Posted in 3rd : Graduation Party, AU, Detective Story, General / G, Romance, School-Life, Vignette

[Graduation Party] Footprint

cover (1)

Title: Footprint

Author: Nanoko

Cast: Park Myung Eun / JIN (Lovelyz) & Kim Seok Jin (BTS)

Support Cast: Kim Nam Joon (BTS) & Lee Soo Jung / Baby soul (Lovelyz)

Genre: Detective, School-life, Romance, AU

Rating: G

Length: Vignette

 

Cover: Leen’s Art Design

-ooo0ooo-

Tubuh didudukkan ke bangku taman dengan kasar. Ekspresi masih menunjukkan kecemburuan luar biasa atas kejadian beberapa menit lalu, di dalam gedung olahraga yang diubah menjadi tempat pesta kelulusan di belakangnya.

Bukan salah Seok Jin yang berdansa dengan gadis lain. Itu sepenuhnya salahnya. Kalau saja satu tahun lalu tidak menolak perasaan Seok Jin karena keegoisan dirinya, pastilah tidak akan seperti itu.

Memang benar rasa penyesalan selalu datang di akhir. Namun Myung Eun tak pernah menyangka kalau rasa penyesalan itu bisa membuatnya menangis  semalaman penuh.

Walaupun sesama pengurus perpustakaan, keduanya tetap tak saling bicara setelah itu. Hingga akhirnya tibalah saat kenaikan kelas. Baik Myung Eun maupun Seok Jin, sama sama tak menyangka akan menjadi teman satu kelas.

Dari satu kelas itulah Seok Jin kembali memperhatikan Myung Eun secara diam-diam, begitu pula sebaliknya. Bahkan tak jarang keduanya saling bertemu pandang walaupun buru-buru dialihkan.

Tap … tap … tap

Suara langkah kaki yang setengah berlari membuyarkan gadis itu dari lamunan.

Kepalanya lalu ditolehkan ke arah kiri, ke sumber suara. Namun yang didapatkan hanyalah kegelapan malam. Tidak tahu juga kenapa pihak sekolah hanya memberikan satu lampu yang ada beberapa meter di sisi kanan Myung Eun.

Merasa tidak apa-apa, Myung Eun lalu beranjak dari duduk, berniat kembali ke dalam. Namun suara langkah tadi justru terdengar lagi.

Nuguya?”

Tidak ada jawaban.

Nuguya?” ulangnya

Aneh. Jelas jelas tadi indera pendengarannya menangkap suara langkah dan sekarang malah tidak apa-apa.

Gadis itu akhirnya mengurungkan niat untuk kembali dan memilih mengambil ponsel dari tas selempang kecil. Saat menyorotkan lampu senter ponsel ke sumber suara, memang hanya ada kegelapan malam yang tertangkap. Tapi tidak mungkin juga, ‘kan, kalau hanya halusinasi?

Myung Eun tampak menimbang-nimbang, antara mengikuti ke mana suara langkah kaki tadi atau kembali ke gedung. Kalau mengikuti, ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Kalau kembali, pasti nanti akan sulit tidur karena penasaran.

Tapi namanya juga Park Myung Eun. Kalau sudah penasaran, rasa itu akan mengalahkan segalanya bahkan takut sekali pun.

Tungkainya terus melaju sebelum tiba-tiba terhenti karena sesuatu. Di hadapan Myung Eun berdiri sekarang, memang ada jejak sepatu berlumpur cukup panjang. Tidak hanya dua, tapi empat!

Sore tadi memang sempat hujan. Hanya satu jam, sih, namun derasnya minta ampun. Dan di sekitar sekolah saat Myung Eun tiba, memang banyak tanah becek.

Tungkai kembali bergerak, mengikuti jejak sepatu itu sebelum terputus di hadapan pintu samping gedung sekolah.

Kening Myung Eun berkerut. Untuk apa si pemilik jejak kaki masuk ke gedung sekolah lewat pintu samping?

Sebelum mulai berpikir yang aneh aneh, gadis tersebut menjulurkan tangan untuk meraih kenop pintu yang ternyata tidak dikunci.

Tanpa berpikir panjang lagi, ia pun segera melangkah masuk.

-ooo0ooo-

Kim Seok Jin sekali lagi mengarahkan tatapan ke seluruh penjuru gedung, namun hasilnya tetap sama. Sosok yang dicarinya tetap tak ada di mana pun.

Sebenarnya, ia juga tak tahu Myung Eun datang atau tidak. Harapannya memang terlalu besar untuk bertemu Myung Eun. Sejak dari rumah memang ada sebuah niat yang sudah dipersiapkan baik-baik.

“Oi!”

Kepala tiba-tiba ditoyor dari belakang. Saat menoleh, ternyata Nam Joon dan Soo Jung sudah berdiri di belakang kursi yang diduduki.

“Kau mencari siapa? Aku memperhatikanmu sejak tadi.” Nam Joon lalu duduk di kursi kosong sisi kiri Seok Jin.

“Jangan-jangan … Myung Eun?” tebak Soo Jung yang sudah duduk di sisi kanan Seok Jin.

Mulut memang tidak mengeluarkan sepatah kata pun, namun raut wajah jelas menunjukkan sebuah jawaban.

“Benar ternyata,” Nam Joon menyangga kepala dengan tangan kiri yang ada di atas meja, “jadi, kau masih mengharapkannya sampai saat ini walau sudah ditolak?”

Desahan panjang keluar dari mulut Seok Jin sebelum menunduk. Selain dirinya dan Tuhan, memang tidak ada yang tahu alasan Myung Eun menolak. Dan ia juga tidak berniat menjelaskan pada siapa pun.

“Cobalah melupakannya sedikit demi sedikit,” ujar Soo Jung lembut.

“Aku ke toilet dulu.” Seok Jin segera beranjak.

Nam Joon dan Soo Jung hanya bisa mendesah pelan setelah ditinggal pergi. Seok Jin memang selalu seperti itu, kalau tidak mengalihkan pembicaraan, ya, pura-pura pamit ke toilet.

-ooo0ooo-

Entah kenapa bulu kuduk Myung Eun meremang saat melihat koridor sekolah yang sepi. Di tambah lagi, ada beberapa lampu koridor yang temaram dan berkedap-kedip.

Jejak kaki tadi memang sudah sepenuhnya hilang. Namun Myung Eun tetap yakin kalau masuk ke gedung sekolah. Mungkin saja mereka melepas sepatu agar tidak ketahuan.

Saat tiba di pertigaan koridor yang mengarah ke deretan ruang kesenian, perpustakaan, laboratorium biologi, dan UKS, telinga Myung Eun menangkap suara dua orang yang tengah mengobrol di depan satu ruang. Karena tidak begitu jelas, ia memajukan sedikit langkahnya.

“Hei, kenapa belum ada yang datang?”

Sekarang terdengar sedikit lebih jelas dan itu suara laki-laki.

“Entahlah,” jawab suara yang lain.

Myung Eun berniat maju beberapa langkah lagi, namun tiba-tiba seorang membekap mulut dan menarik tubuhnya dari belakang.

“Sstt. Diamlah!”

Suara yang sudah tidak asing di telinga gadis itu. Juga satu-satunya suara yang mampu membuat jantungnya berdebar lebih cepat.

“Hei, apa yang kalian lakukan di sini?”

Lelaki lain datang dan sepertinya menghampiri orang yang diikuti Myung Eun tadi.

“Lho, bukan di sini tempatnya?”

Berikutnya terdengar suara kepala dipukul.

“Bukan, bego! Di lantai tiga.”

“Maaf, Hyung!”

“Ayo naik!”

Suara beberapa langkah kaki pergi adalah berikutnya yang didengar Myung Eun.

Setelah mereka benar-benar pergi, Seok Jin segera melepas bungkaman tangan di mulut si gadis berambut pendek.

Keduanya terdiam cukup lama dengan posisi itu sebelum Myung Eun berbalik, namun tidak berani menatap Seok Jin. Suasana berubah canggung.

“Ka-kau mengikutiku?”

Dijawab dengan gelengan kepala. Seok Jin juga tidak berani menatap gadis di hadapannya.

“Lalu?”

“Ha-hanya mencari udara segar, lalu tak sengaja melihat pintu itu terbuka dan menemukanmu.” Seok Jin lantas menundukkan kepala.

Terdiam lagi.

“Hei, siapa kalian?”

Perhatian keduanya segera teralih ke arah pintu. Mata Seok Jin langsung membulat sementara Myung Eun tidak.

“Pencuri, ya?”

Detik berikutnya, Seok Jin refleks menarik Myung Eun untuk lari.

Ya!” protes Myung Eun.

Seok Jin tidak menggubris dan tetap lari.

“Hei, jangan lari kalian!”

Saat pria di ambang pintu tadi mulai mengejar, Myung Eun tiba-tiba terjatuh karena high heels yang dipakai.

Tak mau tertangkap oleh pria itu, Seok Jin bergegas menggendong Myung Eun lalu kembali lari.

Aksi kejar mengejar di koridor lantai satu itu terus berlangsung dan baru berhenti saat Seok Jin berhasil mengoceh lawan dengan bersembunyi di bawah salah satu meja panjang kantin.

“Si-siapa mereka?”

“Entahlah.” Napas Seok Jin masih tersengal saat menjawab.

“Apa mungkin pencuri?”

“Tidak mungkin. Mana ada pencuri menyebut pencuri. Lagipula, obrolan tiga laki-laki tadi juga terlihat santai.”

Hening sesaat.

“Aduh!” Myung Eun tiba-tiba mengaduh saat mencoba meluruskan kaki kanan.

Lelaki di sisi kanannya menoleh dengan khawatir. “Wae?”

“Sepertinya pergelangan kaki kananku terkilir gara-gara terjatuh tadi.”

“Coba kulihat!” Lantas diraihnya kaki kanan Myung Eun.

“Aww!”

“Maaf.”

Jangan tanya bagaimana keadaan jantung Myung Eun saat disentuh Seok Jin.

“Sepertinya memang terkilir,” ujar lelaki berjas hitam tersebut.

“Terima kasih.”

Seok Jin hanya tersenyum sembari meletakkan dengan perlahan kaki kanan si gadis berambut pendek ke lantai.

“Maaf.”

Kepala Seok Jin terangkat. Detik berikutnya, manik hitamnya bertemu dengan manik hitam milik Seok Jin.

“Maaf, maaf karena telah menolak perasaanmu dulu.”

Seulas senyum kembali tersungging. “Tidak-“

“Aku menyesal,” potong gadis itu cepat, “tidak tahu juga kalau secara tidak sadar memiliki perasaan yang sama.” Lalu menunduk.

Ekspresi Seok Jin perlahan berubah.

Tap … tap … tap.

Kegiatan mereka diinterupsi oleh suara langkah yang mendekat.

“Siapa itu?”

“Ssst. Jangan bersuara.” Seok Jin memperpendek jarak dengan Myung Eun.

Suara langkah itu semakin mendekat. Lari tidak mungkin, tidak ada jalan lagi. Kaki Myung Eun juga terkilir.

Ketika langkah tersebut sudah memasuki kantin, Seok Jin hanya bisa menelan saliva, begitu pula dengan Myung Eun.

“Hei, sedang apa kalian?”

Jantung Myung Eun dan Seok Jin serasa meloncat keluar setelah pemilik suara langkah kaki tiba-tiba berhenti di depan tempat persembunyian sembari melongokkan kepala.

Ahjussi mengagetkan saja,” protes Myung Eun.

Pria tadi terkekeh sembari berjongkok. “Kenapa kalian ada di sini? Bukankah pesta perayaan kelulusan masih berlangsung?”

“Tadi tak sengaja menemukan jejak kaki yang mengarah ke gedung ini lalu mengikutinya. Namun setelah menemukan pemilik jejak kaki, kami justru dikira pencuri lalu dikejar oleh seorang pria gemuk hingga bersembunyi di sini.” Seok Jin yang menjawab.

Sungguh di luar dugaan, pria di hadapan mereka justru tertawa lepas.

“Apanya yang lucu?”

“Kalau kalian memang bukan pencuri, kenapa harus lari?”

Pertanyaan tersebut membuat Myung Eun dan Seok Jin langsung terdiam. Mereka memang sama sekali tidak berpikir tentang hal itu.

“Pria yang kau maksud itu penjaga  sekolah yang baru. Seharusnya, ia mulai aktif kerja hari Senin. Namun karena hari ini ada pesta perayaan kelulusan, ia dipanggil untuk menambah penjagaan keamanan.”

“Lalu, siapa pemilik jejak kaki tadi?”

“Anak klub teater. Jadwal pentas mereka di universitas tiba-tiba diajukan, jadi menambah jadwal latihan. Ketua klub juga sudah meminta izin pada pihak sekolah.”

Kedua remaja itu mengangguk-angguk paham.

“Nah, sekarang keluar dan kembalilah ke acara.”

Ne.”

Ahjussi duluan, ya.” Lalu segera beranjak dan melangkah pergi.

“Naiklah ke punggungku,” ujar Seok Jin tiba-tiba sembari memposisikan diri dengan berjongkok.

“Eh?” Myung Eun malah terkejut.

“Cepatlah. Kalau tidak mau, ya, kutinggal.”

Karena tidak ada pilihan lain, Myung Eun segera menggeser tubuh lebih dekat lalu mengalungkan tangan ke leher belakang Seok Jin.

“Sudah?”

Myung Eun mengangguk dengan wajah mulai bersemu merah sebelum Seok Jin beranjak berdiri.

“Sebegitu dalamnyakah perasaan itu padaku hingga debaran jantungmu lebih cepat?”

Awalnya, Myung Eun tak mengerti apa maksud pertanyaan itu. Namun semakin lama berada di dalam gendongan Seok Jin membuatnya menyadari sesuatu. Lelaki itu bisa mendengar debaran jantungnya!

Dan Seok Jin tak berhenti mengulum senyum hingga keluar dari gedung sekolah.

-END-

Advertisements

Author:

Halo Lovelinus!^^ Senang membaca fanfiksi atau membuat fanfiksi dengan karakter Lovelyz? Blog ini merupakan blog yang berisi fanfiksi-fanfiksi dengan karakter utama Lovelyz ^_^

5 thoughts on “[Graduation Party] Footprint

  1. aku udah deg2an, kirain ada pencuri beneran… eh ternyata cuma petugas kebersihan yang baru😂 dan aku ga nyangka lho kalau ternyata ini ujung2nya fluff😆 kirain bakal nangkep sosok penjahat… ternyata malah dapat pacar😂

    maafin komen absurdku😞 intinya aku suka ffmu! twistnya keren!👍

    Like

  2. Ini genrenya detective tapi kenapa aku malah senyum-senyum sendiri ya bacanya?khekhekhe… ^^
    Thanks to penjaga sekolah baru yg bikin Myungeun ngikutin dia dan Seokjin ngikutin Myungeun dan jadi saling jujur ttg perasaan mereka dan tidak ada yang galau lagi xD

    Like

  3. Aku udah agak takut waktu liat genre detectivenya, tapi pas liat genre selanjutnya yang bukan genre bagian dark begituan em aku curiga. Tapi jujur aja sih agak menakutkan waktu Jin sendirian tadi, kesan horornya kaya dapet banget. Aku suka^^

    Like

  4. Susah loh bikin genre detektif itu, aku gak pernah berhasil bikin ff yang bikin orang mikir gegara penasaran. Ini ff nya berhasil, kece ih authornya.
    Penasarannya dapet, fluff-nya dapet, lucu-nya juga dapet.
    Suka juga sama gaya bahasa-nya.

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s