[Oneshot] Paman Baik Hati

Standard

image

Paman Baik Hati

By Fanita

Main Cast : Lovelyz’ Mijoo – Infinite’s Woohyun

OC : Lee Goseul

Genre : Family – Sad – Hurt/Comfort || Rating : PG-17 || Type : Oneshoot

.

https://soundcloud.com/loveyouknoow/ost-descendants-of-the-sun-part-7-lyn-with-you

.

Ting..tong…

          Gadis manis berusia 6 tahun itu mengucek kedua matanya begitu dia terbangun setelah mendengar suara bell rumahnya berbunyi. Lee Goseul, si manis itu melirik ibunya yang masih tertidur di sebelahnya. Tak tega membangunkan ibunya Goseul memilih untuk bangkit dan melihat siapa tamu yang datang di pagi hari.

.

Krek..

          Begitu Goseul membuka pintu rumahnya, yang dilihat olehnya adalah sosok seorang pria dengan pakaian teksudo abu-abu tengah tersenyum padanya. Goseul mengedipkan matanya berulang kali untuk melihat lebih jelas siapa tamu ini sampai akhirnya dia ingat suatu hal—

“Oh paman ini yang dulu pernah datang ya?” seru Goseul.

Yang dipanggil paman menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia mensejajarkan tinggi badannya dengan Goseul yang mungil, “Iya ini paman Woohyun,” katanya.

Goseul menarik lengan Woohyun untuk mempersilakannya masuk. Begitu Woohyun mengikutinya Lee Goseul menyuruh untuk duduk di sofa.

“Paman tunggu sebentar ya. Ibuku masih tidur aku akan membangunkannya!” seru Goseul.

Woohyun tersenyum ramah sambil menganggukkan kepalanya. Ah, Goseul memang anak yang manis.

.

          “Ibu bangun! Ibu!” Goseul menggoyangkan tubuh ibunya berulang kali agar ibunya cepat bangun. Merasakan tubuhnya goyang oleh anak perempuannya Lee Mijoo mau tak mau terbangun. Sebenarnya dia begitu lelah karena ada shift malam bekerja tapi mau bagaimana lagi Goseul yang membangunkannya jadi dia harus membuka mata.

“Ada apa sayang?” tanya Mijoo dengan suara parau.

“Ibu ada paman yang datang!” jawab Goseul.

“Paman?”

Mijoo mengeritkan dahinya. Paman siapa? Paman yang mana?

“Paman siapa? Goseul-ah jangan sembarangan terima tamu dan bilang ibu kalau ada tamu ya!” kata Mijoo memperingatkan.

“Tapi bu aku kenal dengan pamannya. Paman itu pernah datang kemari,” balas Goseul.

“Siapa namanya?”

“Paman Woohyun,”

Deg!

Mijoo yang semulanya merasakan bahwa kesadarannya belum 100% terkumpulkan mendadak sadar setelah mendengar nama Woohyun. Woohyun.. jangan bilang…

.

          Mijoo meletakkan secangkir teh di atas meja tamu lalu duduk di tempatnya. Ditatapnya Woohyun yang kini sedang bermain dengan Lee Goseul. Melihat sosok Woohyun ada di hadapannya membuat rasa nyeri itu kembali menghantam hati Mijoo.

“Ada apa?” tanya Mijoo tanpa basa-basi.

Woohyun mengalihkan pandangannya kepada Mijoo. Ia tersenyum tipis kepadanya lalu menjawab pertanyaan Mijoo barusan.

“Aku hanya mampir sebentar sekaligus melihatmu dan Goseul. Apa kamu keberatan?”

Mijoo menganggukkan kepalanya tanpa pikir panjang, “Ya aku keberatan,”

Melihat reaksi Mijoo yang Woohyun lakukan hanyalah tersenyum. Dia sudah tahu kalau Mijoo akan memberikan respon seperti ini sebelum dia datang ke flatnya.

“Paman Woohyun aku mau main sama paman seperti waktu itu. Paman mau ya!” celetuk Goseul tiba-tiba.

Dengan senang hati Woohyun menganggukan kepalanya. Ia mengusap pucuk kepala Goseul dengan sangat lembut. Diliriknya Mijoo yang melihatnya dengan tatapan tak senang. Ia tahu kalau Mijoo akan memberikan ekspresi itu kepadanya.

.

          Awalnya Mijoo tidak memperbolehkan Goseul pergi dengan Woohyun tapi karena Goseul merengek ingin bermain Mijoo jadi tidak enak hati. Ia membolehkan Goseul pergi dengan Woohyun asalkan dia juga ikut. Goseul tidak masalah dengan itu begitu juga dengan Nam Woohyun.

.

          Woohyun mengarahkan mobilnya ke sebuah taman. Yang Woohyun rasakan Goseul akan menyukai tempat ini. Beberapa bulan yang lalu saat dia bertemu dengan Goseul, Woohyun mengajaknya ke mall jadi kali ini dia ingin membawa si manis ke tempat yang berbeda.

“Cantiknya! Bunganya cantik bu, paman!” seru Goseul begitu melihat bunga dengan berbagai macam jenis bermekaran.

“Tidak, Goseul yang cantik..” kata Woohyun.

Goseul menunjukkan deretan giginya yang rapi. Aigoo anak yang manis. Mijoo sendiri hanya bisa tersenyum tipis melihat Goseul sangat bersemangat diajak ke tempat seperti ini. Ia cukup menyesal tidak memiliki banyak waktu bagi anaknya, Goseul. Itu semua dikarenakan Mijoo harus menafkahkan Goseul sehingga dia bekerja dari pagi hingga sore—bahkan kalau lembur bisa saja sampai malam seperti tugas semalam.

.

          “Tadaaa es krim vanila untuk Goseul yang manis!” Nam Woohyun memberikan es krim yang baru saja dia beli kepada Goseul. Goseul menerima es krim pemberian Woohyun dengan senang hati. Begitu es krim itu ada ditangannya Lee Goseul langsung menjilat dan merasakan manisnya vanila dari es krim pemberian Woohyun.

“Goseul jangan banyak-banyak makan es krimnya, nanti kamu pilek lagi..” kata Mijoo memperingati anak perempuannya.

“Es krim tidak bisa membuat orang pilek. Kamu salah pengertian,” celetuk Woohyun.

Mijoo memutar bola matanya karena kesal mendengar ocehan Woohyun. Niatnya baik tidak ingin anaknya terlalu banyak memakan makanan seperti itu.

“Paman mau cicip es krimnya?” tanya Goseul.

Woohyun menggeleng, “Goseul habiskan ya..”

Dengan hati gembira Goseul menganggukan kepalanya. Mijoo yang merasakan matahari mulai bersinar sangat terik, lalu dia melihat jam tangan yang ia kenakan, “Pukul 12.. Waktunya makan siang,” ujar Mijoo.

.

          Sedari tadi Nam Woohyun menyuapi Goseul tteobbeoki yang sudah dia bersikan dengan air panas agar rasanya tidak terlalu pedas bila di makan Goseul. Mijoo hanya melihat pemadangan yang ada di depannya dengan lirih. Goseul begitu senang mendapatkan perhatian dari Woohyun, begitu juga Nam Woohyun yang begitu memanjakan Lee Goseul.

“Goseul sudah ini kita pulang ya..” kata Mijoo.

Muka Goseul mendadak cemberut. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali lalu menjawab ucapan ibunya, “Tidak bu aku mau lihat bunga lagi sama paman Woohyun,”

Brak! Mijoo sedikit menggebrak meja karena kesal mendengar jawaban Goseul. Merasakan perubahan mood dari ibunya bibir Goseul melengkung ke bawah. Ibunya marah karenanya sehingga Goseul ingin menangis.

“Mijoo-ya sekali lagi biarkan dia melihat bunga,” pinta Woohyun.

Mijoo menggenggam erat sendok yang sedang dia pegang. Dia tidak mau mengabulkan permintaan Goseul tapi di sisi lain Mijoo tidak ingin merusak kebahagiaannya hari ini.

“Satu kali ini ibu izinkan Goseul. Pokoknya ini yang terakhir,”

“Yeee!”

Goseul kembali gembira mendengar ibunya mengizinkannya melihat bunga-bunga. Woohyun ikut tersenyum karena kebahagiaan Goseul dan melirik Mijoo yang tengah memandangnya, “Terima kasih banyak Mijoo-ya..” ucap Woohyun.

.

          Taman bunga ini memang menampilkan beragam macam bunga yang bermekaran dengan indah. Lebih dari 50 jenis bunga ditanam di tempat ini dan memancarkan keindahannya. Goseul dengan semangat berlari melihat bunga itu satu persatu sementara Woohyun dan Mijoo duduk dibangku taman sambil memantau Lee Goseul.

.

          “Sebenarnya apa maksudmu menemui Goseul? Perilakumu hari ini terlalu memanjakannya dan aku tidak pernah mengajarkan Goseul untuk bersikap manja!” Akhirnya Lee Mijoo berhasil mengeluarkan unek-unek yang dia kumpulkan sejak pergi dengan pria bernama Nam Woohyun ini. Woohyun yang matanya tidak bisa berhenti memandang Goseul menjawab pertanyaan Mijoo.

“Aku hanya ingin menemuinya,” kata Woohyun.

“Paman Woohyun kemarilah di sini keren!”

Mendengar Goseul berteriak ke arahnya membuat Woohyun kembali tersenyum dan melambaikan tanganya pada Goseul.

“Kau bilang waktu itu yang pertama dan terakhir kalinya,” ujar Mijoo dingin.

“Kali ini benaran yang terakhir Mijoo-ya,” ucap Woohyun.

“Tsk! Aku tidak percaya. Sebaiknya aku pindah saja—“

“Tidak perlu pindah. Aku bersumpah kali ini untuk yang terakhir kalinya karena sepertinya aku tidak bisa menemui Goseul lagi nantinya,”

Mijoo terdiam. Dapat Mijoo rasakan kalau ada makna tersirat diucapannya. Tapi Mijoo enggan untuk bertanya.

“Mijoo-ya bulan depan aku akan menikah,”

“…lalu?”

“Itu artinya aku akan memiliki kehidupan yang baru,”

“Oh..”

Hanya itu yang dapat diucapkan oleh Mijoo sekarang. Menikah dan kehidupan yang baru, untuk apa Woohyun repot-repot mengatakan ini padanya?

“Aku akan merindukan Goseul, anak kita..”

Tangan Mijoo terkepal erat dan ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan cairan bening yang sejak tadi hendak keluar dari pelupuk matanya. Dia tidak sanggup untuk berbicara lagi.

“Kamu membesarkan Goseul dengan sangat baik. Tahun depan Goseul sudah masuk sekolah bukan? Apa kita perlu memasukannya ke sekolah yang paling bagus di kota ini?”

Oppa..” Mijoo menghembuskan nafasnya lalu kembali berbicara, “Jangan urusi urusanku dan Goseul lagi. Kamu bilang akan menjalani kehidupan yang baru jadi tak perlu repot memikirkan kehidupan Goseul nantinya,” lanjut Mijoo.

“Tapi mau bagaimana pun Goseul anakku dan aku ingin dia mendapatkan pendidikan yang la—“

“Kamu pikir aku tidak bisa memberikan pendidikan yang layak untuk Goseul, huh? Selama 6 tahun ini aku membesarkannya dengan jeri payahku sendiri. Kau tahu?!” pekik Mijoo.

Mata Mijoo tampak merah tetapi tak ada air mata yang jatuh ke pipinya. Woohyun tahu, ia tahu betul kalau saat ini Mijoo sedang menahan tangisnya. Woohyun hapal sifat Mijoo yang tidak mau tampak lemah dihadapan orang lain.

“Aku tahu Lee Mijoo. Kamu wanita yang hebat—“

“Persetan dengan omong kosongmu. Aku muak mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulutmu oppa,” potong Mijoo.

“Mijoo kamu boleh membenciku tapi aku ingin berbicara denganmu tentang Goseul untuk yang terakhir kalinya sebagai ayah—“

“Ayah katamu? Ayah mana yang meninggalkan anaknya saat dia masih bayi? Bukan hanya Goseul yang kau tinggalkan tapi kau juga lari dari tanggung jawabmu sampai hari ini,”

Woohyun hanya pasrah. Ia menganggukkan kepalanya tanda mengakui kesalahan yang dia buat di masa lalu. Dia memang pria yang brengsek karena meninggalkan gadis yang dia hamilin tanpa bertanggung jawab untuk menikahinya.

“Aku masih terlalu muda waktu itu,” lirih Woohyun.

“Begitu juga dengan aku oppa! Kamu menghancurkan kehidupanku saat itu,” isak Mijoo.

Badan Mijoo bergetar hebat. Perempuan cantik itu menangis sesegukan namun menutupinya dengan kedua telapak tangannya yang lembut. Tangan Woohyun terangkat untuk memberikan ketenangan pada Mijoo tetapi saat tangannya hampir menyentuh pundak Mijoo, Woohyun mengurungkan niatnya. Dia tidak sanggup melakukannya. Maafkan aku Mijoo, batin Woohyun.

.

          Mijoo, Woohyun dan Goseul sudah pulang ke flat milik Mijoo. Woohyun memandang Mijoo sejenak tapi wanita itu mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Ia menghela nafas sejenak lalu melihat Goseul cantik yang sejak tadi tidak bisa berhenti tersenyum.

“Goseul-ah terima kasih sudah mau jalan-jalan dengan paman hari ini,” kata Woohyun. Ia mengusap pipi Goseul dengan lembut walaupun hatinya terasa berat untuk melakukan hal itu.

“Paman ke rumah lagi ya dan ajak aku jalan-jalan lagi. Ya ya ya!” seru Goseul.

Detik itu juga Woohyun merasa jantungnya terasa nyeri. Rasanya seperti tertusuk ribuan jarum pada saat yang bersamaan. Goseul maaf tapi dia tidak mampu melakukannya lagi.

“Goseul-ah janji ya dengan paman kalau Goseul akan menjadi anak yang baik dan jangan pernah membuat ibumu marah ya!” pinta Woohyun.

Goseul menganggukkan kepalanya penuh dengan semangat. Melihatnya Woohyun merasa legah. Goseul anak yang penurut, ia berharap Mijoo dapat membesarkan Goseul sebaik-baiknya.

“Paman aku mau bilang sesuatu,” seru Goseul.

“Oh ya? Apa?” tanya Woohyun antusias.

“Paman mulai sekarang nama paman itu bukan paman Woohyun lagi. Nama paman sekarang paman baik hati!” jawab Goseul.

Woohyun tersenyum lebar walaupun di dalam hatinya seperti tercabik-cabik. Aku tak sebaik itu Goseul-ah.

“Pulanglah..” usir Mijoo.

Pandangan Woohyun kini tertuju pada Mijoo. Ia mengangguk pelan. Sebelum benar-benar pergi Woohyun pun memeluk Goseul.

“Paman kenapa?” tanya Goseul.

“Paman ingin memeluk Goseul.. Sebentar saja,” lirih Woohyun.

Mijoo menatap tajam Nam Woohyun yang masih saja berada di rumahnya. Dia sudah tidak ingin lagi bertemu dengan Woohyun. Dia ingin ingatannya tentang Woohyun menghilang dari pikirannya dan juga Goseul.

“Pergi sana..” usirnya lagi.

Pelukan Woohyun dan Goseul terlepas. Woohyun memaksakan diri untuk tersenyum pada Mijoo sementara Mijoo berusaha agar pandangannya dan Woohyun tidak bertemu. Tidak, dia tidak sanggup melihat mata laki-laki yang dulu begitu dia cintai setengah mati sampai-sampai menghancurkan masa mudanya!

“Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik dan Goseul juga,”

Tap..tap..tap… Langkah kaki Woohyun meninggalkan Mijoo dan Goseul dengan berat. Mijoo langsung membawa Goseul untuk masuk ke dalam rumah.

.

          “Urgh sakit perut..” adu Goseul sambil memegang perutnya. Belum lagi Mijoo bertanya apa yang membuat perut Goseul sakit anak perempuannya sudah pergi meninggalkannya karena buru-buru ingin ke toilet.

Brak..

Mijoo kehilangan keseimbangannya. Ia menyenderkan tubuhnya di pintu dan perlahan terjatuh ke lantai. Hiks.. isak tangis mulai terdengar dari bibir Mijoo. Dia tidak tahan lagi untuk berpura-pura kuat. Mijoo benar-benar terpuruk karena Woohyun. Membayangkan masa lalunya membuat Mijoo kembali tersadar, mau bagaimana pun dia dan Woohyun tidak akan bersatu. Perbedaan kasta membuatnya tidak dapat bersatu dengan laki-laki yang dia cintai hingga kini. Mijoo bodoh untuk terlalu berharap lebih, dulu dan juga sekarang. Hanya Goseul yang dia miliki dan sosok bidadari kecil itu akan selalu mengingatkannya tentang Nam Woohyun brengsek yang mematahkan hatinya berkali-kali, “Bodoh dia mau menikah. Kau hanya perempuan bodoh yang terlalu mengharapkan dirinya Mijoo. Kau bodoh,” lirihnya.

.fin.

Advertisements

9 thoughts on “[Oneshot] Paman Baik Hati

  1. andwaeee…
    gw gak terima ceritanya sampe sini. butuh sequel. banget. fix.

    gw mau mrk bersatu.

    duh, woohyun ga berusaha memperjuangkan mijoo dan goseul apa? knp dy mw nikah sm org lain. gmn goseul dan mijoo?

    Like

  2. Suci Nur Ramadhianti

    Aaaa tersentuh banget bacanya! :’)
    Aku tau ini PG-17, tapi aku tetep maksain baca fic ini (btw Desember nanti aku 16 :D)
    Good fic! Keep writing 😉

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s