Posted in AU, Chaptered, Drama, Fanita, Hurt/Comfort, LFI FANFICTION, PG-15, Romance

Matched [Chapter 2]

picsart_1466032702413.jpg

Matched

By Fanita

Main Cast : Infinite’s L (Kim Myungsoo) & Lovelyz’ Jisoo

Cast : Actress’ Chae Subin – Lovelyz’ Mijoo – Etc

OC : Lee Bomin – Kim Minha

Genre : Romance – Hurt/Comfort – AU – Drama  || Type : Chapter || Rating : PG-15

.

.

.

          Jisoo mengantarkan Minha pulang ke rumah karena sejak tadi dia terus bermain bersama Jisoo. Saat hendak memanggil Bomin tiba-tiba saja Myungsoo muncul dari balik pintu. Dia menatap Seo Jisoo yang sudah 4 hari ini berstatus sebagai tetangganya dengan datar.

“Kau sudah selesai mengajak Minha main?” tanya Myungsoo.

Jisoo menganggukan kepalanya, “Ya aku mengantarnya pulang karena aku ada urusan,” jawab Jisoo.

“Jisoo eonnie lain kali main lagi ya!” kata Minha dengan senyuman.

“Tentu saja Minha-ya kalau begitu eonnie pulang dulu ya dan kau ahju—ah maksudku Myungsoo aku pulang ya. Annyeong!” pamit Jisoo.

.

“Oppa Minha mau es krim!” pinta Minha dengan mata yang berbinar-binar.

Myungsoo langsung menengok ke bawah dan tersenyum kepada Minha, “Oke! Ayo kita ke dapur!” ajak Myungsoo sambil mengulurkan tangannya kepada Minha.

Sampainya didapur Myungsoo langsung mengeluarkan es krim dari kulkas dan memberikan sedikit es krim di mangkuk untuk Minha karena dia tidak ingin mengambil resiko adiknya akan pilek atau batuk karena terlalu banyak minum es krim. Sambil duduk di meja makan Myungsoo terus tersenyum mengamati Minha yang manis. Setiap melihat Minha dia berprinsip akan menjaga adiknya semampunya, jika nyawa menjadi taruhannya dia akan berikan itu karena dia tidak ingin kejadian yang lalu terjadi lagi, “jangan belepotan!” ujar Myungsoo sembari menyeka noda es krim di dagu Minha namun gadis kecil itu tetap sibuk menikmati es krimnya.

.

Ting..tong…

Tiba-tiba bell berbunyi Myungsoo mengerutkan keningnya heran setelah itu dia pun meminta izin sebentar kepada Minha untuk membukakan pintu. Saat Myungsoo sudah membuka pintu dia langsung tersenyum melihat Subin yang ada di depannya.

Annyeong oppa!” sapa Subin.

Annyeong. Masuklah!” ajak Myungsoo.

Myungsoo dan Subin kini berjalan ke dapur dan saat Myungsoo menghampiri Minha es krim yang adiknya makan telah habis.

“Oppa aku mau lagi!” pinta Minha.

“Tudak boleh!” tolak Myungsoo.

Minha mengerucutkan bibirnya kesal dan langsung berlari menuju Subin dan memeluknya.

“Eonnie Myungsoo oppa pelit dengan Minha!” rutuk Minha.

“Hei oppa tidak ingin kau sakit!” sahut Myungsoo.

“Stt! Tidak boleh begitu Minha-ya. Bagaimana sebagai gantinya kita jalan-jalan saja? Nanti eonnie akan membelikan Minha gulali gimana?” tawar Subin.

“Yeeee!!” pekik Minha.

“Kau pandai membujuk anak kecil,” puji Myungsoo membuat keduap pipi Subin bersemu merah.

“Oppa mau ikut tidak? Bagaimana kalau kita jalan-jalan sore di taman?”

“Ide bagus. Aku ganti baju dulu. Tunggulah di depan,”

Subin menganggukan kepalanya dan kini dia dan Minha berjalan menuju teras untuk menunggu Myungsoo.

.

15 menit menunggu Myungsoo akhirnya laki-laki tampan itu sudah siap. Subin tersenyum melihat Myungsoo yang tampak keren namun dia bosan dengan gaya laki-laki itu, selalu hitam. “Oppa pakai mobilku saja, ini!” kata Subin sambil melempar kunci mobilnya. Myungsoo menangkap kunci mobil itu. Subin terlebih dahulu masuk dan duduk di samping kemudi. Saat Myungsoo dan Minha hendak masuk juga kedalam mobil tiba-tiba saja Minha berganti haluan dan menyusul Jisoo yang baru saja menutup pintu pagarnya.

.

“Eonnie! Minha mau jalan!” adu Minha.

Jisoo mencubit pipi Minha gemas dan menatap Myungsoo yang kini melihati mereka, “Minha-ya oppa mu sudah menunggu. Cepat masuk ke dalam mobil,” kata Jisoo.

“Iya Jisoo eonnie! Sampai jumpa!” pamit Minha.

Minah berlari menuju mobil Subin. Ia masuk ke dalam mobil setelah Myungsoo membukakan pintu untuknya. Melihat Jisoo masih berdiri di sana Myungsoo pun pamit kepada tetangga barunya—yang menyebalkan itu.

“Seo Jisoo kami pergi dulu!” pamitnya.

“Iya ahju—maksudku iya Kim Myungsoo!”

Myungsoo menggerutu tidak jelas mendengar Jisoo yang hampir saja memanggilnya ahjussi lagi. Ah, daripada berlama-lama di luar mending dia segera masuk dan pergi berjalan-jalan dengan adiknya serta Chae Subin.

.

“Huh? Jadi aku harus mencari modelku sendiri?”

“Tentunya begitu. Bukankah kau sendiri yang bilang jika karyamu ini akan lebih menarik jika dipakaikan dengan orang yang tampan?  Tampan menurutku dan menurutmu pasti berbeda,” jawab Aesoo, pemilik butik tempat Jisoo diterima bekerja.

“Ah iya sih.. aku sendiri yang bilang begitu. Baiklah kalau begitu sunbaenim. Aku akan mencari seseorang yang pantas untuk menjadi model atas busana rancanganku,” ujar Jisoo sambil tersenyum.

“Baiklah Jisoo-ssi kalau begitu kau bisa pulang,”

“Terima kasih banyak sunbaenim. Kalau begitu aku pamit,”

Aesoo tersenyum kepada Jisoo dan pergi meninggalkannya. Setelah Aesoo menghilang dari pandangannya Jisoo menyandang tasnya di bahu lalu pergi dari tempat ini.

.

Jisoo baru saja keluar dari butik Aesoo. Saat Jisoo mau masuk ke dalam mobilnya tiba-tiba seseorang menepuk pundak Jisoo dari belakang. Seketika badan Jisoo menegang karena dia takut bahwa orang itu adalah orang jahat. Perlahan-lahan Jisoo melirik ke belakang dan—

Annyeong!” sapa orang itu.

Heol daebak!”pekik Jisoo.

Setelah Jisoo membalikan badannya ia menatapnya dengan tidak percaya. Orang yang sudah 4 tahun ini tidak dia temui. Bagaimana bisa kebetulan bertemu di sini?

“Daeyeol oppa!!” pekik Jisoo dan langsung memeluk laki-laki bernama Lee Daeyeol tersebut.

“Sebegitunya kau merindukanku,” canda Daeyeol.

Jisoo melepaskan pelukannya dan tersenyum manis sehingga menunjukan eyes smile miliknya. Daeyeol mengacak pelan rambut Jisoo dan tentunya membalas senyuman perempuan itu.

“Apa kabarmu oppa?” tanya Jisoo.

“Baik. Kau sendiri? Ah kau tidak mengabariku selama kau di Gwangju. Oh tunggu dulu kau sudah pindah lagi ke Seoul?” tanya balik Daeyeol.

Jisoo menganggukan kepalanya, “Ya beberapa hari yang lalu aku kembali ke sini. Maaf aku tidak menghubungimu sampai di sana ponselku hilang jadi nomor teman-teman pada hilang. Aku hanya mengingat email Mijoo jadi aku hanya bisa menghubunginya. Maaf ya oppa,” sesal dan terang Jisoo panjang lebar.

“Tidak apa kok, aku senang kau baik-baik saja. Kenapa kau tidak meminta Mijoo untuk menanyakan kabarku hm?”

“Memangnya kau dengan Mijoo itu akur,” cibir Jisoo.

“Haha kau benar,” kata Daeyeol sambil mengusap tengkuknya. Dia lupa hubungannya dan Mijoo tidak sedekat itu.

“Oppa aku masih merindukanmu ayo kita berbicara di cafe saja!” ajak Jisoo.

“Yabaiklah!”

Jisoo dan Daeyeol kini berjalan mencari cafe terdekat untuk bernostalgia.

.

“Eonnie ayo kita ambil selca!” ajak Minha bersemangat. Subin tersenyum dan kini dia mendekati Myungsoo dan juga Minha.

“Pakai ponselmu saja,”u jar Myungsoo.

Tanpa pikir panang Subin langsung memberikan ponselnya dan kini mereka siap untuk mengambil selca bertiga. Banyak macam gaya yang mereka abadikan. Setelah puas dengan berfoto Minha yang melihat permen kapas langsung menujuknya penuh semangat.

“Oppa!”

“Iya akan oppa belikan,” kata Myungsoo.

Myungsoo beranjak dari tempatnya dan kini sedang sibuk berbicara dengan ahjussi yang menjual permen kapas itu. Tinggalan Subin bersama Minha.

“Eonnie.. eonnie biasanya satu minggu sekali datang ke rumah kenapa semenjak Oppa datang eonnie sering datang?” tanya Minha polos.

“Ah itu.. memangnya eonnie tidak boleh menemui Minha dan Myungsoo oppa?” kata Subin gugup.

“Tidak kok, aku malah suka!” celetuk Minha.

Subin yang tidak bisa berkata-kata lagi hanya mengusap rambut Minha dan tidak lama kemudian Myungsoo datang sambil membawa dua permen kapas.

“Oppa kenapa 2?” bingung Subin.

“Satu untukmu. Bukannya kau suka ya permen itu apalagi warna yang aku beli ini biru?” ujar Myungsoo.

“Eoh.. Makasih oppa,”

Subin dan Minha memakan permen kapasnya sesekali Subin menyuapi Myungsoo permen yang dia punya dan laki-laki itu tidak menolaknya. Jika orang asing melihat, keduanya tampak seperti sepasang kekasih padahal kenyataannya seorang Kim Myungsoo merasa sedang menjaga kedua orang adik, bukan pergi dengan pacarnya.

.

Jam sudah menunjukan pukul setengah 8 malam. Subin, Myungsoo dan Minha baru saja pulang ke rumah. Habis dari taman mereka berencana makan malam bersama. Minha yang tampak lelap itu kini tertidur di pangkuan Subin.

“Oppa bagaimana ini?” tanya Subin berbisik agar tidak membangunkan Minha.

“Tunggu aku akan menggendongnya,”

Myungsoo langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu keluar untuk Subin. Dia meraih Minha yang kini tertidur pulas setelah itu Subin pun keluar dan merenggangkan badannya yang sedikit pegal karena tidak digerakan selama 30 menit perjalanan.

“Oppa aku ingin berbicara denganmu,” ucap Subin.

“Masuklah dulu aku akan membawa Minha ke kamarnya,” kata Myungsoo.

Subin menganggukan kepalanya dan kini mereka berjalan masuk kedalam rumah. Sembari menunggu Myungsoo menghampirinya Subin duduk sejenak di ruang tamu dan Bomin menghampiri mereka.

“Kalian habis dari mana?” tanya Bomin yang kini telah duduk di sebelah Subin.

Subin membenarkan posisi duduknya, “Kami habis jalan-jalan sore di taman dan makan malam bersama bu,” jawab Subin.

“Ah begitu. Baguslah setidaknya Myungsoo mengajak Minha untuk jalan-jalan,” ucap Bomin.

“Ibu yang mengajak Minha itu aku bukan Myungsoo oppa,” celetuk Subin.

“Sungguh? Dasar laki-laki yang tidak memiliki inisiatif,” rutuk Bomin.

Tiba-tiba saja Myungsoo menyeletuk, “Laki-laki siapa?” tanya Myungsoo.

“Kau tidak perlu tahu,” ketus Bomin.

Myungsoo menggerutu tidak jelas lalu pandangannya pun terarahkan pada Subin yang sedang melihatnya juga, “Ibu masuklah Subin ingin berbicara suatu padaku,” usir Myungsoo.

“Dasar..” oceh Bomin yang langsung menuruti perkataan anak laki-lakinya itu.

Kini di ruang tamu tinggal Myungsoo dan Subin. Saat Myungsoo hendak duduk Subin malah mengajak Myungsoo untuk berbicara di teras saja dan kini keduanya menuju teras. Sampai depan Subin diam sejenak sebelum berbicara apa yang dia inginkan.

“Oppa begini ak—aku tahu besok ibu akan pergi ke Thailand dan di rumah hanya ada kau dan juga Minha—“

“Hei! Chae Subin itu tidak pernah basa-basi. Cepat ceritakan apa maumu?” potong Myungsoo Myungsoo.

“Haha iya,” kekeh Subin. “Oppa aku ingin kau menemaniku ke pesta pertunangan mantanku. Bisa?”

Myungsoo terdiam sejenak. Dia bisa saja menemani Subin untuk pergi ke pesta temannya itu namun bagaimana nasib Minha? Lucu jika dia mengajak adiknya ke acara itu juga. Subin yang melihat Myungsoo hanya diam sambil berfikir lalu menghela nafasnya.

“Aku sudah tahu Oppa tidak bisa menemaniku. Tidak usah dipaksakan,” kata Subin dengan nada kecewa.

Brak…

Myungsoo tidak menyaut perkataan Subin yang dia perhatikan adalah seseorang yang baru saja keluar dari mobilnya. Senyum Myungsoo terukir saat melihat sosok Jisoo yang kini berjalan masuk ke dalam rumahnya.

“Aku bisa!” celetuk Myungsoo. Wajah cemberut Subin kini berubah menjadi sumringah kembali dan senyum terukir dari bibirnya.

“Sungguh?”

Myungsoo menganggukan kepalanya pasti dan tersenyum kepada Subin.

“Oppa aku berhutang budi padamu!” riang Subin.

“Iya. Lebih baik kau pulang!” usir Myungsoo.

“Heh kau mengusirku, ya sudah aku pulang sampai jumpa besok malam. Aku akan menjemputmu!” kesal dan pamit Subin kepada Myungsoo.

“Oke..”

Subin melambaikan tangannya dan pulang. Setelah kepulangan Subin laki-laki tampan itu dengan tergesah-gesah mengunjungi rumah tetangganya yang tidak lain adalah Jisoo. Myungsoo mengetuk pintu rumah Jisoo tak sabaran dan setelah 5 menit menunggu Jisoo membukakan pintu untuk Myungsoo.

“Kau lama sekali,”oceh Myungsoo.

Ahjussi aku ini baru pulang dan baru saja mengganti pakaianku,” oceh Jisoo.

Ya! Aku ini masih muda tidak pantas kau panggil ahjussi,” koreksi Myungsoo.

“memangnya kenapa? Lama kelamaan kau juga akan dipanggil ahjussi. Kalau Minha bukan adikmu pasti dia memanggilmu dengan sebutan itu,”

Myungsoo menggerutu tidak jelas dan Jisoo hanya menatapnya datar.

Ahju.. Myungsoo apa yang kau butuhkan sehingga menganggu ketenanganku?” tanya Jisoo mulai penasaran.

Myungsoo terdiam sejenak. Mendadak dia lupa apa tujuannya kemari karena terlalu sibuk berdebat dengan Jisoo.

“Ti..tidak ada sih,” jawab Myungsoo ragu sembari menggaruk rambutnya yang tidak gatal itu.

“Kalau begitu sudah ya selamat malam,”

Jisoo menutup pintu rumahnya secara perlahan. Di saat itu juga Myungsoo langsung mengingat apa tujuannya mengunjungi rumah Jisoo. Ia menahan Jisoo agar dia tidak menutup pintunya, alhasil Jisoo kembali membuka lebar pintu.

“Sekarang kau sudah memiliki tujuan Kim Myungsoo?” tanya Jisoo dengan senyuman.

“Iya aku baru ingat. Hmm jadi gini kau mau membantuku tidak?” tanya Myungsoo.

“Bantuan apa memangnya?” bingung Jisoo.

“Besok aku ada acara. Ibu akan pergi ke Thailand paginya jadi hanya aku dan Minha di rumah. Nah berhubung aku ada acara dan tidak bisa mengajak Minha maukah kau membantuku menjaga Minha?” tanya Myungsoo. Terdengar penuh harapan dari setiap kata yang dia ucapkan.

“Ya aku bisa!’ jawab Jisoo dengan semangat.

Heol sungguh?” ujar Myungsoo memastikan. Jisoo menganggukan kepalanya, “Makasih banyak Seo Jisoo,” ucap Myungsoo tulus dan tersenyum lebar.

“Sama-sama tapi jasaku tidak gratis loh,” kata Jisoo diam-diam memiliki maksud tersembunyi.

Saat mendengar kata tidak gratis Myungsoo pun langsung menekuk mukanya dan melihat Jisoo dengan datar. Kini Myungsoo memandang Jisoo seolah-olah bertanya apa imbalan yang diinginkannya.

“Begini kau harus membantuku menjadi model untuk pakaian yang aku rancang. Bagaimana? Mudah bukan? Kalau aku lihat kau pantas memakai baju rancanganku!” kata Jisoo.

“Hanya itu saja?” tanya Myungsoo. Jisoo menganggukan kepalanya dan Myungsoo tersenyum miring, “Hal gampang. Memangnya kau punya butik sendiri?” tanya Myungsoo sedikit penasaran.

Jisoo menggelengkan kepalanya, “Tidak aku masih bekerja dengan yang senior. Aku akan membuat butik sendiri di saat aku sudah berkeluarga,”

“Begitukah? Hmm kalau begitu aku pulang dulu. Sekali lagi terima kasih,”

Jisoo menganggukan kepalanya dan melambaikan tangannya ketika Myungsoo berjalan kerumahnya setelah myungsoo tidak ada lagi dipandangannya dia pun langsung masuk kerumahnya.

Di kamarnya Jisoo langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Ketika disebrang sana terdengar sahutan perempuan itu langsung berdehem sebentar dan berbicara.

“Oppa!”

“Ada apa Jisoo?”

“Begini.. bagaimana saat kita nonton besok aku membawa anak tetanggaku? Dia anak yang manis,”

“Boleh kok, ajak saja dia. Perempuan atau laki-laki?”

“Perempuan! Ya sudah hanya itu yang ingin aku bicarakan. Sampai jumpa besok!”

Jisoo langsung mematikan sambungan telponnya setelah itu dia pun langsung berbaring di kasurnya dan terlelap. Hari ini cukup membuatnya lelah sehingga dia ingin tidur lebih awal.

.

Di Minggu pagi yang cukup cerah Myungsoo keluar dari rumahnya berniat untuk menghirup udara segar. Baru saja membuka pintu dia disungguhi oleh sebuah majalah yang tergeletak tepat di depan rumahnya. Sepertinya itu majalah untuk ibunya, batin Myungsoo. Laki-laki itu lantas langsung mengambil majalah tersebut dan membawa masuk ke dalamnya. Karena penasaran dia yang kini tengah duduk di ruang tamu membuka majalah itu dan melihat-lihat gambar yang ada. Saat melihat sebuah model yang sangat dia kenali laki-laki itu langsung berteriak histeris.

“Ibu!!!!” pekik Myungsoo.

Bomin yang ada dikamarnya langsung keluar dengan tergesah-gesah dan menghampiri Myungsoo dengan panik.

Ya ada apa? Kau terluka?” panik Bomin.

“Tidak sih. Ada Yura di majalah ini,” tunjuk Myungsoo pada sebuah gambar.

“Kau ini ibu kira ada sesuatu hal terjadi padamu,” cibir Bomin.

“Hehe maaf. Aku baru tahu perempuan  itu benar-benar menjadi model,” gumam Myungsoo.

“Kau harus mendukung adik sepupumu itu menjalankan kariernya,” oceh  Bomin.

“Iya pastinya. Hmm tapi bu kalau dia menjadi model lalu siapa yang akan menjalankan perusahaan? Bukannya sebentar lagi paman akan pensiun ya? Soeun noona tidak mungkin diakan sudah menikah dengan Kim Bum hyeong,” celoteh Myungsoo.

Bomin tiba-tiba teringat sesuatu yang harus dia katakan kepada Myungsoo. Ini waktu yang tepat apalagi Myungsoo sendiri yang mengungkitnya.

“Pertanyaan bagus dan itu yang ingin ibu bicarakan padamu sebenarnya sebelum ibu pergi!”

Myungsoo langsung memasang kupingnya benar-benar untuk mendengar setiap kata yang akan di ucapkan ibunya.

“Kau harus sering-sering mengecek perusahaan dan mengunjungi pamanmu. Pamanmu akan meyerahkan kepemimpinannya padamu,” terang Bomin.

Apa?! Menyerahkan kepemimpinan kepadanya? Myungsoo tidak pernah membayangkan kalau hari ini akan tiba. Dia tidak pernah berpikir untuk hidup dengan jalanan bisnis. Itu bukan mimpinya, bukan passionnya. Kenapa mendadak jadi dia yang harus melakukannya padahal dia sendiri tidak tahu apa-apa tentang bisnis dan perusahaan.

“Ibu aku tidak bisa berbisnis! Kenapa aku harus bergelut di dunia bisnis sementara ayah sendiri bisa menjadi ahli geologi perminyakan,” oceh Myungsoo.

Tak!! Myungsoo menutup mulutnya setelah Lee Bomin memberikan jitakan di kepalanya. Diapun mengusap kepalanya yang perih itu sambil menggerutu tidak jelas di dalam hatinya. Dia hanya mengutarakan pendapatnya tapi kenapa malah diberikan sebuah hukuman oleh ibunya? Tak adil.

“Ya itu karena kakekmu tidak mempercayai ayahmu makanya dia menyuruh pamanmu itu. Sekarang kau satu-satunya harapan keturunan Kim saat ini. Paham tidak?” oceh Bomin yang dihadiahkan gelengan oleh Myungsoo.  “Ah sudahlah ibu pusing berbicara denganmu. Ibu mau siap-siap juga nih jadi tolong bangunkan Minha!” titah Bomin dan langsung pergi meninggalkan Myungsoo.

“Heh menyebalkan!”dumel Myungsoo.

Ingat akan perintah ibunya untuk membangunkan sang adik Myungsoo langsung pergi menuju kamar Minha dan membangunkannya. Bisnis..perusahaan..bisnis..perusahaan.. Myungsoo tidak akan memperdulikannya. Bangkrut saja sekalian!

.

Myungsoo dan Minha baru saja pulang mengantar kepergian Bomin ke Thailand. Baru saja Myungsoo mau masuk ke dalam rumahnya, ia mendengar Seo Jisoo memanggil namanya. Lekas saja adiknya, Minha pergi menghampiri Jisoo dengan perasaan senang.

“Jisoo eonnie!” pekik ria Minha.

Annyeong Minha,” sapa Jisoo.

Minha melepaskan pelukannya dan tersenyum kepada Jisoo. Myungsoo menghampiri adik dan tetangganya itu. Ada dua hal yang tidak dia mengerti saat ini. Pertama, kenapa Minha dekat sekali dengan Jisoo padahal mereka kenal baru beberapa hari? Dan yang kedua kenapa Jisoo memanggilnya? Hubungan mereka sebagai tetangga tidak sedekat itu, kalau mau menyapa ya tidak usah berlebihan juga.

“Ada apa memanggilku?”tanya Myungsoo.

“Nanti kau pulang jam berapa? Aku akan pergi juga malam ini bersama temanku jadi aku akan mengajak Minha,” jawab Jisoo.

Ah, jadi itu alasannya. Myungsoo terlalu banyak menduga-duga. Ngomong-ngomong dia saja lupa dengan perjanjian mereka semalam.

“Ah mungkin jam 10? Mungkin.. aku juga tidak tahu. Untuk menanyakan kabar Minha nanti malam aku minta nomor ponselmu!” ujar Myungsoo sambil memberikan ponselnya kepada Jisoo.

Jisoo langsung mengambil ponsel Myungsoo dari tangannya dan mengetik nomor ponselnya. Perlahan dia mengetik namanya ‘Seo Jisoo si tetangga’ di kontak dan setelah selesai barulah dia kembalikan hape itu kepada empunya.

“Minha-ya nanti malam maukan jalan dengan eonnie?” tanya Jisoo sambil mensejajarkan tingginya dengan Minha. Dengan semangat Minha menganggukan kepalanya.

“Bagaimana Minha bisa menyukaimu sebegitunya,” gumam Myungsoo.

Jisoo yang mendengar gumaman Myungsoo hanya memeletkan lidahnya ke arahnya. Sehingga membuat Myungsoo memasang tampang bingung. Seo Jisoo memang aneh, pikirnya.

“Oppa.. Minha mau main sama Jisoo eonnie,” mohon Minha.

“Kenapa bilang pada oppa? Tanya saja kepada orangnya bisa atau tidak,” kata Myungsoo.

“Eonnie boleh ya…” pinta Minha dengan mata –dibuat- senduh.

“Tentu! Ayo masuk ke rumah eonnie..” ajak Jisoo.

Jisoo langsung berdiri dan menggandeng tangan Minha. Kini dia berjalan ke dalam rumahnya bersama si Kim kecil. Begitu pula Myungsoo yang memilih untuk masuk ke dalam rumahnya.

.

Langit kini berubah menjadi gelap. Myungsoo sudah siap dengan baju semi formal yang sudah dia siapkan sejak tadi.Soal Minha, adiknya juga telah dia titipkan dengan Jisoo bahkan mereka sudah pergi di jemput seseorang yang Myungsoo tidak tahu siapa. Myungsoo tak ambil pusing dengan kenalan Jisoo itu lagian jika Minha kenapa-kenapa dia bisa saja menyalahkan Seo Jisoo yang mengajaknya.

.

Myungsoo merasa kerongkongannya kering, lantas Myungsoo memutuskan untuk mengambil minuman di dapur. Setelah selesai minum terdengarlah suara bell rumah. Tanpa melihatnya Myungsoo juga sudah tahu siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan Subin yang berjanji untuk menjemputnya.

 “Oppa kau sudah siap?” Tanya Subin begitu Myungsoo membukakan pintu.

“Tentu kalau begitu kita pergi sekarang,” jawab Myungsoo.

.

“Berhubung ada gadis kecil ini kita menonton film kartun saja bagaimana? Adik kecil kau sukakan?” Tanya Daeyeol. Minha—si kecil yang dimaksud oleh Daeyeol menganggukan kepalanya dengan semangat. Melihat jawaban dari Minha yang setuju untuk menonton film kartun, Daeyeol, Jisoo dan tentunya Minha mengantri untuk membeli tiket. Ternyata mereka masih memiliki waktu kosong selama 30 menit sebelum film di mulai. Untuk menunggu kekosongan waktu mereka memutuskan untuk mampir dulu di sebuah cafe.

“Minha mau yogurt? Sama seperti es krim tapi ini lebih sehat!” tawar Jisoo.

Ne eonnie,” terima Minha.

“Oppa pesankan ya! Aku mau Americano,” pinta Jisoo sambil mengedipkan matanya.

Daeyeol yang melihat Jisoo melakukan aegyo untuk membujuknya langsung mengerucutkan bibir. Tsk aegyo Jisoo selalu membuatnya luluh. Pada akhirnya Daeyeol pun pergi menuju kasir untuk memesan apa yang dipesan oleh Jisoo dan Minha.

.

“Minha-ya.. Myungsoo pergi kemana?” Tanya Jisoo. Sejujurnya dia penasaran acara apa yang membuat Jisoo menitipkan Kim Minha kepadanya. Mau tanya langsung takutnya Myungsoo marah. Satu-satunya tempat bertanya adalah Kim Minha, “Oppa bilang ingin menemani Subin eonnie ke pesta temannya,” jawab Minha. Ohhh… Menemani Subin—ya siapa itu Jisoo pun tidak mengenalnya.

“Eonnie, Daeyeol Oppa itu pacar eonnie ya?” Tanya Minha polos.

Mata bulat Jisoo semakin membulat sehabis mendengar pertanyaannya Minha. Anak kecil zaman sekarang sudah bisa bertanya seperti itu? Apa kata dunia!

“Pacar? Haha bukan Minha,” jawab Jisoo sambil tertawa. Dia mengibaskan tangan kanannya sementara tangan kirinya sendiri dia gunakan untuk menutup mulutnya agar berhenti tertawa, “Daeyeol Oppa itu kakak kelas eonnie dulu di SMA. Kami memang dekat seperti sahabat dan eonnie juga sudah menganggap Daeyeol oppa sebagai oppa sendiri. Minha mengerti?” terang Jisoo.

“Ya mengerti eonnie,” kata Minha sambil menganggukkan kepalanya.

Tidak lama kemudian Daeyeol kembali sambil membawa nampan lengkap dengan pesanannya. Minah dengan semangat mengambil yogurt miliknya. Ia memakan yogurt itu dengan sesendok penuh tapi karena rasa asam membuat Minha bergedik.

“Hahaha makannya sedikit saja,” kekeh Jisoo yang gemas melihat ekspresinya Minha.

Minha menganggukkan kepala tapi masih juga melakukan hal yang sama. Ckckck Jisoo benar-benar gemas dengan tingkah lakunya Kim Minha ini. Coba saja Minha benaran adiknya.

 “Ngomong-ngomong kenapa anak ini ikut dengan kita?” tanya Daeyeol berbisik.

“Pengasuhnya ada urusan yang membuatnya tidak bisa mengajaknya untuk ikut, jadi dia menitipkan Minha padaku,” jawab Jisoo.

“Ah begitu. Anak yang manis,” puji Daeyeol sambil melihat Minha dengan penuh senyuman.

.

Di tengah-tengah acara, Myungsoo yang sedari tadi meminum minuman yang dihidangkan malah tidak tahan untuk membuang air kecil. Alhasil dia pun meminta izin kepada Subin untuk mencari toilet dulu. Bisa gawat kalau ditahan lebih lama.

“Subin-ah aku ke toilet dulu ya,” kata Myungsoo.

“Ah iya oppa aku akan disini menunggumu. Pergilah!” desak Subin.

Sambil menunggu Myungsoo kembali dari toilet Subin kini berdiri sendiri sambil meminum jus jeruk. Tiba-tiba saja seseorang datang menghampirinya dengan pandangan sinis. Subin berusaha mengabaikan orang itu namun itu tidak berhasil.

Ya Kim Subin! kau ini masih saja berani datang ke pesta pertunangannya mantanmu. Kau tidak tahu malu ya, kemarin kau memohon pada Wongeun oppa agar dia tidak jadi bertunangan dengan Eunji,” sindir Naeun.

“Naeun-ssi lebih baik kau tutup mulutmu rapat-rapat, kau tidak tahu apa yang terjadi. Dan juga aku tidak suka mendengar suara cemprengmu itu,” kata Subin berusahah tenang.

“Hah?! Kau bilang suaraku cempreng? Ya!” kesal Naeun.

Subin meletakan gelas yang dia pegang di atas meja dan menatap Naeun dengan mata berapi-api. Dia tidak suka jika seseorang memancing emosinya!

“Lebih baik kau pergi dan jangan membuat moodku memburuk,”  Subin.

Byur!!!

Subin membulatkan matanya saat baju yang dia kenakan basah akibat Naeun menyiramnya menggunakan minuman yang tadi dia letakan di atas meja. Merasa sangat kesal tangan Subin langsung bergerak menjambrak rambut Naeun panjang itu. Tidak mau kalah dari Subin, Naeun juga menjambak rambutnya Chae Subin. Semua tamu menjadi ribut dan tercenggang melihat aksi ribut Subin versus Naeun. Myungsoo yang baru saja selesai dari toilet langsung bergolak kaget lalu dia berusaha memisahkan Subin dari perempuan asing yang tidak dia kenal itu.

“Subin hentikan!” tegas Myungsoo.

Subin langsung melepaskan tangannya dari rambut Naeun dan pasangan yang sedang melangsungkan pertunangan menghampiri mereka.

“Naeun-ah ada apa? Kau baik-baik saja?” Tanya Jung Eunji kepada temannya, Naeun. “ Sebenarnya ini ada apa?” tanyanya lagi sambil memandang Naeun dan Subin bergantian.

“Subin-ah.. Naeun-ah..  kalian ini kenapa berkelahi di acaraku?” tanya Wongeun dengan muka merah padam. Kentara sekali kalau saat ini dia tengah menahan malu karena acaranya dihancurkan oleh tamunya sendiri.

“Dia duluan oppa! Mulutnya tidak bisa dijaga!” kesal Subin sambil menujuk Naeun.

“Apa?! Kau menyalahkanku?” protea Naeun.

Sebelum perang untuk yang kedua kalinya terjadi Myungsoo langsung mengajak Subin untuk pamit. Dia tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh Subin, yang jelas dia harus membawa pergi perempuan ini dari pesta pertunangan mantannya.

“Aku mohon maaf atas kerusuhan yang terjadi di pesta pertunangan kalian. Maafkan Subin,” sesal Myungsoo. Ia membungkukkan badannya dihadapan Eunji dan Wongeun.

“Ti.tidak apa kok,” balas Wongeun tak enak hati.

“Kalau begitu kami pulang. Sekali lagi maaf telah mengacau pesta kalian,” sesalnya.

Myungsoo memberikan hormat untuk Wongeun dan Eunji setelah itu dia menarik paksa Subin untuk keluar dari pesta, selain untuk mencegah perkelahian Myuungsoo juga memikirkan harga diri Subin agar tidak di cap buruk oleh orang-orang karena mengacau di pesta orang lain.

.

“Sebenarnya ada apa?” Tanya Myungsoo dengan nada tinggi. Sebetulnya dia ingin memarahi Subin, hanya saja dia begitu tidak percaya kalau Chae Subin yang dia kenal bisa berbuat onar di pesta orang lain. Subin itu bisa mengontrol emosinya tapi apa yang terjadi saat ini. Namun bukannya mendapatkan sebuah jawaban dari pertanyaannya, Chae Subin malah menangis dihadapannya.

“Kenapa kau menangis?” heran Myungsoo.

“Sakit! Dia mencakar pipiku dan juga bajuku basah karenanya bahkan lengket!” adu Subin. Dia membentak Myungsoo saat ini.

Setelah Subin berkata seperti itu, Myungsoo memegang dagu Subin untuk melihat kebenarannya. Oh, ternyata benar di pipi kanan Subin ada luka cakaran yang cukup panjang dan dalam. Juga, Myungsoo melihat baju Subin yang basah di bagian dadanya. Melihat situasi ini Myungsoo langsung membuka jasnya dan membiarkan Subin untuk menggunakannya, “Ya sudah lebih baik kita pulang dan aku akan mengobati lukamu itu. Ayo!” ajak Myungsoo yang telah mencairkan amarahnya. Subin menganggukan kepalanya dan kini mereka pun berada di perjalanan pulang ke rumah Myungsoo.

TBC

 


[Minim Jisoo? Minim Jisoo—Myungsoo? Ditunggu saja part berikutnya><]

Advertisements

Author:

wattpad @lovefinite87

One thought on “Matched [Chapter 2]

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s