsoo.

Ryu Sujeong tertegun mendengar permintaan Kim Myungsoo. Apa dia sanggup melakukannya? Permintaan ini, jujur saja, cukup berat bagi Sujeong.

“Ryu Sujeong?” tegur Myungsoo.

“Aku akan mencobanya oppa,” jawab Sujeong.

            Sujeong menatap wajahnya yang berseri-seri di cermin. Dia telah memakai hot pants berwarna biru dengan kaos putih di dalamnya dan juga sebuah jaket jeans berwarna putih yang juga sepanjang hot pants-nya. Padahal ini bukan sebuah kencan tapi Sujeong benar-benar bersemangat untuk bertemu dengan Mingyu.

Ping!

Mingyu : Aku sudah menunggu di tempat aku menunggumu.

Sujeong : Oke baru baru keluar dari rumah!

Merasa tidak ada yang tertinggal Ryu Sujeong langsung buru-buru keluar dari kamarnya.

            Dari jarak 7 meter Sujeong dapat melihat sosok Mingyu yang begitu tinggi. Laki-laki itu memakai kemeja kotak-kotak berwarna merah dengan kaos abu-abu. Dari kejauhan Sujeong melihat tengah tersenyum—

What?

Senyum?

Oh, Sujeong tidak salah. Mingyu benar-benar sedang tersenyum ke arahnya. Ryu Sujeong membalas senyuman Mingyu lalu berlari menghampirinya.

“Pantas saja lama,” kata Mingyu.

“Kenapa? Kau menunggu terlalu lama?”

Gwenchana aku tahu kau lama karena berdandan cantik, iya kan?”

Blush. Pipi Sujeong memerah. Jawaban Mingyu sangat tepat tapi dia jadi malukan!

“Ya sudah ayo kita mulai jalan-jalan!” ajak Mingyu.

            “Paboya! Hahaha cepat pukul itu!” Sujeong berteriak dengan histeris begitu tikus-tikus keluar dari lubangnya. Mingyu payah, permainan anak kecil saja tidak bisa. Dengan tampang bodohnya Mingyu berusaha untuk memukul tikus sekaligus. Sujeong telah mendukungnya jadi dia tidak boleh kalah.

“Payah!” ledek Sujeong.

Permainan selesai dan Mingyu hanya mendapatkan 5 tiket atas usahanya. Kalau begini caranya mana bisa Mingyu memberikan sebuah boneka untuk Ryu Sujeong.

“Main yang lain saja. Basket aku bisa,” kata Mingyu.

“Payah!” ledeknya lagi.

Mingyu mengambil ancang-ancang untuk memukulnya tapi Sujeong malah mengelak. Terjadilah acara kejar-kejaran di antara Sujeong dan Mingyu. Melihat Sujeong yang begitu aktif membuat Mingyu tertawa. Lelah sekali mengejar Sujeong yang lincah tapi menyadari kalau Sujeong bahagia membuat Mingyu merasa legah. Dulu tak pernah Sujeong berani tertawa lepas seperti itu di hadapannya, baru kali ini Mingyu melihat yang seperti itu. Sujeong memang sangat cantik ketika tertawa, Mingyu menyesal baru menyadari itu sekarang. “Ayo katanya mau main basket!” seru Sujeong, Mingyu pun mengangguk lalu berlari menyusulnya.

            Puk..puk.. Sujeong menepuk boneka teddy bear berwarna pink yang duduk di sampingnya. Berkat kerja keras Mingyu mengalahkan semua permainan di tempat bermain itu dia berhasil memberikan Sujeong boneka itu walaupun Sujeong sendiri tidak memintanya.

“Mulai dari sekarang aku akan memanggilnya Gyumin,” celetuk Sujeong.

Mwoya..” cibir Mingyu tidak terima.

“Hahaha canda,” tawa Sujeong.

Walaupun sebal tapi Mingyu tetap tersenyum kepada Sujeong. Suasana seperti ini tidak pernah terjadi saat mereka berpacaran. Jika berbicara seperti ini pasti akan dengan suara rendah dan tidak ada yang tertawa. Rasanya Mingyu telah menemukan bagian dari hidupnya yang telah dia lewati, dia bodoh yang dulu memandang Sujeong hanya sebagai pelampiasan semata.

“Sujeong mau mampir ke taman dulu?” ajak Mingyu.

“Ta..taman?!”

            Taman kota yang begitu banyak pengunjungnya di akhir pekan lah yang menjadi destinasi Sujeong dan Mingyu. Banyak sekali muda mudi sepertinya yang berdatangan ke tempat ini. Untung saja masih ada sebuah bangku kosong di sana sehingga mereka bisa duduk untuk beristirahat.

“Sujeong kau mau es krim?” tawar Mingyu.

“Eoh? Es krim?” kagetnya. Mingyu mengangguk, “A..ah boleh saja..”

“Kalau gitu tunggu aku di sini ya aku cari es krim dulu,”

Ryu Sujeong menganggukkan kepalanya. Sebelum dia pergi Mingyu mengacak poni Sujeong karena iseng, “Ya!!” pekik Sujeong tak terima.

            Butuh perjuangan untuk Mingyu membeli es krim karena harus mengantre. Begitu Mingyu mau kembali menghampiri Sujeong dia mendengar bisikan pemuda yang ada di dekatnya.

“Kau lihat cewek yang duduk sendirian di situ, yang pakai celana pendek biru?”

“Eoh.. Wae?”

“Seksi sekali! Dekatin yuk!”

Jelas sekali yang dibicarakan oleh mereka adalah Sujeong. Rahang Mingyu pun mengeras mendengar orang membicarakan Sujeong seperti itu. Kalau tangannya tidak memegang dua es krim mungkin Mingyu sudah menghajar habis-habisan pemuda itu.

“Kau suka strawberry atau cokelat?” Tanya Mingyu.  Sujeong melihat kedua es krim itu dengan seksama, “Menurutmu?” tanya balik Sujeong. Mingyu tampak berpikir sebelum menjawabnya.

“Aku tebak pasti strawberry!” seru Mingyu.

“Kenapa gitu?” tanya Sujeong.

“Kau suka sekali memakai lipbalm strawberry. Aku benarkan?”

Sujeong mengangguk, “Benar sekali!”

Mingyu memberikan es krim strawberry itu kepada Sujeong. Sebelum mencair Sujeong berusaha untuk menghabiskannya, sama dengan Mingyu yang menjilati es krim cokelatnya.

“Yah sudah punya pacar,”

“Kirain sendirian,”

Mingyu melihat kedua orang yang baru saja lewat di depannya dan Sujeong. Ia menyunggingkan senyum sinisnya mendengar ucapan mereka. Setelah kedua bedebah itu pergi dari pandangannya Kim Mingyu melirik kaki jenjang milik Sujeong. Sial, apa sejak tadi banyak laki-laki yang berpikiran seperti itu? Kenapa Mingyu tidak menyadarinya?

“Sujeong pegang es krimku dulu dong,” pinta Mingyu.

Sujeong berhenti meminum es krimnya dan memegang es krim cokelat milik Mingyu. Setelah tangannya kosong Mingyu membuka kemejanya lalu meletakkan di kaki Sujeong.

“Eh? Kenapa?” kagetnya.

“Hmm banyak nyamuk. Aku takut kau digigit nyamuk,” bohong Mingyu.

Ooo.. Sujeong mengangguk dengan mulut yang membentuk huruf O. Untung saja Sujeong percaya dengan alasan itu, Mingyu bersyukur.

            “Masih jam 3..” celetuk Sujeong setelah melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Mendengar apa yang dikatakan Sujeong membuat Mingyu mengurungkan niatnya. Sebenarnya dia ingin mengantar Sujeong pulang tapi kayaknya Sujeong tidak akan keberatan pergi ke suatu tempat lagi.

“Sujeong mau pergi ke tempat lain?” tanya Mingyu.

“Ke mana?”

            Sujeong menatap lirih tempat yang di datangi olehnya ini. Sebuah rumah yang dulunya sering dia datangi dengan Mingyu. Bukan rumah sih, lebih tepatnya sebuah flat kecil milik Mingyu.

“Kau tidak mau ke sini?” tanya Mingyu menyadari ekspresi tak enak Sujeong.

“Bu..bukan gitu,” jawab Sujeong.

“Aku sudah berjanji tidak akan melakukan apapun kan? Jangan takut!”

Mingyu menatap manik mata Sujeong dengan lekat seakan-akan dia tengah menyakinkan Sujeong bahwa dia tidak akan mengingkar janjinya. Beberapa detik kemudian Sujeong tersenyum tipis.

“Baiklah ayo..”

            Tempat ini masih sama seperti biasanya tapi entah mengapa sedikit berdebu. Sebelum Sujeong bertanya kepadanya Mingyu pun memberikan penjelasan mengapa tempat ini jadi seperti gudang, “Aku tidak pernah lagi ke sini. Terakhir ya waktu itu,”. Kini Sujeong bisa mengerti mengapa banyak debu yang berterbangan.

            Di tempat ini Mingyu memiliki persediaan ramyun dan juga teh. Dia dulu sering menginap di tempat ini apalagi ia lagi malas berada di rumah karena Kim Myungsoo. Yang mengetahui tempat ini hanyalah dia dan Sujeong. Myungsoo tahu Mingyu menyewa sebuah flat tapi tidak tahu letaknya di mana.

“Ah enak sekali! Lama sekali tidak makan ramyun buatanmu,” seru Sujeong setelah mencicipi ramyun buatan Mingyu.

“Kalau kau mau memakannya panggil saja aku,” balas Mingyu.

“Itu mah gampang haha,” kekeh Sujeong.

Setelah selesai Sujeong yang membereskan panci dan juga gelas. Awalnya Mingyu tak suka tapi karena Sujeong menutut untuk membalas harga ramyun itu, Sujeong lah yang akhirnya berada di dapur dan mencucinya.

            “Kau mau pulang sekarang?” tanya Mingyu. Sujeong menggelengkan kepalanya. Dia lagi seru menonton drama yang sedang tayang, mana mau pulang begitu saja. Iya sih dia bisa menonton dari handphone tapi rasanya akan beda dengan menonton di layar televisi. “Ya sudah kalau tidak mau,” acuh Mingyu. Mingyu menyenderkan tubuhnya di sofa sambil menonton drama yang sedang tayang itu. Melihat Sujeong yang begitu serius dengan drama bahkan menonton tanpa menyenderkan tubuhnya membuat Mingyu sedikit risih. Tanpa memperdulikan reaksi apa yang akan ditunjukkan Sujeong nantinya Mingyu mendorong tubuh Sujeong ke belakang sehingga posisi mereka kini lebih dekat.

“Kalau dekat begitu aku kan jadi bisa melihat wajah cantikmu,” gombal Mingyu.

Tsk mwoya,” cibir Sujeong. Tapi diam-diam Sujeong malu juga mendengarnya.

“Ehmm Sujeong bagaimana kalau kita berbicara lebih serius sekarang?”

“Maksudnya?”

Uhuk.. Mingyu terbatuk  lalu mengusap tengkuknya. Sejujurnya dia tidak yakin untuk mengatakan hal ini sekarang.

“Bagaimana kalau kita memulainya dari awal?” tanya Mingyu.

“Maksudnya??” heran Sujeong.

“Kita pacaran lagi,”

            Eunwoo mengusap rambutnya yang basah setelah berkeramas. Ketika sedang menatap wajah tampannya di cermin ponselnya yang ada di atas meja berbunyi. Ia meletakkan handuknya di sembarang arah dan langsung mengambil hapenya. Bunyi yang berbeda membuat Eunwoo tahu kalau pesan itu pasti dari Ryu Sujeong.

Sujeong : Eunwoo-ya~~

Eunwoo : Wae?

Sujeong : Eunwoo-ya jangan marah T_T

Eunwoo : Aneh. Apa?

Sujeong : Aku dan Mingyu kembali pacaran. Aku harap kau tidak marah dengan keputusanku. Eunwoo-ya Mingyu janji kalau dia akan berubah dan tidak berlaku kasar lagi.

Eunwoo : Oh

Sujeong : Oh?!!! >_<

Eunwoo : Aku belum selesai dengan pesanku tahu, kepencet enter.

Eunwoo : Oh gitu, selamat ya. Kalau kau bahagia aku juga bahagia kok. Sahabat harus mendukungmu! Baguslah kalau dia berjanji tapi kuharap itu bukan janji busuk saja. Moga dia membuktikannya.

Sujeong : Gomawoyo! Tapi Eunwoo jangan melihatnya sinis lagi ya.

Eunwoo : Laki-laki bisa menahan perasaannya. Kau harus mengkhawatirkan Yebin.

Sujeong : Ah iya. Besok saja aku jelaskan secara langsung.

Sujeong : Eunwoo-ya aku bahagia sekali hari ini! Aku tidak pernah merasakan perasaan bahagia seperti ini sebelumnya.

Eunwoo tidak bisa melakukan apapun selain tersenyum saat ini. Tanpa melihat wajah Sujeong secara langsung Eunwoo sudah dapat membayangkan betapa bahagianya dia. Yang Eunwoo bisa lakukan sekarang hanyalah berdoa kepada Tuhan agar Sujeong benar-benar bahagia bersama Mingyu dan laki-laki itu tidak menyakitinya lagi. Sebagai sahabat Eunwoo harus bisa menerima keputusan teman terbaiknya.

            “Hah?! Kau gila ya Sujeong?!” Semua orang yang ada di kantin terkejut mendengar teriakan Yebin. Sangat kencang dan lantang sampai-sampai orang tidak percaya yang baru saja berteriak adalah seorang cewek.

“Aku tidak gila. Kau tidak mendukungku kembali dengan Mingyu?” tanya Sujeong.

“Tidak!” tolak Yebin.

“Alasannya?”

“Kau nanti galau lagi karena dia,”

“Hei.. Tidak lagi kok. Tolong support aku. Kalau Mingyu membuatku menangis lagi kau boleh membotaki kepalanya,”

“Cih..”

“Itu kata Mingyu sendiri loh,”

Tidak dapat dipercaya oleh Yebin kalau Mingyu yang berkata seperti itu. Bisa saja kan Sujeong mengada-ada.

“Itu benaran perkataanku,”

Eh?! Yebin terkejut melihat Mingyu yang sudah duduk di sebelahnya. Sejak kapan Mingyu sok akrab gini? Sejak kapan juga Mingyu menghampiri Sujeong di kantin?!

“Kau boleh membunuhku kalau aku membuat sahabatmu nangis lagi,” kata Mingyu.

“Bo-hong!”

“Percaya sedikit kek. Kau mau sogokan apa biar merestui aku dan Sujeong lagi?”

“Besok belikan aku satu bungkus cokelat panas yang ada di Lotte Mart. Bagaimana?”

Mingyu melirik Sujeong setelah berhasil meyakinkan Yebin. Sujeong benar kalau Yebin keras kepala tapi akan luluh jika mendapatkan sogokan. Aigoo Mingyu jadi khawatir dengan masa depan Yebin, bisa-bisa dia jadi koruptor.

            Setelah selesai ujian Sujeong memutuskan untuk mampir ke rumah Mingyu. Tidak ada acara khusus si sebenarnya hanya saja Mingyu mengajak Sujeong untuk menonton film yang mereka lewatkan di bioskop. Karena sibuk ujian tidak ada waktu untuk mereka berkencan jadi Mingyu memutuskan untuk membuat teater mini.

            Klek.. Mingyu membuka pintu kamarnya. Melihat apa yang telah disiapkan oleh Mingyu membuat Sujeong terbengong tak percaya. Benar-benar mini teater yang pas untuk berkencan, “Masuklah, aku ambil cola dulu ya..”. Sujeong tersenyum tipis dan menuruti ucapan Mingyu.

            Tempat ini memang sebuah memori buruk bagi Sujeong tapi sekarang dia sudah melupakannya. Tidak ada lagi rasa takut kepada Mingyu karena semenjak mereka balikan Mingyu memperlakuan Sujeong dengan sangat layak. Mereka memiliki hubungan romantis seperti pasangan yang lainnya. Bahkan sesekali Sujeong mengajak Mingyu untuk ikut jalan bersama Eunwoo dan Jungkook. Tidak ada lagi perang dingin di antara mereka—Eunwoo dan Mingyu. Begitu juga dengan Yebin, mengetahui bahwa Mingyu memiliki sisi menarik membuat Yebin menyukai Mingyu sebagai seorang teman.

            “Aku bawa cola dan keripik kentang!” Sujeong bertepuk tangan karena ada cemilan untuk menemaninya menonton film. Kemudian Mingyu langsung menyetel DVD film yang akan mereka tonton. Sebuah film mellowdrama, Sujeong agak kaget pas tahu Mingyu tidak keberatan jika menonton film seperti ini dengannya.

            Adegan demi adegan ditonton oleh Sujeong dengan seksama. Bahkan sesekali Sujeong menangis melihat pemeran utama wanita tersakiti karena laki-laki itu mengkhianatinya. Mingyu sendiri juga tersentuh dengan adegan itu tapi dia menahan air matanya karena tidak mau terlihat cengeng di mata Sujeong.

“Saranghae..”

“Nado saranghae..”

Gleg! Setelah mengucapkan kata itu kedua pasangan itu berciuman dengan mesra dan panas. Sujeong tidak tahu harus melakukan apa saat ini jadi dia berusaha mengambil keripik kentang yang ada di dalam toples. Eh, tak tahunya Mingyu juga melakukan hal yang sama. Keduanya kini saling pandang dan tertawa kecil menyadari kebodohan mereka.

“Aha… kikuk,” aku Sujeong.

“Mau kubuat tidak kikuk lagi?”

“Caranya?”

Perlahan tapi pasti Mingyu mendekatkan wajahnya dengan Sujeong. Tangannya kini telah berada di pipi Sujeong. Ketika Sujeong merasakan bibir Mingyu dan dirinya sudah bersentuhan, Sujeong memejamkan matanya. Tanpa sadar kini posisi mereka telah berganti, Sujeong tertidur di bawah Mingyu.

Saranghae..” ucap Mingyu sambil tersenyum.

Nado saranghae,” balas Sujeong.

Keduanya kembali menautkan bibir masing-masing. Sujeong menyukai ciuman Mingyu apalagi setelah hubungan ini menjadi lebih indah. Seakan-akan Sujeong dapat merasakan kalau Mingyu benar-benar menyayanginya. Ya, Sujeong yakin dengan perasaannya itu.

“Mingyu..” bisik Sujeong. Masih dengan posisi yang sama.

“Hmm?” gumam Mingyu. Ia menatap lekat wajah cantik Sujeong dari jarak sedekat ini.

“Ka..kalau kau mau melakukannya aku siap,”

“Melakukannya?” ulang Mingyu.

Sujeong mengangguk, melihat respon Sujeong mau tak mau membuat Mingyu tersenyum. Ia mendaratkan sebuah kecupan di kening Sujeong dan mencubit pipi chubby milik Sujeong.

“Waktu kita sudah dewasa saja ya..” jawab Mingyu sembari tersenyum tipis.

Huh? Sujeong tidak yakin yang barusan dia dengar adalah kata-kata yang keluar dari bibir Mingyu. Dia tidak menduga kalau Mingyu benar-benar berubah menjadi orang yang lebih baik dari yang sebelumnya.

            Ting..tong.. Mingyu beranjak pergi untuk membuka pintu ketika ia mendengar bunyi bel berbunyi. Sujeong sendiri masih diposisi baring—karena dia betul-betul PW saat ini. Ketika Sujeong kembali memperhatikan film yang ada dilayar besar ini terdengarlah sebuah teriakan dari Mingyu.

“Kyaa hyung ampun!!!”

Takut Mingyu kenapa-napa membuat Sujeong langsung bangkit untuk mengecek keadaannya.

“Mingyu kau kena—“

Ucapan Sujeong terpotong begitu melihat Mingyu sedang dijewer oleh kakaknya sendiri. Kenapa Mingyu dijewer sama Myungsoo?

“Sudah kubilang jangan ajak cewek ke kamarmu tapi masih juga kau melanggar ucapanku!” oceh Myungsoo.

Hyung aku cuma nonton film aja kok. Aish lepas!”

Hahahaha Sujeong tertawa lebar melihat bromance yang sedang dia saksikan. Akhirnya Sujeong dapat mengabulkan permintaan Myungsoo tempo hari. Kim Mingyu kini menjadi anak yang lebih baik dari sebelumnya, ia juga tidak cuek lagi dengan siapapun terutama Kim Myungsoo. Sujeong bersyukur dan berharap kalau Mingyu dapat berubah lebih baik setiap harinya. Sebelumnya Sujeong mencintai Mingyu namun sekarang dia begitu mencintainya dan tak ingin kehilangan Mingyu lagi di dalam hidupnya.

I cry because I can’t forget. I cry although I want to forget. In the end, it’s greed, it’s all my fault. There’s no place for me to hide in my heart

Day by day, I talk less and less. So I’m afraid to say everything now. Don’t misunderstand me. Even though I’m not saying it outloud, listen to my heart

(Woohyun – Still I Remember)

.fin.

Love &amp; Lust 2


Author Note (again) :
                              ALHAMDULILLAH YA FANFIC INI TAMAT JUGA..                             
36 halaman. 6,794 kata. 8 jam pengetikan.
Akhirnya fanfic ini selesaii.. :”))
Pleaseeee komentarnya ya :”)
Sebenarnya aku belum review ulang sih langsung ngepost aja setelah ngetik. Capek mau ngereview, jadi kalau ada typo, kata-kata yang salah atau apa please komen biar saya tahu^^
Thank you guys!

 

Advertisements

6 thoughts on “Love & Lust [2/2 END]

  1. Jinjja.. Aku makin cinta sama MINJEONG COUPLE!! ^^
    Manisnya hubungan mereka. Jadi senyum-senyum sendiri bacanya. Whoooaaa..
    Ngomong-ngomong, Myungsoo cocok jadi kakak Mingyu. Mereka sama-sama visual, marganya Kim di real life, inisialnya sama-sama KM, dan tinggi pula ❤
    Ciee yang udah balikan nih.. Tapi masih ada yang kurang eon, disini belum dijelasin kenapa Mingyu sikapnya cuek, dingin, dan kasar begitu. Gak apa-apa kok, yang penting mereka berakhir bahagia. Yuhuuuuu…
    Untuk typo, cuma sedikit kok. Masih dalam batas wajar dan eonni hebat bisa nulis ff cuma 8 jam aja. 36 lembar pula. Eonni yang terbaik! 😀
    Makasih ya eonni, udah kabulin permintaan aku #bow
    Fani eonni Jjang! Fighting untuk tes kuliahnya, eon..

    Like

  2. Dan aku bangga menjadi komen yang pertama. Yeay!
    Ini sebagai bukti kalo aku benar-benar antusias sama kelanjutan ff ini ^^
    Dan maafkan aku yang gak tau umur, eonni >_<
    Otaknya langsung loading pas Sujeong bilang ”Kau boleh melakukannya sekarang..”
    Mianhaeyo, Fanny eonni.. T.T

    Liked by 1 person

  3. suka sama end nya.
    ada lagu woohyun.
    hahahaha.
    trus gw jg suka adegan bromance nya mingyu sm myungsoo. gw rasa ini benar2 myungsoo bukan L 😀

    syukurlah mingyu sadar dan balikan lg sm sujeong.

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s