Matched [Chapter 1]

image

Matched

By Fanita

Main Cast : Infinite’s L (Kim Myungsoo) & Lovelyz’ Jisoo

Cast : Actress’ Chae Subin – Lovelyz’ Mijoo – Etc

OC : Lee Bomin – Kim Minha

Genre : Romance – Hurt/Comfort – AU – Drama  || Type : Chapter || Rating : PG-15

 

            Seorang laki-laki berparas tampan sedang sibuk mencari tempat duduk sesuai nomor yang tertera ditiketnya. Laki-laki bermata tajam bak elang itu meminta bantuan kepada seorang pramugari dengan sigap pramugari tersebut menolongnya dan mengantarkan pria tersebut menuju bangkunya, “Terima kasih banyak,” Ucap laki-laki bernama lengkap Kim Myungsoo itu. “Sudah kewajiban saya,” jawab Pramugari dan setelah itu langsung pergi untuk mengurus keperluan lain sebelum pesawat lepas landas. Myungsoo lantas langsung duduk di sebelah seorang perempuan yang tengah menyumbat telinganya dengan headset. Tanpa memperdulikan gadis tersebut Myungsoo langsung duduk disampingnya, “Heh kenapa buru-buru menyuruhku ke Seoul si,” rutuknya.

Selama pesawat berada diatas Myungsoo berusaha membuat dirinya tertidur namun itu semua tidak berhasil ditambah perempuan yang ada disampingnya selalu bernyanyi mengikuti alunan nada yang sedang dia dengarkan. Ia terus memperhatikannya tapi sepertinya orang itu tidak sadar kalau Myungsoo kesal karena perbuatannya.

“Permisi bisakah kau diam?” tanya Myungsoo sembari mengetuk tangan perempuan itu.

Perempuan tersebut melepaskan headsetnya dan menatap Myungsoo datar, “Kau tidak boleh menganggu orang lain ahjussi,” celetuknya.

Mata Myungsoo membulat. Ahjussi? apa? Seorang Kim Myungsoo laki-laki berumur 25 tahun dianggap seorang paman oleh perempuan yang tidak dikenalnya, “Heol menyebalkan untung saja dia cantik,” rutuk Myungsoo dalam hatinya. Tanpa memperdulikan ketenangan Myungsoo perempuan itu kembali mendengarkan lagu dan bernyanyi sesuai kehendaknya. “Astaga!” kesal Myungsoo. Dan akhirnya Myungsoo memilih untuk menutup telinga dengan headset miliknya juga.

Saat Myungsoo akan masuk kedalam alam mimpinya perempuan yang ada di sebelah Myungsoo menepuk pundak Myungsoo dengan kasar membuat laki-laki tampan itu membuka kembali matanya dan menatap kesal perempuan tersebut.

“Kau tidak boleh menganggu ketenangan orang Agassi,” kata Myungsoo berbicara ala perempuan tadi.

“Ahjussi. Uwek… aku minta kantung untuk muntah,” adu gadis itu.

Dengan bermalas-malasan Myungsoo langsung mengambilkan kantung muntah untuk perempuan itu dan setelah itu langsung memejamkan matanya lagi.

“Ah legahnya..” ujar perempuan itu setelah mengeluarkan isi perutnya.

Tiba-tiba saja perempuan yang ada disebelah Myungsoo itu memegang perutnya dan meringis sakit. Lagi dan lagi perempuan itu membangunkan Myungsoo yang sedang dalam fase untuk kehilangan kesadarannya, “Apa lagi!” bentak Myungsoo. Semua mata memandang laki-laki itu dan membuatnya menjadi malu.

“Apa lagi agassi?” bisik Myungsoo.

“Tolong.. tolong pegang ini aku mau ke wc!” ujarnya dan langsung memberikan kantung muntahnya tadi dan pergi menuju toilet.

Rahang Myungsoo mengeras. Baru kali ini dia memegang muntah seseorang ditambah orang itu asing baginya. Dengan jijik diapun memegang kantung tersebut dan menunggu perempuan itu kembali.

“Terima kasih banyak,” Kata perempuan itu tanpa rasa bersalah sedikitpun dihadapan Myungsoo. Ia kembali duduk dengan tenang di tempatnya. Myungsoo mencoba tuk menahan amarahnya dan langsung memberikan kantung itu kepada perempuan tersebut. Kini Myungsoo mencoba untuk beristirahat kembali.

“Jisoo-ya!” panggil seorang perempuan bermata tajam. Yang dipangil –Jisoo langsung tersenyum senang dan menghampiri sahabatnya itu. Jisoo langsung memeluk Lee Mijoo, sahabatnya itu dengan erat tanpa memperhatikan keramaian di sekitarnya dan memperdulikan wajah Mijoo yang sudah memerah akibat sesak nafas.

Ya! aku bisa mati jika kau peluk erat gini!” oceh Mijoo.

Jisoo langsung melepaskan pelukannya dan mencubit pipi sahabatnya itu dengan gemas, “aku merindukanmu Mijoo-ya!” rengek Jisoo.

“Aku juga! bagaimana perjalananmu dari Gwangju?” tanya Mijoo antusias.

“Di pesawat baik-baik saja,” jawab Jisoo.

“Sungguh?? Aku tidak yakin.. bagaimana bisa kau tidak merepotkan orang sekalipun orang itu tidak dia kenal,”

“Oh tidak. aku hanya bernyanyi di pesawat tadi dan juga meminta tolong ahjussi di sampingku untuk memegang kantung muntahku. Kau tahulah aku ini mabuk saat berada di udara,”

“Kau ini..” cibir Mijoo.

Jisoo hanya tersenyum tanpa berdosa dan menarik tangan Mijoo untuk segera meninggalkan bandara dan menuju rumah barunya.

Myungsoo mengetuk pintu rumahnya namun tidak ada sahutan dari dalam. Karena kehilangan kesabaran Myungsoo pun berteriak dengan kencang sembari menggedor rumahnya. Aish dia sudah cukup lelah tapi orang rumah malah tidak ada yang benar-benar menyambut kepulangannya.

“Bu!! Aku pulang! cepat bukakan pintu aku lelah!” pekiknya.

Clik~ seseorang membukakan pintu rumahnya. Wajah Myungsoo yang sebelumnya berapi-api itu kini sudah padam dan dia tersenyum melihat orang yang membukakan pintu untuknya.

Oppa sudah pulang?” Tanya seorang perempuan berumur 8 tahun.

Aigoo princess Oppa,” ujar Myungsoo.

Myungsoo langsung mensejajarkan tingginya dengan adiknya yang bernama Kim Minha. Minha langsung memeluk Myungsoo dan mencium pipinya.

Oppa! Aku merindukan oppa!” pekik Minha.

Oppa juga rindu, princess..” sahut Myungsoo.

Seorang perempuan parubaya berusia 50 tahun menghampiri mereka dengan senyuman hangat dan bergaya ala ibu rumah tangga yang sibuk mengurus dapur. Myungsoo kembali berdiri dan tersenyum kepada ibunya. Lee Bomin –ibu Myungsoo— langsung memeluk anak pertamanya dengan rasa rindu yang meluap.

“Ibu merindukanmu Soo-ya,” adunya.

“Aku juga tapi aku betah di Gwangju,” jawab Myungsoo dan sukses membuat Bomin melotot kepadanya. Sadar dengan tatapan dari sang ibu Myungsoo tertawa hambar dan menggendong Minha, “Bu aku lapar,” rengek Myungsoo.

“Aku sudah paham sifatmu. Heh kau manja sekali jika bersamaku,” oceh Bomin. Myungsoo pun tak dapat menahan tawanya. Ibunya tahu sekali kalau dia akan manja bila bertemu dengannya.

“Ayo jelaskan alasan ibu kenapa menyuruhku untuk kembali ke Seoul,” kata Myungsoo. Myungsoo mengaduk-aduk sup buatan ibunya setelah mencapurkannya dengan beberapa bahan racikan. Dia tidak mau berteleh-teleh dan ingin mengetahui alasan pasti mengapa dia dipaksa pindah lagi ke Seoul.

“Minha selalu merindukanmu Soo-ya ditambah ibu ada urusan,” kata bomin.

“Urusan? apa?” tanya Myungsoo sambil mencicipi kuah sup ikan buatan ibunya.

“Ibu ingin menyusul ayahmu ke Thailand,”

Mata Myungsoo seketika langsung membulat dan meletakan kembali sendok yang dia pegang di tempat semula.

“Ibu jadi kau ingin meninggalkanku sendiri di sini? Kenapa kau menyuruhku pindah lagi ke Seoul!” pekik Myungsoo.

Ya imma!  ibu punya alasan lain. Ibu pergi ke sana akan lama dan ibu akan meninggalkan Minha di sini bersamamu. Dia harus sekolah!”

“Ibu!!”

Bomin menghentak meja dan membuat Myungsoo terdiam. Dia harus melakukan perintah ibunya jika tidak uang jajan menjadi taruhannya walaupun dia memiliki pekerjaan tapi itu semua tidak cukup untuk mencukupi kebutuhannya. Berdebat dengan ibunya menandakan bahwa Myungsoo tidak akan perah memenangkan pertarungan itu.

“Baiklah aku akan menjaga Minha..” kata Myungsoo mengalah dibandingkan ibunya kembali marah, “Minha-ya makan yang benar,” ucap Myungsoo sambil mengusap dagu Minha yang bertaburan nasi.

Bomin sibuk membereskan teras rumahnya namun tiba-tiba saja dia menjadi penasaran dengan orang yang kini berdiri di depan rumah yang ada di sebelah kanannya. Yang dia tahu rumah itu tidak ada penghuni dan ada orang yang akan menempatinya sesegera mungkin, “Aigoo jadi itu dia tetangga baruku,” gumam Bomin sembari melihat perempuan cantik yang sedang tersenyum kepada temannya itu. Bomin lantas langsung masuk kembali ke rumahnya dengan tergesah-gesah. Tanpa memperdulikan tatapan aneh dari Myungsoo yang bingung dengan tingkah laku ibunya saat ini.

“Kalau begitu aku pulang dulu eoh. Maaf tidak bisa membantumu membereskan barang-barang,” pamit Mijoo setelah mengantarkan Jisoo ke rumah barunya, “Bukan masalah asalkan nanti malam kau datang untuk makan malam bersamaku. Aku akan memasakan makanan yang enak untukmu,” janji Jisoo. Huh?! Mijoo tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Jisoo mau memasak untuknya?

“Serius Jisoo? Kalau begitu aku pulang dulu!” seru Mijoo.

“Baiklah sampai jumpa nanti malam!” kata Jisoo.

Mijoo masuk ke dalam mobilnya dan Jisoo melambaikan tangannya untuk sahabatnya tersebut setelah itu diapun segera masuk ke dalam rumah barunya.

Bomin sibuk menata kue dipiring. Dia begitu bersemangat untuk menyiapkan kue-kue ini untuk tetangga barunya. Minha yang semulanya duduk di ruang tamu datan gmenghampiri ibunya karena penasaran. Melihat banyak kue di atas meja makan Minah bertanya kepada ibunya.

“Ibu itu chocolate cake?” tanya Minha.

“Ya sayang,” jawab Bomin.

“Untuk siapa? Myungsoo oppa?” tanyanya lagi.

“Untuk tetangga kita. Ada kakak cantik yang pindah ke sebelah rumah kita,”

“Yang benar ibu?”

Bomin menganggukan kepalanya dan dengan semangat Minha pun memekik riang.

Bomin dan Minha berjalan keluar namun saat diruang tamu Myungsoo yang sedang membaca koran langsung melihatnya dengan bingung. Dilihatnya kue-kue yang di bawa oleh ibunya. Wah, pasti ibunya menyambut kepulangannya dengan kue itu!

“Ibu itu kue untukku ya?” Tanya Myungsoo.

“Bukan. Ambil saja punyamu di kulkas ini untuk tetangga baru,” jawab Bomin.

“Huh anak sendiri tidak dilayani, tetangga baru dihidangkan,” gerutu Myungsoo.

“Apa yang kau bilang Myungsoo?” tanya Bomin sambil menatap anaknya dengan tajam.

“Bu..bukan apa-apa. Aku akan ambil bagianku sendiri di kulkas jadi ibu antar saja kue itu ke tetangga,” kata Myungsoo terburu-buru.

Myungsoo langsung pergi meninggalkan ruang tamu dan menuju dapur, sementara Bomin dan juga Minha berjalan menghampiri tetangga mereka.

Sesampainya didepan rumah tetangganya Bomin mengetuk pintu. Minha yang sangat antusias meminta kepada ibunya untuk memegang piring tersebut. Tidak lama kemudian seseorang membukakan pintu rumahnya dan menatap kaget tetangga barunya itu.

Annyeong haseyo. Apa kau penghuni baru rumah ini?” tanya Bomin ramah.

“Iya bi,” jawab Jisoo.

Eonnie.. kami ingin memberikan kue ini untukmu,” sahut Minha.

Jisoo langsung melirik kebawah dan tersenyum melihat Minha, “Terima kasih banyak adik kecil,” kata Jisoo sambil mengusap kepala Minha dengan lembut setelah itu dia memegang piring yang dibawa Minha.

“Aku Lee Bomin, penghuni rumah sebelah. Namamu siapa aggasi?” tanya Bomin.

“Seo Jisoo, bibi. Senang berkenalan dengan bibi. Maaf ya harusnya aku memperkenalkan diriku duluan,” ucap Jisoo sambil membungkukan badannya.

“Ah tidak masalah kok aku juga tahu kau baru saja datang haha. Harusnya kami yang minta maaf karena menganggu waktu istirahatmu,” kekeh Bomin.

Jisoo tersenyum ramah kepada Lee Bomin. Iya juga ya, seharusnya dia yang mengantarkan makanan ke tetangga baru. Ah, dia akan melakukannya besok.

“Jisoo eonnie cantik sekali!” seru Minha yang sukses membuat Jisoo tertunduk malu.

“Terima kasih adik kecil. Siapa namamu?” tanya Jisoo.

“Kim Min Ha.. Minha!” jawabnya.

“Minha-ya dan bibi apa mau mampir kedalam?” tawar Jisoo.

“Ah tidak perlu. Kau pasti capek dan butuh istirahat kalau begitu kami pulang ya jika butuh bantuan jangan sungkan,”

“Ibu aku mau main sama Jisoo eonnie!”

“Minha-ya jangan menganggu—“

“Tidak apa, Minha-ya di sini saja ya  main sama eonnie,” potong Jisoo.

Ne..ne!” seru Minah.

Bomin hanya tersenyum tipis setelah itu dia pamit kembali kerumahnya sementara Jisoo dan Minha masuk kedalam rumah.

“Ibu dimana Minha?” tanya Myungsoo saat melihat ibunya pulang sendiri tanpa Minha di dekatnya. Jelas-jelas tadi Minah ikut keluar bersama ibunnya. Jangan-jangan ibunya meninggalkan Minah seorang diri di pinggir jalan—

“Dia sedang main bersama tetangga,” jawab Bomin sambil menuangkan air ke dalam gelas.

“Apa dia tidak merindukanku?” oceh Myungsoo.

“Dia merindukanmu. Bahkan setiap malam dia selalu mengigau bertemu denganmu. Myungsoo-ya ajaklah adikmu pergi jalan-jalan ya!”

“Ya bu. Ibu kapan pergi ke Thailand?” tanya Myungsoo.

“Hmm beberapa hari lagi,” jawab Bomin.

“Secepat itukah?” cibir Myungsoo yang dihadiahkan jitakan dari ibunya.

“Kau ini sudah ya ibu mau istirahat dulu lebih baik kau tidur juga bukannya kau capek habis penerbangan,”

“Baik ibu..”

Bomin masuk kedalam kamarnya begitu juga Myungsoo yang mengikuti jejak ibunya ke kamarnya sendiri.

            Malam harinya di saat suasana makan malam sedang menyelimuti keluarga Kim seseorang memencet bell rumah sehingga Myungsoo langsung beranjak dari kursi untuk membukakan pintu. Saat pintu terbuka seorang perempuan cantik tersenyum melihat Myungsoo sedangkan Kim Myungsoo sendiri terbengong melihat seseorang yang sudah lama tidak dia jumpai. Dia tidak menduga akan secepat itu bertemu dengannya.

“Myungsoo oppa!” Sahut perempuan itu.

“Soobin-ah?” lirih Myungsoo.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari ruang makan, “Myungsoo siapa yang bertamu?” teriak Bomin. Myungsoo menghela nafas. Dia tersenyum kepada tamunya dan mempersilakan dia untuk masuk.

“Masuklah,” ajak Myungsoo.

Myungsoo dan Subin berjalan beriringan ke ruang makan saat Bomin melihat siapa yang bertamu dia lantas tersenyum dan menghampiri Subin keduanya pun berpelukan.

Aigoo kau datang juga malam ini,” kata Bomin.

“Tentu saja bu,” sahut Subin sambil tersenyum.

“Subin eonnie!!” pekik Minha dan Subin pun tersenyum menanggapinya.

“Kalau begitu ayo kita makan malam bersama,”

“Wah! Makan malam bersama hehe,” seru Soobin.

Suasana makan yang tadinya sepi kini mendadak ramai. Subin dan Bomin bercerita tentang kehidupan perempuan sementara Myungsoo yang sudah selesai makan kini sibuk membantu Minha agar makan tidak berlepotan.

“Myungsoo oppa sangat menyayangi Minha ya bu,” ujar Subin.

“Tentu saja,” kata Bomin sambil menganggukan kepalanya.

“Minha adikku wajar jika aku menyayanginya, kau ini bagaimana sih Subin-ah,” cibir Myungsoo dan Subin hanya terkekeh mendengarnya.

Bomin kini sibuk mencuci piring kotor di dapur sementara ketiga orang lainnya sedang santai di ruang tengah. Minha sibuk dengan mainannya sementara Myungsoo dan juga Subin kini tengah menonton drama yang sedang ditayangkan.

“Kau tidak pulang?” Tanya Myungsoo.

Subin yang awalnya sibuk menonton acara di televisi kini menatap Myungsoo yang ada disampingnya.

“Kau mengusirku Oppa? Bukannya aku sudah terbiasa ya selalu main ke sini hingga larut malam,” oceh Subin.

Myungsoo langsung menoleh ke Subin dan tersenyum, “Aku hanya bercanda. Jangan cemberut!” kata Myungsoo.

Namun bukannya berhenti cemberut Subin malam memanyunkan bibirnya sehingga terlihat lucu dan Myungsoo tidak dapat menghentikan tawanya.

Ya kau seperti bebek! Hahaha..” ejek Myungsoo.

Oppa!!” rengek Subin.

“Subin eonnie cantik sama seperti Jisoo eonnie. Subin eonnie tidak seperti bebek,” celetuk Minha.

“Jisoo? Siapa?” tanya Myungsoo.

Eonnie yang tinggal di sebelah rumah kita. Jisoo eonnie tadi mengajakku main bersama, dia baik sekali,” puji Minha.

“Minha-ya eonnie cemburu sama Jisoo itu. Minha tidak pernah memuji eonnie,” kata Subin pura-pura kesal.

Minha yang sibuk dengan mainannya kini langsung berdiri dan menghampiri Subin, dia pun langsung mencium pipi kanannya Subin, “Subin eonnie jjang!” pekik Minha. Myungsoo dan Subin pun tertawa mendengarnya.

“Kau akan langsung kerja Jisoo-ya?”Tanya Mijoo sambil meminum segelas air putih. Ditatapnya Jisoo yang sedang  memotong agar-agar di dapur. Mijoo terkejut mengetahui kalau Jisoo akan langsung bertugas besok padahal dia baru saja pindah. Barang-barangnya saja belum dibenahi.

“Ya aku akan langsung kerja di sini. Kenapa? Tidak boleh?”

“Bukan tidak goleh tapi kau kan baru pindah harusnya 1 minggu kemudian saja kau kerja. Kau ini rajin sekali,” cibir Mijoo.

Jisoo menanggapi ucapan Mijoo dengan senyuman. Gadis itu kini membawa agar-agar yang dia buat ke meja makan menyusul Mijoo yang ada disitu.

“Apa enak tinggal di sini?” tanya Mijoo sambil mencomot agar-agar buatan Jisoo.

“YA enak sekali. Ada anak tetangga sangat menggemaskan aku suka bermain dengannya,” kata Jisoo mengungkit Minha yang baru saja dia temui.

“Hei sejak kapan kau suka anak kecil,”

Jisoo tertawa dan menatap Mijoo dengan senyuman, “Sejak bertemu dengan Minha. Anak kecil itu,”

“Sepertinya kau harus cepat-cepat menikah agar punya anak,” cibir Mijoo.

“umurku masih 24 tahun jangan membicarakan pernikahan,”

Mijoo hanya menganggukan kepalanya dengan malas setelah itu dia bertopang dagu dan menceritakan kisah cintanya yang sedang bermasalah. Dia curhat kalau kekasihnya, Woohyun akhir-akhir ini sibuk dan tidak lagi mengirimkannya pesan selamat tidur. Padahal biasanya dia mengirimkan itu kepadanya.

“Kau cerita panjang lebar sekali aku tidak mengerti apa-apa.. Urus saja urusanmu itu dengan Woohyun oppa aku kan tidak tahu apa-apa,” cibir Jisoo.

“Kau ini tidak membantu!” kesal Mijoo.

Mijoo melihat jam yang ada ditangannya. Jam sudah menunjukan pukul 9 malam dan tadi dia berjanji kepada ibunya tidak akan pulang malam. Maka dari itu dia pamit kepada Jisoo untuk pulang sekarang.

“Jisoo-ya aku pulang sekarang eoh,”

“Ok. Kau mau agar-agar ini? biar aku bungkuskan,”

“Ah tidak usah besok aku akan ke sini lagi jadi kau simpan agar-agar itu, ok?”

Jisoo menganggukan kepalanya paham dan kini dia bersama Mijoo berjalan ke depan.

Saat Mijoo sedang hendak masuk kedalam mobilnya dia melihat seorang gadis –Subin- keluar dari rumah Myungsoo, “Hei Jisoo!” panggil Mijoo. Jisoo langsung menghampiri Mijoo dan menatap sahabatnya itu dengan bingung. Apa ada barang Mijoo yang tertinggal?

“Apa dia ayah dari anak yang kau sukai itu? kenapa masih muda? Siapa perempuan bersama dia?” tanya Mijoo.

“Laki-laki? Mana aku tahu. Bibi yang tinggal di rumah itu sudah berumur seperti ibu kita. Mungkin saja dia anaknya dan kekasihnya, mungkin kan..” oceh Jisoo.

“Kau tidak tahu siapa saja yang tinggal di rumahnya?” tanya Mijoo penasaran.

“Yang aku dengar dari Minha dia tinggal bersama ibu dan oppa-nya sedangkan ayahnya sedang kerja di luar negeri,” terang Jisoo.

“Oh gitu? Duh kenapa jadi ngegosipi tetanggamu,” rutuk Mijoo yang menyadari kebodohannya, “Aku pulang ya!” pamitnya.

“Iya iya, sudah masuk ke dalam mobilmu!” desak Jisoo.

Mijoo langsung masuk kedalam mobilnya dan dia sudah berjalan meninggalkan rumah Jisoo.

“Kau masih menyukai Subin, Soo-ya?” tanya Bomin tiba-tiba. Myungsoo tak percaya apa yang baru saja dipertanyakan oleh ibunya. Masih menyukai Subin? Apa maksudnya?

“Pertanyaanmu aneh sekali ibu,” heran Myungsoo.

“Bukannya dulu kau bilang kau suka dengannya ya? Selalu saja berteriak kencang kalau kau menyukainya hmm seperti ini ‘Subin-ah saranghae.. saranghae!’ begitukan?” kata Bomin sambil menirukan ucapan Myungsoo di saat dia masih kecil.

Aigoo aku masih berumur 13 tahun ibu bahkan saat itu aku belum lulus SD. Bagaimana bisa kau menganggap itu serius,” dumel Myungsoo.

“Mana tahukan.. kau dan dia sudah kenal sejak umurmu 5 tahun kau juga menganggapnya sebagai adik sendiri dan selalu menolongnya,”

“Ah omonganmu sungguh aneh. Aku tidur duluan. Malam bu!” pamit Myungsoo.

Myungsoo langsung pergi menuju kamarnya dan meninggalkan Bomin sendiri. Yang tinggalkan pun mencibir pelan Myungsoo. Benar-benar hubungan ibu dan anak yang sangat aneh.

            Pagi harinya Bomin kini sudah menyiapkan sarapan unutknya, Myungsoo dan Minha. Myungsoo juga sudah berpenampillan rapi walaupun hari ini dia tidak ada kegiatan yang penting. Minha juga sudah rapi dengan baju sekolahnya karena hari ini dia harus sekolah seperti biasa.

Aigoo princess oppa cantik sekali pakai seragam sekolah,” puji Myungsoo.

Mendapatkan pujian dari Myungsoo, Minha langsung mencium pipi Myungsoo membuat laki-laki itu tersenyum dan menampilkan lesung pipitnya.

“Myungsoo-ya antar adikmu kesekolah,” titah Bomin.

“Ok. Minha-ya ayo cepat habiskan sarapanmu!” kata Myungsoo. Minah pun menganggukkan kepalanya.

Setelah sarapan Myungsoo langsung mengantarkan Minha menggunakan mobil yang ada dibagasi rumah mereka. Sepanjang jalan mengantar Minha ke sekolah mereka berdua pun bernyanyi bersama dan tidak terasa 20 menit perjalanan pada akhirnya mereka sudah sampai di sekolah Minha.

“Nah sudah sampai sekolah yang rajin ya,” pesan Myungsoo saat mengantarkan Minha sampai gerbang sekolahnya.

Ne oppa!” kata Minha.

Myungsoo melambaikan tangannya kepada Minha saat adiknya sudah berjalan bersama teman-temannya.

            Myungsoo baru saja pulang ke rumah tiba-tiba saja Bomin memberikan seperangkat alat berkebun kepada Myungsoo. Myungsoo mengedipkan matanya bingung dan menatap Bomin penuh tanda tanya, sadar akan tatapan anaknya ibu rumah tangga itu lantas memberikan penjelasan kepadanya.

“Tolong bersihkan halaman depan itu! Kau lihat bukan bunganya sudah layu? Ibu ingin ke pasar membeli kebutuhan rumah untuk kalian. Ngomong-ngomong ibu sudah memesan tiket ke Thailand untuk penerbangan 5 hari ke depan,” terang Bomin.

“Secepat itukah ibu?” tanya Myungsoo. Terdengar nada kekecewaan dari ucapannya.

“Maaf Myungsoo.. Ibu harus menemui ayahmu segera. Sekarang ibu mau pergi dulu, jangan lupa perintahku, paham?”

“Eoh…”

Bomin langsung pergi menuju pasar sementara Myungsoo kini sibuk mengganti pakaian untuk berkebun. Saat Bomin hendak mencari taksi di depan perumahannya dia tidak sengaja berpapasan dengan Jisoo yang baru saja pulang dari mini market.

Annyeong haseyo bibi,” sapa Jisoo ramah.

Annyeong Jisoo-ssi. Aigoo pagi-pagi sudah belanja,” puji Bomin.

“Iya bi, untuk makan nanti. Mau ke mana berpakaian rapi sekali bi?” tanya Jisoo.

“Ingin membeli kebutuhan dapur untuk anak-anakku karena beberapa hari lagi aku akan pergi ke Thailand untuk menjenguk suamiku. Ya sekalian bulan mau kedua hehehe,” jawab Bomin.

Jisoo tidak dapat menahan senyumannya mendengar jawaban ibu dari Kim Myungsoo dan Kim Minha itu.

“Ah ada taksi lewat kalau begitu aku duluan Jisoo-ssi. Sampai jumpa,”

“Ya bi. Bibi hati-hati di jalan ya,”

Setelah Bomin pergi dengan taksi yang dia tumpangi, Jisoo pun melanjutkan perjalanannya untuk sampai di rumah.

Sesampainya di rumah Seo Jisoo langsung buru-buru masuk ke dalam rumahnya . Kini dia menata semua bahan yang telah dia beli di dalam kulkas. Jisoo melihat jam di tangannya, masih menunjukan pukul 9 pagi tidak terlalu panas untuk berkebun jadi dia memutuskan untuk mengganti dulu bajunya lalu sibuk dengan urusan halaman rumah barunya.

Jisoo telah mengganti pakaiannya dengan baju santai. Kini dia berjalan menuju teras rumahnya untuk menyiram tanaman yang kini telah mengering dan tak segar lagi, untung saja beberapa saat sebelum Jisoo pindah dia meminta seseorang untuk membersihkan halaman rumahnya. Walaupun sekarang sudah kotor lagi setidaknya tidak terlalu berantakkan saat dia sampai di Seoul.

Setelah selesai dengan urusan kebunnya pandanga Jisoo tidak sengaja ke kebun rumahnya Minha. Melihat tanamannya kering dan dia ingin sekali membalas kebaikan Bomin atas kue cokelat kemarin, Seo Jisoo memutuskan untuk menyiram tanamannya. Ia arahkan selang airnya ke halaman rumah Bomin dan—

Ya!” pekik seorang laki-laki yang tidak lain adalah Myungsoo.

Jisoo terjolak kaget dan langsung menjatuhkan selang yang dia pegang saat mendengar teriakan seorang pria. Perlahan dia mendekati rumah Bomin ntuk melihat dari dekat siapa orang yang berteriak.

“Ma..maaf aku tidak bermaksud untuk menyirammu,” Sesal Jisoo sambil menundukkan kepalanya. Oh masih mau bertanggung jawab untuk minta maaf, batin Myungsoo. Awalnya Myungsoo ingin sekali mencaci maki pelaku penyiraman air kepadanya—yang sekaligus tetangga barunya ini—tapi bibirnya mendadak kaku ketika menyadari perempuan dihadapannya ini begitu familiar. Iapun memperhatikan wajah Jisoo dengan sangat lekat. Saat dia sadar akan identitas Jisoo, Kim Myungsoo menunjuk Jisoo dengan jari telunjuknya dan berteriak.

“Kau! Bukankah kau yang dipesawat itu?” pekik Myungsoo tak percaya.

Jisoo mengedipkan matanya perlahan dan dia menepuk tangannya saat sadar dengan ucapan Myungsoo. Ah ahjussi itu.

Eoh kau ahjussi itu!” kata Jisoo sembari tersenyum.

“Huh? masih saja memanggilku ahjussi,” cibir Myungsoo.

“Jadi kau tetangga baruku, anaknya bibi Lee,” gumam Jisoo.

“Jadi kau tetangga baruku, yang dipuji-puji oleh Minha,” cibir Myungsoo sambi meniru perkataan Jisoo..

“Oh ahjussi aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Seo Jisoo, tetangga barumu. Siapa namamu?” Tanya Jisoo.

“Myungsoo,”

Percakapan mereka terputus saat Jisoo merasakan ponsel yang ada di sakunya berdering. Jisoo lantas melihat ponselnya dan membulatkan mata karena sadar akan suatu hal. Dia lupa bahwa dia memiliki janji kepada seseorang pemilik butik untuk memamerkan hasil rancangannya.

“Ah ahjussi ah bukan maksudku Myungsoo. Aku terburu-buru sampai nanti ya!”

Jisoo langsung melesat masuk ke dalam rumah tidak lupa untuk mematikan kran yang sedari tadi hidup.

“Sampai nanti? Tsk siapa juga yang mau bertemu denganmu,” rutuk Myungsoo. Saat saat dengan pertemuannya dengan Jisoo, Myungsoo pun menggelengkan kepalanya tak percaya, “Kenapa dunia sempit sekali,” dumel Myungsoo.

.tbc.


Author Note :

Haiii~ For the first time buat fanfic Jisoo chapter>< Sebenarnya ini fanfic lamaku dengan cast lain sih…. Ku remake deh pakai Jisoo cast ceweknya dan of course main cast cowoknya Kim Myungsoo~ Kalau selesai baca jangan langsung tutup tap ya :p gimme a comment, ok!

Advertisements

3 thoughts on “Matched [Chapter 1]

  1. gw blm bs komen banyak soalnya belum tau konfliknya gmn. kynya ini lebih fokus ke pengenalan deh.

    utk space paragaraf pergantian waktu/setting kynya kurang deh. soalnya keliatan nyatu gitu sm paragraf seelumnya

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s